Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan

Manuskrip Samson; Al-Qur'an Raksasa Tiba di Manokwari


rumahnahdliyyin.com, Manokwari - Manuskrip Samson adalah manuskrip yang terbuat bukan dari kertas Eropa ataupun dluwang (koba-koba, dok-dok) melainkan dari kertas modern. Kertas ini biasanya dijual di pasaran dan dikenal sebagai kertas semen (zaq). Bahannya yang kuat, memang cukup bagus untuk medium penulisan naskah.

Rabu (18/11) malam, KM. Gunung Dempo  sandar di Pelabuhan Manokwari (Port of Manokwari), Papua Barat. Ini adalah momen bersejarah, sebab kapal itu juga mengangkut Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa. Dikatakan raksasa, sebab ukurannya meliputi panjang 1,5 meter, lebar 1 meter dan tebal 10 centimeter.


Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua untuk Nahdliyyin di Jawa


Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa ini awalnya milik seorang Jenderal Bintang Satu matra Angkatan Udara di Jakarta. Karena ingin agar manuskrip ini bermanfaat, akhirnya disumbangkan untuk dirawat. Namun karena kurang perhatian, akhirnya manuskrip itu didatangkan ke Papua Barat.

Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa itu memiliki penutup (cover) terbuat dari sejenis kulit binatang yang disambung-sambung. Pada bagian awal naskah alias halaman pertama adalah Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Baqoroh dengan ilustrasi warna-warni. Sosok tokoh pewayangan tampak menghiasi.

Oleh sebab itu, Dr. R.A. Muhammad Jumaan, pendiri Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi (Centre of the Study of the Islamic Manuscripts and Philology) Manokwari menyebutnya dengan nama Codex Gigas alias Qur'an Wayang. Sebab, ukuran manuskrip ini sangat besar dan terdapat lukisan sosok pewayangan di dalamnya.


Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok di Enarotali


Di bagian tengah halaman, tampak juga ilustrasi yang serupa, hanya berbeda surah. Sayangnya, pada bagian awal dan akhir tidak tercantum kolofon sehingga saat ini belum dapat diketahui siapa, kapan, dimana dan untuk tujuan apa Manuskrip Samson ini dibuat.

Namun, dari jenis tinta yang dipergunakan, yaitu tinta emas, agaknya bisa dipastikan bahwa itu adalah berasal dari spidol. Begitu juga warna-warni yang menyusun ilustrasinya. Tidak ada ilustrasi lainnya, selain yang disebutkan tadi.


Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Asmat Butuh Pembina Agama


Pembina Nasional Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAA-I), Dr. R.A. Muhammad Jumaan, yang merupakan pemilik dan pemelihara naskah itu, langsung mengambilnya di Pelabuhan Manokwari. Perlu dua orang TKBM untuk menurunkannya dari kapal ke mobil. Meski beratnya hanya sekitar 42 kg. saja, namun mengingat volumetrik yang besar, cukup sulit untuk membawanya.

"Manuskrip samson Al-Qur'an Raksasa ini merupakan suatu karya yang patut diberikan apresiasi. Kegigihan penulisnya dalam menyelesaikan penulisan 30 juz tentu memerlukan waktu yang tidak sebentar dengan iringan peristiwa yang variatif: ada suka dan duka. Menulis di atas medium yang besar juga memerlukan energi dan kenyamanan tersendiri. Bila diperkirakan ditulis dalam waktu 100 hari, maka biaya yang dikeluarkan juga tentu tidak sedikit," jelas Dr. R.A. Muhammad Jumaan kepada kontributor rumahnahdliyyin.com lewat pesan di WA.


Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifa'i


Manuskrip Samson itu memiliki fungsi sebagai obyek penelitian yang penting. Sebab, di Papua ini ditengarai banyak terdapat manuskrip sejenis. Apakah penulis dan asal lokasi pembuatan manuskrip itu sama? Hanya penelitian Filologi dan Kodikologi yang dapat menjawabnya! []

(Redaksi RN)

Read More

PCNU Jombang Gelar Tradisi Ijazah Shohih Bukhori

 


rumahnahdliyyin.com, Jombang - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Jawa Timur, menggelar khataman kitab Shohih Bukhori untuk ketiga kalinya pada Senin malam (16/11/2020). Kegiatan yang diikuti oleh pengurus NU dan elemen pesantren ini dimotori langsung oleh kiai-kiai sepuh NU yang memegang sanad Shohih Bukhori hingga ke Hadlrotusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.


"Tradisi sesepuh ini (khataman kitab Shohih Bukhori) jangan sampai ditinggalkan," kata Rois Syuriyah PCNU Jombang, KH. Abd. Nashir Fattah di Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyiin, Paculgowang, Kecamatan Diwek, Jombang, yang dijadikan tempat kegiatan ini.


Baca Juga: Shohih Bukhori No. 1: Niat


Menurut KH. Abd. Nashir Fattah, pesantren-pesantren yang berada di Jombang mayoritas memiliki relasi yang kuat dari sisi keilmuan. Para sesepuh atau pendiri pesantren di Jombang, bila ditelusuri lebih jauh sanad keilmuannya, maka akan ketemu dengan guru-guru yang sama atau seirama.


"Pondok pesantren di Kabupaten Jombang ini terjalin satu 'alaqoh bathiniyah (hubungan batin yang kuat) yang terajut dengan tali hubung keilmuan dari masyayikh pendahulu," jelas Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, ini.


Pada kesempatan ini, kiai Nashir juga mengijazahkan sanad hadits musalsal dan sanad kitab Hadits Shohih Bukhori. Ijazah sanad tersebut diperoleh kiai Nashir dari guru-gurunya, diantaranya yaitu Sayyid Ismail bin Zein Al-Yamani, Syaikh Yasin bin Isa Al-Fadani, Sayyid Muhammad Al-Makky dan beberapa masyayikh yang bersandar kepada Hadrotusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari Tebuireng dari Syaikh Mahfudz At-Turmusyi.


Baca Juga: Shohih Bukhori No. 2: Cara Turunnya Wahyu Kepada Rosululloh


Sementara itu, Wakil Syuriyah PCNU Jombang, kiai M. Shaleh mengemukakan, kegiatan ini adalah upaya untuk merawat tradisi ulama pendahulu dalam memegang sanad-sanad keilmuan yang diberikan oleh guru-gurunya.


Hal ini penting karena menurutnya kualitas keilmuan seseorang (murid) sangat dipengaruhi oleh guru-gurunya yang memiliki sanad yang kuat.


"Dawuh Rois Syuriyah PCNU ini sungguh benar (khataman kitab Shohih Bukhori jangan sampai ditinggalkan). Karena kualitas ilmu seseorang sangat dipengaruhi oleh guru," tuturnya.


Ia mencontohkan salah satu 'ulama' dahulu, namanya Syaikh Zainuddin Al-Malibari, bahwa ia seringkali mengutip fatwa gurunya, yaitu Ibnu Hajar Al-Haitami, dalam merespons suatu masalah tanpa sanggahan, meskipun ia juga mengutip pendapat 'ulama' lain dalam masalah tersebut.


"Hal ini juga sering dilakukan para guru saya. Almarhum Mbah Yai Junaid dalam memaknai teks kitab selalu merujuk pada gurunya Al-Maghfurlah Mbah Yai Zubair (ayah Mbah Maimoen Zubair)," ungkapnya.


Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari


Di akhir acara, dilakukan juga ijazah sanad kitab hadits Shohih Bukhori dari KH. Ahmad Taufiqurrohman Mukhith, Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang, yang juga Musytasyar PCNU Kabupaten Jombang. Sanad yang diijazahkannya ini bersumber dari guru-gurunya. Antara lain dari KH. Mahfudz Anwar Seblak dan masyayikh lainnya yang bersumber dari Hadlrotusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari.[]


(Redaksi RN)

Sumber: NU Online


Read More

Di Bulan Gus Dur, Jaringan Gusdurian Menerima Asia Democracy and Human Rights Award 2018


rumahnahdliyyin.com - Bulan Desember ini adalah bulan istimewa bagi kami, Jaringan Gusdurian Indonesia. Pertama, bulan ini adalah bulan Gus Dur. Bulan ketika kita semua memperingati wafatnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di bulan ini, haul Gus Dur diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia untuk mengenang sekaligus menebarkan tauladan beliau.

Kedua, di Desember tahun ini, Jaringan Gusdurian mendapatkan anugerah Asia Democracy and Human Rights Award 2018 oleh The Taiwan Foundation for Democracy (TFD). Penghargaan ini secara langsung diberikan oleh Presiden Republik China Taiwan, Ibu Tsai Ing-wen.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Menurut TFD, Jaringan Gusdurian telah bekerja untuk mempromosikan dialog antaragama, multikulturalisme, konsolidasi masyarakat sipil, toleransi, demokrasi dan hak asasi manusia. Dengan berpegang pada sembilan nilai utama Gus Dur, JGD selama ini tak kenal lelah berjuang untuk kebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama.

Jaringan Gusdurian juga dinilai telah melakukan intervensi yang berarti terhadap masalah diskriminasi di Indonesia dengan membela mereka yang menjadi korban. Jaringan Gusdurian juga menjadi salah satu organisasi terkemuka dalam memerangi radikalisme dan intoleransi di Indonesia, termasuk mengurangi dan mengurangi potensi konflik komunal di negeri yang penuh dengan keragaman agama dan etnis.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Presiden Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia (FIDH), Dimitris Christopoulos, terkesan oleh upaya dialog antar-iman yang dilakukan oleh Jaringan Gusdirian, yang berasal dari aktivis Islam moderat di dunia dimana Islamophobia telah masuk ke dalam agenda politik.

Sementara Dr. Shin Hae Bong, Presiden Japan’s Human Rights Now, menyatakan bahwa Jaringan Gusdurian telah berkontribusi menciptakan ruang dialog yang aman bagi orang-orang dengan beragam latar belakang agama dan etnis, yang sangat penting dalam masyarakat multi-etnis, memainkan peran katalis dalam mempromosikan dialog antaragama, demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia dan di luar negeri.

Baca Juga: Ruh Gus Dur di Sidera

Penghargaan ini tentu saja membanggakan dan patut disyukuri. Ini menandakan bahwa kerja-kerja kami selama ini mendapatkan apresiasi di tingkat internasional.

Secara khusus, Jaringan Gusdurian mengucapkan terimakasih kepada The Taiwan Foundation for Democracy yang telah memberikan penghargaan ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada mitra-mitra kerja kami di Indonesia dan luar negeri yang selama ini telah membantu kerja-kerja Jaringan Gusdurian.

Penghargaan ini, secara khusus, kami dedikasikan kepada seluruh pejuang HAM di Indonesia dan seluruh dunia yang selama tidak kenal lelah terus berjuang menegakkan keadilan, demokrasi dan HAM.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Namun demikian, bagi kami, penghargaan ini lebih merupakan cambuk. Cambuk keras agar kami tidak berhenti dan terus bekerja. Perjuangan untuk menegakkan HAM tidak boleh berhenti hanya dengan sebuah award.

Bagi kami, penghargaan ini justru menjadi tanda bahwa Jarigan Gusdurian harus bekerja lebih keras dalam memperjuangkan keadilan, bebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama. Di masa mendatang kasus-kasus diskriminasi dan menguatnya politik identitas akan menjadi tantangan berat bagi kerja-kerja perjuangan Hak Asasi Manusia.

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur di Mata Profesor Jepang

Kami berharap penghargaan ini juga menjadi penanda baru bagi lebih dari seratus komunitas gusdurian yang tersebar di seluruh Indonesia untuk terus bekerja menebarkan nilai-nilai yang telah diajarkan Gus Dur bagi terwujudnya masa depan Indonesia yang lebih berperikemanusiaan.

Salam.

Seknas Jaringan Gusdurian Indonesia.
[]
Read More

Peringati Maulid Nabi, Warga Maros di Biak Tetap Lestarikan Tradisi


rumahnahdliyyin.com | Biak Numfor - Himpunan Keluarga Maros, Sulawesi Selatan, tetap menjaga tradisi budaya masyarakat Bugis-Makassar meskipun tengah berada di tanah perantauan, di Biak Numfor, Papua. Tradisi budaya tersebut yaitu membagi makanan ketan telur yang dihias dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah.

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 8 Desember 2018, itu dihadiri juga oleh Pelaksana Tugas Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap. Dalam kesempatan itu, Plt. Bupati mengajak warga Maros untuk memaknai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. tidak berhenti pada perayaan seremonialnya semata.

Baca Juga: Maulid

"Jadikan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. untuk saling berbagi dan menjaga kebersamaan antarwarga Maros dalam mendukung program pemerintah," ujarnya sebagaimana diberitakan oleh Antara.

Ia juga mengajak warga Maros agar terus menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat lain dan hidup berdampingan di Kabupaten Biak Numfor.

Melalui hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., menurut Herry, diharapkan warga Maros dapat meningkatkan nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga: Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia

Sementara itu, Ketua Himpunan Keluarga Maros Biak Numfor, Abdul Kadir, mengakui bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. itu dilaksanakan warga Maros sebagai bukti pengamalan nilai ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT.

"Di peringatan Maulid, warga Maros telah membagikan telur ketan beserta lauk-pauk untuk diberikan kepada setiap tamu yang hadir," katanya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah oleh Himpunan Keluarga Maros di Biak Numfor itu memang berlangsung dengan hikmad dan cukup meriah. Adapun ketan telur maulid disediakan oleh panitia penyelenggara.[]
Read More

Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia


rumahnahdliyyin.com | Paniai - PHBI Kabupaten Paniai, Papua, pada Sabtu, 1 Desember 2018, menghadirkan ustadz. Drs. Umar Bauw Al-Bintuni sebagai penceramah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 H. Acara yang bertempat di Masjid Al-Mubarok Enarotali itu berlangsung lancar.

Dalam ceramahnya, dai kelahiran Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, itu mengajak umat Islam untuk mencintai Nabi Muhammad SAW. sekaligus meneladani akhlaq beliau dalam kehidupan sehari-hari.

"Hablum-minalloh dan yang paling utama ini adalah hablum-minannas, hubungan baik kepada sesama manusia. Apalagi kita hidup di tengah-tengah umat Nasrani yang beraneka ragam. Kita harus mengetahui hak-hak bertetangga dengan umat non-muslim yang diajarkan oleh Nabi kita. Jangan sampai perbedaan ini menjadikan perpecahan. Namun bersatu merajut persaudaraan, bergandengan untuk kehidupan yang harmonis," ujar Kasi Pendidikan Agama Islam Kanwil Kemenag Papua itu.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Selain itu, ia juga sedikit mengulas sejarah masuknya agama Islam di Papua. Dituturkannya bahwa pada tahun 1213 M., agama Islam sudah ada di Teluk Bintuni Fakfak dan menjadi agama mayoritas masyarakat asli setempat. Namun ketika ada umat Nasrani datang yang ingin menyebarkan agama Nasrani, pun tidak ditolak. Pada waktu itu, raja setempat malah mengantarkan dan menunjukkan ke sebuah pulau yang namanya Pulau Mansinam (sekarang Manokwari, red.) yang mana masyarakat di sana sama sekali belum mengenal agama dan masih menganut agama nenek moyang dan ateisme.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan

Selanjutnya, dai asli Papua itu kemudian memaparkan contoh kerukunan yang ada di Teluk Bintuni. Di sana ada Masjid Pattimburak yang arsiteknya merupakan perpaduan antara gereja dan masjid. Masjid tersebut dulunya dibangun bersama umat Nasrani dan Katolik. Dan di sebelah Masjid tersebut juga dijadikan sebagai tempat ibadah orang Nasrani dan Katolik. Di sana hidup rukun berdampingan dan saling membantu satu dengan lainnya, sebagaimana dalam kehidupan sehari hari masyarakat di sana. Apabila dari umat Islam memerlukan pertolongan, umat Nasrani pun tidak enggan untuk membantu.

Kalau sudah seperti itu, lanjutnya lagi, tidak ada agama Islam atau Nasrani. Yang ada adalah manusia dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, di sana ada istilah “Satu Tungku Tiga Batu” sebagai gambaran bahwa meskipun kita berbeda agama namun kita harus bersama-sama bergandengan tangan dan tidak bermusuhan.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Pada acara tersebut, Bupati Paniai terpilih pun, bapak Mekky Nawipa, tampak hadir dan memberikan sambutannya. Walaupun ia seorang Nasrani, ia tetap menghargai peringatan hari-hari suci umat Islam dan mengapresiasi acara peringatan Maulid Nabi itu.

"Kita semua adalah makhluk Tuhan dan kita ketahui bahwa kita hidup dan lahir di Indonesia. Dan saya yakin semua agama mengajarkan untuk saling menghormati, mengasihi antar umat satu dengan yang lainnya. Mari bersama-sama menjaga kerukunan dan membangun Papua menjadi maju, harmonis dan tidak ada perpecahan," ajak bapak Bupati.[]
(M. Taha)
Read More

Gus Mus: Jangan Seret Agama ke Politik Praktis dan Perebutan Kekuasaan


rumahnahdliyyin.com | Jombang - KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), dalam acara Haul ke-3 KH. Aziz Manshur di Pesantren Pacul Gowang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin kemarin (6/11), meminta supaya politikus tidak menyeret agama untuk kepentingan politik praktis dan perebutan kekuasaan saja. Sebab, hal itu dapat merugikan agama Islam sendiri, apalagi digambarkan sebagai pembuat kerusuhan dan haus kekuasaan.

Sekarang banyak politikus yang menarik-narik agama ke politik. Alloh dibawa-bawa ke ranah kampanye. Suriah dulu rusak karena agama digunakan untuk kepentingan politik.

Baca Juga: Gus Mus: Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

"Dalil tidak digunakan pada tempatnya. Bisa-bisanya surat Al-Maidah ditarik ke politik. Perkara lima tahun sekali, kok dibelain sampai kayak mau kiamat. Padahal lima tahun lagi akan ada pemilihan baru," katanya.

Gus Mus juga menyoroti banyaknya politikus yang menggunakan dalil-dalil Al-Qur'an untuk menjatuhkan lawan politik. Ayat suci tersebut digunakan untuk membenarkan tindakannya. Terkesan memaksakan dalil. Bahkan karena saking fanatiknya pada pilihan politiknya, sampai-sampai merusak persaudaraan. Kakak dan adik tidak lagi akur. Sama tetangga tidak berteguran karena beda pilihan.

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

"Jadi saya tidak terlalu percaya kalau politikus suka dalil-dalil, kepentingan sesaat. Bahayanya kalau seandainya dalil lima tahun lalu berbeda dengan tahun sekarang. Karena keadaan politik, padahal jejak digital itu kejam. Malah kelihatan tidak konsisten, dulu mengharamkan tapi sekarang membolehkan," ujar Gus Mus.

Gus Mus pun mengaku heran dengan kelompok Islam gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits. Kelompok ini merasa paling benar dan teriak ke sana ke mari merasa paling gagah. Mereka berdemo-demo seolah paling benar. Ia berpendapat gerakan ini subur juga karena sekarang orang waras banyak yang mengalah. Ini harus dibalik sekarang, orang waras harus bicara.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

"Kok ya ada gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Al-Hadits tapi Al-Qur'an yang dimaksud adalah Qur'an terjemahan Departemen Agama (Depag). Padahal bahasa Indonesia itu tidak bisa sempurna memaknai bahasa Al-Qur'an. Karena keterbatasan kosa kata. Bersyukurlah santri yang masih belajar di pesantren," beber Gus Mus.

Oleh karenanya, Gus Mus usul untuk melawan gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits dengan ngaji kepada para ahli di pesantren. Ditambah lagi dengan memperbanyak kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena kalau tidak begitu, orang yang tidak paham agama secara mendalam, akan berfatwa terus.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

"Maulid nabi dan Haul kalau bisa setiap malam, biar tidak lali (lupa) sama kebaikan nabi dan kiai. Biar tidak ada lagi istilah nabi dawuh ngulon (barat), orangnya malah ngetan (timur). Sudah salah, ditambahi takbir lagi. Kembali ke Al-Qur'an itu ya ngaji, kembali ke pesantren," tandas Gus Mus.[]



Source: NU Online
Read More

FPI Kabupaten Malang: HTI Tak Boleh Ada di Indonesia


rumahnahdliyyin.com | Malang - Front Pembela Islam (FPI) Kabupaten Malang sepakat bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tak boleh ada di Indonesia. Hal itu ditegaskan FPI Kabupaten Malang dalam acara Cangkruan Kamtibmas Kapolres Malang, yang digelar oleh Polres Malang, pada Jum'at (26/10/2018).

Menurut Sekretaris FPI Kabupaten Malang, Muhammad Khosim, pihaknya memohon maaf karena pimpinan FPI Kabupaten Malang tak bisa hadir atas undangan cangkruan Kamtibmas Kapolres Malang itu.

"Pimpinan kami sedang ada acara, tidak bisa hadir. Karena kita (FPI Kabupaten Malang) masih baru, pimpinan kami menyampaikan agar kita tidak banyak menyampaikan statemen, soal pembakaran bendera HTI di Garut itu," jelasnya.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Namun, DPW. FPI Kabupaten Malang, tegas Khosim, telah sepakat bahwa insiden di Garut itu bukan unsur kesengajaan dari teman-teman Banser.

"Selain itu, kita (FPI Kabupaten Malang), sepakat bahwa HTI di Indonesia tidak boleh ada," tegas Khosim, di depan ratusan undangan dan para tokoh organisasi keagamaan dan kepemudaan yang hadir saat itu.

Menyikapi kejadian pembakaran bendera HTI di Garut itu, karena terjadi multi tafsir antara bendera HTI atau Al-Liwa'-Ar-Royah, Khosim mengatakan: "FPI sampai dengan saat ini tidak ada agenda menggelar aksi apapun di Kabupaten Malang," tegasnya yang disambut aplaus oleh para hadirin.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" oleh Hizbut Tahrir

Selain itu, Khosim juga menambahkan bahwa FPI Kabupaten Malang dengan teman-teman Banser di Kabupaten Malang sudah clear.

"Namun, seperti yang disampaikan MUI Kabupaten Garut, adalah permintaan maaf Banser kepada teman-teman yang menafsirkan berbeda, harus dilakukan," katanya.

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Sementara itu, menurut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang, Drs. H. Mursidi, MM., warga Muhamadiyah Kabupaten Malang sepakat tidak boleh ada aksi massa tandingan dan kemarahan yang berlebihan yang berpotensi pada perpecahan dan rusaknya persatuan bangsa.

"Kejadian Garut itu, agar menjadi bahan muhasabah, agar tidak terulang kejadian yang sama dengan alasan apapun. Tidak boleh terjadi lagi di Indonesia, terutama di Kabupaten Malang," katanya.[]
Read More

Dzikir Kebangsaan Diharapkan Jadi Tradisi Peringatan Kemerdekaan


rumahnahdliyyin.com | Jakarta - Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pada Rabu, 1 Agustus 2018, menghadiri acara Dzikir dan Doa untuk Bangsa yang berlangsung di halaman depan Istana Merdeka, Jakarta. Dzikir kebangsaan ini digelar untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-73.

Dengan mengenakan baju koko yang dibalut dengan jas hitam, sarung dan peci hitam, Kepala Negara tiba di halaman depan Istana Merdeka sekitar pukul 19.39 WIB. Dalam sambutannya, ia menginginkan supaya acara tersebut bisa menjadi tradisi.

"Semoga dengan dzikir dan doa yang kita lakukan pada malam hari ini, dan ini menjadi tradisi. Setiap 1 Agustus, setiap tahun, akan terus dilakukan dzikir dan doa untuk mengucapkan syukur atas rahmat yang diberikan Allah pada bangsa kita Indonesia, yaitu kemerdekaan," kata Presiden saat memberikan sambutannya.

Baca Juga: Jama'ah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad Benteng Aswaja di Asmat

Senada dengan Presiden, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Ma'ruf Amin, menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, belum pernah ada dzikir dan doa bersama menyambut kemerdekaan selama lebih dari 70 tahun Indonesia merdeka.

"Tapi sekarang ada, karena keinginan Bapak Presiden," kata KH. Ma'ruf Amin.

KH. Ma'ruf Amin juga berharap semoga acara dzikir dan doa bersama ini bisa memberi keberkahan bagi bangsa dan negara.

Baca Juga: Memperkokoh Islam Kebangsaan, Memperkuat Ekonomi Umat

Harapan yang sama juga disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Dzikir Hubbul Wathon, KH. Musthofa Aqil Sirodj, dalam sambutannya. "Dzikir dan doa dapat menjadi muhasabah. Melalui dzikir dan doa, semoga Indonesia bisa menjadi bangsa yang aman dan damai," katanya.

Tampak hadir mendampingi Presiden dan Wapres dalam dzikir kebangsaan ini yaitu Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Wiranto), Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin), Menteri Sekretaris Negara (Pratikno), Kepala Staf Kepresidenan (Moeldoko), Panglima TNI (Marsekal Hadi Tjahjanto), Kapolri (Jenderal Tito Karnavian), Jaksa Agung (Muhammad Prasetyo) dan Imam Besar Masjid Istiqlal (Nasaruddin Umar).[]


(Redaksi RN)
Read More

Fenomena Nissa Sabyan dan Bahasa Arab


rumahnahdliyyin.com - Beberapa minggu yang lalu, ketika saya mudik lebaran Idul Fitri, saya menemukan fenomena luar biasa. Suara Nissa Sabyan menggema di berbagai tempat; di rumah, warung, perkantoran, pasar, kendaraan umum dan pribadi, walimah, pesta pernikahan, gedung-gedung pemerintah dan swasta. Dan setiap bertemu sejawat, mereka bercerita bahwa cafe-cafe yang biasanya “ngerock” dan dangdutan, berubah menjadi alunan lagu-lagu berbahasa Arab dari Nissa Sabyan.

Fenomena itu pernah saya temukan di era 2000-an; suara Sulistyawati dan Haddad Alwy, dengan judul lagunya Ummi dan Ya Thoyyibah, juga menggema di berbagai sudut kampung dan kota, televisi dan radio, pusat-pusat perbelanjaan dan lainnya. Semua orang menghafal lagunya (berbahasa Arab) dan banyak pula yang memahami kalimat-kalimatnya dengan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Dua juta keping terjual, sungguh sangat luar biasa, lagu-lagunya yang berbahasa Arab itu laris manis.

Baca Juga: Sholawat

Ada kebanggaan ketika itu bahwa bahasa Arab tidak hanya menjadi bacaan dalam sholat, tadarrus Al-Qur’an, adzan, iqomah, khutbah Jum'at, kajian-kajian kitab dan ijab qobul, tetapi menjadi bacaan dan dendang lagu setiap hari di beberapa rumah dan tempat keramaian. Semua orang bersholawat. Saya lihat kala itu, dari anak kecil sampai dewasa berusaha untuk memahami dari setiap lirik lagu Ummi dan Ya Thoyyibah yang berbahasa Arab itu.

Fenomena itu muncul kembali, bahkan lebih dahsyat lagi, Deen As-Salam ditonton lebih dari 100 juta kali hanya dalam satu bulan, Ya Rohman 71 juta kali, Ya Habibal Qolbi 172 Juta kali, Ya Asyiqo 82 Juta kali, Ya Maulana 52 juta kali, Law Kana Bainanal Habib 11 juta kali. Itu baru dari akun Youtube Sabyan, belum lagi yang diunduh. Sungguh ini sangat mengejutkan.

Baca Juga: Sholawat Pancasila

Fenomena ini, menurut pengamatan saya, karena lagu yang dibawakan oleh Khairunnisa (Nissa) berserta personel lainnya sesuai dengan:
  1. Kecintaan atau kegemaran orang Indonesia bersholawat, membaca puji-pujian dan doa, dan mayoritas penduduknya adalah muslim. Seperti Rohman Ya Rohman (doa), Ya Habibal Qolbi (sholawat), Ahmad Ya Habibi (sholawat), Ya Asyiqo (sholawat), Ya Maulana (doa) dan rata-rata lagu yang dibawakan adalah sholawat Nabi SAW. dan doa.
  2. Suara merdu Nissa dengan musiknya mengalun lembut.
  3. Kegilaan pengguna internet dan penikmat Youtube yang mengunduhnya ke berbagai media lain, dari WA, FB dan lainnya.
  4. Bertema religi dan bersamaan dengan bulan Romadlon, seperti; Deen As-Salam, yang penikmatnya sangat luar biasa.
  5. Dibawakan dengan gaya kekinian dengan berbagai keunikannya. Gambus, yang sudah mulai remang, bahkan menghilang, menjadi terang dengan Gambus Sabyan.
  6. Memperkenalkan full team lagu-lagu Gambus Sabyan.
  7. Tidak berhenti pada satu lagu yang sudah populer, tetapi dilanjutkan dengan kemampuan mereka dalam memilih tema-tema yang menarik lainnya sesuai dengan kondisi masyarakat.
  8. Dan yang luput dari pantauan banyak orang adalah karakter bahasa Arab yang unik, sehingga antara suara Nissa-musik-keunikan bahasa Arab, benar-benar membawa ritme menarik. Dan hal ini yang menjadi fokus saya.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Menurut saya, ada karakter khusus Bahasa Arab yang menjadi keunikannya, sehingga dibawakan oleh siapapun saja akan merindu. Kalau di Timur Tengah ada Ummi Kultsum (Penyanyi Arab Legendaris), Amr Diab, Harris J. Sami Yusuf, Maher Zain, Zain Bhikha, Asmahan, Sherine Ahmed dan lainnya. Dan dengarlah suara penyanyi yang melantunkan dengan bahasa Arab, nanti akan mampu dibedakan. Atau dengarlah seorang qori’ Al-Qur’an, maka akan menemukan musik-musik kata yang luar biasa dan tentunya jika dibaca sesuai dengan ilmu Tajwid.

Karakter unik bahasa Arab itu diantaranya terkait dengan bunyi; ada bunyi tebal tipis (tebal/mufakhamah, semi tebal, tipis), tekanan bunyi dalam kata atau stress, vokal panjang (mad), vokal pendek (harokat), bunyi tenggorokan, bunyi bilabial dental. Sedangkan karakter dan keunikan bahasa Arab secara umum tidak mungkin dikaji di sini. Walau setiap bahasa memiliki keunikan (khoshoish), namun karakter bahasa Arab itu lebih unik dibandingkan dengan bahasa-bahasa di dunia.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Nissa Sabyan dengan lagunya yang berbahasa Arab dapat memberikan nuansa sendiri pada gerak bahasa Arab di Indonesia dan dapat menjadi motivasi bagi pembelajar bahasa Arab untuk dapat meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa. Terutama bagi seorang guru bahasa Arab yang mengajar di Sekolah Dasar dan Menengah.

Menurut seorang peneliti, Nabil Katatni, Dekan Fakulats Tarbiyah An-Nauiyyah, bahwa para peneliti psikologi musik menemukan bahwa ritme musik berhubungan erat dengan kehidupan anak pada tahap awal (embrio) sampai dewasa. Menurutnya, dalam rahim ibu sudah mengenal irama, sehingga mudah sekali untuk mengembangkannya dengan lagu-lagu. Demikian ketika anak ingin ditidurkan, irama-irama itu menjadi paling disuka. Maka sangat penting bagi seorang ibu dalam tahap pengembangan bicara anak untuk mendengarkan irama lagu.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Menurut Hanna Athar, musik memberikan motivasi kuat dalam pembelajaran bahasa Arab. Demikian juga menurut para peneliti dan akademisi dalam Konferensi Internasional Kelima Bahasa Arab di Dubai bahwa musik dan lagu-lagu bahasa Arab khusus untuk anak-anak; dapat memotivasi dan memperkuat bahasa Arab. Terutama lagu-lagu yang menggunakan bahasa Arab fushah (baku), misalnya judul lagu Deen As-Salam yang dipopulerkan Nissa Sabyan di Indonesia, yang sebelumnya dinyanyikan oleh Sulaiman Al-Mughni dengan pesan faltuqobil Isa’ah bi ihsan yang disponsori Bank Boubyan Kuwait pada tahun 2015.

Lagu Deen As-Salam, walau beberapa kalimatnya diucapkan dengan lahjah ammiyah (tak baku), namun secara umum bahasanya fushah. Kalimat dengan lahajat ammiyah dalam lagu tersebut seperti; abmahabbat, abtahiyyah, ansyuru, dinya, naskan, kalla, killa.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Sedangkan beberapa tulisan yang tersebar dibeberapa media, banyak yang keliru. Karena hanya dituliskan sesuai dengan yang didengarkan. Bila lagu tersebut ingin dijadikan media pembelajaran, maka harus dijelaskan kata-kata yang fushah dan ammiyah-nya agar siswa tidak keliru membacanya.

Berikut lagu dengan tulisan fushah, yang dipopulerkan oleh Sulaiman Mughni, dengan penciptanya Saif Fadhil.

كُلّ هَذِهِ الأَرْضِ مَا تَكْفِي مَسَاحَة
لَوْ نَعِيْشُ بِلاَ سَمَاحَة
وَإِنْ تَعَايَشْنَا بِحُبٍّ
لَوْ تَضِيْقُ الأَرْضُ نَسْكُنُ كُلَّ قَلْبٍ
بِتَّحِيَّة وبِسَّلاَمِ
اُنْشُرُوا أَحْلَى الكَلاَم
زَيِّنُوا الدُنْيَا اِحْتِرَام
بِمَحَبَّةٍ وَابْتِسَامٍ
اُنْشُرُوا بَيْنَ الأَنَام
هذا هُوَ دِيْنُ السَّلاَم

Lagu-lagu berbahasa Arab yang dinyanyikan oleh Nissa Sabyan ini, jika dimanfaatkan dengan baik oleh pengajar bahasa Arab, maka dapat memberikan ruh baru bagi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia dan sebagai syiar bahwa bahasa Arab itu mudah dipelajari. Buktinya, semua orang bisa mendendangkan, mengucapkan, dan melafalkannya. Tahya al-lughah al-arabiyah.



* Oleh: Halimi Zuhdy, Dosen Bahasa dan Sastra (BSA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Wakil Ketua RMI PCNU Kota Malang. Tulisan ini diambil dari NU Online.
Read More

Halal Bihalal PBNU Serukan Ukhuwwah Wathoniyyah


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk menguatkan persaudaraan dan persatuan. Segala bentuk perbedaan agama, suku atau pilihan politik tidak boleh digunakan untuk memecah belah kita sebagai satu bangsa yang utuh.

Dalam acara yang dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla itu, Rais ‘Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin, mengingatkan tentang realitas bangsa Indonesia yang sudah menjalin kesepakatan dalam bernegara. Meskipun bukan negara Islam, Indonesia adalah konsensus bersama dari berbagai elemen negeri yang berpenduduk mayoritas muslim.

“Kita sudah berjanji untuk membangun negara ini secara bersama. Karena kita bersaudara, maka kita punya kesepakatan. Kesepakatan itu saya menamakannya ittifaqot akhowiyyah (kesepakatan atas dasar persaudaraan)," katanya.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU untuk Kepentingan Politik Praktis

Ia juga mengimbau supaya kaum muslim Indonesia tak hanya berpaku pada persaudaraan atas dasar agama Islam (ukhuwwah islamiyyah), tapi juga kebangsaan (ukhuwwah wathoniyyah). Hal inilah, sambung kiai Ma’ruf, yang selama ini menjaga Indonesia bisa tetap utuh meski penghuninya sangat majemuk.

Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, di panggung yang sama, menegaskan bahwa persoalan dikotomi antara agama dan nasionalisme di Indonesia sudah selesai. Sejak Indonesia belum merdeka, pendiri NU Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Chasbullah mengenalkan semangat cinta tanah air melalui jargon “hubbul wathon minal iman”.

Baca Juga: Pesan Moral PBNU Terkait Pilkada Serentak 27 Juli

Kiai Said mengajak masyarakat untuk bangga menjadi bangsa Indonesia yang mampu menyelesaikan dikotomi tersebut ditengah bangsa-bangsa Timur Tengah yang dirundung konflik oleh persoalan ini. Secara budaya, menurutnya, Indonesia juga tak kalah dari negara-negara Barat ataupun Arab.

Sedangkan Ketua PBNU, H. Marsudi Syuhud, selaku ketua panitia, dalam kesempatan ini menegaskan bahwa halal bihalal merupakan tradisi yang digagas oleh salah satu pendiri NU, yakni KH. Wahab Chasbullah dari Jombang, untuk menyatukan para elit politik dan para elit organisasi yang saat itu sedang berseteru.

“Tradisi kumpal-kumpul yang sering dilakukan oleh warga NU tersebut pada akhirnya diterapkan oleh seluruh elemen bangsa, dari mulai masyarakat, organisasi dan instansi pemerintah,” ujar Marsudi.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Hadir pula dalam kesempatan ini yaitu Menteri Sosial (Idrus Marham), Menteri Komunikasi dan Informatika (Rudiantara) dan Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) serta Menteri Luar Negeri (Retno Marsudi). Selain itu, tampak pula Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, para Duta Besar negara-negara sahabat serta utusan majelis-majelis agama.[]

(Redaksi RN)
Read More

Takbir Keliling di Sorong Dinodai Bendera Terlarang


rumahnahdliyyin.com, Sorong - Seperti dimana-mana di belahan Indonesia lainnya, di Sorong, Papua Barat, masyarakat pun menyambutnya dengan tradisi Takbir Keliling. Mereka yang turut dalam takbir keliling ini berasal dari berbagai masjid, musholla ataupun masyarakat yang ada di kota Sorong.

Takbir keliling yang menggunakan moda transportasi roda empat dan roda dua itu cukup sempat membuat jalanan macet. Kendati demikian, mereka yang hanyut dalam takbir keliling ini tak surut dalam menggemakan takbir.

Baca Juga: Arwah HTI Gentayangan di Bandara Halim

Tapi sayang, tradisi yang bagus itu telah dinodai oleh adanya kibaran bendera dari salah satu ormas yang sudah dilarang di Republik ini, yaitu bendera HTI. Aksi ini sempat diabadikan oleh salah satu peserta dalam bentuk video sekitar pada pukul 22.00 waktu setempat (24/06/2018).

"Ya, saya tadi memang keliling kok," kata Muhyiddin, ketika dikonfirmasi apakah video itu hasil rekamannya.


Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Lebih lanjut, Muhyiddin pun menyayangkan bahwa aksi itu seolah dibiarkan oleh pihak kepolisian yang memang mengawal dalam kegiatan takbir keliling itu. Padahal, sedari awal sebelum mulai keliling, bendera itu sudah ada.

"Udah ada benderanya. Emang pihak kepolisian pun kelihatannya mendukung," ungkapnya kemudian.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" Oleh Hizbut Tahrir

Muhyiddin sendiri mengakui bahwa pendukung dan simpatisan HTI di Sorong memang subur. Bahkan, ia menyebutkan bahwa instansi pemerintah dan anak-anak usia SMA di Sorong juga tidak sedikit yang kerasukan paham yang sudah dilarang di negeri ini.[]

(Redaksi RN)
Read More

1 Syawal, Tradisi Lomba Takbir Keliling di Biak, Papua, Digelar


rumahnahdliyyin.com, Biak - Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Kamis, 14 Juni 2018 mendatang, akan menggelar lomba kendaraan hias pada saat pawai takbir keliling dalam rangka menyambut malam Idul Fitri 1 Syawal 1439 H.

Koordinator lomba pawai takbir PHBI Biak Numfor, Mulyadi, pada Sabtu (09/06/2018), mengungkapkan bahwa para peserta lomba ini hanya boleh menggunakan kendaraan roda empat (mobil) dan tidak diperbolehkan memakai sepeda motor.

Baca Juga: Belajar Kemanusiaan dari Papua

Selain mewajibkan para peserta untuk menghias kendaraan dengan ornamen yang bernuansa religius, dalam lomba ini para peserta juga dituntut untuk mengedepankan tema perdamaian serta kerukunan antar umat beragama.

Lebih lanjut, Mulyadi mengatakan bahwa diantara syarat lomba lainnya yaitu lafadz takbir hanya boleh dilantunkan dengan suara yang diiringi dengan rebana, beduk atau sejenisnya.

Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifa'i

Sedangkan untuk pendaftarannya, para peserta tidak dipungut biaya sama sekali atau gratis. Karena itu, bagi para pengurus takmir masjid dan musholla, lembaga Ormas Islam serta remaja masjid yang ingin mengikuti pawai lomba takbir keliling tersebut dapat segera mendaftar di panitia.

"Untuk pendaftaran peserta pawai kendaraan hias takbir keliling Biak tidak dipungut biaya alias gratis. Ya, ini menjadi program tahunan PHBI dalam upaya memperkuat hubungan tali silaturahmi dan kerukunan antarumat beragama," terang Mulyadi.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Kendati pendaftaran lomba ini gratis, bukan berarti lomba ini hanya berhadiahkan sertifat, piagam atau semacamnya saja. Lebih dari itu, selain memperoleh piagam, pemenang lomba ini juga akan memperoleh hadiah berupa uang pembinaan dan piala.

Sedangkan untuk rute kelilingnya, imbuh Mulyadi, para peserta akan dilepas dari Lapangan Hanggar Cenderawasih Lanud Manuhua dan berakhir di Jalan Pramuka atau depan Mapolsek Biak Kota.[]

(Redaksi RN)
Read More

Alumni Santri di Sorong Bahas Soal Zakat


rumahnahdliyyin.com, Sorong - HAPPI atau Himpunan Alumni Pondok Pesantren Indonesia mengadakan bahtsul masail sore ini (08/06/2018) di Masjid Al-Ikhtiyar, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Bermula dari permasalahan yang diajukan oleh salah seorang muslim di Sorong, Papua Barat, maka kumpulan para alumni santri yang tinggal di Sorong, Papua Barat, ini melaksanakan bahtsul masail untuk menjawab permasalahan tersebut.

Bahtsul masail ini sebenarnya sudah dimulai sejak pekan lalu, yakni tanggal 31 Mei 2018 di Masjid Adz-Dzakirin, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Untuk yang pertama ini, masalah yang dibahas adalah soal zakat fitrah. Mulai dari waktu pelaksanaan zakat fitrah, jumlah kadar zakat fitrah yang harus dikeluarkan, siapa yang wajib mengeluarkan dan yang berhak menerima, siapa yang bisa menyalurkannya dan lain sebagainya.

"Pembahasan zakat fitrah sudah selesai yang didasarkan pada kitab-kitab para fuqoha' yang mu'tabar dan menghasilkan dua versi. Diantara tiga imam madzhab sependapat, termasuk Imam Syafi'i, berzakat fitrah dengan beras dengan ukuran 2.5 kg. atau 2.7 kg. dan yang boleh menggunakan uang adalah madzhab Hanafi dengan takaran beras 3.8 kg.," ungkap M. Munawir Ghozali, ketua HAPPI.

Baca juga: Alumnus Pondok Pesantren se-Indonesia di Sorong Bentuk HAPPI

Untuk yang kedua, permasalahan yang dibahas yaitu tentang zakat mal. Pembahasan ini dilaksanakan pada malam hari setelah sholat Tarawih sebagaimana pelaksanaan bahtsul masail yang pertama. Pembahasan ini pun sudah rampung.

"Yang berhak mengeluarkan zakat mal diantaranya adalah harta kepunyaan sendiri dengan kadar mengikuti atau berpedoman pada nishob mas 85 karat murni," tambah alumni Pondok Pesantren Lirboyo itu.

Baca juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Sedangkan untuk sore tadi, bertempat di masjid Al-Ikhtiyar, Kabupaten Sorong, Papua Barat, bahtsul masail yang diselenggarakan oleh HAPPI ini membahasa tentang zakat profesi. Hasil yang didapat yaitu bahwa zakat profesi sama dengan zakat mal. Hanya saja, untuk zakat profesi ada dua cara yang bisa dilakukan.

"Zakat profesi bisa dilakukan dengan cara mencicil tiap bulan dan bisa langsung setahun," imbuhnya lagi.

Baca juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Kendati beberapa permasalahan sudah didapatkan hasilnya, namun bahtsul masail yang berjalan secara paralel ini belum selesai sampai di sini.

"Besok malam Ahad insya Allah akan diadakan pembahasan soal fidyah di Masjid Adz-Dzakirin," pungkas M. Munawir Ghozali yang biasa dipanggil dengan ustadz Ali itu.

Untuk peserta yang turut hadir dalam bahtsul masail ini biasanya mencapai belasan orang.[]

(Redaksi RN)
Read More

Antara Ibadah di Indonesia dan di Negara Lain


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), mengungkapkan bahwa dirinya berbahagia atas kemudahan melaksanakan ibadah di Indonesia. Menurutnya, dalam tiap acara kenegaraan yang dihadirinya, pasti selalu ada jeda untuk istirahat, sholat dan makan, atau yang dikenal dengan istilah ishoma.

"Bersyukur hidup di RI. Dalam keagamaan, saya kira jauh lebih baik dari banyak orang yang bicara tentang keislaman," ujar JK di Jakarta, Kamis (31/5/2018), sebagaimana dikutip dari cnnindonesia.com.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Apa yang diungkapkan JK ini lantaran ia membandingkannya dengan kondisi di sejumlah negara yang kerap tak memberi waktu jeda untuk beribadah di sela-sela acara. Bahkan, hal itu juga terjadi di negara yang mayoritas penduduknya juga pemeluk Islam, yaitu Turki. Hal itu dialami JK saat dirinya berkunjung ke negeri yang pernah dikenal sebagai kekhilafahan Ottoman itu pada awal Romadlon lalu.

Saat di Turki, lanjut JK, pertemuan dimulai pada pukul lima sore waktu setempat. Menjelang Maghrib, peserta dibagikan teh dan kurma. Masuk buka puasa, acara pun terus berlangsung. Padahal, sebelumnya JK berpikir bahwa acara akan dihentikan sementara untuk berbuka puasa dan ibadah sholat Maghrib.

"Setelah itu langsung saja bicara terus. Jangankan tarawih, maghribnya (juga tidak ada)," cerita JK.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Bagi JK, hal itu tidak masalah mengingat status dirinya sebagai seorang musafir yang bisa sholat dengan menjamak atau menggabungkan sholat Maghrib dengan Isya' yang dilanjut dengan sholat Tarowih. Namun ia heran, karena Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang beragama Islam dan bukan sebagai musafir, juga tidak menjalankan ibadah sholat Maghrib.

"Betul kalau saya musafir di sana bisa jama'. Tapi Erdogan, kan, sudah (tinggal) di Turki," tutur JK.

Baca Juga: Antara Agama, Manusia dan Tuhan

Pengalaman berbeda justru JK rasakan saat berkunjung ke Spanyol yang masyarakatnya mayoritas beragama non-muslim. Saat itu, juga bertepatan dengan bulan Romadlon. Begitu tiba di Madrid, Spanyol, setelah menempuh perjalanan dari Amerika Serikat yang sempat singgah di Frankfurt, Jerman, JK langsung mengajak sejumlah rombongan dan kolega di Spanyol untuk minum kopi di sebuah kafe.

Namun lantaran melihat ada sejumlah orang dari rombongan yang mengenakan peci, JK justru diingatkan oleh pelayan bahwa saat itu belum waktu buka puasa.

"Dia bilang, 'muslim ini muslim? hei, jangan ini belum'," ucap JK menirukan pelayan saat itu.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

JK pun menjelaskan pada pelayan itu bahwa dirinya boleh tidak berpuasa karena saat itu sebagai musafir usai menempuh perjalanan jauh.

"Oh, justru itu, wakil presiden harus kasih contoh. Janji besok puasa, hari ini dikasih kopi, tapi besok mesti puasa," tuturnya menirukan jawaban pelayan tersebut.

"Maka, kita bersyukur suasana luar biasa keagamaan di RI jauh lebih baik dari suasana keagamaan di banyak negara," pungkas JK.[]


(Redaksi RN)
Read More

Arwah HTI Gentayangan di Bandara Halim Jakarta


rumahnahdliyyin.com, Jakarta – Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah resmi dibubarkan oleh Pemerintah Indonesia. Kendati organisasi ini merupakan organisasi Islam, namun pembubaran HTI ini tidak berarti bahwa pemerintah Indonesia anti dengan Islam.

Selain terbukti sangat dekat dengan para ulama' dan kiai, pemimpin Indonesia (Presiden RI) juga merupakan seorang pemeluk Islam atau seorang muslim yang cukup taat. Jadi, mustahil kalau ada yang mengatakan bahwa bapak Presiden RI anti dengan Islam lantaran dibubarkannya HTI.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" Oleh Hizbut Tahrir

Sebagaimana diketahui bersama, HTI dibubarkan karena organisasi itu terbukti secara terang-terangan ingin menggantikan Pancasila dan membubarkan NKRI. Dengan dalih keber-Islam-an umat Islam tidak akan kaffah (sempurna) kalau masih menganut hukum yang berlaku di Indonesia saat ini, maka mereka ingin mendirikan Negara Islam di tanah NKRI ini.

Padahal, tidak ada satu tetes keringatpun yang mengucur dari mereka ketika bangsa Indonesia tengah berjuang mati-matian melawan dan mengusir penjajah waktu itu. Dan kini setelah Indonesia merdeka, tiba-tiba mereka ingin mengganti NKRI dengan khilafah yang menurut mereka adalah bagian dari Islam dan wajib ditegakkan.

Apa mereka pikir para ulama' dan kiai yang berjuang demi kemerdekaan negara ini tidak paham Islam sehingga mereka berani-beraninya menyebut bahwa Pancasila dan UUD '45 yang telah disepakati para ulama' atau kiai yang pejuang-pejuang itu tidak sesuai dengan Islam!!?? Bahkan disebut sebagai sistem kafir!!??

Baca Juga: Menolak Ide Khilafah

Kendati secara organisasi HTI memang sudah dibubarkan, namun sangat jelas sekali arwah-arwah mereka masih bergentayangan. Ada yang berusaha mengadakan seminar. Ada yang menyebar paham mimpi khilafahnya di medsos. Dan ada pula seperti yang terjadi di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, pada Jum'at, 1 Juni 2018, yakni menabur benih ideologinya lewat buletin.

Di Bandara Halim itu, buletin HTI tersebar di area Masjid Bandara. Tepatnya tergeletak diatas meja penitipan tas dan sepatu. Ketika Suwoko, salah seorang yang menyaksikan adanya buletin dari ormas terlarang itu, ia pun kemudian menyampaikan kepada petugas penitipan itu.

Baca Juga: Khilafah itu Institusi Politik, Bukan Agama

"Ini buletin HTI yang dilarang pemerintah,” kata Suwoko, sebagaimana dikutip dari arrahmahnews.com.

Entah karena tidak mengetahui kalau buletin itu adalah buletin HTI atau apa, petugas itu hanya diam saja.

“Tapi orangnya diam saja,” lanjut Suwoko.

Buletin HTI memang sebelumnya tidak bernama Kaffah. Nama Kaffah adalah nama baru dari hasil metamorfosis nama sebelumnya, yakni Al-Islam.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Mengetahui arwah-arwah atau hantu-hantu HTI yang masih gentayangan ini, harusnya aparat bisa menindaknya dengan tegas. Selain karena sudah resmi dilarang oleh pemerintah, juga karena hantu-hantu HTI itu mengandung virus ideologi yang sangat berbahaya bagi kesehatan rakyat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara.[]


(Redaksi RN)
Read More

Sholawat Pancasila


rumahnahdliyyin.com - Bagi bangsa Indonesia, adanya Pancasila merupakan salah satu anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah SWT. terhadap bangsa ini. Ditengah berbagai keragaman dan kemajemukan bangsa Indonesia, terbukti Pancasila telah mampu mempersatukan bangsa ini.

Disaat yang sama, dimana banyak negara yang terkoyak dan terberai karena adanya perbedaan yang tak bisa disatukan lagi, bangsa Indonesia tetap kokoh bersatu. Keadaan Indonesia bisa seperti ini tidak lain berkat bangsa Indonesia yang mengamalkan falsafah Pancasila yang terdiri dari lima sila itu.

Baca Juga: Tasawuf Pancasila

Makanya tak heran bila kemudian bangsa ini menetapkan dan memperingati Hari Kelahiran Pancasila pada tiap tahunnya. Yakni tanggal 1 Juni. Tentu saja banyak cara yang dilakukan dalam acara peringatan tersebut. Bahkan, ada yang sampai mengekspresikannya dengan cara mengarang syair-syair tentang Pancasila dengan nada dan irama Sholawat.

Inilah syair-syair tentang Pancasila yang diberi judul dengan "Sholawat Pancasila" dengan mengikuti nada dan irama Sholawat Badar.

Baca Juga: Ini Pandangan Gand Syaikh Al-Azhar Tentang Pancasila

صَلَاةُ الله سَلَامُ الله * عَلَى طَهَ رَسُولِ الله
صَلَاةُ الله سَلَامُ الله * عَلَى يس حَبِيبِ الله

Ponco silo dasar negoro * isine cocok karo agomo
Mulo ayo podo diamalno * ben negoro iso tambah joyo

Esa kuwi maknane siji * yo iku iman marang Kang Siji
Ojo syirik ojo ngadohi * marang agomo ajaran ilahi

Nomer loro kemanungsan * ingkang adil cocok aturan
Ojo delok opo agamane * kabeh menungso podo asale

Nomor telu persatuan * ojo ra rukun podo tukaran
Agomo ngongkon kito bersatu * ngadohi khilaf lan poro padu

Nomor papat mentingno rakyat * lewat coro sing maslahat
Kebeh perkoro musyawarohno * ngono iku sing wijaksono

Kudu adil sing nomer limo * mbantu rakyat kudu sing lomo
Ojo podo mbedakke konco * ngono kuwi yo ajaran agomo

Baca Juga: Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Bangsa

Demikianlah salah satu ekspresi dalam mensyukuri lahirnya Pancasila. Sebuah ekspresi yang positif dan perlu diapresiasi serta menjadi inspirasi bagi warga Indonesia yang lainnya.

Adalah Muhammad Ni'am yang mengarang Sholawat Pancasila di atas. Ia mengaku, inspirasi untuk mengarang sholawat ini ia dapatkan ketika tengah mengikuti upacara Peringatan Hari Pancasila.

"Saya sendiri yang buat. Tadi pas upacara saya mikir, harusnya ada sholawatan Pancasila. Karena, sholawat sekarang jadi media dakwah yang dahsyat," ungkap salah satu Pengasuh PMH Alkautsar Kajen dan Kepala SMK Pesantren Cordova Pati ini kepada muslimpribumi.com via WA.[]

(Redaksi RN)
Read More

Muslim di Yaman Sholat Tarowih Hingga Seratus Roka'at


rumahnahdliyyin.com, Tangerang Selatan - Pada umumnya, jama'ah sholat Tarowih yang dilaksanakan oleh kaum muslim di seluruh dunia sebanyak delapan atau dua puluh roka'at. Akan tetapi, tidak demikian halnya bagi sebagian kaum muslim di Yaman.

"Bisa sampai seratus roka'at," ujar A'wan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman, Taufan Azhari, sebagaimana diberitakan dalam laman NU Online.

Baca Juga: Perbedaan Ulama Tentang Niat Puasa Romadlon

Hal tersebut bisa terjadi, jelas Taufan, karena masjid-masjid di kota Tarim, Yaman, menggelar sholat Tarowih pada waktu yang berbeda-beda. Jadwal sholat Tarowih tersedia sejak setelah sholat Isya' sampai menjelang Sahur.

Sedangkan untuk sholat Tarowih yang dilaksanakan di masjid-masjid di Yaman sendiri, sebanyak 20 roka'at. Mereka yang sholat Tarowih hingga seratus roka'at itu karena mereka berpindah-pindah dari masjid satu ke masjid lainnya dimana waktu sholat Tarowih di masing-masing masjid memang tidak bersamaan.

Baca Juga: Santri Tremas Dakwah ke Desa-Desa Tiap Romadlon

Hal demikian ini bisa terjadi, sambung Taufan, karena mengikuti laku Habib Salim Asy-Syathiri. Karena adanya perbedaan jadwal sholat Tarowih itu, maka masyarakat Yaman bisa memilih untuk sholat Tarowih di Yaman.

Para pelajar Indonesia sendiri, dengan niatan ngalap (berharap) berkah, melakukan sholat Tarowih hingga di lima masjid yang berbeda.

Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama Kendal

"Anak Indonesia nggak sedikit yang tabarrukan di masjid-masjid sampai ber-Tarowih seratus roka'at sebagaimana Habib Salim Asy-Syathiri pernah melakoninya," pungkas Taufan.[]

(Redaksi RN)
Read More

Inilah Cara Mendapat Beasiswa di Al-Azhar, Kairo, Mesir


rumahnahdliyyin.com - Anda punya cita-cita atau ingin anak, keponakan, atau saudara Anda melanjutkan Studi S1 di Al-Azhar, Kairo, Mesir? Ikut saja beasiswa dari Al-Azhar yang dalam hal ini telah bekerjasama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Bagaimana tatacaranya? Simak dibawah ini.

A. Persyaratan

  1. Menyerahkan berkas:
  • Fotokopi Ijazah dan Transkrip Nilai (Ijazah maksimal 3 tahun dari tahun kelulusan).
  • Fotokopi Akta Kelahiran.
  • SKCK.
  • Surat Kesehatan yang menyatakan bebas dari AIDS dan Hepatitis C.
  • Pas Photo berwarna ukuran 4X6 (6 lembar) dengan background merah.
  • Pas Photo berwarna ukuran 4X6 (6 lembar) dengan background putih.
  • Fotokopi passport.
  • Rekomendasi PWNU atau PCNU.
  • Semua berkas diterjemahkan kedalam bahasa Arab dan dilegalisir oleh Kemenkumham dan Kemenlu.

2. Semua persyaratan dikirim via email: pbnuscholarship@gmail.com.
3. Peserta harus mengikuti seleksi ujian tertulis dan lisan.
4. Mengisi formulir pendaftaran yang bisa diperoleh melalui website NU Online
5. Semua berkas (hard copy) diserahkan saat pelaksanaan ujian lisan.

B. Waktu Pendaftaran dan Tempat Pelaksanaan Seleksi
  1. Pendaftaran melalui email mulai tanggal 23 Mei - 30 Mei 2018.
  2. Waktu pelaksanaan seleksi:
  • Seleksi berkas dilaksanakan pada tanggal 23 Mei - 22 Juni 2018.
  • Pengumuman lolos seleksi berkas pada tanggal 22 Juni 2018.
  • Seleksi Lisan dan Tertulis dilaksanakan pada tanggal 28 Juni 2018.
  • Tempat seleksi Lisan dan Tertulis di Gedung PBNU Jakarta Pusat.
  • Berkas lengkap beserta terjemah resmi dikirim satu minggu setelah pengumuman lulus seleksi.
C. Materi Ujian
  1. Ujian Tulis (menggunakan bahasa Arab), meliputi: Bahasa Arab (memahami teks, tata bahasa dan insya) serta ke-NU-an dan Aswaja.
  2. Ujian Lisan (menggunakan bahasa Arab), meliputi: bahasa Arab percakapan, terjemah dan pemahaman teks, hafalan Al-Qur'an minimal 2 juz dan terjemahannya serta baca kitab kuning.
D. Lain-Lain
Hal lain yang belum diatur akan diumumkan melalui website NU Online.

Demikianlah, semoga bermanfaat. Amin.[]
(Redaksi RN)
Read More

Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Pada NU


rumahnahdliyyin.com, Washington DC - Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, dalam kunjungannya ke Amerika Serikat melakukan pertemuan dengan Wakil Presiden negara tersebut, Mike Pence, di Gedung Putih.

Seperti diberitakan oleh NU Online, pertemuan tersebut terlaksana berkat Reverrand Johnie Moore, seorang pendeta Kristen Evangelis, dan Andrew Welther, seorang aktivis Katholik. Terutama, setelah keduanya bertemu dengan Wapres Pence dan menceritakan kalau Gus Yahya tengah berada di AS.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Gus Yahya, demikian kiai ini lebih akrab disapa, tidak menyangka kalau ia mendapat pesan dari staf Gedung Putih bahwa Wapres ingin bertemu dengannya.

“Pertemuan itu diminta oleh Wapres Mike Pence. Saya sendiri tidak menyangka bahwa saat tiba di Washington DC Rabu malam, saya mendapat pesan dari staf Gedung Putih bahwa Wapres ingin bertemu saya,” ceritanya.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Dalam pertemuan tersebut, Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Mike Pence, menyatakan turut berkabung atas serangan teror yang terjadi di Indonesia dalam beberapa hari terakhir ini.

“Wapres menyatakan belasungkawa atas serangan teror yang baru saja terjadi,” ungkap Gus Yahya, setelah pertemuan tersebut.

Baca Juga: Islam Italia Iri Terhadap Islam Indonesia

Wapres Pence, imbuh Gus Yahya, berharap kepada NU supaya bisa memainkan peran yang lebih besar lagi dalam mempromosikan Islam yang rohmatan lil-‘alamin di dunia internasional.

“Wapres Pence menyatakan penghargaan setinggi-tingginya kepada NU,” jelasnya.

Selain itu, Pence juga menyampaikan bahwa pemerintah AS memastikan akan membuka diri dan mengupayakan kerjasama lebih lanjut dengan NU dan Indonesia.

Baca Juga: Inilah Bogor Message; Hasil KTT Wasathiyah Islam

Gus Yahya sendiri, dalam kesempatan tersebut, menyampaikan kepada Wapres AS Mike Pence bahwa konflik antaragama yang terjadi di dunia ini bukan hanya persoalan dunia Islam saja, melainkan persoalan seluruh umat manusia yang harus diselesaikan bersama.

“Seluruh umat manusia, baik muslim maupun non-muslim, harus bekerja sama untuk mencapai solusi dari masalah ini. Karena, ini adalah kepentingan dan tanggungjawab bersama seluruh umat manusia,” tegas Gus Yahya.

Baca Juga: Islam Melarang Umatnya Merusak Rumah Ibadah Umat Lain

Gus Yahya juga menambahkan bahwa kemerdekaan seseorang untuk memilih dan menjalankan agamanya harus dihormati dan dijamin agar nilai-nilai kemanusiaan tidak hilang. Disamping itu, hubungan antarpemeluk agama juga harus dibangun dengan baik.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, ini, saat ini dunia berada dalam era globalisasi. Apa yang terjadi di satu belahan dunia, akan mempengaruhi belahan dunia lainnya.

Baca Juga: Kiai Said dan Master Cheng Yen Berbicara Esensi Beragama

“Maka setiap golongan mayoritas (agama) dimana pun, harus melindungi minoritas, agar sesama pemeluk agama mereka yang hidup sebagai minoritas di belahan dunia lain juga mendapatkan perlindungan dari kelompok mayoritas di tempat mereka,” jelas Gus Yahya.

Di akhir pertemuan, Wapres Pence pun mengantarkan Gus Yahya melewati lorong-lorong Gedung Putih hingga ke halaman sebelum melepas tamunya itu.[]

(Redaksi RN)
Read More

Santri Tremas Dakwah ke Desa-Desa Tiap Romadlon


rumahnahdliyyin.com, Pacitan - Selama bulan suci Romadlon 1439 H. ini, Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, kembali menerjunkan para santrinya untuk berdakwah di tempat-tempat terpencil yang masih minus pengetahuan agamanya. Sebanyak 137 santri yang terjun ini melaksanakan tugas wajib program "Dakwah Bilhal" dengan satu santri menempati satu masjid atau musholla.

Menurut pengurus Pesantren Tremas, Ali Muhadaini, program ini diikuti oleh para santri lulusan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu'adalah yang baru diwisuda pada 7 Mei lalu.

"Para santri kita terjunkan ke tiap desa di seluruh wilayah Kecamatan di Pacitan dan beberapa daerah di Wonogiri, seperti Giritontro, Ngadirojo, Pracimantoro, Paranggupito, Baturetno, Batuwarno, Jatisrono. Ada pula daerah Rongkop Gunung Kidul dan Karanganyar," jelas Ali pada Jum'at (18/05/2018), sebagaimana diberitakan di laman NU Online.

Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan

Ali mengatakan bahwa program "Dakwah Bilhal" ini dimulai pada tanggal 28 Sya’ban dan akan berakhir hingga tanggal 2 Syawwal 1439 H. nanti. Selama di tempat dakwah, para santri akan menjalankan tugas yang antara lain yaitu menjadi imam sholat lima waktu, tarawih, memberikan ceramah dan pengajian, mengajar TPQ, mengurus pelaksanaan zakat fitrah, menjadi khotib Idul Fitri dan bersosialisasi dengan masyarakat.

"Dengan berbekal keilmuan yang telah dimiliki, Insya Allah mereka mampu mengemban tugas mulia ini," tambahnya.

Baca Juga: Pentingnya Kreatifitas Bagi Pesantren

Program wajib "Dakwah Bilhal" ini telah dilakukan oleh Pesantren Tremas semenjak awal tahun 2000. Melalui program "Dakwah Bilhal" ini para santri membawa dua buah misi dari Pesantren Tremas, yaitu misi belajar bermasyarakat dan misi mengenalkan dunia pesantren kepada masyarakat luas.

Lebih lanjut, Ali mengatakan bahwa "Dakwah Bilhal" ini bekerjasama dengan jajaran perangkat desa setempat serta Muspika di wilayah Kecamatan. Tiap tahun sasaran dakwah terus mengalami perluasan. Hal ini seiring dengan kebutuhan dai di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga: Gus Mus Tekankan Pentingnya Niat Dalam Launching Santriversitas

"Respon masyarakat terhadap program ini juga cukup besar. Terbukti, kami sampai kuwalahan memenuhi permintaan dari masyarakat," terangnya. []

(Redaksi RN)
Read More