Tampilkan postingan dengan label MKNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MKNU. Tampilkan semua postingan

Kiai Said: Nabi SAW. Tidak Diperintah Membangun Umat Islam, Tapi Umat Modern


rumahnahdliyyin.com, Medan - Dihadapan 136 peserta Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) PWNU. Sumatera Utara, lebih dari dua jam Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., menyampaikan materi pendalaman. Dan diantara titik yang ditekankan oleh kiai Said adalah makna pentingnya membangun ummatan wasathon.

Ummatan wasathon, menurut kiai Pengasuh Ponpes Ats-Tsaqofah, Ciganjur ini, bukan semata umat yang moderat. Melainkan juga umat yang modern. Umat yang berdiri diatas konstitusi. Umat yang seimbang antara dua kutub ekstrem, antara kanan dan kiri.

"Nabi tidak diperintah membangun umat Islam, tapi umat modern. Ummatan wasathon, bukan ummatan Islamiyyan, bukan ummatan 'Arobiyyan," jelas kiai Said.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis

Apa gambaran umat modern itu? Kiai Said mengatakan bahwa umat modern itu sistem sosialnya bercirikan citizenship. Di dalamnya bisa ada Arab dan non-Arab, ada muslim dan non-muslim.

Dalam struktur kewarganegaraan, dalam model citizenship ini tidak boleh ada permusuhan, kecuali pada yang melanggar hukum.

"Barang siapa membunuh non-muslim, nanti di akhirat berhadapan dengan saya. Barang siapa berhadapan dengan saya, tidak akan mencium baunya surga," demikian kiai Said mengutip sebuah hadits Bukhari.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Dengan penjelasan lain, ciri masyarakat modern, imbuhnya, adalah yang menerapkan tiga konsep persaudaraan. Yakni ukhuwwah Islamiyyah, ukhuwwah insaniyyah, dan ukhuwwah wathoniyyah.

"Wa kadzaalika ja'alnaakum ummatan wasathon litakuunu syuhadaa'a 'alan-naasi wa yakuunur-rosuula 'alaikum syahiida. Islam wasathon, Islam yang mutamaddin. Islam yang moderat, Islam yang maju," urai kiai Said.

Baca Juga: Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur'an Kepada Mu'allaf

Pada bagian lain, kiai Said juga menjelaskan pengaruh kuat Imam Syafi'i, Imam Ghazali dan Imam Madzhahibil-'Arba'ah dalam membangun konstruksi pemikiran keagamaan Islam yang moderat. Termasuk bagaimana mempertemukan jalan pikir hakikat dan syari'at.

"Hakikat itu ibarat pondasi. Syari'at bagaikan atapnya. Tembok yang mengelilinginya bernama akhlaq," jelas kiai Said.

MKNU yang diadakan PWNU Sumatera Utara ini berlangsung dari tanggal 16 hingga 18 Maret 2018.[]

(KSF/ANW).
Read More