Ketika itu, kiai Mansur mampir di sebuah musholla untuk sholat isya'. Waktu mengambil air wudlu' di pancuran, air mengalir sangat kecil. Beruntung tidak habis sampai ia sempurna berwudlu'.
Waktu itu, sholat jama'ah sudah masbuq (ketinggalan). Setelah kiai Mansur mendapat satu roka'at, ada seseorang menyusul sholat di samping kanannya. Pada waktu ruku', orang tadi nyaris jatuh. Tapi beruntung, tertahan oleh kiai Mansur.
Waktu kiai Mansur sudah salam, orang di sisi kanan tadi masih melanjutkan sholatnya. Tapi, kiai Mansur heran. Orang itu ternyata hanya berdiri dengan satu kaki, yaitu kaki kanannya.
"Oh, mungkin kaki kirinya sakit. Makanya tadi hampir jatuh," batin kiai Mansur.
Setelah sholatnya selesai, sambil saling memperkenalkan diri, kiai Mansur bertanya basa-basi.
"Tadi waktu sholat, kaki kirinya kok diangkat, apa sedang sakit?"
"Tidak, kiai. Tadi waktu wudlu', saya kehabisan air ketika tinggal membasuh kaki kiri. Jadi, kaki kiri saya tidak bisa ikut sholat," jawab pria itu dengan lugunya.
Oooo… Mendengar jawaban polos tadi, kiai Mansur tidak jadi menegur. Hanya membatin: Ternyata ada madzhab baru. Namanya "Madzhab Gantung Kaki". []
* Oleh: Rijal Mumazziq Z., Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Surabaya.
