Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama'. Tampilkan semua postingan

Kiai Said: Kebesaran dan Martabat Bangsa Ada Pada Budayanya


rumahnahdliyyin.com,
 Jakarta - Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, dalam peluncuran dan diskusi buku "NU Penjaga NKRI", di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa, 10 April 2018, mengatakan bahwa Organisasi Kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), bukan hanya menjaga keselamatan geografis NKRI. Tetapi juga menjaga keutuhan budaya.

"Jadi, silakan sekolah di Amerika, Australia dan Eropa. Tapi pulang, jangan bawa bir atau khomr. Pulanglah dengan membawa intelektual dan teknologinya," tuturnya sebagaimana dilansir oleh nu.or.id.

Baca Juga: Kiai Said: Nabi SAW. Tidak Diperintah Membangun Umat Islam, Tapi Umat Modern

Selain itu, kiai kelahiran Cirebon itu juga menekankan kepada siapa pun yang sekolah di Arab atau Timur Tengah untuk tidak membawa jenggot ketika pulang ke tanah air.

"Bawa pulang tafsir, hadits, bawa ilmu fiqh. Jangan bawa cadar, jangan bawa jenggot. Itu artinya, kita menjaga budaya. Sebab, budaya kita lebih mulia dari Barat dan Arab," katanya selanjutnya.

Di Barat, lanjut Kiai Said, seorang istri tidak pernah menjunjung tinggi tata krama atau kesopanan kepada suaminya. Di sana hidup sendiri-sendiri. Indonesia sangat tidak layak menerima budaya Barat.

Baca Juga: Kiai Said Tuntun Seorang Agnostik Amerika Masuk Islam

"Nah, begitu juga budaya Arab, kalau kita salat di Masjidil Haram, orang Arab itu biasa melangkahi kepala kita saat sedang sujud. Saya yakin, itu bukan orang Indonesia, Malaysia, bukan Brunei. Itu jelas orang Arab," tegasnya.

Di Arab dan Barat, memanggil orang yang lebih tua tidak dengan sebutan atau gelar kehormatan. Melainkan langsung namanya saja. Jelas, berbeda dengan di Indonesia.

"Orang kita itu, kalau lagi marah saja, pasti nyebut gelarnya. Misal, Kang Durahman, jahat sekali kamu," katanya yang disambut gemuruh tawa hadirin.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Karena itu, ia mengungkapkan bahwa kebesaran dan martabat bangsa itu ada pada budayanya.

"Maka, mari sama-sama kita jaga budaya. Karena keberadaan Indonesia adalah budayanya," pungkasnya.[]



(Redaksi RN)
Read More

NU Dimata Romo Benny


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Dalam acara peluncuran buku "NU Penjaga NKRI" pada Selasa, 10 April 2018, di Aula PBNU lantai 8, Jakarta, Romo Antonius Benny Susetyo yang juga menjadi narasumber mengatakan bahwa NU selalu hadir dimana-mana, tetapi tidak ke mana-mana.

Orang NU, menurutnya, bisa menyatu dengan segala lapisan. Dari situlah, muncul relasi yang baik. Dan karena itu pula, ada suatu kepercayaan yang bahwa masyarakat NU tidak membeda-bedakan. Dalam beriman, orang NU sudah melompat dari politik identitas karena dihayati dalam nilai kemanusiaan. Berdasar nilai kemanusiaanlah, NU tampil pada era reformasi.

"Dari kemanusiaan itulah orang tidak lagi membedakan suku, identitas," kata Romo Benny seperti yang diberitakan oleh nu.or.id.

Baca Juga: Bersatunya NU dan Muhammadiyah Menunjukkan Utopisnya Khilafah

Lebih lanjut, ia pun memberikan gambaran di Sampit, Madura, yang tidak pernah muncul stigma negatif atas bantuan dari agama Katolik. Warga di sana tidak menuduh adanya kristenisasi dibalik itu. Ia juga mengungkapkan bahwa Gus Dur sebagai representasi NU selalu pasang badan dalam forum demokrasi. Gus Dur memberi pembelaan terhadap Romo Mangunwijaya ketika hendak ada yang menuduhnya PKI.

"Gus Dur menjadi pelekat dari sebuah demokratisasi," ujarnya.

Selain berperan sebagai penjaga negara, NU juga menjadi pusat peradaban. Hal itu karena mengingat peran NU yang mempertemukan Islam dan budaya yang kemudian melahirkan ajaran agama yang penuh kasih.

"NU sebenarnya menjadi pusat. Tidak hanya pusat penjaga NKRI, tetapi juga pusat peradaban," ungkap pria kelahiran Malang, 50 tahun silam itu.

Baca Juga: Rais 'Aam PBNU Titip NU Pada Raja Bali

Ditengah kegersangan yang melanda negara ini, NU juga berdiri menjadi oase. NU menjadi penyejuk dengan merangkul semua elemen dan kalangan. Hal inilah yang meyebabkan NU sebagai pusat peradaban. Dalam hal ini, bangsa Indonesia berhutang kepada NU.

"Bangsa ini berhutang terhadap NU," terang alumnus Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang, itu.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau ndonesia Menjadi Negara Islam

Selain itu, Romo Benny juga menguraikan tiga kesetiaan NU. Pertama, NU konsisten berpandangan bahwa NKRI adalah negara kebangsaan, bukan negara yang berdasarkan agama tertentu.

Kedua, NU setia mengembalikan Pancasila kepada rel yang benar. Dari sinilah, NU selalu ada pada setiap krisis yang melanda bangsa ini yang merupakan kesetiaannya yang ketiga.

Oleh karena itu, menurut Romo Benny, NU dibutuhkan bangsa ini sebagai alat pemersatu bangsa.[]


(Redaksi RN)
Read More

PCNU Bogor Sambut Antusias Festival Sholawat Nusantara

muslimpribumi.com | Bogor - Pembukaan Festival Sholawat Nusantara (FSN) digelar hari ini, Sabtu 24 Februari 2018. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya cuaca yang sering hujan, akhirnya perhelatan akbar ini dilaksanakan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bogor menyambut antusias perhelatan ini. Menurut Ketua PCNU Bogor, KH. Romdoni, hal ini menjadi momen untuk terus menggaungkan dan menjaga tradisi shalawat ditengah masyarakat.

“Saya mengapresiasi acara ini. Semoga dengan adanya kegiatan FSN ini, masyarakat semakin gemar bershalawat,” harap pria yang akrab disapa Kang Doni ini.

Kang Doni juga menggaris bawahi tentang pentingnya karakter sholawat yang menyejukkan dan menebarkan perdamaian. Hal ini penting mengingat sebentar lagi masuk tahun politik yang biasanya meninggikan tensi hubungan sosial-kemasyarakatan.

“Dengan masyarakat gemar bersholawat, semoga tradisi dan budaya Nusantara ini terus terjaga. Membawa berkah, menyejukkan untuk masyarakat Bogor dan seluruh masyarakat Indonesia. Sehingga, cita-cita luhur bangsa ini tercapai,” lanjutnya.

Acara ini dikomandoi oleh Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama (RMI-NU) dengan rangkaian Festival Sholawat Nusantara yang akan digelar secara Nasional. Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan hadir dalam pembukaan kegiatan ini.

Sementara itu, acara lombanya sendiri akan dimulai di seluruh Indonesia pada awal Maret 2018. Sedangkan acara penutupannya akan digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta. []
(Ed. Asb)

* Sumber: arrahmah.co.id
Read More

Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa


Assalamu 'alaikum warahmatulLaahi wabarakatuh

Semoga rahmat Allah SWT. selalui menaungi kita semua dan syafa'at RasululLah menghampiri kita di hari akhir nanti.

Mencermati perkembangan beberapa bulan terakhir ini, isu dan praktek kekerasan kepada siapapun di negeri ini tengah menjadi perbincangan. Tentunya kita harus pandai, bijak dan cerdas dalam mencerna segala informasi yang tengah berkembang.

Mengenai isu bangkitnya PKI (Partai Komunis Indonesia), isu semacam ini akan sering berhembus pada tahun politik. Tahun politik ini menjadi ajang kontestasi gagasan, kekuatan, sekaligus isu-isu yang saling mempengaruhi. Mengapa? Karena sebagaimana kita tahu bahwa isu ini sangat sensitif dan mudah menyulut emosi dan perasaan segenap lapisan bangsa ini. Kita semua sepakat bahwa PKI telah menjadi partai terlarang secara hukum dan sampai sekarang masih berlaku.

Kalau saya ditanya, bagaimana jika PKI hidup kembali? Saya tentu akan dengan tegas menjawabnya, tidak. Namun, akan lain soal jika pertanyaannya adalah bagaimana mengenai wacana atau polemik bangkitnya PKI? Tentu jawabannya akan sangat panjang dan tidak mungkin saya tuangkan dalam renungan pendek ini. Sebuah jawaban yang paling sederhana adalah dulu tentara yang membasmi PKI, kalau sekarang PKI akan bangkit lagi, tentu tentara tidak akan tinggal diam. Kecuali jika tentara sudah tiada semuanya, bolehlah kita sedikit gusar atas isu bangkitnya PKI.

Saya sangat mencermati kejadian-kejadian mutakhir mengenai ancaman teror kepada para pemuka agama. Terlebih pada para panutan kita, kiai.

Seringkali saya menjumpai bahwa antara fakta dan isu yang dikembangkan melalui broadcast di sosial media tidaklah sama. Sebaran informasi yang tidak bertanggungjawab itu sudah dibumbui. Ditambahi penyedap supaya menjadi gorengan murahan.

Kita seringkali terjebak pada sebuah broadcast. Kita terima dan langsung kita share tanpa terlebih dahulu melakukan ricek. Sehingga kita akan menjadi bagian yang tidak bertanggungjawab atas sebaran informasi yang telah secara tidak sengaja ikut kita kembangkan itu. Atas berita yang kita terima, jika kita tidak mampu melakukan ricek, akan lebih baik jika kita diamkan dan menunggu informasi valid dari pihak-pihak yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai satu contoh, saya mengapresiasi langkah yang diambil oleh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, tempo hari. Begitu mendapati sesuatu yang mencurigakan, langsung diserahkan kepada pihak yang berwajib untuk diproses. Inilah karakter pesantren yang menjadi jati diri kita. Kejadian di Al-Falah, Ploso, hampir saja menjadi isu besar yang tidak bertanggungjawab jika tidak segera diambil langkah antisipatif.

Kalau bicara soal pembelaan kita terhadap kiai, tentu tidak perlu kita pertanyakan lagi. Semboyan kita adalah Bela Kiai Sampai Mati! Artinya apa? Kita tidak akan pernah mundur sejengkalpun ketika para kiai kita diteror, diancam dan sederet perbuatan tidak pantas lainnya. Dalam membela kiai, kita tentu akan mematuhi aturan hukum yang berlaku. Bukan karakter kita untuk main hakim sendiri.

Disuruh atau tidak, diminta atau tidak, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga para kiai kita. Apakah kita menjaga kiai karena kiai tidak mampu menjaga dirinya? Tidak! Beliau sudah tidak ambil pusing soal keamanan dirinya. Karena bagi beliau, yang terpenting adalah bagaimana mengayomi dan menemani umat dan masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya. Dan soal menjaga kiai adalah bagian dari kewajiban kita sebagai Pagar NU dan Bangsa.

Oleh karenanya, kenapa saya serukan untuk selalu sowan kiai? karena banyak hal yang akan kita terima dari beliau. Tidak hanya menjaga energi. Tetapi juga sekaligus menjaga beliau sepanjang waktu.

Kiai kita adalah para kiai yang selalu teduh dalam bersikap, ramah dalam ber-mu'asyarah dan bijak dalam bertindak. Kiai mengajari kita bagaimana beretika dan bersopan santun. Kita juga belajar, apa dan bagaimana arti penting tabayyun dari beliau. Pelajaran banyak dan dahsyat ini akan selalu kita temui dalam keseharian kiai, bukan hanya teori. Dan teror atau ancaman yang kini tengah terjadi adalah bagian kecil dari perjuangan kiai.

Akhirnya, saya mengajak semua pendekar untuk bergandeng tangan menjaga kiai kita dan merapatkan barisan kita. Secara berkala, kita harus berkoordinasi dengan pengurus NU dan aparat yang berwenang. Untuk menjaga keamanan, juga perlu peran serta masyarakat dalam mewujudkan dan menciptakan rasa aman. Dan untuk menciptakan rasa aman, tidak perlu terlebih dahulu diciptakan rasa tidak aman.

Semoga Allah SWT. senantiasa meridlai segala langkah kita.

Wassalamu 'alaikum warahmatulLaahi wabarakatuh

Muchamad Nabil Haroen, Ketua Umum PP. Pagar Nusa. []
Read More

900 Ulama Komisi Fatwa MUI Akan Ijtima' Nasional


muslimpribumi.com, Lombok - Majelis Ulama' Indonesia (MUI) dalam waktu dekat akan menyelenggarakan Ijtima' Nasional Komisi Fatwa MUI yang akan dihadiri oleh tidak kurang 900 orang ulama' se-Indonesia yang akan dipusatkan di Kabupaten Lombok Tengah.

Hal tersebut diungkapkan oleh Plt. Bupati Lombok Tengah, H. L. Fathul Bahri, SP., saat memberikan sambutan pada acara Rapat Pleno PCNU Lombok Tengah di Pendopo Wakil Bupati Lombok Tengah pada Selasa kemarin.

Fathul Bahri menjelaskan bahwa ia telah diundang rapat oleh pengurus MUI Pusat dan diputuskan bahwa Ijtima' Nasional MUI itu akan dilaksanakan di Kabupaten Lombok Tengah.

Pada acara tersebut, Pemkab Lombok Tengah diminta untuk memfasilitasi semua akomodasi dan transportasi peserta. Mulai dari pembukaan sampai penutupan acara.

"Kalau untuk melayani ulama', Lombok Tengah selalu siap. Kita akan melayani dengan maksimal," ungkap Fathul.

Sementara itu, Ketua Rais Syuriyah PCNU Loteng menyatakan bahwa Lombok Tengah patut bersyukur, terlebih PCNU Lombok Tengah. Karena kedatangan para ulama' ini pasti akan membawa keberkahan untuk Lombok Tengah dan juga Nahdlatul Ulama'.

Dijelaskannya juga bahwa Acara Ijtima' Majelis Fatwa MUI ini adalah acara Nasional yang sangat penting. Sebab pembahasannya mengenai isu-isu aktual dan problematik yang dihadapi oleh Umat Islam Indonesia.

"Kita, Lombok Tengah, tentu akan menjadi bagian dari sejarah besar umat Islam. Sejarah besar warga Nahdlatul Ulama' juga. Karena di Lombok Tengah ini adalah Lumbungnya NU di NTB," tandasnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh Syuriah, mulai dari PCNU hingga MWC. NU se-Kabupaten Lombok Tengah, untuk turut membantu Pemerintah Kabupaten dalam mensukseskan kegiatan tersebut. [] (Asb).
Read More

Ketua PWNU Jatim Minta Umat Tidak Terprovokasi


muslimpribumi.com, Surabaya - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, KH. Hasan Mutawakkil Alallah, meminta kepada umat Islam agar tidak terprovokasi dengan serangkaian peristiwa terkait keagamaan yang terjadi di sejumlah daerah beberapa akhir ini.

"Semua harus tetap tenang. Tak terprovokasi. Tapi, tetap waspada dan tidak perlu mengambil tindakan sendiri," ujarnya ketika dikonfirmasi di Surabaya, Selasa.

Menurutnya, kehidupan masyarakat antar agama di Jatim telah berjalan baik dan harmonis. Sehingga diharapkan tidak ada yang terpancing provokasi dalam bentuk apapun.

Serangkaian peristiwa tentang keagamaan di Jatim telah terjadi beruntun. Mulai penyerangan Masjid Baitur Rohim di Tuban pada Selasa, 13 Februari 2018. Kemudian penyerangan terhadap Kiai Hakam selaku pengasuh Pondok Pesantren Muhammadiyah, Karangasem, Paciran, pada Minggu, 18 Februari.

Peristiwa lainnya yaitu dugaan adanya teror oleh orang tak dikenal kepada pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, Senin malam, 19 Februari.

Pihaknya berharap supaya aparat kepolisian bersungguh-sungguh untuk mengusut tuntas seluruh kasus yang terjadi di Jatim akhir-akhir ini sekaligus mengungkap motifnya.

"Semua kami serahkan ke kepolisian selaku aparat paling berwenang untuk mengungkapnya. Termasuk menyelidiki, apakah kriminal murni, atau ada gerakan terencana dari pihak tak bertanggung jawab," ucapnya.

Polisi dan NU, katanya, mempunyai visi dan tujuan yang sama, yakni menciptakan rasa aman dan tertib ditengah masyarakat dalam mewujudkan NKRI berdasarkan Pancasila.

Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo tersebut menyampaikan, sebagai umat beragama ditengah banyaknya informasi dan opini, diharapkan umat kembali pada tuntunan agama.

“Mari, jaga bersama lingkungan disekitar kita. Hindari saling menebar kebencian, adu domba dan fitnah antar golongan atau antar umat beragama yang justru merusak sendi kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara. Terutama di tahun politik 2018 dan 2019,” pungkas kiai Mutawakkil.
Read More

Buletin Jum'at Risalah NU Edisi 06


Buletin Jum’at Risalah NU edisi 06 dengan judul: Keteladanan Rasulullah SAW. dalam Upaya Pemberantasan Korupsi.

Buletin ini dikelola oleh Divisi Penerbitan dan Percetakan Lembaga Ta’lif wan Nasyr (Lembaga Infokom dan Publikasi) PBNU dan bisa didownload di: https://drive.google.com/file/d/1zd3e8aNLzrXoQw-cBQ7GaKwQAMqRA7Yv/view
Read More

Agama Tanpa Budaya


muslimpribumi.com, Cirebon - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama', KH. Said Aqil Siroj, menegaskan bahwa agama dan budaya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Agama tanpa budaya menjadi keras. Sementara budaya tanpa agama menjadi sekuler.

“Agama tanpa budaya, ibarat robot. Kaku. Tidak toleran,” tegasnya pada Seminar Nasional yang digelar Forum Kajian Kitab Kuning (FK-3) IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Ahad (18/2). Kegiatan yang diselenggarakan tahunan dalam rangka Gebyar Maulid Nabi (GMN) Muhammad SAW. itu bertema "Islam dan Budaya".

Kiai Said mengatakan bahwa Allah SWT. menurunkan wahyu pertama kepada Rasulullah SAW. dimulai dengan kata iqra' yang dapat didefinisikan sebagai bacalah, cerdaslah, pandanglah dengan luas. Cerdas, tapi tetap beriman.

“Peradaban Islam tidak pernah lepas dari dasar qul huwallaahu ahad," katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa saat di Yatsrib (sekarang Madinah), Rasulullah berhasil membangun umat yang tidak berdiri diatas agama. Tapi diatas tamaddun (saling menyokong).

Di Madinah, kata kiai kelahiran Cirebon itu, Nabi Muhammad membangun umat yang beradab, berbudaya, bermartabat, punya cita-cita hidup dan cerdas.

Oleh karena itu, menurutnya, sejarah peradaban Islam, sejarah budaya Islam itu lebih penting untuk dikaji daripada sejarah perang Islam ataupun sejarah politik Islam.

“Peradaban Islam diperkuat oleh banyak faktor. Salah satunya adalah sektor ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, dahulu Imam Sibawaih mengarang ilmu nahwu, kemudian dibukukan, dinadzomkan, lalu ada yang mensyarahi. Namun setelah itu, kekreativitasan berhenti dan yang ada hanyalah melanjutkan karya-karya yang telah ada,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, ia mengajak hadirin untuk mengkaji Islam dan kebudayaan, atau Islam Nusantara sebagai konsepsi Islam di Indonesia.

“Pasang surutnya peradaban Islam ini yang harus menjadi peringatan untuk kita bahwa prinsip Islam Nusantara harus dipahami dengan betul-betul,” katanya.

Contoh ulama' yang sangat memegang teguh Islam Nusantara adalah KH. Hasyim Asy'ari. Buktinya, dialah yang mencetuskan prinsip "hubbul-wathon minal-iman."

Seminar yang dimoderatori Romzi Ahmad itu juga menghadirkan dua pembicara lain, yaitu KH. Ng. Agus Sunyoto yang menyampaikan seputar sejarah proses Islamisasi budaya dari sudut pandang sejarah. Ada juga Ngatawi Al-Zastrouw yang mengantarkan pada gagasan-gagasan konsep Islamisasi dan konsep kebudayaan.


*Sumber: nu.or.id
Read More

Hukum Bagi Pengucap "Nabi Tak Bisa Wujudkan Rahmatan lil-'Alamin"


Jam'iyyah Musyawarah Riyadhotut Tholabah (JMRT), PP. Alfalah, Ploso, Kediri, menggelar acara Bahtsul Masail Kubro Antar pesantren Se-Jawa-Madura ke XX.

Hasil acara yang diselenggarakan pada tanggal 14-15 Februari 2018 itu dengan rincian sebagai berikut:

Deskripsi masalah:
Lagi-lagi, media sosial dihebohkan oleh seorang muballigh yang membuat blunder saat ceramah di acara Muktamar di salah satu ormas di Riau. Ia mengatakan bahwa "Nabi Muhammad tidak bisa mewujudkan rahmatan lil-'alamin selama 40 tahun. Bahkan setelah turun wahyu selama 13 tahun, Nabi Muhammad juga tidak bisa mewujudkan rahmatan lil-'alamin karena berada dibawah tekanan. Ditekan oleh orang-orang yang tidak senang kapada wahyu yang ia terima, maka rahmatan lil-'alamin tidak terwujud diatas muka bumi Allah SWT."

Ia juga berkata: “Kapan rahmatan lil-'alamin itu dapat diwujudkan? Bukan dengan kenabian. Bukan dengan Al-Qur'an ditangan. Tapi, setelah tegaknya Khilafatin Nubuwwah."

Dia mengatakan bahwa "tidak ada yang dapat mewujudkan rahmatan lil-'alamin selain Khilafatin Nubuwwah, Khilafah ‘ala Minhajin-Nubuwwah (Sambil dijawab dengan teriakan takbir)."

“Jika seluruh umat tidak memperdulikan khilafah ini, maka dia sudah menyia-nyiakan pesan Nabi Muhammad SAW.," ujarnya.

Dia menambahkan, “Dosa terbesar dalam umat ini bukanlah minum khamr. Karena dia akan mabuk untuk dirinya sendiri. Andai ada orang berzina, mungkin madlarat itu hanya untuk mereka berdua dan keluarganya. Tapi, ketika khilafah ini disia-siakan, maka tak terwujudnya rahmatan lil-'alamin dirasakan oleh mulai dari sejak ikan lumba-lumba yang dipertontonkan ditengah anak-anak yang mestinya mendapatkan keadilan, sampai kepada anak yatim. Anak yang dalam fitroh, sampai ke alam semesta tidak mendapatkan rahmatan lil-'alamin. Apa sebabnya? Karena tidak tegaknya khilafah (teriakan takbir)," jawabnya.

Perkataan yang digaris bawahi itulah yang menyebabkan kontra dikalangan netizen. Dan tak sedikit dari netizen yang menganggap muballigh tersebut telah menghina Nabi Muhammad SAW., dan bahkan apa yang disampaikan terkesan mendukung gerakan ormas tersebut.

Pertanyaan:
Apakah peryataan yang disampaikan oleh muballigh yang digaris bawahi dianggap menghina Nabi Muhammad SAW.?

Jawaban:
Konten/isi pernyataan muballigh tersebut, secara dhohir dianggap menghina Nabi. Hanya saja, jika muballigh tidak ada tujuan menghina, maka tidak sampai dihukumi kufur, tapi haram. Sebab, tidak sesuai dengan tafsir para ulama’.

Referensi:
1. Fatawi Haditsiyah juz 1, hal. 161.
2. Tafsir Rozi juz 11, hal. 80.
3. Al-Fatawi Al-Kubro juz 4, hal. 236.
4. Faidlul-Qodir juz 1, hal. 172.
5. Al-Bahrul Madid juz 2, hal. 297.
6. Al-Mausu’ah Quwaitiyah juz 7, hal. 99.

Mushohih:
Gus H. Ali saudi
K. Su’ud abdillah
K. Hadziqunnuha
K. Sa’dullah

Perumus:
Gus H. Kanzul Fikri
Ust. Bisri Musthofa
Ust. Muhammad Anas
Ust. Shihabudin Sholeh
Ust. Ali Maghfur
Ust. A. Fadlil
Ust. M. Halimi
Ust. Fahrurrozi

Moderator:
M. Alamur Rohman

Notulen:
Hadziqunnuha
M. Iqbal

Read More

Nahdliyyin Mimika Peringati Harlah NU Ke-92

muslimpribumi.com - Antusiasme Warga NU Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, dalam memperingati Harlah NU ke-92, dibuktikan dengan diadakannya kegiatan di tiga titik pada waktu yang berurutan dengan melaksanakan Istighotsah Maraton.

Bertempat di Masjid Al-Ikhlas, Kampung Wanagon, peringatan Harlah NU ke-92, menampilkan remaja masjid dengan sholawat "Assalamu'alaika ya Rasulullah" dan "Qamarun" untuk membuka acara. Antusiasme mereka dalam persiapan sebelum tampil, luar biasa.

Acara dilanjutkan dengan lantunan istighotsah dan ceramah oleh Ustadz Hasyim yang dikemudian dilanjut dengan acara kilas balik sejarah berdirinya NU oleh Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso.

Shahibul bait, Ustadz Fadlan, mengajak orang tua untuk mendukung anak-anaknya supaya giat mengaji. "Mari kita didik dan dukung anak-anak kita mempelajari agama agar bisa meneruskan perjuangan para muassis dan kiai-kiai NU dalam menyebarkan Islam santun dan damai," urai ustadz Fadlan.

Pada pagi ba’da shubuh, hari Ahad di tanggal 4 Februari, istighotsah juga digelar di masjid Al-Fattah yang terletak di Trans lama SP3 Kampung Karang Senang. Acara diawali dengan syair istighotsah. Siraman rohani oleh Ustadz Hasyim dan kilas balik sejarah berdirinya NU oleh wakil ketua PCNU Mimika, Sugiarso. Acara ditutup dengan sholat Dluha berjama'ah oleh H. Ali Ma'ruf.

Pada malam harinya, ba’da isya' di hari yang sama, di masjid Nurul Hikmah, Kampung Mwuare, KM. 14, harlah NU ini diisi juga dengan istighotsah. Syair istighotsah mengawali acara dan dilanjutkan ceramah oleh Ustadz Hasyim.

Lantunan shalawat An-Nahdliyyah mengawali peringatan Harlah NU ke-92. Ustadz Hasan dan Ustadz Mukhid selaku tuan rumah telah menyiapkan tumpeng yang luar biasa yang ditancapkan bendera NU di tengahnya.

Dalam ceramah di tiga lokasi, Ustadz Hasyim mengajak jama'ah untuk menggapai kesejahteraan; lima di dunia dan lima di akhirat. "Bagaimana cara kita menggapainya?" tanya Ustadz Hasyim kepada jama'ah.

"Caranya kita harus berjama'ah dalam kebaikan. Kita duduk di majelis yang didalamnya kita sebut nama Allah SWT., istighfar, sholawat, tahlil, takbir, maka diampuni dosa kita dan mendapatkan rahmat. Walaupun datang ke acara sudah mau selesai dan ngowoh saja, tetap dapat ampunan dan rahmat," urai Ust. Hasyim

Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso, dalam peringatan kilas balik sejarah berdirinya NU menyebutkan bahwa Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar dan Tashwirul Afkar adalah tiga pilar utama cikal bakal berdirinya NU berkat usaha KH. Wahab Chasbullah.

"NU yang andil mendirikan negara. Tidak mungkin NU merobohkannya dengan mengutak-atik PBNU (Pancasila, Bhinneka tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945). Tugas kita sekarang adalah merealisasikan tiga pilar NU ini zaman now dengan penguatan ekonomi, pendidikan dan agama, dan kebangsaan," terangnya.

Acara ditutup dengan kirim doa untuk para muassis dan kiai NU. Bendera NU yang ditancapkan pada tumpeng menjadi simbol pelajaran sejarah dan rasa syukur NU yang tetap menjadi pedoman beragama, berbangsa dan bernegara.


Sumber: nu.or.id
Read More

Nahdlatul Ulama' (NU) dan Pesantren di Era Milenial


muslimpribumi.com - Nahdlatul Ulama dapat diibaratkan layaknya sebuah pesantren besar. Ada beratus ulama dan berjuta santri di dalamnya yang saling terhubung satu sama lain. Dawuh kiai menjadi kekuatan organisasi terbesar di dunia ini. Karenanya, dalam pemaknaan lebih luas, semua Nahdliyyin disebut juga sebagai santri. Santri KH. Hasyim Asy'ari, santri KH. Wahab Hasbulloh, santri KH. Bisri Sansuri dan santri para pendiri serta masyayikh Nahdlatul Ulama.

Nahdlatul Ulama sendiri pada awalnya didirikan oleh para ulama dan segera diikuti oleh masyarakat pesantren (kiai, santri, alumni, walisantri dsb.) yang tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan hingga di berbagai negara. Karena itulah, pesantren dan Nahdlatul Ulama adalah dua hal yang tak dipisahkan. Melalui pesantren dan jaringan yang dimilikinya, Nahdlatul Ulama sebagai sebuah jam'iyyah, terus memperjuangkan cita-citanya. Menjadi pendulum bagi terciptanya Islam yang membawa rahmat bagi semesta. Tentu saja hal ini tak mudah. Apalagi menghadapi tantangan era milenial dengan tipe masyarakat muda yang sangat berbeda dengan saat ketika NU didirikan.

Dalam perjalanan panjang Nahdlatul Ulama semenjak berdiri hingga saat ini, dapat dikatakan bahwa orang-orang pesantrenlah yang senyatanya menjadi penggerak lembaga ini. Karenanya, sangat wajar jika kemudian, Nahdlatul Ulama memandang penting adanya sebuah lembaga yang diberi amanah dalam mengkoordinasi dan komunikasi dengan pesantren. Di sinilah kemudian Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) atau dikenal dengan asosiasi pesantren-pesantren NU memiliki peranan penting untuk ikut menyangga setiap gerakan yang dimotori oleh Nahdlatul Ulama.

Beberapa tugas penting RMI-NU yaitu terciptanya masyarakat pesantren yang mempunyai kemampuan dalam melakukan tata kelola pesantren yang maju, berkeadilan dan demi kemaslahatan semua. Kemudian terciptanya masyarakat pesantren yang mempunyai kemampuan sebagai agen transformasi dan perubahan sosial berdasarkan nilai-nilai luhur kepesantrenan. Serta terciptanya jaringan dan kerjasama antar pesantren. Untuk melaksanakan tugas tersebut, RMI-NU perlu melakukan pembacaan mendalam demi menemukan strategi baru menjawab tantangan era generasi milenial ini.

Era generasi milenial harus diakui memiliki potensi sekaligus tantangan. Pergeseran cara pandang masyarakat dalam melihat pesantren merupakan salah satu tantangan yang mesti dijawab. Salah satu contohnya misalnya dengan banyak orang tua zaman sekarang yang memondokkan anaknya yang berorientasi kepada kenyamanan pesantrennya. Mereka bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan baru yang mungkin tidak terpikirkan oleh para walisantri era sebelumnya. Pertanyaan seperti, bagaimana dengan gizi makanannya, bagaimana dengan kamarnya; apakah ada AC-nya, ada kasurnya, ada laundry-nya, dst. Ini berbeda dengan pertanyaan orang tua zaman dulu ketika mau memondokkan anaknya yang ditanyakan adalah kitab-kitab apa yang dikaji di pesantren, sanad keilmuan kiainya dan seterusnya.

Untuk menghadapi hal tersebut, RMI-NU menyiapkan beberapa langkah-langkah strategis yang dimulai dengan Gerakan AyoMondok. Launching gerakan nasional AyoMondok sendiri sesungguhnya sesuai dengan visi ketua umum PBNU KH. Said Aqil Siradj, yaitu “back to pesantren”.

Gerakan AyoMondok awalnya lahir karena keprihatinan terhadap kondisi beberapa pesantren yang mengalami kesulitan menghadapi persoalan-persoalan kekinian. Karenanya, gerakan AyoMondok merupakan sebuah aksi nyata untuk mengembalikan kebanggaan orang untuk kembali ke pesantren. Agar para alumni tak segan memondokkan anak-anaknya ke Pesentren. Agar orang tua yang bukan alumni pesantren tak ragu untuk memilih pesantren sebagai tempat belajar bagi anak-anaknya. Gerakan AyoMondok merupakan sebuah aksi nyata untuk mendorong masyarakat pesantren bangga menjadi santri. Dan bagi yang belum nyantri, tak ragu untuk belajar ke pesantren.

Gerakan AyoMondok didesain sedemikian rupa untuk mengajak orang kembali ke pesantren. Bahwa pesantren bukanlah lembaga tempat "pembuangan anak". Tapi pesantren adalah lembaga pendidikan utama. Pilihan pertama dalam membangun karakter generasi muda yang membuat meraka lebih siap dalam menghadapi tantangan pada era milenial ini. Karakter yang membuat anak-anak kita dapat dengan sigap menghindari hal-hal yang bisa merusak masa depan mereka.

Salah satu langkah penting untuk mendorong para alumni pesantren dan orang tua yang belum pernah nyantri tak ragu memilih pesantren untuk anak-anaknya adalah dengan memberikan informasi yang benar tentang pesantren. Untuk itu, RMI-NU memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin mengetahui segala hal tentang pesantren dengan aplikasi berbasis android “Ayo Mondok”.

Aplikasi ini terintegrasi dengan website ayomondok.net yang menyediakan database pesantren di seluruh Indonesia. Dengan aplikasi tersebut, masyarakat dapat lebih mudah mengakses informasi tentang pesantren. Misalnya, mengenai spesialisasi keilmuannya, kitab-kitab yang dikaji, foto-foto pesantren serta kegiatan-kegiatannya.

Selain itu, RMI-NU juga mengoptimalkan media sosial, baik melalui twitter @ayomondok, FanPage @Ayo Mondok dan Instagram @gerakannasionalayomondok sebagai upaya untuk hadir dan menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat mengenai pesantren.

Tantangan pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam menghadapi generasi milenial tentu tidak cukup hanya memberikan informasi tentang pesantren melalui web-web yang tersedia. Baik yang dikelola oleh RMI-NU maupun oleh kaum muda NU secara umumnya. Kesiapan masing-masing pesantren untuk menerjemahkan setiap tantangan zaman tetaplah menjadi kata kunci. Dalam hal ini, saling support dan mempererat kerjasama serta memperluas jaringan pesantren adalah keharusan. Karena hanya dengan demikianlah, pesantren sebagai kekuatan inti Nahdlatul Ulama dapat terus saling menguatkan dan menjawab tantangan era milenial.

Banyak hal yang harus dikerjakan dan banyak hal yang bisa dilakukan. Tinggal pilihan kita apakah pesantren akan mengikuti tren yang ada atau pesantren mampu membuat tren baru sembari tetap menjaga tradisi lama yang baik seperti kaidah kita “al-muhafadhoh 'alal-qodimis-sholih wal-akhdzu biljadidil-ashlah”. Wallahu a’lam bishawab.


* Oleh: H. Abdul Ghoffar Rozin, Ketua RMI-PBNU
Read More

Santri Milenial dan Tantangan Seabad NU


muslimpribumi.com - Siklus seratus tahun merupakan pembuktian Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keislaman terbesar di dunia. Klaim Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di dunia bukan pepesan kosong, tapi merujuk pada data beberapa lembaga-lembaga survey terpercaya. Bukan sebagai penghargaan yang dirayakan, tapi menjadi refleksi kritis untuk melihat sejauh mana kontribusi NU dalam konteks keislaman, keindonesiaan dan dinamika internasional.

Survey IndoBarometer pada tahun 2000 menyebut bahwa warga Nahdliyyin berjumlah 143 juta jiwa. Sementara Lembaga Survey Indonesia (LSI) pada 2013 mengungkap data bahwa sejumlah 36 persen pemegang hak pilih nasional merupakan warga NU. Singkatnya, 91,2 juta pemilih nasional merupakan warga Nahdliyyin.

Sementara itu, Alvara Strategic Research, melansir hasil survei tentang organisasi Islam yang paling dikenal publik. Survei ini melibatkan 1.626 responden di 34 provinsi dengan wawancara tatap muka. Hasilnya, NU menempati peringkat pertama sebagai organisasi keislaman yang paling dikenal dengan prosentase sebesar 97,0.

Dilanjutkan Muhammadiyah sebesar 93,4 persen dan beberapa organisasi lain. Survei Alvara (2017) mengajukan data sejumlah 50,3 persen penduduk muslim mengaku NU serta 14,9 persen berafiliasi dengan Muhammadiyah. Dari laporan riset ini, terungkap data jumlah warga Nahdliyyin sekitar 79,04 juta jiwa. Sementara warga Muhammadiyah sejumlah 22,46 juta jiwa.

Dari catatan ini, penulis ingin melihat dinamika anak muda Nahdliyyin atau lapisan santri milenial. Lapisan ini penting ditelisik aspirasi sekaligus perannya dalam proses menuju seratus tahun Nahdlatul Ulama.

Milenial santri

Bagi lingkaran peneliti sosial, milenial disebut lapisan penduduk yang lahir pada 1980-2000. Atau, mereka yang saat ini berusia 18-38 tahun. Dalam skala ini, santri milenial saat ini berada pada lapisan santri yang masih mengaji di pesantren, sedang belajar di kampus, sampai pada tahapan menjadi profesional di beberapa perusahaan atau instansi.

Lapisan santri milenial ini, sebagian besar juga mewarnai muslim kelas menengah. Ada transformasi sosial, dari keluarga santri yang dulunya berlatar belakang agraris, kemudian kuliah dan bekerja secara profesional di beberapa kota. Terbukanya kompetisi di kampus-kampus nasional dan internasional dan afirmasi atas sekolah berbasis pesantren, membuka peluang bagi santri untuk menggeluti sains dan ilmu-ilmu yang melengkapi basis pesantren. Pergeseran ini berdampak pada identitas santri milenial yang mempengaruhi pola baru warga Nahdliyin.

Dari sisi komunikasi, santri-santri milenial juga mewarnai interaksi digital. Sindikasi media yang dibangun oleh santri-santi milenial berpengaruh pada pembentukan wacana di kalangan muslim kelas menengah. Sejauh ini, puluhan media digital yang mengkampanyekan nilai-nilai Islam Nusantara atau gagasan keislaman ala Nahdlatul Ulama. Interaksi digital dengan lintas platform media sosial berpengaruh pada wajah baru warga Nahdliyin. Ini menjadi penting dalam proses menuju satu abad Nahdlatul Ulama.

Dari sejarah panjangnya, Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab besar: keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Tanggung jawab ini merujuk pada prinsip Nahdlatul Ulama dalam menjaga ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan).

Tanggung jawab ini memiliki spektrum luas: politik kebangsaan, ekonomi, hukum, pendidikan hingga diplomasi internasional. Dari peta ini, tergambar jelas bagaimana sumbangsih sekaligus tantangan Nahdlatul Ulama dalam siklus seratus tahun (satu abad).

Tanggung jawab keislaman memberi tantangan bagi Nahdlatul Ulama untuk menebar dakwah Islam Nusatara yang rahmatan lil-alamin. Dakwah Islam yang rumah, bukan Islam yang menyebar amarah. Tanggung jawab ini menjadikan Nahdlatul Ulama memiliki spektrum gerak yang luas untuk menjawab problem keislaman di dunia internasional.

Wajah muslim di ranah internasional sedang murung. Peperangan dan konflik di beberapa negara Timur Tengah meremukkan persaudaraan. Konflik di Yaman, Syiria, serta kontestasi antara Israel dan Palestina, serta dinamika negara di sekitar Saudi, merupakan tantangan besar untuk mencipta perdamaian.

Di Asia Tenggara, kekerasan terhadap muslim Rohingya di Myanmar menjadi problem serius. Dalam lanskap internasional, inisiasi perdamaian di Afghanistan mencatat peran NU dalam diplomasi perdamaian. Inisiasi perdamaian di ranah internasional ini menjadi bagian dari dakwah Islam Nusantara.

Arus baru milenial

Seratus tahun Nahdlatul Ulama bagi generasi santri milenial memiliki arti penting untuk memandang wajah organisasi ini pada masa kini dan mendatang. Dengan munculnya lapisan santri milenial, penyebutan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi tradisional, tidak lagi relevan.

Tradisionalisme dalam menjaga sub-kultur pesantren, merupakan khazanah penting yang menjadi ciri khas. Maka, bisa kita saksikan bagaimana santri-santri milenial yang kuliah di beberapa kampus internasional maupun yang sudah berkarir profesional merasa perlu dengan sholawatan, pengajian maupun rangkaian tradisi lain.

Pada ranah tantangan ekonomi kerakyatan, pola santri milenial untuk membangun arus baru ekonomi berlangsung dengan cara yang berbeda. Beberapa santri menginisiasi start-up pada pelayanan publik, media dan social bussines dengan dukungan perusahan finansial internasional.

Munculnya beragam ventura yang berani mendanai eksekusi ide-ide bisnis berbasis digital menjadi peluang berharga. Meski belum berkembang massif, gerakan santri-santri milenial sudah terasa. Perlu ada dorongan intensif agar lapisan santri milenial ini melangsungkan penetrasi pada wilayah profesional baru.

Saya, sebagai bagian santri milenial merasa betapa inovasi teknologi digital dan media sosial berpengaruh pada transformasi harokah (gerakan) santri zaman now. Santri milenial memiliki strategi yang berbeda dalam merespons tanggung jawab keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Seratus tahun Nahdlatul Ulama membuka ruang bagi santri milenial untuk membuktikan kontribusi strategisnya.

* Oleh: Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Penulis buku "Merawat Kebinekaan" (2018).
Read More

Rakornas NU Care-Lazisnu Ketiga di Sragen


muslimpribumi.com - Sragen, NU Care-LAZISNU menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ketiga di Sragen, 29-31 Januari 2018, di Pondok Pesantren Walisongo, Sragen, Jawa Tengah. Rakornas diikut 300 orang pengurus NU Care-LAZISNU tingkat provinsi, kabupaten, dan kecamatan dari seluruh Indonesia dan NU Care-LAZISNU Taiwan.

Direktur NU Care-LAZISNU, H. Syamsul Huda mengatakan bahwa Rakornas tahun ini akan menguatkan metode pengumpulan dana yang paling tepat dilakukan Nahdliyin. Pengumpulan dana melalui Koin NU seperti yang digalakkan PCNU dan NU Care-LAZISNU Sragen, perlu terus digerakkan.

"Gerakan Koin NU Sragen juga sangat tepat menjadi keteledanan bagi Nahdliyin di seluruh Indonesia,” katanya.


Arus Baru Kemandirian Ekonomi NU dipilih menjadi tema Rakornas yang juga digelar untuk menyongsong 100 tahun NU.

Sejumlah agenda melengkapi Rakornas, yaitu seminar fundraising; ZIS Trip atau kunjungan ke lokasi usaha ekonomi, peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit NU (dari pemanfaatan Koin NU Sragen) oleh Rais 'Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin, Selasa (30/1), santunan anak yatim, janda dan dhu'afa' (29/1); serta bazar berbagai produk gagasan Lembaga Perekonomian NU (LPNU) Sragen.

Rais ‘Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin, menanggapi bahwa tema yang diangkat dalam Rakornas tersebut sungguh tepat. Karena, pada saat ini Nahdlatul Ulama' berada di akhir 100 tahun pertama.

“Kita akan memasuki 100 tahun kedua. Karena itu, sisa waktu yang ada menjelang 100 tahun kedua itu kita jadikan untuk membuat landasan-landasan yang kuat. Kita kuatkan runaway-nya supaya bisa tinggal landas. Karena menurut hadits, setiap awal 100 tahun itu akan ada pembaharu; ada gerakan baru,” jelas KH. Ma’ruf Amin saat ditemui di ruangannya di Gedung PBNU Lantai 4, Kamis (18/01).

Menurutnya, NU Care-LAZISNU telah melahirkan gerakan ekonomi mandiri Nahdliyin yang dahsyat. Di Sukabumi telah terbangun Klinik ZIS, di Sragen dengan pembangunan Rumah Sakit NU, di Lampung Timur dengan BMT (Baitul Maal wa Tamwil), dan juga di tempat-tempat yang lain.

Sebagai suatu organisasi, Nahdlatul Ulama' memiliki berbagai bagian. NU itu adalah fikroh (cara berpikir), 'amaliyah dan harokah (gerakan). Diantara gerakan NU, kata KH. Ma’ruf Amin, adalah gerakan perbaikan, yaitu harokah ishlahiyah di dalam bidang ekonomi supaya NU bisa mandiri. NU juga gerakkan khidmatun ummah atau pelayanan kepada umat.

“LAZISNU punya peran ganda. Pertama, ia (LAZISNU, red.) harus berperan dalam rangka meningkatkan kemandirian ekonomi umat dengan dana yang bisa dikelola dengan baik. Yang kedua, dengan memberikan pelayanan seperti melalui klinik, melalui rumah sakit, melalui pendidikan dan lain-lain yang bisa dilakukan,” tutur Kiai yang juga menjabat sebagai Ketua Umum MUI Pusat ini.

Karena itu, menurut beliau, tema Rakornas NU Care-LAZISNU 2018 dalam menyambut 100 tahun Nahdlatul Ulama' adalah suatu tema yang tepat. Rakornas akan menghasilkan gerakan yang massif, yang lebih baik lagi. Sehingga, pelayanan NU dan perbaikan untuk umat bisa dilaksanakan dengan baik.


Petikan pidato Direktur NU Care-LAZISNU, Senin (29/1).

Tidak terasa, kita sudah masuk di akhir Januari 2018, yang artinya Pengurus Pusat NU CARE-LAZISNU periode 2015-2020 telah masuk tahun ke-3. Pada tahun pertama, NU CARE-LAZISNU berkomitmen untuk melakukan konsolidasi organisasi yang diwujudkan dengan Rakornas di Jakarta pada tahun 2016.

Kemudian, di tahun kedua, NU CARE-LAZISNU kemudian mencoba menggali sumber-sumber kearifan lokal dari para kiai-kiai NU yang secara istiqomah menggerakkan umat melalui zakat, infaq dan sedekah. Alhasil, bertemulah kita kepada sosok yang luar biasa, yang mengabdikan dirinya kepada umat dengan model pengumpulan ZIS seperti yang dilakukan oleh para ulama terdahulu NU.

Di Tahun kedua itu, tepatnya Februari 2017, kita menggelar acara di Ponpes Al- Amin, Cicurug, Sukabumi dengan motivasi terbesarnya adalah untuk belajar langsung dari Almarhum Buya Basit yang tidak lain adalah Ketua Pengurus Cabang NU Kab. Sukabumi. Dalam forum tersebut, disepakatilah bahwa NU
CARE-LAZISNU menggunakan “Kotak Infaq Nusantara” atau yang disebut dengan KOIN NU untuk strategi pengumpulan infaq dan shadaqah.

Alhamdulillah, berkat pembelajaran langsung di Sukabumi, beberapa Cabang dan Wilayah di Indonesia kemudian bisa meniru dengan apa yang dilakukan oleh Sukabumi. Bahkan tidak bisa dipungkiri ada yang perkembangannya lebih cepat dan hasilnya lebih besar. Ini membuktikan bahwa spirit yang kita bangun melalui kegiatan di Sukabumi berdampak positif pada aktifitas NU CARE-LAZISNU di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri.

Di tahun ketiga ini, Rakornas NU CARE-LAZISNU digelar di Ponpes Walisongo, Sragen. Motivasi kami, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengambil semangat PCNU Sragen dan NU CARE-LAZISNU Kab. Sragen yang telah menjalankan program KOIN hingga terkumpul dana lebih dari 6 Milyar dalam waktu satu tahun.

Sebenarnya, bukan nominal yang menjadi acuan kami, namun sistem dan manajemen yang telah terkonsep di Sragen inilah yang menurut kami
menjadikan Sragen patut untuk dijadikan percontohan. Selain itu, tentunya semangat gotong royong warga nahdliyin yang terkonsolidasi dengan baik di Sragen ini, juga sangat sulit untuk ditemukan di daerah-daerah lain di Indonesia.

Harus diakui bahwa gerakan KOIN di Sragen sangat luar biasa. Apa yang telah dilakukan oleh Sragen saat ini seperti membuka ingatan kita ke masa lalu di awal-awal embrio berdirinya Nahdlatul Ulama', yang salah satunya adalah semangat pembangunan ekonomi umat melalui Nahdatut Tujjar.

Semangat terhadap pembangunan ekonomi umat adalah hal yang mutlak harus dilakukan jika ingin menjadikan NU sebagai organisasi yang mandiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat miskin di Indonesia didominasi oleh warga nahdliyin. Oleh karena itu, NU CARE-LAZISNU memiliki tugas yang berat untuk bersama-sama memberdayakan umat dan mengentaskannya dari kemiskinan.

Keberpihakan NU kepada penguatan ekonomi umat sudah tidak perlu
ditanyakan lagi. Sejak awal berdirinya, NU sudah sangat konsen dengan nasib ekonomi umatnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya Maklumat No. 7 tahun 1936 yang dikeluarkan oleh Hadlrotusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Maklumat itu,
kemudian memantik semangat pengurus NU di berbagai wilayah di Indonesia, baik di Jawa, Sumatera maupun Kalimantan untuk bergerak melakukan pemberdayaan ekonomi umat dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah jimpitan dan pendirian badan khusus yang menangani masalah sosial ekonomi umat. Tak sampai disitu, di era selanjutnya KH. Mahfudz Shiddiq kemudian mendirikan Syirkah Mu'awwanah (koperasi) disetiap PCNU yang ada di Indonesia. Tujuannya tidak lain adalah untuk memberdayakan ekonomi warga nahdliyin.

Dengan melihat pada kenyataan NU di masa lalu yang begitu massifnya menggerakkan semua elemen untuk pemberdayaan ekonomi, maka bukan tidak mungkin saat ini kita bisa melakukan yang lebih lagi. Jika dahulu saja para pendiri NU dengan segala keterbatasannya bisa melakukan hal itu, maka seharusnya sekarang sudah saatnya NU menjadi sebuah organisasi yang mandiri, yang berdaulat secara ekonomi dan kuat secara ideologi.

Oleh karena itu, kami ingin agar semangat yang telah dilakukan oleh PCNU Kab. Sragen dan NU CARE-LAZISNU Kab. Sragen dapat ditularkan kepada semua yang hadir di sini agar seluruh Wilayah, UPZIS Kabupaten/Kota/Luar Negeri dan
UPZIS Kecamatan bisa meniru strategi yang telah diterapkan di Sragen dengan lebih baik, atau minimal sama dengan yang telah dilakukan di Sragen.

Perlu kami sampaikan, bahwa pada forum ini kita juga kehadiran UPZIS NU CARE-LAZISNU Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur yang juga luar biasa dalam kiprahnya memberdayakan ekonomi umat sejak tahun 2007. Melalui inisiasi Pengurus MWC. NU Kecamatan Pasir Sakti dengan membentuk BMT. Mitra Dana Sakti pada saat itu, kini NU di Pasir Sakti menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di wilayah itu. Bahkan, BMT. yang dikelola dengan modal awal
39 juta, kini telah memiliki aset senilai 60 Milyar dan menjadi 3 besar BMT dengan aset terbanyak di Provinsi Lampung.

Maka dari itu, kami juga meminta kepada Ketua UPZIS NU CARE-LAZISNU Kecamatan Pasir Sakti, untuk juga dapat menularkan pengalamannya selama 9 tahun mengelola dana untuk kepentingan umat. Hal ini sangat penting agar di
tahun ini, seluruh Wilayah dan Cabang NU CARE-LAZISNU di seluruh Indonesia minimal memiliki satu BMT yang mengelola dana Zakat, Infaq dan Shodaqoh dan juga pemenuhan modal usaha untuk pengusaha kecil dan menengah. Tujuannya agar NU benar-benar hadir sebagai solusi konkret untuk menyelesaikan problematika ekonomi umat.

Jika dua strategi ini digabung dalam satu kesatuan utuh, maka NU benar-benar akan menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang luar biasa. Strategi penghimpunan dengan model Sragen dan strategi pengelolaan dengan model Pasir Sakti. Dua model inilah yang akan kita sajikan pada forum yang mulia ini untuk menciptakan sebuah gagasan baru sesuai dengan tema Rakornas kali ini, yaitu “Arus Kemandirian Ekonomi Nahdlatul Ulama; Menyongsong 100 Tahun Nahdlatul Ulama.”

Penentuan tema ini tidak lain karena kami menyadari bahwa dari perekonomian yang kuatlah akan tercipta pendidikan yang unggul dan kesehatan yang berkualitas. Itulah yang dicita-citakan oleh NU sebagaimana yang tercantum
dalam Amanat Muktamar NU ke-33 di Jombang, 2015 lalu. Sekali lagi, tugas kita adalah mewujudkan cita-cita besar para Ulama' NU untuk menjadikan NU sebagai organisasi yang warganya kuat secara ekonomi, berpendidikan tinggi dan
memiliki lembaga kesehatan yang berkualitas untuk melayani umat.

Perlu kami sampaikan, bahwa pada tahun 2017, Pengurus Pusat NU CARELAZISNU telah berhasil menghimpun dana sebesar Rp. 16.771.119.650,- (Enam Belas Miliar Tujuh Ratus Tujuh Puluh Satu Juta Seratus Sembilan Belas Ribu Enam Ratus Lima Puluh Rupiah). Dengan perolehan sebesar itu, Pengurus Pusat NU CARE-LAZISNU menyalurkan sebanyak Rp. 11.866.310.765 (Sebelas Miliar Delapan Ratus Enam Puluh Enam Juta Tiga Ratus Sepuluh Ribu Tujuh Ratus Enam Puluh Lima Rupiah).

Dengan rincian:

1. Pendidikan sebesar Rp. 4.301.905.000,- (Empat Milyar Tiga Ratus Satu Juta Sembilan Ratus Lima Rupiah).

2. Kesehatan sebesar Rp. 680. 264.053,- (Enam Ratus Delapan Puluh Juta Dua Ratus Enam Puluh Empat Ribu Lima Puluh Tiga Rupiah).

3. Pemberdayaan Ekonomi Rp. 2.709.302.872,- (Dua Milyar Tujuh Ratus Sembilan Juta Tiga Ratus Dua Ribu Delapan Ratus Tujuh Puluh Dua Rupiah).

4. Siaga Bencana Rp. 1.008.429.840,- (Satu Milyar Delapan Juta Empat Ratus Dua Puluh Sembilan Ribu Delapan Ratus Empat Puluh Rupiah).

Jumlah ini akan terus bertambah karena ini kami masih menunggu laporan Kinerja Akhir Tahun dari sahabat-sahabat PW. dan PC. NU CARE-LAZISNU di seluruh Indonesia yang jumlah totalnya insya Allah akan kami sampaikan pada penutupan Rakornas NU CARE-LAZISNU 2018 besok.

Hadirin yang kami muliakan; Semoga majunya NU tidak hanya di Sragen, tapi juga diseluruh Indonesia agar NU benar-benar menjadi organisasi yang mandiri, berdaulat secara ekonomi dan kuat secara ideologi.



* (Kang Sururi)
Read More

NU Care Lazisnu Peduli Papua


muslimpribumi.com - AlhamduliLlaah, rampung sudah menyalurkan amanat dari NU Care Lazisnu ke SD Al-Ma'arif di Kampung Maibo, Sorong, Papua Barat. Dengan ditemani beberapa teman, termasuk dari Lazisnu setempat, kira-kira jam sembilan-an kami sampai di Kampung Maibo. Ya, tentu saja setelah melewati hamburan debu jalanan yang masya Allah gaduhnya.

Ada tiga orang guru ketika saya tiba di SD ini. Pak Kaida, salah seorang guru yang memang sudah kenal baik dengan saya, langsung ke arah saya begitu melihat saya datang. Kita saling tanya kabar dan saya pun melanjutkannya dengan memberitahukan padanya maksud kedatangan saya kali ini ke sekolah yang letaknya di depan rumahnya itu.

Ia pun kemudian menyiapkan segalanya. Diantaranya menyuruh anak murid (istilah siswa-siswi di papua) berkumpul di satu ruangan dan mengambil beberapa kursi dari ruangan sebelah.

Begitu semuanya terkumpul di salah satu ruang kelas dari tiga ruang kelas yang ada, dalam hati saya ada kekhawatiran kalau-kalau paketan yang berisi tas dan peralatan sekolah ini tidak cukup. Sebab, dalam penglihatan saya tampak anak-anak begitu banyak sekali. Mendengar kabar-kabar kalau di Kampung ini terkadang ada keributan kecil soal pembagian seperti ini kalau-kalau ada yang tidak kebagian, maka saya sampaikan pada calon-calon generasi bangsa ini bahwa nanti yang dapat hadiah ini adalah anak-anak yang rajin masuk sekolah.

"Jadi, kalau diantara kalian nanti ada yang tidak kebagian, ah..berarti ketahuan kalau kamu malas-malas masuk sekolahnya. Mengerti, ya?" kata saya.

"Mengerti..." jawab mereka koor.

Dan untuk melakukan penyerahan bantuan ini, saya memohon kesediaan Bapak Kiai Ahmad Misri, salah satu tokoh NU di Sorong ini. Dan mewakili SD Ma'arif Maibo ini, saya mengucapkan terimakasih banyak pada NU Care Lazisnu. Semoga mampu kian menembus ke pelosok-pedalaman Papua.

Akhirnya, ketika Anda membaca postingan ini dan kebetulan sedang punya waktu lebih, coba amati kondisi gedung SD ini dan coba bandingkan dengan SD di tempat Anda tinggal. Saya yakin, SD di tempat tinggal Anda jauh lebih baik. Selanjutnya, biarkan nalar sehat Anda menjawab pertanyaan ini; layakkah sarana pendidikan seperti ini?

Silakan dijawab sendiri-sendiri. Saya tidak mengharuskan Anda untuk menuliskan jawaban tersebut dikolom komentar. Tapi menurut saya pribadi, bangunan SD ini lebih buruk dari kandang babi. Setuju dengan saya, boleh. Dan tak apa pula kalau tak sepakat, tapi jangan mengumpat.

Oh, iya. Ketika kami mendatangi lahan yang hendak dibangun sekolahan secara permanen, kebetulan ada pak Polisi yang datang. Kok gak enak rasanya kalau saya tidak mengajaknya poto sekalian 😊😁

Salam.


Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

PCNU Kab. Paniai, Papua, Peringati Harlah NU Ke-92

muslimpribumi.com - Setiap tanggal 31 Januari, organisasi terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama’, memperingati hari lahirnya. Di tahun 2018 ini, usia organisasi yang didirikan oleh Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari beserta para ulama' Nusantara ini kini genap berusia 92 tahun.

Acara peringatan Hari Lahir itu biasanya juga diikuti oleh para Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, Pengurus Anak Cabang, Ranting, Badan Otonom maupun Lembaga-lembaga NU yang ada diseluruh Indonesia, selain tentu saja Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' yang ada di Jakarta.

Tujuan diadakanya peringatan Harlah ini disamping untuk mensyukuri ni'mat Allah SWT. atas keistiqomahan Jam'iyyah NU selama ini, juga untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan pendiri NU sekaligus meneguhkan kembali peran ormas NU kepada umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Diantara PCNU yang tidak mau ketinggalan untuk memperingati Harlah NU ke-92 kali ini yaitu PCNU Kab. Paniai, Propinsi Papua. Meskipun keberadaan PCNU tergolong masih baru dan asing di telinga masyarakat setempat, namun hal itu tidak menyurutkan semangat para pengurusnya. Justru momen seperti ini merupakan ajang yang tepat untuk mensosialisasikan pada masyarakat setempat tentang NU.

Dan kegiatan peringatan Harlah NU yang di selenggarakan oleh PCNU Paniai ini pun sudah dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 21 Januari 2018 kemarin yang bertempat di Madrasah Ma’arif NU Paniai. Rangkaian acara dimulai sejak pagi jam 09.00 WIT. sampai jam 11.00 WIT. dengan pembacaan Khotmil Qur’an. Acara ini diikuti oleh para pengurus PCNU serta jam’aah yang kemudian dilanjutkan dengan acara puncak pada jam 13.00 WIT. sampai jam 15.00 WIT., yaitu santunan anak yatim-piatu serta sambutan-sambutan dan Mauidhoh Hasanah yang diakhiri dengan do’a bersama.

Pada acara puncak ini terlihat hadir ratusan masyarakat umum, para santri, wali santri Madin Ma’arif NU, dan jajaran aparat keamanan baik Bapak Kapolres dan TNI yang ada di kabupaten Paniai. Adapun anak yatim yang menerima santunan berjumlah 23 anak; 17 putra dan 7 putri. "Semoga dengan diberikan santunan ini dapat memberikan manfaat serta kelak menjadi anak yang sholih-sholihah, amin," ujar ketua Madin, Ahmad Muslih.

Dalam sambutannya, Ketua PCNU Kab. Paniai, Bapak Sodikin, menyampaikan maksud dan tujuan diselenggarakan acara ini. Yaitu supaya masyarakat umum tahu sejarah berdirinya ormas NU dan peran serta kontribusi NU, baik di masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta mengajak bersama-sama mayarakat untuk selalu mengajarkan Islam yang ramah dan santun. Tidak seperti Islam yang ada di media-media yang selalu mengajarkan kebencian dan radikal.

Semoga dengan acara ini bisa memberikan manfaat dan berkah serta rasa aman bagi masyarakat Muslim di Paniai pada khususnya, dan umumnya bagi masyarakat non-muslim. Serta semoga PCNU Kab. Paniai diberikan tetap istiqomah dalam berkhidmah mensyiarkan ajaran ASWAJA seperti apa yang telah dicita-citakan oleh para ulama’ NU terdahulu, Amin.

Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU di Paniai, Papua.
Read More

Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol


muslimpribumi.com - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengungkapkan apresiasi tinggi atas agenda Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pimpinan Pusat Pagar Nusa. Agenda Ijazah Kubro dan Pengukuhan berlangsung di Lapangan Puser Bumi, Ciperna, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (28/01/2018).


Agenda ini dihadiri Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Rais 'Aam PBNU Prof. Dr. KH. Ma'ruf Amin, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, KH. Said Asrori, KH. Ayib Abbas dan beberapa kiai sepuh. Dalam agenda ini, ulama dan ahli bela diri dari Tunisia, Dr. Nazim Syarif, hadir sebagai tamu kehormatan.


Panglima TNI mengapresiasi kader-kader dan pendekar Pagar Nusa yang mempraktikkan disiplin tinggi. "Saya sangat mengapresiasi Pagar Nusa yang memiliki kedisiplinan tinggi," ungkap Marsekal Hadi.

Dalam pandangannya, TNI sangat berharap dapat menjalin kerjasama intensif dengan Pagar Nusa dalam tujuan menjaga NKRI. "Saya yakin, Pagar Nusa dan Nahdlatul Ulama menjadi pilar penting untuk masa kini dan masa mendatang. Pagar Nusa dan Nahdlatul Ulama sangat dibutuhkan bangsa ini," jelasnya dihadapan ribuan pendekar Pagar Nusa dan warga Nahdliyyin.

Panglima TNI juga membuka pintu kepada kader Pagar Nusa untuk masuk ke Akmil dan Akpol. Hal ini dalam rangka membuka kesempatan bagi santri pendekar untuk mengabdi kepada bangsa melalui TNI dan Polri. "Kami membuka pintu bagi kader muda pendekar Pagar Nusa untuk masuk ke Akmil dan Akpol. Pagar Nusa telah membuktikan tingkat disiplin tinggi," tegas Panglima.

Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, menegaskan bahwa Pagar Nusa konsisten mengabdi kepada kiai dan menjaga NKRI. "Pagar Nusa itu Pagarnya NU dan Bangsa. Kami tidak hanya barisan pendekar yang mengandalkan otot. Tapi sekaligus dengan kekuatan intelektual dan kematangan spiritual. Ini yang ditempa di Pagar Nusa," jelas Nabil Haroen.

Pagar Nusa, ungkap Nabil Haroen, juga memiliki sejarah panjang membela NKRI. "Sejarah Pagar Nusa sepanjang sejarah pesantren dan Nahdlatul Ulama. Para pendekar santri terlibat dalam perang melawan kolonial dan perjuangan kemerdekaan. Sudah seharusnya Pagar Nusa terus mengawal Indonesia dengan arahan dari kiai-kiai," jelas Nabil, yang didampingi Sekretaris Umum Pagar Nusa, M. Hasanuddin Wahid, dan Ketua Panitia Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pagar Nusa, Zainul Munasichin.

Dalam waktu dekat, Pagar Nusa mengirim beberapa pelatih pencaksilat ke beberapa negara Eropa, Tunisia, Mesir, Eropa, Jepang dan China.
Read More

Jurang dan Jembatan FPI - NU


muslimpribumi.com - Bismillah.... Untuk memulai menulis catatan kecil ini, saya ingin menyampaikan pertanyaan untuk kita renungkan. Pertanyaan ini sangat urgent dan mendasar sekali, bisakah FPI & NU "berdamai"? Sengaja saya beri tanda petik dalam kalimat berdamai, karena ini menjadi bahasan saya dalam catatan penting selanjutnya dalam judul yang saya angkat kali ini.

Tidak ada maksud sedikitpun saya mensejajarkan keduanya. Sebagaimana diketahui bersama, NU berdiri jauh sebelum kemerdekaan indonesia, tahun 1926 atas prakarsa para Ulama terkemuka seperti Hadlratussyaikh Mbah Yai Hasyim Asy'ari, Mbah Yai Wahab Hasbullah, Mbah Yai Bisri Syansuri serta para Ulama terkemuka lainnya atas restu Seorang Waliyullah yang sangat dihormati & disegani para Ulama kala itu, Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan.

Berdirinya NU kalau kita baca dalam berbagai tulisan dan sejarah yang banyak ditulis, jelas sekali untuk "menghadang" gerakan faham Wahabi yang mulai gencar tumbuh dan berkembang kala itu. Dibentuknya komite Hijaz sebagai salah satu indikatornya, jelas sekali sebagai sikap para Ulama menyikapi kegelisahan yang ada.

NU berdiri tidak hanya pada aspek ijtima'iyah saja. Juga tidak hanya pada sisi jama'ah saja. Tapi jauh lebih penting dari itu, yakni sisi dakwah dan keagamaan, masalah-masalah diniyyah ijtima'iyah menjadi porsi utama dalam tujuan berdirinya NU.

Karena NU itu organisasi Ulama, maka seharusnya yang mengurusi NU itu harusnya berlatar belakang Ulama, minimal berlatar belakang Pesantren. Karena, bagaimana bisa "ngopeni" NU secara lahir dan bathin kalau pengurusnya misalnya, tidak memahami Ulama, tidak memahami Pesantren? Karena, NU lahir dari Pesantren, NU itu bukan "Perusahaan" yang bisa dimenej serba intruktif dan top down, apalagi mengesampingkan nilai-nilai Akhlaqul Karimah terhadap para Ulama sepuh misalnya.

Karena ruh NU itu berada di Ulama dan Pesantren, maka wajib hukumnya NU mempertahankan dan menjaga ruh ini. NU harus Istiqaamah menjaga uswah ini sebagaimana ketika awal berdirinya NU, Hadlratus Syaikh sebagai Rois Akbar NU memegang peranan sangat penting dan dominan. Posisi Syuriah lebih mendominasi dan menjadi rujukan mutlak di lingkungan NU. Sedang posisi Tanfidziyah yang kala itu dipercayakan kepada Hasan Gipo yang bertalar pengusaha, lebih pada pelaksana mandat para Ulama yang ada dijajaran Syuriah.

Lain NU, lain pula FPI. Setau saya, organisasi ini berdiri sekitar tahun 1996-an. Berawal dari cikal bakal Pamswakarsa yang kala itu dibentuk oleh Jenderal Wiranto. Saya yang kala itu masih menjadi mahasiswa, terdengar jelas sekali sayup-sayup di ibukota dan beberapa kota besar di tanah air munculnya OTB. Organisasi Tanpa Bentuk, begitu belakangan sering disebut oleh berbagai kalangan kala itu. Istilah Pamswakarsa atau Pengamanan Swakarsa atau swadaya masyarakat ini sengaja diciptakan dan dibentuk oleh pemerintah kala itu.

Jadi menurut saya, FPI memang dari awal sengaja dibentuk atas dasar politis. Politis yang saya maksud adalah karena munculnya dari benih organ Pamswakarsa yang memang sengaja dibentuk pemerintah. Wajar kalau FPI berpatronase dengan pemerintah dalam menjalankan program-programnya.

Dimana ada pelacuran terang-terangan maupun terselubung, di situ ada FPI yang getol menolaknya. Dimana ada diskotek, minum-minuman keras, kemaksiatan, dll. disitu ada FPI yang getol menolaknya secara "kasar" dan tanpa ampun. Seharusnya negara dan pemerintah berfungsi ofensif dengan penegakan hukumnya. Kadang kita banyak saksikan justru tumpul dan ada pembiaran-pembiaran sehingga ada kesan justru FPI yang dijadikan "ban serep" menghadapi semua itu.

Sampai-sampai sering muncul stigma agak kurang sedap terhadap FPI, bahkan plesetan negatif seperti Front Pentungan Indonesia, dll., karena setiap beraksi dan menolak "kemungkaran" tersebut, sedikit-sedikit selalu memakai "pentungan."

Diawal-awal berdiri tahun 1996-an, tentu kita ingat bagaimana Pamswakarsa juga beraksi setiap ada kerusuhan yang terjadi di Ibukota. Juga banyak memakai pentungan sebagaimana belakangan FPI juga memakai hal yang sama.

Catatan kecil saya ini tidak ada maksud memojokkan FPI sebagai sebuah organisasi massa yang saat ini tumbuh dan berkembang dibawah komando Al-Mukarrom Habib Rizieq. Tetapi saya hanya ingin sedikit mengurai kenapa FPI & NU itu "sulit" sekali berdamai. Bisakah kedua organisasi ini bisa berdamai?

Dilihat dari jumlah pengikut, jelas keduanya tidak bisa disamakan atau di sejajarkan. NU menurut data diatas kertas, ummat atau pengikutnya diatas 60 juta. Bahkan, konon secara kultural dan ajaran ada yang mengatakan bahwa separo lebih jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah ummat atau pengikut NU. Sedang pengikut FPI sendiri, belum ada data atau sumber yang jelas berapa jumlah pengikutnya.

Begitu kuatnya aroma ketidaksepahaman antara FPI dan NU, pernah suatu ketika sampai-sampai Sang Komando FPI Al-Mukarrom Habib Rizieq pernah mengatakan didalam suatu forum majlis bahwa Gus Dur itu "buta mata dan buta hati," saya sendiri masih ikut ceplas-ceplos yang dikatakan Al-Habib itu. Ini juga yang oleh sebagian besar ummat NU "mungkin" masih diingat dan melekat kuat sampai saat ini.

Entah karena disengaja atau keceplosan atau keseleo sebagaimana Ahok keseleo "menistakan" Al-Qur'an, Sang Habib sejak tahun 1999 sampai Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB, di berbagai forum dan kesempatan, HR selalu menyerang GD dengan kata-kata dan kalimat pedas lainnya. Sekali lagi, saya tidak mengerti apa motif yang sebenarnya kedua tokoh yang beda peran dan zaman ini berseberangan, baik secara tertutup maupun terbuka.

Walau Gus Dur menanggapi dengan rileks dan santai dengan slogan beliau yang terkenal itu: "begitu saja kok repot," tetapi ummat NU tetap saja sangat keberatan dan tidak terima dengan tudingan dan olok-olok sang Habib itu. Karena Gus Dur itu sebagai representasi NU, menghina Gus Dur sama saja dengan menghina NU. Kita tau Gus Dur adalah putra dari tokoh dan pahlawan nasional, KH. Abdul Wahid Hasyim dan cucu dari Pendiri NU sekaligus tokoh dan pahlawan nasional juga, beliau Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Al-Mukarrom Habib Rizieq sebagai komando FPI yang konon juga di tahbis menjadi Imam Besar FPI, alangkah elok, etis dan santunnya, andai saja Sang Habib "menyampaikan permohonan maaf"-nya kepada NU. Lebih khusus kepada keluarga Allah Yarham Al-Maghfurlah Gus Dur, dan umumnya kepada ummat NU atas tudingan atau ucapannya yang saya tulis diatas tadi. Sehingga "luka" hati dan perasaan ummat NU secara umum bisa terobati. Sebagai seorang Habib, saya yakin beliau mau demi kemaslahatan dan persaudaraan serta persatuan ummat secara umum.

Belakangan, apalagi saya mengamati dan melihat ada beberapa, bahkan bisa jadi sudah lumayan banyak, ummat NU yang ikut bergabung dengan FPI. Bahkan teman-teman se-Almamater saya dari sesama santri dan Alumni Tebuireng juga mulai ikut bergabung dengan FPI.

Tentu tidak elok rasanya kalau-kalau Dzurriyyah Hadlratus Syaikh dimana santri dan alumni Tebuireng pernah mengenyam nyantri atau jadi SANTRI Tebuireng, tetapi Dzurriyyah Hadlratus Syaikh "dihujat" dan diolok-olok sang Habib yang notabene ditahbis menjadi imam besar di internal FPI. Sebagai santri-santri Tebuireng yang ikut bergabung dengan FPI ataupun santri-santri lainnya yang ada garis ilmu dengan Hadlratus Syaikh seharusnya memberikan saran positif kepada Sang Habib sebagai imam besarnya. Selama masih ada beban sejarah dan psikologis itu, selama itu pula kedua organ ini sepertinya sulit bisa melupakan "luka lama itu."

Belum lagi persoalan Manhajiyah, keduanya sepertinya bagai kutub utara dan kutub selatan. Walau FPI selalu mengatakan saat ini telah banyak mengalami perubahan dan sama-sama mengaku berhaluan Ahlussunnah wal Jama'ah. Tapi, urusan Manhajiyah ini sejatinya adalah hal yang sangat mendasar dan prinsip. Seharusnya ini menjadi agenda penting kalau keduanya ingin ishlah "berdamai." Selama hal-hal mendasar ini belum tuntas menjadi kesepakatan bersama dan dibahas dalam tingkat dialog dan tabayyun, selama itu pula keduanya sulit dicapai dalam membangun harmonisasi, baik dalam dakwah maupun gerakan ke-ummat-an.

Melalui catatan kecil tulisan saya ini, saya berharap banyak, kedepan FPI bisa lebih santun, meninggalkan stigma "penthungan" sebagaimana saya tulis diatas. Mulai menggeser dari gerakan "jalanan" menjadi lebih ilmiah, santun dan beradab. Slogan An-Nahyu 'an Al-Munkar yang sering jadi pedoman dilapangan oleh para laskar-laskarnya itu harus mulai digeser menjadi "An-Nahyu 'an Al-Munkar Laa bil-Munkar wa Laakin An-Nahyu 'an Al-Munkar bil-Ma'ruuf," mencegah kemungkaran bukan dengan cara-cara munkar (cara-cara agitatif, provokatif, kekerasan, intimidatif, dll.), tetapi mencegah kemungkaran dengan cara-cara yang baik, santun, dan beradab atau dengan cara-cara ma'ruuf lainnya.

Kalau hal-hal prinsip ini kedepan terus mengalami perubahan secara signifikan, saya merasa yakin dan husnudzon keduanya, "FPI & NU", akan bertemu dan berdamai secara alamiah. Sebagai organ yang jauh lebih muda, seharusnya FPI bisa lebih pro aktif & mengkaji serta mengevaluasi konsep dan mabadi' organisasinya demi kemaslahatan ummat dan keutuhan bangsa ini dari jurang perpecahan yang lebih besar lagi.

Sejauh ini saya melihat dan membaca, sementara hanya NU dan Muhammadiyah yang masih tetap konsisten menjaga NKRI ini dari jurang dis-integrasi bangsa ini. Elemen-elemen bangsa lainnya termasuk FPI dll. seharusnya memberikan bukti kecintaannya dalam mengawal dan menjaga keutuhan NKRI dari cerai berai dan dis-integrasi..!!!

Wallaahu A'lam

Catatan kecil disepertiga malam.
Bumi Al-Rahman Al-Waqi'ah.
Pesantren Roudlotut Tholibin, Kombangan, Bangkalan, 21 Januari 2017.

Al-Dla'if wal Faqier, Lora H. Fawaid Abdullah (Pimpinan Pesantren Roudlotut Tholibin, Kombangan, Bangkalan & Mantan Ketua Umum Pengurus Wilayah Jawa Timur IKAPETE "Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng").
Read More

Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Acara Launching Angkringan GP. Ansor Rembang di Jl. Kiai Bisri Mustofa, Leteh, Rembang.

muslimpribumi.com - Di Semarang, Solo ataupun daerah lain di Jawa Tengah, termasuk pula Jogja, angkringan sangat akbrab di mata. Di pusat keramaian maupun di pinggir-pinggir jalan, ia begitu mudah bisa didapati.

Angkringan biasanya terbuat dari kayu dan papan yang berbentuk gerobak. Dengan beratapkan terpal, jenis lapak yang menjajakan makanan dan minuman ini bisa memuat enam hingga delapan orang. Dan tak jarang pula, si empunya lapak juga menyediakan tikar bila pembeli melimpah atau pembeli menginginkan duduk lesehan.

Bisa dikatakan, angkringan merupakan salah satu tempat yang merakyat. Dari mulai para mahasiswa, karyawan, bahkan pejabat, bisa nyaman menikmati suasananya.

Untuk memberdayakan ekonomi bagi para kadernya, baru-baru ini Gerakan Pemuda Ansor di Kabupaten Rembang, meluncurkan program angkringan di tiap kecamatan. Peluncuran yang dikemas dengan acara “ngangkring bareng" santri dan warga di sepanjang Jalan Kiai Bisri Mustofa, Leteh, Rembang, pada Sabtu sore, 13 Januari kemarin ini dilanjutkan dengan menyantap nasi, lauk dan kopi ala angkringan.

“Tiap kecamatan diberi satu unit gerobak angkringan. Lengkap dengan "uborampe" yang dibutuhkan. Ini ikhtiyar kita mewujudkan visi besar Nahdlatul Ulama dan Ansor untuk meningkatkan kemandirian dan perekonomian kader,” terang Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang M. Hanies Cholil Barro.

Selain sebagai upaya untuk mewujudkan kemandirian perekonomian organisasi dan kader, ternyata program ini juga bertujuan supaya masyarakat bisa menjadi lebih dekat dengan Ansor. Termasuk bisa bekerjasama dalam hal yang lainnya.

“Sebelum diluncurkan, operator per-kecamatan mengikuti pelatihan singkat pengelolaan angkringan. Pelatihan tentang pelayanan prima terhadap konsumen pun diberikan,” lanjutnya kemudian.

Selain Standar Operasional Prosedur (SOP) angkringan telah diberikan, Departemen Perekonomian Ansor di level kabupaten juga sudah memberikan pedoman tentang produk yang boleh dan dilarang dijual di angkringan tersebut.

“Untuk mengendalikan mutu dan kelanjutannya, Departemen yang membidangi akan selalu melakukan kontrol per-pekannya. Dengan upaya semacam ini, diharapkan angkringan Ansor bisa berkembang dengan pesat,” tandas pria yang akrab dipanggil dengan Gus Hanis ini.

Wakil Ketua Bidang Perekonomian Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang, Nadhief Shidqi, menambahkan, operator angkringan di tiap kecamatan terhubung secara online dengan Departemen Perekonomian. Setiap kasus, termasuk ide-ide inspiratif akan didiskusikan tiap harinya melalui layanan grup whatsapp. Dengan demikian, harapannya, setiap persoalan dan ide segar akan secara cepat diatasi serta SOP pun dapat dipantau penerapannya secara tepat.

Sumber: mataairradio.com
Read More