Tampilkan postingan dengan label KH. Yahya Cholil Staquf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KH. Yahya Cholil Staquf. Tampilkan semua postingan

Soal Islam Nusantara, Gus Yahya: Orang Eropa Saja Tidak Bingung


rumahnahdliyyin.com | Surabaya - Memperingati datangnya bulan Muharrom, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, menggelar acara Gebyar Muharrom. Kegiatan yang ditutup dengan pengajian umum ini menghadirkan KH. Yahya Cholil Staquf, Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), akhir pekan lalu, di Karang Menjangan, Gubeng, Surabaya.

Dengan mengambil tema "Islam Nusantara di Era milenial", panitia berharap bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang istilah "Islam Nusantara" yang saat ini kembali menjadi pembahasan hangat di tengah masyarakat. Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh ketua panitia acara, Ustadz Zainul Muttaqin.

"Harapannya, masyarakat bisa lebih paham dengan apa yang dimaksud dengan Islam Nusantara," katanya.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Zaman Now

Sementara itu, Gus Yahya, sapaan akrab KH. Yahya Cholil Staquf, menjelaskan maksud dari Islam Nusantara yang menjadi tema Muktamar ke-33 NU di Jombang pada 2015. Menurutnya, jika ada orang Indonesia yang bingung dengan Islam Nusantara, orang itu mungkin hanya pura-pura bingung saja.

"Jadi, kalau ada orang Indonesia yang katanya bingung tentang Islam Nusantara, itu pura-pura aja, saya kira. Sebetulnya tidak bingung. Kalau bingung, biar dipikir-pikir sendiri. Lah wong orang Eropa saja tidak bingung, kok. Masa orang Karang Menjangan bingung, kan aneh toh? Saya kira begitu," jelas pengasuh Pondok Pesantren Leteh, Rembang, ini.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna untuk Manusia

Seluruh dunia, imbuh beliau, menyambut Islam Nusantara dengan gegap gempita sewaktu penetapan Islam Nusantara sebagai tema muktamar. Sudah lebih dari 48 negara datang ke PBNU untuk belajar tentang Islam Nusantara. Dan puluhan negara mengundang PBNU untuk datang, untuk datang dan berbagi tentang Islam Nusantara di negara itu. Bahkan ada harapan, dengan Islam Nusantara ini, Nahdlatul Ulama bisa memberikan sumbangan untuk perdamaian dunia.

"Salah satu media di Arab, yaitu Al-Arab, sampai membuat tulisan editorial. Bahwa Islam Nusantara merupakan jalan masuk menuju masa depan dunia Islam. Masa depan yang diwarnai dengan kedamaian dan harmoni," terang Gus Yahya.

Menurut beliau lagi, Islam Nusantara itu adalah yang seperti dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada kesehariannya.

Baca Juga: Khitah Islam Nusantara

"Sebab, Islam Nusantara itu mudah. Islam Nusantara, ya, kalian itu. Sampeyan Islam mboten? Islam nggeh? Karang Menjangan itu bagian Nusantara mboten? Ya, itulah Islam Nusantara," jelasnya.

Lebih lanjut, Gus Yahya membeberkan alasan pemberian nama khusus, Islam Nusantara. Alasannya adalah karena ada perbedaan.

"Kenapa diberikan nama yang khusus, Islam Nusantara? Kok tidak Islam saja? Kok pakai Islam Nusantara? Sebab memang ada perbedaan. Bedanya gimana? Acara seperti ini contohnya. Coba kalian cari model pengajian umum seperti ini di tempat lain," imbuhnya.

Baca Juga: Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu

"Apakah Islam Nusantara membuat madzhab baru? Tidak. Wudlunya, ya, sama dengan wudlunya Imam Syafi'i, rukunnya enam. Apa ada kiai mencontohkan dengan sebelas? Tidak ada," tambahnya lagi.

Pengajian seperti ini, menurut salah seorang Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini, merupakan bentuk konsolidasi sosial untuk memperkuat kohesi, keguyuban dan kerukunan masyarakat. Di samping itu , juga sebagai media penanda arah, sehingga masyarakat bisa mendapat inspirasi ke mana arah yang bisa diperjuangkan bersama.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

"Sebetulnya pengajian umum seperti ini lebih ke arah media untuk konsolidasi sosial. Kalau pendidikan, itu yang dilakukan oleh kiai-kiai ini sehari-hari. Kiai-kiai ini yang melakukan pendidikan ke generasi muda untuk memperbaiki akhlaknya, untuk mempersiapkan kekuatan lahir batinnya untuk menghadapi masa depan," tandas Gus Yahya.[]



nu.or.id
Read More

Gus Yahya: Saya ke Israel Bukan untuk Pengajian


rumahnahdliyyin.com - Kepergiannya ke Israel mengundang kontroversi di dalam negeri. Ia dianggap tidak berempati kepada perjuangan rakyat Palestina, bahkan ada yang memintanya mundur dari posisinya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Ia merasa tetap harus berangkat meski sadar akan risiko yang akan dihadapi.

Yahya Cholil Staquf mengatakan kehadirannya di American Jews Committee (AJC) Forum Global dua pekan lalu merupakan bagian dari pekerjaan panjang yang dirintis Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid. Sejak lengser dari posisi presiden pada 2001, Gus Dur menawarkan pendekatan moralitas agama dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel. Yahya, di forum itu, mengusulkan konsep rahmah sebagai jalan menuju damai.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Gus Yahya--sapaan akrabnya--juga diundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia juga banyak bercerita mengenai suasana Idul Fitri di Yerusalem. "Malam Idul Fitri di sana ramai sekali. Semua orang tumpah ke jalan," ujarnya saat ditemui wartawan Tempo Sunudyantoro, Reza Maulana, Diko Oktara dan Dini Pramita serta fotografer Fakhri Hermansyah pada Sabtu pekan lalu. Berikut ini cuplikan wawancara dengannya:

Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, bagaimana Anda menjelaskan kepergian Anda kepada pemerintah?

Pertama, saya sudah menginformasikan rencana kepergian ke Israel jauh-jauh hari. American Jews Committe (AJC) sudah bikin rilis internasional pada 14 Mei. Saya dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 31 Mei. Waktu itu saya belum tahu mau diangkat jadi anggota Wantimpres. Saya bilang saat itu, saya ada pekerjaan yang membuat saya sering pergi. Saya katakan 1-2 hari lagi mau ke Amerika Serikat, pulang sebentar, pergi ke Israel. Saya sudah jelaskan itu.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Anda tidak membicarakannya dengan Menteri Luar Negeri dan Presiden Jokowi?

Saya tidak punya akses ke Presiden. Tapi pesan saya, kan, sudah viral ke ibu Menteri Luar Negeri. Sudah saya jelaskan bahwa saya tetap akan berangkat karena menyangkut kredibilitas pekerjaan saya bertahun-tahun. Saya paham betul ini berisiko sejak awal, makanya saya tak segera menyanggupi.

Setelah kembali dari Yerusalem, ada keinginan bertemu dengan Presiden Jokowi?

Saya menunggu. Katanya Presiden mau memanggil. Kalau Presiden tanya, ya, saya jelaskan semua omongan saya apa, saya bertemu dengan siapa saja dan berbicara apa saja.

Kapan tawaran dari AJC datang?

Kira-kira Maret, jauh sebelum menjadi anggota Wantimpres. Saya tak berani langsung menjawab. Sebagai orang NU, saya berkonsultasi dengan kiai-kiai saya. Antara lain, Gus Mus (KH. Mustofa Bisri). Kiai-kiai saya membolehkan.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna untuk Manusia

Apa pesan Gus Mus?

Beliau bilang, saya boleh ke sana, tapi tidak boleh sekadar seperti orang-orang diundang pengajian, ha-ha-ha... Kan, sering muballigh kita diundang pengajian ke luar negeri, tapi cuma datang dan terus pulang. Maksud Gus Mus, ini merupakan pekerjaan yang akan punya dampak berkelanjutan yang membawa manfaat banyak, jangan cuma datang terus pulang.

Selain Gus Mus?

Ada sejumlah kiai dan tak ada yang menolak. Kiai-kiai ini tahu betul saya dan pekerjaan saya selama ini. Saya juga menghubungi teman-teman, termasuk yang di Israel. Mereka katakan itu kesempatan bagus karena akan mendapat perhatian global. Mereka bilang, apa pun yang saya katakan di sana pasti mendapatkan perhatian luas.

Adakah yang menemui dan menentang rencana keberangkatan Anda?

Dua hari sebelum berangkat, Duta Besar Palestina datang ke sini (kantor PBNU). Dia marah-marah. Saya bilang, ini ikhtiar saya. Dia bilang, enggak mungkin berhasil, percuma. Saya bilang, niat saya baik, saya pegang nasihat Umar bin Khoththob kepada putranya: kalau orang memurnikan niat, mengikhlaskan niatnya kepada Allah, urusannya dengan sesama manusia akan dibereskan oleh Allah.

Baca Juga: Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah

Apalagi yang disampaikan Duta Besar Palestina?

Dia bilang akan berbicara kepada Presiden. Silakan. Saya bilang, ini atas nama pribadi, bukan atas nama NU dan pemerintah. Saya bilang tak bisa dibatalkan.

Anda menyebut ini pekerjaan panjang yang dimulai oleh Gus Dur? Pekerjaan panjang apa?

Sejak Gus Dur lengser, ia menghabiskan sebagian besar energinya mencari solusi dari konflik antar agama. Karena, realitanya, dimana-mana ada konflik atas nama agama. Gus Dur sudah tiga kali ke Israel berbicara dengan berbagai pihak dari Israel dan Palestina.

Setelah Gus Dur wafat, bagaimana?

Ketika Gus Dur wafat, paman saya, kiai Mustofa Bisri, mencoba meneruskan sebisanya sejak 2009. Pada 2011, saya diajak Gus Mus ke pertemuan dengan sejumlah pihak di markas Uni Eropa di Brussels, Belgia, kemudian ke Washington, Amerika Serikat. Habis itu, saya diminta Gus Mus meneruskan.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Zaman Now

Di Israel bertemu dengan siapa saja?

Banyak, termasuk tokoh Palestina walau bukan dari Hamas atau otoritas Palestina. Antara lain, Dr. Mohammed Dujani Daoudi. Ia pemikir Palestina yang mengembangkan kerangka kerja keagamaan dan politik untuk perdamaian. Ada juga gerakan Mothers of Peace, gabungan ibu-ibu Yahudi dan Arab. Tidak hanya dari Israel, tapi juga dari Ramallah, Gaza.

Ada yang paling membuat berkesan?

Mothers of Peace. Mereka memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya yang Islam dan Kristen jika tak ada perdamaian. Ini yang paling menyentuh saya. Lalu ada juga Khululam, paduan suara anak-anak muda milenial, yang memodifikasi lagu One Love, milik Bob Marley, ke dalam bahasa Arab dan Ibrani. Sebelum mereka bernyanyi, saya bersama pendeta Kristen dan rabi Yahudi diminta menyampaikan ungkapan keagamaan dari masing-masing kepercayaan. Saya baca hadits Qudsi: Orang-orang yang punya rahmah akan dirahmati oleh Yang Maha Rahmah. Maka, rahmatilah penduduk bumi, maka engkau akan dirahmati oleh Yang di Atas. Kegiatan ini membuat seribu tiket ludes.

Melihat situasi Israel-Palestina, apa tawaran Anda menyelesaikan konflik?

Saat berpidato di AJC Global Forum di Washington pada 2002, Gus Dur melontarkan gagasan tentang pentingnya menambahkan elemen moralitas agama dalam penyelesaian konflik. Bagaimana mengubah persepsi tentang kepentingan menjadi kesejahteraan, lalu masuk ke kemaslahatan umum. Saya bawa gagasan itu, menambahkan sedikit saja. Saya berpikir harus ada satu konsep yang diterima semua, maka saya ajukan rahmah.

Baca Juga: Mengurai Diplomasi Rahmah ala Gus Yahya Staquf di Israel

Apa ide dari konsep rahmah?

Firman Allah mengatakan; "Aku tidak mengutusmu selain sebagai rahmah bagi semesta alam." Rahmah itu sikap yang membuat kita bersedia memaafkan, berbagi dan memberi. Makanya saya bilang, orang tak bisa mewujudkan keadilan diantara pihak-pihak bersengketa kecuali keduanya bersikap rahmah.

Semacam sikap welas asih?

Rahmah itu welas asih dengan kemauan memberi dan menolong. Rahmah tidak butuh prakondisi. Ini soal perasaan, sikap yang kita pilih kalau kita mau. Saya sampai ke pemikiran itu karena ada sabda Rasulullah SAW; "Allah memilih rahmah, memilih bertindak rahmah."

Bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan Netanyahu?

Itu saya tidak mengerti. Ahad malam saya tampil di AJC, Senin siang dapat pesan bahwa Perdana Menteri Israel mau bertemu pada Kamis. Saya bisa apa? Masak, tidak diiyakan? Selasa pagi dapat pesan, Presiden Israel (Reuven Rivlin) juga mau bertemu pada Rabu. Saya tidak tahu apa ada orang-orang mengusulkan ke mereka, yang jelas datang saja.

Apa yang dibicarakan?

Dengan Netanyahu, dia berusaha membawa pembicaraan ke normalisasi hubungan Indonesia-Israel.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Apa yang Anda katakan kepada Netanyahu?

Saya bilang tak bisa bicara soal itu. Masa
lah Indonesia-Israel tak bisa lepas dari soal Palestina. Sulit mengharapkan normalisasi kalau tak ada jalan keluar soal Palestina. Lama pertemuan 30 menit. Yang lama itu dia presentasi macam-macam. Netanyahu bawa full team, sepuluh orang. Saya seperti mau diajak pertemuan bilateral.

Kepergian Anda dikritik banyak orang, tapi Anda menghadapinya dengan santai...

Kritikan itu tertulis semua, kan? Termasuk di media sosial. Kalau saya tidak membacanya, kan, tidak masalah? Kecuali yang datang ke sini marah-marah. Kalau disuruh mundur (dari anggota Wantimpres), harus jelas dulu kesalahannya apa. Kalau diberhentikan, walaupun tidak salah, kan, boleh saja. Seandainya waktu itu Presiden meminta tak berangkat, saya tetap berangkat.

Anda sampai berlebaran di Israel, bisa diceritakan suasana di sana?

Di Masjid Al-Aqsho ramai. Sekitar ada 400 ribu orang. Tapi saya di emperannya yang jauh. Di malam Idul Fitri, seluruh kota ramai. Hiasannya macam-macam. Takbirannya hanya di sekitar Al-Aqsho. Tapi dirayakan di seluruh kota. Orang-orang tumpah ke jalan. Saya tidak sempat mencicipi makanan lebaran di sana. Hanya sempat diajak makan malam Sabbath di rumah rabi David Rosen. Celakanya, dia vegetarian. Tapi dia pengertian. Dan seharusnya minum anggur, tapi karena ada kami, akhirnya diganti jus.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Seperti apa suasana kehidupan antar agama di Yerusalem?

Kalau di jalan-jalan Yerusalem, orang Arab dan Yahudi asyik-asyik saja. Kecuali yang garis keras. Kalau ada orang merokok di malam Sabtu, mereka mengamuk, karena Sabbath. Saya pernah dibegitukan. Saya ditanya, kenapa merokok. Saya jawab, saya bukan Yahudi. Mereka terima.

Selama di sana, Anda juga mengunjungi tembok Yerusalem?

Iya, saya masuk ke tunnel yang katanya mau merobohkan Masjid Al-Aqsho. Saya diajak masuk melihat kenyataan. Bayangkan, itu warisan peradaban 2.500 tahun. Panjang tembok itu sekitar satu kilo meter dan ditanam 30 meter di dalam tanah. Zaman Turki Utsmani, kota ditinggikan. Jadi, ada 30 meter dari kota yang tertanam. Itu yang mereka gali kembali. Nah, orang bilang bagian yang tertanam itu mengancam Masjid Al-Aqsho.

Kesan Anda setelah melihatnya?

Masjid yang sekarang itu hanya pananda. Menurut interpretasi saya, Masjid Al-Aqsho tempat Nabi Muhammad sholat, ya, di seluruh bangunan besar itu. Saya tanya ke teman, dulu bangunannya seperti apa, karena masjid ini diakui oleh Nabi sebagai tempat ibadah oada zaman sebelum Islam. Dia malah tanya, masjid yang mana, karena dulu dihancurkan oleh kerajaan Romawi.

Jadi, entah di mana tepatnya lokasi sholat (Nabi Muhammad pada saat Isro'-Mi'roj). Belum tentu di tempat yang sekarang jadi Masjid Al-Aqsho. Kalau ini digali, justru memperlihatkan bagaimana dulu bentuk Masjid Al-Aqsho, bagaimana bentuknya di zaman Rasulullah SAW.

Baca Juga: Dari Khotbah 'Ied hingga "Khotbahnya" Yahya

Apa respon Anda menghadapi protes santri Anda yang katanya ada yang mengamuk?

Tak cuma mengamuk, ada yang mengatakan akan menggugat. Saya buktikan posisi saya tak bisa digugat karena saya meminta supaya agama difungsikan dalam mewujudkan perdamaian. Saya malah sempat mengamuk ketika ada yang bertanya, apa untungnya bagi Indonesia? Kok tega memikirkan untung. Pernah dengar tidak, berapa jumlah yang meninggal akibat konflik ini, bagaimana menderitanya mereka di sana. Saya tak melakukan ini untuk NU, saya tak memikirkan Indonesia. Indonesia mau rugi atau untung, terserah. Saya memikirkan nasib orang Palestina dan dampaknya bagi kemanusiaan. Kalaupun NU rugi, biar. Kalau rugi, apa ruginya?■



Disadur dari Koran Tempo, 30 Juni-1 Juli 2018.
Read More

Mengurai Diplomasi Rahmah ala Gus Yahya Staquf di Israel


rumahnahdliyyin.com - Kata "rahmah" adalah diksi yang konsisten disampaikan Gus Yahya Staquf (GYS) ketika diwawancarai oleh Rabbi David Rosen di sela-sela forum Israel Council on Foreign Relations (ICFR) di Yerusalem beberapa hari lalu. Kata ini sesungguhnya kunci dari kehadirannya yang menuai banyak kritikan, terutama dari kalangan yang dididik membenci apapun yang berkaitan dengan Yahudi dan membabi buta mendukung yang berhubungan dengan Islam. Israel diidentikkan dengan Yahudi, Palestina digebyah uyah sebagai representasi Islam.

Gus Yahya mengklaim kedatangannya mengemban misi penting memperjuangkan keadilan Palestina yang selama ini terus menerus ditindas Israel. Namun sayangnya, kenapa diksi keadilan ('adl) tidak muncul dalam wawancara? Kenapa justru kata rahmah yang seringkali disampaikan? Pertanyaan-pertanyaan ini selanjutnya mendorong banyak orang meragukan komitmen Gus Yahya terhadap keadilan bagi Palestina.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Rahmat vs Keadilan

Lebih tinggi mana rahmat dengan keadilan dalam Islam? Ini pertanyaan menarik. Memaknai rahmah dengan "perdamaian" atau "kasih sayang" sungguhlah mempersempit kata tersebut, apalagi membenturkannya dengan keadilan.

Keadilan sendiri, dalam Al-Qur'an, disimbolkan setidaknya dalam dua diksi; 'adl (equity) dan qist (equally). Pertanyaan reflektif sederhana yang bisa diajukan adalah kenapa teks Al-Qur'an lebih memilih "Islam rahmatan lil-'alamin", bukan "Islam 'adlan lil-'alamin," atau "Islam qistan lil 'alamin"?

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Menurut saya, hal ini sangat mungkin karena disebabkan rahmah merupakan nilai (value) tertinggi dalam Islam. Saya menduga kuat kata ini adalah derivasi dari dua sifat dominan Allah; rahman dan rahim, sebagaimana dalam pembukaan QS. Al-Fatihah.

Didalam berbagai terjemahan Al-Qur'an, kata rahman dalam pembukaan Al-Fatihah diartikan oleh Yusuf Ali (2015) dan Muhsin Khan (2018) dengan "Most Gracious.” Gracious bermakna "very polite in a way that shows respect," atau "tindakan sangat santun untuk menghormati.”

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Sedangkan MH. Shakir (1996) dan Pickthall (1930) menerjemahkan "rahman" dengan "The Beneficent," yang artinya "performing acts of kindness and charity,” atau melakukan kebaikan dan kemurahan.

Keempat penerjemah Al-Qur'an level internasional tadi sepakat menerjemahkan kata "rahim" dengan "Most Merciful.” Merriam Webster (2004) mendefinisikannya dengan "treating people with kindness and forgiveness: not cruel or harsh: having or showing mercy," atau memperlakukan orang lain dengan baik dan penuh pengampunan, tidak kejam ataupun kasar.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Dari definisi-definisi diatas, sangat terlihat keluhuran wajah Tuhan. Keluhuran yang Ia mandatkan kepada Islam bagi alam semesta. Dalam prakteknya, rahmat itu seperti respon santun Presiden Joko “Jokowi” Widodo terhadap serangan bertubi-tubi Amien Rais, atau sikap elegan Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terhadap The Smiling General Soeharto yang kerap memusuhinya.

Rahmat juga tampak dari sikap legowo Buang Djulianto, jemaat Paroki Santa Maria Tak Bercela, yang telah memaafkan pelaku bom Surabaya meski anaknya harus berdarah-darah terpapar tiga proyektil di tubuhnya.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Rahmat berposisi sejajar dengan ihsan, level tertinggi seseorang dalam berislam. Ihsan bermakna memberikan sesuatu melebihi yang diterimanya. Didalam rahmat tidak hanya terkandung aspek keadilan, namun juga dorongan untuk memperlakukan orang lain secara lebih baik—aspek yang absen dalam keadilan.

Gus Yahya tidak datang ke Yerussalem dengan proposal keadilan yang demonstratif—membawa daftar kesalahan Israel dan menghardiknya agar meminta maaf. Alih-alih, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini membalut misi keadilannya dengan diplomasi religiusitas tertinggi Islam, bukan memakai narasi blak-blakan yang kerap ditunjukkan sebagian orang.

Baca Juga: Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah

Sebagaimana Gus Dur, Gus Yahya sangat memahami Israel yang hampir punya segalanya untuk melumat Palestina. Ia juga sepenuhnya mengerti bahwa Israel tidak membutuhkan diplomasi pro-Palestina dengan model kepala batu, sebab cara tersebut akan semakin tidak menguntungkan Palestina.

Untuk apa bersikap kasar terhadap Israel jika rakyat Palestina akan didera gelombang penderitaan?

Gus Yahya juga tengah berstrategi ala santri; lebih memilih menghindari timbulnya kesengsaraan warga Palestina, ketimbang ikut-ikutan menuntut keadilan demonstratif dengan cara blunder. Ia memilih datang ke Yerussalem dan berbicara dengan kesantunan yang berisi.

Baca Juga: Dari Khotbah Ied hingga Khotbahnya Yahya

Mendamaikan Masa Lalu

Lebih dari itu, politik rahmah Gus Yahya ke komunitas Yahudi sebenarnya memiliki pesan profetik yang jauh lebih besar; rekonsiliasi sejarah kelam kebencian Islam terhadap Yahudi yang terus menerus diwariskan hingga saat ini.

Kita bisa melihat betapa sentimen anti-Yahudi terus-menerus dikobarkan di banyak komunitas Muslim, sama halnya sentimen terhadap kekristenan. Namun bagi umat Islam Indonesia, kebencian terhadap Yahudi memiliki bobot jauh lebih berat. Sampai sekarang Israel yang dipersepsi menjadi perwujudan Yahudi masih belum memiliki hubungan dengan kita. Komunitas ini bisa dikatakan paling menderita di negeri ini.

Baca Juga: Gus Yahya yang Saya Kenal; Pendapat dari Pengalaman

Sangat mungkin kebencian terhadap Yahudi disulut dan dirawat oleh narasi klasik bernuansa negatif terhadap mereka, dan terbakukan dalam teks-teks agama.

Islam klasik dicitrakan begitu memusuhi Yahudi Madinah, padahal kelompok inilah yang bersedia menerima rombongan Nabi Muhammad SAW. saat keluar dari Makkah, hingga memungkinkan komunitas Islam berkembang pesat pada akhirnya.

Romantisme Islam-Yahudi juga diwujudkan dengan pengakomodasian puasa Asyura Yahudi Madinah oleh umat Islam. Puasa ini untuk mengenang kemenangan Musa atas Fir'aun (Shohih Bukhori V6:60:202).

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Yang juga tidak kalah penting, Yahudi-Islam pernah sama-sama menjadikan Masjid Al-Aqsa di Yerussalem sebagai kiblat beribadah. Islam melakukannya lebih dari 10 tahun, sampai kemudian diubah ke Makkah, sebagaimana tercatat dalam QS. 2: 142-145 dan banyak hadits.

Perubahan kiblat ini sekaligus menandai merenggangnya relasi keduanya dan meninggalkan warisan luka yang berdarah-darah bagi komunitas Yahudi Madinah. Pembantaian, penyerangan, perampasan, pengusiran dan perbudakan dialami oleh Yahudi Bani Nadir, Bani Qaynuqa dan—yang paling tragis—Yahudi Bani Qurayza. Diduga kuat, faktor utama terjadinya kekerasan karena mereka memilih bersetia dengan identitasnya sebagai Yahudi.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

Kisah-kisah ini bisa diakses dalam berbagai literatur, misalnya karya Montgomery Watt, Muhammad: Prophet and Statesman dan Muhammad at Medina; Sayyid Abul A’la Maududi, The Meaning of the Qur’an; A. Guillaume dan Ibn Ishaq, Life of Muhammad; maupun Tabari, M.V. McDonald dan Montgomery Watt, The Foundation of the Community.

Kebencian terhadap Yahudi semakin diperuncing oleh rumor seputar wafatnya Nabi Muhammad SAW. yang kabarnya melibatkan Zaynab bint Al-Harits, perempuan Yahudi-Khaybar. Dalam berbagai sumber klasik seperti Shohih Bukhori 4428, Sunan Abi Dawud 4512, Thobaqot Al-Kabir Ibn Sa'd vol. 2, ia digambarkan menjadi penyebab utama kematian Nabi Muhammad SAW. akibat daging beracun yang ia suguhkan. Motifnya, menuntut balas atas apa yang menimpa keluarga dan kelompoknya dalam peristiwa Khaybar.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Meskipun peristiwa-peristiwa ini—terlepas dari validitas dan akurasinya—berlangsung lebih dari seribu tahun lalu, namun selalu gagal disikapi secara dewasa. Yang justru terjadi adalah sebaliknya; narasi tersebut diawetkan untuk saling menyalahpahami dan memupuk kebencian.

Dengan diplomasi rahmat, Gus Yahya menindaklanjuti jalan yang dulu pernah diretas oleh Gus Dur, yakni jalan terjal menampilkan Islam berformat ideal dalam bentuk dialog dengan Israel, demi masa depan Palestina, lebih-lebih demi relasi Islam Indonesia dan Yahudi. Konsep rahmat menyediakan ruang sedemikian luas bagi kita untuk bisa mengasihi Yahudi dan—terutama—berdamai dengan sejarah Islam sendiri.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.



* Oleh: Aan Anshori, Koordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Jawa Timur, GUSDURian, Mahasiswa S2 Hukum Keluarga Islam Univ. Hasyim Asy'ari Tebuireng, Jombang.



Tulisan ini diambil dari asumsi.co.
Read More

Dari Khotbah 'Ied hingga Khotbahnya Yahya


rumahnahdliyyin.com | Tradisi salat 'Ied di Pondok Pesantren kami di Leteh Rembang, khotbahnya hanya menggunakan bahasa Arab, tanpa diterjemahkan.

Setelah ayahku, KH. Bisri Mustofa dan kakakku, KH. Cholil Bisri--rahimahumäLlãhu--wafat, yang selalu bertindak sebagai imam dan khatib adalah putera KH. Cholil Bisri, anak (keponakan)ku, Yahya Cholil Staquf.

Tahun ini karena Yahya sedang di Israel, maka yang menggantikan sebagai imam dan khatib adalah anak (menantu)ku, Ulil Abshar Abdalla. (untuk menyimak khotbahnya silakan membuka Youtube).

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Setelah selama ini--sejak mahasiswa--dalam membela Palestina, Yahya hanya ikut menembakkan sumpah-serapah dan caci-maki kepada Israel melalui tulisan-tulisan, diskusi-diskusi dan acara-acara Solidaritas Palestina lainnya, dia ingin langsung nglurug dan mengkhotbahi orang Israel yang selama ini seperti tak mengenal apa yang namanya rahmah, kasih-sayang.

Waktu pamitan, aku mengingatkan kepadanya untuk meletakkan sikap keberpihakan NU sejak berdirinya--kepada perjuangan Bangsa Palestina--sebagai landasan upaya/"khotbah"-nya di Israel.
Lalu kupesankan: Tata hatimu, tata niatmu, dan tawakkal-lah kepada Allah. Wakafã biLlãhi wakiilä.

Baca Juga: Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah

Alhamdulillah, dia benar-benar melaksanakan apa yang dia tekadkan, mengkhotbahi orang Israel di tempatnya dengan landasan sikap keberpihakan kepada Perjuangan Bangsa Palestina.

"Berkhotbah" bahasa Inggris tentang rahmahnya Islam seperti Yahya, pasti banyak yang bisa dan bahkan jauh lebih bagus. Tapi Yahya sudah membuktikan apa yang bisa dia lakukan.

"وقل اعملوا فسيرى الله عملكم ورسوله والمؤمنون ، وستردون الى عالم الغيب والشهادة فينبئكم بما كنتم تعملون  التوبة: ١٠٥)

* Oleh: KH. A. Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang. Tulisan diambil dari akun Facebook beliau.
Read More

Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah


rumahnahdliyyin.com - Sudah saya prediksi sebelumnya bahwa kehadiran Gus Yahya Cholil Staquf ke Israel akan menjadi buah bibir. Ternyata benar. Ada bibir manis dan ada bibir ndower (nyinyir dan benci setengah mati). Tapi tidak masalah, namanya dakwah itu sudah resiko dimaki-maki orang.

Setelah mendapat kiriman video ceramah Gus Yahya di Israel, kata demi kata saya cermati. Yang terbayang saat ia bicara adalah wajah Abahnya Al-Karim ibnul-Karim, KH. Cholil Bisri. Bahkan suara demi suaranya sangat mirip beliau.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Kuberanikan, saya WA adik putri kandung beliau, benar. “Mas Yahya memang mirip Abah” jawabnya.

Memoriku langsung kembali 12 tahun silam dimana saya ngaji dengan KH. Cholil Bisri di Desa Purwosari, Kudus. Kuingat 11 tahun silam saat saya ditugasi mewawancarai KH. Cholil Bisri saat saya jadi tim redaksi El-Qudsy Madrasah Qudsiyyah Kudus.

Saat itu, sampai rumah saya cerita dengan almarhum Bapak saya. “Itu putranya Mbah Bisri Mustofa Rembang. Bapaknya itu jagoan kalau berpidato dan punya Tafsir Al-Ibriz,” kata Bapakku.

Saya semakin penasaran. Saya catat dua nama itu, KH. Cholil Bisri dan KH. Bisri Mustofa.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Ternyata, saat saya sekolah di Madrasah Diniyyah Mu’awanatul Muslimin, Kenepan Kudus, ngaji Tafsir pakai Kitab Al-Ibriz. Subhanallah. Dan penasaran saya terjawab lagi, ternyata Majalah El-Qudsy Qudsiyyah selalu menerjemah periodik kitab karya KH. Bisri Mustofa berjudu Zaaduz Zu’ama’ wa Dzakharatul Khutaba’.

Saya tidak mau ngoyo-woro menerjemahkan pidato Gus Yahya. Hanya ingin membuka lagi apa sih isi dari kitab-kitab karya Simbahnya Gus Yahya dan dimana titik kesamaan ilmu Gus Yahya dengan Abahnya KH. Cholil Bisri. Itu saja. Dan inipun saya menulis dengan penuh santai sambil menunggu bedug 'Idul Fitri.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya dari Israel

Terong Santri

Gus Yahya sudah sangat dikenal. Kesantriannya tidak diragukan. Keilmuannya juga sangat luar biasa karena pernah merasakan kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Soal birokrasi, jelas sudah fasih karena sudah keluar masuk istana jaman Gus Dur. Dan kini diamanahi oleh Jokowi sebagai Wantimpres.

Sehari-hari ia mengajar Kitab Tafsir Jalaian, Alfiyyah Ibnu Malik dan juga memimpin majelis ngaji poro kasepuhan. Sudah bisa dibayangkan. Mulang ngaji kitab (mengajar kitab) itu berat. Lebih berat lagi ngaji di depan kasepuhan (orang-orang tua). Tapi semua sudah selesai dan jadi rutinitas.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Bagaimana kalau ngaji di depan warga Israel yang beragama Yahudi?

Bayangkan saja. Di tengah puncak konflik politik berdalih “agama”, Gus Yahya harus bercerita tentang perdamaian. Dan tidak pakai teks ngajinya. Wow... Kalau saya disuruh begitu, sudah pamit duluan. Heeeeee. Jangan serius-serius bacanya.

Tapi namanya Kiai yang pernah jadi santri, ya tetap berani. Bahkan di beberapa sesi mendapat tepuk tangan meriah dan sesekali membuat peserta tertawa-tawa karena humor pesantren. Eh... saya lupa berpesan. Sebelum baca ini, lihat dulu video lengkap di beberapa forum pidato di Israel, ya. Kalau tidak lihat videonya, nanti galfok (gagal fokus).

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Artinya apa? Itulah warna pemikiran Islam yang harus disampaikan dan dimasukkan di telinga orang-orang Israel. Jangan hanya teriak anti-Israel di jalanan. Hadir kesana dan diskusi lanjut eksekusi. Dikit-dikit dibilang bid’ah dan mendzolimi Islam! Yuk... ngopi dan rekreasi biar fresh pikirannya.

Ngopi itu artinya ngomong pribadi, alias mengaca. Apakah sudah berilmu dan beragama dengan baik? Kalau belum berilmu maka belajar. Kalau merasa belum beragama, ya ngaji. Sederhana kok hidup itu.

Rekreasi itu keluar dari rumah melihat di luar sana ada banyak keindahan, warna ragam dan perbedaan. Itu diangan-angan agar yang beda menjadi sama. Jangan bermulut agama tapi keluarnya kalimat-kalimat tidak manusia. Kasihan lho yang begini itu.

Obat agar suka ngopi dan rekreasi adalah terong santri. Pingin tahu, apa pingin tahu banget? Hadir ke pesantren biar kenal terong santri.

Baca Juga: Gus Yahya yang Saya Kenal; Pendapat dari Pengalaman

Penerus Mbah Cholil – Mbah Bisri

Saat Gus Yahya menyebut kata rahmah, kata itu yang pernah kudengar dari Abahnya, KH. Cholil Bisri, 12 tahun silam. Mbah Cholil menjelaskan di atas panggung yang dihadiri ribuan orang seperti ini:

اختلاف الائمة رحمة

Dengan bahasa yang enak dan simpel, Mbah Cholil memaknai: “Perbedaan pemimpin itu manifestasi”.

Saat itu saya tidak paham arti manifestasi. Dan ternyata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya: perwujudan sebagai suatu pernyataan perasaan atau pendapat; perwujudan atau bentuk dari sesuatu yang tidak kelihatan.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

Jadi, rahmah itu memang bermakna cukup mendalam. Bahwa sikap manusia dalam menghadapi perbedaan itu butuh perasaan dan pendapat. Dan tertunya karena sudah berbeda, maka perasaan dan pendapat itu membutuhkan bentuk yang tidak kelihatan, yakni kasing sayang—saling memahami.

Bagaimana kalau melihat arti rahmah menurut Simbahnya Gus Yahya, KH. Bisri Mustofa? Saya coba membuka koleksi kitab-kitab karya Mbah Bisri di almari perpustakaan saya. Kebetulan saya sedang menulis Disertasi yang membahas KH. Bisri Mustofa. Jadi, hampir ada 50-an judul kitab yang saya miliki.

Baca Juga: Gus Yahya; Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Mbah Bisri Mustofa menulis dalam Tafsir Al-Ibriz, halaman 1052, yang membahas mengenai Surat Al-Anbiya’, ayat 107, juz 17:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Artinya: “Ingsun Allah ora ngutus marang siro Muhammad, kejobo dadi rahmat tumerap sekabehane alam; Saya tidak mengutus Muhammad, kecuali menjadi rahmat bagi semua alam semesta”.

Tidak hanya cukup disitu saja. Mbah Bisri Mustofa masih memberikan penjelasan sebagai berikut:

Tanbihun: Kang tompo rohmat sebab wujude Nabi Muhammad iku ora namung wong-wong mukmin yang sholih-sholih, nanging ugo wong-wong kafir lan wong fajir. Jalaran naliko Kanjeng Nabi disawati watu dening kaume, naliko Kanjeng Nabi ditekek lan disuki telethong denin kaume, lan liyo-liyone maneh, upomo naliko iku Kanjeng Nabi ora nyuwun marang Pengeran: Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun, menawi kaume wus ditumpes kabeh. Ono kang disirnaake, ana kang dibusek, dadi kethek utowo dadi babi lan liya-liyane, koyo kaume Nabi-Nabi sak durunge Nabi Muhammad”.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Sudah jelas, ya, kalau begitu? Bisa dipahami? Atau masih butuh diterjemah dalam Bahasa Indonesia? Ya sudah deh... saya terjemah bebas saja kalau begitu. Daripada saya diprotes nanti.

“Peringatan: Yang menerima rahmat atas keberadaan Nabi Muhammad itu tidak hanya orang beriman yang sholih saja. Tapi juga orang kafir dan orang yang berbuat keji (juga dapat rahmat). Sebab, ketika Nabi dilempar batu, dicekik, dilempari kotoran binatang dan (gangguan dakwah) lainnya oleh kaumnya, Nabi justru berdo’a: “Ya Allah, berikanlah hidayah pada kaumku karena mereka tidak tahu menahu”, maka kaumnya Nabi Muhammad tidak ditumpas semuanya. Kaumnya tidak dihilangkan, dicuekkan dan jadi kera atau babi, sebagaimana kaum Nabi sebelum Muhammad”.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Dalam Tafsir Jalalain, karya Syaikh Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Syaikh Imam Jalaluddin As-Suyuthi—yang diajarkan Gus Yahya ngaji di Pondok Rembang—juga dijelaskan bahwa:

﴿وما أرسلناك﴾ يا محمد ﴿إلا رحمة﴾ أي للرحمة ﴿للعالمين﴾ الإنس والجن بك

Ini menegaskan bahwa tugas Nabi Muhammad dan umatnya adalah memberikan perlindungan sosial dan psikologis. Dan ternyata rahmat untuk alam semesta juga diperuntukkan bagi manusia dan jin. Kenapa demikian? Sebab Nabi Muhammad menegaskan dalam haditsnya sebagaimana ditulis dalam penjelasan Tafsir At-Tanwir Wat-Tanwir oleh Ibnu ‘Asyur dalam membedah isi Surat Al-Anbiya’, ayat 107:

ويَدُلُّ لِهَذا المَعْنى ما أشارَ إلى شَرْحِهِ النَّبِيءُ ﷺ بِقَوْلِهِ إنَّما أنا رَحْمَةٌ مُهْداةٌ وتَفْصِيلُ ذَلِكَ يَظْهَرُ في مَظْهَرَيْنِ: الأوَّلُ تَخَلُّقُ نَفْسِهِ الزَّكِيَّةِ بِخُلُقِ الرَّحْمَةِ، والثّانِي إحاطَةُ الرَّحْمَةِ بِتَصارِيفِ شَرِيعَتِهِ

Baca Juga: Antara Ibadah di Indonesia dan di Negara Lain

Membaca Gus Yahya tidak cukup disitu saja. Sebab, setiap hari Gus Yahya ngaji beberapa Kitab Kuning: Alfiyyah karya Ibnu Malik dan Tanqihul Qaul karya Imam Nawawi Al Bantani (setiap sholat Maghrib) dan mengaji dengan kasepuhan Kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syaikh Zainuddin Al-Malibari. Dan masih banyak Kitab Kuning lainnya.

Khazanah tentang rahmah dalam kitab-kitab tersebut sangat luas dikupas. Sebut saja Kitab Irsyadul ‘Ibad yang berisi 114 topik pembahasan dengan jumlah 120 halaman. Isinya sangat luar biasa. Didalamnya berisi pembahasan Islam yang rahmah yang tersaji dengan materi keramahan. Pokoknya, membahas Kitab Kuning pasti kita akan semakin rindu.

Baca Juga: Menjernihkan Makna "Nas" dalam Hadits Untuk Memerangi Musyrikin

Oleh sebab itu, melihat Gus Yahya, biarlah menjadi Gus Yahya yang masih muda dan bergelora keilmuannya. saya cukup membaca Gus Yahya sebagai bagian mutiara ilmu yang tidak lepas dari Abah dan Simbahnya. Gus Yahya adalah cerminan kilauan ilmu Syaikh Jalaluddin, Syaikh Zainuddin, Imam Ibnu Malik dan Imam Nawawi—yang secara mudah kita sebut kilauan permata pesantren.

Menyebarkan ilmu itu harus penuh ramah. Jangan malah suka marah-marah. Kalau suka marah-marah, itu namanya bid’ah, sebab Nabi tidak suka marah-marah. Hayo.... pilih mana?

Terlalu panjang ternyata tulisan saya ya?Padahal masih ada satu lagi. Lanjut apa tidak nih?

Lanjut ya? Oke, dilanjut.

Baca Juga: Belajar Kemanusiaan dari Papua

Kalau saya menyebut Gus Yahya adalah mutiara ilmunya Mbah Bisri Mustofa soal diplomasi, tidak bisa diganggu gugat. Coba kita lihat isi Zaaduz Zu’ama’ wa Dzakhiratul Khutaba’ karya Simbahnya. Ada bab khusus yang membahas tentang garis besar akhlaq para pembicara dan pemimpin: mengawali pembicaraan dengan mempesona agar didengarkan orang; harus berperilaku baik agar dihargai orang lain; bercita-cita tinggi dan optimis; menjadi pengampun dan pemaaf.

Bahkan oleh Mbah Bisri Mustofa, bab itu ditambahkan penjelasan sebuah ayat Surat Ali Imron: 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

Baca Juga: Ulama Ooriter dan Ulama Otoritatif

Sudah cocok, kan? Intinya begitulah cara pemimpin yang bijak dan berjuang mencari jalan damai di negeri konflik. Jangan campur aduk dengan nyinyir karena sejak dari awal tidak suka NU, benci pesantren dan ngremehkan peci hitam, lalu menggoreng-goreng bahwa pidato itu mengkudeta Pemerintah dan mengkhianati Palestina. Selamat berdiskusi.[]



* Oleh: M. Rikza Chamami, Wakil Sekretaris PW. GP. Ansor Jateng & Dosen UIN Walisongo.
Read More

Gus Yahya yang Saya Kenal; Pendapat dari Pengalaman


rumahnahdliyyin.com - Nama lengkap Gus Yahya sebagaimana kita tahu adalah Yahya Cholil Staquf, saya mengenal nama dan wajah beliau dari televisi di sekitar tahun 2002an sebagai juru bicara kepresidenan. Bicaranya runtut namun mengandung pointers yang harus keluar konteks umum demi memberikan kepemahaman secara menyeluruh dari suatu permasalahan.

Sekitar 5 tahun yang lalu saya merasa terhormat ketika kami diundang untuk melakukan diskusi di pesantren Leteh, di mana ketika sesi beliau memberikan arahan, beliau telah membuat gambaran peta perang peradaban yang jauh sangat luas dengan rentetan fakta yang tak terbantahkan.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Beberapa waktu berikutnya ketika saya diminta membantu mengurus di PBNU, beberapa kali saya diundang untuk juga diskusi terkait konflik peradaban. Konflik yang sama dari diskusi 5 tahunan yang lalu, berkisar konflik di jazirah Arab dan keperihatinan terhadap Palestina.

Dari banyak tokoh yang saya temui, Gus Yahya adalah tokoh yang memberikan perhatian yang sangat besar terhadap penderitaan warga Palestina atas penjajahan Israel, keperihatinan atas kericuhan belakangan ini di Indonesia, dan kebersemangatan beliau agar kawula muda NU bersatu menyongsong kemonceran Indonesia.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Belakangan ini, beberapa kali beliau menyampaikan perlunya tindakan nyata, di luar konteks umum, untuk membantu penderitaan rakyat Palestina yang terjebak pada konflik antar kelompok di internal Palestina yang memiliki potensi tidak akan terselesaikan sampai kiamat.

Maka, tak heran bagi saya, ketika beliau sangat berani hadir di Yerusalem yang sudah diklaim sepihak sebagai wilayah Israel, sementara sebagai muslim dan warga Indonesia, tentu masih memegang teguh Yerusalem masih wilayah Palestina.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Beliau dengan gagah berani namun penuh ramah sopan santun, menyampaikan ceramah solusi atas permasalahan Palestina di depan komunitas Yahudi, sebuah langkah langka yang bisa dilakukan oleh tokoh keagamaan maupun kenegaraan. Ibarat Musa yang diperintahkan menyampaikan materi dakwah secara sopan kepada Fir’aun laknatullah.

Langkah beliau jelas mengandung risiko penolakan dari banyak pihak, namun ijtihad beliau untuk menempuh jalan untuk tujuan kebaikan Palestina, tentu sangat layak dihargai. Dan beliau tentu sudah paham atas langkah beliau dengan menyatakannya sebagai inisiatif pribadi yang terlepas dari jabatan Katib Aam PBNU maupun Tim Penasihat Presiden, namun jelas beliau tetap Presiden komunitas Terong Gosong yang sepertinya lebih gayeng dan memiliki ghirah yang menggairahkan.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Kita bersama, hanya sedang melihat upaya beliau, namun tentu ini sebuah langkah dari ribuan langkah pembelaan kepada Palestina yang sudah puluhan tahun dijalankan oleh banyak tokoh, namun penderitaan Palestina bukan membaik malah cenderung semakin parah.

Kita doakan agar upaya beliau ini dapat membuahkan hasil yang positif bagi warga dan negara Palestina tanpa ada syak prasangka buruk kepada beliau. Gus Yahya adalah sosok kyai, menurut saya, yang sudah selesai dengan urusan pribadinya dan selalu berusaha menyumbangkan bagi kebaikan sesama.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Selamat lebaran.
Semoga kita semua dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya dan dunia diberlimpahkan rahmah yang berkelanjutan.

Salam Indonesia Mercusuar Dunia.

Alfatihah.

Aamiin.


* Oleh: Hari Usmayadi (Cak Usma), Ketua PPM. Aswaja.
Read More

Pesan Langit dari Rembang


rumahnahdliyyin.com - Memahami Pesan rahmah KH. Yahya Cholil Staquf dari sisi lain. Dari sudut pandang yang berbeda.

Begitulah peranan Pak Kiai Yahya Cholil Staquf. Datang sebagai pribadi, tapi mendadak sorot mata, baik yg memuji maupun mencela, tertuju padanya, pada NU ormas terbesar di dunia, pada Indonesia negeri terbesar di dunia. Bergema kemana-mana!

Tiba-tiba dunia mafhum peranan apa yang bisa dimainkan oleh Kiai, NU dan Indonesia. Konsisten membawa pesan yang melampaui keadilan yang diperebutkan dan perdamaian yang dipertarungkan, yaitu pesan rahmah.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Penuhi Undangan ke Israel

Rahmah tidak hanya menuntut, tapi memberi keadilan. Pesan untuk pihak yang bertikai.

Betapa sering kita menuntut atas nama keadilan, tapi tanpa rahmah, kita hanya akan menuntut, dan lupa untuk juga memberi keadilan. Ini pesan yang menohok.

Anda menuntut hak atas tanah, tapi sudahkah Anda juga memberi keadilan pada pihak lain.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Pahamkah Anda apa yang dituju Kiai Yahya?

Pesan rahmah disampaikan dangan cara yang rahmah. Tak ada caci-maki; tak ada penghakiman pada pihak yang bertikai, tapi semua yang paham bisa merasakan pembelaan yang jelas pada perdamaian dan rekonsiliasi.

Yang berharap akan keluar cacian pada pihak tertentu, pasti kecewa. Inilah rahmah!

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya dari Israel

I stand with palestine dimaknai lewat pesan rahmah. Bukan dipahami secara literal “saya berdiri”, karena pesan rahmah disampaikan dengan kalem dan duduk santai. Mendukung Palestina bukan karena membenci Israel, tapi karena perwujudan rahmah. Itupun disampaikan tanpa nada heroik. Kalem!

Dunia telah melihat seorang Kiai dari Rembang, datang atas nama pribadi ke Yerusalem, bicara dengan datar dan kalem, mencari titik temu (kalimatun sawa) lewat konsep rahmah yang merangkul, bukan memukul.

Aku menyebutnya suara adem dan kalem dari Rembang menyampaikan pesan langit.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Peradaban dunia saat ini terancam oleh konflik global. Tiga jantung persoalan harus ditembus untuk menyampaikan pesan rahmah. Sebelumnya Kiai Yahya sudah ke Gedung Putih ketemu Wapres Amerika, lantas ke Yerussalem, tinggal satu lagi: ketemu putra mahkota MBS di Saudi Arabia.

Anda boleh tidak setuju dengan apa yang dilakukan Kiai Yahya. Tapi jangan meremehkan pesan rahmah yang dibawanya untuk perdamaian dunia. Ini adalah pesan langit. Anda mungkin tidak menyadarinya, tapi Kanjeng Nabi SAW. ada di sana saat pesan rahmah itu diucapkan Kiai Yahya.

“Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, kecuali sebagai rahmat untuk semesta alam”

Setiap umat Muhammad yang menggaungkan kembali pesan rahmah yang telah diajarkan Nabi SAW., sejatinya akan didampingi dan dibela oleh Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Ini bukan lagi masalah Kiai Yahya, NU dan Indonesia.

Pesan langit sudah disampaikan Kiai Yahya. Caci-maki sudah beliau terima. Banyak pihak berlepas diri. Banyak pihak meninggalkannya. Namun mereka yang paham bahwa ini pesan langit, akan menyebut asma-Nya dan bersholawat pada Kanjeng Nabi SAW.

Mari kita terus sampaikan pesan rahmah ini 🙏

Tabik,



* Oleh: Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand.
Read More

Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini


rumahnahdliyyin.com - Media elektronik dan media sosial di hari-hari terakhir ini dipenuhi dengan pemberitaan mengenai KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Kiai yang mengemban amanat sebagai Katib 'Aam PBNU dan baru saja dilantik sebagai Wantimpres ini tidak sedikit yang meresponnya negatif, bahkan cenderung nyinyir, terkait kunjungannya ke Israel.

Sebagaimana diketahui bersama, Ahad waktu setempat kemarin (10/06/2018), Gus Yahya hadir sebagai pembicara dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Yerusalem.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Dalam kesempatan ini, Gus Yahya menyampaikan bahwa perlunya rahmah (kasih sayang) untuk dimiliki oleh semua manusia. Sebab, dengan rahmah inilah ketidakadilan yang selama ini diduga sebagai pemicu konflik di seluruh dunia bisa diatasi.

Dengan menggarisbawahi inti dari apa yang disampaikan oleh Gus Yahya ini, menurut penulis, Gus Yahya sebenarnya sudah berhasil menyuarakan solusi dari kegelisahannya selama ini. Kegelisahannya pada penjajahan. Kegelisahannya terhadap dehumanisasi. Kegelisahannya pada konflik yang terjadi dimana-mana yang seakan belum akan surut juga. Terlebih, konflik-konflik yang mengatasnamakan agama dan Tuhan masing-masing.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Kendati demikian, sangat disayangkan ternyata apa yang berusaha untuk disuarakan oleh Gus Yahya sebagai solusi untuk seluruh dunia ini ditanggapi negatif, bahkan cenderung nyinyir, oleh sebagian kalangan. Termasuk oleh Fadli Zon dan Hidayat Nur Wahid.

Fadli Zon, dalam cuitan di akun twitternya menulis bahwa apa yang dilakukan Gus Yahya dinilai tak berarti apa-apa dan memalukan bangsa Indonesia serta dikira Gus Yahya tidak peka terhadap perjuangan Palestina.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Cuitan Fadli Zon ini sebenarnya tidak begitu penting. Kita semua sudah tahu dan paham siapa Fadli Zon. Kendati seorang politisi dan juga anggota dewan, namun ia kerap menulis hal-hal yang secara akal sehat sangat dangkal. Bahkan, tidak jarang pula cuitannya saling bertentangan bila ditelisik dari waktu ke waktu.

Sedangkan Hidayat Nur Wahid, juga dalam akun twitternya, mengatakan kalau apa yang telah dilakukan Gus Yahya telah membuat kecewa Palestina dan umat Islam serta dinilai tidak sesuai dengan sikap pemerintah yang mendukung Palestina merdeka.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Tanpa bermaksud mengerdilkan HNW, kita semua juga sudah tahu dan paham siapa HNW. Sebagai politisi PKS yang menyuburkan IM (Ikhwanul Muslimin) di Indonesia, tidak mengherankan bila responnya demikian. Sebab, bagaimanapun juga, kalau di Indonesia IM menjadi PKS, di Palestina IM berubah menjadi Hamas, yaitu salah satu faksi perlawanan terhadap Israel yang ada di Palestina.

Sebagai faksi perlawanan, Hamas merupakan salah satu faksi yang dalam perjuangannya membela Palestina dengan menggunakan aksi-aksi konfrontasi langsung terhadap Israel. Beda dengan Fatah, faksi perlawanan yang ada lainnya di Palestina, yang lebih menerapkan dialog-dialog dan diplomasi dalam perjuangannya. Makanya, tak mengherankan pula apabila Hamas kemudian juga menyayangkan kehadiran Gus Yahya tersebut.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Pada NU

Dari sedikit deskripsi ini, kiranya cukup jelas mengapa ada orang-orang yang merespon negatif, bahkan nyinyir, terhadap upaya Gus Yahya. Adalah latar belakang afiliasi merekalah yang mendorong mereka berkomentar demikian. Padahal, pada dasarnya sama-sama ingin berjuang untuk menghapuskan penjajahan di muka bumi ini.

Dengan tidak sepakat dengan metode dan cara-cara perjuangan Hamas terkait kemerdekaan Palestina, tidak bisa seseorang yang punya metode dan cara-cara perjuangan tersendiri untuk kemerdekaan Palestina diklaim sebagai tidak mendukung Palestina, bahkan dikatakan sebagai antek Israel.

Baca Juga: Antara Ibadah di Indonesia dan di Negara Lain

Gus Yahya; Sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah Masa Kini

Apa yang telah dilakukan oleh Gus Yahya ini, sungguh mengingatkan penulis pada sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah. Sebagaimana kita ketahui bersama, kiai Wahab pernah melakukan hal yang hampir serupa pada awal abad ke-20.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Konteks antara kiai Wahab dan Gus Yahya memang berbeda. Kiai Wahab melakukannya di Saudi Arabia soal pembongkaran situs-situs bersejarah Islam, sedangkan Gus Yahya melakukannya di Israel dengan persoalan perdamaian. Juga, kiai Wahab berangkat atas nama NU (waktu itu masih Komite Hijaz) dan Gus Yahya berkunjung karena adanya undangan dan atas nama pribadi.

Kendati konteks antara dua kiai NU ini berbeda, namun ada titik persamaan antar keduanya. Pertama, kiai Wahab dan Gus Yahya sama-sama berjuang dengan metode dan strategi damai, yakni dialog dan diplomasi. Kiai Wahab melakukan dialog dan diplomasi dengan pimpinan Arab Saudi, Gus Yahya berdialog dan berdiplomasi dengan orang-orang Yahudi.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Kedua, kiai Wahab dan Gus Yahya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Keduanya sadar bahwa untuk mewujudkan kemanusiaan dan perdamaian haruslah menggunakan cara-cara yang manusiawi secara damai.

Ketiga, keduanya sama-sama melakukannya demi kepentingan yang lebih besar. Bukan kepentingan kelompok, apalagi pribadi.

Dari kesamaan-kesamaan inilah kiranya tidak berlebihan apabila Gus Yahya adalah sosok kiai Wahab masa kini. Dengan kemampuannya yang sangat mumpuni, Gus Yahya sedikit pun tidak bergeming kendati berbagai orang dan kalangan menyayangkan ataupun mencibir upaya-upaya yang diusahakannya. Bukankah dalam setiap tindakan pasti ada yang suka dan tidak suka??

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Akhirnya, kalau kiai Wahab diakhir diplomasinya berbuahkan hasil sebagaimana bisa kita nikmati hingga hari ini, demikian pula semoga berhasil juga apa yang menjadi maksud dan tujuan Gus Yahya ke Israel kali ini, yakni terwujudnya perdamaian antara Israel dan Palestina serta berakhirnya segala konflik yang ada di muka bumi ini. Amin.



* Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madin Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC


rumahnahdliyyin.com - Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC. Untuk lebih mudahnya, digunakan A dan B. A adalah Rabbi David Rosen dan B adalah Gus Yahya. Silakan disimak.

A: Selamat datang. Anda adalah salah satu murid terbaik dari salah satu guru terbaik yang pernah ada, presiden Abdurrahman Wahid. Dan AJC sudah berhubungan dengan Gus Dur sejak 20 tahun lalu. Gus Dur juga bicara di acara seperti ini, 16 tahun lalu. Beliau juga pernah mengunjungi Israel sebanyak tiga kali. Lalu, Anda sekarang mengikuti jejaknya. Bagaimana perasaan Anda?

B: Terima kasih atas kesempatan ini. Adalah sebuah keberuntungan bagi NU bahwa Gus Dur meninggal dunia dengan meninggalkan murid-murid yang kemudian tumbuh dan mengikuti jejaknya. Apa yang selama ini saya dan rekan-rekan saya lakukan hanyalah sebatas melanjutkan pekerjaan dari Gus Dur.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya ke Israel

A: Tapi ini bukan sekedar ketersambungan. Kehadiran Anda di sini memiliki signifikansi tersendiri di mata dunia. Bagaimana Anda memaknai hal ini?

B: Idealisme dan visi yang dimiliki oleh Gus Dur adalah keberlangsungan umat manusia dalam jangka waktu yang sangat panjang. Dan oleh karenanya, tidak bisa dicapai secara instan. Gus Dur telah menjalankan perannya dalam mewujudkan visi tersebut. Dan kini adalah giliran murid-murid beliau di generasi ini untuk melanjutkan pekerjaan tersebut. Kami merasa beruntung, sebab berkat Gus Dur, kami telah mencapai titik tertentu dimana kami bisa melihat arah yang lebih jelas di depan kami.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

A: Dalam pidatonya di forum AJC di Washington, Gus Dur bicara tentang hubungan yang istimewa antara Yahudi dan Islam yang telah berjalan ratusan tahun. Bagaimana Anda memandang hubungan ini?

B: Hubungan antar Islam dan Yahudi adalah hubungan yang fluktuatif. Terkadang baik, terkadang konflik. Hal ini tergantung pada dinamika sejarah yang terjadi. Tapi secara umum, kita harus mengakui bahwa ada masalah dalam hubungan dua agama ini. Dan salah satu sumber masalahnya terletak pada ajaran agama itu sendiri.

Dalam konteks realitas saat ini, kaum beragama, baik Islam maupun Yahudi, perlu menemukan cara baru untuk pertama-tama memfungsikan agama dalam kehidupan nyata. Dan kedua, menemukan interpretasi moral baru yang mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan agama-agama lain.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

A: Jadi, Anda mengatakan bahwa melakukan intrepretasi ulang terhadap teks Qur'an dan Hadits—sebagai upaya untuk menghilangkan penghalang bagi terciptanya hubungan baik antara Islam dan Yahudi—adalah sesuatu yang mungkin dilakukan?

B: Bukan hanya mungkin, tapi ini sesuatu yang “harus” dilakukan. Karena setiap ayat dari Qur'an diturunkan dalam konteks realitas tertentu, dalam masa tertentu. Nabi Muhammad SAW. dalam mengatakan sesuatu juga selalu disesuaikan dengan situasi yang ada pada saat itu. Sehingga Qur'an dan Hadits adalah pada dasarnya dokumen sejarah yang berisi panduan moral dalam menghadapi situasi tertentu. Ketika situasi dan realitasnya berubah, maka manifestasi dari moralitas tersebut sudah seharusnya berubah pula.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

A: Lalu, Anda dan Gus Dur selalu menekankan pentingnya memerangi ekstremisme dan mempromosikan pendekatan yang lebih humanis. Apakah menurut Anda Indonesia memiliki sesuatu yang bisa diberikan pada dunia dalam kaitannya dengan hal ini?

B: Ini bukan tentang menawarkan sesuatu dari Indonesia. Karena Indonesia sendiri bukannya sudah terbebas dari masalah. Kami memiliki masalah kami sendiri. Kami memang memiliki semacam kearifan lokal yang membantu masyarakat untuk hidup secara harmonis dalam lingkungan yang heterogan. Tapi kami masih punya banyak masalah terkait agama, termasuk Islam.

Apa yang kita hadapi saat ini, apa yang seluruh dunia hadapi saat ini adalah sebuah situasi dimana konflik terjadi di seluruh dunia. Dan didalam konflik-konflik ini, agama hampir selalu digunakan sebagai senjata untuk menjustifikasi konflik.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Sekarang saatnya kita bertanya, “Apakah kita ingin hal ini berlanjut? Atau, kita ingin memiliki masa depan yang berbeda?”

Jika kita ingin hal ini berlanjut, konsekuensinya jelas: Tidak ada yang bisa bertahan hidup didalam kondisi seperti ini. Jika kita ingin masa depan yang berbeda, kita harus merubah cara kita mengatasi persoalan.

Saat ini, agama digunakan sebagai justifikasi dan senjata untuk berkonflik. Kita, kaum beragama, mesti bertanya pada diri kita sendiri, apakah ini benar-benar fungsi yang sebenarnya dari agama? Atau, apakah ada cara lain yang memungkinkan agama berfungsi sebagai sumber inspirasi untuk menemukan solusi dari semua konflik ini?

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Dalam pandangan saya, juga pandangan NU, dunia perlu berubah. Semua pihak perlu berubah. Saya akan menggunakan metafora, “obat macam apa pun tidak akan bisa menyembuhkan pasien diabetes atau jantung, selama si pasien tidak mau merubah gaya hidupnya”.

Salah satu ayat dalam Qur'an juga menyebutkan:

إنّ الله لايغيّر مابقوم حتّى يغيّروا مابأنفسهم

“Sesungguhnya Allah SWT. tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.

Baca Juga: Ibu Sinta Masuk 100 Tokoh Berpengaruh di Dunia

Selama ini kita selalu terlibat dalam konflik untuk memperebutkan barang, sumber daya, kekuasaan, apapun itu, dengan tujuan untuk mengalahkan pihak lain. Dan pada akhirnya, kita bahkan tidak mampu lagi membedakan bagaimana konflik ini bermula dan bagaimana seharusnya konflik ini diselesaikan.

Bagi saya, yang tersisa saat ini adalah sebuah pilihan. Sebuah pilihan mendasar yang bisa memberi kita solusi nyata. Pilihan itu adalah apa yang kita sebut dalam Islam sebagai rahmah. Rahmah berarti kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.

Baca Juga: Tiga Tokoh Indonesia Masuk Top 50 dalam The Muslim 500

Kita harus memilih rahmah karena ini adalah awal dari semua hal baik yang kita selalu idamkan. Jika kita memilih rahmah, baru kita bisa berbicara soal keadilan. Karena keadilan bukan hanya merupakan sesuatu yang kita inginkan, tapi juga tentang kemauan untuk memberikan keadilan bagi orang lain. Jika seseorang tidak memiliki rahmah, tidak memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap orang lain, orang ini tidak akan pernah mau memberi keadilan untuk orang lain.

Jadi, jika saya harus berseru pada dunia, aku ingin menyerukan pada dunia: “Mari memilih rahmah”.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

A: Konsep rahman dan rahim memiliki kemiripan dalam Yahudi. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam dan Yahudi sejatinya memiliki kedekatan dalam spirit dan tradisi keagamaan. Pak Yahya, kami berterimakasih banyak atas seruan Anda untuk memilih rahmah. Dan kami harap, Anda mampu menjadi inspirasi bagi muslim di seluruh dunia. Dan kami harap, kami bisa mencapai rekonsiliasi dan membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Dan AJC akan selalu berusaha menjalani peran untuk memfasilitasi rekonsiliasi dan perdamaian sejati.[]

(Redaksi MP)
Read More

Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel


rumahnahdliyyin.com – Rencana kuliah umum di Israel oleh KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) terpaksa dibatalkan setelah beragam kritik mengalir deras. Memangnya mendukung kemerdekaan Palestina itu caranya cuma harus gontok-gontokan dengan Israel saja?

Musim panas (sekali) 2008 di Tripoli, saya punya kesempatan ikut dengar uneg-uneg dari mahasiswa senior asal Suriah. Sebut saja namanya Abdullah. Ia cerita panjang lebar soal Palestina. Dengan amat menggebu-gebu, mirip Moammar Qadafi kalau lagi bahas revolusi. Memang ia cukup lama mengikuti konflik Israel-Palestina, ya maklum, waktu itu Suriah belum babak belur, hingga fokusnya ke Palestina masih bisa total.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Dari ceritanya, saya bisa simpulkan kalau doi sebenarnya cuma fans garis kerasnya Hamas, bukan fans Palestina. Pasalnya, doi tak hanya serang Israel dalam argumennya, tapi juga “pemilik” Palestina lainnya, yaitu Fatah. Setiap langkah yang diambil Fatah untuk Palestina, ia kritisi. Sebaliknya, segala hal yang dilakukan Hamas, ia dukung. Fatah ia anggap sebagai musuh dalam selimut; bantuan-bantuan luar negeri mereka dapat banyak, tapi cuma berani pakai cara-cara pengecut, beraninya kok di meja perundingan diplomasi.

Untuk diketahui pembaca yang budiman, Fatah dan Hamas adalah dua faksi di Palestina dengan corak perjuangan yang berbeda. Fatah memang identik dengan meja-meja perundingan. Tokoh-tokohnya sibuk keliling dunia cari dukungan diplomatis. Sekilas, mereka kelihatan cuma jalan-jalan saja ke mana-mana, enggak mau ikut berdarah-darah ikut angkat senjata.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Pada NU

Sedangkan faksi Hamas lebih identik dengan intifada, AK-47, dan perjuangan yang berdarah-darah. Singkatnya kalau Hamas adalah Hulk, maka Fatah adalah Black Widow-nya. Tentu saja di Palestina tidak cuma ada dua faksi itu, masih ada faksi lain, termasuk faksi komunis Palestina, tapi harus diakui pengaruhnya tak sebesar Hamas dan Fatah.

Waktu mendengar penjelasan kawan saya, saya cuma membatin—bukan karena tidak berani bersuara, tapi karena kemampuan bahasa Arab saya baru sampai level bisa survive di pasar, belum sampai level debat. “Ealah, mosok ya wajah faksi Palestina harus Hamas thok?”

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Saya yakin yang punya pandangan seperti Abdullah, teman saya ini, sangat banyak di bumi Indonesia tercinta. Orang-orang yang alam pikirannya dalam soal Palestina amat hitam-putih. Kalau enggak berani melawan Israel dengan face to face, ya mending ke laut aja.

Nah itulah yang bikin kabar mengenai Kiai Yahya Cholil Staquf (Katib ‘Am PBNU) diundang untuk menghadiri kuliah umum dari The Israel Council on Foreign Relations, sebuah lembaga independen Israel, begitu ramai di media sosial.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Gus Yahya, biasa disapa begitu, didaulat untuk mengisi kuliah umum dengan tema besar “Pergeseran dari Konflik ke Kerja Sama”. Kabar itu pertama kali diterima publik dari jurnalis Israel, Simon Arann, melalui akun Twiternya dan sontak jadi pergunjingan umat muslim di Indonesia.

Sekilas dari tema tersebut, kita tahu bahwa gagasan yang diusung cukup bagus. “Apa iya enggak capek konflik terus? Ayo guyub rukun disengkuyung bareng!” Kira-kira begitu gagasan panitia yang Yahudi itu. Hm, baik juga bukan?

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Tapi ya begitulah, sangat disayangkan Gus Yahya memilih untuk membatalkan kuliah umum tersebut, meski tetap akan berangkat ke Israel untuk menemui beberapa tokoh di sana. Namun yang jelas, riuh-rendah suara menentang sudah mulai terdeteksi. Rata-rata tekanan yang ada adalah upaya agar Gus Yahya membatalkan kuliah umum ini.

Gus Yahya sendiri jelas merupakan sosok yang sangat dihormati bagi kalangan Nahdliyyin. Beliau menduduki posisi Syuriah, tepatnya Katib ‘Aam. Seseorang di posisi itu bukan main-main karena sudah di-“kiai”-i kan secara kultural jauh sebelum menjadi NU struktural. Tapi pembatalan kuliah umum, jujur, sedikit mengejutkan saya. Meski disisi lain tetap harus disyukuri bahwa Gus Yahya tidak membatalkan kedatangannya ke Israel untuk silaturahmi. Berbicara di forum internasional dibidang perdamaian juga bukan yang pertama bagi beliau, jadi saya yakin Gus Yahya ya enggak gagap-gagap amat-lah di depan tokoh-tokoh Israel.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Hal semacam ini sebenarnya jadi sinyal mengkhawatirkan karena segala upaya untuk mendukung Palestina harus sesuai dengan tafsiran tunggal. Upaya-upaya di luar tafsir tunggal itu pun harus siap dicap menyakiti rakyat Palestina—versi perspektif masyarakat muslim Indonesia.

Memangnya apa sih bentuk monopoli tafsir tunggal tersebut? Antara lain Palestina harus merdeka, Israel harus diusir. Dukung Palestina harus yang berani seperti Hamas, bukan dengan cara pengecut seperti Fatah. Maka tidak cukup ada kedubes Palestina di Indonesia. Kalau bisa bikin juga “kedubes” Hamas yang berani itu. Waw, semangat yang luwar biyasa.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Padahal kalau diperhatikan lebih jauh, Hamas sendiri kadang menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Terowongan yang menghubungkan perbatasan Mesir dan Jalur Gaza, dikomersilkan oleh salah satu elite Hamas, Abu Ibrahim. Anda bisa membaca sendiri laporan dari Spiegel Online, sebuah media di Jerman. Belum lagi laporan Forbes yang menyebut Hamas sebagai salah satu organisasi (Forbes menyebutnya cukup keras; teroris) terkaya dengan pendapatan 13 triliun tiap tahun. Gile!

Meski begitu, bukan berarti faksi Fatah lalu otomatis jadi benar-benar bersih lho ya? Tapi singkatnya begini, Akhi. Dukungan hanya pada Hamas, termasuk melalui donasi, telah lahirkan kekuatan bersenjata yang powerfull di negara konflik. Apa itu baik-baik saja? Dari kacamata upaya perdamaian, ya jelas ini ramashook! Parahnya, di saat bersamaan, upaya-upaya diplomasi yang dilakukan faksi lain masih saja dipandang sebagai solusi lemah yang tak membawa perubahan.

Baca Juga: Tiga Tokoh Indonesia Masuk Top 50 dalam The Muslim 500

Padahal kita sebagai bangsa, pernah punya pengalaman yang sama dengan Palestina sebagai negeri yang terjajah. Ada yang mati-matian di medan tempur seperti Diponegoro—iya betul, ada yang seperti Pattimura di garis depan—iya betul, serta banyak lagi nama-nama lain yang mengorbankan nyawa di medan tempur. Tapi jangan lupa, kita juga punya Sutan Syahrir, Oerip Soemarmo, Mohamad Roem, hingga Bung Karno yang tidak pernah angkat senjata. Mereka ini adalah sosok yang piawai berjuang lewat jalur dialog dan diplomasi. Dan kita bisa melihat sendiri juga kan hasilnya sekarang?

Persoalan dari ketidaksepakatan terhadap undangan kuliah umum Gus Yahya di Israel adalah munculnya nuansa monopoli mengenai “cara” membela Palestina yang benar. Bentuk monopoli tafsir bela Palestina ini semacam menarasikan bahwa mendukung Palestina itu berarti tak boleh dekat-dekat dengan Israel. Apapun yang berdekatan dengan Negara Yahudi itu berarti indikasi bahwa yang bersangkutan tidak benar-benar membela Palestina.

Baca Juga: Islam Italia Iri Terhadap Islam Indonesia

Lha kalau berdekat-dekatan ini niatnya diskusi aja gimana? Ya, enggak boleh. Kalau dengan warga Yahudi non-Pemerintah Israel? Ya pokoknya enggak boleh. Kalau di dialog itu justru lahir solusi untuk mempertegas posisi pro-Palestina? Ya, pokoknya jangan.

Maka tak heran jika Gus Yahya (saya masih khusnudhon) “terpaksa” membatalkan kuliah umum tersebut. Tekanan yang diterima beliau mengingatkan saya dengan tekanan yang diterima Gus Dur ketika masih jadi Presiden, yang saat itu tanpa tedeng aling-aling membuka hubungan bilateral pertama antara Indonesia dengan Israel.

Baca Juga: Yenny Wahid Bicara Tentang Perempuan Kampung di Forum PBB

Padahal kalau kita mau sedikit melihat di luar sana, banyak kok pihak-pihak yang mengupayakan penyelesaian konflik Israel-Palestina dengan tidak melulu melihat situasinya serba hitam-putih semacam ini. Almarhum Qadafi misalnya, mengusulkan negara “Isratine” (gabungan Israel dan Palestine). Sedangkan negara-negara lain umumnya usulkan solusi dua negara.

Banyak juga negara Islam pro-Palestina merdeka yang juga tetap jalin hubungan dengan Israel dengan pelbagai dinamikanya. Turki dan Saudi, contohnya. Lalu apakah kedua negara tersebut bisa dianggap menyakiti hati umat muslim sedunia karena dekat juga dengan Israel? Enggak juga tuh.

Baca Juga: Ibu Sinta Masuk 100 Tokoh Berpengaruh di Dunia

Dari hal tersebut kita bisa berkaca, ada ragam cara untuk tuntaskan konflik panjang itu. Gus Yahya Cholil Staquf memang membatalkan kuliah umumnya, tapi tetap berniat untuk menyambung dialog dengan Israel. Apakah hasilnya nanti signifikan atau tidak, itu lain soal. Toh, ada banyak cara menuju Roma. Ada banyak cara selesaikan konflik Israel-Palestina.

Sebagai penutup, saya ingin memberi pesan sederhana. Akhi, studi perdamaian itu bukan eksakta. Ia bisa dikaji dengan ragam pendekatan. Langkah-langkah menuju damai juga beragam. Satu pendekatan yang tak antum setujui, tak berarti juga bakalan menyakiti warga Palestina. Lagian, sejak kapan antum berhak mewakili Palestina?
[]



* Oleh: Miftakhur Risal, Alumni Islamic Call College Tripoli, Libya. Tulisan ini diambil dari mojok.co.
Read More

Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel


rumahnahdliyyin.com | Jakarta - Katib 'Aam PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, tengah ramai dibicarakan di Sosial Media. Kiai yang lebih akrab dipanggil dengan Gus Yahya ini ramai dibicarakan lantaran adanya undangan dari Israel. Undangan yang datang dari The Israel Council on Foreign Relations ini mendaulat Gus Yahya untuk menjadi pembicara di The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Yerusalem.

Dalam acara yang akan digelar pada 13 Juni mendatang ini, Gus Yahya akan membawakan materi Shitfing the Geopolitical Calculus: From Conflict to Cooperation. Kendati demikian, tidak sedikit pihak-pihak yang menuduh bahwa adanya undangan tersebut menunjukkan bahwa PBNU telah menjalin kerjasama dengan Israel.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Menanggapi isu yang tak berdasar tersebut, Ketua PBNU, Robikin Emhas, dalam keterangan persnya pada Sabtu (09/06/2018) menjelaskan hal yang sebenarnya.

Inilah keterangan Robikin Emhas tersebut:
  1. Tidak ada kerja sama NU dengan Israel. Sekali lagi ditegaskan, tidak ada jalinan kerja sama program maupun kelembagaan antara NU dengan Israel.
  2. Kehadiran Gus Yahya Staquf adalah selaku pribadi, bukan dalam kapasitas sebagai Katib 'Aam PBNU, apalagi mewakili PBNU.
  3. Saya yakin kehadiran Gus Yahya tersebut untuk memberi dukungan dan menegaskan kepada dunia, khususnya Israel, bahwa Palestina adalah negara merdeka. Bukan sebaliknya.
  4. Setiap insan yang mencintai perdamaian mendambakan penyelesaian menyeluruh dan tuntas atas konflik Israel-Palestina.
  5. Konflik Israel-Palestina tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Diperlukan semacam gagasan out of the book yang memberi harapan perdamaian bagi seluruh pihak secara adil. Boleh jadi Gus Yahya Staquf memenuhi undangan dimaksud untuk menawarkan gagasan yang memberi harapan bagi terwujudkan perdamaian di Palestina dan dunia pada umumnya.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Hal senada juga dikatakan dan dijelaskan oleh Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini, bahwa kehadiran Gus Yahya dalam acara tersebut adalah untuk menyampaikan posisi Palestina sebagai negara yang merdeka. Selain itu, Gus Yahya akan mengatakan kepada Israel tentang persoalan konflik dengan Palestina.

"Di sana memang beliau berjuang menegaskan posisi Palestina sebagai negara berdaulat. Jadi, justru ingin mengatakan kepada Israel bahwa Palestina harus dilihat bukan semata-mata masalah agama, tapi masalah kemanusiaan. Masalah hak berdaulat atas suatu negara. Itu diplomasi yang akan disampaikan oleh Gus Yahya," ungkap Helmy sebagaimana dikutip dari detik.com.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

Dari keterangan pers yang disampaikan oleh Ketua PBNU (Robikin Emhas) dan Sekjen PBNU (Helmy Faishal Zaini) inilah maka jelas sudah bahwa apa yang dibicarakan di Sosial Media yang terkesan negatif mengenai KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang memang saat ini mengemban amanah sebagai Katib 'Aam PBNU dalam memenuhi undangan ke Israel itu tidaklah benar.[]

(Redaksi RN).
Read More

Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia


rumahnahdliyyin.com - Konflik Afghanistan sudah berlangsung selama puluhan tahun. Dan hingga saat ini, belum ada tanda-tanda kalau konflik bakal berakhir. Bom meledak hampir setiap pekan. Puluhan ribu masyarakat sipil dan ribuan pasukan keamanan Afghanistan pun tewas menjadi korban.

Tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis data bahwa jumlah korban masyarakat sipil yang meninggal adalah 11.418 orang. Mungkin saja juga lebih dari itu.

Berbagai macam teori tentang konflik Afghanistan pun dikembangkan. Ada yang berpendapat bahwa konflik Afghanistan itu disebabkan karena campur tangan asing. Negara-negara yang memiliki kepentingan menjadikan Afghanistan sebagai medan untuk bertempur. Pendapat lain mengemukakan bahwa pertikaian antar suku dan kelompok keagamaan-lah yang menjadi sumbu dari konflik di Afghanistan.

Baca Juga: Dunia Berharap Kepada NU

Pada tahun 2011, Nahdlatul Ulama (NU) pernah mengundang kelompok-kelompok Afghanistan yang bertikai itu untuk berkumpul bersama di Indonesia. Mereka diajak duduk bersama untuk membahas solusi konflik yang mendera negaranya dan mewujudkan perdamaian di sana. Pertemuan ini pun memiliki dampak yang cukup signifikan. Mereka yang dulu bertikai, mulai sadar untuk membangun perdamaian di Afghanistan. Bahkan, beberapa tahun setelahnya, didirikan Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA) untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang moderat ala NU.

Setelah kelompok-kelompok yang bertikai itu sepakat untuk mengakhiri konflik, mengapa perdamaian yang diinginkan itu tidak kunjung terwujud di Afghanistan? Apa yang sebetulnya terjadi dengan negara berpenduduk 34,6 juta jiwa itu? Apakah konflik yang terjadi di negara-negara lain yang mayoritas berpenduduk muslim juga memiliki pangkal persoalan yang sama dengan yang ada di Afghanistan?

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Pada Selasa, 17 April 2018, Jurnalis NU Online, A. Muchlishon Rochmat, berhasil mewawancarai Katib 'Aam PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, untuk mengetahui dan melihat lebih dalam apa yang sebetulnya terjadi di Afghanistan serta arah peradaban dunia saat ini. Berikut petikan wawancaranya:

Apa yang sebetulnya terjadi di Afghanistan, gus?

Kalau kita mau melihat ke akar yang paling dalam dari konflik Afghanistan, saya ingin mengatakan bahwa Afghanistan itu adalah produk dari keseluruhan elemen-elemen negatif dalam peradaban dunia sekarang ini. Elemen negatif yang pertama adalah persaingan antara kekuatan global dalam politik dan ekonomi yang mengabaikan nasib dan nyawa manusia. Mereka manganggap korban manusia adalah sesuatu yang tidak terelakkan dari capaian ekonomi dan politik yang menjadi tujuannya.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia

Ini dilakukan semua pihak. Kita tidak bisa menyalahkan Barat atau Soviet saja. Tapi juga negara-negara lain. Termasuk negara Islam. Negara-negara Islam seperti Saudi Arabia, Qatar, Iran dan Pakistan, ikut dalam permainan konflik di Afghanistan untuk kepentingan masing-masing. Naasnya, Islam dijadikan simbol untuk menggalang dukungan atau digunakan untuk membenarkan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak yang berkonflik.

Negara Barat dan beberapa negara lainnya memiliki kepentingan di Afghanistan. Kepentingan apa yang Anda maksud? Bisa dijelaskan lebih detail, gus?

Misalnya, dulu Amerika Serikat memanfaatkan Afghanistan ini untuk mengalahkan Uni Soviet. Saudi mendukung karena ada kepentingannya, yaitu menghadapi Irak. Pakistan ikut terlibat karena kepentingan untuk memperoleh kompensasi-kompensasi dengan berbagai bentuk, baik dari negara Barat seperti Amerika Serikat maupun negara kaya Saudi.

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Bagaimana dengan persoalan internal Afghanistan sendiri? Apakah itu juga mempengaruhi secara signifikan konflik yang berkembang di Afghanistan?

Dalam dimensi yang lebih kotor lagi, konflik Afghanistan juga terkait dengan pertarungan politik dalam negeri. Kelompok-kelompok yang bertikai mencampur adukkan antara pemanfaatan isu-isu agama dan identitas etnik. Terutama oleh sekelompok elit militer Afghanistan untuk kepentingan hegemoni politik domestik.

Dalam beberapa kesempatan yang lalu, NU pernah melakukan upaya second track diplomation dengan mengundang para kelompok Afghanistan yang bertikai untuk "duduk bersama". Sejauh mana upaya ini memberikan efek terhadap proses rekonsiliasi di Afghanistan?

Tidak mungkin menyelesaikan masalah Afghanistan melalui pendekatan-pendekatan parsial. Kita pernah mencoba dengan pendekatan yang paling valid terkait dengan konflik Afghanistan. Atas jasa dari pak As’ad Said Ali, para pemimpin kelompok Afghanistan yang bertikai berhasil diundang ke sini untuk berunding dan difasilitasi oleh PBNU pada tahun 2011. Yang hadir merupakan representasi dari war lord, panglima perang yang saling bersaing.

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Pertemuan ini berhasil karena mencapai konsensus-konsensus yang substansial dan efektif. Kita berbicara soal perdamaian dalam realitas, bukan hanya omong kosong. Misalnya, yang kita minta untuk dijadikan kesepakatan bersama adalah kebebasan setiap orang untuk bergerak di mana saja di dalam wilayah Afghanistan tanpa ada gangguan.

Saat datang, mereka tidak mau ngomong dengan yang lainnya. Namun diakhir pertemuan, mereka saling berpelukan sambil menangis karena menyadari bahwa perdamaian adalah sesuatu yang mereka butuhkan.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Tapi, mengapa "perang" itu masih berkobar hingga saat ini di Afghanistan?Bukankah para war lord sudah sepakat untuk berdamai?

Karena perdamaian itu bertentangan dengan kekuatan-kekuatan besar yang memiliki kepentingan di Afghanistan, maka proses ini kemudian dijegal-jegal. Tidak lama setelah pulang dari sini, mantan Presiden Afghanistan, Syaikh Burhanuddin Rabbani, dibunuh. Orang-orang yang dulu terlibat dalam proses perundingan di sini sangat terinspirasi dengan inisiatif NU hingga mereka ngotot untuk mendirikan NU Afghanistan sendiri.

Seberapa besar pengaruh NU Afghanistan dalam upaya mewujudkan perdamaian di Afghanistan?

Pertama, lagi-lagi karena ini parsial dari sisi sebagian kelompok grassroot di Afghanistan–sementara kekuatan-kekuatan besar tidak suka karena bertentangan dengan kepentingan mereka, maka kemajuannya juga terhalang. NU Afghanistan tidak bisa berkembang secara signifikan. Walaupun orang-orang ini terus menerus memperjuangkan perdamaian di Afghanistan, namun sangat lambat.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Kedua, begitu juga pendekatan keagamaan, juga macet. Bersama pak As’ad, saya sendiri terlibat dalam beberapa upaya rekonsiliasi Afghanistan yang diselenggarakan Dunia Internasional dengan pendekatan Islam. Semuanya omong kosong. Mereka ngomong banyak hal tentang agama, tetapi satu pun diantara mereka tidak menyentuh sisi yang paling berbahaya dari anjuran agama, yaitu sisi untuk berperang atas nama agama.

Itu sangat berbahaya, karena kita berhadapan dengan realitas masyarakat yang tidak mau majemuk. Semua mengaku Islam dan menuduh yang lain kafir. Semua berhak, bahkan wajib, untuk membunuh orang. Agama itu ide, perdamaian itu soal realitas. Maka dari itu, antara ide dan realitas harus nyambung.

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Ketiga, ini bukan hanya urusan orang Islam. Persoalan Afghanistan adalah urusan seluruh orang di dunia. Jelas-jelas Amerika terlibat di situ. Rusia terlibat, China terlibat. Afghanistan hanya satu "titik api" dari sekian banyak titik api yang ada di dunia; Suriah, Libya, Yaman, Tunisia, Pakistan, Bangladesh. Ini masalah global dan harus dipecahkan bersama-sama.

Jadi, Anda melihat pangkal segala persoalan yang terjadi di banyak negara, terutama negara-negara Islam, itu seperti apa?

Salah satu dimensi yang paling penting dari masalah ini adalah kebangkrutan Islam sebagai agama. Islam bangkrut. Kenapa bangkrut? Karena tidak mampu menyediakan jalan keluar yang efektif bagi manusia hari ini.

Kenapa Islam bangkrut? Karena ulamanya malas berpikir dan pengecut menghadapi kenyataan. Seluruh dunia celaka, ya agamanya yang bangkrut. Kalau ulama-ulama yang alim, keramat itu tidak mau berpikir tentang ini, menurut saya mereka hanya menyia-nyiakan agama.

Baca Juga: Tasawwuf Pancasila

Beberapa waktu lalu, Barat menyerang Suriah. Apakah ini menjadi tanda peradaban dunia semakin kacau?

Persis, itu kebusukan peradaban yang belum dirubah. Sebetulnya, peradaban dunia membutuhkan arah baru. Kita tidak bisa lagi hanya bicara soal demokrasi, pembangunan, kemakmuran. Dunia membutuhkan visi baru tentang kemuliaan.

Sekarang, semuanya berlomba-lomba untuk mencapai prestasi-prestasi ekonomi, politik. Tapi, tidak ada yang peduli terhadap kemuliaan; bagaimana membangun peradaban yang mulia, menjadikan manusia bermartabat, tidak jatuh menjadi binatang pemakan sesama. Ini yang diperlukan dunia saat ini.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Bagaimana dan dari mana seharusnya peradaban dengan visi kemuliaan seperti itu dibangun?

Saya sudah bertemu semua orang, mulai dari ulama-ulama di Timur Tengah, orang-orang Barat, Yahudi Zionis, Rusia dan Cina. Sebetulnya, ada momentum politik. Tidak ada inspirasi dari seluruh penjuru peradaban dunia ini selain dari Islam. Islam itu risalah rohmatan lil ‘alamin. Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Itu yang dibutuhkan dunia.

Kita ribut soal turats, menghormati ulama-ulama salaf. Kalau tidak ada jawaban dari situ, buat apa. Turats kalau tidak bisa digunakan, buat apa. Kalau tidak memberi solusi, apa manfaatnya. Bukannya kita tidak menghormati capaian dari ulama-ulama salaf, kita harus berpikir bagaimana menciptakan sesuatu yang berguna untuk tantangan hari ini walaupun menyelisihi pemikiran dari ulama terdahulu. Kan, belum tentu sesuatu yang baik pada masa lalu, baik pula pada saat ini.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Harapan terbesar dari solusi peradaban adalah Indonesia. Di Indonesia, dimana harapan itu bersumber? Nahdlatul Ulama. Kita punya modal. Kita memiliki pemimpin-pemimpin dalam sejarah yang menuntun kita untuk menuju solusi sejak zaman kiai Wahab Chasbullah, sampai sekarang kiai Said Aqil Siroj. Ini adalah arah menuju solusi.

Kita harus bersama-sama membangun gerakan untuk menuju satu arah yang bisa menjadi jalan keluar dari kemelut persoalan dunia saat ini. Umat Islam paling berkepentingan dalam hal ini. Kenapa? Karena kita harus membuktikan bahwa Islam betul-betul berguna untuk manusia. Islam tidak hanya menjadi sumber bencana.[]



(Redaksi RN)
Read More