rumahnahdliyyin.com - Ketika menjadi presiden, Gus Dur sering melakukan lawatan ke berbagai negara. Tujuannya untuk meyakinkan dunia internasional agar tak turut campur mengobok-obok Indonesia.
Ketika itu negeri kita diambang disintegrasi. Separatis muncul di Papua, GAM di Aceh dan RMS di Maluku yang remote-nya dimainkan di luar negeri.
Banyak orang murka. Mereka menuduh Gus Dur cuma "jalan-jalan" menghabiskan uang rakyat. Dan puncaknya waktu Gus Dur berkunjung ke ibu kota Perancis, Paris. Para pembencinya semakin menjadi-jadi.
Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika
Tapi apa kata Gus Dur saat ditanyakan hal itu, "Tahu apa mereka dengan yang saya kerjakan. Lha ngapain juga saya jalan-jalan ke Paris kalo nggak ada gunanya? Wong Paris dan Jakarta bagi saya sama saja kok. Sama-sama gelap." Ujarnya cuek. Buat Gus Dur keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk melakukan banyak hal bagi persatuan bangsa.
Hari Minggu kemarin, saya mengunjungi Sidera. Salah satu desa yang mengalami bencana Liquifaksi. Dan betapa terkejutnya saya karena bertemu Gus Dur di tempat ini.
Tapi, jangan salah paham dulu. Sebab yang saya maksud dengan pertemuan itu bukanlah pertemuan fisik. Di Sidera itu saya menemukan "ruh" Gus Dur. Gus Dur yang menjelma menjadi semangat persatuan. Semangat toleransi.
Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Uang
Di Sidera toleransi dijunjung tinggi. Masjid dan Gereja berdampingan. Warga muslim dan kristiani hidup rukun. Menurut warga setempat, walaupun orang Tator mayoritas, mereka tetap menghormati etnis Jawa yang minoritas.
Paska gempa di Sidera, banyak warga yang kehilangan tempat tinggal. Saya dengar, ada orang Jawa menetap di rumah orang Tator karena rumahnya hancur. Mereka diterima dengan baik layaknya keluarga sendiri.
Inilah yang mendorong komunitas para pecinta toleransi yang diperjuangkan Gus Dur (GUSDURIAN) untuk membangunkan warga Sidera Hunian sementara (Huntara). Harapannya, Huntara ini bisa didiami oleh siapa saja tanpa tersekat-sekat primordialisme.
Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina
Huntara ini menempati lokasi yang tidak terlalu luas. Letaknya di sepanjang jalan yang menghubungkan Desa Sidera dan Desa Jono Oge. Bangunanya sederhana, terbuat dari triplek dan dipetak-petak memanjang dari timur ke barat berbentuk persegi empat. Bangunan ini mengingatkan saya pada los-los pedagang di pasar tradisional di pedesaan. Selain hunian warga, dibangun juga musholla. Tempatnya pas di tengah-tengah Huntara.
Huntara terlihat mencolok, karena dicat warna-warni dan dihiasi gambar serta pesan-pesan bijak Gus Dur, sehingga ia terlihat unik dan mengundang perhatian warga yang lewat. Tidak sedikit diantara mereka yang mampir dan berswafoto di depannya.
Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq
Raga Gus Dur mamang telah tiada. Ia disemayamkan nun jauh di Jombang. Namun semangatnya tetap hidup. Ia tetap "pelesiran" ke mana-mana. Dan kini saya melihat Gus Dur berada di Sidera.[]
* Oleh : Abdul Hakim Madda
