rumahnahdliyyin.com, Jombang - Pesantren Tebuireng kedatangan seorang tamu warga negara Jepang. Namanya Yasuko Kobayashi. Ia seorang profesor dari NanZan University Jepang dan juga seorang peneliti sosial budaya Asia.
Di NanZan University Jepang, Prof. Yasuko merupakan dosen pengampu mata kuliah Sejarah Indonesia. Karena itu, ia sangat tertarik dengan Islam dan dunia pesantren. Sebab, tidak bisa dipungkiri bahwa Islam dan pesantren merupakan ornamen penting dalam narasi besar sejarah Indonesia.
Ia ingat betul pada tahun 1984 ketika ia untuk pertama kalinya berkunjung ke Pesantren Tebuireng. Ketika itu, santri puteri masih dilokasikan di Pesantren Al-Masruriyyah yang diasuh oleh Nyai Hj. Khodijah, puteri dari KH. M. Hasyim Asy’ari dan Nyai Hj. Masruroh.
Pada tahun 2009, ia kembali mengunjungi Pesantren Tebuireng. Tepatnya yaitu ketika wafatnya Presiden RI ke-4, yakni KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kemudian ia berkunjung lagi pada tahun 2015 dengan keperluan untuk melakukan observasi Muktamar NU ke-33 yang diselenggarakan di Jombang.
Setelah melakukan observasi Muktamar NU ke-33 empat tahun yang lalu, kini ia kembali mengunjungi Pesantren Tebuireng dengan tujuan untuk melihat perkembangan Pesantren Tebuireng. Khususnya, perkembangan santri puterinya.
“Kunjungan saya ke Indonesia kali ini dalam rangka mengantar mahasiswa ke Jogjakarta untuk mengikuti kursus Bahasa Indonesia. Saya memanfaatkan waktu ini untuk berkunjung ke Jombang. Selama saya di Jombang ini, rekan saya yang menemani,” jelas Prof. Yasuko Kobayashi pada Rabu, 7 Maret 2018 kemarin lusa, sebagaimana dilansir oleh Tebuireng Online.
Prof. Yasuko menjelaskan bahwa NanZan University Jepang mempunyai fokus studi sosial dan budaya di negara-negara Asia yang mana memiliki aneka ragam budaya dan bahasa. Dan salah satu negara Asia tersebut adalah Indonesia.
Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara
Tiap tahun, dalam proses pembelajaran mengenai kebudayaan Indonesia, NanZan University Jepang mengadakan lomba pidato Bahasa Indonesia yang dibantu oleh KBRI dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Terkadang, beberapa mahasiswa juga memainkan gamelan.
Selain meninjau perkembangan Pesantren Tebuireng, Prof. Yasuko juga ingin membuktikan bahwa para santri saling berinteraksi antar lawan jenis dalam hal positif dan juga dengan orang lain di luar pesantren.
“Jepang mengenal muslim itu sangat menakutkan. Terutama ISIS. Maka dari itu, saya sangat senang membawa mahasiswa saya ke sini untuk melihat kenyataan bahwa anak pesantren juga berani bergaul dengan teman-teman dari luar. Dan supaya saling memahami,” jelas pimpinan Departemen Studi Asia Fakultas Studi Luar Negeri Nanzan University Nagoya Jepang itu.
Akhir-akhir ini, tambah Prof Yasuko, berita dari Indonesia yang beredar di Jepang menuai pertanyaan; apakah sikap toleran mulai berkurang atau wajah moderat Islam Indonesia itu berubah? Maka dari itu, ia berinisiatif mengajak beberapa mahasiswanya untuk menjawab kekhawatiran itu.
“Jasa Gus Dur sangat besar untuk memperkenalkan wajah Islam di seluruh dunia. Saya membaca banyak karya Gus Dur dari kecil hingga besar. Lebih dari 300 buku yang saya baca. Dan saya sangat kagum. Orang-orang yang mempelajari Indonesia, cukup memahami jasa Gus Dur. Saya pun menjadi semacam GusDurian Jepang,” papar Yasuko ketika berbicara mengenai wajah Islam yang sebenarnya yang ternyata ia dapati dari Gus Dur.
Prof. Yasuko juga menyampaikan kesannya mengenai perkembangan pesantren di Indonesia selama 30 tahun terakhir ini. Ia menemukan fakta bahwa pesantren di Indonesia terus mengalami perkembangan dan memiliki banyak variasi dan tipologi.
“Dalam perkembangan itu, saya kira Tebuireng tetap menjadi satu panutan. Perkembangn pesantren merupakan salah satu bukti bahwa Islam mengikuti zaman. Dan pesantren menjadi suatu agen transformasi bagi masyarakat,” ungkap Prof. Yasuko yang juga bisa lancar dalam bahasa Indonesia. []
(Redaksi RN).
* Sumber: tebuireng.online



