Peninggalan Islam Aceh Kurang Dipedulikan Selama ini


rumahnahdliyyin.com,
 Banda Aceh - Sebagai daerah yang menjadi pusat kejayaan peradaban Islam di masa lalu, Aceh banyak menyimpan bukti-bukti kebesaran sejarah Islam yang sangat mudah ditemukan hingga kini. Namun, tidak terurus dan bahkan ditelantarkan.

Padahal, dengan memiliki sejarah adanya kerajaan Islam terbesar di Nusantara dan Asia Tenggara pada masa lalu, Aceh terkenal keislamannya yang kental hingga saat ini. Sehingga, berbagai benda peninggalan sejarah tersebut, harus tetap dijaga dengan baik oleh generasi sekarang.

Demikianlah antara lain yang disampaikan oleh arkeolog Aceh dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Dr. Husaini Ibrahim MA., saat mengisi pengajian rutin di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu malam, 11 April 2018.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Pada pengajian yang dimoderatori oleh Badaruddin S.Pd, M.Pd. (Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Dayah Aceh) ini, juga turut dihadiri oleh Kapolresta Banda Aceh, AKBP. Trisno Riyanto.

"Karenanya, mari selamatkan peninggalan sejarah Islam tersebut. Dan ini menjadi kewajiban kita bersama," ujar Abu Husaini Ibrahim sebagaimana diberitakan oleh antaranews.com.

Baca Juga: Menulis Sejarah Secara Cermat

Dosen FKIP Unsyiah yang kini menjabat Ketua Laboratorium Sejarah ini menjelaskan bahwa sangat banyak jejak-jejak sejarah dan peradaban Islam masa lalu. Seperti makam ulama besar, batu nisan orang-orang berilmu, bahkan Kerajaan Samudera Pasai, Peureulak, Lamuri hingga Gampong Pande. Ada pula bukti batu nisan ulama-ulama yang betahunkan 1.070 Masehi.

"Selama ini, kita terkesan tidak peduli dengan jejak-jejak Islam pada benda-benda peninggalan sejarah tersebut. Bukan berarti kita menkultuskan benda, tapi itu bisa menjadi pedoman untuk dipelajari lagi oleh generasi sekarang. Bahwa Aceh dulu berjaya dengan peradaban Islam, maka untuk bisa berjaya lagi sekarang, kita bisa mengikuti jejak ulama-ulama yang berilmu tinggi dahulu. Bukan malah membuang kotoran ke makam mereka," terangnya.

Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Abu Husaini juga menambahkan bahwa Aceh pada masa kerajaan tempo dulu itu memegang peranan sangat penting dalam menyangga atau membentengi kawasan Nusantara dari kolonialisme penjajah Eropa. Diantaranya yaitu menghalau penjajah Portugis dan Belanda.

“Tujuan Kerajaan Aceh menyerang Portugis sampai ke Melaka dan Johor adalah dalam rangka membentengi Islam di wilayah Nusantara dari kolonialisasi penjajah,” jelasnya.

Baca Juga: Sejarah dan Keutamaan Istighotsah

Disebutkan juga bahwa andai tanpa kerajaan Aceh, maka Portugis dipastikan dengan mudah dapat menguasai Nusantara pada masa itu.

"Kita tahu bahwa penjajah Barat itu mengemban misi 3G, yaitu Gold (keinginan untuk memiliki emas, hasil alam dan kekayaan), Glory (keinginan mempunyai kejayaan) dan Gospel (keinginan untuk menyebabarkan agama Nasrani). Dari semua penjajah Barat itu, Portugis adalah yang terburuk dalam mengemban misi agama,” lanjut Husaini Ibrahim.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Selain itu, peran Aceh juga sangat besar dalam upaya dakwah dan penyiaran Islam di Nusantara dan membebaskan Nusantara dari cengkeraman kolonialisme.

“Barangkali, kalau Portugis sempat menguasai Aceh, maka Aceh sudah menjadi daerah non-muslim dan nama-nama orang Aceh sudah berubah menjadi Thomas dan lain-lain, serta menjadi basis pengembangan agama lain seperti Timor Timur,” katanya kemudian.

Husaini menambahkan lagi bahwa orang Aceh pada masa lampau memiliki semangat dan kekuatan jihad yang tinggi, sehingga mampu mengalahkan Portugis. Padahal, Portugis itu adalah negara hebat dan kuat.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia

Diterangkannya juga bahwa orang Aceh tempo dulu itu sangat serius menjalankan ajaran Islam. Dan bersatunya ulama dan umaro dalam membangun peradaban Islam, mengalami kejayaan hingga kemudian datanglah orientalis yang bernama Christian Snouck Hurgronje, seorang sarjana Belanda dan Penasehat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang merusak peradaban Islam di Aceh.

"Dia kembangkan sekulerisme. Dia pisahkan ulama dan umaro sampai diciptakan ajaran bahwa yang mengejar dunia itu bagaikan anjing yang mengejar bangkai. Sehingga, umat Islam dan ulama tidak perlu lagi mengurus urusan dunia dan dijauhkan dari urusan politik. Ulama-ulama cukup belajar agama saja," terangnya terhadap ajaran Snouck Hurgronje.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Selain itu, lanjutnya lagi, Snouck Hurgronje yang memiliki nama Islam Abdul Ghafar itu juga menciptakan musuh-musuh dalam selimut dan pengkhianat ditengah masyarakat Aceh yang menjual Aceh kepada penjajah hingga kerajaan Aceh menjadi lemah serta melahirkan politik adu domba untuk mengacaukan kekuatan Islam yang dampaknya masih dirasakan hingga saat ini.[]



(Redaksi RN)
Read More

Tiga Tokoh Indonesia Masuk Top 50 Dalam The Muslim 500


rumahnahdliyyin.com, Jakarta
- Survei tahunan yang mencantumkan 500 sosok tokoh muslim yang paling berpengaruh di dunia, The Muslim 500, kembali menempatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke dalamnya bersama 500 tokoh muslim lainnya sedunia.

Penyelenggara survei ini adalah The Royal Islamic Strategic Studies Centre yang berkedudukan di Amman, Yordania. Dalam menentukan tokoh muslim yang berpengaruh sedunia ini, digabungkan kombinasi antara matriks sosial, opini publik dan pendapat para ahli.

Baca Juga: 


Presiden Jokowi sendiri, dalam survei ini, berada diurutan ke-16. Dalam publikasinya, para editor survei ini mengutip ucapan Jokowi yang menyatakan bahwa "keberagaman selalu menjadi bagian dari DNA Indonesia. Meskipun banyak tantangan, Islam di Indonesia selalu menjadi kekuatan yang moderat".

Selain Presiden Jokowi, ada dua nama lagi dari Indonesia yang masuk dalam Top 50. Kedua tokoh tersebut yaitu Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, diperingkat ke-22 dan Habib Luthfi bin Yahya diperingkat ke-41. Selain itu, ada nama mantan Ketua PP. Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang masuk dalam Honourable Mentions.[]



(Redaksi RN)
Read More

Dawuh KH. M. Anwar Manshur Tentang Santri, Ngaji, Akhlaq dan Birrul-Walidain


rumahnahdliyyin.com - Sebaik-baiknya orang di dunia itu orang yang mau ngaji. Kalian mau mengaji merupakan pilihannya Allah SWT. Maka dari itu, kalian yang ngaji ini harus disyukuri dengan cara mempeng. Ngaji itu harus benar-benar kangelan.

Orang yang baik di dunia itu ada dua. Pertama, orang yang mulang ngaji; yang kedua, orang yang mengaji.

Orang beribadah tidak memakai ilmu, ibadahnya tidak diterima.

Kalian adalah pilihane Allah, karena kalian mau mengaji. Jangan berkecil hati. Kalian harus mensyukuri itu dengan cara mengamalkan ilmu yang telah kalian peroleh dan ditambahi ilmu-ilmu yang masih belum diperoleh.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Saat liburan, yang masih sekolah di sini, kalian di pondok saja, menghafalkan pelajaran yang akan datang. Supaya ringan, saat romadlon kalian menghafalkan Imrithy, Alfiyyah atau Maknun sampai khatam. Nanti Syawal sudah enak, tinggal nglalar saja, tinggal ngaji, sudah dapat hafalannya.

Disamping belajar pelajaran yang wajib di pondok, kalian juga pelajari ilmu kemasyarakatan. Seperti mengimami tahlilan, barzanji, dibaiyyahan, belajar khotib, selagi masih di pondok.

Jika kalian memiliki ilmu yang cukup, dimanapun berada, kalian merasa enak. Makanya, yang mempeng selagi masih di pondok.

Kalian di pondok ada ngaji, ada jama'ah, ada juga yang belajar. Kalau diluar, godaannya macam-macam. Gunakan kesempatan di pondok belajar macam- macam ilmu. Terutama situasi masyarakat, kalian pelajari. Jangan pernah buat mainan di pondok itu, daripada menyesal sendiri nantinya.

Baca Juga: Alumnus Pondok Pesantren Se-Indonesia di Sorong Bentuk HAPPI

Terkadang, tujuan kita mondok 15 tahun. Akan tetapi, tiba-tiba baru 10 tahun harus pulang. Kalau tidak mempeng tinggal menyesalnya saja dan menangis.

Jika dari pondok tidak bisa apa-apa, nanti hanya bisa membingungkan orang saja. Namanya orang dari pondok, pasti menjadi rujukan masyarakat, karena sudah dianggap belajar syari’at agama Islam.

Kalian kalau pulang dari pondok, akhlaqnya dijaga. Jangan pulang tidak memakai peci, celanaan. Yang benar kalau pulang seperti di pondok, memakai peci. Tunjukkan bahwa kalian benar-benar santri. Itu merupakan dakwah bil-hal.

Dengan menunjukkan sikap dan akhlaq yang baik, maka masyarakat akan tertarik memondokkan anaknya di pesantren Lirboyo.

Jangan sampai melakukan sesuatu yang membuat jelek nama pondok. Kalian mondok, harus menunjukkan akhlaqul karimah. Memakai celana boleh, tapi yang benar. Juga pecinya, jangan dislempitkan. Tunjukkan kalian pondok pesantren. Masyarakat biar mau memondokkan anaknya. Dimanapun, tunjukkan akhlaq yang baik.

Baca Juga: Kemenag: Diantara Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri

Jangan sombong. Tawadlu' itu tidak merasa. Meskipun kamu pintar, tidak merasa pintar. Meskipun kamu alim, tapi tidak merasa alim. Menghargai orang lain.

Tawadlu' itu bukan rendah. Akan tetapi, kita merasa sama-sama tidak memiliki, sama-sama menghormati kepada orang lain.

Dimanapun tempatnya, yang terpenting adalah akhlaq. Sepintar apapun jika tak berakhlaq, tidak ada harganya.

Baca Juga: Pentingnya Kreatifitas Bagi Pesantren

Mulai keluar dari pondok, yang baik. Do’a bepergian, dibaca. Karena, di jalan banyak macam-macam kendaraan. Sampai di rumah, yang pertama dilakukan salaman kepada kedua orang tua. Meminta maaf jika mengecewakan orang tuanya ketika di pondok.

Jika orang tua mengerjakan pekerjaan, kalian minta. Jangan hanya tidur saja, itu tidak baik. Orang tua sudah merawat kalian dari kandungan. Kalian dibawa kemana-mana. Kalian harus berangan-angan, kalian tidak akan bisa membalas jasa mereka.

Orang tua merawat anak itu dengan rohmah. Merasa welas supaya anaknya bisa menjadi soleh-solehah. Kalian merawat orang tuanya ketika sakit selama 2 bulan saja, pasti sudah merasa gak enak. Makanya, jangan sampai membantah orang tua. Dawuhnya orang tua, kalian dengarkan. Jika kalian mampu, laksanakan. Jika belum mampu, kalian utarakan.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Dari pondok, kalian salaman kepada orang tua. Berterima kasih atas biaya yang diberikan kepada kalian di pondok. Kalian harus sadar, jangan mudah-mudah untuk meminta bekal. Kalian sudah bukan kewajiban orang tua jika kalian tidak ngaji. Kalian harus bersyukur telah dikirimi.

Birrul-walidain itu tidak membantah dan tidak mengecewakan hati orang tua. Yang sebelum mondok belum bertuturkata baik (boso kromo) kepada orang tua, besok pulang harus bertutur kata baik (boso kromo). Siapapun orang yang bisa birrul-walidain, hidupnya barokah.

Kalian di pondok dididik akhlaqul karimah. Jadi, kalian harus bisa menerapkan akhlaqul-karimah dimana saja.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Nanti, ketika sudah waktunya berangkat pondok, jangan telat. Jika sudah waktunya, segeralah berangkat ke pondok. Kalian disiplin mengikuti peraturan, itu sudah terlihat memuliakan para masyayikh dengan apa yang dikehendaki masyayikh.

Kalain berada di pondok itu biar kalian bisa menjadi orang baik. Orang tua kalian ingin memiliki waladun sholih-sholihah.

Di pondok, yang sungguh-sungguh, biar menjadi orang sholeh, menjadi orang yang bisa menjalani kebenaran.[]

(Redaksi RN)



* Diambil dari lirboyo.net dengan judul "Dawuh KH. M. Anwar Manshur Saat Pengarahan Liburan".
Read More

Belajar Bernegara Dari Sholat Jama'ah


rumahnahdliyyin.com - Cobalah cari pemimpin yang tanpa kesalahan, kealpaan. Ada, kah? Pasti tidak ada, kecuali junjungan kita RasuluLLah yang ma'shum.

Karena al-insan mahallul-khotho' wan-nisyan, maka jangankan dalam sebuah organisasi, kepemerintahan atau bernegara, sholat jama'ah saja, kalau imam salah, ada cara untuk mengingatkan.

1. Baca subhanaLLah dengan niat dzikir saja atau niat mengingatkan imam sekaligus niat dzikir. Kalau mengingatkan saja, dapat membatalkan sholat.

Mungkin saja, aturan ini dibuat agar makmum yang ingin mengingatkan imamnya tidak berorientasi nafsu, sok tahu, tapi tetap IiLLah, hanya karena Allah.

Baca Juga: Waktu Sholat Fardlu

2. Sunnah sujud syahwi bila melakukan hal-hal yang menyebabkan seseorang harus sujud syahwi. Posisi sujud syahwi ini seperti penambal prosesi sholat yang tidak sempurna. Dan saat imam sujud syahwi, semua makmum harus ikut. Kalau tidak, maka batal-lah sholatnya.

Indahnya, dalam berjama'ah, bila imam melakukan hal yang menyebabkan ia harus sujud syahwi dan ternyata ia tidak melakukannya saat sebelum salam, maka makmum dapat melakukan sujud syahwi untuk kekeliruan imam.

Baca Juga: Tata Cara Sholat Gerhana

Andai saja dalam bernegara kita mencontoh aturan ini, setiap kekeliruan atau kealpaan pemimpin kita, kita ingatkan hanya karena Allah, bukan karena nafsu kekuasaan atau syahwat belaka, dan saat imam menambal kekeliruannya kita semua ikut menambal kekeliruannya (menutupi apa yang kurang dari pemimpin kita), bahkan bila pemimpin "abai" untuk memperbaiki dan menambal kekeliruannya dalam memimpin, kita mau menambalnya, menyempurnakannya sebagai rakyat, makmum para pemimpin, mungkin hidup bernegara ini bisa menjadi begitu indah. Tak ada caci maki karena mencaci pemimpin sendiri itu seperti meludahi wajah sendiri.



* Oleh: Achmad Shampton
Read More

Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh


rumahnahdliyyin.com - Al-Qur’an merupakan kalam Allah SWT. yang diturunkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. yang menjadi mukjizat dan dianjurkan untuk dibaca oleh umat Islam setiap saat. Membaca Al-Qur’an, dalam ajaran Islam, termasuk ibadah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan setiap hari. Akan tetapi, banyak diantara kalangan umat Islam Nusantara, khususunya Jawa, yang belum mengerti secara mendalam, tentang tata cara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar, sehingga masih banyak yang membaca Al-Qur’an secara serampangan dan tidak sesuai dengan ilmu Tajwid Al-Qur’an.

Pada zaman sekarang, ilmu Tajwid dan ilmu Qiro'at sudah jarang diminati untuk dipelajari dan diteliti secara mendalam. Ilmu Tajwid sering dianggap sebagai ilmu yang ringan, ilmu kulit dan ilmu yang hanya layak dipelajari oleh anak-anak kecil di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ). Anggapan ini, tentu saja keliru. Sebab, segala ilmu yang bersinggungan dengan Al-Qur’an, baik secara lahir maupun batin, merupakan ilmu-ilmu pokok yang harus dipelajari oleh seorang muslim.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asma'ul Husna

Berangkat dari latar belakang bahwa (1) masih banyak masyarakat Islam Indonesia yang belum mampu untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, (2) masih banyak masyarakat Islam Indonesia yang belum memahami ilmu Tajwid, (3) langkanya referensi dan kajian tentang ilmu Tajwid, maka kiai Maftuh Basthul Birri, sang begawan Al-Qur’an, pengasuh Pondok Pesantren Murottilil Qur’an, Lirboyo, Kediri, tergerak hatinya untuk menulis kitab pegon tentang ilmu Tajwid dengan judul Fathul Mannân li Tashhîh Alfâdz Al-Qur’ân.

Kiai Maftuh Basthul Birri, dalam kitab tersebut dawuh (dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon, red):

كَاڤْرَاهِيْڤُونْ تِيْيَاڠْ مَاهَوسْ اَلْقُرْآنْ سَامِيْ كِيْرَاڠْ ڤَاڠٓرْتَوْسَانْ إِيْڤُونْ دُوْمَاتٓڠْ حُكُمْ-حُكُمْ وَاهَوْسَانْ، سَاهِيڠْڮَا مَاهَوسْ إِيْڤُونْ سَامِيْ سٓمْبٓرَانَا لَنْ كِيْرَاڠْڤَاڠٓرْتَوْسَانْ إِيْڤُونْ. أَمَرْڮِيْ وَونْتٓنْ كَلَانِيْڤُونْڠَاهَوسْ إِيْڤُونْ تَكْسِيهْ كِيْرَاڠْ، أُوْتَاوِيْ لَاتِيْهَانْ دِيْسِيڤْلِينْ إِيْڤُونْ إِڠْكَڠْ كِيْرَاڠْ، لَاجٓڠْ اَڠْڮَامْڤِيلْ أَكٓنْ وَاهَوْسَانْ

“Kebanyakan orang membaca Al-Qur’an kurang memiliki pengetahuan tentang hukum-hukum bacaan, sehingga bacaannya pun ngawur dan tidak sesuai aturan. Hal itu disebabkan, adakalanya karena jarang mengaji, atau sering mengaji namun tidak disiplin dalam menerapkan hukum-hukum bacaan sehingga menyepelekan bacaan.”

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Di dalam kitab Fathul Mannan, kiai Maftuh, yang terkenal memiliki standar tinggi dalam hal bacaan Al-Qur’an, mengupas tuntas tema-tema penting didalam ilmu Tajwid yang sesuai dengan riwayat bacaan Imam Hafsh bin Sulaiman, salah satu perawi Qiro'at Imam ‘Ashim bin Abi Najud. Pembahasan-pembahasan didalam kitab tersebut disandarkan kepada kitab-kitab ilmu Tajwid yang sudah terkenal valid dan terpercaya. Seperti kitab Al-Mandhûmah Asy-Syâthibiyyah, Al-Mandhûmah Al-Jazariyyah, Irsyâd Al-Ikhwân Syarh Mandhûmat Hidâyat Ash-Shibâan, Al-Itqôn fi ‘Ulûmil-Qur’ân, Al-Minah Al-Fikriyyah, Sirôj Al-Qâri’, Nihâyah Al-Qoul Al-Mufîd dan kitab-kitab lain yang membahas ilmu Tajwid dan Qiro'at.

Selain pembahasan yang mendetail tentang tema-tema pokok ilmu Tajwid yang ditulis dengan aksara Pegon, yang menarik dari kitab ini adalah bahwa kitab ini ditashih oleh para ulama besar ahli Al-Qur’an Nusantara, seperti: Simbah KH. Muhammad Arwani Amin Sa’id (pendiri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an, Kudus), Simbah KH. Nawawi Abdul Aziz (pengasuh Pondok Pesantren An-Nur, Ngrukem Yogyakarta), Simbah KH. Ahmad Munawwir bin KH. Muhammad Munawwir (salah satu pengasuh Pondok Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta), Simbah KH. Adlan ‘Aly (pendiri Pondok Putri Walisongo, Cukir Jombang) dan Simbah KH. Abu Syuja’, Ngadiluwih, Kediri. Semua kiai-kiai yang mentashih kitab Fathul Mannan tersebut merupakan guru-guru dari Kiai Maftuh Basthul Birri.

Baca Juga: Profesor Thailand; Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Kiai Muhammad Arwani Amin, Kudus, mengomentari kitab Fathul Mannan karya kiai Maftuh tersebut dengan berkata bahwa kitab tersebut merupakan kitab ilmu Tajwid lengkap yang membahas pokok-pokok bahasan ilmu Tajwid yang sangat penting dan jarang dibahas didalam kitab-kitab Tajwid lain yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Jawa.

Kiai Nawawi, Ngrukem, Yogyakarta, mengomentari kitab Fathul Mannan dengan menyatakan bahwa kitab tersebut merupakan kitab yang sangat bagus dan cocok untuk dipelajari oleh para pemula. Bahkan, kiai Nawawi menganggap bahwa upaya yang dilakukan oleh kiai Maftuh merupakan aplikasi dari konsep hifdhul hâl atau menjaga laku, yakni laku dalam membaca Al-Qur’an supaya sesuai dengan aturan dan kaidah yang berlaku.

Didalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim disebutkan bahwa afdlolul-‘ilmi ‘ilmul-hâl wa afdlolul-‘amali hifdhul-hâl, sebaik-baik ilmu adalah ilmu laku dan sebaik-baik amal adalah menjaga laku. Membaca Al-Qur’an merupakan ‘amal al-hâliy, yakni sebuah amal atau laku yang dianjurkan untuk dilakukan setiap hari. Amal atau laku ini harus dijaga dari segala bentuk penyimpangan dan kesalahan. Dan kitab Fathul Mannan tersebut merupakan panduan untuk menjaga amal “Membaca Al-Qur’an” agar tidak terjatuh dalam kesalahan, baik yang bersifat ringan (lahn khofiy) maupun yang bersifat berat (lahn jaliy).

Baca Juga: Ats-Tsauri; Samudera Ilmu Dari Kufah

Kiai Maftuh Basthul Birri maupun guru-gurunya yang telah disebut diatas merupakan tokoh-tokoh pejuang Al-Qur’an yang sangat terkenal ketat dalam hal bacaan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an, bagi mereka tidak boleh sembarangan, tidak boleh asal bunyi dan harus sesuai dengan kaidah-kaidah Tajwid yang telah ditetapkan. Hal ini senada dengan sebuah syair yang digubah oleh Syaikh Syamsuddin Ibn Al-Jazari:

وَالْأَخْذُ بِالتَّجْوِيْدِ حَتْمٌ لَازِمٌ :: مَنْ لَّمْ يُجَوِّدِ الْقُرْأَنَ آثِمٌ

"Membaca Al-Qur’an dengan Tajwid merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan :: Barang siapa tidak membaca Al-Qur’an dengan Tajwid maka ia berdosa kepada Tuhan."

Sikap ketat dalam membaca Al-Qur’an yang diterapkan oleh kiai Maftuh tersebut, bisa terbaca dan bisa dirasakan melalui karya beliau Fathul Mannân li Tashhîh Alfâdh Al-Qur’ân tersebut. Penjelasan mengenai bab-bab ilmu Tajwid begitu detail dan sangat mudah dipahami oleh para pemula karena ditulis dengan menggunakan Aksara Pegon.

Baca Juga: Al-Biruni; Antropolog Pertama?

Kitab Fathul Mannân li Tashhîh Alfâdh Al-Qur’ân tersebut selesai ditulis oleh kiai Maftuh Basthul Birri pada bulan Robi’ul Awwal tahun 1397 H./Februari 1977 M. dan terdiri dari tiga juz yang terangkum menjadi satu dengan ketebalan 148 halaman dan dicetak oleh penerbit toko kitab Al-Ihsan Surabaya.

Turuntuk kiai Maftuh Basthul Birri dan para begawan Al-Qur’an Nusantara, Al-Fatihah...



Oleh: Sahal Japara, kepala SMPQT Yanbu’ul Qur’an 1 Pati, Pemerhati Aksara Arab Pegon.

Sumber: nu.or.id
Read More

Kiai Said: Kebesaran dan Martabat Bangsa Ada Pada Budayanya


rumahnahdliyyin.com,
 Jakarta - Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, dalam peluncuran dan diskusi buku "NU Penjaga NKRI", di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa, 10 April 2018, mengatakan bahwa Organisasi Kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), bukan hanya menjaga keselamatan geografis NKRI. Tetapi juga menjaga keutuhan budaya.

"Jadi, silakan sekolah di Amerika, Australia dan Eropa. Tapi pulang, jangan bawa bir atau khomr. Pulanglah dengan membawa intelektual dan teknologinya," tuturnya sebagaimana dilansir oleh nu.or.id.

Baca Juga: Kiai Said: Nabi SAW. Tidak Diperintah Membangun Umat Islam, Tapi Umat Modern

Selain itu, kiai kelahiran Cirebon itu juga menekankan kepada siapa pun yang sekolah di Arab atau Timur Tengah untuk tidak membawa jenggot ketika pulang ke tanah air.

"Bawa pulang tafsir, hadits, bawa ilmu fiqh. Jangan bawa cadar, jangan bawa jenggot. Itu artinya, kita menjaga budaya. Sebab, budaya kita lebih mulia dari Barat dan Arab," katanya selanjutnya.

Di Barat, lanjut Kiai Said, seorang istri tidak pernah menjunjung tinggi tata krama atau kesopanan kepada suaminya. Di sana hidup sendiri-sendiri. Indonesia sangat tidak layak menerima budaya Barat.

Baca Juga: Kiai Said Tuntun Seorang Agnostik Amerika Masuk Islam

"Nah, begitu juga budaya Arab, kalau kita salat di Masjidil Haram, orang Arab itu biasa melangkahi kepala kita saat sedang sujud. Saya yakin, itu bukan orang Indonesia, Malaysia, bukan Brunei. Itu jelas orang Arab," tegasnya.

Di Arab dan Barat, memanggil orang yang lebih tua tidak dengan sebutan atau gelar kehormatan. Melainkan langsung namanya saja. Jelas, berbeda dengan di Indonesia.

"Orang kita itu, kalau lagi marah saja, pasti nyebut gelarnya. Misal, Kang Durahman, jahat sekali kamu," katanya yang disambut gemuruh tawa hadirin.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Karena itu, ia mengungkapkan bahwa kebesaran dan martabat bangsa itu ada pada budayanya.

"Maka, mari sama-sama kita jaga budaya. Karena keberadaan Indonesia adalah budayanya," pungkasnya.[]



(Redaksi RN)
Read More

NU Dimata Romo Benny


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Dalam acara peluncuran buku "NU Penjaga NKRI" pada Selasa, 10 April 2018, di Aula PBNU lantai 8, Jakarta, Romo Antonius Benny Susetyo yang juga menjadi narasumber mengatakan bahwa NU selalu hadir dimana-mana, tetapi tidak ke mana-mana.

Orang NU, menurutnya, bisa menyatu dengan segala lapisan. Dari situlah, muncul relasi yang baik. Dan karena itu pula, ada suatu kepercayaan yang bahwa masyarakat NU tidak membeda-bedakan. Dalam beriman, orang NU sudah melompat dari politik identitas karena dihayati dalam nilai kemanusiaan. Berdasar nilai kemanusiaanlah, NU tampil pada era reformasi.

"Dari kemanusiaan itulah orang tidak lagi membedakan suku, identitas," kata Romo Benny seperti yang diberitakan oleh nu.or.id.

Baca Juga: Bersatunya NU dan Muhammadiyah Menunjukkan Utopisnya Khilafah

Lebih lanjut, ia pun memberikan gambaran di Sampit, Madura, yang tidak pernah muncul stigma negatif atas bantuan dari agama Katolik. Warga di sana tidak menuduh adanya kristenisasi dibalik itu. Ia juga mengungkapkan bahwa Gus Dur sebagai representasi NU selalu pasang badan dalam forum demokrasi. Gus Dur memberi pembelaan terhadap Romo Mangunwijaya ketika hendak ada yang menuduhnya PKI.

"Gus Dur menjadi pelekat dari sebuah demokratisasi," ujarnya.

Selain berperan sebagai penjaga negara, NU juga menjadi pusat peradaban. Hal itu karena mengingat peran NU yang mempertemukan Islam dan budaya yang kemudian melahirkan ajaran agama yang penuh kasih.

"NU sebenarnya menjadi pusat. Tidak hanya pusat penjaga NKRI, tetapi juga pusat peradaban," ungkap pria kelahiran Malang, 50 tahun silam itu.

Baca Juga: Rais 'Aam PBNU Titip NU Pada Raja Bali

Ditengah kegersangan yang melanda negara ini, NU juga berdiri menjadi oase. NU menjadi penyejuk dengan merangkul semua elemen dan kalangan. Hal inilah yang meyebabkan NU sebagai pusat peradaban. Dalam hal ini, bangsa Indonesia berhutang kepada NU.

"Bangsa ini berhutang terhadap NU," terang alumnus Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang, itu.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau ndonesia Menjadi Negara Islam

Selain itu, Romo Benny juga menguraikan tiga kesetiaan NU. Pertama, NU konsisten berpandangan bahwa NKRI adalah negara kebangsaan, bukan negara yang berdasarkan agama tertentu.

Kedua, NU setia mengembalikan Pancasila kepada rel yang benar. Dari sinilah, NU selalu ada pada setiap krisis yang melanda bangsa ini yang merupakan kesetiaannya yang ketiga.

Oleh karena itu, menurut Romo Benny, NU dibutuhkan bangsa ini sebagai alat pemersatu bangsa.[]


(Redaksi RN)
Read More

Mbah Abdul Djalil Hamid


rumahnahdliyyin.com, Kudus - Mendengar nama KH. Abdul Djalil Hamid, bagi generasi sekarang mungkin kurang familiar. Tetapi bagi kalangan santri dan kiai di Kudus dan Pati, khususnya di Tayu, nama tersebut tidaklah asing. Keilmuan dan kiprah sosialnya tidak sekadar di level nasional, tetapi internasional.

Lahir dari pasangan KH. Abdul Hamid dan Nyai Syamsiyah di Bulumanis Kidul, Margoyoso, Tayu, Pati, Mbah Djalil -demikian sang kiai biasa disebut- merupakan maestro (ahli) falak yang tidak diragukan kemampuannya.

”Mbah Djalil diambil menantu KH. Nur Chudlrin, pendiri TBS. Beliau juga merupakan salah satu guru di madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) generasi pertama,” terang KH. Choirozyad.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Menurut KH. Choirozyad, Mbah Djalil mengajar di TBS antara lain semasa dengan KH. Arwani Amin dan KH. Turaichan Adjhuri. KH. Turaichan Adjhuri tak lain adalah ayahanda dari KH. Choirozyad, salah satu sesepuh madrasah TBS saat ini.

”Kalau secara usia, Mbah Djalil lebih senior dari KH. Turaichan Adjhuri. Sedang untuk bidang ilmu falak, kepakaran Mbah Djalil sangat diakui,” terang KH. Choirozyad menambahkan.

Pendidikan dan Kiprahnya

Perjalanan intelektual KH. Abdul Djalil Hamid, cukup berliku. Dia belajar di berbagai pesantren di tanah air dan tidak sebentar waktu yang dihabiskannya untuk belajar di Makkah.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari

Dimulai dengan pendidikan yang diberikan langsung oleh sang ayah hingga 1919, selanjutnya Abdul Djalil belajar di Pondok Pesantren Jamsaren, Solo, asuhan KH. Idris (1919–1920), lalu meneruskan belajar lagi ke Pondok Pesantren Termas asuhan KH. Dimyati (1920-1921), dan kemudian di Pondok Pesantren Kasingan, Rembang, asuhan KH. Kholil Harun (1921-1924).

Selanjutnya, pada 1924-1926, Abdul Djalil muda mukim dan belajar di Makkah Al-Mukarramah. Setelah itu, lalu melanjutkan belajar lagi di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dibawah asuhan langsung KH. Hasyim Asy’ari (1926-1927), dan kemudian kembali lagi ke Makkah pada 1927-1930.

Tak berselang lama dari pengembaraan intelektualnya yang cukup panjang, ia kemudian mengajar di Madrasah TBS. Di Madrasah TBS, KH. Abdul Djalil Hamid tercatat menjadi guru kepala pada 1932-1935.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Selain di TBS, berbagai posisi penting pernah diembannya. Antara lain menjadi anggota Raad Agama Islam di Kudus (1934-1945), Ketua Pengadilan Agama Kudus (1950-an), Pembantu Khusus Wakil Perdana Menteri RI (1951-1958), hingga anggota DPR/MPR mewakili alim ulama di Fraksi NU (1958-1967).

Untuk dibidang sosial, KH. Abdul Djalil Hamid diantaranya tercatat ikut mendirikan Madrasah Darul Ulum di Makkah (1927-1930), anggota pembina PBNU (1930 -1974), Ketua NU Cabang Kudus (1932-1934), Rois Syuriyah NU Jawa Tengah (1967- 1974), Katib Syuriyah PBNU (1954-1967), Ketua Tim Penentu Arah Qiblat Masjid Baiturrahman Semarang (1968), Penyusun Almanak NU (1930-1974) dan Ketua Lajnah Falakiyah PBNU sekaligus merangkap Lajnah Falakiyah Departemen Agama RI (1969-1973).

Hj. Roihanah, menantu KH. Abdul Djalil Hamid yang ditemui di kediamannya disamping Masjid Alhamidiyyah, Mlati, menceritakan bahwa dalam perjalanannya, ayah mertuanya juga sempat di penjara.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Berdasarkan data yang disimpan pihak keluarga, KH. Abdul Djalil Hamid yang menjadi Komandan Gerilya melawan Belanda di Gunung Muria (1948-1949) itu ditahan Belanda di penjara Kudus pada 1949. Data itu juga menyebutkan, Mbah Djalil pernah ditahan di era pemerintahan Orde Lama di Salatiga pada 1952-1954.

Gemar Menulis

Perhatian KH. Abdul Djalil Hamid terhadap dunia keilmuan yang demikian tinggi, khususnya ilmu-ilmu agama, ditengah kesibukannya yang luar biasa, bisa dilihat dari berbagai karya (kitab) yang ditulisnya.

Berbagai karya Mbah Djalil, diantaranya yaitu Fathur-Rouf Al-Mannan, Rubu’ Mujayyab (Quadrant), Jadwal Rubu’, Dalil Al-Minhaj, Tawajjuh, Tuhfah Asy-Asyfiya’, Ahkam Al-Fuqoha’ dan Takkalam bil-Lughoh Al-Arobiyyah.

‘’Keseharian Bapak, dulu sukanya membaca kitab, membaca buku dan menulis. Dulu juga sering mengajar ngaji di masjid ini (Masjid Al-Hamidiyah–red.). Dulu, masjidnya masih sangat sederhana,’’ terang Hj. Roihanah yang didampingi putrinya, Nur Uswati, itu.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

KH. Abdul Djalil Hamid meninggal dunia di Makkah Al-Mukarramah pada 16 Dzulqo’dah 1394 H. atau bertepatan dengan 30 November 1974.

”Yang membantu mengurusi pemakaman Mbah Djalil di Makkah waktu itu adalah Prof. Dr. KH. Maghfur Usman,” lanjutnya menambahkan.

Prof. Maghfur Usman merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) asal Cepu, Blora, yang pernah belajar di Madrasah TBS Kudus dan tercatat sebagai Mustasyar PBNU periode 2010-2015.

‘’Dulu, kalau Prof. Maghfur Usman berkesempatan hadir saat haul Mbah Djalil, beliau yang selalu membaca riwayat hidup Mbah Djalil,’’ tutur Hj. Roihanah.

Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan

KH. Abdul Djalil Hamid merupakan keturunan ke-8 dari KH. Mutamakkin Kajen, Pati. Ia menikah dengan istri pertama Siti Siryati Binti KH. Adnan Bulumanis Kidul dan dikaruniai seorang putri bernama Roudloh.

Sepeninggal istri pertama, Mbah Djalil menikah dengan Hj. Aminah Noor Binti KH. Noor Khudlrin, Baletengahan. Pernikahan dengan Hj. Aminah Noor ini, Mbah Djalil dikaruniai seorang putra, yaitu H. Hamdan Abdul Djalil.[]
(adb/ros)
Read More

Alumnus Pondok Pesantren se-Indonesia di Sorong Bentuk HAPPI


rumahnahdliyyin.com, Sorong - Bertempat di kompleks Pondok Pesantren Minhajuth Tholibin, Malawele, Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat, para alumni Pondok Pesantren se-Indonesia yang mukim di Kabupaten Sorong mengadakan ngopi bareng pada Sabtu malam, 7 April 2018. Kegiatan yang penyelenggaraannya secara spontan itu ternyata mendapat respon positif dari para alumni dengan bukti kehadiran mereka pada malam itu kendati udara terasa dingin karena selepas hujan.

Diantara mereka yang hadir ada yang alumnus dari Pondok Pesantren yang ada di Kediri, Tulungagung, Banyuwangi, Blitar, Magetan, Purwodadi, Rembang dan lainnya. Tidak lebih dari 25 orang dari berbagai Pondok Pesantren yang kesemuanya berasal dari Jawa itu membahas agenda yang memang sudah ditetapkan sebelumnya. Yakni Usaha membumikan Pondok Pesantren di Kabupaten Sorong.

"Kita berkumpul di sini itu untuk membahas bagaimana supaya apa yang telah kita peroleh selama di Pondok Pesantren dulu bisa tetap dilestarikan di sini. Kita semua memang beda-beda asal Pondoknya. Tapi setidaknya kita punya kesamaan," jelas ustadz M. Munawwir Ghozali yang merupakan inisiator kegiatan ini dalam sambutannya.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Asmat Papua Butuh Pembina Agama

Lebih lanjut, ustadz Ali, sapaan akrab ustadz M. Munawwir Ghozali itu, dengan adanya forum seperti ini, diharapkan bisa menjadi wadah untuk silaturrahmi dan ukhuwwah. Terlebih, para alumnus Pondok Pesantren yang ada di Kabupaten Sorong ini sebagian besar punya tanggung jawab Pondok Pesantren, Madrasah Diniyyah maupun Taman Pendidikan Al-Qur'an di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Karena itu, sangat bagus sekali apabila nantinya bisa saling bahu-membahu demi terwujudnya Islam sebagaimana yang telah diajarkan oleh para guru kita sewaktu kita semua masih di Pondok Pesantren jaman dulu.

Selain ustadz Ali yang alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri itu, kiai Ahmad Misri yang alumnus Pondok Pesantren Raudlatut Tholabah, Banyuwangi, juga mengharapkan hal yang kurang lebih sama. Menurutnya, bagaimanapun juga, peran alumni santri di Kabupaten Sorong ini belum terlihat signifikan. Karenanya, dengan adanya forum seperti ini, semoga tujuan mulia dan luhur ini bisa berjalan lancar dan berkah.

"Ini merupakan gagasan yang sangat bagus. Semoga diberi kelancaran dan keberkahan," tutur kiai Ahmad Misri dalam sambutannya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Acara ngopi bareng yang selesai hingga menjelang dini hari ini, akhirnya disepakati bahwa forum ini diberi nama Himpunan Alumni Pondok Pesantren Indonesia (HAPPI). Untuk kepengurusan, ustadz M. Munawwir Ghozali diamanahi sebagai ketua, ustadz M. Ihsanuddin sebagai sekretaris dan ustadz Surahman sebagai bendahara.

Sedangkan untuk program kerja, setelah melalui diskusi yang lumayan panjang, ditetapkanlah tiga program kerja, yaitu mengaji tiap hari Jum'at Legi sekaligus istighotsah atau mujahadah, bahtsul masail, dan pengabdian kepada masyarakat.[]
(Redaksi RN)
Read More

Ansor-Banser Temanggung Deklarasikan Posko Sahabat Pemilu


rumahnahdliyyin.com, Temanggung - Dua ribuan kader Ansor-Banser Temanggung, hari ini tumpah ruah di lapangan Joho, Temanggung. Apel Kebangsaan dalam rangka memperingati Harlah Ansor yang ke-84 itu mengambil tajuk "Mengawal Temanggung yang Damai dan Toleran".

Banyak tokoh lokal maupun nasional yang hadir dalam acara ini. Diantaranya yaitu H. Alfa Isnaeni (Kasatkornas), Mujiburohman (Ketua PP. Ansor), KH. Yacub Mubarok (Rois Syuriah PCNU), KH Maftuch Anyudi, KH. Haedar Muhaiminan G., KH. Isa Bahri, Jajaran PCNU Temanggung, FKPD dan tokoh Temanggung lainnya.

Baca Juga: Ansor Rembang Launching Angkringan di Tiap Kecamatan

Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Banser, H. Alfa Isnaeni, dalam kesempatan ini berpesan supaya jajarannya senantiasa bisa satu komando dan taat kepada titah pimpinan Ansor maupun NU.

“Ansor Banser harus tetap dalam satu komando dan selalu taat kepada titah pimpinan. Banser harus taat dan patuh kepada Pimpinan Ansor,” kata Alfa.

Dihadapan dua ribu lebih peserta Apel itu, ia kembali mengingatkan bahwa peran Banser adalah sebagai benteng NKRI dan Ulama.

“Tugas sahabat adalah mendakwah dan melindungi Ahlusunnah wal-Jamaah An-Nahdliyyah. Bila masih saja ada yang membid’ahkan amaliyah kita, kita tidak usah banyak memakai dalil untuk menghadapi orang tersebut. Tangkap dan hadapkan dia kepada kiai kita biar dia berdebat dengan kiai kita,” kata Alfa.

Baca Juga: Pagar Nusa Temanggung Adakan Muskercab

Pada kesempatan itu, Ansor Temanggung juga mendeklarasikan "Posko Sahabat Pemilu". Selain difungsikan sebagai media komunikasi dan koordinasi terkait Pemilu tahun 2018, Posko ini juga bisa dimanfaatkan sebagai media untuk menerima keluhan dan aduan. Misalnya aduan adanya ujaran kebencian, politik uang atau kecurangan lainnya. Dari aduan tersebut, nantinya akan ditindak lanjuti sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Tak hanya itu, Posko ini juga akan mengambil peran untuk pendampingan sebagaimana mestinya.

“Bila ada masyarakat yang merasa kurang mendapatkan haknya sebagai warga dalam masalah Pemilu, silahkan bisa hubungi Posko kami,” terang Sukron.

Sebagaimana diketahui bersama, Pemilu adalah agenda rutin dalam rangka untuk memilih pimpinan dalam proses demokrasi di negara kita. Karena itu, pemilu harus berjalan lancar dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan pada proses pemilu tersebut.

“Posko ini sengaja dibentuk untuk mendukung suksesnya Pemilu 2018,” tutup Sukron.

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Untuk mempertajam peran Posko tersebut, Ansor Temanggung mengeluarkan tiga poin komitmen, yaitu:
  1. Mendukung dan siap turut serta dalam suksesnya Pemilu 2018.
  2. Menolak dengan tegas segala bentuk kecurangan dan Politik Uang serta mengecam terjadinya ujaran kebencian, diskriminasi dan sara.
  3. Siap siaga membantu TNI/Polri menjaga kondisi masyarakat yang aman, damai dan toleran.[]
(Tim Cyber Ansor Temanggung).
Read More