rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) merupakan organisasi Badan Otonom (banom) termuda yang berada di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Sebetulnya, fungsi dan keanggotaan ISNU sudah ada sejak lama. Tapi, ISNU baru berhasil dibentuk dan dilembagakan di tahun 2012 setelah "disahkan" dalam Muktamar NU ke-32 di Makassar pada tahun 2010 silam.
Baca Juga: Muhasabah 2017 dan Resolusi Kebangsaan 2018 PBNU
Tahun ini, ISNU memasuki usianya yang keenam. Usia yang terbilang muda bagi sebuah organisasi, tentu banyak tantangan–sekaligus peluang--yang dihadapi oleh ISNU. Baik yang bersifat internal ataupun eksternal. Seperti urusan keorganisasian, kepengurusan, keanggotaan, hingga bagaimana ISNU bisa memberikan manfaat nyata kepada masyarakat umumnya dan warga Nahdliyin pada khususnya.
Tidak bisa dipungkiri, ISNU telah memberikan "warna" tersendiri di lingkungan NU. Anggotanya terdiri dari para intelektual, cendekiawan, profesional dan sarjana dari berbagai bidang keilmuan. Dengan komposisi anggota yang memiliki kualitas tinggi (high quality), ISNU diharapkan menjadi motor penggerak kesejahteraan umat.
Baca Juga: Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa
Untuk mengetahui lebih jauh kiprah, arah tujuan dan peran ISNU dalam mewujudkan kesejahteraan umat, inilah kutipan hasil wawancara Jurnalis NU Online, A. Muchlishon Rochmat, dengan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Ali Masykur Musa, pada Kamis, 15 Maret 2018, di Jakarta, yang dimuat di laman NU Online dengan judul Mendedah Kiprah ISNU.
Berikut kutipannya:
Di usianya yang masih sangat muda ini, apa saja yang dilakukan ISNU?
Di usianya yang masih enam tahun, ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, konsolidasi struktural. Saat ini, ISNU sudah terbentuk di 34 propinsi. Sementara pengurus cabang ISNU, sudah terbentuk 60 persen dari seluruh kota dan kabupaten yang ada.
Kedua, konsolidasi networking. Tidak mungkin sebuah organisasi mampu menyelesaikan urusannya sendiri. Oleh karenanya, ia harus memiliki networking capacity. Dibeberapa kepengurusan ISNU, baik tingkat pusat ataupun daerah, enam diantara pengurusnya adalah pejabat eselon satu. Direksi BUMN juga ada yang menjadi pengurus ISNU. Ini bagian dari networking capacity.
Ketiga, konsolidasi program. Diantaranya adalah membuat branding terkait dengan apa saja yang mendiferensiasi ISNU dengan Banom yang lain. Oleh karenanya, kita bergerak pada empat hal saja.
Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Butuh Pembina Agama
Apa saja itu?
Pertama, meningkatkan capacity building dibidang sumber daya manusia. Adapun program-programnya adalah pelatihan kewirausahaan, manajerial leadership dan lainnya.
Kedua, konsolidasi program dibidang intelektualitas. ISNU adalah organisasi yang base-nya adalah intelektuality. Sehingga, intelektualitas harus bisa menjadi bagian dari branding. Diantara programnya adalah menghubungkan mereka yang ingin mendapatkan beasiswa ke S2 dan S3.
Ketiga, advokasi Undang-Undang. ISNU juga concern melakukan advokasi perundang-undangan yang ada, seperti UU Minerba, Wakaf dan lainnya.
Keempat, bidang ekonomi. Sebuah organisasi harus memiliki kemandirian dalam bidang ekonomi agar tidak mudah diintervensi oleh kepentingan-kepentingan diluar.
Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika
Apa saja program-program pemberdayaan ekonomi yang sudah dikembangkan ISNU?
Misalnya rintisan-rintisan dibidang micro finance, memperkuat jaringan, mengkonekkan para petani, mencarikan petani benih-benih yang berkualitas dan mencarikan modal dengan bunga rendah.
Ada ribuan Nahdliyin yang menempuh S2 dan S3 diluar negeri sana. Biasanya, mereka–yang kuliah di Barat--enggan kembali dan berkiprah di NU karena alasan "tidak dibutuhkan" dan "tidak ada tempat" bagi mereka. Bagaimana ISNU merangkul mereka?
Para sarjana NU, baik yang menempuh jenjang S1, S2 ataupun S3, yang secara struktural tidak masuk di NU, mereka bisa menjadi member di ISNU. ISNU juga harus memiliki program-program yang bisa merangkul mereka. Karena tidak sedikit dosen di sebuah kampus yang tidak terserap menjadi pengurus NU.
Saat ini, ada 362 Guru Besar dari berbagai disiplin ilmu yang masuk di kepengurusan ISNU dari tingkat pusat hingga daerah. Meskipun, mereka juga terdaftar di Banom yang lain. Selain itu, ada 2.900-an Doktor yang masuk di ISNU. Yang S2 dan S1, lebih banyak lagi.
Baca Juga: NU Care Lazisnu Peduli Maibo
Dulu, Gus Dur mengkritik pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) karena dianggapnya sektarian. Saat ini ada ISNU, pasti ada yang nyerang balik dan menganggap kalau ISNU lebih sektarian daripada ICMI. Tanggapan Anda?
Masyarakat Islam di Indonesia sangat majemuk. Juga memiliki latar belakang ke-Islaman yang berbeda.
Pertama, seiring dengan berkembangnya zaman, maka sudah saatnya NU harus memiliki organisasi cendekiawan sendiri, dalam hal ini ISNU. Jika ICMI menyerap cendekiawan yang bukan NU, ya, silahkan karena memiliki kapasitas dan keunggulan masing-masing.
Kedua, mendirikan organisasi ke-intelektualitas-an adalah sesuatu yang sah-sah saja. Di Katolik, ada ISKA. Di Kristen, ada PIKI, FCHI. Maka dari itu, di NU dibentuk organisasi cendekiawan untuk menampung para sarjana NU.
Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua
Pemerintah akan mengizinkan beberapa kampus asing untuk beroperasi di Indonesia. Tanggapan Anda seperti apa?
Sebagai bagian dari masyarakat ekonomi ASEAN, Indonesia tidak boleh menutup diri. Itu tantangan. Tapi, harus diukur momen yang tepat untuk liberalisasi pendidikan di Indonesia. Perguruan-Perguruan Tinggi asing yang hendak membuka cabang di Indonesia harus menunggu waktu. Jangan sekarang.
Perguruan Tinggi Indonesia, umumnya kampus negeri dan juga swasta seperti kampus NU, itu harus memiliki kualitas yang baik terlebih dahulu. Jika Perguruan Tinggi Indonesia baik, maka mahasiswa Indonesia akan membayar jauh lebih murah untuk mendapatkan sebuah ilmu yang sama, yang juga diajarkan di kampus asing itu, misalnya. Dia akan lebih memilih Perguruan Tinggi Indonesia yang akreditasinya sudah baik, minimal B.
Baca Juga: Jamaah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad Benteng Aswaja di Asmat
Jadi, kalau saat ini kampus asing diizinkan beroperasi di Indonesia kurang tepat?
Saat ini, tidak tepat mengizinkan kampus asing ada di Indonesia. Karena akan terjadi perang pasar dibidang pendidikan. Mereka memiliki kekuatan dan modal yang kuat dan besar. Ini pasti akan menggerus Perguruan-Perguruan Tinggi Indonesia. Apalagi Perguruan Tinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Tapi pada saatnya, mengapa tidak?
Pemerintah akan membangun Universitas Islam International Indonesia (UIII). Padahal, sudah ada banyak Universitas Islam Negeri yang kualitasnya juga sudah baik. Bagaimana respons Anda?
Kita harus melihatnya dari tiga perspektif. Pertama, perspektif kompetisi. Jika dilihat dari perspektif kompetisi Perguruan Tinggi antar negara, maka pendirian UIII ada signifikansinya. Sehingga, Indonesia memiliki Perguruan Tinggi tingkat Internasional dibidang ilmu-ilmu ke-Islaman. Malaysia juga punya Universitas Islam Internasional Malaysia.
Baca Juga: PCNU Kab. Paniai, Papua, Peringati Harlah NU Ke-92
Core science antara satu negara dengan yang lainnya, pasti bisa. Misalnya, tentang Islam yang rahmatan lil-'alamin atau ramah. Mereka pasti akan memilih Indonesia karena di Indonesia praktik-praktik ke-Islaman memang seperti itu.
Kedua, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, maka sudah sepatutnya Indonesia memiliki Universitas Islam dengan kualitas Internasional.
Ketiga, UIII harus mengembangkan ilmu-ilmu ke-Islaman agar tidak terjadi duplikasi ilmu antara UIII dengan Perguruan Tinggi Islam lainnya. Jangan mengambil ilmu-ilmu yang dimiliki oleh Perguruan Tinggi Islam yang lainnya.
UIII harus menjadi sisi lain yang mengisi kekosongan ilmu-ilmu ke-Islaman yang ada di Perguruan Tinggi Islam.
Baca Juga: Lomba Cipta dan Baca Puisi di Papua
Mayoritas Nahdliyin adalah petani. Selain mencarikan benih sebagaimana yang disebutkan diatas, apakah ISNU memiliki program khusus dibidang pertanian?
Jumlah angkatan dan penyerapan kerja dibidang pertanian di Indonesia mencapai 40 persen. Oleh karena itu, sektor pertanian harus menjadi perhatian khusus NU. Karena mayoritas Nahdliyin adalah petani.
Mendorong anak-anak NU untuk kuliah di fakultas pertanian adalah salah satu pilihan. ISNU dan Banom lainnya yang memiliki konsen bidang pertanian harus memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas petani kita.
Seluruh Banom dan Lembaga di lingkungan NU, harus memikirkan itu. Harokah NU itu ada di petani. Mimpi kami, pada saatnya nanti, Menteri Pertanian itu harus dari orang NU. Karena, itu langsung menyangkut hajat hidup orang NU. []
