Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Muslim di Yaman Sholat Tarowih Hingga Seratus Roka'at


rumahnahdliyyin.com, Tangerang Selatan - Pada umumnya, jama'ah sholat Tarowih yang dilaksanakan oleh kaum muslim di seluruh dunia sebanyak delapan atau dua puluh roka'at. Akan tetapi, tidak demikian halnya bagi sebagian kaum muslim di Yaman.

"Bisa sampai seratus roka'at," ujar A'wan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman, Taufan Azhari, sebagaimana diberitakan dalam laman NU Online.

Baca Juga: Perbedaan Ulama Tentang Niat Puasa Romadlon

Hal tersebut bisa terjadi, jelas Taufan, karena masjid-masjid di kota Tarim, Yaman, menggelar sholat Tarowih pada waktu yang berbeda-beda. Jadwal sholat Tarowih tersedia sejak setelah sholat Isya' sampai menjelang Sahur.

Sedangkan untuk sholat Tarowih yang dilaksanakan di masjid-masjid di Yaman sendiri, sebanyak 20 roka'at. Mereka yang sholat Tarowih hingga seratus roka'at itu karena mereka berpindah-pindah dari masjid satu ke masjid lainnya dimana waktu sholat Tarowih di masing-masing masjid memang tidak bersamaan.

Baca Juga: Santri Tremas Dakwah ke Desa-Desa Tiap Romadlon

Hal demikian ini bisa terjadi, sambung Taufan, karena mengikuti laku Habib Salim Asy-Syathiri. Karena adanya perbedaan jadwal sholat Tarowih itu, maka masyarakat Yaman bisa memilih untuk sholat Tarowih di Yaman.

Para pelajar Indonesia sendiri, dengan niatan ngalap (berharap) berkah, melakukan sholat Tarowih hingga di lima masjid yang berbeda.

Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama Kendal

"Anak Indonesia nggak sedikit yang tabarrukan di masjid-masjid sampai ber-Tarowih seratus roka'at sebagaimana Habib Salim Asy-Syathiri pernah melakoninya," pungkas Taufan.[]

(Redaksi RN)
Read More

Santri Tremas Dakwah ke Desa-Desa Tiap Romadlon


rumahnahdliyyin.com, Pacitan - Selama bulan suci Romadlon 1439 H. ini, Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, kembali menerjunkan para santrinya untuk berdakwah di tempat-tempat terpencil yang masih minus pengetahuan agamanya. Sebanyak 137 santri yang terjun ini melaksanakan tugas wajib program "Dakwah Bilhal" dengan satu santri menempati satu masjid atau musholla.

Menurut pengurus Pesantren Tremas, Ali Muhadaini, program ini diikuti oleh para santri lulusan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu'adalah yang baru diwisuda pada 7 Mei lalu.

"Para santri kita terjunkan ke tiap desa di seluruh wilayah Kecamatan di Pacitan dan beberapa daerah di Wonogiri, seperti Giritontro, Ngadirojo, Pracimantoro, Paranggupito, Baturetno, Batuwarno, Jatisrono. Ada pula daerah Rongkop Gunung Kidul dan Karanganyar," jelas Ali pada Jum'at (18/05/2018), sebagaimana diberitakan di laman NU Online.

Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan

Ali mengatakan bahwa program "Dakwah Bilhal" ini dimulai pada tanggal 28 Sya’ban dan akan berakhir hingga tanggal 2 Syawwal 1439 H. nanti. Selama di tempat dakwah, para santri akan menjalankan tugas yang antara lain yaitu menjadi imam sholat lima waktu, tarawih, memberikan ceramah dan pengajian, mengajar TPQ, mengurus pelaksanaan zakat fitrah, menjadi khotib Idul Fitri dan bersosialisasi dengan masyarakat.

"Dengan berbekal keilmuan yang telah dimiliki, Insya Allah mereka mampu mengemban tugas mulia ini," tambahnya.

Baca Juga: Pentingnya Kreatifitas Bagi Pesantren

Program wajib "Dakwah Bilhal" ini telah dilakukan oleh Pesantren Tremas semenjak awal tahun 2000. Melalui program "Dakwah Bilhal" ini para santri membawa dua buah misi dari Pesantren Tremas, yaitu misi belajar bermasyarakat dan misi mengenalkan dunia pesantren kepada masyarakat luas.

Lebih lanjut, Ali mengatakan bahwa "Dakwah Bilhal" ini bekerjasama dengan jajaran perangkat desa setempat serta Muspika di wilayah Kecamatan. Tiap tahun sasaran dakwah terus mengalami perluasan. Hal ini seiring dengan kebutuhan dai di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga: Gus Mus Tekankan Pentingnya Niat Dalam Launching Santriversitas

"Respon masyarakat terhadap program ini juga cukup besar. Terbukti, kami sampai kuwalahan memenuhi permintaan dari masyarakat," terangnya. []

(Redaksi RN)
Read More

Belajar Kemanusiaan dari Papua


rumahnahdliyyin.com - Pada siang yang dihiasi hujan tadi, Komunitas Peduli Papua (KOMPIPA) dan IKKS berkunjung untuk menyalurkan bantuan ke Usili. Seperti pernah saya tuliskan jauh-jauh sebelumnya, Usili merupakan satu dari sekian kompleks di Kabupaten Sorong ini yang dihuni oleh masyarakat suku Kokoda. Berbeda dengan Maibo dan Kurwato yang mana penghuninya muslim seluruhnya, di Usili terdapat dua agama yang dianut oleh para penduduknya. Yakni Islam dan Nasrani.

Kendati demikian, perbedaan itu tak pernah menyulutkan api konflik diantara mereka. Apalagi saling teror dan baku bunuh. Bahkan, mereka sangat guyub-rukun tanpa sedikitpun ada sekat ketika tengah bersosial.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Pernah suatu sore, tanpa sengaja saya bertemu dengan tokoh Usili di pasar setempat, yaitu pak Nimrod. Beliau yang non-muslim tiba-tiba mengeluhkan nasib pendidikan agama anak-anak muslim di sana setelah sebelumnya kita hanya saling bertukar kabar saja. Kepada saya ia mengungkapkan bahwa ia merasa sangat prihatin lantaran anak-anak di sana tidak pernah lagi mengaji lantaran tidak pernah ada yang mengajar lagi.

Mendengar dan menyaksikan dengan mata dan telinga sendiri, hal yang demikian ini terkadang membuat saya merenung: apakah Papua yang notabene sering dikatakan "terbelakang" itu hanya "mitos"? Apakah Papua yang kerap disebut "bodoh" itu hanya "khayalan"?

Baca Juga: Kiai Said dan Master Cheng Yen Berbicara Esensi Agama

Bukan apa-apa. Saya hanya tidak mengerti apakah benar orang "terbelakang" itu mampu punya kesadaran untuk memikirkan nasib generasi mereka ke depan meskipun beda keyakinan? Apakah benar orang "bodoh" bisa mencapai pemikiran hingga mencapai ke tingkat universal kemanusiaan?

Dan terjadinya peledakan bom di Surabaya tadi pagi, pikiran saya jadi ikut bergolak dan bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang "terbelakang" dan "bodoh"? Mereka yang ada di Jawa? Atau mereka yang ada di Papua?

Mari merenung bersama. Salam.



* Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madin Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Masjid Jawa di Thailand


rumahnahdliyyin.com, Bangkok - Ketua Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Nafis, dalam lawatannya ke negara-negara ASEAN mengatakan bahwa di Bangkok, Thailand, terdapat Masjid Jawa (Jawa Mosque) yang menjadi sarana syiar Islam bagi umat muslim setempat.

Seperti dikutip dari laman nu.or.id, pada Jum'at (11/05/2018), kawasan di sekitar Masjid Jawa itu dikenal dengan nama Soi Charoen Rat. Sedangkan letak persisnya berada di Jalan Soi Charoen Rat 1 Yaek 9, Sathorn, Bangkok, Thailand. Daerah ini merupakan kawasan yang banyak dihuni oleh masyarakat Melayu dan keturunan orang Jawa yang merantau di sana.

Baca Juga: Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Masjid Jawa didirikan diatas tanah Muhammad Saleh, seorang perantauan asal Rembang, Jawa Tengah, pada 1906. Mulanya, tanah tersebut merupakan tempat pengajian dan Yasinan yang kemudian diwaqofkan menjadi masjid dan tempat pendidikan.

Lebih lanjut, kiai Cholil menerangkan bahwa Masjid Jawa itu memiliki madrasah dengan jumlah siswa mencapai 200-an orang. Di masjid itu pula, pengajian Al-Qur’an digelar selama seminggu dengan jadwal untuk anak-anak pada hari Senin-Jum'at dan untuk dewasa tiap hari Minggu.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Dalam kesempatan itu, kiai Cholil Nafis juga sempat bertemu dan berbincang dengan Zuhrah (putri H. Muhammad Saleh, pendiri Masjid Jawa) dan Ma’rifah (cucu KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah) yang merupakan keturunan Jawa yang tinggal di sekitar masjid tersebut.

Dengan mengutip hasil perbincangannya dengan Ma’rifah, kiai Cholil menceritakan bahwa bahasa Indonesia ternyata diajarkan secara rutin di Madrasah Masjid Jawa itu. Tujuannya yaitu untuk terus memelihara rasa cinta terhadap Indonesia. Kendati demikian, untuk pengantar pembelajarannya, bahasa yang digunakan acap kali campur antara bahasa Thailand, Indonesia dan Jawa.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Selain itu, lanjut kiai Cholil, pengajian-pengajian yang diselenggarakan di Masjid Jawa itu juga banyak menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Disamping, tentu saja tetap memakai bahasa Thailand pula.

Selain arsitekturnya khas Jawa dengan warna bangunan hijau muda dan atap limasan berundak tiga, jika dilihat sepintas, Masjid Jawa itu seperti Masjid Agung Kauman di Yogyakarta dalam ukuran mini.

“Tradisi khas Nusantara seperti beduk, pengajian dan sholawatan, bahkan juga tahlilan, juga ada di Masjid Jawa ini. Terlihat suasana masyarakat sekitar masjid seperti budaya Jawa,” jelas kiai Cholil.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Bangunan utama Masjid Jawa itu berbentuk segi empat dengan ukuran 12 x 12 meter dan dilengkapi dengan empat pilar ditengah yang menjadi penyangga. Selain sisi arah kiblat, pada tiga sisi lainnya terdapat masing-masing tiga pintu kayu.

“Interior masjid sungguh membuat saya merasa sedang berada di sebuah masjid tua di Jawa,” cerita kiai Cholil.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Diluar bangunan utama, terdapat serambi dengan empat pintu yang terbuat dari jeruji besi. Di bagian depan (mihrob), terdapat sebuah mimbar kayu yang dilengkapi dengan tangga serta dua buah jam lonceng yang terbuat dari kayu di kanan dan kirinya.

Ada dua bangunan utama, yaitu masjid dan madrasah yang berbentuk rumah panggung dengan aneka deretan kursi dan meja dikolong rumah. Di seberang masjid, ada pemakaman Islam. Sedangkan di samping kiri masjid, terdapat prasasti peresmian masjid yang menggunakan bahasa Thailand.[]




(Redaksi RN)
Read More

NU-Muhammadiyah Memanggil di Universitas Brawijaya Malang


rumahnahdliyyin.com | Malang – Badan Intelejen Negara (BIN) mencatat bahwa ada sekitar 39 persen mahasiswa dari sejumlah Perguruan Tinggi di Indonesia yang terserang virus radikalisme. Dari hasil penelitian ini, BIN pun memberikan perhatian khusus terhadap tiga kampus yang dianggap menjadi basis penyebaran paham radikal itu.

Selain penemuan itu, penelitian BIN juga mengungkapkan bahwa ada 24 persen mahasiswa yang sepakat dengan wajibnya berjihad demi tegaknya negara Islam. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Sebab, jelas mengancam keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Baca Juga: Fenomena Hibridasi Identitas Kaum Muda Muslim

Dari data inilah, akhirnnya intelektual muda Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Universitas Brawijaya tergugah untuk membuat sebuah kolaborasi gerakan. Wajah Islam moderat yang dalam hal ini diwakili oleh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah harus tampil di Perguruan Tinggi.

Bersamaan dengan momen Daftar Ulang SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) Mahasiswa Baru Universitas Brawijaya tahun 2018, para mahasiswa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di lingkungan Universitas Brawijaya itu bersatu padu membuat sebuah gerakan “Nahdlatul Ulama & Muhammadiyah Memanggil”.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Dengan tema “Milenial Berkarya, Milenial Berbudaya, Milenial Berkemajuan”, mahasiswa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Universitas Brawijaya itu membuat stand dan acara pembukaan pun dilakukan bersama di depan Gedung Samantha Krida untuk menyambut mahasiswa baru hasil penjaringan SNMPTN.

Selain itu, mereka juga hadir untuk menyuarakan nilai-nilai toleransi, kebhinekaan, budaya yang baik dan semangat nasionalisme. Gerakan yang diselenggarakan pada Selasa (08/05/2018) ini, juga diikuti oleh para mahasiswa Universitas Brawijaya pada umumnya.

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas dari Nilai Agama

Pembukaan stand bersama ini dilakukan mulai pagi hari hingga selesainya kegiatan daftar ulang SNMPTN bagi mahasiswa baru. Stand dari kedua ormas yang digelar berdampingan, sangat menunjukkan adanya sinergitas gerakan dalam setiap ranah dakwah di lingkungan Universitas Brawijaya.

Mahasiswa Nahdlatul Ulama kelihatan aktif membagikan brosur-brosur informasi mengenai organisasi Nahdlatul Ulama kepada khalayak. Tampak pula mahasiswa lain yang notabene juga santri, membagikan informasi Pondok Pesantren area Kota Malang kepada mahasiswa baru. Selain itu, stand yang digelar itu juga melayani pendampingan untuk mahasiswa baru, baik itu informasi akademik, jurusan/fakultas, maupun informasi lain yang dibutuhkan oleh mahasiswa baru Universitas Brawijaya.

Baca Juga: Kemenag: Diantara Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri

Komunitas mahasiswa yang terafiliasi kedalam Nahdlatul Ulama dari unsur KMNU, PKPT, IPNU-IPPNU, PMII, MATAN dan mahasiswa NU pada umumnya, turut hadir dalam memeriahkan gerakan bersama yang disebut dengan Gerakan Sambut Maba NU-Muhammadiyah itu.

Koordinator pelaksana dari Nahdlatul Ulama, M. Syafiq Afif Adani, menyebutkan bahwa gerakan ini adalah tindak lanjut dari sinergitas yang telah lebih dahulu dibangun oleh NU-Muhammadiyah di tingkat pusat.

“Beberapa waktu lalu, para orangtua kita di PBNU dan PP. Muhammdiyah melakukan silaturrahmi untuk membahas persoalan kebangsaan. Mengapa tidak, kita di wilayah mahasiswa melakukan kegiatan yang sama?" ungkap Syafiq, begitu sapaan akrabnya.

Baca Juga: Paham Takfiri Adalah Senjata Pembunuh Massal

Sementara itu, koordinator pelaksana dari Muhammadiyah, Azhar Syahida, menyampaikan pernyataan yang senada pula. Menurutnya, gerakan ini sangat baik, sehingga ke depannya harus terus dijalankan secara berkelanjutan.

Perlu diketahui bersama bahwa Mahasiswa Nahdlatul Ulama di Universitas Brawijaya adalah forum silaturrahmi antarmahasiswa di lingkungan Universitas Brawijaya, baik yang ada di organisasi struktural NU maupun kultural. Sangat banyak aktivitas ke-NU-an yang telah dilakukan di kampus. Diantaranya yaitu mengaji kitab kuning, diskusi Aswaja, sharing keilmuan dan prestasi mahasiswa, Majelis Ta’lim dan Sholawat, pembacaan Yasin dan Tahlil, serta program pendampingan intensif dibidang akademik maupun non-akademik.

Baca Juga: Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Gerakan bersama antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah ini tidak lain adalah untuk membentengi mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri agar terhindar dari virus radikalisme dan terorisme, menyerukan wajah Islam yang ramah dan moderat, menyebarkan nilai-nilai toleransi dan semangat Hubbul-Wathon minal-Iman, serta lebih jauh lagi adalah membentuk generasi muda bangsa Indonesia menjadi milenial yang berkarya, berbudaya dan berkemajuan.[]
(Mohammad Ainurrofiqin)
Read More

PBNU Luncurkan BBM Serentak


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan mengadakan aksi Bersih-Bersih Masjid (BBM) Berkah pada Minggu, 13 Mei 2018, secara serentak di seluruh musholla dan masjid se-Indonesia. Aksi serentak ini akan diluncurkan pada besok hari Rabu, 9 Mei 2018, di Gedung PBNU, Jakarta.

“Tujuan BBM Berkah ini adalah untuk mendorong masjid ikut berperan mewujudkan situasi nasional yang bersih dari kotoran lahir-batin menyongsong bulan suci Romadlon sekaligus untuk berpartisipasi mewujudkan situasi bangsa yang aman dan tentram,” jelas Ali Sobirin, Koordinator Nasional acara ini.

Baca Juga: Politik Jangan Dibawa ke Masjid

Peluncuran yang akan diisi dengan acara Deklarasi ini akan dihadiri oleh para Penggerak Masjid Seluruh Indonesia, para Koord. BBM Kabupaten/Kota, para Ta'mir Masjid dan Marbot se-Jabodetabek dan pengurus PBNU.[]




(Redaksi RN)
Read More

Bully Zaman Mbah Bisri


rumahnahdliyyin.com - Ini adalah kisah tentang gasak-gasakan (atau bahasa sekarang bully) antar kiai di zaman Mbah Bisri Mustofa, ayahanda Gus Mus. Kisah ini dikisahkan oleh Gus Mus pagi ini saat kami sarapan di hotel di Gimpo, sebuah kota kecil di luar Seoul, Korea Selatan.

Zaman dulu, di kota Rembang masih ada penjual daging babi yang membawa pikulan dan berkeliling dari kampung ke kampung. Suatu saat, penjual ini lewat di depan rumah Pak Hamyah, seorang dukun sunat dan sekaligus teman akrab Mbah Bisri. Pak Hamyah pun langsung memanggil penjual daging babi itu.

"Lek..! Coba kamu ke rumah Mbah Bisri di Leteh sana. Dia kemaren sepertinya pengen daging babi."

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Penjual itu pun langsung pergi ke rumah Mbah Bisri. Sampai di sana, "Mbah Bisri, katanya butuh daging babi. Monggo lho... "

"Siapa yang bilang?" tanya Mbah Bisri.

"Kata Pak Hamyah, tadi."

"Weee, Hamyah gemblung!" kata Mbah Bisri agak jengkel.

Dua sahabat ini memang sudah sering saling gasak-gasakan. Mbah Bisri lalu mencari akal bagaimana membalas bully-an sahabat karibnya ini. Dapatlah beliau ide untuk membalas.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Suatu hari, Mbah Bisri punya "gawe" di rumahnya. Beliau mengundang banyak tamu, termasuk sahabatnya, Pak Hamyah. Mbah Bisri sudah pesan sejak awal kepada santri ndalem, agar menyediakan satu cangkir kosong yang tertutup. Cangkir itu, pesan Mbah Bisri, agar disuguhkan ke Pak Hamyah.

Terjadilah senario yang sudah direncanakan Mbah Bisri. Santri ndalem menyuguhkan kopi ke semua tamu. Tiba giliran cangkir kosong yang sudah disediakan khusus untuk Pak Hamyah, santri itupun segera meletakkan cangkir tertutup itu di depan sahabat Mbah Bisri itu.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Setelah itu, santri itu kemudian berlalu sambil memendam tawa kecil didalam hatinya, "Kiai ya kayak awak dhewe ya, padha gasak-gasakan juga."

"Monggo kopinipun dipun unjuk, para sedherek," kata Mbah Bisri seraya mempersilahkan tamu-tamunya untuk meminum kopi.

Dengan tanpa curiga sedikitpun, Pak Hamyah segera mengambil cangkir, membuka tutupnya, dan melihat cangkir itu kosong, "Asemik, aku diwales Bisri rupanya."

Baca Juga: KH. Kholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Untuk menutup rasa malu, pak Hamyah tetap mengangkat cangkir itu dan mendekatkannya ke mulut sambil mengeluarkan suara khas, "Slurrrrrp, haaaaaah..." Pak Hamyah pura-pura menikmati kopi itu dengan penuh perasaan.

"Piye kopine, Hamyah?" tanya Mbah Bisri dengan meledek.

Pak Hamyah hanya bisa tersenyum kecut. Mungkin, dia sedang memikirkan trik bully yang lain untuk Mbah Bisri.[]




* Oleh: Gus Ulil Abshar Abdalla
Read More

Islam Italia Iri Terhadap Islam Indonesia


rumahnahdliyyin.com, Bogor - Islam merupakan agama minoritas di Italia. Umumnya, pemeluk Islam di Italia adalah orang-orang keturunan negara-negara Afrika. Pada 2017, diperkirakan ada sekitar 1.5 juta populasi umat Islam dari total 59 juta jiwa populasi seluruh penduduk Italia.

Kendati merupakan kelompok minoritas, Yahya Sergio Yahe Pallavicini, Ketua Komunitas Islam Italia, mengatakan bahwa Islam telah hadir diberbagai sektor dalam kehidupan masyarakat Italia. Hal ini merupakan hasil upaya dari masyarakat muslim di negara itu sendiri yang menghadirkan Islam di Italia tanpa harus bersikap fanatik.

Baca Juga: Ini Pandangan Grand Syaikh Al-Azhar Mengenai Pancasila

Sementara itu, terkait tingginya Islamphobia di Eropa, Pallavicini tidak menampiknya. Ia pun menambahkan bahwa harus ada sharing lintas dimensi untuk menguranginya.

“Setiap orang yang menyerang suatu agama, sama dengan menyerang setiap lapisan masyarakat. Untuk mengurangi Islamphobia, harus ada sharing lintas dimensi untuk membantu menemukan identitas dan mengkaitkan dari tradisi ke modernitas,” kata Pallavicini sebagaimana dikutip dari tempo.co, disela-sela forum High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasatyyat Islam, pada Rabu (02/05/2018).

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Bagi Manusia

Hidup sebagai minoritas di Italia, membuat Pallavicini "iri" dengan Indonesia. Ia menilai bahwa pengajaran agama Islam di Indonesia sangat berkembang. Hal ini sangat mengejutkan mengingat 80 persen umat Islam di Indonesia bukanlah berdarah Arab, dimana selama ini Islam selalu identik dengan negara-negar Timur Tengah.

Berkaca pada hal ini, Pallavicini pun ingin menjadikan Indonesia sebagai contoh bagi masyarakat Italia. Indonesia yang terdiri dari beragam suku-bahasa, ternyata bisa hidup dalam harmoni sehingga menginspirasi negara lain.[]

(Redaksi RN)
Read More

Inilah Bogor Message; Hasil KTT Wasathiyah Islam


rumahnahdliyyin.com, Bogor - Pertemuan seluruh Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia dalam Konsultasi Tingkat Tinggi tentang Islam Wasathiyah (Islam Moderat), yang berakhir hari Kamis ini (03/05/2018), menyepakati dan mendukung poin-poin yang ada dalam Bogor Message atau Pesan Bogor.

"Seluruh ulama menyetujuinya. Dan ada beberapa tambahan yang akan disusun dalam Pesan Bogor," kata Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Din Syamsudin, sebagaimana dilansir antaranews.com.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Din Syamsudin menyebutkan bahwa Pesan Bogor ini disusun dengan ringkas dan hanya ada tiga butir konsideran (pertimbangan) yang kemudian diletakkan didalam komitmen yang bersifat praktis. Terutama lewat Poros Wasathiyah Islam Dunia yang disepakati untuk didirikan dan berada di Indonesia.

"Ini sejalan dengan pesan Presiden Joko Widodo pada pembukaan. Nanti lewat poros ini, semua program akan kita rancang. Termasuk untuk diadakannya pertemuan tahunan," sambung Din Syamsudin.

Baca Juga: Ini Pandangan Grand Syaikh Al-Azhar Mengenai Pancasila

Adapun isi pertimbangan Pesan Bogor tersebut, yaitu:
  1. Para Cendekiawan Muslim Dunia yang bersidang di KTT Cendekiawan Muslim Dunia tentang Wasathiyah Islam ini mengakui adanya realitas peradaan modern yang menunjukkan kekacauan global, ketidak pastian dan akumulasi kerusakan global yang diperparah oleh kemiskinan, buta huruf, ketidak adilan, diskriminasi dan berbagai bentuk kekerasan, baik di tingkat nasional maupun global.
  2. Percaya pada Islam sebagai agama damai dan rahmat (din as-salam wal-hadloroh) yang prinsip dan ajaran dasarnya mengajarkan cinta, rahmat, harmoni, persatuan, kesetaraan, perdamaian dan kesopanan.
  3. Mengakui bahwa paradigma Wasathiyah Islam sebagai ajaran utama Islam, telah dipraktekkan dalam perjalanan sejarah sejak era Nabi Muhammad SAW., khalifah yang dibimbing dengan benar (Al-Kholifah Ar-Rosyidah), ke periode modern dan kontemporer, diberbagai negara di seluruh dunia, serta menegaskan kembali peran cendekiawan muslim untuk memastikan dan memeliharan generasi masa depan untuk membangun peradaban Ummatan Wasathon.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Sementara itu, isi Pesan Bogor sendiri ada empat, yaitu:
  1. Mengaktifkan kembali paradigma Wasathiyah Islam sebagai ajaran Islam yang meliputi tujuh nilai utama. Tujuh nilai utama tersebut yakni Tawassuth, I'tidal, Tasamuh, Syuro, Ishlah, Qudwah dan Muwathonah.
  2. Menjunjung tinggi nilai-nilai paradigma Wasathiyah Islam sebagai budaya hidup secara individual dan kolektif dengan melambangkan semangat dan eksemplar dari sejarah peradaban Islam.
  3. Memperkuat tekad untuk membuktikan kepada dunia bahwa umat Islam sedang mengamati paradigma Wasathiyah Islam dalam semua aspek kehidupan.
  4. Mendorong negara-negara muslim dan komunitas untuk mengambil inisiatif untuk mempromosikan paradigma Wasathiyah Islam melalui Fulcrum (poros) of Wasathiyah Islam dalam rangka membangun Ummatan Wasathon, sebuah masyarakat yang adil, makmur, damai, inklusif, harmonis, berdasarkan pada ajaran Islam dan moralitas.

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Pimpinan Dewan Masyarakat Muslim Dunia, Prof. Mustafa Cheric, menilai isi Pesan Bogor ini sangat penting dan berharga. Dan tidak hanya dibahas hari ini saja, tetapi ada kelanjutannya di pertemuan lainnya. Ia punya dua usulan tambahan untuk isi Pesan Bogor ini, seperti komitmen bekerja sama seluruh ulama dan cendekiawan muslim dunia untuk menjadikan KTT seperti ini sebagai investasi penting para ulama.

"Karena kita memiliki generasi muda, oleh karena itu, saya rekomendasikan Indonesia mengumumkan kompetisi antar umat muda muslim untuk melakukan penelitian atau kajian atas tujuh nilai utama wasathiyah dalam Pesan Bogor ini," katanya.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Bagi Manusia

Charlic juga berpesan bahwa Pesan Bogor ini tidak hanya ditujukan bagi negara-negara Islam. Melainkan juga mengakomodir negara-negara non-muslim, sehingga konsep wasathiyah Islam sebagai agama penengah, bisa dipahami secara luas.[]



(Redaksi RN)

Read More

Meski Diminta Istri Untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya


rumahnahdliyyin.com - Salah satu penyebab seseorang melakukan poligami adalah alasan personal, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS. Atas permintaan istri pertamanya, yaitu Siti Sarah, Nabi Ibrahim pun memenuhi permintaan itu dengan menikahi Siti Hajar hingga lahirlah Nabi Ismail AS. dari rahim istri kedua tersebut.

Permintaan Siti Sarah itu dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa hingga usia mencapai lebih dari 80 tahun, Nabi Ibrahim AS. belum dikaruniai seorang anak pun. Kasus ini, ternyata mirip dengan yang terjadi pada Mbah Kiai Abdul Mannan, Solo. Bedanya, kiai Mannan menolak permintaan istrinya untuk poligami itu.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoax

Mbah Kiai Abdul Mannan adalah salah seorang pendiri Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkyudan, Surakarta, yang didirikan pada tahun 1930-an. Beliau adalah ayah dari Mbah Kiai Ahmad Umar Abdul Mannan, yang mengasuh pesantren tersebut hingga beliau wafat pada tahun 1981.

Penolakan Mbah Kiai Abdul Mannan untuk berpoligami, meski diminta sendiri oleh istri beliau, yaitu Mbah Nyai Mushlihah, adalah karena memang beliau tidak pernah menginginkan untuk berpoligami kendati sudah pernah menikah hingga tiga kali.

Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan

Perkawinan Mbah Kiai Abdul Mannan dengan istri pertamanya, berakhir dengan mufaroqoh yang tak bisa dihindarkan. Perkawinannya dengan istri kedua, berakhir ketika sang istri mendahului wafat. Sedangkan perkawinannya dengan istri yang ketiga, yakni dengan Mbah Nyai Mushlihah, berlangsung langgeng hingga Mbah Kiai Abdul Mannan wafat pada tahun 1964. Sedang Mbah Nyai Mushlihah sendiri, wafat pada tahun 1981 sebelum beberapa minggu kewafatan Mbah Kiai Ahmad Umar.

Pertanyaannya, mengapa Mbah Nyai Mushlihah minta dimadu dan mengapa pula Mbah Kiai Abdul Mannan menolaknya?

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Berdasarkan penuturan dari salah seorang putri Mbah Kiai Abdul Mannan, yakni Mbah Ngismatun Sakdullah, Solo—biasa dipanggil Mbah Ngis (wafat 1994)—dengan terus terang, Mbah Nyai Mushlihah memohon kepada Mbah Kiai Abdul Mannan yang notabene sebagai suaminya supaya menikah lagi. Hal tersebut karena Mbah Nyai Mushlihah merasa sudah tua dan tak sanggup lagi memenuhi kewajibannya untuk melayani hubungan suami-istri setelah menopause.

Memang, wanita yang sudah menopause, pada umumnya mengalami banyak perubahan yang menyebabkan hilangnya gairah seksual. Selain itu, menurunnya kemampuan berhubungan seksual, jika dipaksakan bisa menimbulkan ketidaknyamanan, baik secara fisik maupun psikis.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Untuk itu, Mbah Nyai Mushlihah bersedia melamarkan siapa pun yang dipilih Mbah Kiai Abdul Mannan untuk dijadikan madunya dengan maksud supaya hak-hak Mbah Kiai Abdul Mannan sebagai suami tetap bisa terpenuhi karena libido seksual laki-laki memang bertahan sampai mati.

Meski Mbah Kiai Abdul Mannan sadar bahwa sang istri rela dimadu, tapi beliau menolak permintaan itu. Sebab, pada dasarnya, beliau tidak menginginkan berpoligami. Tentu saja beliau punya beberapa alasan atas penolakannya itu, yang pada intinya demi menghindari madlorot yang lebih besar daripada kemanfaatannya.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Poligami sudah pasti berpotensi menimbulkan kecemburuan dan permusuhan diantara para istri dan anak-anak sebagaimana Siti Sarah yang mencemburui Siti Hajar serta bersikap tidak ramah. Padahal, kehadiran Siti Hajar sebagai istri kedua Nabi Ibrahim AS. merupakan permintaan Siti Sarah sendiri.

Jadi, alasan permintaan Mbah Nyai Mushlihah kepada Mbah KH. Abdul Mannan untuk berpoligami itu bersifat personal sebagaimana permintaan Siti Sarah kepada Nabi Ibrahim AS. Hanya saja, Siti Sarah belum dikaruniai seorang anak pun, sedangkan Mbah Nyai Mushlihah sudah dikaruniai lebih dari enam orang anak, termasuk Mbah Ngis, yang dilahirkannya sendiri.

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Memilih Puasa

Dikalangan pesantren dikenal ada tiga tipologi kiai, yakni kiai ‘alim, kiai ‘abid dan kiai ‘arif. Secara sederhana, kiai ‘alim adalah kiai yang ilmu pengetahuan agamanya luas dan banyak berkiprah di pengajaran ilmu-ilmu agama seperti di pesantren atau majelis-majelis ta’lim. Kiai ‘abid adalah kiai yang ahli ibadah dan banyak menghabiskan waktu serta tenaganya untuk beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan kiai ‘arif adalah kiai yang ilmu hikmahnya menonjol dan banyak riyadloh sehingga menjadi sosok yang arif-bijaksana. Mbah Kiai Abdul Mannan sendiri, dalam tipologi ini, tergolong dalam kiai tipe yang ketiga, yaitu lebih menonjol sebagai kiai 'arif.

Dalam menyikapi persoalan personalnya dengan Mbah Nyai Mushlihah yang sudah "meminta pensiun" dari tugas melayani urusan kasur, Mbah Kiai Abdul Mannan bukannya menceraikan sang istri lalu menikah lagi dengan dalih menghindari perzinahan.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hsyim Asy'ari

Nafsu seksual laki-laki memang terus hidup selama hayat masih dikandung badan. Tapi, poligami bukanlah satu-satunya cara untuk mengatasi persoalan personal yang berupa syahwat itu. Ada cara lain untuk mengatasinya, yakni berpuasa, sebagaimana hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim: Puasa adalah perisai (peredam) syahwat.

Cara berpuasa itulah yang dipilih oleh Mbah Kiai Abdul Mannan ketika mencari solusi terbaik dalam mengatasi persoalan syahwatnya disaat Mbah Nyai Mushlihah Abdul Mannan sudah tidak sanggup lagi memenuhi kewajibannya karena sudah udzur. Mbah Kiai Abdul Mannan mampu menjawab persoalan hukum (fiqh) dengan jawaban moral (akhlaq) yang tentu saja lebih luhur karena puasa merupakan ibadah satu-satunya untuk Allah SWT. dan Dia sendiri yang akan membalasnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits qudsi riwayat Imam Bukhori: Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.[]



Oleh: Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.


Sumber: NU Online
Read More

Kroyokan Sedekah Berawal Dari Cemburu


rumahnahdliyyin.com | Bantul - Bermula dari sedekah di kedua masjid yang ada di lingkungan tempat tinggalnya yang berada di Kampung Prancak, kawasan Kampus Institut Seni Indonesia (ISI), Bantul, Yogyakarta, Joko Taruno sudah mampu bersedekah di 33 masjid se-DIY setiap Jum'atnya saat ini. Niatnya sederhana, hanya ingin mencari sangu untuk bekalnya di akhirat kelak.

Mulai pukul sepuluh pagi, setiap Jum'at, satu per-satu warga dari berbagai lapisan, mulai tukang becak, sopir maupun musafir, sudah mengambil snack dan minuman untuk dibawa. Ada yang mengambilnya untuk dikonsumsi pribadi dan ada juga yang diantarnya ke masjid-masjid yang ada di sekitaran Kampus ISI Yogyakarta, Jalan Parangtritis, Bantul.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

“Kami utamakan dahulu di dua masjid sekitar. Yakni Masjid Abdul Kadir Nur Wahdaniyah dan Masjid Kampus ISI. Kedua masjid ini menjadi cikal bakal saya dan rekan-rekan satu komunitas untuk bisa selalu bersedekah,” papar Koordinator Kroyokan Sedekah, Joko Taruno, Jum'at (20/4/2018), seperti yang dikutip dari suaramerdeka.com.

Sudah tiga tahun terakhir ini Joko Taruno selalu bersedekah dengan menyediakan makanan ringan dan minuman ke masjid-masjid untuk nantinya dikonsumi seusai Sholat Jum'at.

“Awalnya, saya itu cemburu. Karena, kenapa orang lain bisa berbuat baik, sementara saya tidak. Setelah itu, makin dipertegas ketika setiap habis Sholat Jum'at di Masjid Jogokaryan selalu ada kegiatan pemberian makanan dan minuman gratis bagi jamaah. Makanya saya juga ingin melakukan hal itu (membagikan makanan setiap Sholat Jum'at) dengan gratis,” ceritanya.

Baca Juga: NU Care Lazisnu Peduli Papua

Joko pun mencoba menerawang jauh apa yang telah dilakukannya pada tiga tahun silam ketika mengawali "Kroyokan Sedekah" ini. Kala itu, berbekal seringnya menggelar seni pertunjukkan, karena kebetulan pula lulusan ISI, Joko pun kerap sekali mendapatkan kerja sama dengan sebuah perusahaan teh kemasan. Setiap Jum'at, setidaknya ratusan gelas teh dibagikan ke jamaah di dua masjid sekitar rumahnya.

“Iseng apa yang saya lakukan ini saya share lewat medsos, dan alhamduliLlah mendapat respon dari kawan-kawan. Hingga akhirnya mereka pun ikut terlibat dengan menyumbangkan teh,” ungkapnya.

Baca Juga: Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Gayung bersambut, dari aksi itu, akhirnya terkumpul seribu gelas dimana pergelasnya seharga seribu rupiah. Teh-teh ini pun dibagikan ke jamaah Sholat Jum'at masjid di sekitar rumahnya untuk setiap pekannya.

“Terkadang sisa. Sehingga saya sebar ke masjid lainnya. Saya memegang prinsip, ketika mengajak orang lain bersedekah, setidaknya dia mampu melakukan hal kebaikan. Dan uang sumbangan seribu rupiah itu bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk sesuai keinginan para relawan,” jelasnya.

Baca Juga: Pesantren An-Nawawi Tanara Bangkitkan Ekonomi Umat Dari Pesantren

Lambat laun, aksi "Kroyokan Sedekah"-nya menjadi besar. Bahkan, pihak perusahaan teh tersebut menyerahkan bantuan teh dengan ukuran apapun asalkan Joko menyediakan tempat air minum ukuran jumbo sepuluh liter. Selain itu, tak hanya minuman teh yang disedekahkan, melainkan juga memberikan makanan-makanan kepada jamaah Sholat Jum'at.

“Lagi-lagi lewat medsos. Saya tawari siapa yang ingin sedekah dengan menyediakan snack, akhirnya malah melimpah ruah. AlhamduliLlah. Karena itu, kami berkembang terus dengan setidaknya ada 33 masjid di DIY yang merasakan dampaknya. Termasuk bantuan bencana alam, longsor Ponorogo, termasuk yang terakhir di Cilacap,” jelas pria asal Jakarta yang lahir tahun 1980 itu

Baca Juga: Gus Mus Tekankan Niat Dalam Launching Santriversitas

Dengan lebih dari 500 member "Kroyokan Sedekah" di Facebook dan Instagram, komunitas ini terus menerus berkembang.

“Lewat "Kroyokan Sedekah" ini, pemberian makanan gratis juga dilakukan di tempat lain. AlhamduliLlah, kami juga membangun rumah di Gunungkidul dan Bantul. Termasuk dari Sulawesi juga memberikan sedekah mereka. Lalu saat Romadlon nanti, ada pembagian 500 nasi dan 500 roti untuk diberikan ke masjid-masjid,” paparnya.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Lebih lanjut, Joko berharap supaya apa yang dirintisnya saat ini terus bisa berkembang. Bahkan, pria yang sehari-hari bekerja sebagai penjual makanan bernama "Songgobuwono" tersebut sudah membuat surat wasiat.

“Dalam wasiat ini saya katakan bahwa meskipun nanti gerakan "Keroyokan Sedekah" mulai meredup, namun gerakan sedekah tetap harus ada di dua masjid di sekitar tempat tinggal saya,” tandasnya.[]



(Redaksi RN)
Read More