Tampilkan postingan dengan label Milenial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Milenial. Tampilkan semua postingan

Nahdlatul Ulama' (NU) dan Pesantren di Era Milenial


muslimpribumi.com - Nahdlatul Ulama dapat diibaratkan layaknya sebuah pesantren besar. Ada beratus ulama dan berjuta santri di dalamnya yang saling terhubung satu sama lain. Dawuh kiai menjadi kekuatan organisasi terbesar di dunia ini. Karenanya, dalam pemaknaan lebih luas, semua Nahdliyyin disebut juga sebagai santri. Santri KH. Hasyim Asy'ari, santri KH. Wahab Hasbulloh, santri KH. Bisri Sansuri dan santri para pendiri serta masyayikh Nahdlatul Ulama.

Nahdlatul Ulama sendiri pada awalnya didirikan oleh para ulama dan segera diikuti oleh masyarakat pesantren (kiai, santri, alumni, walisantri dsb.) yang tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan hingga di berbagai negara. Karena itulah, pesantren dan Nahdlatul Ulama adalah dua hal yang tak dipisahkan. Melalui pesantren dan jaringan yang dimilikinya, Nahdlatul Ulama sebagai sebuah jam'iyyah, terus memperjuangkan cita-citanya. Menjadi pendulum bagi terciptanya Islam yang membawa rahmat bagi semesta. Tentu saja hal ini tak mudah. Apalagi menghadapi tantangan era milenial dengan tipe masyarakat muda yang sangat berbeda dengan saat ketika NU didirikan.

Dalam perjalanan panjang Nahdlatul Ulama semenjak berdiri hingga saat ini, dapat dikatakan bahwa orang-orang pesantrenlah yang senyatanya menjadi penggerak lembaga ini. Karenanya, sangat wajar jika kemudian, Nahdlatul Ulama memandang penting adanya sebuah lembaga yang diberi amanah dalam mengkoordinasi dan komunikasi dengan pesantren. Di sinilah kemudian Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) atau dikenal dengan asosiasi pesantren-pesantren NU memiliki peranan penting untuk ikut menyangga setiap gerakan yang dimotori oleh Nahdlatul Ulama.

Beberapa tugas penting RMI-NU yaitu terciptanya masyarakat pesantren yang mempunyai kemampuan dalam melakukan tata kelola pesantren yang maju, berkeadilan dan demi kemaslahatan semua. Kemudian terciptanya masyarakat pesantren yang mempunyai kemampuan sebagai agen transformasi dan perubahan sosial berdasarkan nilai-nilai luhur kepesantrenan. Serta terciptanya jaringan dan kerjasama antar pesantren. Untuk melaksanakan tugas tersebut, RMI-NU perlu melakukan pembacaan mendalam demi menemukan strategi baru menjawab tantangan era generasi milenial ini.

Era generasi milenial harus diakui memiliki potensi sekaligus tantangan. Pergeseran cara pandang masyarakat dalam melihat pesantren merupakan salah satu tantangan yang mesti dijawab. Salah satu contohnya misalnya dengan banyak orang tua zaman sekarang yang memondokkan anaknya yang berorientasi kepada kenyamanan pesantrennya. Mereka bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan baru yang mungkin tidak terpikirkan oleh para walisantri era sebelumnya. Pertanyaan seperti, bagaimana dengan gizi makanannya, bagaimana dengan kamarnya; apakah ada AC-nya, ada kasurnya, ada laundry-nya, dst. Ini berbeda dengan pertanyaan orang tua zaman dulu ketika mau memondokkan anaknya yang ditanyakan adalah kitab-kitab apa yang dikaji di pesantren, sanad keilmuan kiainya dan seterusnya.

Untuk menghadapi hal tersebut, RMI-NU menyiapkan beberapa langkah-langkah strategis yang dimulai dengan Gerakan AyoMondok. Launching gerakan nasional AyoMondok sendiri sesungguhnya sesuai dengan visi ketua umum PBNU KH. Said Aqil Siradj, yaitu “back to pesantren”.

Gerakan AyoMondok awalnya lahir karena keprihatinan terhadap kondisi beberapa pesantren yang mengalami kesulitan menghadapi persoalan-persoalan kekinian. Karenanya, gerakan AyoMondok merupakan sebuah aksi nyata untuk mengembalikan kebanggaan orang untuk kembali ke pesantren. Agar para alumni tak segan memondokkan anak-anaknya ke Pesentren. Agar orang tua yang bukan alumni pesantren tak ragu untuk memilih pesantren sebagai tempat belajar bagi anak-anaknya. Gerakan AyoMondok merupakan sebuah aksi nyata untuk mendorong masyarakat pesantren bangga menjadi santri. Dan bagi yang belum nyantri, tak ragu untuk belajar ke pesantren.

Gerakan AyoMondok didesain sedemikian rupa untuk mengajak orang kembali ke pesantren. Bahwa pesantren bukanlah lembaga tempat "pembuangan anak". Tapi pesantren adalah lembaga pendidikan utama. Pilihan pertama dalam membangun karakter generasi muda yang membuat meraka lebih siap dalam menghadapi tantangan pada era milenial ini. Karakter yang membuat anak-anak kita dapat dengan sigap menghindari hal-hal yang bisa merusak masa depan mereka.

Salah satu langkah penting untuk mendorong para alumni pesantren dan orang tua yang belum pernah nyantri tak ragu memilih pesantren untuk anak-anaknya adalah dengan memberikan informasi yang benar tentang pesantren. Untuk itu, RMI-NU memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin mengetahui segala hal tentang pesantren dengan aplikasi berbasis android “Ayo Mondok”.

Aplikasi ini terintegrasi dengan website ayomondok.net yang menyediakan database pesantren di seluruh Indonesia. Dengan aplikasi tersebut, masyarakat dapat lebih mudah mengakses informasi tentang pesantren. Misalnya, mengenai spesialisasi keilmuannya, kitab-kitab yang dikaji, foto-foto pesantren serta kegiatan-kegiatannya.

Selain itu, RMI-NU juga mengoptimalkan media sosial, baik melalui twitter @ayomondok, FanPage @Ayo Mondok dan Instagram @gerakannasionalayomondok sebagai upaya untuk hadir dan menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat mengenai pesantren.

Tantangan pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam menghadapi generasi milenial tentu tidak cukup hanya memberikan informasi tentang pesantren melalui web-web yang tersedia. Baik yang dikelola oleh RMI-NU maupun oleh kaum muda NU secara umumnya. Kesiapan masing-masing pesantren untuk menerjemahkan setiap tantangan zaman tetaplah menjadi kata kunci. Dalam hal ini, saling support dan mempererat kerjasama serta memperluas jaringan pesantren adalah keharusan. Karena hanya dengan demikianlah, pesantren sebagai kekuatan inti Nahdlatul Ulama dapat terus saling menguatkan dan menjawab tantangan era milenial.

Banyak hal yang harus dikerjakan dan banyak hal yang bisa dilakukan. Tinggal pilihan kita apakah pesantren akan mengikuti tren yang ada atau pesantren mampu membuat tren baru sembari tetap menjaga tradisi lama yang baik seperti kaidah kita “al-muhafadhoh 'alal-qodimis-sholih wal-akhdzu biljadidil-ashlah”. Wallahu a’lam bishawab.


* Oleh: H. Abdul Ghoffar Rozin, Ketua RMI-PBNU
Read More

Santri Milenial dan Tantangan Seabad NU


muslimpribumi.com - Siklus seratus tahun merupakan pembuktian Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keislaman terbesar di dunia. Klaim Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di dunia bukan pepesan kosong, tapi merujuk pada data beberapa lembaga-lembaga survey terpercaya. Bukan sebagai penghargaan yang dirayakan, tapi menjadi refleksi kritis untuk melihat sejauh mana kontribusi NU dalam konteks keislaman, keindonesiaan dan dinamika internasional.

Survey IndoBarometer pada tahun 2000 menyebut bahwa warga Nahdliyyin berjumlah 143 juta jiwa. Sementara Lembaga Survey Indonesia (LSI) pada 2013 mengungkap data bahwa sejumlah 36 persen pemegang hak pilih nasional merupakan warga NU. Singkatnya, 91,2 juta pemilih nasional merupakan warga Nahdliyyin.

Sementara itu, Alvara Strategic Research, melansir hasil survei tentang organisasi Islam yang paling dikenal publik. Survei ini melibatkan 1.626 responden di 34 provinsi dengan wawancara tatap muka. Hasilnya, NU menempati peringkat pertama sebagai organisasi keislaman yang paling dikenal dengan prosentase sebesar 97,0.

Dilanjutkan Muhammadiyah sebesar 93,4 persen dan beberapa organisasi lain. Survei Alvara (2017) mengajukan data sejumlah 50,3 persen penduduk muslim mengaku NU serta 14,9 persen berafiliasi dengan Muhammadiyah. Dari laporan riset ini, terungkap data jumlah warga Nahdliyyin sekitar 79,04 juta jiwa. Sementara warga Muhammadiyah sejumlah 22,46 juta jiwa.

Dari catatan ini, penulis ingin melihat dinamika anak muda Nahdliyyin atau lapisan santri milenial. Lapisan ini penting ditelisik aspirasi sekaligus perannya dalam proses menuju seratus tahun Nahdlatul Ulama.

Milenial santri

Bagi lingkaran peneliti sosial, milenial disebut lapisan penduduk yang lahir pada 1980-2000. Atau, mereka yang saat ini berusia 18-38 tahun. Dalam skala ini, santri milenial saat ini berada pada lapisan santri yang masih mengaji di pesantren, sedang belajar di kampus, sampai pada tahapan menjadi profesional di beberapa perusahaan atau instansi.

Lapisan santri milenial ini, sebagian besar juga mewarnai muslim kelas menengah. Ada transformasi sosial, dari keluarga santri yang dulunya berlatar belakang agraris, kemudian kuliah dan bekerja secara profesional di beberapa kota. Terbukanya kompetisi di kampus-kampus nasional dan internasional dan afirmasi atas sekolah berbasis pesantren, membuka peluang bagi santri untuk menggeluti sains dan ilmu-ilmu yang melengkapi basis pesantren. Pergeseran ini berdampak pada identitas santri milenial yang mempengaruhi pola baru warga Nahdliyin.

Dari sisi komunikasi, santri-santri milenial juga mewarnai interaksi digital. Sindikasi media yang dibangun oleh santri-santi milenial berpengaruh pada pembentukan wacana di kalangan muslim kelas menengah. Sejauh ini, puluhan media digital yang mengkampanyekan nilai-nilai Islam Nusantara atau gagasan keislaman ala Nahdlatul Ulama. Interaksi digital dengan lintas platform media sosial berpengaruh pada wajah baru warga Nahdliyin. Ini menjadi penting dalam proses menuju satu abad Nahdlatul Ulama.

Dari sejarah panjangnya, Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab besar: keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Tanggung jawab ini merujuk pada prinsip Nahdlatul Ulama dalam menjaga ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan).

Tanggung jawab ini memiliki spektrum luas: politik kebangsaan, ekonomi, hukum, pendidikan hingga diplomasi internasional. Dari peta ini, tergambar jelas bagaimana sumbangsih sekaligus tantangan Nahdlatul Ulama dalam siklus seratus tahun (satu abad).

Tanggung jawab keislaman memberi tantangan bagi Nahdlatul Ulama untuk menebar dakwah Islam Nusatara yang rahmatan lil-alamin. Dakwah Islam yang rumah, bukan Islam yang menyebar amarah. Tanggung jawab ini menjadikan Nahdlatul Ulama memiliki spektrum gerak yang luas untuk menjawab problem keislaman di dunia internasional.

Wajah muslim di ranah internasional sedang murung. Peperangan dan konflik di beberapa negara Timur Tengah meremukkan persaudaraan. Konflik di Yaman, Syiria, serta kontestasi antara Israel dan Palestina, serta dinamika negara di sekitar Saudi, merupakan tantangan besar untuk mencipta perdamaian.

Di Asia Tenggara, kekerasan terhadap muslim Rohingya di Myanmar menjadi problem serius. Dalam lanskap internasional, inisiasi perdamaian di Afghanistan mencatat peran NU dalam diplomasi perdamaian. Inisiasi perdamaian di ranah internasional ini menjadi bagian dari dakwah Islam Nusantara.

Arus baru milenial

Seratus tahun Nahdlatul Ulama bagi generasi santri milenial memiliki arti penting untuk memandang wajah organisasi ini pada masa kini dan mendatang. Dengan munculnya lapisan santri milenial, penyebutan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi tradisional, tidak lagi relevan.

Tradisionalisme dalam menjaga sub-kultur pesantren, merupakan khazanah penting yang menjadi ciri khas. Maka, bisa kita saksikan bagaimana santri-santri milenial yang kuliah di beberapa kampus internasional maupun yang sudah berkarir profesional merasa perlu dengan sholawatan, pengajian maupun rangkaian tradisi lain.

Pada ranah tantangan ekonomi kerakyatan, pola santri milenial untuk membangun arus baru ekonomi berlangsung dengan cara yang berbeda. Beberapa santri menginisiasi start-up pada pelayanan publik, media dan social bussines dengan dukungan perusahan finansial internasional.

Munculnya beragam ventura yang berani mendanai eksekusi ide-ide bisnis berbasis digital menjadi peluang berharga. Meski belum berkembang massif, gerakan santri-santri milenial sudah terasa. Perlu ada dorongan intensif agar lapisan santri milenial ini melangsungkan penetrasi pada wilayah profesional baru.

Saya, sebagai bagian santri milenial merasa betapa inovasi teknologi digital dan media sosial berpengaruh pada transformasi harokah (gerakan) santri zaman now. Santri milenial memiliki strategi yang berbeda dalam merespons tanggung jawab keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Seratus tahun Nahdlatul Ulama membuka ruang bagi santri milenial untuk membuktikan kontribusi strategisnya.

* Oleh: Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Penulis buku "Merawat Kebinekaan" (2018).
Read More