Tampilkan postingan dengan label Maulid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maulid. Tampilkan semua postingan

Peringati Maulid Nabi, Warga Maros di Biak Tetap Lestarikan Tradisi


rumahnahdliyyin.com | Biak Numfor - Himpunan Keluarga Maros, Sulawesi Selatan, tetap menjaga tradisi budaya masyarakat Bugis-Makassar meskipun tengah berada di tanah perantauan, di Biak Numfor, Papua. Tradisi budaya tersebut yaitu membagi makanan ketan telur yang dihias dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah.

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 8 Desember 2018, itu dihadiri juga oleh Pelaksana Tugas Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap. Dalam kesempatan itu, Plt. Bupati mengajak warga Maros untuk memaknai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. tidak berhenti pada perayaan seremonialnya semata.

Baca Juga: Maulid

"Jadikan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. untuk saling berbagi dan menjaga kebersamaan antarwarga Maros dalam mendukung program pemerintah," ujarnya sebagaimana diberitakan oleh Antara.

Ia juga mengajak warga Maros agar terus menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat lain dan hidup berdampingan di Kabupaten Biak Numfor.

Melalui hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., menurut Herry, diharapkan warga Maros dapat meningkatkan nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga: Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia

Sementara itu, Ketua Himpunan Keluarga Maros Biak Numfor, Abdul Kadir, mengakui bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. itu dilaksanakan warga Maros sebagai bukti pengamalan nilai ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT.

"Di peringatan Maulid, warga Maros telah membagikan telur ketan beserta lauk-pauk untuk diberikan kepada setiap tamu yang hadir," katanya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah oleh Himpunan Keluarga Maros di Biak Numfor itu memang berlangsung dengan hikmad dan cukup meriah. Adapun ketan telur maulid disediakan oleh panitia penyelenggara.[]
Read More

Maulid, Maulud, Milad dan Perayaan Kelahiran Nabi Muhammad SAW.


rumahnahdliyyin.com - Tulisan ini mengulas istilah-istilah maulid, maulud, milad, apakah berarti sama atau beda? Kemudian lahirnya genre Sastra Maulid, yang berisi prosa dan puisi terhadap kelahiran dan pujian pada Nabi Muhammad SAW., yang ternyata sudah lahir dari zaman Nabi hingga mencapai puncaknya pada karya Burdah Al-Bushiri, Al-Barzanji dan Ad-Diba’i

Maulid artinya Kelahiran. Selain maulid, ada istilah lain, milad. Namun, dalam penggunaan masyarakat Arab, istilah milad sudah identik dengan Hari Kelahiran Isa Al-Masih atau Yesus Kristus. Masyarakat Kristen Arab menyebut Hari Natal untuk Yesus Kristus dengan idul milad al-majid (Hari Kelahiran yang Agung).

Masyarakat muslim Arab menggunakan istilah lain untuk Hari Lahir Nabi Muhammad SAW. yang lahir pada hari Senin, 12 Robiul Awwal, dengan sebutan maulid.

Baca Juga: Maulid

Tapi, baik maulid dan milad, artinya sama. Hanya penggunaannya yang berbeda. Istilah milad juga digunakan sebagai perayaan Hari Ulang Tahun di zaman modern. Orang Arab modern merayakan ulang tahunnya dengan istilah milad, tapi tidak dengan istilah maulid yang sudah identik dengan Perayaan Kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Selain istilah maulid yang acap kali digunakan dalam masyarakat kita, ada penamaan lain: maulud. Dari istilah ini kemudian muncul mauludan, yang artinya merayakan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW.

Maulud, arti harfiyahnya adalah “ia yang dilahirkan”. Dan “ia” yang dimaksud adalah manusia mulia dan agung sepanjang zaman, Muhammad bin Abdulloh, shollollohu alaihi wa sallama (SAW).

Baca Juga: Benarkah Nabi Muhammad SAW. Sesat Sebelum Menjadi Nabi?

Sastra Maulid

Dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. biasanya dibacakan kesusastraan yang disebut sebagai “Sastra Maulid”, yang dalam istilah Arabnya dikenal sebagai Adabul Maulidi.

Sastra Maulid adalah karya sastra, baik dalam bentuk genre prosa atau puisi, yang memuji dan merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, jenis sastra ini dalam kajian sastra Arab juga disebut sebagai “Sastra Pujian terhadap Nabi Muhammad SAW.” atau Adabul Mada’ih An-Nabawiyah. Kisah Sastra Maulid atau Sastra Pujian ini mengakar kuat dalam tradisi Islam, yang berawal dari tradisi keluarga Nabi Muhammad SAW.

Diriwayatkan bahwa orang pertama yang menuliskan puisi-puisi sebagai pujian bagi kelahiran Nabi SAW. berasal dari paman tercintanya: Abu Thalib, yang mengasuhnya setelah Ibundanya wafat (ayahandanya meninggal saat beliau dalam kandungan) yang kemudian diasuh kakeknya, setelah kakeknya wafat, Muhammad SAW. dari umur 8 tahun diasuh pamannya: Abu Thalib, yang dikenal sebagai salah seorang penyair dan sastrawan Arab.

Inna ibna Aminah annabiyy Muhammadan – Indi bimitsli manazilil awladi (Sungguh, putra Aminah, Muhammad, yang diangkat menjadi nabi, bagiku sudah seperti anaku sendiri).

Baca Juga: Inilah Jawaban terhadap Ustadz Hijrah yang Menyatakan Nabi Pernah Sesat

Dalam perjalanan selanjutnya, setelah Islam diterima oleh masyarakat kota Yatsrib (yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah) dan Nabi Muhammad SAW. hijrah ke pangkuannya, Nabi Muhammad SAW. memiliki penyair-penyair yang menuliskan secara sukarela dengan penuh kekaguman dan kecintaan pada Nabi SAW. melalui karya sajak-sajak mereka.

Tersebutlah nama seperti Hassan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, Abdullah bin Rawahah.

Burdah Al-Bushiri, Al-Barzanji dan Ad-Diba’i

Dalam perayaan Maulid, sering dibacakan karya-karya Burdah Al-Bushiri, Al-Barzanji dan Ad-Diba’i.

Burdah artinya "selendang", yang berawal dari mimpi Syaikh Al-Bushiri yang sembuh dari sakitnya setelah bertemu dengan Rosulullah SAW. dan diberi hadiah selendang. Sebagai bentuk syukur dan pujian, Syaikh Al-Bushiri mengarang rasa cinta, kekaguman dan kerinduannya dalam Burdah.

Baca Juga: Bu Susi, Bismillah dan Sholawat

Syaikh Al-Bushiri murid dari Syaikh Abul Hasan As-Syadzili (pendiri Tarekat Syadziliyah). Saya pernah ziaroh ke makamnya yang berdampingan dengan makam Syaikh Abul Abbas Al-Mursi (pengganti pemimpin Tarekat Syadziliyah setelah Syaikh Abul Hasan As-Syadzili). Kini, kedua makam tersebut, yang menjadi tujuan ziaroh, dibangun dua masjid megah.

Kutipan kasidah Burdah yang sering dibacakan dan dilagukan seperti dibawah ini:

مولاي صلّ وسلّم دائما أبدا
علي حبيبك خير الخلق كلّهم
محمّد سيّد الكونين والثّقلين
والفريقين من عرب ومن عجم
ثم الرّضا عن أبى بكر وعن عمر
وعن على وعن عثمان ذى الكرم
يا ربّ بالمصطفى بلّغ مقاصدنا
واغفر لنا ما مضى يا واسع الكرم

Baca Juga: Nabi Muhammad SAW. Mengerjakan Qunut Hingga Beliau Wafat

Kasidah Burdah juga dibacakan saat ada yang sakit. Saya masih ingat, kalau saya waktu kecil panas, bapak saya membacakan Kasidah Burdah, tabarrukan, karena Syaikh Al-Bushiri mengarang pujian ini setelah sembuh dari sakit.

Namun, yang paling banyak dibacakan dalam acara perayaan maulid adalah Al-Barzanji, yang hadir dalam dua genre, prosa dan puisi. Yang puisi dibacakan saat berdiri (kelanjutan dari prosa yang menceritakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.)  tepat di kalimat Asyroqol badru... (telah terbit purnama...). Makanya, Al-Barzanji sering disebut Srakalan (ada juga Asyrokolan) dari kata Asyraqol.

Baca Juga: Sholawat

يا نبي سلام عليكَ***يارسول سلام عليكَ
ياحبيب سلام عليك***صلوات الله عليك
أشرق البدرُ علينا*** فاختفت منه البدورُ
مثلَ حسنكْ مارأينا*** قط يا بدرَ السرورِ
انتَ شمسٌ انت بدرٌ*** انت نورٌ فوق نورِ
انت اكسيرٌ و غالي***انت مصباحُ الصدورِ
ياحبيبي يا محمد***ياعروسَ الخافقين
يامؤيّد يا ممجّد***يا إمامَ القبلتين
من رأى وجهكَ يسعد***يا كريمَ الوالدين
حوضك الصافي المبرّد***وردنا يوم النشورِ
ما رأينا العيس حنت***بالسرى الا اليكَ
و الغمامة قد أظلت***والملا صلوا عليكَ
و اتاك عود يبكي***و تذلّل بين يديك
و استجارت يا حبيبي***عندك الظبي النفورُ
عندما شدوا المحامل***و تنادوا للرحيلِ
جئتهم و الدمع سائل***قلت قف لي يا دليل
و تحمل لي رسائل*** ايها الشوق الجزيلُ
نحو هاتيك المنازل***في العشي و البكورِ
كل من في الكونِ هاموا***فيك يا باهيَ الجبي 
و لهم فيكَ غرامُ***و اشتياق وحنينُ
في معانيك الأنامُ***قد تبدت حائرينَ
انتَ للرسل ختامُ***انتَ للمولى شكورُ
فيك قد احسنت ظني***يا بشير يا نذير
فيكَ يا بدر تجلّى***فلكَ الوصفِ الحَسينَ
ليسَ ازكى منكَ أصلاً*** قط يا جدّ الحُسيْنِ
فعليكَ الله صلّى***دائماً طولَ الدهور

Al-Barzanji juga dibacakan saat merayakan kelahiran seorang anak. Saat berdiri yang disebut dengan sholawat qiyam atau mahallul qiyam, bayi yang lahir dibawa keluar, diperkenalkan.

Baca Juga: Sholawat Pancasila

Sementara karya Ad-Diba’i dalam bentuk puisi, berikut syairnya:

 * ياربّ صلّ علي محمّد
* ياربّ صلّي عليه وسلّم
* ياربّ بلّغه الوسيله
* ياربّ خصّه بالفضيله
* ياربّ وارض عن الصحابه
* ياربّ وارض عن السلاله
* ياربّ وارض عن المشايخ
* ياربّ فارحم والدينا
* ياربّ وارحمناجميعا
* ياربّ وارحم كلّ مسلم
* ياربّ واغفرلكلّ مذنب
* ياربّ لا تقطع رجانا
* ياربّ ياسامع دعانا
* ياربّ بلّغنانزوره
* ياربّ تغشانابنوره
* ياربّ حفظانك وامانك
* ياربّ واسكنّاجنانك
* ياربّ اجرنامن عذابك
* ياربّ وارزقناالشهاده
* ياربّ حطنابالسعاده
* ياربّ واصلخ كلّ مصلح
* ياربّ وكف كلّ موءذي
* ياربّ نحتم بالمشفّع
* ياربّ صلّي عليه وسلّم
(اللهم صلّ وسلّم وبارك عليه)





* Oleh: Mohamad Guntur Romli
Read More

Maulid


muslimpribumi.com - Sebagaimana telah kita ketahui dan sudah kita imani bersama bahwa orang yang telah membawa agama mulia yang kita peluk ini, yaitu Islam, adalah Muhammad bin Abdullah. Seorang manusia agung yang terlahir dari rahim Sayyidatina Siti Aminah binti Wahb.

Beliau lahir pada hari Senin, malam 12 Robi'ul Awwal tahun Gajah. Disebut dengan tahun Gajah karena pada tahun tersebut Abrahah Al-Asyram, penguasa Yaman, sedang berusaha menyerang Mekah untuk menghancurkan Ka'bah dengan pasukan gajahnya. Dan hal ini telah diabadikan oleh Allah SWT. dalam Al-Qur'an surat Al-Fiil.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW. ini disambut gembira oleh kakeknya, yaitu Abdul Muththolib. Dialah yang memberi nama seorang bayi yang telah menjadi yatim sejak berumur dua bulan dalam kandungan ibundanya ini dengan nama “Muhammad”.

Tidak hanya kakeknya saja yang gembira atas kelahiran Rasulullah SAW. ini. Pamannya, yaitu Abu Lahab, karena saking gembiranya mendengar kabar kelahiran Rasululullah SAW. ini, seketika pun langsung memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah yang telah memberinya kabar tersebut.

Kendati Abu Lahab adalah dedengkot orang kafir dan telah dikecam dalam Al-Qur'an sebagai orang celaka, karena kegembiraannya ini, dia dapat keringanan siksaan pada tiap hari kelahiran Nabi SAW. ini, yaitu tiap hari Senin.

Sebagai umat Islam, tentunya kita semua juga sangat gembira atas lahirnya Nabi kita ini. Tanpa beliau, pasti kita semua masih hidup dalam kejahiliyahan hingga hari ini. Ibarat film , beliau adalah pahlawan kita. Super hero kita semua.

Dalam kitab Haulal-Ihtifal Bidzikril Maulidin Nabawi Asy-Syarif, Sayyid Muhammad bin 'Alawi Al-Maliki Al-Hasani mengatakan bahwa 
kegembiraan atas keberadaan Rasulullah SAW. merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh agama. Firman Allah SWT., “Qul bifadllillaahi wabirohmatihi fabidzaalika falyafrohuu ,” katakanlah bahwa dengan anugerah Allah SWT. dan dengan rahmat-Nya, supaya berbahagia-lah mereka semua.

Ibnu Abbas RA. mengatakan bahwa yang dimaksud dengan anugerah dalam ayat diatas adalah ilmu. Sedangkan yang dimaksud dengan rahmat adalah Nabi Muhammad SAW.

Tentu saja setiap orang mempunyai cara berbeda-beda dalam mengekspresikan kegembiraan. Rasulullah SAW. sendiri dalam mensyukuri kelahiran beliau ini yaitu dengan berpuasa. Pernah suatu hari beliau ditanya oleh seorang sahabat yang mendapati beliau sedang berpuasa dihari senin. Beliaupun menjawab bahwa hari itu adalah hari kelahiran beliau.

Bergembira atas lahirnya Rasulullah SAW. dengan meniru beliau dengan berpuasa, tentu sangat baik. Kendati demikian, melakukan hal lain selama tidak menyimpang dan menyalahi aturan agama juga tidak apa-apa. Terlebih bila yang dilakukan itu terbukti baik dan bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. serta menambah syi'ar Islam. Seperti berkumpul untuk berdzikir, membaca Al-Qura'n, sholawatan, mendengar kisah-kisah mulia beliau, bersedekah atau lainnya.

Bersyukur dan bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. alangkah baiknya dilakukan setiap saat. Akan tetapi, lebih dianjurkan lagi 
pada setiap hari Senin dan setiap bulan Robi'ul Awwal. Sebab, hal itu adalah berkaitan dengan ketepatan waktu kelahiran Rasulullah SAW. 
Karena itu, para ulama dan kiai-kiai kita telah mengajari kita semua pada tiap hari Senin malam untuk melakukan pembacaan sholawat bersama-sama di Musholla, Masjid dan tempat lainnya. Juga melakukan hal yang sama ketika datang bulan Robi'ul Awwal selama sebulan penuh.

Tetapi sayang, kelihatannya lambat laun tradisi yang mulia ini mulai berkurang dilaksanakan dimana-mana. Semakin hari semakin meredup dan perlahan menghilang entah karena apa. 
Meskipun demikian, tiap bulan Robi'ul Awwal tiba kita masih bisa melihat kaum muslimin dimana-mana bersuka cita merayakan kelahiran Rasulullah SAW. dengan berbagai rangkaian acara.

Bukankah kita selalu bersuka cita ketika tiba hari kelahiran anak, istri atau suami kita tercinta? Bukankah kita selalu memperingati kelahiran orang-orang terdekat yang kita cintai dan sayangi itu dengan minimal membuat pesta ala kadarnya?

Kalau terhadap mereka saja kita bersuka cita karena kelahirannya, tentu terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW. kita juga sudah sepatutnya melakukan hal yang sama. Sebab, mereka dan Nabi Muhammad SAW. adalah orang-orang yang kita cintai bukan?

Akhirnya, al-mar-u ma'a man ahabbah, seseorang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang dicintainya. Semoga di akhirat kelak kita semua dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang kita cintai. Termasuk dan terlebih dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Amin. Wallaahu a'lam.

Oleh: Agus Setyabudi, Khodim di Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More