Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Jasa Pak Harto Atas NU


rumahnahdliyyin.com - Sejauh ini, kalau saya perhatikan di linimasa, teman-teman yang mengucapkan selamat Hari Santri Nasional kok hanya teman-teman yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Selebihnya, mungkin mereka yang punya hubungan batin dengan pesantren. Kalaupun tidak, mungkin punya hubungan dengan NU. Untuk benar tidaknya hal ini, silakan diamati sendiri.

Bicara tentang santri, niscaya harus menyinggung soal pesantren. Sedangkan bicara tentang pesantren, tentu tak bisa menghindar dari membicarakan NU. Ketiganya adalah unsur yang tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.

Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua untuk Nahdliyyin di Jawa

Kendati berbagai lembaga survei telah menunjukkan bahwa NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia, ada saja pihak-pihak yang mempertanyakannya. Katanya, NU hanya besar di Jawa saja. Di lain daerah tidak. Dan memang harus diakui demikianlah adanya.

Sayangnya, NU kurang memperhatikan kekurangannya itu. Walhasil, pihak-pihak yang komplain tadi buru-buru berlari kencang ke daerah-daerah luar Jawa untuk menyebar benih ormas/Islam versinya yang kemudian mengakar kuat di sana. Dan dewasa ini cengkeraman ini agak terasa sepertinya.

Baca Juga: NU Dimata Romo Benny

Di luar Jawa memang ada NU. Dan sebagian besar adalah NU kultural. Dalam artian, dalam keseharian ibadahnya ala NU. Kendati ala NU, bahkan tidak sedikit yang tidak tahu apa itu NU. Bahkan mendengarnya pun pelum pernah. Jangan heran pula bila mereka memang tak tahu. Karena faktanya memang tak tahu. Tahunya Islam. Titik. Kendati Islam yang dijalankannya selama ini adalah Islam ahlissunnah wal-jama'ah annahdliyyah. Dan muslim "thok" seperti inilah yang sangat mudah "digeret" oleh agen Islam "yang aneh-aneh."

Harus diakui memang kalau NU itu Jawa Centris. Di mana ada orang Jawa, di situlah ada kepengurusan NU. Bisa dikatakan hampir di seluruh propinsi dan daerah di Indonesia ini pasti pengurus NU-nya mayoritas orang Jawa. Di Sumatera, di Kalimantan, di Sulawesi, hingga di Papua.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Tahukah kita siapa yang paling berjasa atas adanya kepengurusan NU di luar Jawa? Tahukah kita siapa yang telah berjasa besar menyebar benih-benih Islam rahmah ke seluruh penjuru Nusantara? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah pak Harto.

Sebagaimana kita ketahui bersama, banyak diantara penduduk menengah ke bawah pada masa Orde Baru di Indonesia adalah warga Nahdliyyin. Dan tidak sedikit diantara mereka yang santri. Dan pak Harto-lah yang menyebar kelas sosial ini ke seluruh penjuru Nusantara lewat programnya transmigrasi. Kendati transmigrasi, mereka tetap berusaha ngurip-urip NU di daerah di mana mereka berada. Inilah hebatnya para transmigran dulu. Saya menduga, mereka melakukan ini mungkin terngiang-ngiang dawuhnya Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari yang kurang lebih berbunyi: "Siapa yang mau mengurusi NU, maka akan ku anggap sebagai santriku. Dan siapa yang jadi santriku, maka aku do'akan husnul khotimah beserta anak-cucunya."

Baca Juga: Kekecualian Nahdlatul Ulama'

Dan mumpung sekarang adalah hari di mana kita semua tengah memperingati Hari Santri Nasional, saya ingin mengajak berpikir siapa saja (tentu saja bagi yang mau), terutama buat sedulur-sedulur santri semuanya: "Sekarang sudah tak ada pak Harto. Tak ada program transmigrasi. Terlebih, kebanyakan dari kita pun sudah berada di titik nyaman di Jawa. Lalu, bagaimanakah supaya kita bisa menambal kekurangan NU di luar Jawa yang saat ini masih minim dan 'terancam' oleh adanya Islam 'aneh-aneh' itu? Bagaimanakah caranya supaya cara berislamnya santri yang rahmah ini bisa mengakar di seluruh penjuru negeri?"

Akhirnya, selamat berpikir dan jangan lupa sambil ngopi.

Salam.



* Oleh: Agus SB, Khodim Madrasah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Alumni Santri di Sorong Bahas Soal Zakat


rumahnahdliyyin.com, Sorong - HAPPI atau Himpunan Alumni Pondok Pesantren Indonesia mengadakan bahtsul masail sore ini (08/06/2018) di Masjid Al-Ikhtiyar, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Bermula dari permasalahan yang diajukan oleh salah seorang muslim di Sorong, Papua Barat, maka kumpulan para alumni santri yang tinggal di Sorong, Papua Barat, ini melaksanakan bahtsul masail untuk menjawab permasalahan tersebut.

Bahtsul masail ini sebenarnya sudah dimulai sejak pekan lalu, yakni tanggal 31 Mei 2018 di Masjid Adz-Dzakirin, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Untuk yang pertama ini, masalah yang dibahas adalah soal zakat fitrah. Mulai dari waktu pelaksanaan zakat fitrah, jumlah kadar zakat fitrah yang harus dikeluarkan, siapa yang wajib mengeluarkan dan yang berhak menerima, siapa yang bisa menyalurkannya dan lain sebagainya.

"Pembahasan zakat fitrah sudah selesai yang didasarkan pada kitab-kitab para fuqoha' yang mu'tabar dan menghasilkan dua versi. Diantara tiga imam madzhab sependapat, termasuk Imam Syafi'i, berzakat fitrah dengan beras dengan ukuran 2.5 kg. atau 2.7 kg. dan yang boleh menggunakan uang adalah madzhab Hanafi dengan takaran beras 3.8 kg.," ungkap M. Munawir Ghozali, ketua HAPPI.

Baca juga: Alumnus Pondok Pesantren se-Indonesia di Sorong Bentuk HAPPI

Untuk yang kedua, permasalahan yang dibahas yaitu tentang zakat mal. Pembahasan ini dilaksanakan pada malam hari setelah sholat Tarawih sebagaimana pelaksanaan bahtsul masail yang pertama. Pembahasan ini pun sudah rampung.

"Yang berhak mengeluarkan zakat mal diantaranya adalah harta kepunyaan sendiri dengan kadar mengikuti atau berpedoman pada nishob mas 85 karat murni," tambah alumni Pondok Pesantren Lirboyo itu.

Baca juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Sedangkan untuk sore tadi, bertempat di masjid Al-Ikhtiyar, Kabupaten Sorong, Papua Barat, bahtsul masail yang diselenggarakan oleh HAPPI ini membahasa tentang zakat profesi. Hasil yang didapat yaitu bahwa zakat profesi sama dengan zakat mal. Hanya saja, untuk zakat profesi ada dua cara yang bisa dilakukan.

"Zakat profesi bisa dilakukan dengan cara mencicil tiap bulan dan bisa langsung setahun," imbuhnya lagi.

Baca juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Kendati beberapa permasalahan sudah didapatkan hasilnya, namun bahtsul masail yang berjalan secara paralel ini belum selesai sampai di sini.

"Besok malam Ahad insya Allah akan diadakan pembahasan soal fidyah di Masjid Adz-Dzakirin," pungkas M. Munawir Ghozali yang biasa dipanggil dengan ustadz Ali itu.

Untuk peserta yang turut hadir dalam bahtsul masail ini biasanya mencapai belasan orang.[]

(Redaksi RN)
Read More

Santri Kediri Ikrar Menjadi Pengawas Pilkada


rumahnahdliyyin.com, Kediri - Bertempat di Hutan Kota Joyoboyo, Jalan Ahmad Yani, Kota Kediri, ditengah guyuran hujan deras, ada sekitar lima ratus santri dan santriwati mengucapkan ikrar menjadi pengawas Pilwali dan Pilgub Jatim 2018.

Pemilihan santri sebagai bagian dari pengawas proses Pilkada di Kota Kediri ini, menurut Anggota Bawaslu, Mansur, sebagaimana dilansir oleh detik.com, karena santri merupakan bagian dari masyarakat yang sangat mudah diterima oleh masyarakat dan oleh berbagai macam kalangan.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Selain itu, Mansur juga mengakui bahwa mengikut sertakan santri dan santriwati pondok pesantren ini merupakan salah satu cara Bawaslu untuk mengajak masyarakat menjadi agen penyampai informasi terkait aturan maupun pelanggaran.

"Iya, memang kami sengaja mengajak santri untuk ikut mengawasi jalannya pesta demokrasi Kota Kediri dan Jawa Timur. Selain mengawasi proses kampanye, nantinya para santri juga menjadi penyampai informasi terkait pilkada," kata Mansur di lokasi acara pada Minggu dini hari, 1 April 2018.

Baca Juga: Santri Milenial dan Tantangan Seabad NU

Fungsi dan tugas mereka nantinya, jelas Mansur, melaporkan kepada Bawaslu jika menemukan adanya pelanggaran kampanye ataupun menyampaikan informasi terkait peraturan kampanye Pilwali dan Pilgub.

"Fungsi dan tugas para santri nantinya adalah mengawasi serta melaporkan kepada Bawaslu jika ada pelanggaran kampanye," imbuh Mansur.

Baca Juga: Kemenag: Diantara Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri

Sementara itu, Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi, mengapresiasi Bawaslu dan santri yang memiliki niat baik dan berinisiatif untuk ikut ambil bagian dalam pengawasan proses Pilkada.

"Selain Bawaslu, polisi, TNI dan KPU, masyarakat juga memiliki kewajiban ikut serta menjadi pengawas dan melaporkan kepada pihak berwajib jika menemukan adanya pelanggaran, dalam hal ini santri," jelas Anthon.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Ikrar santri menjadi pengawas Pilkada ini diakhiri dengan Deklarasi Anti-Hoax oleh para santri dan santriwati bersama dengan anggota Bawaslu Kota Kediri, Polres Kediri Kota dan Kodim 0809 Kediri.[]


Editor : Redaksi RN
Sumber : detik.com
Read More

Kuota Beasiswa Santri Berprestasi Tahun 2018 Bertambah


muslimpribumi.com | Bandung - Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) tahun 2018 akan segera dibuka. Kepastian ini disampaikan Kasubdit Pendidikan Rapat Koordinasi Persiapan PBSB dengan Perguruan Tinggi Mitra di Bandung, Rabu, 28 Februari kemarin.

Menurut Basnang, Direktorat Pendidikan Diniyyah dan Pondok Pesantren (PD. Pontren) terus melakukan persiapan. Salah satunya yaitu dengan menggelar Rakor guna menyusun format seleksi. Tahun ini akan ada penambahan pilihan program studi (prodi) baru di kampus UPI Bandung. Yaitu: prodi seni musik dan desain grafis.

"PBSB rencananya akan dilaunching pada 28 Maret mendatang di kampus UGM Yogyakarta," tutur Basnang.

Basnang juga mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak UGM Yogyakarta terkait rilis PBSB tahun ini.

“Kami sudah mengirimkan permohonan kepada Bapak Menteri Agama untuk bersedia melaunching program PBSB. Kita berharap, semoga Menag bersedia dan tidak berhalangan," harapnya.

Menurut Basnang, pihak UGM Yogyakarta sudah menyampaikan kesiapannya menjadi tuan rumah peluncuran program PBSB. UGM telah menjadi mitra PBSB sejak tahun 2006. Saat ini, UGM tercatat sebagai kampus dengan mahasiswa PBSB terbanyak kedua setelah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Total mahasiswanya mencapai 519 santri.

Pihaknya juga sudah melakukan persiapan. Bahkan, pihaknya meminta kepada mahasiswa PBSB di UGM untuk mewarnai agenda launching tersebut dengan mengenakan busana ala santri, yaitu sarungan.

Launching ini, kata Basnang, akan dimeriahkan dengan kehadiran mahasiswa PBSB UIN Yogyakarta serta pengurus Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMORA) Nasional. Akan hadir pula para pengelola PBSB Kanwil Kemenag Provinsi dan 13 Perguruan Tinggi Mitra.

“Kita akan tampilkan corak yang berbeda. Kita akan meriahkan acara launching tersebut dengan karakteristik pesantren,” sambungnya.

Basnang menambahkan, Kemenag akan memberikan bantuan PBSB tahun ini kepada 272 santri berprestasi terpilih. Mereka akan kuliah di 13 perguruan tinggi mitra, yaitu:

  1. UGM Yogyakarta.
  2. UIN Yogyakarta.
  3. ITS Surabaya.
  4. Unair Surabaya.
  5. UIN Surabaya.
  6. UIN Malang.
  7. UIN Jakarta.
  8. IPB Bogor.
  9. UIN Semarang.
  10. UIN Makassar.
  11. Univ. Cendrawasih Jayapura.
  12. UIN Bandung.
  13. UPI Bandung.
“Kita bersyukur bahwa kuota beasiswa PBSB tahun ini bertambah dari kuota tahun lalu yang hanya diberikan kepada 157 santri. Nanti akan kita matangkan kembali biaya perkuliahan pada masing-masing perguruan tinggi. Jika prodi yang biaya perkuliahannya tinggi bisa dikurangi, tentunya kuota 272 santri akan bisa bertambah lagi,” tutupnya.


* Sumber: kemenag.go.id
Read More

Santri Milenial dan Tantangan Seabad NU


muslimpribumi.com - Siklus seratus tahun merupakan pembuktian Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keislaman terbesar di dunia. Klaim Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di dunia bukan pepesan kosong, tapi merujuk pada data beberapa lembaga-lembaga survey terpercaya. Bukan sebagai penghargaan yang dirayakan, tapi menjadi refleksi kritis untuk melihat sejauh mana kontribusi NU dalam konteks keislaman, keindonesiaan dan dinamika internasional.

Survey IndoBarometer pada tahun 2000 menyebut bahwa warga Nahdliyyin berjumlah 143 juta jiwa. Sementara Lembaga Survey Indonesia (LSI) pada 2013 mengungkap data bahwa sejumlah 36 persen pemegang hak pilih nasional merupakan warga NU. Singkatnya, 91,2 juta pemilih nasional merupakan warga Nahdliyyin.

Sementara itu, Alvara Strategic Research, melansir hasil survei tentang organisasi Islam yang paling dikenal publik. Survei ini melibatkan 1.626 responden di 34 provinsi dengan wawancara tatap muka. Hasilnya, NU menempati peringkat pertama sebagai organisasi keislaman yang paling dikenal dengan prosentase sebesar 97,0.

Dilanjutkan Muhammadiyah sebesar 93,4 persen dan beberapa organisasi lain. Survei Alvara (2017) mengajukan data sejumlah 50,3 persen penduduk muslim mengaku NU serta 14,9 persen berafiliasi dengan Muhammadiyah. Dari laporan riset ini, terungkap data jumlah warga Nahdliyyin sekitar 79,04 juta jiwa. Sementara warga Muhammadiyah sejumlah 22,46 juta jiwa.

Dari catatan ini, penulis ingin melihat dinamika anak muda Nahdliyyin atau lapisan santri milenial. Lapisan ini penting ditelisik aspirasi sekaligus perannya dalam proses menuju seratus tahun Nahdlatul Ulama.

Milenial santri

Bagi lingkaran peneliti sosial, milenial disebut lapisan penduduk yang lahir pada 1980-2000. Atau, mereka yang saat ini berusia 18-38 tahun. Dalam skala ini, santri milenial saat ini berada pada lapisan santri yang masih mengaji di pesantren, sedang belajar di kampus, sampai pada tahapan menjadi profesional di beberapa perusahaan atau instansi.

Lapisan santri milenial ini, sebagian besar juga mewarnai muslim kelas menengah. Ada transformasi sosial, dari keluarga santri yang dulunya berlatar belakang agraris, kemudian kuliah dan bekerja secara profesional di beberapa kota. Terbukanya kompetisi di kampus-kampus nasional dan internasional dan afirmasi atas sekolah berbasis pesantren, membuka peluang bagi santri untuk menggeluti sains dan ilmu-ilmu yang melengkapi basis pesantren. Pergeseran ini berdampak pada identitas santri milenial yang mempengaruhi pola baru warga Nahdliyin.

Dari sisi komunikasi, santri-santri milenial juga mewarnai interaksi digital. Sindikasi media yang dibangun oleh santri-santi milenial berpengaruh pada pembentukan wacana di kalangan muslim kelas menengah. Sejauh ini, puluhan media digital yang mengkampanyekan nilai-nilai Islam Nusantara atau gagasan keislaman ala Nahdlatul Ulama. Interaksi digital dengan lintas platform media sosial berpengaruh pada wajah baru warga Nahdliyin. Ini menjadi penting dalam proses menuju satu abad Nahdlatul Ulama.

Dari sejarah panjangnya, Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab besar: keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Tanggung jawab ini merujuk pada prinsip Nahdlatul Ulama dalam menjaga ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan).

Tanggung jawab ini memiliki spektrum luas: politik kebangsaan, ekonomi, hukum, pendidikan hingga diplomasi internasional. Dari peta ini, tergambar jelas bagaimana sumbangsih sekaligus tantangan Nahdlatul Ulama dalam siklus seratus tahun (satu abad).

Tanggung jawab keislaman memberi tantangan bagi Nahdlatul Ulama untuk menebar dakwah Islam Nusatara yang rahmatan lil-alamin. Dakwah Islam yang rumah, bukan Islam yang menyebar amarah. Tanggung jawab ini menjadikan Nahdlatul Ulama memiliki spektrum gerak yang luas untuk menjawab problem keislaman di dunia internasional.

Wajah muslim di ranah internasional sedang murung. Peperangan dan konflik di beberapa negara Timur Tengah meremukkan persaudaraan. Konflik di Yaman, Syiria, serta kontestasi antara Israel dan Palestina, serta dinamika negara di sekitar Saudi, merupakan tantangan besar untuk mencipta perdamaian.

Di Asia Tenggara, kekerasan terhadap muslim Rohingya di Myanmar menjadi problem serius. Dalam lanskap internasional, inisiasi perdamaian di Afghanistan mencatat peran NU dalam diplomasi perdamaian. Inisiasi perdamaian di ranah internasional ini menjadi bagian dari dakwah Islam Nusantara.

Arus baru milenial

Seratus tahun Nahdlatul Ulama bagi generasi santri milenial memiliki arti penting untuk memandang wajah organisasi ini pada masa kini dan mendatang. Dengan munculnya lapisan santri milenial, penyebutan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi tradisional, tidak lagi relevan.

Tradisionalisme dalam menjaga sub-kultur pesantren, merupakan khazanah penting yang menjadi ciri khas. Maka, bisa kita saksikan bagaimana santri-santri milenial yang kuliah di beberapa kampus internasional maupun yang sudah berkarir profesional merasa perlu dengan sholawatan, pengajian maupun rangkaian tradisi lain.

Pada ranah tantangan ekonomi kerakyatan, pola santri milenial untuk membangun arus baru ekonomi berlangsung dengan cara yang berbeda. Beberapa santri menginisiasi start-up pada pelayanan publik, media dan social bussines dengan dukungan perusahan finansial internasional.

Munculnya beragam ventura yang berani mendanai eksekusi ide-ide bisnis berbasis digital menjadi peluang berharga. Meski belum berkembang massif, gerakan santri-santri milenial sudah terasa. Perlu ada dorongan intensif agar lapisan santri milenial ini melangsungkan penetrasi pada wilayah profesional baru.

Saya, sebagai bagian santri milenial merasa betapa inovasi teknologi digital dan media sosial berpengaruh pada transformasi harokah (gerakan) santri zaman now. Santri milenial memiliki strategi yang berbeda dalam merespons tanggung jawab keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Seratus tahun Nahdlatul Ulama membuka ruang bagi santri milenial untuk membuktikan kontribusi strategisnya.

* Oleh: Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Penulis buku "Merawat Kebinekaan" (2018).
Read More