Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan


rumahnahdliyyin.com - Syaikh Muhammad Mahfudz At-Turmusy adalah salah satu kejora semesta. Cahaya ilmunya sedemikian benderang nan abadi sepanjang zaman. Akhlaqnya serupa akhlaq Rasulullah Muhammad SAW., kekasihnya. Tak heran jika puja dan puji terus mengalir dari orang-orang yang mengetahui peran besarnya dalam mengentaskan umat dari lembah kebodohan dan menuntun pada keelokan akhlaq Rasulullah Muhammad SAW.

Mungkin tidak ada yang mengira jika Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz, yang digelari sebagai al-‘alim, al-faqih, al-ushuli, al-muhaddits, al-muqri’, adalah sosok yang lahir di Indonesia. Terlebih, orang mungkin tidak menduga jika Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz lahir di sebuah daerah yang cukup terpencil.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Hadlrotusy Syaikh Mahfudz lahir pada tanggal 12 Jumadal Ula 1285 H. di desa Tremas, Pacitan. Pada masa kelahirannya, Pacitan masih termasuk dalam wilayah Solo. Ketika dilahirkan, Hadlrotusy Syaikh Abdullah, ayahnya, sedang berada di Makkah Al-Mukarromah.

Pada usia enam tahun, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz diajak sang ayah untuk ke Makkah Al-Mukarromah. Di tempat kelahiran Rasulullah SAW., Hadlrotusy Syaikh Mahfudz mendapatkan ragam pelajaran dari para cerdek cendekia (ulama) Hijaz dan Nusantara yang berada di Makkah. Hadlrotusy Syaikh Abdullah, sang ayah, pun merupakan ulama’ yang cukup disegani di Nusantara dan Hijaz.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Beberapa tahun berada di Makkah, Hadlrotusy Syaikh Abdullah dan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun kembali lagi ke Nusantara. Di tanah kelahirannya, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz mengambil sanad keilmuan sang kakek yang merupakan salah satu tokoh besar tanah Jawa, yakni Hadlrotusy Syaikh Abdul Manan. Kecerdasan, kemuliaan pekerti, keseriusan, ketelatenan dan keuletan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz membuat sang kakek demikian menyayanginya.

Setelah sekian tahun menyerap ilmu sang kakek dan sang ayah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz tergerak untuk mengembara dan berguru pada tokoh-tokoh istimewa di Nusantara.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

“Ananda bisa berguru kepada kiai Sholeh di Darat, Semarang. Kiai Sholeh masih sahabatku semasih belajar di tanah Hijaz,” jawab Hadlrotusy Syaikh Abdullah ketika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz mengutarakan minatnya untuk mengembara sekaligus meminta petunjuk kepada siapa dia berguru.

Setelah mendapatkan petunjuk dari Hadlrotusy Syaikh Abdullah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun bersama adik-adiknya, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi, berangkat ke Semarang.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Sesampai di Semarang, tiga kejora Tremas itu segera menemui Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat. Hati ulama agung Semarang itu demikian berbunga-bunga mengetahui yang datang adalah putra-putra dari sahabatnya. Dengan penuh cinta dan kasih, ketiganya di terima oleh Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat.

Kepada Hadlrotusy Syaikh Sholeh bin Umar ini, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz belajar berbagai macam kitab dan mengkhatamkan beragam kitab. Ketekunan dan kecerdasan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz cukup memikat hati sang guru. Dalam pandangan Hadlrotusy Syaikh Sholeh, ada beragam keistimewaan dan pancaran keelokan yang membuatnya demikian terpukau. Selama di Darat, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz memang dikenal sebagai santri yang visioner, inspiratif dan berbudi mulia.

Baca Juga: Toilet Sebagai Jalan Keluar

Mengamati perkembangan sang santri yang demikian mengagumkan, terbersit keinginan dalam hati Hadlrotusy Syaikh Sholeh untuk menjadikannya sebagai menantu. Terlebih, dimasa lalu, antara Hadlrotusy Syaikh Sholeh dan Hadlrotusy Syaikh Abdullah sempat terbersit keinginan untuk berbesanan. Namun, entah mengapa niat itu tak segera diutarakan dan dinyatakan. Mungkin, Hadlrotusy Syaikh Sholeh menunggu saat yang tepat. Terlebih, saat itu Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sedang semangat belajar. Meski demikian, Hadlrotusy Syaikh Sholeh demikian kentara dalam mencurahkan perhatian dan cinta kasih kepada Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

Ketika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pamit boyong dari Darat, Semarang, cucuran air mata Hadlrotusy Syaikh Sholeh tak dapat lagi terbendung. Ada rasa kehilangan yang menusuk-nusuk qolbunya. Dengan penuh cinta dan pengharapan, dia peluk santri kinasih sekaligus santri yang digadang-gadang menjadi menantunya itu.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Sekembali dari Darat, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz kembali menyerap ilmu keluarganya. Setelah sekian lama di Tremas, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz termotivasi untuk melanjutkan petualangan ilmiahnya. Tanah Hijaz adalah impiannya. Beruntung impiannya ini mendapatkan dukungan dari keluarga.

Berangkatlah Hadlrotusy Syaikh Mahfudz ke Makkah Al-Mukarromah dengan iringan derai air mata keluarga. Palu godam pun seketika menghantam palung jiwa Hadlrotusy Syaikh Sholeh ketika mendengar santri kinasihnya itu berangkat ke Makkah.

“Aku semakin jauh dari calon menantuku,” bisik benak Hadlrotusy Syaikh Sholeh.

Baca Juga: Al-Biruni, Antropolog Pertama?

Pun demikian, Hadlrotusy Syaikh Sholeh tak kehilangan cara untuk menunjukkan kasih sayang, perhatian dan keinginan menjadikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sebagai menantu. Berbagai macam hadiah dititipkan untuk Hadlrotusy Syaikh Mahfudz ketika ada orang Jawa yang melaksanakan ibadah haji atau pergi ke tanah Hijaz.

Hadiah demi hadiah yang terus diterima Hadlrotusy Syaikh Mahfudz dari sang guru, membuatnya berfikir, “Apa maksud kiai Sholeh selalu mengirimkan hadiah kepadaku ?” Sebuah kewajaran jika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz bertanya-tanya dengan curahan hadiah dari sang guru.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Namun, rasa penasaran itu tak berlangsung lama. Ghirohnya dalam belajar membuat Hadlrotusy Syaikh Mahfudz larut dalam samudra ilmu. Hadiah demi hadiah yang dikirim Hadlrotusy Syaikh Sholeh pun lebih banyak dinikmati oleh kedua adiknya, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi.

Menyadari pancingan demi pancingan tak mendapatkan respon dari Hadlrotusy Syaikh Mahfudz, mau tidak mau Hadlrotusy Syaikh Sholeh tergerak untuk mengutarakan maksudnya secara langsung. Ditulislah surat “sakti” yang berisi keinginannya menjadikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sebagai menantunya. Surat dititipkan kepada santri Hadlrotusy Syaikh Sholeh yang berangkat ke tanah Haram.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari

Surat yang dikirimkan Hadlrotusy Syaikh Sholeh pun segera sampai ke tangan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz. Jiwa Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun berkecamuk merasakan ketulusan sang guru. Bulir-bulir bening air mata membasahi pipi Hadlrotusy Syaikh Mahfudz. Baginya, permintaan guru adalah sabda yang tak bisa ditolak. Kepatuhan seorang santri pada kiai adalah sebuah keniscayaan. Sebuah cela jika santri tak patuh perintah kiai selama permintaan itu bukanlah maksiat. Permintaan yang demikian mudah bagi orang biasa itu menjadi sulit bagi Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

Lambaran kesulitan itu salah satunya berkait dengan keinginan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz untuk menghabiskan sisa-sisa usianya di Makkah. Sejak kembali menginjakkan kaki di Makkah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz telah “bersumpah” untuk tinggal selamanya di tanah kelahiran Rasulullah SAW. itu.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Istikhoroh pun dilakukan oleh Hadlrotusy Syaikh Mahfudz untuk mendapatkan petunjuk terbaik dari Allah SWT. Setelah berkali-kali istikhoroh, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun mendapatkan isyarat untuk tinggal di Makkah. Kemantapan yang diperoleh melalui istikhoroh itu membuat Hadlrotusy Syaikh Mahfudz memutar otak untuk menghindari permintaan sang guru.

Tak mungkin Hadlrotusy Syaikh Mahfudz menolak keinginan sang guru tanpa alasan yang bisa diterima. Lebih menyakitkan lagi jika sampai sang guru terlukai perasaannya. Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun mencari strategi terbaik agar sang guru tidak terlukai perasaannya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Bersamaan dengan itu, masuklah selarik ilham untuk mengirimkan Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan, sang adik, sebagai pengganti dirinya. Setelah yakin dengan keputusannya, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz segera menulis surat balasan untuk Hadlrotusy Syaikh Sholeh. Beberapa waktu berlalu, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi diminta untuk kembali ke Tremas. Terkhusus Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan, ada pesan istimewa yang diamanatkan oleh Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

“Sesampai di Tremas, lekaslah engkau pergi ke Semarang. Temui kiai Sholeh. Sampaikan surat ini kepadanya. Mengabdilah kepadanya dan apa pun perintahnya, kamu harus taat dan patuh.”

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Singkat cerita, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan pun menjadi menantu Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat menggantikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.[]


* Oleh: Imam Muhtar
Read More

KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri


rumahnahdliyyin.com - 24 Agustus 2004 silam, Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, hujan air mata. Berduyun-duyun tangis serta sesenggukan terus kian menumpah sejak selepas waktu Isya' di hari Senin malam Selasa itu.

Syaikhina KH. Cholil Bisri, nama inilah yang telah membuat air mata para santri yang diikuti oleh masyarakat Rembang terkuras. Kepergiannya ke haribaan Yang Maha Pencipta waktu itu, sungguh membuat para santri terpukul. Juga menggodamkan kesedihan yang sangat mendalam bagi masyarakat Rembang.

Baca Juga: Kontribusi HTI Untuk NKRI

Abah, begitu para santri memanggil kiai Cholil, merupakan sosok kiai yang sangat mencintai santrinya. Beliau tidak pernah ridlo bila ada santri yang diperlakukan dengan kekerasan. Tidak boleh ada santri yang karena suatu kesalahan, kemudian dihukum dengan cara dipukul atau sejenisnya. Dengan demikian, beliau menekankan kepada para pengurus pondok untuk senantiasa memupuk kesabaran.

Kiai Cholil juga sosok kiai yang sangat menghormati kemerdekaan. Hal itu terbukti dalam sistem yang diberlakukan di pondok yang diasuhnya. Karena pondok tidak memiliki sekolah formal, para santri yang ingin sekolah formal pun diberi keleluasaan untuk memilih sekolah yang diinginkan di luar pondok. Baik sekolah ke-Islam-an sepeti MTs/MA ataupun sekolah umum seperti SMP/SMA/SMK. Tentu saja dengan catatan tidak boleh sampai mengganggu peraturan dan kegiatan yang telah ditetapkan dan berlaku di pondok.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

"Kamu boleh melakukan apa saja, yang penting ngaji," begitu dawuh yang sering disampaikan kiai yang diakhir hayatnya masih mengemban amanat sebagai Wakil Ketua MPR RI kepada para santrinya itu.

Sepintas, dawuh beliau di atas memang terbaca sangat sederhana. Namun, apabila kita angen-angen, dawuh itu mengandung makna yang sangat dalam.

Pertama, beliau ingin santrinya supaya tidak berhenti ngaji atau belajar. Walaupun dalam keadaan apapun. Kedua, beliau menginginkan santrinya jangan takut untuk melakukan apa saja. Walaupun kemudian ternyata salah. Dan kesalahan itu adalah bagian dari proses belajar. Ketiga, beliau menginginkan santrinya supaya ketika melakukan apa saja jangan sampai tidak didasari dengan ilmu. Karena itu, harus belajar atau ngaji.

Baca Juga: Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Selain itu, kiai yang juga kakak dari Syaikhina KH. A. Mustofa Bisri dan juga ayah dari KH. Yahya Cholil Tsaquf (Katib 'Aam PBNU) juga Gus Yaqut Cholil Qoumas (Ketum GP. Ansor) ini, tawadlu'nya sangat luar biasa. Contohnya, pernah beliau tidak sepakat dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam suatu hal, namun beliau tidak menyampaikannya secara langsung. Bukan pula kemudian diumumkan dipublik. Melainkan beliau menyampaikan kepada kiai lain yang menurut beliau "setaraf" atau punya "maqom" lebih tinggi dari Gus Dur. Pendek kata, meski kealiman beliau tidak ada yang meragukan, namun beliau masih merasa ada kiai lain yang lebih alim, termasuk Gus Dur.

Akhirnya, semoga para santri beliau bisa meneladani dan mengamalkan apa yang telah didawuhkan dan diajarkan oleh beliau. Dan berhubung hari ini tepat 7 Rojab dimana beliau telah dipanggil oleh Allah SWT. sebagaimana menurut penanggalan tahun Hijriyyah, marilah kita langitkan doa untuk beliau. Lahul-Fatihah... []



* Oleh: Agus Setyabudi, Alumni PP. Raudlatut Thalibin Rembang, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

KH. Muhammad Nur: Perintis Pondok Pesantren Langitan


rumahnahdliyyin.com - Salah satu Pondok Pesantren tertua di Indonesia, yang hingga hari ini masih bisa kita jumpai dan aktif adalah Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Bertempat di samping Bengawan Solo, Pondok Pesantren yang awalnya hanya sebuah surau kecil itu kini luasnya mencapai sekitar tujuh hektar-an dengan jumlah santri lebih dari lima ribu-an.

Muhammad Nur. Itulah nama kiai yang menggelar pengajian di surau kecil itu waktu itu. Selain menggelar pengajian, KH. Muhammad Nur juga melakukan penggemblengan supaya yang belajar kepada beliau juga bisa dan mampu untuk meneruskan perjuangan dalam usaha mengusir penjajahan Belanda (Kompeni) dari bumi Nusantara.

Baca Juga: (Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari)

Dari segi nasab, KH. Muhammad Nur bukanlah orang sembarangan. Beliau masih termasuk keturunan Mbah Abdurrahman atau Pangeran Sambu, Lasem. Sedangkan orang tuanya sendiri adalah seorang kiai dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Awalnya, orang-orang yang belajar kepada KH. Muhammad Nur di surau kecil itu hanyalah tetangga-tetangga dekat rumahnya saja dan para sanak keluarganya sendiri. Namun, berkat keikhlasan, keistiqomahan, ketekunan dan komitmen beliau dalam membimbing umat, akhirnya orang-orang dari luar daerah pun terpikat untuk berguru juga kepada beliau.

Karena itu, pada tahun 1852, bangunan surau kecil itu tak lagi dikenal sebagai surau. Melainkan sebagai Pondok Pesantren Langitan.

Baca Juga: (Ijazah Do'a Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari)

Orang-orang yang berguru kepada KH. Muhammad Nur berasal dari berbagai daerah. Baik dari Jawa sendiri, maupun dari luar Jawa. Dan beberapa dari mereka, ternyata dikemudian hari menjadi kiai dan ulama besar.

Diantara mereka adalah yang sekarang kita kenal dengan KH. Kholil bin Abdul Lathif atau yang lebih akrab dengan sebutan Syaikhona Kholil Bangkalan. Ada lagi yaitu KH. Hasyim Asy'ari atau yang sekarang digelari dengan Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari.

Selama tiga tahun, KH. Hasyim Asy'ari belajar dibawah asuhan KH. Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan ini. Beliau juga sempat menangi dan berteman dengan KH. Kholil Bangkalan selama enam bulan di Pondok Pesantren Langitan ini.

Selain dua kiai kondang diatas, para orang tua tokoh-tokoh NU juga berguru kepada KH. Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan yang awalnya surau itu. Seperti halnya KH. Syamsul Arifin (ayah KH. As’ad Syamsul Arifin), KH. Shiddiq (ayah KH. Ahmad Shidiq) dan KH. Wahab Chasbullah (ayah KH. Abdul Wahab Chasbullah).

Baca Juga: (Syaikhona Kholil Bangkalan)

KH. Muhammad Nur sendiri, mengasuh Pondok Pesantren Langitan ini selama kurang lebih 18 tahun. Yaitu antara tahun 1852 hingga 1870 M. Cita-cita luhur dan semangat beliau dalam membidani berdirinya Pondok Pesantren Langitan ini sungguh sangat dirasakan manfa'atnya masyarakat luas hingga hari ini.

Setelah KH. Muhammad Nur wafat, yaitu pada hari Senin, 30 Jumadil Ula tahun 1297 H. yang dimakamkan di komplek Pesarehan Sunan Bejagung Lor, Tuban, tampuk pimpinan kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan pun dilanjutkan oleh putra beliau, yaitu KH. Ahmad Sholeh.

Akhirnya, untuk para kiai yang namanya disebutkan diatas, terkhusus untuk KH. Muhammad Nur dan masyayikh Pondok Pesantren Langitan lainnya, lahum Al-Fatihah... []


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
Read More

Syaikhona Kholil Bangkalan


rumahnahdliyyin.com - Bila berbicara tentang Ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, yaitu Nahdlatul Ulama, maka nama KH. Kholil bin Abdul Lathif tidak bisa tidak harus disebutkan. Sebab, lantaran beliaulah organisasinya para ulama itu akhirnya dibentuk dan didirikan.

KH. Mohammad Kholil bin Abdul Lathif, atau yang lebih akrab ditelinga dengan nama Syaikhona Kholil Bangkalan, lahir pada hari Selasa, 11 Jumadil Akhir, tahun 1235 Hijriyah atau yang dalam penanggalan Masehi bertepatan dengan tahun 1820 Masehi.

Baca Juga:
Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa
Muslim Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Dari ayahnya, yaitu kiai Abdul Lathif, nasab Syaikhona Kholil bersambung hingga Sunan Gunung Jati. Secara berurutan, nasab tersebut yaitu Syaikhona Kholil bin Abdul Lathif bin Hamim bin Abdul Karim bin Muharram bin Asra Al-Karomah bin Abdullah bin Sayyid Sulaiman Mojo Agung bin Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Semenjak kecil, Syaikhona Kholil mendapatkan pendidikan langsung dari ayahnya sebelum kemudian melakukan pengembaraan mencari ilmu ke pulau Jawa. Pesantren Langitan yang diasuh oleh kiai Muhammad Nur, pernah beliau cecap ilmunya pada sekitar tahun 1850-an.

Selepas dari Pesantren Langitan, Tuban, Syaikhona Kholil kemudian belajar ke Pesantren Cangaan, Bangil, yang diasuh oleh kiai Asyik Seguta. Dari sini, Syaikhona Kholil kemudian menuju ke Pesantren Koboncandi.

Ketika di Pesantren terakhir ini, Syaikhona Kholil juga sembari belajar di Pesantren Sidogiri yang diasuh oleh kiai Noer Hasan. Jarak antara Keboncandi dan Sidogiri yang lumayan jauh, yakni tujuh meter, ditempuh oleh Syaikhona Kholil dengan berjalan kaki sembari wiridan surat Yasin.

Baca Juga:
Ijazah Do'a Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari
Imam Sibawaih-nya Papua

Selama menjadi santri, Syaikhona Kholil dikenal sebagai ahli tirakat. Kendati ayahnya tergolong mapan dari segi ekonomi, namun Syaikhona Kholil tidak mengandalkan orang tuanya. Untuk menyokong keperluan di Pesantren, beliau pernah menjadi buruh batik. Bahkan, beliau juga tak segan menjadi buruh pemetik kelapa demi untuk mewujudkan niatnya yang ingin belajar ke Haromain.

Walhasil, ketika berusia 24 tahun dan sudah menikah dengan Nyai Asyik (puteri dari Londro Putih), Syaikhona Kholil pun berangkat ke Haromain. Mengingat bekalnya yang tidak seberapa, Syaikhona Kholil pun menggunakan waktu luangnya selama belajar untuk bekerja menjadi tukang khoth. Kerap juga beliau memakan kulit semangka.

Diantara para guru Syaikhona Kholil selama di Haromain yaitu Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Ahmad Khatib Sambas, Syaikh Abdul Adzim Al-Maduri dan Syaikh Nawawi Al-Bantani.

Baca Juga:
Kisah Masa Kecil Rasulullah Bersama Ibunya
Islam Bhinneka Tunggal Ika

Dengan penuh kesungguhan yang disertai dengan tirakat selama belajar, maka tak heran bila kemudian Syaikhona Kholil dikenal sebagai seorang yang 'alim dan sufi. Karena itu, beliau bak magnet bagi masyarakat untuk mempercayakan anak-anak mereka supaya dididik oleh beliau.

Di Cengkubuan, Bangkalan, Madura, akhirnya beliau membuat Pesantren. Namun, ketika puteri beliau, Fathimah, telah beliau nikahkan dengan kiai Muntaha, Pesantren itu diserahkan kepada menantunya tersebut. Sedangkan beliau pindah menuju ke Kademangan yang juga masih di Bangkalan dan mendirikan Pesantren lagi.

Baca Juga:
Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits
Ahlussunnah wal-Jama'ah

Hampir seluruh murid-murid Syaikhona Kholil berhasil menjadi ulama dan kiai besar. Diantaranya yaitu Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Ma’shoem Lasem, KH. Cholil Harun Rembang, KH. Faqih Maskumambang, KH. Ridlwan Abdullah, KH. Sholeh Lateng, KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz, KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Hasan Genggong, KH. Achmad Shiddiq, KH. Zaini Mun’im Paiton, KH. Abdul Karim Lirboyo, KH. Munawir Krapyak, KH. Romli Tamim, dll.

Usia Syaikhona Kholil tergolong sangat panjang. Beliau wafat ketika usia beliau menginjak 105 tahun. Tepatnya yaitu pada tanggal 29 Romadlon 1343 H. atau 1925 M. Setahun sebelum Nahdlatul Ulama yang beliau restui didirikan. Dan pasti dunia benar-benar merasa kehilangan salah satu ulamanya ketika itu. Lahu Al-Fatihah... []


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Imam Sibawaih-nya Papua

Kiai Ahmad Misri saat menjadi juri Lomba Cipta dan Baca Puisi dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.
muslimpribumi.com - Belum tiga menit menunggu air panas, Nokia jadul saya berdering. "Kulo sampun teng griyo, niki," suara hape saya berbicara.

Bergegas saya meluncur ke sumber suara. Keinginan hati hendak ngopi, saya urungkan. Tak lebih 10 menit kemudian, saya sudah di depan pintu kediaman lelaki paruh baya yang beberapa menit lalu telah memantulkan suaranya di hape saya tadi.

Rona ramah dari wajahnya menyambut kedatangan saya malam itu. Ramah yang tidak dibuat-buat dan senantiasa memancar untuk semua orang itu bak oase yang mampu menentramkan hati saya yang agak kalut malam itu.

Lelaki itu bernama Ahmad Misri. Orang-orang biasa memanggilnya dengan pak Misri. Meski saya belum begitu lama mengenalnya, namun dari simpul-simpul pertemuan saya dengannya yang lumayan sering, ada keyakinan dalam hati saya bahwa beliau kurang pantas bila hanya dipanggil dengan "pak Misri."

Mendengar rencananya hendak mendirikan pondok pesantren yang dalam waktu dekat ini akan segera dimulai pembangunannya, saya jadi teringat KH. Kholil Harun, Kasingan, Rembang. Berdasar cerita yang saya dapat, santri-santri jaman dahulu itu belum merasa puas dan sempurna ngajinya bila belum nyantri kepada tiga kiai yang salah satunya adalah beliau. Ketiga kiai itu yaitu KH. Hasyim Asy'ari di Tebuireng untuk ngaji Hadits, KH. Dimyathi di Termas untuk ngaji Fiqh dan KH. Kholil Harun untuk mematangkan ilmu alat.

Cerita pak Misri terkait rencana model bangunan pondoknya yang "wah", sama sekali tak mengingatkan saya pada KH. Kholil Harun. Yang mengingatkan saya pada kiai yang berjuluk Imam Sibawaih-nya Tanah Jawa itu yaitu misinya yang hendak menjadikan ilmu alat sebagai fokus utamanya. Kalau Imam Sibawaih-nya Jawa sudah ditemukan pada jaman old, yaitu KH. Kholil Harun, baru di jaman now ini Imam Sibawaih-nya Papua diketemukan. Setidaknya Imam Sibawaih-Nya Papua versi saya.

Meski saya sempat mengingatkan pada beliau bahwa kayaknya masyarakat sekarang lebih tertarik memasukkan anak-anaknya ke pondok pesantren Tahfidz daripada ilmu alat, beliau hanya senyum saja. Dan akhirnya saya pun harus mendoakannya semoga apa yang mulai dirintisnya ini bisa menjadi penyeimbang terhadap ustadz Wahabi yang berada di Sorong ini, yaitu ustadz Firanda.

Akhirnya, mari kita langitkan do'a bersama-sama untuk kelancaran pembangunan pondok pesantren yang hendak diberi nama dengan Al-Hikmah itu. Meski bangunan pondoknya belum jadi, pak Misri sudah melakukan penggemblengan ilmu alat pada beberapa anak-anak muda di sekitarnya.

Satu yang tak mampu saya lupakan dari pertemuan saya dengan pak Misri malam itu hingga saya menuliskan ini adalah perkataannya pada saya ditelpon itu. Sungguh saya tidak pantas untuk "dibosoni" oleh beliau.

Dan ditengah maraknya orang-orang dengan mudahnya menyematkan "gelar" didepan nama seseorang dengan "ustadz", biar saya agak kekinian juga karena mengikuti mode termutakhir itu, maka saya ingin juga menyematkan "gelar" didepan nama pak Misri dengan "kiai"; Kiai Ahmad Misri.

Dari segi kealiman, saya kira lelaki kelahiran Banyuwangi ini belum ada bandingnya di Papua ini (Setidaknya di Sorong ini). Dan melihat bahasa Jawa-nya yang ditujukan kepada saya yang notabene bukan siapa-siapa dengan menggunakan bahasa Jawa yang "berkasta" agak tinggi, saya kira bisa dijadikan cerminan akhlaqnya. Lebih dari itu semua, beliau sudah dan sedang bermanfaat. Khususnya di bidang keilmuan agama Islam.

Salam.

Oleh: Agus Setyabudi, Khodim di Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More