Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Wafatnya "Imam Ghozali Indonesia"; Mengenang Prof. DR. KH. M. Tolhah Hasan


rumahnahdliyyin.com - Suatu malam saya bertanya ke istri, "Kenapa beli kitab sebanyak ini?", sambil melihat puluhan kitab dengan hardcover hijau tua yang baru datang dengan beberapa judul: Mukhtashor fii Ulumiddin, Al-Ghunyatuth Tholibin, Al-Fathur Robbany karya Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani yang menumpuk di ruang tengah. Istri menjawab, "satu set untuk saya, satu set yang lain untuk (dihadiahkan ke) Kiai Tolhah."

Seingat saya, ini bukan yang pertama. Beberapa tahun sebelumnya, waktu ke Kairo, saya pernah mengantar istri keliling ke toko kitab di dekat kampus Al-Azhar, tujuannya sama: mencarikan kitab-kitab pesanan Kiai Tolhah Hasan tentang Fiqh dari 4 madzhab (Madzahibul Arba'ah). Bahkan, musim haji 2018 lalu, kepada istri saya, KH. Tolhah juga memesan kitab Quutul Qulub karya Abu Tholib Al-Maky.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Model interaksi keilmuan semacam ini yang sering dilakukan istri saya dengan Kiai Tolhah Hasan, baik sebagai kerabat maupun pengurus di Yayasan Al-Maarif Singosari, dengan menjadikan Kiai Tolhah Hasan sebagai "jujugan" utama dalam berkonsultasi ketika menemukan persoalan organisasi, pendidikan di lingkungan Al-Maarif dan pesantren, hingga urusan pemilihan kitab tafsir Al-Ibriz karya KH. Bisri Mustofa yang akan diajarkan istri ke jama'ah ibu-ibu di Masjid Besar Hizbullah Singosari.

Kiai Tolhah memang pribadi yang lengkap. Seorang organisatoris handal (memulai menjadi aktifis Ansor hingga menjadi pimpinan PBNU), memiliki kemampuan akademik dalam disiplin ilmu umum (Pendiri dan Rektor Unisma), serta kealiman dan penguasaan literatur keisIaman yang luas. Gus Dur, bahkan, pernah menyebut KH. Tolhah Hasan sebagai Imam Ghozali-nya Indonesia. Maka tak heran ketika KH. Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI keempat, KH. Tolhah Hasan diangkat sebagai Menteri Agamanya.

Baca Juga: Meski Diminta Istri untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Saya sendiri punya banyak pengalaman pribadi dengan Kiai Tolhah dalam banyak hal, termasuk mengaji rutin kitab Rowai'ul Bayan Tafsiir Ayatul Ahkam karangan Muhammad Ali Ash-Ashobuny ke beliau di kediaman Singosari. Di luar urusan mengaji, sejak saya aktif di Ansor PAC. Singosari hingga Cabang Kabupaten Malang, saya punya pengalaman ketika saya ditunjuk menjadi ketua panitia Harlah Ansor ke 69. Saya diminta untuk membuat buku (Tak Lekang Ditelan Zaman) tentang sejarah kepengurusan GP. Ansor Kabupaten Malang sejak berdiri hingga Kepemimpinan Sahabat Hanief (saat saya menjadi sekretaris cabang), maka KH. Tolhah menjadi salah satu sesepuh yang kami sowani karena beliau mantan Ketua PC. Ansor di awal Tahun 1960-an.

Baca Juga: KH. Raden Asnawi; Ulama yang Keras Terhadap Penjajah

Salah satu cerita beliau yang sangat menarik adalah: hampir semua ranting di tingkat desa/dusun di Kabupaten Malang pernah beliau kunjungi.

Ketika Haul Gus Dur Tahun 2013, saya diminta keluarga Ciganjur untuk menjadi narahubung KH. Tolhah Hasan untuk memberikan ceramah dan testimoni tentang Almarhum KH. Abdurrahman Wahid. Ketika selesai acara, saya menyaksikan Kiai Tolhah menolak diberi bisyaroh oleh panitia. Beliau begitu hormat kepada Almarhum Gus Dur dan merasa sebagai keluarga besarnya.

Sewaktu Persiapan Harlah Ansor Tahun 2012 di Solo yang akan dibuka Presiden SBY, saya pernah diminta Sahabat Nusron Wahid untuk mengantar sowan ke KH. Tolhah Hasan di rumah beliau di Cibubur. Tetapi waktu itu, KH. Tolhah Hasan bersamaan dengan agenda lain sehingga tidak bisa hadir dalam pemberian penghargaan sebagai sesepuh di Harlah Ansor ke- 78 di Solo.

Baca Juga: KH. M. Aniq Muhammadun; Pakar Nahwu yang Tersembunyi

Di tahun-tahun terakhir ketika KH. Tolhah Hasan memilih untuk menetap di Singosari, setidaknya ada dua pengalaman dibidang keorganisasian yang patut diteladani Warga NU: beliau "menolak" dicalonkan menjadi pucuk pimpinan organisasi. Pertama, ketika saya menyaksikan KH. Hasyim Muzadi sowan ke Kiai Tolhah Hasan agar bersedia dicalonkan sebagai Rois 'Aam dalam rangka persiapan Muktamar NU Jombang. Kiai Tolhah ngendikan tidak bersedia karena faktor usia. Kedua, ketika saya mengantar Pak LBP dan Mbak Yenny Wahid ke Singosari untuk sebuah diskusi kemungkinan Kiai Tolhah Hasan bersedia menjadi Ketum MUI, beliau juga menjawab tidak bersedia karena faktor usia.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Sebelum saya berangkat ke Tiongkok untuk melanjutkan studi S3, Kiai Tolhah sempat memberikan wejangan ke saya tentang kemajuan China yang perlu dipelajari. Bahkan dalam berbagai kesempatan pulang ke Indonesia, ketika bertemu beliau, KH. Tolhah sering mengenalkan saya ke beberapa orang sebagai pengurus NU Tiongkok.

Beberapa minggu lalu saya mendengar berita dari istri: Kiai Tolhah masuk RS dan memberikan update kabar perkembangan kesehatan beliau dari waktu ke waktu. Hari ini, 29 Mei 2019, saya menerima kabar tentang wafatnya tokoh dan kiai panutan kita semua, KH. M. Tolhah Hasan, "Imam Ghozali-nya Indonesia".

Kullu man 'alaiha faan, wayabqo wajhurabbika dzul jalaali wa al-ikroom.

Sugeng tindak, pak kiai...



* Oleh: Imron Rosyadi Hamid, Rois Syuriyah PCINU Tiongkok.
Read More

Mengintip Masjid Peninggalan Paku Buwono X di Boyolali


rumahnahdliyyin.com, Boyolali - Pada umumnya, masjid di Indonesia selalu dinamai dengan mengambil kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Namun, tidak demikian halnya dengan salah satu masjid yang berada di Boyolali. Masjid yang terletak di kompleks wisata religi Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, itu, dinamai dengan mengambil kata-kata dari bahasa Jawa. Yaitu bernama Masjid Cipto Mulyo.

Unik, bukan? Masjid Cipto Mulyo ini ternyata merupakan salah satu masjid tertua di Boyolali. Ia dibangun oleh Raja Keraton Surakarta, yaitu Paku Buwono X, pada hari Selasa Pon, 14 Jumadil Akhir 1838 Je atau 1905 M. Kalau dihitung sampai sekarang (tahun 2019), masjid ini kurang lebih sudah berusia 114 tahun. Dan ada pendapat yang mengatakan bahwa kata "Cipto Mulyo" digunakan oleh Raja sebagai nama masjid, dengan harapan supaya hidup kita menjadi mulia, sejahtera lahir dan batin, baik di dunia dan akhirat.

Baca Juga: Masjid Jawa di Thailand

Selain namanya yang unik, bentuk bangunan masjid ini juga tergolong berbeda dari masjid kebanyakan. Masjid Cipto Mulyo ini menampilkan desain Jawa kuno. Ornamen-ornamen ukiran terpasang di ventilasi pintu.

Sejak dibangun ratusan tahun lalu, masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Namun, bentuk masjid masih dipertahankan seperti saat awal dibangun dulunya. Bahkan, konstruksi kayu dan bangunan juga belum berubah. Tiang dan usuk dari kayu jati masih yang aslinya. Dindingnya pun masih aslinya. Hanya saja, saat ini sebagian telah dilapisi dengan marmer.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Sejumlah benda-benda masjid pun masih asli sejak zaman dulu, seperti bedug dan kentongan. Bahkan, bedug berukuran besar itu dibuat dari kayu utuh. Di kentongan itu juga terdapat tulisan PB X.

Di serambi depan, tepatnya di atas tangga masuk, juga masih terpasang prasasti dari kayu dengan tulisan huruf Jawa yang menjelaskan tentang waktu didirikannya Masjid Cipto Mulyo ini. Kemudian kubah masjid yang memiliki arah angin juga masih dipertahankan.

Baca Juga: Mengintip Masjid Tertua di Sidoarjo

Selain termasuk sebagai masjid yang bersejarah dan merupakan jejak peninggalan penyebaran Islam di wilayah Pengging, di belakang masjid ini juga terdapat kompleks makam salah satu pujangga Keraton Surakarta, yaitu Yosodipuro.[]




Sumber: detik.com
Read More

Mengintip Masjid Tertua di Sidoarjo


rumahnahdliyyin.com, Sidoarjo - Masjid Al-Abror terletak di Dusun Kauman, Kelurahan Pekauman, Kecamatan Kota Sidoarjo. Tepatnya yakni berada di samping selatan sebuah mal, Jalan Gajah Mada, Sidoarjo, Jawa Timur. Karena berada di kawasan pusat perbelanjaan inilah masjid tersebut tidak terlalu nampak. Namun, siapa sangka Masjid Al-Abror merupakan cikal bakal pusat penyebaran Islam di Sidoarjo serta berdirinya Kabupaten Sidoarjo?

Masjid Al-Abror merupakan salah satu saksi bisu berdirinya Sidoarjo serta siar Islam di Kota Delta itu. Sekilas, orang tidak akan menyangka bila bangunan dua lantai yang berdiri kokoh dengan dominasi warna hijau dan kuning tersebut merupakan masjid tertua di Sidoarjo.

Baca Juga: Masjid Jawa di Thailand

Masjid Al-Abror dibangun pada tahun 1678 M. Mereka yang membangun adalah Mbah Moelyadi yang dibantu oleh Mbah Badriyah, Mbah Muso dan Mbah Sayid Salim. Keempat orang tersebut bukanlah penduduk asli Kauman. Mbah Moelyadi berasal dari Mataram, yang karena ada pemberontakan Trunojoyo, lantas ia pergi ke Kauman. Mbah Sayid Salim berasal dari Cirebon. Sedangkan Mbah Badriyah dan Mbah Muso keduanya berasal dari Madura. Keempatnya, makamnya pun berada di lokasi masjid ini.

Hingga kini, Masjid Al-Abror sudah direnovasi tiga kali. Dua bagian bangunan asli yang merupakan peninggalan pada tahun 1678 M., masih bisa disaksikan hingga sekarang, yaitu pintu masuk sisi utara masjid dan tempat pemakaman Mbah Moelyadi yang berada di depan tempat imam. Dan di sebelah makam Mbah Moelyadi, ada makam ketiga tokoh lainnya itu.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali Papua

Masjid Al-Abror dibangun berdekatan dengan Sungai Jetis yang merupakan jalur transportasi utama kala itu. Pada tahun 1859 H. dilakukan pemugaran oleh bupati pertama Bupati Sidokare (nama Sidoarjo waktu itu), yaitu R. Notopuro.

Ketika pemugaran itu, bangunan yang tidak direnovasi hanya pintu gerbang di sisi utara masjid yang dicat putih. Juga petunjuk waktu pertanda sholat dengan sinar matahari yang berada di depan masjid.

Adapun renovasi yang terakhir yaitu pada tahun 2007 oleh Bupati Wein Hendarso. Semua bangunan pun diubah hingga seperti yang terlihat saat ini.[]




Sumber: detik.com
Read More

Gus Dur; Menertawakan Diri Sendiri


rumahnahdliyyin.com - Salah satu sifat Gus Dur yang tidak dimiliki oleh tokoh-tokoh besar, baik tokoh bangsa, tokoh politik, tokoh agama lainnya, apalagi cuma tokoh kecil sahaja, adalah tidak malu menertawakan diri sendiri, selain menertawakan orang lain. Bahkan menertawakan NU. Lha, bukankah dia seorang kiai? Keturunan pendiri NU, Ketua Umum PBNU lagi. Tidak mungkin deh, beliau merendahkan diri sendiri.

Saudaraku, menertawakan bukan berarti menghina. Meskipun Gus Dur semasa hidupnya sering menertawakan dirinya sendiri, serta tidak jarang menjadikan organisasi kaum nahdliyyin ini sebagai bahan kelakar, beliau pasti tak bermaksud menghina, wong ini cuma canda alias lelucon guyonan, kok. Lagi pula, kalau Gus Dur benar-benar menertawakan NU, siapa juga yang berani protes.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Dalam keseharian, sikap menertawakan orang lain, tanpa disadari, cukup sering kita lakukan, seakan-akan menjadi sebuah kebiasaan tersendiri. Kita sering menertawakan keluguan orang lain, menertawakan kelemahan serta kekurangan orang lain.

Biasanya sebagian orang yang berkecukupan suka menertawakan orang yang lebih rendah dari mereka karena cara berpakaian dan bersikapnya dianggap sangat norak. Sebaliknya, sebagian orang yang hidupnya hanya apa adanya suka menertawakan sikap orang kaya yang senang bermewah-mewah, menghamburkan kekayaan.

Begitu juga orang yang merasa pintar suka menertawakan kebodohan orang lain. Sebaliknya, orang yang bodoh suka menertawakan sikap orang pintar yang dianggap sering sok tau. Orang dari kota menertawakan orang desa. Juga sebaliknya dan seterusnya.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Sikap menertawakan orang lain memang sangatlah mudah dan bisa dilakukan kapan saja. Namun yang sering terabaikan dan mungkin sulit untuk dilakukan adalah menertawakan diri sendiri.

Kita sering lupa menertawakan sikap kita yang suka mengejek orang lain, menghina, menyakiti orang lain, membuka dan menyebarkan aib orang lain dan seterusnya. Padahal sikap menertawakan diri sendiri dapat menjadi cermin diri agar kedepannya kita dapat melakukan yang terbaik.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Konon, Umar ibn Khothob, sahabat Rosululloh, kadang suka menertawakan dirinya sendiri ketika mengingat masa lalunya yang ia anggap lucu. Betapa tidak, ia membuat patung dari roti untuk kemudian disembah. Dan ketika dia merasa lapar, patung itu ia makan sendiri.

Gus Dur memang ahlinya memainkan lelucon penertawaan diri sendiri sekaligus mencairkan ketegangan politik lewat humor. Dengan begitu, politik tak lagi muram dan hubungan sosial tidak kehilangan makna.

Seperti beliau katakan, “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.”

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Jika Gus Dur masih hidup, mungkin Gus Dur akan cengar-cengir saja melihat politik Indonesia hari ini yang penuh caci maki tapi miskin imajinasi dan kekurangan lelucon. Barangkali ia cengar-cengar juga ketika melihat meme yang menghina salah satu putrinya, Alissa Qotrunnada Munawaroh, dengan sebutan “anak si buta”.

Ketika desakan pengunduran diri kepada Gus Dur sebagai Presiden RI makin kencang di mana-mana, Cak Nun mampir ke istana. Cak Nun mendatangi Gus Dur sebagai seorang sahabat yang bermaksud mengingatkan.

“Gus, sudahlah, mundur saja. Mundur tidak akan mengurangi kemuliaan sampeyan,” kira-kira begitu kata Cak Nun kepada Gus Dur.

Jawaban Gus Dur, “Aku ini maju aja susah, harus dituntun, apalagi suruh mundur.” Mereka berdua pun ngakak.

Baca Juga: Tubuh Menurut Gus Dur

Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur tetap sibuk dan tetap lucu. Ia masih melakukan safari ke daerah-daerah. Biasanya untuk berkunjung ke teman-temannya atau mengisi pengajian sampai kampung-kampung yang jauh.

Pada suatu ceramah di sebuah kampung, Gus Dur mengajak semua yang hadir di situ untuk bersholawat barsama-sama. Para hadirin senang sekali melafalkan sholawat yang dipimpin seorang kiai besar.

Di akhir ceramah, Gus Dur nyeletuk, “Saya minta anda semua bersholawat agar saya tahu berapa banyak jumlah yang hadir. Saya, kan, gak bisa melihat,” Gus Dur membuat orang satu lapangan terpingkal-pingkal.

Baca Juga: Inilah Karakter Gus Dur yang Ditempa oleh Ibundanya

Salah satu ulah Gus Dur yang paling dikenal adalah leluconnya soal kedekatan Tuhan dengan umat beragama. Ini juga mengandung unsur penertawaan diri terhadap sesuatu yang dianggap sakral tapi sering dipahami secara kaku, yaitu agama.

“Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apalagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa,” Hadirin pun tertawa.

Seandainya Gus Dur mengucapkannya di zaman sekarang ini, mungkin beliau akan didemo oleh 7 juta umat karena dianggap menistakan agama.

Gus, kami rindu pada sampeyan.[]



* Oleh: Rusdian Malik
Read More

Yaqut Cholil Qoumas, Tak Kemplang Kowe!


rumahnahdliyyin.com - Ini cerita tentang masa bujangan antara saya dan Yaqut Cholil Qoumas di masa mahasiswa, di penghujung era 90-an. Di kampus, saya semeja dengannya. Dalam demo '98, saya sering satu barisan dengannya. Di rumah kontrakan di gang sempit di kawasan Pasar Minggu, saya sering tidur satu kasur bersamanya. Dia pacaran, saya mengawal dia. Saya pacaran, dia mengawal saya. Ke mana-mana dia naik bis kota atau angkutan umum, kecuali sedang bersama saya, ia pasti saya bonceng di sepeda motor rombeng saya.

Di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, dia ngontrak satu rumah kecil di gang kecil. Di rumah itu ada dua kamar tidur, satu musholla, satu dapur dan satu kamar mandi. Di kamar depan, Yaqut tidur seorang diri. Di kamar belakang, ada 2 temannya, Fuad dan Marno. Kalau saya sedang di sana, saya tidur di kamar Yaqut atau Yaqut yang tidur bersama saya di ruang tamu yang kecil tanpa bangku apapun dan dialas karpet plastik warna cokelat, sambil nonton televisi butut karena untuk pindah channel kami biasa melakukannya pakai kaki.

Baca Juga: Jasa Pak Harto Atas NU

Di masa kuliah itu, banyak kawan saya tahu bahwa saya seperti kalong, alias tidak punya tempat yang tetap. Apalagi saat itu belum ada handphone, makin susah melacak posisi saya berada. Saya biasa tidur di bilangan Rawasari atau Pasar Minggu atau Ciputat atau Rangkasbitung atau Cibinong atau Joe atau Lenteng Agung. Namun sebagai orang yang sok ganteng dan banyak berkenalan dengan cewek, saya seringkali memberi nomor telpon rumah saya dengan rumah kontrakan Yaqut kepada pacar baru. Jadi Yaqut tahu benar kalau saya punya banyak pacar, sementara dia cuma bisa berteori tentang bagaimana merayu cewek.

Di kampus Driyarkara, Jakarta, saat itu saya dan Yaqut, biasanya ditemani oleh Fikri, kami bertiga sering berdiskusi soal politik, terutama tentang kekuasaan Orde Baru yang saat itu tengah goyang. Ia bahkan meminta saya agar tidak belajar filsafat mulu untuk memotret kenyataan bangsa saat itu. Lalu ia setengah memaksa saya membaca buku karangan L. Laeyendecker yaitu: Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Saya pun membacanya sampai tuntas.

Baca Juga: Radikalisme antara Suriah dan Indonesia

Namun sayang, di kampus itu ia cuma sebentar saja dan memilih menuntaskan studinya di jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Indonesia. Meski ia sudah tidak aktif di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, persahabatan kami terus berlanjut. Di rumah kontrakannya itulah saya banyak membaca tuntas buku-bukunya, mulai dari Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno hingga Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie.

Fuad dan Marno biasa manggil “Gus” ke Yaqut. Kalau saya biasa manggilnya “Yaqut” saja, kecuali kalau lagi iseng ngecengin dia, saya panggil dia “Gus”. Dia pun begitu, memanggil saya nama saja, kecuali lagi ngecengin saya, ia memanggil saya “Pak Haji”.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Dia yang Lucu
Di mata saya, Yaqut adalah tipe orang yang lucu. Ia suka humor, apalagi humor tingkat tinggi. Namun, orangnya senang jail sama orang. Ia selalu bersikap baik pada kawan dan perhatian betul sama perut kawan. Ia tahu saya lebih sering bokek ketimbang pegang uang, maka ia selalu mengajak saya ke warung nasi langganannya, yang dari gang kecil rumah kontrakannya masuk lagi ke gang yang super kecil menuju warung nasi itu.

Hidupnya sederhana dan tidak pernah menyombongkan diri, kecuali dalam konteks becanda. Padahal saat itu bapaknya yang terkenal sebagai tokoh NU dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH. Muhammad Cholil Bisri, adalah anggota DPR/MPR. Saya beberapa kali diajak Yaqut menemui bapaknya, biasanya di Hotel Hilton (sekarang Hotel Sultan). Sebagai anak pejabat negara, ia benar-benar tidak menunjukkan kebanggaan. Biasa saja.

Baca Juga: Kekecualian Nahdlatul Ulama

Ia tipe muka preman berhati santri. Lagu kesukaannya saat itu ialah lagu-lagu Paquita Wijaya. Ia menikmati pop jazz, meski sesekali ia dengarkan musik klasik agar di depan saya ia bisa membuktikan diri bahwa ia pengikut sejati Gus Dur. Ia juga cukup rajin membaca buku. Terbukti dari buku-bukunya yang saya baca, banyak yang ia tandai garis bawah dengan pena atau diblok dengan stabilo. Ia, seperti Fikri, pun rajin membaca koran dan majalah.

Bibit Kepemimpinan
Dalam kesehariannya, jika terdapat masalah, ia terlihat menyimak betul pengaduan yang sampai padanya. Ia seperti orang yang berhati-hati dalam mengambil keputusan. Di sisi lain, ia tipe orang yang secara intuitif tajam. Ia merasakan bahwa si anu sedang bicara bohong padanya, maka ia mendengar dengan khusyu’ kebohongan orang itu, meski secara intuitif dia yakin orang di hadapannya atau di ujung telepon sana sedang berbohong padanya. Maka di lain waktu, ia katakan kepada saya sambil menunjukan kebenaran-kebenaran intuisinya.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Dalam aksi-aksi di Universitas Indonesia, saya juga sering dikasih tahu sama dia, si orang itu kalau ngomong isinya pasti A, si anu pasti ngomong B. Giliran orang itu bicara di podium, apa yang dikatakan Yaqut tak jauh berbeda.

“Orang oportunis kalau ngomong ya gak jauh dari tema-tema itu,” katanya dengan kesal kepada salah satu utusan ILUNI UI yang saat itu tampil berorasi.

Kemampuannya dulu dalam melakukan analisis persoalan dan kepekaan intuisinya dalam memotret fenomena merupakan modal yang kuat baginya untuk menjadi pemimpin. Sikapnya yang dulu saya kenal bijak, sederhana dan tidak sombong, apalagi senang humor, merupakan kekayaan yang dibutuhkan dalam kepemimpinan bangsa ini.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Sekarang, konon Yaqut telah berada di lingkaran kekuasaan. Selain ia duduk sebagai anggota DPR RI, kini ia sedang menjadi orang yang berpengaruh di negeri ini karena ia sebagai Ketua Umum GP. Ansor.

Sejak ia memutuskan pulang ke Rembang, Jawa Tengah, saya tidak lagi pernah bertemu dengannya. Saya hanya mendengar dari kejauhan bahwa ia telah menikah dan menjadi politisi. Dari menjadi anggota DPRD dan Wakil Bupati Rembang, hingga menjadi anggota DPR RI dan Ketua Umum GP. Ansor.

Kini, fotonya dan pernyataan-pernyataannya tentang situasi negeri ini telah menghiasi media sosial dan media online yang sampai pada saya. Ia terlihat lebih gemuk dari yang saya kenal dulu saat masih bujangan.

Baca Juga: Fenomena Nissa Sabyan dan Bahasa Arab

Dulu ketika pacarnya di wisuda di IPB, Bogor, Jawa Barat, dia berharap saya bisa mengantarnya ke sana. Sebagai sahabat, saya pun mengantar Yaqut menemui pacarnya yang sedang bersuka cita karena diwisuda. Pada kesempatan itu, kami berfoto bertiga. Seingat saya, Yaqut tidak segemuk ini. Foto kami bertiga itu sempat lama tersimpan, namun sekarang entah di mana. Apakah istrinya adalah pacarnya yang saya kenal itu, saya pun tidak tahu. Saya dan Yaqut putus komunikasi sejak lama.

Yaqut, dia tetap sahabat saya. Saya merasakan bahwa ia adalah orang yang berpotensi menjadi pemimpin besar di negara ini. Karena itu, saya berharap dia bisa menunjukkan sikap-sikapnya yang bijaksana dan tenang. Bersikap rasional dan selalu mengasah ketajaman intuisinya seperti dulu. Saat ini Yaqut bukan hanya perlu bersikap tenang, namun lebih dari itu ia harus bisa tampil menenangkan negeri ini.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Ketika dilaporkan ke pihak kepolisian oleh sejumlah pengacara terkait pembakaran bendera yang diduga milik HTI di mana ada kalimat tauhid pada bendera itu (23/10/2018), Yaqut terlihat tenang bahkan ia bilang “saya tinggal ngopilah.”

Pada satu sisi, sikap seperti ini perlu ditunjukkan pada publik bahwa ia sedang tidak gaduh atau galau. Namun, publik lebih butuh bagaimana Yaqut bisa membawa GP. Ansor dan Bansernya melayani umat setenang dan sekhidmat mungkin agar bangsa yang dikenal beradab ini bisa sukses menjaga NKRI dengan bandrol harga mati.

Yaqut harus bisa menunjukan perbedaan dari pemimpin-pemimpin GP. Ansor yang terkesan frontal di masa lalu. Dia pasti bisa. Sebab, saya tahu ia punya potensi besar dari perjalanan yang tidak instan. Dari kejauhan, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.

“Yaqut, lu harus jadi pemimpin yang keren. Kalo gak, tak kemplang kowe, GUS!"

Salam rindu!



* Oleh: Chavchay Syaifullah.
Read More

KH. Raden Asnawi; Ulama' yang Keras Terhadap Penjajah


rumahnahdliyyin.com - Seperti sudah menjadi hal yang wajar pada masa dulu, biasanya seseorang akan mengganti namanya sepulangnya dari berhaji. Begitu pula KH. Raden Asnawi. Sebelum bernama Asnawi, kiai kelahiran Kudus, pada tahun 1861 ini, bernama Ilyas.

Pergantian nama Ilyas ini terjadi setelah kepulangannya dari berhaji untuk kali yang pertama. Sebelumnya lagi, atau sebelum nama Ilyas, namanya ialah Ahmad Syamsi, yaitu nama lahirnya hingga ia berusia sekitar 25 tahun. Sedangkan nama Asnawi sebagaimana yang kita kenal sekarang, terjadi setelah kepulangannya dari tanah suci untuk yang ketiga kalinya.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Sejak usia dini, KHR. Asnawi kecil sudah diperkenalkan huruf-huruf Arab dan diajari Al-Qur'an oleh orang tuanya sendiri, yaitu H. Abdullah Husnin. Hal ini selain karena di daerahnya tinggal, yaitu Damaran, ada semacam pandangan bahwa orang Islam yang sempurna itu bisa dilihat dari kemahirannya membaca Al-Qur'an, juga karena H. Abdullah Husnin menginginkan anaknya pandai dalam bidang agama.

Selain ingin anaknya pandai dalam agama, H. Abdullah Husnin juga menginginkan supaya anaknya kelak pun piawai dalam berdagang. Karena itu, sekitar tahun 1876, orang tuanya memboyong Syamsi atau kiai Asnawi kecil ke Tulung Agung, Jawa Timur. Di sinilah kiai Asnawi diajari berdagang oleh ayahnya mulai pagi hingga siang. Dan waktu sisanya, kiai Asnawi mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulung Agung.

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Selain di Tulung Agung, kiai Asnawi juga belajar di Mekah. Ada cerita menarik ketika kiai Asnawi di Mekah. Ia pernah berdebat dengan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, mufti Mekah, lewat tulisan. Berkaitan dengan hal ini, Sayyid Husain Bek, seorang mufti dari Mesir, datang ke Mekah ingin bertemu dan berkenalan dengan kiai Asnawi.

Ketika Sayyid Husain Bek memasuki kediaman kiai Asnawi, ia melihat ada lelaki kecil yang sebelumnya tidak disangkanya kalau lelaki kecil itu adalah kiai Asnawi yang mana pendapatnya ia kagumi. Namun begitu diketahui kalau lelaki itu adalah kiai Asnawi, Sayyid Husain Bek pun memberikan salam dan mencium kepalanya.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Kiai Asnawi termasuk salah satu kiai yang ikut mendirikan jam'iyyah NU (Nahdlatul 'Ulama). Bersama KH. Wahab Chasbullah, Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari dan kiai-kiai lainnya, kiai Asnawi ikut dalam pertemuan di Surabaya pada tahun 1926. Sebagai ulama' senior waktu itu, beliau diangkat menjadi salah seorang Mustasyar NU.

Kiai Asnawi tergolong kiai yang keras terhadap penjajah. Sebagai contohnya, madrasah yang didirikannya (Qudsiyyah) waktu itu tetap memakai istilah "madrasah" kendati hal tersebut dilarang oleh pemerintah kolonial. Padahal, pemerintah mengharuskan harus memakai nama "school". Penolakan kiai Asnawi terhadap istilah "school" merupakan salah satu sikap pembangkangan terhadap penjajah.

Baca Juga: Perempuan Pengarang Kitab Kuning dari Banjar

Contoh lainnya lagi, kiai Asnawi marah besar bila melihat ada orang pribumi (Indonesia) yang memakai dasi. Sebab, hal itu menyerupai dengan penjajah kolonial Belanda.

Untuk contoh yang terakhir ini, ada cerita menarik yang ditulis oleh bapak Menteri Agama kita saat ini, yaitu bapak Lukman Hakim Saifuddin, dalam pengantar sebuah buku yang berjudul KHR. Asnawi; Satu Abad Qudsiyyah, Jejak Kiprah Santri Menara.

Begini kira-kira tulisan pak Menteri; pada tahun 1953, ketika kiai Asnawi berkunjung ke rumah KH. Saifuddin Zuhri di Semarang, kiai Saifuddin gugup dan minta maaf lantaran ia memakai dasi. Sebab, kiai Saifuddin ingat betul bahwa kiai Asnawi pernah marah sambil menarik dasi yang dikenakan oleh seorang pimpinan Ansor dalam sebuah Konbes Ansor. Mendengar kiai Saifuddin minta maaf, kiai Asnawi justru menenangkannya dengan berkata: "Lain dulu, lain sekarang. Dulu saya mengharamkan dasi karena ada 'illat (sebab hukum), yaitu tasyabbuh (menyerupai) Belanda, orang kafir. Sekarag memakai dasi tidak haram lagi karena tidak tasyabbuh dengan Belanda. Tetapi menyerupai Bung Karno dan Abdul Wahid Hasyim."

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Selain meninggalkan warisan berupa Madrasah Qudsiyyah, KHR. Asnawi yang ibundanya bernama Raden Sarbinah ini juga meninggalkan beberapa karya tulis. Diantara karya tulis kiai Asnawi yang masyhur yaitu Fasholatan dan Jawab Soalipun Mu'taqod.

Kiai Asnawi wafat pada 26 Desember 1959 M. atau yang bertepatan dengan 25 Jumadil Akhir 1379 H., sekitar pukul tiga fajar. Sampai kini, makamnya yang terletak di sebidang tanah yang masih satu kompleks dengan makam Sunan Kudus pun masih ramai diziarahi.[]



* Oleh: Agus SB, Khodim Madrasah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Inilah Karakter Gus Dur yang Ditempa oleh Ibundanya


rumahnahdliyyin.com - Karakter Gus Dur banyak dipengaruhi oleh ibundanya, yaitu Nyai Hj. Sholihah Wahid Hasyim. Perempuan tangguh ini mempengaruhi Gus Dur dalam keteguhan memegang prinsip dan kepedulian kepada mereka yang terpinggirkan.

Nyai Hj. Sholihah binti KH. Bisri Sjansuri ini sedang mengandung anak keenamnya, Hasyim Wahid, saat sang suami, KH. Abdul Wahid Hasyim, ulama' cum negarawan muda paling moncer dalam sejarah Indonesia, berpulang akibat kecelakaan di Bandung.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Nyai Sholihah, yang belum genap berusia 30 tahun menjanda dengan tanggungan 6 buah hati: Abdurrahman Ad-Dakhil, Aisyah, Shalahuddin, Lily Khadijah, Umar dan Hasyim Wahid. Tak tega melihatnya sendirian di Jakarta, KH. Bisri Sjansuri meminta puterinya itu kembali tinggal ke Jombang. Sholihah menolak, dia bertekad membesarkan buah hatinya sendirian di ibukota. Di era 1950-an, di mana kondisi sosial-politik dan ekonomi tidak stabil, tentu pilihan ini sangat beresiko.

Instingnya sebagai seorang perempuan tangguh mulai terasah saat dia mulai berbisnis beras. Bahkan menjadi makelar mobil dan pemasok material ke kontraktor pun pernah dia jalani. Nyai Sholihah juga merintis panti asuhan, rumah bersalin, beberapa majelis ta'lim dan kegiatan sosial lainnya. Karakter Gus Dur yang peduli wong cilik, mendahulukan kepentingan orang lain, dan tempat bersandar bagi mereka yang terpinggirkan dan terdholimi, saya kira menurun secara genetik dari ibundanya ini.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Tak hanya itu, rumahnya dia jadikan sebagai salah satu basis politik NU. Keputusan penting seputar kiprah NU di perpolitikan digodog di sini oleh dua tokoh sentralnya: KH. Bisri Sjansuri (ayahnya) dan KH. A. Wahab Chasbullah (pakdenya). Sikap NU terkait dengan Dekrit Presiden, Kabinet Gotong Royong, hingga keputusan cepat Muslimat dan NU beberapa waktu usai G-30-S/PKI digodog di sini.

Dengan kerja keras dan tirakatnya, kelak para buah hatinya menjadi orang berhasil dibidangnya: Abdurrahman Ad-Dakhil alias Gus Dur menjadi Presiden Ke-4, Aisyah Hamid Baidlawi menjadi ketua Muslimat NU dan politisi Golkar, Lili Khadijah menjadi politisi PKB, Sholahuddin Wahid menjadi pengasuh pesantren, dan Umar Wahid menjadi direktur rumah sakit di Jakarta.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Bahkan, dalam beberapa keputusan penting di PBNU, ketika para kiai "gagal" melunakkan Gus Dur, mereka memilih jalan menghadap Nyai Sholihah agar bisa melunakkan putranya. Berhasil. Gus Dur taat pada ibundanya. Karakter Gus Dur yang dipahat ibundanya, juga sama dengan yang dialami oleh seorang yatim lainnya, BJ. Habibie. Keduanya ditinggal wafat sang ayah dalam usia belia, ditempa sang ibu dan kemudian menjadi presiden RI.

Ketika Gus Dur di Universitas Al-Azhar, Nyai Sholihah kerap menitipkan (melalui para sahabatnya) beberapa botol kecap dan puluhan sarung agar Gus Dur mau menjualnya. Maksudnya, biar menjadi tambahan uang saku. Apa daya, Gus Dur memang nggak berbakat sebagai pedagang. Kecap dan sarung memang ludes, bukan dibeli. Tapi diminta para sahabat-sahabatnya.[]



* Oleh: Rijal Mumazziq Z., Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Surabaya.
Read More

Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC


rumahnahdliyyin.com - Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC. Untuk lebih mudahnya, digunakan A dan B. A adalah Rabbi David Rosen dan B adalah Gus Yahya. Silakan disimak.

A: Selamat datang. Anda adalah salah satu murid terbaik dari salah satu guru terbaik yang pernah ada, presiden Abdurrahman Wahid. Dan AJC sudah berhubungan dengan Gus Dur sejak 20 tahun lalu. Gus Dur juga bicara di acara seperti ini, 16 tahun lalu. Beliau juga pernah mengunjungi Israel sebanyak tiga kali. Lalu, Anda sekarang mengikuti jejaknya. Bagaimana perasaan Anda?

B: Terima kasih atas kesempatan ini. Adalah sebuah keberuntungan bagi NU bahwa Gus Dur meninggal dunia dengan meninggalkan murid-murid yang kemudian tumbuh dan mengikuti jejaknya. Apa yang selama ini saya dan rekan-rekan saya lakukan hanyalah sebatas melanjutkan pekerjaan dari Gus Dur.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya ke Israel

A: Tapi ini bukan sekedar ketersambungan. Kehadiran Anda di sini memiliki signifikansi tersendiri di mata dunia. Bagaimana Anda memaknai hal ini?

B: Idealisme dan visi yang dimiliki oleh Gus Dur adalah keberlangsungan umat manusia dalam jangka waktu yang sangat panjang. Dan oleh karenanya, tidak bisa dicapai secara instan. Gus Dur telah menjalankan perannya dalam mewujudkan visi tersebut. Dan kini adalah giliran murid-murid beliau di generasi ini untuk melanjutkan pekerjaan tersebut. Kami merasa beruntung, sebab berkat Gus Dur, kami telah mencapai titik tertentu dimana kami bisa melihat arah yang lebih jelas di depan kami.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

A: Dalam pidatonya di forum AJC di Washington, Gus Dur bicara tentang hubungan yang istimewa antara Yahudi dan Islam yang telah berjalan ratusan tahun. Bagaimana Anda memandang hubungan ini?

B: Hubungan antar Islam dan Yahudi adalah hubungan yang fluktuatif. Terkadang baik, terkadang konflik. Hal ini tergantung pada dinamika sejarah yang terjadi. Tapi secara umum, kita harus mengakui bahwa ada masalah dalam hubungan dua agama ini. Dan salah satu sumber masalahnya terletak pada ajaran agama itu sendiri.

Dalam konteks realitas saat ini, kaum beragama, baik Islam maupun Yahudi, perlu menemukan cara baru untuk pertama-tama memfungsikan agama dalam kehidupan nyata. Dan kedua, menemukan interpretasi moral baru yang mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan agama-agama lain.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

A: Jadi, Anda mengatakan bahwa melakukan intrepretasi ulang terhadap teks Qur'an dan Hadits—sebagai upaya untuk menghilangkan penghalang bagi terciptanya hubungan baik antara Islam dan Yahudi—adalah sesuatu yang mungkin dilakukan?

B: Bukan hanya mungkin, tapi ini sesuatu yang “harus” dilakukan. Karena setiap ayat dari Qur'an diturunkan dalam konteks realitas tertentu, dalam masa tertentu. Nabi Muhammad SAW. dalam mengatakan sesuatu juga selalu disesuaikan dengan situasi yang ada pada saat itu. Sehingga Qur'an dan Hadits adalah pada dasarnya dokumen sejarah yang berisi panduan moral dalam menghadapi situasi tertentu. Ketika situasi dan realitasnya berubah, maka manifestasi dari moralitas tersebut sudah seharusnya berubah pula.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

A: Lalu, Anda dan Gus Dur selalu menekankan pentingnya memerangi ekstremisme dan mempromosikan pendekatan yang lebih humanis. Apakah menurut Anda Indonesia memiliki sesuatu yang bisa diberikan pada dunia dalam kaitannya dengan hal ini?

B: Ini bukan tentang menawarkan sesuatu dari Indonesia. Karena Indonesia sendiri bukannya sudah terbebas dari masalah. Kami memiliki masalah kami sendiri. Kami memang memiliki semacam kearifan lokal yang membantu masyarakat untuk hidup secara harmonis dalam lingkungan yang heterogan. Tapi kami masih punya banyak masalah terkait agama, termasuk Islam.

Apa yang kita hadapi saat ini, apa yang seluruh dunia hadapi saat ini adalah sebuah situasi dimana konflik terjadi di seluruh dunia. Dan didalam konflik-konflik ini, agama hampir selalu digunakan sebagai senjata untuk menjustifikasi konflik.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Sekarang saatnya kita bertanya, “Apakah kita ingin hal ini berlanjut? Atau, kita ingin memiliki masa depan yang berbeda?”

Jika kita ingin hal ini berlanjut, konsekuensinya jelas: Tidak ada yang bisa bertahan hidup didalam kondisi seperti ini. Jika kita ingin masa depan yang berbeda, kita harus merubah cara kita mengatasi persoalan.

Saat ini, agama digunakan sebagai justifikasi dan senjata untuk berkonflik. Kita, kaum beragama, mesti bertanya pada diri kita sendiri, apakah ini benar-benar fungsi yang sebenarnya dari agama? Atau, apakah ada cara lain yang memungkinkan agama berfungsi sebagai sumber inspirasi untuk menemukan solusi dari semua konflik ini?

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Dalam pandangan saya, juga pandangan NU, dunia perlu berubah. Semua pihak perlu berubah. Saya akan menggunakan metafora, “obat macam apa pun tidak akan bisa menyembuhkan pasien diabetes atau jantung, selama si pasien tidak mau merubah gaya hidupnya”.

Salah satu ayat dalam Qur'an juga menyebutkan:

إنّ الله لايغيّر مابقوم حتّى يغيّروا مابأنفسهم

“Sesungguhnya Allah SWT. tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.

Baca Juga: Ibu Sinta Masuk 100 Tokoh Berpengaruh di Dunia

Selama ini kita selalu terlibat dalam konflik untuk memperebutkan barang, sumber daya, kekuasaan, apapun itu, dengan tujuan untuk mengalahkan pihak lain. Dan pada akhirnya, kita bahkan tidak mampu lagi membedakan bagaimana konflik ini bermula dan bagaimana seharusnya konflik ini diselesaikan.

Bagi saya, yang tersisa saat ini adalah sebuah pilihan. Sebuah pilihan mendasar yang bisa memberi kita solusi nyata. Pilihan itu adalah apa yang kita sebut dalam Islam sebagai rahmah. Rahmah berarti kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.

Baca Juga: Tiga Tokoh Indonesia Masuk Top 50 dalam The Muslim 500

Kita harus memilih rahmah karena ini adalah awal dari semua hal baik yang kita selalu idamkan. Jika kita memilih rahmah, baru kita bisa berbicara soal keadilan. Karena keadilan bukan hanya merupakan sesuatu yang kita inginkan, tapi juga tentang kemauan untuk memberikan keadilan bagi orang lain. Jika seseorang tidak memiliki rahmah, tidak memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap orang lain, orang ini tidak akan pernah mau memberi keadilan untuk orang lain.

Jadi, jika saya harus berseru pada dunia, aku ingin menyerukan pada dunia: “Mari memilih rahmah”.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

A: Konsep rahman dan rahim memiliki kemiripan dalam Yahudi. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam dan Yahudi sejatinya memiliki kedekatan dalam spirit dan tradisi keagamaan. Pak Yahya, kami berterimakasih banyak atas seruan Anda untuk memilih rahmah. Dan kami harap, Anda mampu menjadi inspirasi bagi muslim di seluruh dunia. Dan kami harap, kami bisa mencapai rekonsiliasi dan membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Dan AJC akan selalu berusaha menjalani peran untuk memfasilitasi rekonsiliasi dan perdamaian sejati.[]

(Redaksi MP)
Read More

Belajar Tawadlu' dari Kiai Tawadlu'


rumahnahdliyyin.com - Mbah Kiai Umar Abdul Mannan (wafat 1980), pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, dikenal luas sebagai seorang kiai yang sangat tawadlu’ (rendah hati). Hal ini tidak lepas dari cara Mbah Umar memperhatikan kitab Ta’limul Muta’allim secara kritis, yakni bukan tentang hak-haknya sebagai guru, melainkan tentang kewajiban-kewajibannya. Selain Ta'limul Muta'allim, kitab lain yang juga menjadi rujukan Mbah Umar dalam bertawadlu' adalah kitab Al-Barzanji.

Sebagai contoh, Mbah Umar sebagai guru tidak pernah berpikir bagaimana dibayari santri. Sebab, itu sama saja dengan tamak dalam hal duniawi. Bahwa seorang tholibul ‘ilmi atau santri diibaratkan seperti budak dalam hubungannya dengan guru seperti yang diungkapkan oleh Sayyidina Ali kw., Mbah Umar sebagai guru tidak menggunakan hal itu untuk memperlancar tercapainya kepentingan duniawi beliau.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Hal itu juga merupakan refleksi dari sikap tawadlu’ dan keikhlasan beliau dalam mendidik para santri. Mbah Umar adalah orang yang jujur dan tulus karena beliau memang seorang sufi yang secara istiqomah memilih hidup zuhud. Beliau tidak silau terhadap gemerlapnya dunia. Maka bisa dimengerti, apa yang disebut ndalem Mbah Umar hanyalah sebuah rumah yang sangat sederhana.

Oleh karena Mbah Umar memelihara sikap tawadlu’, maka santri-santri tetap beliau hargai dengan tidak merendahkan, apalagi menghina mereka. Mbah Umar tetap menjunjung kesantunan kepada para santri. Mbah Umar tidak pernah memberikan sesuatu kepada santri dengan menggunakan tangan kiri atau dengan cara melemparkannya.

Baca Juga: Meski Diminta Istri untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Sikap tawadlu’ Mbah Umar tersebut sebenarnya tidak hanya merupakan cerminan dari praktik tawadlu’ seperti yang dimaksudkan dalam kitab Ta’limul Muta’allim, tetapi juga dalam kitab Al-Barzanji yang ditulis oleh Sayyid Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim.

Dalam kitab Al-Barzanji dijelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang pribadi yang sangat tawadlu’. Wakâna shallaLlâhu ‘alaihi wa sallama syadîdal hayâ’ wat-tawâdlu’i. Wujud nyata dari tawadlu’ beliau ﷺ antara lain yaitu mencintai fakir miskin dan mau bergaul bersama mereka.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Bentuk tawadlu’ seperti yang dicontohkan RasuluLlah SAW. tersebut diikuti oleh Mbah Umar dengan baik. Buktinya, Mbah Umar banyak berhubungan dengan wong-wong cilik yang kalau dilihat dari segi nasab biasa-biasa saja. Kepada mereka, Mbah Umar seringkali berbicara dalam bahasa Jawa Krama Hinggil, seperti kepada tukang becak, tukang bangunan, tukang pos, para santri yang belum cukup beliau kenal dan sebagainya. Semua itu merupakan bukti bahwa Mbah Umar memang orang yang sangat tawadlu’.

Terhadap orang-orang yang Mbah Umar meyakininya lebih tinggi karena lebih sepuh, misalnya, beliau senantiasa memberikan penghormatan yang disebut ta'dhim. Hal ini antara lain dapat dilihat contohnya ketika Mbah Kiai Umar menerima tamu yang notabene sahabat beliau, yakni Mbah Kiai Ali Maksum dari Krapyak, Bantul, Yogyakarta. Mbah Umar mencium tangan Mbah Kiai Ali Maksum (Rais 'Aam PBNU 1980-1984) seperti dapat dilihat pada gambar.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Dengan mengacu pada apa yang dipraktikkan Mbah Kiai Umar, kita dapat menyimpulkan antara lain bahwa orang tawadlu' adalah orang yang senantiasa menahan diri untuk tidak merasa lebih tinggi dari pada orang lain yang secara sosiologis sebenarnya berada dibawahnya. Sedangkan terhadap orang lain yang diyakininya lebih tinggi, orang tersebut senantiasa melakukan ta’dhim, yakni bersikap memuliakan dengan memberikan penghormatan yang tulus.[]



* Oleh: Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. Tulisan ini diambil dari NU Online.
Read More

Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Pada NU


rumahnahdliyyin.com, Washington DC - Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, dalam kunjungannya ke Amerika Serikat melakukan pertemuan dengan Wakil Presiden negara tersebut, Mike Pence, di Gedung Putih.

Seperti diberitakan oleh NU Online, pertemuan tersebut terlaksana berkat Reverrand Johnie Moore, seorang pendeta Kristen Evangelis, dan Andrew Welther, seorang aktivis Katholik. Terutama, setelah keduanya bertemu dengan Wapres Pence dan menceritakan kalau Gus Yahya tengah berada di AS.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Gus Yahya, demikian kiai ini lebih akrab disapa, tidak menyangka kalau ia mendapat pesan dari staf Gedung Putih bahwa Wapres ingin bertemu dengannya.

“Pertemuan itu diminta oleh Wapres Mike Pence. Saya sendiri tidak menyangka bahwa saat tiba di Washington DC Rabu malam, saya mendapat pesan dari staf Gedung Putih bahwa Wapres ingin bertemu saya,” ceritanya.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Dalam pertemuan tersebut, Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Mike Pence, menyatakan turut berkabung atas serangan teror yang terjadi di Indonesia dalam beberapa hari terakhir ini.

“Wapres menyatakan belasungkawa atas serangan teror yang baru saja terjadi,” ungkap Gus Yahya, setelah pertemuan tersebut.

Baca Juga: Islam Italia Iri Terhadap Islam Indonesia

Wapres Pence, imbuh Gus Yahya, berharap kepada NU supaya bisa memainkan peran yang lebih besar lagi dalam mempromosikan Islam yang rohmatan lil-‘alamin di dunia internasional.

“Wapres Pence menyatakan penghargaan setinggi-tingginya kepada NU,” jelasnya.

Selain itu, Pence juga menyampaikan bahwa pemerintah AS memastikan akan membuka diri dan mengupayakan kerjasama lebih lanjut dengan NU dan Indonesia.

Baca Juga: Inilah Bogor Message; Hasil KTT Wasathiyah Islam

Gus Yahya sendiri, dalam kesempatan tersebut, menyampaikan kepada Wapres AS Mike Pence bahwa konflik antaragama yang terjadi di dunia ini bukan hanya persoalan dunia Islam saja, melainkan persoalan seluruh umat manusia yang harus diselesaikan bersama.

“Seluruh umat manusia, baik muslim maupun non-muslim, harus bekerja sama untuk mencapai solusi dari masalah ini. Karena, ini adalah kepentingan dan tanggungjawab bersama seluruh umat manusia,” tegas Gus Yahya.

Baca Juga: Islam Melarang Umatnya Merusak Rumah Ibadah Umat Lain

Gus Yahya juga menambahkan bahwa kemerdekaan seseorang untuk memilih dan menjalankan agamanya harus dihormati dan dijamin agar nilai-nilai kemanusiaan tidak hilang. Disamping itu, hubungan antarpemeluk agama juga harus dibangun dengan baik.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, ini, saat ini dunia berada dalam era globalisasi. Apa yang terjadi di satu belahan dunia, akan mempengaruhi belahan dunia lainnya.

Baca Juga: Kiai Said dan Master Cheng Yen Berbicara Esensi Beragama

“Maka setiap golongan mayoritas (agama) dimana pun, harus melindungi minoritas, agar sesama pemeluk agama mereka yang hidup sebagai minoritas di belahan dunia lain juga mendapatkan perlindungan dari kelompok mayoritas di tempat mereka,” jelas Gus Yahya.

Di akhir pertemuan, Wapres Pence pun mengantarkan Gus Yahya melewati lorong-lorong Gedung Putih hingga ke halaman sebelum melepas tamunya itu.[]

(Redaksi RN)
Read More

Pengajian Tiap Pekan, Tafsir Al-Ibriz Khatam Tujuh Belas Tahun


rumahnahdliyyin.com, Rembang - Setiap hari Jum'at, di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, ada pengajian tafsir Al-Qur'an. Pengajian yang diampu oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri itu membawakan salah satu kitab tafsir yang notabene merupakan karangan dari pendiri pondok pesantren tersebut, yaitu KH. Bisri Mustofa, yang berjudul Tafsir Al-Ibriz.

Pada Jum'at kemarin (11/05/2018), pengajian itu khatam setelah rutin digelar sepekan sekali selama 17 tahun berjalan. Khataman itu pun merupakan untuk yang kali keduanya selepas kewafatan sang penulisnya pada tahun 1977. Kiai Mustofa Bisri atau yang akrab disapa dengan Gus Mus yang notabene merupakan salah satu putra kiai Bisri Mustofa itupun mengampu pengajian kitab Tafsir Al-Ibriz ini sejak tahun 1978.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Selain pengampu pengajian, yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), hadir pula dalam kesempatan ini para masyayikh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin dan para kiai lainnya. Terlihat di bagian depan ada KH. Yahya Cholil Staquf, KH. Syarofuddin Ismail Qoimas, KH. Makin Shoimuri, KH. Chazim Mabrur, KH. Chatib Mabrur, kiai Najib, serta para kiai lainnya.

Dalam khataman ini, ribuan orang dari berbagai daerah yang biasa turut mengaji setiap hari Jum'at itu tampak memadati area pondok pesantren. Selain itu, tampak hadir juga beberapa pejabat daerah seperti Kapolres Rembang, AKBP. Pungky Bhuana Santoso.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Ketua Panitia Khataman Kitab Al-Ibriz ini, Suyoto Zuhdi, mengatakan bahwa jama'ah yang mengikuti khataman ini diluar perkiraan.

“Membludak ini. Kita estimasikan tiga ribu hadirin, ternyata lebih,” katanya sebagaimana ditulis dilaman mataairradio.com.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Menurut Suyoto, selama 17 tahun mengaji kitab Al-Ibriz ini, terkadang sang pengampu, yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri, berhalangan juga.

“Kalau berhalangan, biasanya badal (wakil) ke kiai Syarof (KH. Syarofuddin Ismail Qoimas),” terangnya.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Untuk membaca do'a, para kiai pun silih berganti yang kemudian ditutup oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri. Dalam khataman ini, setiap jama'ah mendapat kenang-kenangan berupa buku yang berisi keutamaan dan adab membaca Al-Qur'an serta sejumlah amalan.

Setelah khataman ini, Suyoto mengaku belum mengetahui kapan kitab ini mulai dikaji kembali.

“Bila ngajinya sudah khatam, biasanya diulang dari awal,” ujarnya.[]


(Redaksi RN)
Read More

KH. Sholih Qosim Dipanggil Kehadirat Allah SWT


rumahnahdliyyin.com - Innaa liLlaahi wainnaa ilaihi rooji'uun. Telah dipanggil kehadirat Allah SWT., KH. Sholih Qosim, pengasuh Pondok Pesantren Bahauddin Al-Islami, Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur. Kiai kharismatik berusia 88 tahun ini dipanggil sekitar pukul 19.00 WIB. (10/05/2018) tadi dan insya Allah akan dikebumikan esok hari, yaitu Jum'at (11/05/2018) ba’da Sholat Jum'at.

Baca Juga: Akhlaqul Karimah Tingkat Tinggi Dalam Ijazah Pagar Nusa

Semua orang merasa terkejut atas kepergian kiai kelahiran Sidoarjo, tahun 1930 ini. Selain kegiatan sehari-hari beliau berjalan lancar, tidak ada keluhan dari beliau, bahkan beberapa hari lalu beliau masih kelihatan sehat dan energik ketika menghadiri acara Haul Sunan Ampel.

“Tidak ada keluhan sama sekali. Beliau tampak sehat, tidak gerah (sakit). Kegiatan beliau juga berjalan normal. Seperti yang kita saksikan, saat haul Mbah Sunan Ampel, beliau tampak energik bersama Mbah Maimun Zubair,” jelas Muhammad Bagus, santri kiai Sholih yang juga pegawai Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari, Surabaya, sebagaimana dikutip dari duta.co, Kamis (10/5/2018).

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Ketua PCNU Batu, H. Achmad Budiono, juga hampir tak percaya mendengar kabar wafatnya kiai yang dikenal konsisten terhadap Khittah NU dan keteguhannya dalam membela dan menegakkan NKRI ini.

Innaa liLlaah! SubhaanaLlaah! Selesai acara Haul Mbah Sunan Ampel, beliau masih mendatangi pengajian di Malang bersama saya. Bahkan, ketika saya mohon perkenannya untuk menginap di Batu bersama Cak Anam (Drs. Choirul Anam, red.) beliau memilih pulang karena ada acara esoknya,” jelasnya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Kiai yang juga veteran perang ini sempat viral di media sosial. Penyebabnya yaitu ketika Presiden RI, Joko Widodo, mencium tangan beliau pada HUT ke-72 TNI. Kendati demikian, kiai Sholih dikenal "angker" dalam menerima bantuan pemerintah. Itulah yang membuat pejabat segan dengannya.

Diantara petuah beliau yang tampaknya perlu diketahui oleh umat Islam terkait hubungan antar agama dengan negara yang akhir-akhir menyedihkan yaitu “Kekuatan tentara adalah cermin dari kekuatan rakyat. Karena itu, umat Islam dengan TNI adalah satu napas, satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.”

Baca Juga: Politiknya Kiai

Akhirnya, semoga kita semua yang ditinggalkan pergi oleh kiai yang memiliki suara khas, intonasi dan aksentuasi suara yang begitu indah itu, mampu meneruskan perjuangan beliau. Untuk beliau, Al-Fatihah... []



(Redaksi RN)
Read More

Bully Zaman Mbah Bisri


rumahnahdliyyin.com - Ini adalah kisah tentang gasak-gasakan (atau bahasa sekarang bully) antar kiai di zaman Mbah Bisri Mustofa, ayahanda Gus Mus. Kisah ini dikisahkan oleh Gus Mus pagi ini saat kami sarapan di hotel di Gimpo, sebuah kota kecil di luar Seoul, Korea Selatan.

Zaman dulu, di kota Rembang masih ada penjual daging babi yang membawa pikulan dan berkeliling dari kampung ke kampung. Suatu saat, penjual ini lewat di depan rumah Pak Hamyah, seorang dukun sunat dan sekaligus teman akrab Mbah Bisri. Pak Hamyah pun langsung memanggil penjual daging babi itu.

"Lek..! Coba kamu ke rumah Mbah Bisri di Leteh sana. Dia kemaren sepertinya pengen daging babi."

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Penjual itu pun langsung pergi ke rumah Mbah Bisri. Sampai di sana, "Mbah Bisri, katanya butuh daging babi. Monggo lho... "

"Siapa yang bilang?" tanya Mbah Bisri.

"Kata Pak Hamyah, tadi."

"Weee, Hamyah gemblung!" kata Mbah Bisri agak jengkel.

Dua sahabat ini memang sudah sering saling gasak-gasakan. Mbah Bisri lalu mencari akal bagaimana membalas bully-an sahabat karibnya ini. Dapatlah beliau ide untuk membalas.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Suatu hari, Mbah Bisri punya "gawe" di rumahnya. Beliau mengundang banyak tamu, termasuk sahabatnya, Pak Hamyah. Mbah Bisri sudah pesan sejak awal kepada santri ndalem, agar menyediakan satu cangkir kosong yang tertutup. Cangkir itu, pesan Mbah Bisri, agar disuguhkan ke Pak Hamyah.

Terjadilah senario yang sudah direncanakan Mbah Bisri. Santri ndalem menyuguhkan kopi ke semua tamu. Tiba giliran cangkir kosong yang sudah disediakan khusus untuk Pak Hamyah, santri itupun segera meletakkan cangkir tertutup itu di depan sahabat Mbah Bisri itu.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Setelah itu, santri itu kemudian berlalu sambil memendam tawa kecil didalam hatinya, "Kiai ya kayak awak dhewe ya, padha gasak-gasakan juga."

"Monggo kopinipun dipun unjuk, para sedherek," kata Mbah Bisri seraya mempersilahkan tamu-tamunya untuk meminum kopi.

Dengan tanpa curiga sedikitpun, Pak Hamyah segera mengambil cangkir, membuka tutupnya, dan melihat cangkir itu kosong, "Asemik, aku diwales Bisri rupanya."

Baca Juga: KH. Kholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Untuk menutup rasa malu, pak Hamyah tetap mengangkat cangkir itu dan mendekatkannya ke mulut sambil mengeluarkan suara khas, "Slurrrrrp, haaaaaah..." Pak Hamyah pura-pura menikmati kopi itu dengan penuh perasaan.

"Piye kopine, Hamyah?" tanya Mbah Bisri dengan meledek.

Pak Hamyah hanya bisa tersenyum kecut. Mungkin, dia sedang memikirkan trik bully yang lain untuk Mbah Bisri.[]




* Oleh: Gus Ulil Abshar Abdalla
Read More

KH. Ahmad Rifai dan Batik Rifaiyah


rumahnahdliyyin.com, Batang - Miftakhutin, perempuan berusia 40 tahun yang perajin batik tulis di Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, bercerita panjang lebar mengenai sejarah batik tulis khas daerah itu yang hingga kini masih bertahan. Sebagaimana ditulis pada laman antaranews.com, hal tersebut disampaikan Miftakhutin saat berdiskusi dengan sejumlah wartawan pada kegiatan kunjungan media yang difasilitasi oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) di galeri, workshop, sekaligus sentra batik Rifaiyah di Jalan Mataram III, RT. 02/RW. 02, Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang, pada Rabu (02/05/2018).

Selain dikenal dengan batik Rifaiyah dan Multikultur, batik tulis yang digeluti oleh Utin, demikian Miftakhutin lebih akrab disapa, dikenal juga dengan sebutan "Batik Tiga Negeri". Tiga negeri yang dimaksud itu adalah daerah Lasem yang terkenal batiknya dengan warna merah, Pekalongan dengan warna biru dan Solo dengan warna cokelat. Perpaduan tiga warna itulah yang membuat batik khas daerah Batang itu disebut dengan "batik tiga negeri".

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Meski masih bertahan hingga kini, Utin mengutarakan kekhawatirannya yang serius terhadap masa depan batik Rifaiyah yang perajinnya kian berkurang. Ia mengungkap lagi bahwa saat ini perajin batik Rifaiyah itu rata-rata diatas usia 35 tahun. Ada lebih dari 100 perajin, namun yang aktif ada 87 orang.

"Anak-anak muda perempuan tidak lagi tertarik untuk membatik. Ada yang berusia 18 tahun, satu orang saja," kata Utin yang merupakan generasi kelima dari keluarganya yang meneruskan tradisi membatik hingga saat ini.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Secara umum, perajin batik Rifaiyah adalah komunitas yang mengambil spirit dari ajaran KH. Ahmad Rifai atau yang lebih dikenal dengan kiai Rifai. Atau sebuah komunitas yang merupakan santri yang mengikuti ajaran kiai Rifai yang kemudian meneruskan tradisi membatiknya. Karena itu pula, maka nama batik ini dinisbatkan kepada nama kiai tersebut, yakni batik Rifaiyah.

Berdasarkan rujukan sejarah, kiai Ahmad Rifa'i merupakan salah satu ulama besar yang lahir di Desa Tempuran, Kendal, Jawa Tengah, pada 9 Muharram 1200 H./1786 M. Sikapnya yang kritis membuat Belanda membuangnya ke daerah Ambon dan diasingkan ke Manado hingga akhirnya wafat pada tahun 1876 M. di Sulawesi Utara.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Kiprah dan perjuangan kiai Rifai melawan penjajahan kolonial Belanda itulah yang akhirnya membuat negara ini menganugerahinya gelar sebagai pahlawan nasional sebagaimana berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 086/TK/2004, pada saat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebagai generasi penerus membatik, dengan spirit Rifaiyah, Utin mengingat ajaran-ajaran kiai Rifai. Diantaranya yaitu berupa syair-syair yang ditulis dalam bahasa Arab Pegon yang selalu disenandungkan ketika membatik. Selain untuk mengingat kembali ajaran kiai Rifai, hal itu dilakukan karena untuk "meramaikan" suasana. Sebab sebelumnya, perajin yang serius dan fokus membatik akan membuat suasana menjadi hening.

"Dengan syair-syair yang diajarkan dan mengandung nilai religi, membuat suasana lebih meneduhkan jiwa," tambahnya.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Motif batik Rifaiyah, pada umumnya menggambarkan tumbuhan. Sangat jarang ada motif hewan. Hal itu karena dalam ajaran Islam memang ada sebagian ulama yang melarang menggambar makhluk hidup. Secara keseluruhan, setidaknya ada 24 motif dalam batik Rifaiyah.

Corak tersebut yaitu pelo ati, kotak kitir, banji, sigar kupat, lancur, tambal, kawungndog, kawung jenggot, dlorong, materos satrio, ila ili, gemblong sairis, dapel, nyah pratin, romo gendong, jerukno'i, keongan, krokotan, liris, klasem, kluwungan, jamblang, gendaghan dan wagean. Motif-motif inipun ada yang mengandung makna spiritualitas. Misalnya motif pelo ati (ampela dan hati ayam) yang menggambarkan ajaran sufisme bahwa hati mengandung sifat-sifat terpuji.

Baca Juga: Meski Diminta Istri Untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Menurut kitab Tarujumah, susunan kiai Rifai, dalam hati manusia itu terdapat delapan sifat kebaikan, yaitu zuhud (tidak mementingkan keduniawian), qona'at (merasa cukup atas karuniaNya), sabar, tawakal (berserah diri kepadaNya), mujahadah (bersungguh-sungguh), ridlo (rela), syukur dan ikhlas. Semua sifat inipun mengandung makna khouf, mahabbah dan ma'rifat.

Ampela menggambarkan sebagai tempat kotoran. Yaitu sifat-sifat buruk manusia sebagaimana terdapat dalam kitab Tarajumah, yaitu hubbud-dunya (mencintai dunia yang disangka mulia namun di akhirat sia-sia), thoma' (rakus), itba' al-hawa (mengikuti hawa nafsu),'ujub (suka mengagumi diri sendiri), riya' (suka dipuji), takabbur (sombong), hasud (dengki) dan sum'ah (suka membicarakan amal kebajikannya pada orang). Dan semua sifat tercela dan kotor ini harus dibuang jauh-jauh.[]




(Redaksi RN)
Read More

Ini Pandangan Grand Syaikh Al-Azhar Mengenai Pancasila


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak hanya dikagumi oleh ulama-ulama Nusantara, melainkan juga oleh ulama-ulama negara lain. Syaikh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb, misalnya. Grand Syaikh Al-Azhar yang baru saja dinobatkan sebagai ulama paling berpengaruh di dunia oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre ini memberikan pujian terhadap Pancasila sekaligus kepada Presiden Soekarno yang notabene sebagai pencetusnya.

“Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, prinsip musyawarah dan keadilan adalah intisari ajaran Islam,” ujar Grand Syaikh Al-Azhar itu sebagaimana dikutip oleh laman arrahmahnews.com.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa rumusan Pancasila bukan hanya sekedar sejalan dengan Islam. Lebih dari itu, dalam tiap butir Pancasila merupakan esensi ajaran Islam itu sendiri yang harus diperjuangkan. Dalam keterangannya ini, Grand Syaikh juga menyatakan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam.

Ulama yang juga tokoh terdepan dalam menyuarakan moderasi Islam itu menambahkan lagi bahwa pemikiran Bung Karno telah berhasil membangun hubungan diplomasi antara Indonesia dengan Mesir dan memberikan inspirasi kepada dunia Internasional, terutama semangat Bung Karno yang anti kolonialismenya.

“Konferesi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Bandung yang diinisiasi oleh Presiden Soekarno berhasil menggelorakan semangat kepada negara-negara di Asia dan Afrika yang mayoritas masih terjajah untuk merdeka dan berdaulat,” terang Syaikh Ahmad Ath-Thayyeb.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Secara eksplisit, pernyataan ulama nomor wahid di dunia tersebut menunjukkan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang ideal untuk Indonesia sebagai negara yang memiliki masyarakat yang beragam.

Selain itu, pernyataan Grand Syaikh Al-Azhar itu juga menunjukkan bahwa Pancasila dan Islam itu sama sekali tidak bertentangan sebagaimana yang akhir-akhir ini mulai dihembuskan oleh kelompok-kelompok tertentu. Sebab, jelas sekali bahwa didalam butir-butir Pancasila itu terdapat esensi ajaran Islam itu sendiri.[]



(Redaksi RN)
Read More

Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Grand Syaikh Al-Azhar, Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb, mengimbau kepada umat Islam untuk tidak mengklaim diri sebagai pihak yang paling benar sembari menganggap pasti salah kelompok-kelompok diluar dirinya.

Menurutnya, monopoli kebenaran bukanlah tindakan yang tepat. Islam melarang penganutnya untuk memvonis kafir sesama kelompok ahli qiblat (sesama umat Islam).

"Tidak boleh mengatakan 'hanya saya yang paling benar, sementara yang lain tidak'," tuturnya saat berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Rabu malam (2/5/2018).

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Kedatangan Grand Syaikh Al-Azhar di Kantor PBNU ini disambut hangat oleh Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj. Di hadapan ratusan hadirin, keduanya berdiskusi dengan tema "Islam Nusantara untuk Perdamaian Dunia."

Syaikh Ath-Thayyeb menekankan kaum muslimin supaya fokus pada titik persamaan daripada mencari-cari titik perbedaan dikalangan umat Islam, baik kelompok Sufi, Wahabi, Ahlussunnah, Syi'ah dan lainnya.

Pemimpin tertinggi Al-Azhar ini juga menyampaikan bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW. itu sebagai rahmat untuk semua, bukan terbatas untuk umat Islam semata.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Sebelumnya, KH. Said Aqil Siroj menjelaskan profil singkat Nahdlatul Ulama dan mengenalkan pula kepada Syaikh Ath-Thayyeb tentang Islam Nusantara sebagai Islam yang menjunjung tinggi moderatisme (wasathiyah).

"Islam Nusantara bukan mazhab baru. Melainkan karakter khas keberislaman di bumi Nusantara yang ramah terhadap budaya, harmoni dengan kebhinekaan," jelasnya.

Grand Syaikh Al-Azhar mengakui bahwa kedatangannya di Indonesia adalah bagian dari agenda untuk memperkuat Islam moderat. Ia optimis bahwa hal ini merupakan langkah awal bagi perdamaian dunia secara umum.[]




(Redaksi RN)
Read More

KH. Ulin Nuha Arwani: Menjadi Penghafal Al-Qur'an Saja Belum Cukup


rumahnahdliyyin.com,
 Demak - Sebanyak 240 santri putra dan putri Pondok Pesantren Al-Badriyyah, Suburan, Mranggen, Demak, Jawa Tengah, mengikuti wisuda khotmil Qur’an yang ke-42 pada Ahad (22/4/2018). Para santri yang diwisuda tersebut terdiri dari khotimin dan khotimat bil-ghoib 30 juz sebanyak 9 santri, bin-nadhor 30 juz sebanyak 40 putra dan 64 putri, serta juz 'amma putra sebanyak 37 santri dan 90 putri.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Badriyyah, KH. Muhibbib Muhsin Al-Hafidh dan Nyai Hj. Nadhiroh Ma’shum Al-Hafidhoh, berharap supaya para santri yang telah diwisuda itu semakin bertambah semangat dan istiqomah dalam hal mencari ilmu.

“Semoga khotimin dan khotimat yang telah diwisuda mendapatkan ilmu yang berkah, bermanfaat dan ilmu yang bermashlahat, min ahlil-‘ilmi, min ahlil-khoir wa min ahlil-qur’an,” harap KH. Muhibbin sebagaimana dilansir oleh NU Online.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

KH. Ulin Nuha Arwani, yang tausiyah dalam acara Haflah tersebut, berpesan kepada para santri supaya jangan cepat puas dengan apa yang telah dicapainya itu.

“Masih banyak tahapan yang harus dilewati. Menjadi penghafal Al-Qur’an saja, belum cukup. Masih banyak ilmu yang harus dipelajari, seperti ilmu fiqih, tauhid, bahasa Arab dan sebagainya,” tuturnya dihadapan para hadirin.

Selain itu, KH. Ulin Nuha Arwani juga mengingatkan para khotimin dan khotimat supaya berakhlaq sebagaimana ajaran Al-Qur’an, selalu tawadlu' dan mengabdi kepada guru supaya mendapat keberkahan dalam hidup.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Dalam pandangan KH. Ulin Nuha Arwani, ada tiga kategori yang dapat dilakukan dalam menjaga Al-Qur’an, yaitu membaca, mengamalkan, dan berakhlaq sebagaimana perilaku yang ada dalam Al-Qur'an. Karena itu, para santri supaya mengusahakan untuk memenuhi ketiga kategori tersebut.

“Maksud dari shohibul-Qur'an dalam sebuah kitab tafsir, yaitu orang yang mulazim litilawatih, yakni orang yang selalu membacanya, mutakholliq bi akhlaqih, mempunyai adab sebagaimana yang diajarkan Al-Qur'an, wal-amilu bih, mengamalkan pesan Al-Qur'an,” urainya lebih lanjut.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Selain itu, KH. Ulin Nuha Arwani juga mengatakan bahwa Al-Qur'an yang telah dipelajari supaya selalu dibaca sesuai ajaran yang telah diterima dari guru beserta adabnya. Ditambahkan pula bahwa maksud membaca Al-Qur'an dengan haqqa tilawatih adalah kombinasi membaca antara mulut, akal dan hati.

“Koridor penggunaan lisan adalah dengan memakai tajwid yang benar. Lalu meresapinya dengan akal (tadabbur). Serta memahaminya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari supaya selamat dari murka Allah SWT.,” terangnya.

Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Terakhir, beliau mewanti-wanti kepada para santri yang telah khatam itu supaya jangan sampai membiarkan mushhaf Al-Qur'an begitu saja. Bila mushhafnya digantungkan dalam lemari, tidak pernah dibaca kembali, maka Al-Qur'an akan datang pada hari kiamat dengan keadaan menggantung orang tersebut seraya berkata: "Ya Tuhan, sungguh hambaMu ini telah mencampakkanku. Maka, berilah keputusan antara aku dan dia," pungkas KH. Ulin Nuha Arwani.

Ribuan santri, wali santri dan para alumni, juga masyarakat luas, turut hadir memadati arena pengajian ini. Selain KH. Ulin Nuha Arwani, hadir pula KH. Ulil Albab Arwani, KH. Abdul Hadi Muthohar, KH. Abdul Kholiq Murod, KH. Ali Mahsun, Nyai Hj. Ishmah Ulin Nuha, Nyai Hj. Zuhairoh Ulil Albab, Nyai Hj. Mutammimah Harir dan para kiai lainnya.[]




(Redaksi RN)
Read More

Meski Diminta Istri Untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya


rumahnahdliyyin.com - Salah satu penyebab seseorang melakukan poligami adalah alasan personal, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS. Atas permintaan istri pertamanya, yaitu Siti Sarah, Nabi Ibrahim pun memenuhi permintaan itu dengan menikahi Siti Hajar hingga lahirlah Nabi Ismail AS. dari rahim istri kedua tersebut.

Permintaan Siti Sarah itu dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa hingga usia mencapai lebih dari 80 tahun, Nabi Ibrahim AS. belum dikaruniai seorang anak pun. Kasus ini, ternyata mirip dengan yang terjadi pada Mbah Kiai Abdul Mannan, Solo. Bedanya, kiai Mannan menolak permintaan istrinya untuk poligami itu.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoax

Mbah Kiai Abdul Mannan adalah salah seorang pendiri Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkyudan, Surakarta, yang didirikan pada tahun 1930-an. Beliau adalah ayah dari Mbah Kiai Ahmad Umar Abdul Mannan, yang mengasuh pesantren tersebut hingga beliau wafat pada tahun 1981.

Penolakan Mbah Kiai Abdul Mannan untuk berpoligami, meski diminta sendiri oleh istri beliau, yaitu Mbah Nyai Mushlihah, adalah karena memang beliau tidak pernah menginginkan untuk berpoligami kendati sudah pernah menikah hingga tiga kali.

Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan

Perkawinan Mbah Kiai Abdul Mannan dengan istri pertamanya, berakhir dengan mufaroqoh yang tak bisa dihindarkan. Perkawinannya dengan istri kedua, berakhir ketika sang istri mendahului wafat. Sedangkan perkawinannya dengan istri yang ketiga, yakni dengan Mbah Nyai Mushlihah, berlangsung langgeng hingga Mbah Kiai Abdul Mannan wafat pada tahun 1964. Sedang Mbah Nyai Mushlihah sendiri, wafat pada tahun 1981 sebelum beberapa minggu kewafatan Mbah Kiai Ahmad Umar.

Pertanyaannya, mengapa Mbah Nyai Mushlihah minta dimadu dan mengapa pula Mbah Kiai Abdul Mannan menolaknya?

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Berdasarkan penuturan dari salah seorang putri Mbah Kiai Abdul Mannan, yakni Mbah Ngismatun Sakdullah, Solo—biasa dipanggil Mbah Ngis (wafat 1994)—dengan terus terang, Mbah Nyai Mushlihah memohon kepada Mbah Kiai Abdul Mannan yang notabene sebagai suaminya supaya menikah lagi. Hal tersebut karena Mbah Nyai Mushlihah merasa sudah tua dan tak sanggup lagi memenuhi kewajibannya untuk melayani hubungan suami-istri setelah menopause.

Memang, wanita yang sudah menopause, pada umumnya mengalami banyak perubahan yang menyebabkan hilangnya gairah seksual. Selain itu, menurunnya kemampuan berhubungan seksual, jika dipaksakan bisa menimbulkan ketidaknyamanan, baik secara fisik maupun psikis.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Untuk itu, Mbah Nyai Mushlihah bersedia melamarkan siapa pun yang dipilih Mbah Kiai Abdul Mannan untuk dijadikan madunya dengan maksud supaya hak-hak Mbah Kiai Abdul Mannan sebagai suami tetap bisa terpenuhi karena libido seksual laki-laki memang bertahan sampai mati.

Meski Mbah Kiai Abdul Mannan sadar bahwa sang istri rela dimadu, tapi beliau menolak permintaan itu. Sebab, pada dasarnya, beliau tidak menginginkan berpoligami. Tentu saja beliau punya beberapa alasan atas penolakannya itu, yang pada intinya demi menghindari madlorot yang lebih besar daripada kemanfaatannya.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Poligami sudah pasti berpotensi menimbulkan kecemburuan dan permusuhan diantara para istri dan anak-anak sebagaimana Siti Sarah yang mencemburui Siti Hajar serta bersikap tidak ramah. Padahal, kehadiran Siti Hajar sebagai istri kedua Nabi Ibrahim AS. merupakan permintaan Siti Sarah sendiri.

Jadi, alasan permintaan Mbah Nyai Mushlihah kepada Mbah KH. Abdul Mannan untuk berpoligami itu bersifat personal sebagaimana permintaan Siti Sarah kepada Nabi Ibrahim AS. Hanya saja, Siti Sarah belum dikaruniai seorang anak pun, sedangkan Mbah Nyai Mushlihah sudah dikaruniai lebih dari enam orang anak, termasuk Mbah Ngis, yang dilahirkannya sendiri.

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Memilih Puasa

Dikalangan pesantren dikenal ada tiga tipologi kiai, yakni kiai ‘alim, kiai ‘abid dan kiai ‘arif. Secara sederhana, kiai ‘alim adalah kiai yang ilmu pengetahuan agamanya luas dan banyak berkiprah di pengajaran ilmu-ilmu agama seperti di pesantren atau majelis-majelis ta’lim. Kiai ‘abid adalah kiai yang ahli ibadah dan banyak menghabiskan waktu serta tenaganya untuk beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan kiai ‘arif adalah kiai yang ilmu hikmahnya menonjol dan banyak riyadloh sehingga menjadi sosok yang arif-bijaksana. Mbah Kiai Abdul Mannan sendiri, dalam tipologi ini, tergolong dalam kiai tipe yang ketiga, yaitu lebih menonjol sebagai kiai 'arif.

Dalam menyikapi persoalan personalnya dengan Mbah Nyai Mushlihah yang sudah "meminta pensiun" dari tugas melayani urusan kasur, Mbah Kiai Abdul Mannan bukannya menceraikan sang istri lalu menikah lagi dengan dalih menghindari perzinahan.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hsyim Asy'ari

Nafsu seksual laki-laki memang terus hidup selama hayat masih dikandung badan. Tapi, poligami bukanlah satu-satunya cara untuk mengatasi persoalan personal yang berupa syahwat itu. Ada cara lain untuk mengatasinya, yakni berpuasa, sebagaimana hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim: Puasa adalah perisai (peredam) syahwat.

Cara berpuasa itulah yang dipilih oleh Mbah Kiai Abdul Mannan ketika mencari solusi terbaik dalam mengatasi persoalan syahwatnya disaat Mbah Nyai Mushlihah Abdul Mannan sudah tidak sanggup lagi memenuhi kewajibannya karena sudah udzur. Mbah Kiai Abdul Mannan mampu menjawab persoalan hukum (fiqh) dengan jawaban moral (akhlaq) yang tentu saja lebih luhur karena puasa merupakan ibadah satu-satunya untuk Allah SWT. dan Dia sendiri yang akan membalasnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits qudsi riwayat Imam Bukhori: Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.[]



Oleh: Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.


Sumber: NU Online
Read More