Tampilkan postingan dengan label GP. Ansor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GP. Ansor. Tampilkan semua postingan

Yaqut Cholil Qoumas, Tak Kemplang Kowe!


rumahnahdliyyin.com - Ini cerita tentang masa bujangan antara saya dan Yaqut Cholil Qoumas di masa mahasiswa, di penghujung era 90-an. Di kampus, saya semeja dengannya. Dalam demo '98, saya sering satu barisan dengannya. Di rumah kontrakan di gang sempit di kawasan Pasar Minggu, saya sering tidur satu kasur bersamanya. Dia pacaran, saya mengawal dia. Saya pacaran, dia mengawal saya. Ke mana-mana dia naik bis kota atau angkutan umum, kecuali sedang bersama saya, ia pasti saya bonceng di sepeda motor rombeng saya.

Di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, dia ngontrak satu rumah kecil di gang kecil. Di rumah itu ada dua kamar tidur, satu musholla, satu dapur dan satu kamar mandi. Di kamar depan, Yaqut tidur seorang diri. Di kamar belakang, ada 2 temannya, Fuad dan Marno. Kalau saya sedang di sana, saya tidur di kamar Yaqut atau Yaqut yang tidur bersama saya di ruang tamu yang kecil tanpa bangku apapun dan dialas karpet plastik warna cokelat, sambil nonton televisi butut karena untuk pindah channel kami biasa melakukannya pakai kaki.

Baca Juga: Jasa Pak Harto Atas NU

Di masa kuliah itu, banyak kawan saya tahu bahwa saya seperti kalong, alias tidak punya tempat yang tetap. Apalagi saat itu belum ada handphone, makin susah melacak posisi saya berada. Saya biasa tidur di bilangan Rawasari atau Pasar Minggu atau Ciputat atau Rangkasbitung atau Cibinong atau Joe atau Lenteng Agung. Namun sebagai orang yang sok ganteng dan banyak berkenalan dengan cewek, saya seringkali memberi nomor telpon rumah saya dengan rumah kontrakan Yaqut kepada pacar baru. Jadi Yaqut tahu benar kalau saya punya banyak pacar, sementara dia cuma bisa berteori tentang bagaimana merayu cewek.

Di kampus Driyarkara, Jakarta, saat itu saya dan Yaqut, biasanya ditemani oleh Fikri, kami bertiga sering berdiskusi soal politik, terutama tentang kekuasaan Orde Baru yang saat itu tengah goyang. Ia bahkan meminta saya agar tidak belajar filsafat mulu untuk memotret kenyataan bangsa saat itu. Lalu ia setengah memaksa saya membaca buku karangan L. Laeyendecker yaitu: Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Saya pun membacanya sampai tuntas.

Baca Juga: Radikalisme antara Suriah dan Indonesia

Namun sayang, di kampus itu ia cuma sebentar saja dan memilih menuntaskan studinya di jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Indonesia. Meski ia sudah tidak aktif di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, persahabatan kami terus berlanjut. Di rumah kontrakannya itulah saya banyak membaca tuntas buku-bukunya, mulai dari Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno hingga Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie.

Fuad dan Marno biasa manggil “Gus” ke Yaqut. Kalau saya biasa manggilnya “Yaqut” saja, kecuali kalau lagi iseng ngecengin dia, saya panggil dia “Gus”. Dia pun begitu, memanggil saya nama saja, kecuali lagi ngecengin saya, ia memanggil saya “Pak Haji”.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Dia yang Lucu
Di mata saya, Yaqut adalah tipe orang yang lucu. Ia suka humor, apalagi humor tingkat tinggi. Namun, orangnya senang jail sama orang. Ia selalu bersikap baik pada kawan dan perhatian betul sama perut kawan. Ia tahu saya lebih sering bokek ketimbang pegang uang, maka ia selalu mengajak saya ke warung nasi langganannya, yang dari gang kecil rumah kontrakannya masuk lagi ke gang yang super kecil menuju warung nasi itu.

Hidupnya sederhana dan tidak pernah menyombongkan diri, kecuali dalam konteks becanda. Padahal saat itu bapaknya yang terkenal sebagai tokoh NU dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH. Muhammad Cholil Bisri, adalah anggota DPR/MPR. Saya beberapa kali diajak Yaqut menemui bapaknya, biasanya di Hotel Hilton (sekarang Hotel Sultan). Sebagai anak pejabat negara, ia benar-benar tidak menunjukkan kebanggaan. Biasa saja.

Baca Juga: Kekecualian Nahdlatul Ulama

Ia tipe muka preman berhati santri. Lagu kesukaannya saat itu ialah lagu-lagu Paquita Wijaya. Ia menikmati pop jazz, meski sesekali ia dengarkan musik klasik agar di depan saya ia bisa membuktikan diri bahwa ia pengikut sejati Gus Dur. Ia juga cukup rajin membaca buku. Terbukti dari buku-bukunya yang saya baca, banyak yang ia tandai garis bawah dengan pena atau diblok dengan stabilo. Ia, seperti Fikri, pun rajin membaca koran dan majalah.

Bibit Kepemimpinan
Dalam kesehariannya, jika terdapat masalah, ia terlihat menyimak betul pengaduan yang sampai padanya. Ia seperti orang yang berhati-hati dalam mengambil keputusan. Di sisi lain, ia tipe orang yang secara intuitif tajam. Ia merasakan bahwa si anu sedang bicara bohong padanya, maka ia mendengar dengan khusyu’ kebohongan orang itu, meski secara intuitif dia yakin orang di hadapannya atau di ujung telepon sana sedang berbohong padanya. Maka di lain waktu, ia katakan kepada saya sambil menunjukan kebenaran-kebenaran intuisinya.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Dalam aksi-aksi di Universitas Indonesia, saya juga sering dikasih tahu sama dia, si orang itu kalau ngomong isinya pasti A, si anu pasti ngomong B. Giliran orang itu bicara di podium, apa yang dikatakan Yaqut tak jauh berbeda.

“Orang oportunis kalau ngomong ya gak jauh dari tema-tema itu,” katanya dengan kesal kepada salah satu utusan ILUNI UI yang saat itu tampil berorasi.

Kemampuannya dulu dalam melakukan analisis persoalan dan kepekaan intuisinya dalam memotret fenomena merupakan modal yang kuat baginya untuk menjadi pemimpin. Sikapnya yang dulu saya kenal bijak, sederhana dan tidak sombong, apalagi senang humor, merupakan kekayaan yang dibutuhkan dalam kepemimpinan bangsa ini.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Sekarang, konon Yaqut telah berada di lingkaran kekuasaan. Selain ia duduk sebagai anggota DPR RI, kini ia sedang menjadi orang yang berpengaruh di negeri ini karena ia sebagai Ketua Umum GP. Ansor.

Sejak ia memutuskan pulang ke Rembang, Jawa Tengah, saya tidak lagi pernah bertemu dengannya. Saya hanya mendengar dari kejauhan bahwa ia telah menikah dan menjadi politisi. Dari menjadi anggota DPRD dan Wakil Bupati Rembang, hingga menjadi anggota DPR RI dan Ketua Umum GP. Ansor.

Kini, fotonya dan pernyataan-pernyataannya tentang situasi negeri ini telah menghiasi media sosial dan media online yang sampai pada saya. Ia terlihat lebih gemuk dari yang saya kenal dulu saat masih bujangan.

Baca Juga: Fenomena Nissa Sabyan dan Bahasa Arab

Dulu ketika pacarnya di wisuda di IPB, Bogor, Jawa Barat, dia berharap saya bisa mengantarnya ke sana. Sebagai sahabat, saya pun mengantar Yaqut menemui pacarnya yang sedang bersuka cita karena diwisuda. Pada kesempatan itu, kami berfoto bertiga. Seingat saya, Yaqut tidak segemuk ini. Foto kami bertiga itu sempat lama tersimpan, namun sekarang entah di mana. Apakah istrinya adalah pacarnya yang saya kenal itu, saya pun tidak tahu. Saya dan Yaqut putus komunikasi sejak lama.

Yaqut, dia tetap sahabat saya. Saya merasakan bahwa ia adalah orang yang berpotensi menjadi pemimpin besar di negara ini. Karena itu, saya berharap dia bisa menunjukkan sikap-sikapnya yang bijaksana dan tenang. Bersikap rasional dan selalu mengasah ketajaman intuisinya seperti dulu. Saat ini Yaqut bukan hanya perlu bersikap tenang, namun lebih dari itu ia harus bisa tampil menenangkan negeri ini.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Ketika dilaporkan ke pihak kepolisian oleh sejumlah pengacara terkait pembakaran bendera yang diduga milik HTI di mana ada kalimat tauhid pada bendera itu (23/10/2018), Yaqut terlihat tenang bahkan ia bilang “saya tinggal ngopilah.”

Pada satu sisi, sikap seperti ini perlu ditunjukkan pada publik bahwa ia sedang tidak gaduh atau galau. Namun, publik lebih butuh bagaimana Yaqut bisa membawa GP. Ansor dan Bansernya melayani umat setenang dan sekhidmat mungkin agar bangsa yang dikenal beradab ini bisa sukses menjaga NKRI dengan bandrol harga mati.

Yaqut harus bisa menunjukan perbedaan dari pemimpin-pemimpin GP. Ansor yang terkesan frontal di masa lalu. Dia pasti bisa. Sebab, saya tahu ia punya potensi besar dari perjalanan yang tidak instan. Dari kejauhan, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.

“Yaqut, lu harus jadi pemimpin yang keren. Kalo gak, tak kemplang kowe, GUS!"

Salam rindu!



* Oleh: Chavchay Syaifullah.
Read More

Gus Mus Tekankan Niat Dalam Launching Santriversitas


rumahnahdliyyin.com, Rembang – Lembaga Bimbingan Belajar untuk para santri yang ingin melanjutkan studi pada jenjang pendidikan tinggi, Santriversitas, diluncurkan secara Nasional pada Selasa siang kemarin, 3 April 2018, di Aula Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang. Yayasan MataAir Indonesia dan Gerakan Pemuda Ansor pun tampak mendukung acara Launching Nasional Santriversitas tahun 2018 itu.

Terpantau hadir dalam acara tersebut yaitu Ketua Umum Santriversitas (Chumaedi), Ketua Yayasan MataAir Indonesia (Achmad Solechan) dan Koordinator Wilayah Jawa Tengah Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (Mujiburrachman).

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Selain itu, tampak hadir pula para tamu undangan. Diantaranya yaitu Bupati Rembang (Abdul Hafidz), Kapolres Rembang (AKBP. Pungky Bhuana Santoso) dan kiai Chatib Mabrur (pengasuh Pondok Pesantren Al-Abidin, Pondok Pesantren yang menjadi tempat pelaksanaan Santriversitas di Rembang).

Launching ini ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Yayasan MataAir Indonesia yang kemudian diserahkannya kepada KH. Ahmad Mustofa Bisri yang selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan MataAir Indonesia.

Baca Juga: Gus Mus: Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

Tahun ini, Santriversitas hadir di 13 kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang meliputi Rembang, Demak, Cirebon, Sleman, Bantul, Magelang, Depok, Serang, Ambon, Jakarta Barat, Blora, Semarang dan Malang.

“Santriversitas ini untuk mengantarkan santri supaya bisa mendapatkan hak belajar ke jenjang yang lebih tinggi, universitas,” kata Ketua Umum Santriversitas, Chumaedi, sebagaimana dilansir pada laman radio lokal di Rembang, mataairradio.com

Di Rembang sendiri, Santriversitas akan digelar mulai 15 April hingga 5 Mei mendatang.

Baca Juga: Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Sementara itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri, yang akrab disapa dengan Gus Mus, ketika memberikan taushiyyah selepas acara potong tumpeng, meminta kepada para pemangku di Santriversitas agar menanamkan niat secara benar.

“Saya minta pertama kali, yang harus Anda tanamkan adalah niat. Niat ini yang akan membimbing kita,” pesan Gus Mus.

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Menurut Gus Mus, dahulu, santri zaman old, ketika berangkat ke pesantren itu niatnya sederhana, yakni menghilangkan kebodohan. Padahal, kebodohan itu tidak bisa hilang. Karena itu, harapannya, santri di Santriversitas meniatkan yang sama.

“Semakin pandai, Anda merasa bodoh. Anda boleh tidak sekolah, tapi tidak boleh berhenti belajar. Banyak yang berhenti belajar karena merasa pandai,” tutur Gus Mus kemudian.

Baca Juga: Gus Mus: Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Gus Mus juga mengingatkan bahwa apabila yang diniatkan hanya duniawi, maka mungkin dunia didapat. Tetapi urusan akhirat, bisa keteteran.

“Orang Islam sekarang, karena niatnya salah, kalau bicara soal masa depan, selalu berhenti pada usia tua. Padahal menurut Islam, masa depan itu adalah hari akhir,” tutur Gus Mus kemudian.[]
(Redaksi RN)
Read More

Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Acara Launching Angkringan GP. Ansor Rembang di Jl. Kiai Bisri Mustofa, Leteh, Rembang.

muslimpribumi.com - Di Semarang, Solo ataupun daerah lain di Jawa Tengah, termasuk pula Jogja, angkringan sangat akbrab di mata. Di pusat keramaian maupun di pinggir-pinggir jalan, ia begitu mudah bisa didapati.

Angkringan biasanya terbuat dari kayu dan papan yang berbentuk gerobak. Dengan beratapkan terpal, jenis lapak yang menjajakan makanan dan minuman ini bisa memuat enam hingga delapan orang. Dan tak jarang pula, si empunya lapak juga menyediakan tikar bila pembeli melimpah atau pembeli menginginkan duduk lesehan.

Bisa dikatakan, angkringan merupakan salah satu tempat yang merakyat. Dari mulai para mahasiswa, karyawan, bahkan pejabat, bisa nyaman menikmati suasananya.

Untuk memberdayakan ekonomi bagi para kadernya, baru-baru ini Gerakan Pemuda Ansor di Kabupaten Rembang, meluncurkan program angkringan di tiap kecamatan. Peluncuran yang dikemas dengan acara “ngangkring bareng" santri dan warga di sepanjang Jalan Kiai Bisri Mustofa, Leteh, Rembang, pada Sabtu sore, 13 Januari kemarin ini dilanjutkan dengan menyantap nasi, lauk dan kopi ala angkringan.

“Tiap kecamatan diberi satu unit gerobak angkringan. Lengkap dengan "uborampe" yang dibutuhkan. Ini ikhtiyar kita mewujudkan visi besar Nahdlatul Ulama dan Ansor untuk meningkatkan kemandirian dan perekonomian kader,” terang Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang M. Hanies Cholil Barro.

Selain sebagai upaya untuk mewujudkan kemandirian perekonomian organisasi dan kader, ternyata program ini juga bertujuan supaya masyarakat bisa menjadi lebih dekat dengan Ansor. Termasuk bisa bekerjasama dalam hal yang lainnya.

“Sebelum diluncurkan, operator per-kecamatan mengikuti pelatihan singkat pengelolaan angkringan. Pelatihan tentang pelayanan prima terhadap konsumen pun diberikan,” lanjutnya kemudian.

Selain Standar Operasional Prosedur (SOP) angkringan telah diberikan, Departemen Perekonomian Ansor di level kabupaten juga sudah memberikan pedoman tentang produk yang boleh dan dilarang dijual di angkringan tersebut.

“Untuk mengendalikan mutu dan kelanjutannya, Departemen yang membidangi akan selalu melakukan kontrol per-pekannya. Dengan upaya semacam ini, diharapkan angkringan Ansor bisa berkembang dengan pesat,” tandas pria yang akrab dipanggil dengan Gus Hanis ini.

Wakil Ketua Bidang Perekonomian Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang, Nadhief Shidqi, menambahkan, operator angkringan di tiap kecamatan terhubung secara online dengan Departemen Perekonomian. Setiap kasus, termasuk ide-ide inspiratif akan didiskusikan tiap harinya melalui layanan grup whatsapp. Dengan demikian, harapannya, setiap persoalan dan ide segar akan secara cepat diatasi serta SOP pun dapat dipantau penerapannya secara tepat.

Sumber: mataairradio.com
Read More