Imam Sibawaih-nya Papua

Kiai Ahmad Misri saat menjadi juri Lomba Cipta dan Baca Puisi dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.
muslimpribumi.com - Belum tiga menit menunggu air panas, Nokia jadul saya berdering. "Kulo sampun teng griyo, niki," suara hape saya berbicara.

Bergegas saya meluncur ke sumber suara. Keinginan hati hendak ngopi, saya urungkan. Tak lebih 10 menit kemudian, saya sudah di depan pintu kediaman lelaki paruh baya yang beberapa menit lalu telah memantulkan suaranya di hape saya tadi.

Rona ramah dari wajahnya menyambut kedatangan saya malam itu. Ramah yang tidak dibuat-buat dan senantiasa memancar untuk semua orang itu bak oase yang mampu menentramkan hati saya yang agak kalut malam itu.

Lelaki itu bernama Ahmad Misri. Orang-orang biasa memanggilnya dengan pak Misri. Meski saya belum begitu lama mengenalnya, namun dari simpul-simpul pertemuan saya dengannya yang lumayan sering, ada keyakinan dalam hati saya bahwa beliau kurang pantas bila hanya dipanggil dengan "pak Misri."

Mendengar rencananya hendak mendirikan pondok pesantren yang dalam waktu dekat ini akan segera dimulai pembangunannya, saya jadi teringat KH. Kholil Harun, Kasingan, Rembang. Berdasar cerita yang saya dapat, santri-santri jaman dahulu itu belum merasa puas dan sempurna ngajinya bila belum nyantri kepada tiga kiai yang salah satunya adalah beliau. Ketiga kiai itu yaitu KH. Hasyim Asy'ari di Tebuireng untuk ngaji Hadits, KH. Dimyathi di Termas untuk ngaji Fiqh dan KH. Kholil Harun untuk mematangkan ilmu alat.

Cerita pak Misri terkait rencana model bangunan pondoknya yang "wah", sama sekali tak mengingatkan saya pada KH. Kholil Harun. Yang mengingatkan saya pada kiai yang berjuluk Imam Sibawaih-nya Tanah Jawa itu yaitu misinya yang hendak menjadikan ilmu alat sebagai fokus utamanya. Kalau Imam Sibawaih-nya Jawa sudah ditemukan pada jaman old, yaitu KH. Kholil Harun, baru di jaman now ini Imam Sibawaih-nya Papua diketemukan. Setidaknya Imam Sibawaih-Nya Papua versi saya.

Meski saya sempat mengingatkan pada beliau bahwa kayaknya masyarakat sekarang lebih tertarik memasukkan anak-anaknya ke pondok pesantren Tahfidz daripada ilmu alat, beliau hanya senyum saja. Dan akhirnya saya pun harus mendoakannya semoga apa yang mulai dirintisnya ini bisa menjadi penyeimbang terhadap ustadz Wahabi yang berada di Sorong ini, yaitu ustadz Firanda.

Akhirnya, mari kita langitkan do'a bersama-sama untuk kelancaran pembangunan pondok pesantren yang hendak diberi nama dengan Al-Hikmah itu. Meski bangunan pondoknya belum jadi, pak Misri sudah melakukan penggemblengan ilmu alat pada beberapa anak-anak muda di sekitarnya.

Satu yang tak mampu saya lupakan dari pertemuan saya dengan pak Misri malam itu hingga saya menuliskan ini adalah perkataannya pada saya ditelpon itu. Sungguh saya tidak pantas untuk "dibosoni" oleh beliau.

Dan ditengah maraknya orang-orang dengan mudahnya menyematkan "gelar" didepan nama seseorang dengan "ustadz", biar saya agak kekinian juga karena mengikuti mode termutakhir itu, maka saya ingin juga menyematkan "gelar" didepan nama pak Misri dengan "kiai"; Kiai Ahmad Misri.

Dari segi kealiman, saya kira lelaki kelahiran Banyuwangi ini belum ada bandingnya di Papua ini (Setidaknya di Sorong ini). Dan melihat bahasa Jawa-nya yang ditujukan kepada saya yang notabene bukan siapa-siapa dengan menggunakan bahasa Jawa yang "berkasta" agak tinggi, saya kira bisa dijadikan cerminan akhlaqnya. Lebih dari itu semua, beliau sudah dan sedang bermanfaat. Khususnya di bidang keilmuan agama Islam.

Salam.

Oleh: Agus Setyabudi, Khodim di Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.

Senin, Januari 22, 2018