Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Maulid, Maulud, Milad dan Perayaan Kelahiran Nabi Muhammad SAW.


rumahnahdliyyin.com - Tulisan ini mengulas istilah-istilah maulid, maulud, milad, apakah berarti sama atau beda? Kemudian lahirnya genre Sastra Maulid, yang berisi prosa dan puisi terhadap kelahiran dan pujian pada Nabi Muhammad SAW., yang ternyata sudah lahir dari zaman Nabi hingga mencapai puncaknya pada karya Burdah Al-Bushiri, Al-Barzanji dan Ad-Diba’i

Maulid artinya Kelahiran. Selain maulid, ada istilah lain, milad. Namun, dalam penggunaan masyarakat Arab, istilah milad sudah identik dengan Hari Kelahiran Isa Al-Masih atau Yesus Kristus. Masyarakat Kristen Arab menyebut Hari Natal untuk Yesus Kristus dengan idul milad al-majid (Hari Kelahiran yang Agung).

Masyarakat muslim Arab menggunakan istilah lain untuk Hari Lahir Nabi Muhammad SAW. yang lahir pada hari Senin, 12 Robiul Awwal, dengan sebutan maulid.

Baca Juga: Maulid

Tapi, baik maulid dan milad, artinya sama. Hanya penggunaannya yang berbeda. Istilah milad juga digunakan sebagai perayaan Hari Ulang Tahun di zaman modern. Orang Arab modern merayakan ulang tahunnya dengan istilah milad, tapi tidak dengan istilah maulid yang sudah identik dengan Perayaan Kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Selain istilah maulid yang acap kali digunakan dalam masyarakat kita, ada penamaan lain: maulud. Dari istilah ini kemudian muncul mauludan, yang artinya merayakan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW.

Maulud, arti harfiyahnya adalah “ia yang dilahirkan”. Dan “ia” yang dimaksud adalah manusia mulia dan agung sepanjang zaman, Muhammad bin Abdulloh, shollollohu alaihi wa sallama (SAW).

Baca Juga: Benarkah Nabi Muhammad SAW. Sesat Sebelum Menjadi Nabi?

Sastra Maulid

Dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. biasanya dibacakan kesusastraan yang disebut sebagai “Sastra Maulid”, yang dalam istilah Arabnya dikenal sebagai Adabul Maulidi.

Sastra Maulid adalah karya sastra, baik dalam bentuk genre prosa atau puisi, yang memuji dan merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, jenis sastra ini dalam kajian sastra Arab juga disebut sebagai “Sastra Pujian terhadap Nabi Muhammad SAW.” atau Adabul Mada’ih An-Nabawiyah. Kisah Sastra Maulid atau Sastra Pujian ini mengakar kuat dalam tradisi Islam, yang berawal dari tradisi keluarga Nabi Muhammad SAW.

Diriwayatkan bahwa orang pertama yang menuliskan puisi-puisi sebagai pujian bagi kelahiran Nabi SAW. berasal dari paman tercintanya: Abu Thalib, yang mengasuhnya setelah Ibundanya wafat (ayahandanya meninggal saat beliau dalam kandungan) yang kemudian diasuh kakeknya, setelah kakeknya wafat, Muhammad SAW. dari umur 8 tahun diasuh pamannya: Abu Thalib, yang dikenal sebagai salah seorang penyair dan sastrawan Arab.

Inna ibna Aminah annabiyy Muhammadan – Indi bimitsli manazilil awladi (Sungguh, putra Aminah, Muhammad, yang diangkat menjadi nabi, bagiku sudah seperti anaku sendiri).

Baca Juga: Inilah Jawaban terhadap Ustadz Hijrah yang Menyatakan Nabi Pernah Sesat

Dalam perjalanan selanjutnya, setelah Islam diterima oleh masyarakat kota Yatsrib (yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah) dan Nabi Muhammad SAW. hijrah ke pangkuannya, Nabi Muhammad SAW. memiliki penyair-penyair yang menuliskan secara sukarela dengan penuh kekaguman dan kecintaan pada Nabi SAW. melalui karya sajak-sajak mereka.

Tersebutlah nama seperti Hassan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, Abdullah bin Rawahah.

Burdah Al-Bushiri, Al-Barzanji dan Ad-Diba’i

Dalam perayaan Maulid, sering dibacakan karya-karya Burdah Al-Bushiri, Al-Barzanji dan Ad-Diba’i.

Burdah artinya "selendang", yang berawal dari mimpi Syaikh Al-Bushiri yang sembuh dari sakitnya setelah bertemu dengan Rosulullah SAW. dan diberi hadiah selendang. Sebagai bentuk syukur dan pujian, Syaikh Al-Bushiri mengarang rasa cinta, kekaguman dan kerinduannya dalam Burdah.

Baca Juga: Bu Susi, Bismillah dan Sholawat

Syaikh Al-Bushiri murid dari Syaikh Abul Hasan As-Syadzili (pendiri Tarekat Syadziliyah). Saya pernah ziaroh ke makamnya yang berdampingan dengan makam Syaikh Abul Abbas Al-Mursi (pengganti pemimpin Tarekat Syadziliyah setelah Syaikh Abul Hasan As-Syadzili). Kini, kedua makam tersebut, yang menjadi tujuan ziaroh, dibangun dua masjid megah.

Kutipan kasidah Burdah yang sering dibacakan dan dilagukan seperti dibawah ini:

مولاي صلّ وسلّم دائما أبدا
علي حبيبك خير الخلق كلّهم
محمّد سيّد الكونين والثّقلين
والفريقين من عرب ومن عجم
ثم الرّضا عن أبى بكر وعن عمر
وعن على وعن عثمان ذى الكرم
يا ربّ بالمصطفى بلّغ مقاصدنا
واغفر لنا ما مضى يا واسع الكرم

Baca Juga: Nabi Muhammad SAW. Mengerjakan Qunut Hingga Beliau Wafat

Kasidah Burdah juga dibacakan saat ada yang sakit. Saya masih ingat, kalau saya waktu kecil panas, bapak saya membacakan Kasidah Burdah, tabarrukan, karena Syaikh Al-Bushiri mengarang pujian ini setelah sembuh dari sakit.

Namun, yang paling banyak dibacakan dalam acara perayaan maulid adalah Al-Barzanji, yang hadir dalam dua genre, prosa dan puisi. Yang puisi dibacakan saat berdiri (kelanjutan dari prosa yang menceritakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.)  tepat di kalimat Asyroqol badru... (telah terbit purnama...). Makanya, Al-Barzanji sering disebut Srakalan (ada juga Asyrokolan) dari kata Asyraqol.

Baca Juga: Sholawat

يا نبي سلام عليكَ***يارسول سلام عليكَ
ياحبيب سلام عليك***صلوات الله عليك
أشرق البدرُ علينا*** فاختفت منه البدورُ
مثلَ حسنكْ مارأينا*** قط يا بدرَ السرورِ
انتَ شمسٌ انت بدرٌ*** انت نورٌ فوق نورِ
انت اكسيرٌ و غالي***انت مصباحُ الصدورِ
ياحبيبي يا محمد***ياعروسَ الخافقين
يامؤيّد يا ممجّد***يا إمامَ القبلتين
من رأى وجهكَ يسعد***يا كريمَ الوالدين
حوضك الصافي المبرّد***وردنا يوم النشورِ
ما رأينا العيس حنت***بالسرى الا اليكَ
و الغمامة قد أظلت***والملا صلوا عليكَ
و اتاك عود يبكي***و تذلّل بين يديك
و استجارت يا حبيبي***عندك الظبي النفورُ
عندما شدوا المحامل***و تنادوا للرحيلِ
جئتهم و الدمع سائل***قلت قف لي يا دليل
و تحمل لي رسائل*** ايها الشوق الجزيلُ
نحو هاتيك المنازل***في العشي و البكورِ
كل من في الكونِ هاموا***فيك يا باهيَ الجبي 
و لهم فيكَ غرامُ***و اشتياق وحنينُ
في معانيك الأنامُ***قد تبدت حائرينَ
انتَ للرسل ختامُ***انتَ للمولى شكورُ
فيك قد احسنت ظني***يا بشير يا نذير
فيكَ يا بدر تجلّى***فلكَ الوصفِ الحَسينَ
ليسَ ازكى منكَ أصلاً*** قط يا جدّ الحُسيْنِ
فعليكَ الله صلّى***دائماً طولَ الدهور

Al-Barzanji juga dibacakan saat merayakan kelahiran seorang anak. Saat berdiri yang disebut dengan sholawat qiyam atau mahallul qiyam, bayi yang lahir dibawa keluar, diperkenalkan.

Baca Juga: Sholawat Pancasila

Sementara karya Ad-Diba’i dalam bentuk puisi, berikut syairnya:

 * ياربّ صلّ علي محمّد
* ياربّ صلّي عليه وسلّم
* ياربّ بلّغه الوسيله
* ياربّ خصّه بالفضيله
* ياربّ وارض عن الصحابه
* ياربّ وارض عن السلاله
* ياربّ وارض عن المشايخ
* ياربّ فارحم والدينا
* ياربّ وارحمناجميعا
* ياربّ وارحم كلّ مسلم
* ياربّ واغفرلكلّ مذنب
* ياربّ لا تقطع رجانا
* ياربّ ياسامع دعانا
* ياربّ بلّغنانزوره
* ياربّ تغشانابنوره
* ياربّ حفظانك وامانك
* ياربّ واسكنّاجنانك
* ياربّ اجرنامن عذابك
* ياربّ وارزقناالشهاده
* ياربّ حطنابالسعاده
* ياربّ واصلخ كلّ مصلح
* ياربّ وكف كلّ موءذي
* ياربّ نحتم بالمشفّع
* ياربّ صلّي عليه وسلّم
(اللهم صلّ وسلّم وبارك عليه)





* Oleh: Mohamad Guntur Romli
Read More

Bu Susi, Bismillah dan Sholawat


rumahnahdliyyin.com - Ketika sedang blusukan ke laut baru-baru ini, beredar video yang memperlihatkan Bu Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan, menyampaikan pesan kepada nelayan yang ditemuinya di tengah laut: “Sampeyan kalau mau lempar jaring baca sholawat. Bismillah saja tak cukup.”

Pernyataan itu pun viral. Tentu menjadi menarik karena yang menyampaikannya adalah Bu Susi. Kalau yang menyampaikannya ustadz atau ulama', sih, biasa saja. Namun, bu Susi lho..! Yang oleh sebagian kita dinilai kontroversial itu.

Dan sontak, pelajaran pertama dari peristiwa itu adalah agar kita berhenti menilai seseorang dari penampilan luarnya dan mari membiasakan mengambil hikmah dari siapa saja.

Baca Juga: Sholawat

Selanjutnya, dalam perspektif ajaran Islam, apa yang disampaikan bu Susi itu sungguh berdasar dan memang menjadi salah satu wejangan ulama'. Misalnya kiai Sholeh Darat, ulama besar Nusantara yang juga guru RA. Kartini, dalam kitab Minhajul Atqiya' Syarah Hidayatul Adzkiya' ila Thoriqil Awliya’, menulis sebuah ajaran tentang amalan Basmalah.

Berkata Sayyidisy Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani Al-Hasani: 'Jika kalian ingin sampai pada derajat kekasih Allah SWT. atau orang sholih, maka bangunlah setiap sepertiga malam terakhir, kemudian bacalah Bismillaahirrahmaanirrahiim sebanyak hitungan jumlah hurufnya berdasarkan abjad. Kemudian bacalah sholawat nabi SAW. sebanyak bilangan nama Nabi Muhammad SAW. Lalu berdoalah kepada Allah SWT; 'Ya Allah, dengan hak Bismillahirrahmanirrahim, jadikanlah hamba termasuk golongan hamba-Mu yang sholih'."

Baca Juga: Sholawat Pancasila

Sholawat memang dijelaskan oleh para ulama' sebagai semacam penggandeng Basmalah dalam doa. Oleh karena itu, dalam tradisi muslim di Nusantara, khususnya dikalangan habaib dan nahdliyyin, hampir setiap acara berdoa selalu diisi juga dengan pembacaan sholawat dan maulid Nabi Muhammad SAW.

Tentu, pertama-tama lantaran memang sholawat memiliki posisi penting dalam ajaran Islam. Ia menjadi satu-satunya amalan dalam Al-Qur’an yang ketika Allah SWT. memerintahkannya kepada umat Islam, Allah SWT. firmankan juga bahwa Dia sendiri dan para malaikat juga terlebih dulu bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Begitu agungnya sholawat.

Baca Juga: Fenomena Nissa Sabyan dan Bahasa Arab

Sejak awal, sholawat tidak dalam posisi untuk menunjang kemuliaan Nabi SAW. Tidak pula menurunkan derajat Nabi SAW. jika tak dilakukan oleh umatnya. Sebab, Nabi SAW. adalah sosok agung yang sudah dipuji oleh Yang Maha Agung. Sehingga, fungsi sholawat bagi umat Nabi SAW. justru untuk memuliakan dan menurunkan keberkahan bagi pembacanya.

Nabi SAW. itu diibaratkan seperti gelas yang sudah penuh dengan air, yang sholawat kita seperti menambahkan air ke dalamnya, sehingga pastilah tumpah dan tumpahan itulah yang kita harapkan, dimana air yang kita tuang itu sudah bercampur dengan air keagungan Nabi SAW. yang menyebabkan tumpahan air itu berubah menjadi berkah yang didapatkan dari interaksinya dengan air Nabi SAW.

Baca Juga: Maulid

Secara filosofis, doa dan Basmalah diperintahkan untuk digandeng dengan sholawat, lantaran memang Allah SWT. dan Nabi SAW. tak boleh dipisahkan oleh kita. Al-Qur’an memerintahkan kita taat pada Allah SWT. dan Nabi SAW. Sumber hukum Islam adalah firman-Nya dan sabda Nabi SAW. Jalan keselamatan di akhirat dengan ampunan-Nya atau syafa'at Nabi SAW.

Allah SWT. dan Nabi SAW. selalu bergandengan. Mustahil dipisahkan. Sebab, tanpa Nabi SAW., mustahil kita bisa mengenal dan menyembah-Nya dalam keharibaan Islam. Maka, tentu adalah kesombongan dan kebodohan jika kita berpikir bisa mungkin sampai kepada Allah SWT. tanpa Nabi SAW.

Baca Juga: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Oleh karena itu, dalam doa, kita diajarkan untuk mengawalinya dengan Basmalah dan sholawat. Tanpa sholawat, doa bagaikan burung yang terbang tanpa satu sayap, sehingga niscaya ia takkan pernah sampai pada Allah SWT. Dan sesuatu yang begitu penting dan mendalam dalam Islam itu diajarkan beberapa waktu lalu oleh seorang bu Susi.[]



* Oleh: Husein Ja'far Al Hadar, Tulisan diambil dari syiarnusantara.id.
Read More

Fenomena Nissa Sabyan dan Bahasa Arab


rumahnahdliyyin.com - Beberapa minggu yang lalu, ketika saya mudik lebaran Idul Fitri, saya menemukan fenomena luar biasa. Suara Nissa Sabyan menggema di berbagai tempat; di rumah, warung, perkantoran, pasar, kendaraan umum dan pribadi, walimah, pesta pernikahan, gedung-gedung pemerintah dan swasta. Dan setiap bertemu sejawat, mereka bercerita bahwa cafe-cafe yang biasanya “ngerock” dan dangdutan, berubah menjadi alunan lagu-lagu berbahasa Arab dari Nissa Sabyan.

Fenomena itu pernah saya temukan di era 2000-an; suara Sulistyawati dan Haddad Alwy, dengan judul lagunya Ummi dan Ya Thoyyibah, juga menggema di berbagai sudut kampung dan kota, televisi dan radio, pusat-pusat perbelanjaan dan lainnya. Semua orang menghafal lagunya (berbahasa Arab) dan banyak pula yang memahami kalimat-kalimatnya dengan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Dua juta keping terjual, sungguh sangat luar biasa, lagu-lagunya yang berbahasa Arab itu laris manis.

Baca Juga: Sholawat

Ada kebanggaan ketika itu bahwa bahasa Arab tidak hanya menjadi bacaan dalam sholat, tadarrus Al-Qur’an, adzan, iqomah, khutbah Jum'at, kajian-kajian kitab dan ijab qobul, tetapi menjadi bacaan dan dendang lagu setiap hari di beberapa rumah dan tempat keramaian. Semua orang bersholawat. Saya lihat kala itu, dari anak kecil sampai dewasa berusaha untuk memahami dari setiap lirik lagu Ummi dan Ya Thoyyibah yang berbahasa Arab itu.

Fenomena itu muncul kembali, bahkan lebih dahsyat lagi, Deen As-Salam ditonton lebih dari 100 juta kali hanya dalam satu bulan, Ya Rohman 71 juta kali, Ya Habibal Qolbi 172 Juta kali, Ya Asyiqo 82 Juta kali, Ya Maulana 52 juta kali, Law Kana Bainanal Habib 11 juta kali. Itu baru dari akun Youtube Sabyan, belum lagi yang diunduh. Sungguh ini sangat mengejutkan.

Baca Juga: Sholawat Pancasila

Fenomena ini, menurut pengamatan saya, karena lagu yang dibawakan oleh Khairunnisa (Nissa) berserta personel lainnya sesuai dengan:
  1. Kecintaan atau kegemaran orang Indonesia bersholawat, membaca puji-pujian dan doa, dan mayoritas penduduknya adalah muslim. Seperti Rohman Ya Rohman (doa), Ya Habibal Qolbi (sholawat), Ahmad Ya Habibi (sholawat), Ya Asyiqo (sholawat), Ya Maulana (doa) dan rata-rata lagu yang dibawakan adalah sholawat Nabi SAW. dan doa.
  2. Suara merdu Nissa dengan musiknya mengalun lembut.
  3. Kegilaan pengguna internet dan penikmat Youtube yang mengunduhnya ke berbagai media lain, dari WA, FB dan lainnya.
  4. Bertema religi dan bersamaan dengan bulan Romadlon, seperti; Deen As-Salam, yang penikmatnya sangat luar biasa.
  5. Dibawakan dengan gaya kekinian dengan berbagai keunikannya. Gambus, yang sudah mulai remang, bahkan menghilang, menjadi terang dengan Gambus Sabyan.
  6. Memperkenalkan full team lagu-lagu Gambus Sabyan.
  7. Tidak berhenti pada satu lagu yang sudah populer, tetapi dilanjutkan dengan kemampuan mereka dalam memilih tema-tema yang menarik lainnya sesuai dengan kondisi masyarakat.
  8. Dan yang luput dari pantauan banyak orang adalah karakter bahasa Arab yang unik, sehingga antara suara Nissa-musik-keunikan bahasa Arab, benar-benar membawa ritme menarik. Dan hal ini yang menjadi fokus saya.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Menurut saya, ada karakter khusus Bahasa Arab yang menjadi keunikannya, sehingga dibawakan oleh siapapun saja akan merindu. Kalau di Timur Tengah ada Ummi Kultsum (Penyanyi Arab Legendaris), Amr Diab, Harris J. Sami Yusuf, Maher Zain, Zain Bhikha, Asmahan, Sherine Ahmed dan lainnya. Dan dengarlah suara penyanyi yang melantunkan dengan bahasa Arab, nanti akan mampu dibedakan. Atau dengarlah seorang qori’ Al-Qur’an, maka akan menemukan musik-musik kata yang luar biasa dan tentunya jika dibaca sesuai dengan ilmu Tajwid.

Karakter unik bahasa Arab itu diantaranya terkait dengan bunyi; ada bunyi tebal tipis (tebal/mufakhamah, semi tebal, tipis), tekanan bunyi dalam kata atau stress, vokal panjang (mad), vokal pendek (harokat), bunyi tenggorokan, bunyi bilabial dental. Sedangkan karakter dan keunikan bahasa Arab secara umum tidak mungkin dikaji di sini. Walau setiap bahasa memiliki keunikan (khoshoish), namun karakter bahasa Arab itu lebih unik dibandingkan dengan bahasa-bahasa di dunia.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Nissa Sabyan dengan lagunya yang berbahasa Arab dapat memberikan nuansa sendiri pada gerak bahasa Arab di Indonesia dan dapat menjadi motivasi bagi pembelajar bahasa Arab untuk dapat meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa. Terutama bagi seorang guru bahasa Arab yang mengajar di Sekolah Dasar dan Menengah.

Menurut seorang peneliti, Nabil Katatni, Dekan Fakulats Tarbiyah An-Nauiyyah, bahwa para peneliti psikologi musik menemukan bahwa ritme musik berhubungan erat dengan kehidupan anak pada tahap awal (embrio) sampai dewasa. Menurutnya, dalam rahim ibu sudah mengenal irama, sehingga mudah sekali untuk mengembangkannya dengan lagu-lagu. Demikian ketika anak ingin ditidurkan, irama-irama itu menjadi paling disuka. Maka sangat penting bagi seorang ibu dalam tahap pengembangan bicara anak untuk mendengarkan irama lagu.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Menurut Hanna Athar, musik memberikan motivasi kuat dalam pembelajaran bahasa Arab. Demikian juga menurut para peneliti dan akademisi dalam Konferensi Internasional Kelima Bahasa Arab di Dubai bahwa musik dan lagu-lagu bahasa Arab khusus untuk anak-anak; dapat memotivasi dan memperkuat bahasa Arab. Terutama lagu-lagu yang menggunakan bahasa Arab fushah (baku), misalnya judul lagu Deen As-Salam yang dipopulerkan Nissa Sabyan di Indonesia, yang sebelumnya dinyanyikan oleh Sulaiman Al-Mughni dengan pesan faltuqobil Isa’ah bi ihsan yang disponsori Bank Boubyan Kuwait pada tahun 2015.

Lagu Deen As-Salam, walau beberapa kalimatnya diucapkan dengan lahjah ammiyah (tak baku), namun secara umum bahasanya fushah. Kalimat dengan lahajat ammiyah dalam lagu tersebut seperti; abmahabbat, abtahiyyah, ansyuru, dinya, naskan, kalla, killa.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Sedangkan beberapa tulisan yang tersebar dibeberapa media, banyak yang keliru. Karena hanya dituliskan sesuai dengan yang didengarkan. Bila lagu tersebut ingin dijadikan media pembelajaran, maka harus dijelaskan kata-kata yang fushah dan ammiyah-nya agar siswa tidak keliru membacanya.

Berikut lagu dengan tulisan fushah, yang dipopulerkan oleh Sulaiman Mughni, dengan penciptanya Saif Fadhil.

كُلّ هَذِهِ الأَرْضِ مَا تَكْفِي مَسَاحَة
لَوْ نَعِيْشُ بِلاَ سَمَاحَة
وَإِنْ تَعَايَشْنَا بِحُبٍّ
لَوْ تَضِيْقُ الأَرْضُ نَسْكُنُ كُلَّ قَلْبٍ
بِتَّحِيَّة وبِسَّلاَمِ
اُنْشُرُوا أَحْلَى الكَلاَم
زَيِّنُوا الدُنْيَا اِحْتِرَام
بِمَحَبَّةٍ وَابْتِسَامٍ
اُنْشُرُوا بَيْنَ الأَنَام
هذا هُوَ دِيْنُ السَّلاَم

Lagu-lagu berbahasa Arab yang dinyanyikan oleh Nissa Sabyan ini, jika dimanfaatkan dengan baik oleh pengajar bahasa Arab, maka dapat memberikan ruh baru bagi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia dan sebagai syiar bahwa bahasa Arab itu mudah dipelajari. Buktinya, semua orang bisa mendendangkan, mengucapkan, dan melafalkannya. Tahya al-lughah al-arabiyah.



* Oleh: Halimi Zuhdy, Dosen Bahasa dan Sastra (BSA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Wakil Ketua RMI PCNU Kota Malang. Tulisan ini diambil dari NU Online.
Read More

Sholawat Pancasila


rumahnahdliyyin.com - Bagi bangsa Indonesia, adanya Pancasila merupakan salah satu anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah SWT. terhadap bangsa ini. Ditengah berbagai keragaman dan kemajemukan bangsa Indonesia, terbukti Pancasila telah mampu mempersatukan bangsa ini.

Disaat yang sama, dimana banyak negara yang terkoyak dan terberai karena adanya perbedaan yang tak bisa disatukan lagi, bangsa Indonesia tetap kokoh bersatu. Keadaan Indonesia bisa seperti ini tidak lain berkat bangsa Indonesia yang mengamalkan falsafah Pancasila yang terdiri dari lima sila itu.

Baca Juga: Tasawuf Pancasila

Makanya tak heran bila kemudian bangsa ini menetapkan dan memperingati Hari Kelahiran Pancasila pada tiap tahunnya. Yakni tanggal 1 Juni. Tentu saja banyak cara yang dilakukan dalam acara peringatan tersebut. Bahkan, ada yang sampai mengekspresikannya dengan cara mengarang syair-syair tentang Pancasila dengan nada dan irama Sholawat.

Inilah syair-syair tentang Pancasila yang diberi judul dengan "Sholawat Pancasila" dengan mengikuti nada dan irama Sholawat Badar.

Baca Juga: Ini Pandangan Gand Syaikh Al-Azhar Tentang Pancasila

صَلَاةُ الله سَلَامُ الله * عَلَى طَهَ رَسُولِ الله
صَلَاةُ الله سَلَامُ الله * عَلَى يس حَبِيبِ الله

Ponco silo dasar negoro * isine cocok karo agomo
Mulo ayo podo diamalno * ben negoro iso tambah joyo

Esa kuwi maknane siji * yo iku iman marang Kang Siji
Ojo syirik ojo ngadohi * marang agomo ajaran ilahi

Nomer loro kemanungsan * ingkang adil cocok aturan
Ojo delok opo agamane * kabeh menungso podo asale

Nomor telu persatuan * ojo ra rukun podo tukaran
Agomo ngongkon kito bersatu * ngadohi khilaf lan poro padu

Nomor papat mentingno rakyat * lewat coro sing maslahat
Kebeh perkoro musyawarohno * ngono iku sing wijaksono

Kudu adil sing nomer limo * mbantu rakyat kudu sing lomo
Ojo podo mbedakke konco * ngono kuwi yo ajaran agomo

Baca Juga: Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Bangsa

Demikianlah salah satu ekspresi dalam mensyukuri lahirnya Pancasila. Sebuah ekspresi yang positif dan perlu diapresiasi serta menjadi inspirasi bagi warga Indonesia yang lainnya.

Adalah Muhammad Ni'am yang mengarang Sholawat Pancasila di atas. Ia mengaku, inspirasi untuk mengarang sholawat ini ia dapatkan ketika tengah mengikuti upacara Peringatan Hari Pancasila.

"Saya sendiri yang buat. Tadi pas upacara saya mikir, harusnya ada sholawatan Pancasila. Karena, sholawat sekarang jadi media dakwah yang dahsyat," ungkap salah satu Pengasuh PMH Alkautsar Kajen dan Kepala SMK Pesantren Cordova Pati ini kepada muslimpribumi.com via WA.[]

(Redaksi RN)
Read More

Fatayat Merauke Bumikan Sholawat Lewat Festival


rumahnahdliyyin.comMerauke - Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Merauke, Minggu lalu, 1 April 2018, menggelar Festival Diba’iyyah antar remaja masjid dan Festival Al-Barzanji antar majelis taklim yang dipusatkan di gedung Kanol Sai.

Kegiatan dalam rangka memperingati Harlah Fatayat NU ke-68 itu bertemakan ”Meningkatkan Ukhuwwah Islamiyyah Dalam Mewujudkan Perempuan Merauke yang Berbudaya dan Berkualitas." Selain untuk memperkuat silaturrahmi, tujuan festival ini adalah memasyarakatkan sholawat, khususnya untuk warga Nahdliyyin yang ada di Kabupaten Merauke.

Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa

Para remaja masjid maupun pimpinan ranting yang ada distrik-distrik sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Pesertanya pun cukup banyak dan berasal dari beberapa kawasan. Seperti dari Kurik, Tanah Miring, Semangga dan Distrik Merauke.

“Khusus untuk Diba’iyyah, pesertanya dari remaja masjid dan pimpinan ranting yang ada di distrik-distrik dengan jumlah 17 peserta. Sedangkan untuk Al-Barzanji, dari majelis taklim dengan jumlah 31 peserta,” terang Aminatun Rumaday, ketua panitia seperti yang dilanssir oleh pasificpos.com.

Festival seperti ini akan dijadwalkan rutin setiap peringatan Harlah di tahun-tahun berikutnya. Tujuannya yaitu untuk semakin menumbuhkan sholawat dilingkup warga Nahdliyyin.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Jumlah peserta pada tahun ini meningkat signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Untuk Diba’iyyah saja, tahun lalu hanya ada 6 peserta. Namun sekarang ini meningkat menjadi 17 peserta. Untuk Al-Barjanji yang tahun lalu hanya 29 peserta, tahun ini bertambah sedikit jadi 31 peserta.

Para pemenang festival ini mendapatkan hadiah berupa piala bergilir, uang pembinaan dan souvenir. Selain kedua festival ini, pihak panitia juga telah menggelar lomba Mars Fatayat pada Minggu lalu dengan jumlah yang juga semakin meningkat.

“Jika tahun lalu hanya ada 7 peserta, maka tahun ini meningkat menjadi 14 peserta. Puncak Harlah sendiri akan berlangsung pada 28 April mendatang yang direncanakan bertempat di Kampung Wasur,” pungkas Aminatun.[]

(Redaksi RN)
Read More

PCNU Bogor Sambut Antusias Festival Sholawat Nusantara

muslimpribumi.com | Bogor - Pembukaan Festival Sholawat Nusantara (FSN) digelar hari ini, Sabtu 24 Februari 2018. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya cuaca yang sering hujan, akhirnya perhelatan akbar ini dilaksanakan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bogor menyambut antusias perhelatan ini. Menurut Ketua PCNU Bogor, KH. Romdoni, hal ini menjadi momen untuk terus menggaungkan dan menjaga tradisi shalawat ditengah masyarakat.

“Saya mengapresiasi acara ini. Semoga dengan adanya kegiatan FSN ini, masyarakat semakin gemar bershalawat,” harap pria yang akrab disapa Kang Doni ini.

Kang Doni juga menggaris bawahi tentang pentingnya karakter sholawat yang menyejukkan dan menebarkan perdamaian. Hal ini penting mengingat sebentar lagi masuk tahun politik yang biasanya meninggikan tensi hubungan sosial-kemasyarakatan.

“Dengan masyarakat gemar bersholawat, semoga tradisi dan budaya Nusantara ini terus terjaga. Membawa berkah, menyejukkan untuk masyarakat Bogor dan seluruh masyarakat Indonesia. Sehingga, cita-cita luhur bangsa ini tercapai,” lanjutnya.

Acara ini dikomandoi oleh Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama (RMI-NU) dengan rangkaian Festival Sholawat Nusantara yang akan digelar secara Nasional. Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan hadir dalam pembukaan kegiatan ini.

Sementara itu, acara lombanya sendiri akan dimulai di seluruh Indonesia pada awal Maret 2018. Sedangkan acara penutupannya akan digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta. []
(Ed. Asb)

* Sumber: arrahmah.co.id
Read More

Piala Presiden Festival Sholawat Nusantara


muslimpribumi.com, Jakarta - Sejumlah Organisasi Kemasyarakatan (ormas) Keagamaan dan Kepemudaan akan menggelar Festival Sholawat Nusantara.

Festival ini merupakan perlombaan berjenjang yang memperebutkan piala Presiden Joko Widodo. Lomba ini akan diikuti oleh beragam kelompok dan kalangan. Mulai kalangan pesantren, mahasiswa dan pelajar, hingga kelompok-kelompok atau majelis-majelis pengajian kantor, BUMN serta berbagai majelis keagamaan di masyarakat.


Lomba akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia. Mulai dari lomba antar kecamatan, lalu antar kabupaten yang kemudian diteruskan ke antar provinsi, hingga ke tingkat nasional.

“Dengan tema acara "Cinta Sang Nabi", kami ingin menabur kembali nilai Islam yang penuh bahasa cinta, bukan bahasa perbedaan dan kebencian. Ini adalah upaya merawat tradisi dan kearifan lokal, sekaligus mengangkat kembali kekayaan Islam Nusantara,” kata inisiator  Festival Sholawat Nusantara, Nusron Wahid, saat konferensi pers di Jakarta.

Nusron yang menjadi Ketua Panitia Pengarah mengungkapkan bahwa kekayaan tradisi sholawat di Indonesia merupakan bukti bahwa kehadiran Islam tidak menggerus budaya lokal. Tapi justru membaur dan saling menguatkan.

Menurut Ketua Panitia Acara, Habib Sholeh, digelarnya acara ini sekaligus sebagai inisiatif untuk lebih mengedepankan ajaran Islam yang damai dan menumbuhkan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW.

“Kita perlu mengingatkan kembali ruh ajaran Islam yang meneladani akhlaq Rasulullah SAW. Sholawat sebagai ekspresi cinta umat kepada Nabinya merupakan salah satu cara untuk memberikan nuansa Islam yang sejuk,” katanya.

Sekretaris PP. RMI ini meyakini bahwa ketika kita kembali terbiasa mengekspresikan bahasa cinta dalam tradisi keagamaan, maka akan tercipta suasana yang lebih adem.

“Agama jadi perekat yang menguatkan. Bukan menjadi faktor yang bisa memecah belah,” tukasnya.

Untuk pembukaan acara ini, akan digelar sebuah perhelatan yang menggambarkan kekayaan tradisi sholawat. Pada acara pembukaan yang dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2018 ini akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Sementara acara lombanya sendiri akan dimulai di seluruh Indonbesia pada awal Maret 2018. Dan puncak acara sekaligus finalnya akan dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2018 yang bertepatan dengan Peringatan Hari Santri.

“Harus diakui, tradisi sholawat tidak dapat dipisahkan dari tradisi pesantren,” ungkap habib Sholeh.

Acara ini terlaksana atas kerjasama beberapa lembaga seperti Lazisma, PP. RMNU, Jama'ah Dzikir Yaqowiyy, Ikhwanul Muballighin, PP. IPNU dan FKDT.

“Kesemua lembaga ini memang yang selama ini menjadikan tradisi sholawat sebagai bagian dari nafas perjuangannya. Jadi ini adalah kerja besar dan kerja bersama untuk tujuan manggaungkan kecintaan kita kepada Sang Nabi,” tutup Habib Sholeh.
Read More

Sholawat


muslimpribumi.com - Allah SWT. telah berfirman dalam Al-Qur'an,

إنّ الله وملا ئكته يصلّون على النّبيّ ياايّهاالذين امنوا صلّوا عليه وسلّموا تسليما (الأحزاب: ٥٦).

Sungguh Allah SWT. dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Wahai orang-orang
yang beriman, bersholawatlah kalian semua kepada Nabi Muhammad SAW. dan berilah salam kepadanya dengan sungguh-sungguh.

Terkait dengan ayat ini, Imam Qurthubi dalam kitab tafsirnya menyebutkan bahwa sholawat dari Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. adalah bentuk rahmat dan ridlo-Nya atas Nabi Muhammad SAW. Adapun sholawat dari para malaikat berarti doa dan permohonan ampunan. Sedangkan sholawat dari umat muslim berarti doa dan bentuk tadhim.

Senada dengan pendapat ini dapat dijumpai dalam Tafsir Thobari yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA. Dari sini, bila kita mengaku sebagai orang yang beriman, sudah seharusnya kita semua menyambut firman Allah SWT. ini dengan menunaikannya. Terlebih, banyak hadits yang menyebut anjuran dan keutamaan sholawat.

Sabda Rasulullah SAW.,

من صلّى عليّ واحدة صلّى الله عليه عشرا

Barang siapa mengucapkan sholawat kepadaku sekali, maka Allah SWT. akan bersholawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali.

Sabda Rasulullah SAW. lagi,

اولى النّاس بي يوم القيامة أكثرهم عليّ صلاة

Manusia paling utama yang bersamaku
dihari kiamat kelak adalah mereka yang paling banyak mengucapkan sholawat.

Kedua hadits diatas merupakan sedikit contoh dari banyak hadits tentang keutamaan membaca sholawat.

Apabila kita mendengar ada seseorang sedang membaca sholawat atau menyebut nama Nabi Muhammad SAW., hendaklah kita menjawab orang tersebut dengan sholawat. Misal, ada seseorang berucap “Nabi Muhammad” atau “Rasulullah”, maka kita hendaklah menjawab “Shollallaahu 'alaihi wasallama”. Atau apabila ada seseorang berucap “Allaahumma sholli 'alaa sayyidina Muhammad”, maka kita menjawab “Allaahumma sholli alahi.”

Jangan sampai kita termasuk kedalam orang yang kikir atau orang yang celaka yang sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW.,

البخيل من ذكرت عنده فلم يصلّ عليّ

Orang bakhil (kikir) adalah orang yang ketika disisinya disebut namaku, ia tidak
membaca sholawat kepadaku.

Atau hadits yang berbunyi,

من ذكرت عنده فلم يصلّ عليّ فقد شقي

Barang siapa ketika disebut namaku disisinya dan ia tidak bersholawat kepadaku, sungguh celakalah ia.

Kita tentu sudah sering mendengar dan mengetahui berbagai macam sholawat. Ada sholawat Jibril, sholawat Ibrohimiyyah, sholawat Badar,
sholawat Fatih, sholawat Nariyah, sholawat Badawi dan banyak sholawat lainnya. Kita bisa dengan bebas memilih sholawat mana yang kita ingin
baca dan amalkan.

Kendati demikian, diantara berbagai banyak sholawat, ada sholawat yang paling sempurna. Yaitu sholawat Ibrohimiyyah. Sebab, teks dan lafadh sholawat ini berasal dari Nabi Muhammad SAW. Karena itulah sholawat ini dibaca ketika sholat. Yaitu ketika sedang tasyahud akhir dalam sholat.

Syaikh Syihabuddin Al-Qolyubi mengatakan bahwa semua amal orang muslim ada yang diterima dan ada yang tertolak, kecuali sholawat. Maksudnya, baik dilaksanakan dengan ikhlas maupun riya', membaca sholawat tetap mendapat pahala.

Hal ini karena membaca sholawat merupakan bentuk pemuliaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan ibadah lain yang hanya diterima bila kita dalam keadaan hati ikhlas. Sependapat dengan Syaikh Syihabuddin Al-Qolyubi ini adalah Imam Asy-Syatibi dan Imam As-Sanusi.

Demikian kiranya uraian ringkas mengenai sholawat. Semoga kita semua tergolong sebagai ahli sholawat. Amin.
WAllaahu a'lam.[]

Oleh: Agus Setyabudi, Khodim di Madarasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Aimas, Sorong, Papua Barat.
Read More