Tampilkan postingan dengan label Muslim Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim Papua. Tampilkan semua postingan

Manuskrip Samson; Al-Qur'an Raksasa Tiba di Manokwari


rumahnahdliyyin.com, Manokwari - Manuskrip Samson adalah manuskrip yang terbuat bukan dari kertas Eropa ataupun dluwang (koba-koba, dok-dok) melainkan dari kertas modern. Kertas ini biasanya dijual di pasaran dan dikenal sebagai kertas semen (zaq). Bahannya yang kuat, memang cukup bagus untuk medium penulisan naskah.

Rabu (18/11) malam, KM. Gunung Dempo  sandar di Pelabuhan Manokwari (Port of Manokwari), Papua Barat. Ini adalah momen bersejarah, sebab kapal itu juga mengangkut Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa. Dikatakan raksasa, sebab ukurannya meliputi panjang 1,5 meter, lebar 1 meter dan tebal 10 centimeter.


Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua untuk Nahdliyyin di Jawa


Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa ini awalnya milik seorang Jenderal Bintang Satu matra Angkatan Udara di Jakarta. Karena ingin agar manuskrip ini bermanfaat, akhirnya disumbangkan untuk dirawat. Namun karena kurang perhatian, akhirnya manuskrip itu didatangkan ke Papua Barat.

Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa itu memiliki penutup (cover) terbuat dari sejenis kulit binatang yang disambung-sambung. Pada bagian awal naskah alias halaman pertama adalah Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Baqoroh dengan ilustrasi warna-warni. Sosok tokoh pewayangan tampak menghiasi.

Oleh sebab itu, Dr. R.A. Muhammad Jumaan, pendiri Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi (Centre of the Study of the Islamic Manuscripts and Philology) Manokwari menyebutnya dengan nama Codex Gigas alias Qur'an Wayang. Sebab, ukuran manuskrip ini sangat besar dan terdapat lukisan sosok pewayangan di dalamnya.


Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok di Enarotali


Di bagian tengah halaman, tampak juga ilustrasi yang serupa, hanya berbeda surah. Sayangnya, pada bagian awal dan akhir tidak tercantum kolofon sehingga saat ini belum dapat diketahui siapa, kapan, dimana dan untuk tujuan apa Manuskrip Samson ini dibuat.

Namun, dari jenis tinta yang dipergunakan, yaitu tinta emas, agaknya bisa dipastikan bahwa itu adalah berasal dari spidol. Begitu juga warna-warni yang menyusun ilustrasinya. Tidak ada ilustrasi lainnya, selain yang disebutkan tadi.


Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Asmat Butuh Pembina Agama


Pembina Nasional Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAA-I), Dr. R.A. Muhammad Jumaan, yang merupakan pemilik dan pemelihara naskah itu, langsung mengambilnya di Pelabuhan Manokwari. Perlu dua orang TKBM untuk menurunkannya dari kapal ke mobil. Meski beratnya hanya sekitar 42 kg. saja, namun mengingat volumetrik yang besar, cukup sulit untuk membawanya.

"Manuskrip samson Al-Qur'an Raksasa ini merupakan suatu karya yang patut diberikan apresiasi. Kegigihan penulisnya dalam menyelesaikan penulisan 30 juz tentu memerlukan waktu yang tidak sebentar dengan iringan peristiwa yang variatif: ada suka dan duka. Menulis di atas medium yang besar juga memerlukan energi dan kenyamanan tersendiri. Bila diperkirakan ditulis dalam waktu 100 hari, maka biaya yang dikeluarkan juga tentu tidak sedikit," jelas Dr. R.A. Muhammad Jumaan kepada kontributor rumahnahdliyyin.com lewat pesan di WA.


Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifa'i


Manuskrip Samson itu memiliki fungsi sebagai obyek penelitian yang penting. Sebab, di Papua ini ditengarai banyak terdapat manuskrip sejenis. Apakah penulis dan asal lokasi pembuatan manuskrip itu sama? Hanya penelitian Filologi dan Kodikologi yang dapat menjawabnya! []

(Redaksi RN)

Read More

Peringati Maulid Nabi, Warga Maros di Biak Tetap Lestarikan Tradisi


rumahnahdliyyin.com | Biak Numfor - Himpunan Keluarga Maros, Sulawesi Selatan, tetap menjaga tradisi budaya masyarakat Bugis-Makassar meskipun tengah berada di tanah perantauan, di Biak Numfor, Papua. Tradisi budaya tersebut yaitu membagi makanan ketan telur yang dihias dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah.

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 8 Desember 2018, itu dihadiri juga oleh Pelaksana Tugas Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap. Dalam kesempatan itu, Plt. Bupati mengajak warga Maros untuk memaknai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. tidak berhenti pada perayaan seremonialnya semata.

Baca Juga: Maulid

"Jadikan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. untuk saling berbagi dan menjaga kebersamaan antarwarga Maros dalam mendukung program pemerintah," ujarnya sebagaimana diberitakan oleh Antara.

Ia juga mengajak warga Maros agar terus menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat lain dan hidup berdampingan di Kabupaten Biak Numfor.

Melalui hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., menurut Herry, diharapkan warga Maros dapat meningkatkan nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga: Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia

Sementara itu, Ketua Himpunan Keluarga Maros Biak Numfor, Abdul Kadir, mengakui bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. itu dilaksanakan warga Maros sebagai bukti pengamalan nilai ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT.

"Di peringatan Maulid, warga Maros telah membagikan telur ketan beserta lauk-pauk untuk diberikan kepada setiap tamu yang hadir," katanya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah oleh Himpunan Keluarga Maros di Biak Numfor itu memang berlangsung dengan hikmad dan cukup meriah. Adapun ketan telur maulid disediakan oleh panitia penyelenggara.[]
Read More

Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia


rumahnahdliyyin.com | Paniai - PHBI Kabupaten Paniai, Papua, pada Sabtu, 1 Desember 2018, menghadirkan ustadz. Drs. Umar Bauw Al-Bintuni sebagai penceramah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 H. Acara yang bertempat di Masjid Al-Mubarok Enarotali itu berlangsung lancar.

Dalam ceramahnya, dai kelahiran Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, itu mengajak umat Islam untuk mencintai Nabi Muhammad SAW. sekaligus meneladani akhlaq beliau dalam kehidupan sehari-hari.

"Hablum-minalloh dan yang paling utama ini adalah hablum-minannas, hubungan baik kepada sesama manusia. Apalagi kita hidup di tengah-tengah umat Nasrani yang beraneka ragam. Kita harus mengetahui hak-hak bertetangga dengan umat non-muslim yang diajarkan oleh Nabi kita. Jangan sampai perbedaan ini menjadikan perpecahan. Namun bersatu merajut persaudaraan, bergandengan untuk kehidupan yang harmonis," ujar Kasi Pendidikan Agama Islam Kanwil Kemenag Papua itu.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Selain itu, ia juga sedikit mengulas sejarah masuknya agama Islam di Papua. Dituturkannya bahwa pada tahun 1213 M., agama Islam sudah ada di Teluk Bintuni Fakfak dan menjadi agama mayoritas masyarakat asli setempat. Namun ketika ada umat Nasrani datang yang ingin menyebarkan agama Nasrani, pun tidak ditolak. Pada waktu itu, raja setempat malah mengantarkan dan menunjukkan ke sebuah pulau yang namanya Pulau Mansinam (sekarang Manokwari, red.) yang mana masyarakat di sana sama sekali belum mengenal agama dan masih menganut agama nenek moyang dan ateisme.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan

Selanjutnya, dai asli Papua itu kemudian memaparkan contoh kerukunan yang ada di Teluk Bintuni. Di sana ada Masjid Pattimburak yang arsiteknya merupakan perpaduan antara gereja dan masjid. Masjid tersebut dulunya dibangun bersama umat Nasrani dan Katolik. Dan di sebelah Masjid tersebut juga dijadikan sebagai tempat ibadah orang Nasrani dan Katolik. Di sana hidup rukun berdampingan dan saling membantu satu dengan lainnya, sebagaimana dalam kehidupan sehari hari masyarakat di sana. Apabila dari umat Islam memerlukan pertolongan, umat Nasrani pun tidak enggan untuk membantu.

Kalau sudah seperti itu, lanjutnya lagi, tidak ada agama Islam atau Nasrani. Yang ada adalah manusia dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, di sana ada istilah “Satu Tungku Tiga Batu” sebagai gambaran bahwa meskipun kita berbeda agama namun kita harus bersama-sama bergandengan tangan dan tidak bermusuhan.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Pada acara tersebut, Bupati Paniai terpilih pun, bapak Mekky Nawipa, tampak hadir dan memberikan sambutannya. Walaupun ia seorang Nasrani, ia tetap menghargai peringatan hari-hari suci umat Islam dan mengapresiasi acara peringatan Maulid Nabi itu.

"Kita semua adalah makhluk Tuhan dan kita ketahui bahwa kita hidup dan lahir di Indonesia. Dan saya yakin semua agama mengajarkan untuk saling menghormati, mengasihi antar umat satu dengan yang lainnya. Mari bersama-sama menjaga kerukunan dan membangun Papua menjadi maju, harmonis dan tidak ada perpecahan," ajak bapak Bupati.[]
(M. Taha)
Read More

1 Syawal, Tradisi Lomba Takbir Keliling di Biak, Papua, Digelar


rumahnahdliyyin.com, Biak - Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Kamis, 14 Juni 2018 mendatang, akan menggelar lomba kendaraan hias pada saat pawai takbir keliling dalam rangka menyambut malam Idul Fitri 1 Syawal 1439 H.

Koordinator lomba pawai takbir PHBI Biak Numfor, Mulyadi, pada Sabtu (09/06/2018), mengungkapkan bahwa para peserta lomba ini hanya boleh menggunakan kendaraan roda empat (mobil) dan tidak diperbolehkan memakai sepeda motor.

Baca Juga: Belajar Kemanusiaan dari Papua

Selain mewajibkan para peserta untuk menghias kendaraan dengan ornamen yang bernuansa religius, dalam lomba ini para peserta juga dituntut untuk mengedepankan tema perdamaian serta kerukunan antar umat beragama.

Lebih lanjut, Mulyadi mengatakan bahwa diantara syarat lomba lainnya yaitu lafadz takbir hanya boleh dilantunkan dengan suara yang diiringi dengan rebana, beduk atau sejenisnya.

Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifa'i

Sedangkan untuk pendaftarannya, para peserta tidak dipungut biaya sama sekali atau gratis. Karena itu, bagi para pengurus takmir masjid dan musholla, lembaga Ormas Islam serta remaja masjid yang ingin mengikuti pawai lomba takbir keliling tersebut dapat segera mendaftar di panitia.

"Untuk pendaftaran peserta pawai kendaraan hias takbir keliling Biak tidak dipungut biaya alias gratis. Ya, ini menjadi program tahunan PHBI dalam upaya memperkuat hubungan tali silaturahmi dan kerukunan antarumat beragama," terang Mulyadi.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Kendati pendaftaran lomba ini gratis, bukan berarti lomba ini hanya berhadiahkan sertifat, piagam atau semacamnya saja. Lebih dari itu, selain memperoleh piagam, pemenang lomba ini juga akan memperoleh hadiah berupa uang pembinaan dan piala.

Sedangkan untuk rute kelilingnya, imbuh Mulyadi, para peserta akan dilepas dari Lapangan Hanggar Cenderawasih Lanud Manuhua dan berakhir di Jalan Pramuka atau depan Mapolsek Biak Kota.[]

(Redaksi RN)
Read More

Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan


rumahnahdliyyin.com, Deiyai - Siang selepas sholat Dhuhur, pada hari Sabtu (21/04/2018), halaman Masjid Ash-Shiddiq, Wagete, Kabupaten Deiyai, Papua, tampak penuh oleh lautan manusia. Umat muslim Kabupaten tersebut dan juga dari Kabupaten terdekat, yakni Kabupaten Dogiyai dan Kabupaten Paniai, berduyun-duyun datang ke halaman masjid itu untuk turut memperingati Isro’-Mi’roj Nabi Muhammad SAW.

"Saya senang sekali di pedalaman Papua ada Peringatan hari-hari besar Islam. Kalau di kota-kota besar Papua, itu sudah biasa. Kalau bisa, jangan hanya satu kali saja, ketika peringatan Isro'-Mi'roj saja, namun hari-hari besar lainnya," ungkap KH. Syaiful Islam Payage yang menjadi pembicara dalam acara peringatan tersebut.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana dan Dakwah Umat Islam

Sebagai ketua MUI Papua, kiai Payage menyatakan bahwa dia siap melayani umat Islam yang berada di pelosok-pelosok dan pedalaman Papua. Lebih lanjut, dia pun bercerita bahwa hari ini, sebenarnya dia dipanggil ke Jakarta oleh bapak Kemenag RI.

"Tapi saya menunda dulu dan hadir di pengajian ini. Sebagai orang nomor satu dimata umat Islam di Papua, saya mendahulukan melayani kepentingan umat terlebih dahulu," ujar kiai yang pernah nyantri di Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, itu.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, atau Sebaliknya

Selain mengajak dan menekankan supaya umat Islam senantiasa menjaga kerukunan dan persatuan, kiai Payage menambahkan pula bahwa sebagai "gubernurnya" umat Islam Papua, dia sangat malu apabila ada umat Islam di Papua yang melakukan tindakan intoleransi dan perpecahan antar umat beragama.

Selanjutnya, dia juga memaparkan pentingnya mencintai Nabi Muhammad SAW. dan mempelajari ajaran-ajaran yang dibawanya dari Allah SWT.

"Saya bisa kenal Islam, bisa begini, karena ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Apabila umat Islam ingin anak-anaknya belajar Islam, saya siap menampung di Pesantren Payage saya di Jayapura," ucapnya kepada hadirin.

Baca Juga: Alumnus Pondok Pesantren se-indonesia Bentuk HAPPI

Dia juga menyatakan bahwa kelak, sepuluh atau dua puluh tahun kedepan, insya Allah Islam di Papua akan berkembang. Tidak hanya masyarakat pendatang saja, namun juga masyarakat asli Papua.[]



(M. Taha)
Read More

Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana Sekaligus Dakwah Umat Islam


rumahnahdliyyin.com, Deiyai - Tidak seperti biasanya yang lenggang, pada Sabtu (21/04/2018), halaman Masjid Ash-Shiddiq, Wagete, Kabupaten Deiyai, Papua, tampak sesak oleh lautan manusia. Umat muslim berduyun-duyun melangkahkan kakinya menuju halaman masjid itu guna menghadiri peringatan Isro’-Mi’roj Nabi Muhammad SAW.

Dalam acara peringatan Isro'-Mi'roj tersebut, Panitia dan Pengurus BKM Ash-Shiddiq, Wagete, Kab. Deiyai, Papua, ini mengundang umat muslim dan ormas Islam NU yang ada di sekitar Kabupaten Deiyai. Yakni Kabupaten Dogiyai dan Kabupaten Paniai. Disamping memperingati Isro'-Mi’roj, kegiatan ini sekaligus juga untuk menjalin dan memperkuat silaturrahmi umat Islam antar Kabupaten.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Adapun yang menjadi pembicara dalam acara ini yaitu KH. Syaiful Islam Payage yang berasal dari Jayapura. Selain menguraikan tentang Isro'-Mi'roj, kiai Payage yang menjabat sebagai Ketua MUI Provinsi Papua ini juga menjelaskan keutamaan sholat lima waktu kepada para hadirin.

Lebih lanjut, dalam mauidhoh hasanahnya, kiai asli Papua itu mengajak umat Islam untuk bersama-sama menjaga persatuan. Khususnya umat Islam yang berada di Papua. Baik persatuan antar sesama umat Islam sendiri maupun kerukunan antar umat beragama.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, atau Sebaliknya

"Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, itu agamanya bermacam-macam. Kalau kita lihat, agama yang dianut oleh bangsa Indonesia itu ada enam agama. Oleh karena itu, menjaga kerukunan adalah salah satu dakwah bagi umat Islam dan sekaligus salah satu sarana dalam berdakwah," tegasnya.[]



(M. Taha)
Read More

Taat Pada Hukum Jadi Titik Cerah Nasib Menara Masjid Al-Aqsha di Sentani


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua, ustadz Saiful Islam Payage, mengatakan telah bertemu dengan sejumlah tokoh adat hingga tokoh agama guna membicarakan tuntutan dari Persekutuan Gereja-Gereja Jayapura (PGGJ) yang terjadi pada pertengahan bulan lalu mengenai pembongkaran masjid Al-Aqsha di Sentani.

Kendati hasil yang disepakati belum final, ia menyebutkan ada tiga poin besar yang bisa disampaikan.

"Setelah dilakukan pertemuan, terbentuklah Tim Kecil. Ada utusan dari tokoh masyarakat, FKUB dan MUI. Dari tim kecil itu, kemarin saya sudah dapatkan, tapi masih belum final. Ada tiga poin besar yang mungkin saya bocorkan," jelas ustadz Payage di Rumah Makan Abu Nawas, Matraman, Jakarta Timur, Senin 2 April 2018, sebagaimana diberitakan oleh detik.com.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Ustadz Payage mengatakan, poin pertama yaitu menara Masjid Al-Aqsha di Sentani tidak akan diubah tingginya dan tetap pada kondisi semula. Sebab, keberadaan menara Masjid Al-Aqsha tersebut tidak melanggar hukum positif, hukum adat atau hukum agama.

Poin kedua yaitu yang terkait dengan larangan Adzan dengan keras, tidak boleh dakwah dan tidak boleh membangun masjid di instansi maupun perumahan, pihak MUI tegas menolaknya. Menurut ustadz Payage, hal itu tidak mungkin bisa dilakukan. Karena semua itu merupakan kebutuhan primer umat Islam.

"Itu sudah diterima. Artinya teman-teman Persekutuan Gereja-Gereja Jayapura juga sudah terima. Karena itu jelas impossible (tidak mungkin). Saya bilang, karena itu kebutuhan primer umat Islam untuk sholat lima waktu. Tidak bisa dihindarkan," jelasnya.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Sedangkan untuk poin ketiga yaitu umat Islam mendukung penuh umat Kristiani jika ingin membangun gereja yang lebih besar dari Masjid Al-Aqsha. Dan untuk pendanaan, akan dibantu oleh Pemerintah Daerah.

"Jika masjid Al-Aqsha ini dianggap yang paling wah begitu, kenapa teman-teman gereja ini nggak membangun gereja yang lebih wah lagi. Dan kita sepakati dalam Tim Kecil itu, nanti dana itu akan didukung oleh Pemda Kabupaten Jayapura," tutur Payage.

Kendati ketiga poin itu belum final, ustadz yang pernah nyantri di Pondok Salafiyyah Syafi'iyyah Situbondo itu menegaskan bahwa umat Islam di Papua siap membantu apapun nanti yang disepakati.

Baca Juga: Sejarah Berdirinya PCNU Paniai Papua

Sementara itu, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Kabupaten Jayapura (PGGJ), Pendeta Robbi Depondoye, sebagaimana dilansir oleh viva.co.id pada Senin, 2 April 2018, mengatakan bahwa semua pihak masih menantikan tuntasnya kerja Tim Kecil yang beranggotakan enam orang itu. Sejauh ini, Tim yang dibentuk oleh Pemkab Jayapura pada 19 Maret 2018 lalu itu masih berupaya merumuskan penyelesaian masalah.

Menurut Robbi, sebenarnya pihak-pihak yang terlibat sudah sepakat untuk tidak memperuncing masalah itu. Momen perayaan Paskah yang baru saja berlalu juga senantiasa dijaga kekhidmatannya dengan tidak adanya upaya membesar-besarkan masalah itu di sana.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Selain itu, Robbi juga menyampaikan bahwa komposisi Tim Kecil yang menangani soal itu juga diyakini akan mampu meredam ego dari masing-masing pihak dan menghasilkan solusi yang menjaga perdamaian di Sentani.

"Segala bentuk egoisme ditundukkan pada hukum dan aturan yang berlaku sebagai warga negara Indonesia," ujar Robbi.[]
(Redaksi RN)
Read More

Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, Atau Sebaliknya


rumahnahdliyyin.com, Jayapura - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Papua, Ustadz Saiful Islam Al-Payage, menegaskan bahwa umat Islam di Bumi Cendrawasih sangat mengedepankan sikap toleransi antar umat beragama. Pernyataan ini dikemukakan oleh Ustadz Payage dalam Silaturrahmi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) yang bertemakan "Merajut Persatuan dan Kesatuan, Memelihara Toleransi antar Umat Beragama di Tanah Papua" yang diprakarsai oleh Polda Papua.

"Perlu saya tegaskan bahwa umat Islam di Papua tidak sekali pun membuat intoleransi. Saya akan terdepan untuk mencegah sikap intoleransi," kata Ustadz asli Papua itu di Kota Jayapura, Papua, pada Selasa, 27 Maret 2018, sebagaimana dilansir oleh antaranews.com.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Menurutnya, umat muslim di Papua dan di Indonesia, pada umumnya telah hidup berdampingan cukup lama dengan pemeluk agama lainnya secara harmonis satu sama lain.

"Jadi, sangat salah sekali jika ada tindakan anarkis atau konflik atas nama agama. Karena, baik Islam dan Kristen, pada dasarnya adalah satu. Asal Islam dan Kristen itu satu. Jika dalam Islam disebut Nabi Ibrahim, maka dalam Kristen disebut Abraham. Dari sini-lah paham ini menyebar hingga ada Islam, Kristen, Yahudi dan agama lainnya" tambah tokoh muslim asli Papua ini yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Salafiyyah Syafi'iyyah, Situbondo, Jawa Timur.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Berbicara terkait agama, imbuh Ustadz Payage, pada intinya sama. Semua agama mengajarkan nilai universal. Nilai kebaikan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kebersihan hati dan akhlaq, sudah pasti diajarkan. Dan toleransi, juga pasti dikedepankan.

"Demi menjaga toleransi di Papua, saya harapkan isu yang terjadi diluar sana jangan dibawa ke Papua, atau sebaliknya. Saya meyakini bahwa daerah bagian barat, (Indonesia Barat, red.) pada suatu kelak akan mencontoh kerukunan dan sikap toleransi di Papua. Apalagi, semua komponen di Papua sudah komitmen untuk hidup rukun dan damai," tegasnya.

Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifai

Sedangkan mengenai pembangunan Masjid Al-Aqsha dan menaranya di Sentani, Kabupaten Jayapura, menurut Ustadz Payage sebenarnya sudah ditangani oleh MUI setempat. Hanya saja terlanjur viral kemana-mana.

"Bahkan, saya sendiri akhirnya bertemu dengan Ketua DPRD Kabupaten Jayapura untuk bahas ini. Tapi informasi beredar di media sosial facebook tidak bisa dibendung. Bahkan untuk bertindak cepat, kami gelar pertemuan di LPTQ Kotaraja, Kota Jayapura, dengan para pimpinan muslim yang ada," katanya lagi.

Sekarang, katanya lagi, sudah ada tim kecil yang dibentuk bersama untuk menyelesaikan persoalan menara masjid yang dimaksud. Sehingga, diharapkan semua pihak bersabar dalam menyikapi persolan tersebut.[]


Editor    : Redaksi RN
Sumber : antaranews.com
Read More

Sejarah Awal Perkembangan PCNU Paniai Papua


rumahnahdliyyin.com - Setelah kepengurusan PCNU di Kabupaten Paniai terbentuk secara resmi, pada awalnya, kepengurusan ini belum bisa berjalan dengan baik. Banyak kegiatan-kegiatan yang sifatnya keagamaan dan rapat-rapat, selalu menggandeng pengurus masjid setempat. Bukan apa-apa. Sebab, PCNU yang masih bau kencur ini belum mempunyai tempat Sekretariat dan gedung sendiri. Selain itu, para pengurus NU juga masih banyak yang belum mengetahui tentang NU secara mendalam.

Pada tahun 2014, setelah kepengurusan berjalan kira-kira empat bulanan, pengurus NU pun mengadakan musyawarah. Dalam musyawarah ini, pengurus NU membahas keinginannya yang kuat untuk mencari dan membeli tanah yang nantinya akan dijadikan sebagai Sekretariat sekaligus lokasi pendidikannya.

Baca Juga: Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai Papua

Mengingat pendidikan yang dikelola oleh pengurus NU selama ini (Madin dan TPQ) masih meminjam serambi Masjid Al-Mubarok, dengan alasan tersebut, akhirnya disepakatilah untuk mencari informasi tanah yang dijual sembari mempersiapkan dananya.

Dalam kesempatan ini pula, PCNU mendiskusikan keinginannya untuk melebarkan sayapnya agar NU di Paniai bisa berkembang. Dan salah satu strategi yang disepakati adalah melalui jalur pendidikan. Walhasil, dibentuklah LP. Ma’arif dan BP2 Ma’arif. Dan Madrasah Diniyyah yang sedari awal namanya Al-Mubarok, pun akhirnya dirubah menjadi Madrasah Diniyyah Ma’arif NU.

Diujung tahun 2014, PCNU yang masih sangat muda ini pun berkesempatan untuk pertama kalinya memenuhi undangan dalam Muktamar NU di Jombang. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan. Sebelum acara Muktamar, mereka mengagendakan untuk bersilaturrahmi sekaligus meminta do’a restu kepada PBNU di Jakarta agar PCNU Paniai dapat mengemban tugasnya dengan lancar serta mampu mewujudkan cita-citanya saat itu, yaitu memiliki Sekretariat dan gedung pendidikan.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai Papua Peringati Harlah NU Ke-92

Lambat laun, dengan perjuangan dan kerja keras serta do’a dari pengurus NU, guru Madrasah serta santri yang belajar, ditambah lagi dukungan dari para tokoh dan wali santri, akhirnya pada pertengahan tahun, tepatnya bulan Shofar 1437 H., PCNU mendapatkan angin segar. Yaitu ada seseorang yang menawarkan tanah kepada pengurus NU.

Mengingat membeli tanah di Paniai sangatlah tidak mudah, peluang dan kesempatan tersebut akhirnya ditindak lanjuti dengan serius. Dengan mengadakan musyawarah dan masukan dari para tokoh setempat, dibahaslah soal pembelian tanah tersebut. Dengan bermodal dana kas yang pas-pasan, akhirnya kekurangan tersebut bisa terlunasi dengan penggalangan dana. AlhamduliLlâh, akhirnya tanah tersebut berhasil dimiliki oleh PCNU yang lokasinya sekarang ini berada di Kampung Nunubado, Distrik Eikaitadi, Paniai Timur.

Hingga saat ini, dilokasi tanah tersebut pun sudah berdiri dua bangunan gedung yang difungsikan sebagai tempat pendidikan Madrasah Diniyyah, TPQ dan Madrasah Ibtidaiyyah Ma’arif NU Paniai.

Baca Juga: Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di jawa

Kepengurusan PCNU Paniai pun saat ini sudah berjalan dengan cukup baik. Diantara kegiatannya yang rutin setiap bulannya yaitu Khotmil Qur'an bin-Nadhor yang bertempat di Madrasah Ma'arif NU Paniai. Tentu saja ada juga diskusi dalam kegiatan ini yang membahas tentang perkembangan umat Islam terkini dan ke-NU-an. Selain itu, ditiap hari-hari besar Islam pun, semisal Maulid Nabi SAW., PCNU Paniai juga tak pernah ketinggalan untuk memperingatinya.

Dengan adanya PCNU di Kabupaten Paniai ini, semoga akan membawa manfaat bagi warga Paniai pada umumnya dan bagi umat Islam pada khususnya. Serta Syiar Islam pun semoga bisa semakin berkembang mengingat organisasi ini yang senantiasa mencerminkan Islam yang ramah bagi siapa dan apa saja (rohmatan lil'alamin).

Meskipun saat ini kepengurusan PCNU Paniai sudah berjalan dengan cukup baik, kendati demikian, sebagai Ormas yang tergolong masih baru, tentu saja masih membutuhkan bimbingan dan arahan dari kepengurusan yang berada ditingkat atasnya, dalam hal ini yaitu PWNU Papua ataupun PBNU. Dan semoga semua pengurus PCNU Kab. Paniai ini senantiasa diberikan kesehatan dan keistiqomahan. Amin.[]


* Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU Paniai
Read More

Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai Papua


rumahnahdliyyin.com - Sebelum melangkah lebih jauh tentang NU di Paniai, penulis ingin sedikit memberikan deskripsi singkat tentang kondisi geografi dan corak masyarakat di Kabupaten Paniai.

Begini, Kabupaten Paniai merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Papua yang berada di pegunungan tengah Papua. Atau, tepatnya di pedalaman Papua yang berjarak sekitar 300 km. dari daerah Nabire.

Dalam hal beragama, penduduk Kabupaten Paniai memeluk agama yang beragam, mulai dari Kristen, Katolik, Islam, Hindu dan agama yang lainnya. Begitu pula untuk suku, ras dan budaya. Ada Papua, Jawa, Buton, Batak, Bugis dan lainnya.

Adapun agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat asli Paniai sendiri adalah agama Kristen dan Katolik. Meskipun Islam merupakan agama yang minoritas di Paniai, akan tetapi sudah menjadi kewajiban umat Islam ketika berinteraksi antar agama harus mengedepankan prinsip Islam, yaitu ta'awun, tawasuth, tasamuh, tawazun dan lainnya demi kemaslahatan antar umat beragama.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai Papua Peringati Harlah NU Ke-92

Latar Belakang Berdirinya NU

Keberadaan umat Islam di Kabupaten Paniai, dari tahun ke tahun, cukup mengalami perkembangan. Menurut data Baznas, dua tahun terakhir ini, yaitu pada tahun 2016 dan 2017, jumlah pemeluk Islam ada sekitar 5.000 jiwa.

Jumlah umat Islam tersebut rata-rata berasal dari kaum pendatang. Artinya, tidak penduduk asli Papua. Dan para pendatang tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Diantaranya dari Bugis, Makassar, Buton, Maluku, Batak, Jawa dan lainnya. Dalam aktivitas kesehariannya, masyarakat muslim pendatang ini berprofesi sebagai pedagang, guru, dokter, PNS, aparat keamanan dan berbagai jenis profesi lainnya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Dalam menjalankan ajaran Islam, dari jumlah data 5.000 jiwa umat Islam tersebut, ternyata 2.000 jiwa diantaranya adalah pengamal Islam Aslussunnah wal-Jama'ah An-Nahdliyyah. Karena umat Islam yang ada di sini merupakan kaum pendatang dan bermacam-macam latar belakangnya, baik dari segi pendidikan maupun pengetahuan agamanya yang sangat minim sekali, maka terkadang ada umat Islam di Paniai yang tidak tahu dalil-dalil ibadah yang bertanya: "Mengapa umat Islam itu cara berfikir dan beribadahnya seperi itu?"

Di samping itu, di Paniai sendiri terkadang kedatangan kelompok Islam dengan wajah yang berbeda-beda yang kemudian sering menimbulkan pertanyaan: "Sebenarnya ajaran Islam itu yang bagaimana?"

Mengingat kuantitas umat Islam yang semakin bertambah, akan terasa ganjal apabila semua problematika umat hanya didengarkan saja tanpa diberikan solusi serta jawaban yang jelas.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Dari sinilah akhirnya para guru yang ada di Madrasah Diniyyah memerankan fungsinya sebagai penerang dan rujukan umat. Dari sini pula, kemudian muncul gagasan untuk mendirikan sebuah Organisasi Masyarakat yang bernama Nahdlatul Ulama (NU).

Dengan adanya ormas NU ini, disamping sebagai wadah bagi umat Islam di Kabupaten Paniai, juga difungsikan sebagai jalan dakwah dan syiar Islam serta penanaman nilai-nilai pendidikan agama Islam yang berfaham Aswaja An-Nahdliyyah.

Sejarah Awal Berdirinya NU

Awal berdirinya NU di Kabupaten Paniai tidak bisa lepas dari campur tangan serta sentuhan para guru yang mengajar di Madrasah Diniyyah Al-Ma’arif NU yang berdiri pada Juni 2013. Para guru yang mengajar di madrasah yang sebelumnya bernama Al-Mubarok ini merupakan alumni pesantren. Dengan pertemuan setiap mengajar dan diskusi ringan serta seringnya bermusyawarah, maka muncullah ide dari para guru ini untuk mendirikan Ormas NU.

Baca Juga: Jama'ah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad Benteng Aswaja di Asmat

Setelah bertekad dan sepakat untuk mendirikan Jam’iyyah NU, dari forum guru sendiri mendapatkan kendala, yaitu bagaimana proses tata cara untuk mendirikan PCNU. Beberapa guru, akhirnya bertanya kepada teman-temannya yang aktif di NU di Jawa.

Setelah mendapat informasi yang cukup memadai, kemudian dikomunikasikanlah hal itu kepada para tokoh agama serta orang tua yang sudah lama tinggal di Paniai ini sekaligus memohon saran. Sebab, jangan sampai adanya PCNU ini, nanti akan berdampak perselisihan antar umat Islam.

Dan alhamduliLlâh, dari golongan orang-orang tua tersebut menyetujui dan sepakat. Dukungan pun datang dari Ketua MUI Paniai, yakni H. Joko Suprayetno serta Kemenag Paniai Seksi Pendis dan Bimas Islam, yaitu H. Dahlan Kader.

Baca Juga: Lomba Cipta dan Baca Puisi di Papua

Langkah selanjutnya, pada tanggal 20 Agustus 2014, diadakanlah musyawarah di serambi Masjid Al-Mubarok, Enarotali, Paniai. Diantara yang hadir waktu itu adalah Kepala Madin (Ahmad Muslih), para guru Madin (Shodikin, Sumadi Rohmat dan Nur Khoironi) dan dari pengurus Masjid (Sabri dan Darmawan Arif). Musyawarah ini membahas tentang struktur kepengurusan dan program yang akan datang.

Dan alhamduliLlâh, pada tanggal 24 Agustus 2014, struktur kepengurusan PCNU Paniai ditetapkan. Adapun struktur PCNU masa khidmat 2014-2019 ini yaitu H. Dahlan Kader sebagai Syuriah dan Sodikin sebagai Ketua Tanfidziyyah. Sedangkan untuk sekretaris dipegang oleh Sumadi Rahmat dan Nurkhoironi. Dan untuk bendahara dipegang oleh Wahyu dan Eli Sitorus.

Dan alhamduliLlâh lagi, pada bulan Desember 2014, atau bertepatan dengan tanggal 9 Robi'ul Awwal 1439 H., struktur kepengurusan PCNU Paniai ini disahkan melalui SK oleh PBNU.


* Oleh: M. Taha, aktivis Muda NU di Paniai.
Read More

Jalan Hidayah Rafael atau Rifa'i


rumahnahdliyyin.com - Namanya Rafael. Tapi itu dulu. Dulu, sebelum ia tiap hari menyambangi masjid. Dulu, sebelum ia mengerjakan ibadah yang namanya sholat. Dulu, sebelum ia menyatakan diri sebagai seorang muslim dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat.

"Ustadz Syafi'i bicara pada saya: kau punya nama sekarang Rifa'i, sudah. Saya Syafi'i, kau Rifa'i," ucapnya pada saya yang disertai senyum-senyum menirukan perkataan ustadz Syafi'i.

Ustadz Syafi'i adalah ustadz yang menuntun Rafael membaca dua kalimat syahadat. Beliau pulalah yang mengganti nama Rafael menjadi Rifa'i. Meskipun hanya sebuah nama, namun hal ini merupakan fase bersejarah yang sangat penting dan paling bermakna bagi Rifa'i. Sebab, sejak dari sinilah fase kehidupannya sebagai seorang muslim baru dimulai.

Tak berselang lama kemudian, pria yang telah membaca syahadat di salah satu masjid di Merauke ini pun melaksanakan khitan. Meski waktu itu usia Rifa'i sudah 20-an tahun, namun ia tak merasa ada beban untuk melaksanakan khitan.

Baca Juga:
Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa
Muslim di Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Rifa'i merupakan pria kelahiran distrik Atsi. Dulu, Atsi termasuk dalam Kab. Merauke. Tapi, sejak pemekaran pada tahun 2004, distrik Atsi kini masuk dalam wilayah Kab. Asmat.

Sebagai distrik yang tergolong pedalaman, jarang ada penduduk asli Atsi yang berpendidikan tinggi. Karenanya, banyak tenaga-tenaga pendidik dan kesehatan yang bertugas disana berasal dari luar. Dan Rifa'i mengenal salah satu dari mereka. Yaitu seorang suster dari Jawa.

Dari perkenalan inilah kemudian Rifa'i diajak suster tersebut pergi ke Merauke. Kendati asli orang Jawa, orang tua si suster tersebut juga memiliki rumah dan tinggal di Merauke. Oleh orang tua suster tersebut, akhirnya Rifa'i diangkat menjadi anak. Dan singkat cerita, di Merauke inilah Rifa'i menyatakan diri sebagai muslim.

"Bapak, saya ingin masuk Islam," ucap Rifa'i pada bapak angkatnya waktu itu.

Baca Juga:
Kiai Said Tuntun Syahadat Warga Amerika
Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur'an Kepada Mu'allaf
Kiai Said Tuntun Seorang Agnostik Amerika Masuk Islam

Kendati seorang muslim, bapak angkat Rifa'i tidak lantas meloloskan begitu saja keinginan Rifa'i. Bapak angkatnya bilang bahwa Islam itu bukan agama main-main. Jadi, ia meminta Rifa'i untuk tidak usah pindah ke agama Islam.

Larangan orang tua angkat Rifa'i, ternyata tidak menyurutkan niatnya. Berulang-ulang ia sampaikan pada orang tua angkatnya itu bahwa ia tidak sedang main-main. Ia serius.

Setelah orang tua angkatnya berhasil diyakinkan, akhirnya diajaklah Rifa'i untuk menemui seorang ustadz setempat, yaitu ustadz Syafi'i. Bertempat di salah satu masjid di Merauke, akhirnya berlangsunglah pengikraran dua kalimat syahadat oleh Rifa'i atau Rafael yang dibimbing oleh ustadz Syafi'i.

"Saya sering menangis di dalam Gereja. Di depan (patung) Yesus, saya sering menangis sambil meminta supaya Tuhan memberikan firdaus (surga)," terangnya pada saya ketika saya menanyakan bagaimana hidayah Islam datang padanya.

Kebiasaan Rifa'i menangis di depan patung Yesus di dalam Gereja ini, berlangsung lama. Baik selama ia masih berada di Atsi, maupun ketika ia sudah berada di Merauke. Tidak ada sesuatu atau kejadian khusus lainnya yang menuntun Rifa'i dalam perjalanannya merengkuh hidayah Islam selain hal tersebut.

Memang, jalan menuju hidayah Islam itu macam-macam. Kendati demikian, bila Allah SWT. sudah menghendaki siapa saja untuk memeluk Islam, pasti itu akan terjadi walaupun tanpa ada proses yang berjalan.

انّ الله يهدى من يشاء

Akhirnya, pria yang kini tinggal di distrik Agats, Asmat, Papua itu, kini juga aktif mensyiarkan Islam di beberapa daerah di tanah Papua bersama Jama'ah Tablighnya. []


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
Read More

Nahdliyyin Mimika Peringati Harlah NU Ke-92

muslimpribumi.com - Antusiasme Warga NU Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, dalam memperingati Harlah NU ke-92, dibuktikan dengan diadakannya kegiatan di tiga titik pada waktu yang berurutan dengan melaksanakan Istighotsah Maraton.

Bertempat di Masjid Al-Ikhlas, Kampung Wanagon, peringatan Harlah NU ke-92, menampilkan remaja masjid dengan sholawat "Assalamu'alaika ya Rasulullah" dan "Qamarun" untuk membuka acara. Antusiasme mereka dalam persiapan sebelum tampil, luar biasa.

Acara dilanjutkan dengan lantunan istighotsah dan ceramah oleh Ustadz Hasyim yang dikemudian dilanjut dengan acara kilas balik sejarah berdirinya NU oleh Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso.

Shahibul bait, Ustadz Fadlan, mengajak orang tua untuk mendukung anak-anaknya supaya giat mengaji. "Mari kita didik dan dukung anak-anak kita mempelajari agama agar bisa meneruskan perjuangan para muassis dan kiai-kiai NU dalam menyebarkan Islam santun dan damai," urai ustadz Fadlan.

Pada pagi ba’da shubuh, hari Ahad di tanggal 4 Februari, istighotsah juga digelar di masjid Al-Fattah yang terletak di Trans lama SP3 Kampung Karang Senang. Acara diawali dengan syair istighotsah. Siraman rohani oleh Ustadz Hasyim dan kilas balik sejarah berdirinya NU oleh wakil ketua PCNU Mimika, Sugiarso. Acara ditutup dengan sholat Dluha berjama'ah oleh H. Ali Ma'ruf.

Pada malam harinya, ba’da isya' di hari yang sama, di masjid Nurul Hikmah, Kampung Mwuare, KM. 14, harlah NU ini diisi juga dengan istighotsah. Syair istighotsah mengawali acara dan dilanjutkan ceramah oleh Ustadz Hasyim.

Lantunan shalawat An-Nahdliyyah mengawali peringatan Harlah NU ke-92. Ustadz Hasan dan Ustadz Mukhid selaku tuan rumah telah menyiapkan tumpeng yang luar biasa yang ditancapkan bendera NU di tengahnya.

Dalam ceramah di tiga lokasi, Ustadz Hasyim mengajak jama'ah untuk menggapai kesejahteraan; lima di dunia dan lima di akhirat. "Bagaimana cara kita menggapainya?" tanya Ustadz Hasyim kepada jama'ah.

"Caranya kita harus berjama'ah dalam kebaikan. Kita duduk di majelis yang didalamnya kita sebut nama Allah SWT., istighfar, sholawat, tahlil, takbir, maka diampuni dosa kita dan mendapatkan rahmat. Walaupun datang ke acara sudah mau selesai dan ngowoh saja, tetap dapat ampunan dan rahmat," urai Ust. Hasyim

Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso, dalam peringatan kilas balik sejarah berdirinya NU menyebutkan bahwa Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar dan Tashwirul Afkar adalah tiga pilar utama cikal bakal berdirinya NU berkat usaha KH. Wahab Chasbullah.

"NU yang andil mendirikan negara. Tidak mungkin NU merobohkannya dengan mengutak-atik PBNU (Pancasila, Bhinneka tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945). Tugas kita sekarang adalah merealisasikan tiga pilar NU ini zaman now dengan penguatan ekonomi, pendidikan dan agama, dan kebangsaan," terangnya.

Acara ditutup dengan kirim doa untuk para muassis dan kiai NU. Bendera NU yang ditancapkan pada tumpeng menjadi simbol pelajaran sejarah dan rasa syukur NU yang tetap menjadi pedoman beragama, berbangsa dan bernegara.


Sumber: nu.or.id
Read More

PCNU Kab. Paniai, Papua, Peringati Harlah NU Ke-92

muslimpribumi.com - Setiap tanggal 31 Januari, organisasi terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama’, memperingati hari lahirnya. Di tahun 2018 ini, usia organisasi yang didirikan oleh Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari beserta para ulama' Nusantara ini kini genap berusia 92 tahun.

Acara peringatan Hari Lahir itu biasanya juga diikuti oleh para Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, Pengurus Anak Cabang, Ranting, Badan Otonom maupun Lembaga-lembaga NU yang ada diseluruh Indonesia, selain tentu saja Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' yang ada di Jakarta.

Tujuan diadakanya peringatan Harlah ini disamping untuk mensyukuri ni'mat Allah SWT. atas keistiqomahan Jam'iyyah NU selama ini, juga untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan pendiri NU sekaligus meneguhkan kembali peran ormas NU kepada umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Diantara PCNU yang tidak mau ketinggalan untuk memperingati Harlah NU ke-92 kali ini yaitu PCNU Kab. Paniai, Propinsi Papua. Meskipun keberadaan PCNU tergolong masih baru dan asing di telinga masyarakat setempat, namun hal itu tidak menyurutkan semangat para pengurusnya. Justru momen seperti ini merupakan ajang yang tepat untuk mensosialisasikan pada masyarakat setempat tentang NU.

Dan kegiatan peringatan Harlah NU yang di selenggarakan oleh PCNU Paniai ini pun sudah dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 21 Januari 2018 kemarin yang bertempat di Madrasah Ma’arif NU Paniai. Rangkaian acara dimulai sejak pagi jam 09.00 WIT. sampai jam 11.00 WIT. dengan pembacaan Khotmil Qur’an. Acara ini diikuti oleh para pengurus PCNU serta jam’aah yang kemudian dilanjutkan dengan acara puncak pada jam 13.00 WIT. sampai jam 15.00 WIT., yaitu santunan anak yatim-piatu serta sambutan-sambutan dan Mauidhoh Hasanah yang diakhiri dengan do’a bersama.

Pada acara puncak ini terlihat hadir ratusan masyarakat umum, para santri, wali santri Madin Ma’arif NU, dan jajaran aparat keamanan baik Bapak Kapolres dan TNI yang ada di kabupaten Paniai. Adapun anak yatim yang menerima santunan berjumlah 23 anak; 17 putra dan 7 putri. "Semoga dengan diberikan santunan ini dapat memberikan manfaat serta kelak menjadi anak yang sholih-sholihah, amin," ujar ketua Madin, Ahmad Muslih.

Dalam sambutannya, Ketua PCNU Kab. Paniai, Bapak Sodikin, menyampaikan maksud dan tujuan diselenggarakan acara ini. Yaitu supaya masyarakat umum tahu sejarah berdirinya ormas NU dan peran serta kontribusi NU, baik di masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta mengajak bersama-sama mayarakat untuk selalu mengajarkan Islam yang ramah dan santun. Tidak seperti Islam yang ada di media-media yang selalu mengajarkan kebencian dan radikal.

Semoga dengan acara ini bisa memberikan manfaat dan berkah serta rasa aman bagi masyarakat Muslim di Paniai pada khususnya, dan umumnya bagi masyarakat non-muslim. Serta semoga PCNU Kab. Paniai diberikan tetap istiqomah dalam berkhidmah mensyiarkan ajaran ASWAJA seperti apa yang telah dicita-citakan oleh para ulama’ NU terdahulu, Amin.

Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU di Paniai, Papua.
Read More

Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa


muslimpribumi.com - Madrasah Diniyyah atau yang sering di sebut Madin merupakan lembaga pendidikan keagamaan non-fomal yang sampai saat ini keberadaanya dari masa ke masa telah terbukti memberikan kontribusi positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Umumnya, Madrasah Diniyyah berkembang dan tersebar di pulau Jawa mulai dari desa-desa hingga kampung-kampung di pelosok Nusantara ini. Dan kebanyakan mereka yang mendirikan punya latar belakang santri dari pondok pesantren.

Berbicara mengenai problematika Madrasah Diniyyah di forum seminar, kajian serta penelitian yang memerlukan waktu dan dana yang tidak sedikit, hasilnya akan sia-sia saja dan tidak akan menemui pokok dari akar permasalahan dan menemu solusi yang jitu jikalau sekedar dibicarakan saja tanpa melihat secara langsung dan tindakan nyata.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa salah satu faktor utama untuk menyelenggarakan pendidikan formal maupun non-formal adalah soal finansial. Kemudian tenaga pendidik atau guru, gedung, kemudian santrinya.

Memang, Madrasah Diniyyah di Indonesia mengalami permasalahan yang kompleks dan hampir di semua daerah lain juga sama, baik itu yang ada di pulau Jawa maupun di luar Jawa. Untungnya, Madrasah Diniyyah memiliki susuatu yang melekat pada pengelola dan para gurunya yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain seperti sekolah konvensional kebanyakan, yaitu keikhlasan.

Tidak ada salahnya kalau mari kita simak potret Madrasah Diniyyah di Papua. Dan sebelum melangkah lebih jauh, paling tidak kita semua sudah tahu bahwa di Papua mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Kristen dan Katolik. Umat Islam di Papua merupakan bagian minoritas saja. Memang ada beberapa daerah di Papua yang penduduk aslinya mayoritas muslim, misalnya di Kabupaten Fakfak. Kendati demikian, pada umumnya masyarakat di Papua yang beragama Islam adalah masyarakat pendatang mulai dari pegawai, pekerja dan pedagang yang berasal dari Jawa, Bugis, Buton, Makasar dan lain lain. Ada pula masyarakat asli Papua yang beragama Islam namun sangat tidak signifikan jumlahnya.

Perlu diketahui juga bahwa kondisi sosial-budaya masyarakat Papua sangatlah beragam. Baik budaya, agama, ras, maupun suku. Namun, kebanyakan penduduk asli Papua bisa menerima, wellcome dan baik-baik saja terhadap keberagaman. Kalaupun ada yang keberatan dan intoleransi serta bersifat fanatik bisa dibilang sangat sedikit.

Kemudian, apakah ada Madrasah Diniyyah di Papua? Dengan asumsi bahwa di tiap daerah di Papua pasti terdapat umat Islamnya, maka dipastikan ada Madrasah Diniyyah di daerah-daerah tersebut mengingat sangat pentingnya keberadaannya. Disamping itu, dari Pemerintah Daerah lewat Kemenag selalu mendukung dan mengapresiasi langkah dan kegiatan bagi umat Islam, baik itu pendidikan maupun kegiatan sosial keagamaan demi syi'ar Islam di tanah Papua.

Namun kenyataannya, eksistensi Madrasah Diniyah di lapangan sangatlah berbeda dan sangat memprihatinkan. Apabila di Jawa rata-rata masalahnya adalah disegi finansial, namun kebanyakan persoalan Madrasah Diniyyah di Papua tidak hanya soal uang an sich. Yang paling utama yaitu keberadaan seorang guru. Terutama di Madrasah-Madrasah Diniyyah yang mengajarkan Islam Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah An-Nahdliyah.

Permasalahan ini bukan hanya terjadi di daerah saya saja (Kab. Paniai, Papua. red), namun menjadi kendala di semua Madrasah Diniyyah dan TPQ di Papua dan Papua Barat. Ada Madrasah Diniyyah namun tidak ada yang mengajar merupakan suatu hal yang sungguh ironis dalam dunia Islam. Ada juga yang ingin mendirikan Madrasah Diniyyah namun diurungkan karena tak ada yang mengajar. Lebih ironis lagi, ada Madrasah Diniyyah yang bubar lantaran bubarnya para pengajar.

"Mungkin karena problem Madrasah Diniyyah di Papua belum menjadi isu Nasional. Masih di taraf perorangan yang lokal," canda teman yang ada di kabupaten lain menanggapi perihal ini.

Selain itu, ada juga Madrasah Diniyyah yang tidak/belum memiliki tempat atau gedung yang memutuskan dengan menempuh jalan "nunut nebeng" di teras serambi Masjid.

Sebagaimana saya jelaskan di depan bahwa rata-rata yang ikut dalam membantu pendirian, para guru serta yang menghidupkan Madrasah Diniyyah di Papua dan Papua Barat adalah para santri-santri NU dari pesantren dan mempunyai jiwa militan, ikhlas nasyrul-'ilmi yang mengamalkan ajaran Islam Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Semoga saudara-saudara yang mengajar dan mengabdi di Madrasah Diniyyah di Papua dan Papua Barat senantiaaa diberi kesehatan dan bisa Istiqomah melanjutkan ajaran dan cita cita Nahdlatul Ulama’.

Kemudian, harapan dari teman-teman yang mengabdi di Papua dan Papua Barat adalah memohon kepada PBNU atau organisasi lain yang berahaluan Ke-NU-an untuk mengirimkan dan menugaskan kader-kadernya di Papua dan Papua Barat. Dari PCNU Kab. Paniai kami siap menerima dan membuka pintu lebar-lebar menyambut kedatangannya. Serta insya Allah dari PCNU kami sanggup memberikan biaya transport, biaya hidup serta bisyaroh.

Dengan langkah seperti itu, umat Islam di Papua dan Papua Barat, khususnya PCNU di Papua dan Papua Barat, bisa mengambil pelajaran dan NU bisa berkembang dan maju disamping pengelolaan Madrasah Diniyyah dan TPQ diharapkan bisa berkembang dan para santri mempunyai pengetahuan dan pelajaran tentang Ke-NU-an serta Madrasah Diniyyah tidak kosong karena tidak ada gurunya dan Madrasah Diniyyah di Papua bisa berjalan dengan baik dan berkembang seperti di daerah Jawa dan daerah lainnya yang sudah mantab dan istimewa.

Salam.


* Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU di Kab. Paniai, Prop. Papua.     
Read More

Lomba Cipta & Baca Puisi Di Papua

  Panitia Lomba berfoto bareng dengan para juara lomba

muslimpribumi.com | Sorong - Kamis, 28 Desember kemarin, di kompleks suku Kokoda di Kurwato, Aimas, Kab. Sorong, Papua Barat, tidak sepi seperti biasanya. Anak-anak dari Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA/TPQ) dan Madrasah Diniyyah se-Kab. Sorong berduyun-duyun datang ke kompleks itu.


Ya, sebelumnya mereka telah menciptakan puisi. Sebab, lomba pada hari itu yang diselenggarakan oleh Buletin An-Nahdlah dan Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah yang notabene sebagai penerbit buletin tersebut adalah Lomba Cipta & Baca Puisi. Jadi, anak-anak itu tidak sekedar membacakan puisi. Melainkan juga menciptanya dengan tema yang telah ditentukan oleh panitia lomba, yaitu tentang Nabi Muhammad SAW.

Meski pagi itu dihiasi dengan hujan, sejak pukul 07.30 waktu setempat, Kurwato mulai diramaikan dengan anak-anak penuntut ilmu agama Islam tersebut. Dengan didampingi para ustadz dan ustadzah di tempat mereka belajar, dari wajah-wajah mereka terlihat sekali antusias mereka untuk membacakan puisi yang telah mereka ciptakan. "Lomba ini bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi dunia tulis-menulis yang melekat pada diri anak-anak di Papua. Khususnya anak-anak muslim," begitu penjelasan ketua Panitia Lomba, bapak Hamzah Edoba.

Sebelum membuka lomba, pihak Kementerian Agama Kab. Sorong yang pada pagi itu diwakili oleh bapak Supriyanto, dalam sambutannya lebih fokus memberikan semangat kepada masyarakat suku Kokoda.

"Suku Kokoda yang akan datang harus berubah. Harus lebih maju. Tapi perubahan dan kemajuan itu tidak boleh dengan menjadi orang lain. Maksudnya, tetaplah menjadi orang Kokoda yang maju. Misalnya tetap selalu memakai bahasa Kokoda. Jangan lantas maju, kemudian tidak lagi memakai bahasa Kokoda. Jangan lantas maju, memakai bahasa "gue", "elu". Tetaplah jadi Kokoda. Jangan jadi Kokoda-Jawa, Kokoda-Bugis, Kokoda-Batak atau Kokoda-kokoda yang lain. Banggalah menjadi orang Kokoda," papar Kepala Bagian Pendidikan Islam Kementerian Agama ini agak panjang lebar.

Lomba yang berakhir hingga menjelang 'Ashar itu, akhirnya diperoleh enam anak sebagai pemenang lomba. Tiga anak meraih Juara satu, dua dan tiga. Dan tiga anak lagi meraih juara harapan satu, dua dan tiga.

Juara satu berhasil diraih oleh seorang anak yang berasal dari TPA. Al-Muttaqin, yaitu ananda Suci Resky Ramadhani dengan puisi hasil kreatifitasnya yang berjudul "Muhammad, Aku Rindu".

Juara dua diraih oleh ananda Syifa'us Sariroh dari Madrasah Diniyyah Syarifah Ibrahim dengan puisi karyanya yang berjudul "Matahari Dunia".

Juara tiga direngkuh oleh ananda Kartika Apria Ningrum yang berasal dari TPA. Baitur Rahim dengan puisinya ciptaannya yang berjudul "Nabi Tercintaku".

Masing-masing juara ini mendapatkan piala, souvenir dan beberapa rupiah untuk modal pengembangan diri mereka dalam menggeluti dunia listerasi, khususnya sastra, dan terkhusus lagi sastra puisi.

Adapun Juara Harapan 1 diraih oleh ananda Nur Afifah Nanda Riyanti dengan puisi karyanya yang berjudul "Kerinduan Bertemu Rasulullah SAW." Dia berasal dari TPA. Nurul Hidayah.

Sedangkan Juara Harapan 2 dan 3 berasal dari Madrasah Diniyyah yang sama, yaitu dari Madrasah Diniyyah Adz-Dzakirin. Berturut-turut Juara Harapan dua dan tiga yaitu ananda Previ Nur Ismawati dengan karya puisinya yang berjudul "Kelahiran Sang Nabi" dan ananda Dwi Putri Ayu Astuti yang karya pusinya berjudul "Nabi Yang Mulia". Masing-masing Juara Harapan ini mendapatkan piagam penghargaan serta souvenir.

Selain ke-enam anak tersebut, semua peserta lomba juga diberi Sertifikat sebagai penghargaan panitia lomba terhadap partisipasi seluruh peserta lomba yang berjumlah 48 anak ini.

"Insya Allah lomba ini akan kami selenggarakan tiap tahunnya pada tiap kali perayaan kelahiran manusia termulia di bumi ini, yaitu baginda sayyidina Nabi Muhammad SAW.", ucap Nikson Daat sekretaris panitia lomba yang sekaligus layouter buletin An-Nahdlah tersebut.[]
(Redaksi MP)
Read More