Tampilkan postingan dengan label Gus Mus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gus Mus. Tampilkan semua postingan

Gus Mus: Jangan Seret Agama ke Politik Praktis dan Perebutan Kekuasaan


rumahnahdliyyin.com | Jombang - KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), dalam acara Haul ke-3 KH. Aziz Manshur di Pesantren Pacul Gowang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin kemarin (6/11), meminta supaya politikus tidak menyeret agama untuk kepentingan politik praktis dan perebutan kekuasaan saja. Sebab, hal itu dapat merugikan agama Islam sendiri, apalagi digambarkan sebagai pembuat kerusuhan dan haus kekuasaan.

Sekarang banyak politikus yang menarik-narik agama ke politik. Alloh dibawa-bawa ke ranah kampanye. Suriah dulu rusak karena agama digunakan untuk kepentingan politik.

Baca Juga: Gus Mus: Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

"Dalil tidak digunakan pada tempatnya. Bisa-bisanya surat Al-Maidah ditarik ke politik. Perkara lima tahun sekali, kok dibelain sampai kayak mau kiamat. Padahal lima tahun lagi akan ada pemilihan baru," katanya.

Gus Mus juga menyoroti banyaknya politikus yang menggunakan dalil-dalil Al-Qur'an untuk menjatuhkan lawan politik. Ayat suci tersebut digunakan untuk membenarkan tindakannya. Terkesan memaksakan dalil. Bahkan karena saking fanatiknya pada pilihan politiknya, sampai-sampai merusak persaudaraan. Kakak dan adik tidak lagi akur. Sama tetangga tidak berteguran karena beda pilihan.

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

"Jadi saya tidak terlalu percaya kalau politikus suka dalil-dalil, kepentingan sesaat. Bahayanya kalau seandainya dalil lima tahun lalu berbeda dengan tahun sekarang. Karena keadaan politik, padahal jejak digital itu kejam. Malah kelihatan tidak konsisten, dulu mengharamkan tapi sekarang membolehkan," ujar Gus Mus.

Gus Mus pun mengaku heran dengan kelompok Islam gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits. Kelompok ini merasa paling benar dan teriak ke sana ke mari merasa paling gagah. Mereka berdemo-demo seolah paling benar. Ia berpendapat gerakan ini subur juga karena sekarang orang waras banyak yang mengalah. Ini harus dibalik sekarang, orang waras harus bicara.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

"Kok ya ada gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Al-Hadits tapi Al-Qur'an yang dimaksud adalah Qur'an terjemahan Departemen Agama (Depag). Padahal bahasa Indonesia itu tidak bisa sempurna memaknai bahasa Al-Qur'an. Karena keterbatasan kosa kata. Bersyukurlah santri yang masih belajar di pesantren," beber Gus Mus.

Oleh karenanya, Gus Mus usul untuk melawan gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits dengan ngaji kepada para ahli di pesantren. Ditambah lagi dengan memperbanyak kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena kalau tidak begitu, orang yang tidak paham agama secara mendalam, akan berfatwa terus.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

"Maulid nabi dan Haul kalau bisa setiap malam, biar tidak lali (lupa) sama kebaikan nabi dan kiai. Biar tidak ada lagi istilah nabi dawuh ngulon (barat), orangnya malah ngetan (timur). Sudah salah, ditambahi takbir lagi. Kembali ke Al-Qur'an itu ya ngaji, kembali ke pesantren," tandas Gus Mus.[]



Source: NU Online
Read More

Gus Mus - Muhasabah


rumahnahdliyyin.com - Dalam kehidupan kita yang sibuk, yang bising, yang kadang-kadang gaduh ini, rasanya perlu kita sesekali "nyepi", menyendiri dengan diri kita sendiri. Untuk apa? Agar kita dapat melakukan perenungan. Melakukan refleksi diri, muhasabah.

Inilah video tausiyah pendek KH. A. Mustofa Bisri tentang Muhasabah. Selamat menyimak dan menikmati video selengkapnya...


Simak video tausiyah ataupun ngaji KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang lainnya di Gus Mus Channel. Jangan lupa di subsribe, ya...![]



(Redaksi RN)
Read More

Gus Mus Tekankan Niat Dalam Launching Santriversitas


rumahnahdliyyin.com, Rembang – Lembaga Bimbingan Belajar untuk para santri yang ingin melanjutkan studi pada jenjang pendidikan tinggi, Santriversitas, diluncurkan secara Nasional pada Selasa siang kemarin, 3 April 2018, di Aula Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang. Yayasan MataAir Indonesia dan Gerakan Pemuda Ansor pun tampak mendukung acara Launching Nasional Santriversitas tahun 2018 itu.

Terpantau hadir dalam acara tersebut yaitu Ketua Umum Santriversitas (Chumaedi), Ketua Yayasan MataAir Indonesia (Achmad Solechan) dan Koordinator Wilayah Jawa Tengah Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (Mujiburrachman).

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Selain itu, tampak hadir pula para tamu undangan. Diantaranya yaitu Bupati Rembang (Abdul Hafidz), Kapolres Rembang (AKBP. Pungky Bhuana Santoso) dan kiai Chatib Mabrur (pengasuh Pondok Pesantren Al-Abidin, Pondok Pesantren yang menjadi tempat pelaksanaan Santriversitas di Rembang).

Launching ini ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Yayasan MataAir Indonesia yang kemudian diserahkannya kepada KH. Ahmad Mustofa Bisri yang selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan MataAir Indonesia.

Baca Juga: Gus Mus: Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

Tahun ini, Santriversitas hadir di 13 kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang meliputi Rembang, Demak, Cirebon, Sleman, Bantul, Magelang, Depok, Serang, Ambon, Jakarta Barat, Blora, Semarang dan Malang.

“Santriversitas ini untuk mengantarkan santri supaya bisa mendapatkan hak belajar ke jenjang yang lebih tinggi, universitas,” kata Ketua Umum Santriversitas, Chumaedi, sebagaimana dilansir pada laman radio lokal di Rembang, mataairradio.com

Di Rembang sendiri, Santriversitas akan digelar mulai 15 April hingga 5 Mei mendatang.

Baca Juga: Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Sementara itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri, yang akrab disapa dengan Gus Mus, ketika memberikan taushiyyah selepas acara potong tumpeng, meminta kepada para pemangku di Santriversitas agar menanamkan niat secara benar.

“Saya minta pertama kali, yang harus Anda tanamkan adalah niat. Niat ini yang akan membimbing kita,” pesan Gus Mus.

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Menurut Gus Mus, dahulu, santri zaman old, ketika berangkat ke pesantren itu niatnya sederhana, yakni menghilangkan kebodohan. Padahal, kebodohan itu tidak bisa hilang. Karena itu, harapannya, santri di Santriversitas meniatkan yang sama.

“Semakin pandai, Anda merasa bodoh. Anda boleh tidak sekolah, tapi tidak boleh berhenti belajar. Banyak yang berhenti belajar karena merasa pandai,” tutur Gus Mus kemudian.

Baca Juga: Gus Mus: Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Gus Mus juga mengingatkan bahwa apabila yang diniatkan hanya duniawi, maka mungkin dunia didapat. Tetapi urusan akhirat, bisa keteteran.

“Orang Islam sekarang, karena niatnya salah, kalau bicara soal masa depan, selalu berhenti pada usia tua. Padahal menurut Islam, masa depan itu adalah hari akhir,” tutur Gus Mus kemudian.[]
(Redaksi RN)
Read More

Gus Mus: Meski Medsos Bikin Orang Gila, Jangan Ikut Gila


rumahnahdliyyin.com, Malang - KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih akrab disapa dengan Gus Mus, meminta negara supaya tegas dalam menindak mereka yang melanggar hukum. Tidak peduli siapapun, pihak yang melakukan perbuatan melawan hukum, harus ditindak.

Permintaan yang disampaikan oleh kiai yang juga budayawan asli Rembang itu, terkait dengan terungkapnya kelompok Muslim Cyber Army (MCA) yang melakukan aktivitas menyebarkan ujaran kebencian, hoaks serta diskriminasi SARA beberapa waktu yang lalu.

"Negara harus tegas. Harus tegas. Ada pelanggaran, harus ditindak. Siapapun yang melakukannya. Ini kan negara hukum," tegas Gus Mus, selepas acara dialog kebangsaan yang bertema "Merajut Kebersamaan dalam Kebhinekaan" di Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), Selasa, 13 Maret 2018.

Baca Juga:
Berbagi Tugas Menjaga Indonesia
Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu, juga menambahkan bahwa sekali pelanggaran hukum tidak ditindak tegas, proses hukum akan tidak dihargai lagi.

"Semua yang melanggar hukum, harus ditindak. Jangan dikasih tolerir. Kalau melanggar hukum ditolerir, akhirnya kasus hukum tidak dihargai," tekannya.

Peraih penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2017 itu enggan menduga-duga siapa dalang yang berada dibalik kelompok penyebar hoaks tersebut.

"Nah, silakan menebak-nebak. Ini kan negara teka-teki," katanya sembari tertawa.

Baca Juga:
Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya
Toilet Sebagai Jalan Keluar

Namun, ia meminta semua pihak agar tidak kehilangan akal sehatnya ditengah merebaknya kabar hoaks di media sosial akhir-akhir ini.

"Umat jangan sampai kehilangan akal sehat paringane (pemberiannya) Gusti Allah. Meskipun media sosial itu membikin orang gila, jangan ikut gila," tuturnya.

Ia pun meminta supaya kebhinekaan yang sudah berlangsung di Indonesia selama ini supaya tetap dijaga.

"Ya, harus menyadari lah, kalau Indonesia rumah kita semua. Harus kita jaga bersama-sama," pintanya.[]




(Redaksi RN)


* Sumber: kompas.com
Read More

Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina


rumahnahdliyyin.com - Pada 1982, di tengah gelanggang politik Indonesia yang dicengkeram rezim Orde Baru, Gus Dur—Abdurrahman Wahid—membuat manuver untuk perdamaian internasional. Ketika itu, Gus Dur mendapat amanah sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Gus Dur bersama beberapa seniman, merancang beberapa program untuk kesenian dan sastra, untuk menguatkan kebudayaan.

Sebagai Ketua DKJ, Gus Dur mendapat banyak kritik. Terlebih lagi, ketika itu Gus Dur juga menjadi pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Langkah Gus Dur, sebagai pemimpin kaum seniman, ditentang para kiai. Argumentasi kritik yang mengalir, “Ketua Nahdlatul Ulama kok ndalang?”

Kritik ini bukan tanpa sebab. Sebagian besar kiai belum akrab dengan seniman dan sastrawan. Hanya sedikit kiai memahami alur pemikiran Gus Dur. Hanya sedikit pula, kiai-kiai yang srawung dengan seniman.

Di tengah hujan kritik, Gus Dur terus melaju. Ia bersama beberapa sastrawan, mencetuskan ide untuk menyelenggarakan Malam Perdamaian untuk Palestina. Sastrawan-sastrawan Ibu Kota tampil turut berpartisipasi, antara lain Sutardji Calzoum Bahri, Subagyo Sastrowardoyo, dan beberapa penyair lain.

Ketika itu, Gus Dur, mengundang sahabatnya, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) membaca puisi bersanding dengan beberapa penyair. Sontak saja, Gus Mus bingung sekaligus kaget. Ia belum pernah sekalipun tampil sebagai penyair, apalagi bersamaan dengan beberapa sastrawan yang telah dikenal publik.

Oleh Gus Dur, Gus Mus diminta membaca puisi-puisi karya sastrawan Palestina. Inilah momentum yang menjadikan Gus Mus sebagai sastrawan, sebagai budayawan.

Ketika silaturahmi ke ndalem Gus Mus, saya beberapa kali mendapatkan kisah-kisah itu dalam perbicangan di hadapan beberapa tamu. Juga, kisah-kisah menarik tentang persahabatan beliau dengan Gus Dur serta pandangannya terhadap isu Israel-Palestina.

Singkat cerita, peristiwa pada 1982 itu yang mempromosikan Gus Mus menjadi ‘penyair’.

Setelah 35 tahun berlalu, Gus Mus mengulang kembali jejak Gus Dur dengan menggelar malam puisi Doa untuk Palestina, pada akhir Agustus 2017.
Agenda yang diinisiasi Gus Mus ini dihadiri beberapa sastrawan dan cendekiawan Tanah Air, seperti Joko Pinurbo, Acep Zamzam Noor, Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Jamal D Rahman, Butet Kertaredjasa, Prof Dr Mahfud MD, dan Ulil Abshar Abdalla. Tampil juga Prof Quraish Shibah dan putrinya, Najwa Shihab.

Pada agenda ini, Gus Mus membacakan puisi "Orang Palestina, Begitulah Namaku", anggitan Harun Hashim al-Rashid. Gus Mus berdampingan dengan Slamet Rahardjo Djarot, yang membacakan puisi itu secara bilingual—Arab dan Indonesia.

Jalan cinta ditempuh Gus Mus untuk menyuarakan diplomasi perdamaian dalam konflik Israel-Palestina. Gus Mus, selama ini dikenal sebagai tokoh Muslim Indonesia yang menyuarakan moderatisme Islam dan perdamaian. Dalam beberapa kesempatan, Gus Mus berkunjung ke negara-negara Eropa dan Amerika untuk mengkampanyekan pentingnya agama yang ramah dan toleran.

Kisah-kisah Islam di Indonesia dan nilai-nilai agama yang diwariskan oleh ulama, menjadi pesan perdamaian yang dibawakan Gus Mus. Diplomasi damai inilah yang selama ini dipraktikkan oleh Gus Mus dan Gus Dur.

Konflik kebencian

Manuver-manuver Gus Dur sering disalahpahami oleh publik di negeri ini. Strategi diplomasi Gus Dur dalam isu perdamaian Israel-Palestina sering dianggap sebagai lelucon.

Langkah Gus Dur yang bersahabat dengan tokoh-tokoh Israel menuai gelombang kritik. Terlebih lagi, Gus Dur juga pernah menjadi anggota The Peres Center for Peace and Innovation, yayasan perdamaian yang didirikan mantan Presiden Israel Simon Peres.

Gus Dur juga berkawan dengan tokoh-tokoh politik dan agama di Israel. Ia bersahabat dengan Presiden Yitzak Rabin. Pada 1994, Gus Dur diundang Rabin untuk melihat prosesi penandatanganan nota perdamaian Israel-Yordania. Gus Dur juga melakukan dialog dengan beberapa pemimpin agama di Israel, untuk mengupayakan perdamaian.

Ketika menjadi presiden, pernyataan perdana yang disampaikan Gus Dur dalam konteks politik luar negeri adalah membuka hubungan dagang dengan Israel. Pernyataan Gus Dur ini disampaikan pada agenda ‘Indonesia Next’ di Jimbaran, Bali, pada Oktober 1999.

Langkah tersebut membuat publik terhenyak, apalagi Gus Dur juga melihat bahwa China dan India perlu dijadikan partner ekonomi dan politik Indonesia, sebagai negara Asia yang berkembang pesat.

Lalu, mengapa harus Israel? Strategi politik ini, menurut Gus Dur berdampak signifikan bagi diplomasi politik Indonesia, baik dalam ranah regional maupun internasional.

Gus Dur berupaya membenamkan musuh-musuh imajiner bangsa Indonesia, tentang profil Israel yang selama ini dicitrakan demikian negatif di ruang publik.

“Gus Dur percaya untuk menjadikan Indonesia dapat memperoleh kematangan sebagai suatu bangsa, ia harus berani menghadapi musuh-musuh imajiner itu dan mengganti kecurigaan dengan persahabatan dan dialog,” tulis Greg Barton dalam Biografi Gus Dur yang dilansir pada 2003.

Langkah-langkah Gus Dur sering disalahpahami. Gus Dur tidak semata melobi Israel, tetapi juga merangkul Palestina. Ia bersahabat pula dengan pemimpin dan tokoh Palestina.

Ada sebuah kisah tentang Gus Dur yang sangat perhatian dengan Palestina. Pada awal 1990-an, Gus Dur sering menyuruh keponakannya, Muhaimin Iskandar, untuk membayar rekening listrik Kedubes Palestina.

Ketika itu, Gus Dur menjadi Ketua Umum Nahdlatul Ulama serta malang melintang sebagai cendekiawan, aktivis, dan pejuang isu-isu hak asasi manusia (HAM). Muhaimin masih nyantrik kepada Gus Dur, sebagai sekretaris pribadi.

Pada saat itu, Palestina juga belum diakui dunia internasional sebagai negara yang merdeka. Gus Dur memikirkan diplomasi Palestina di tingkat internasional, sekaligus memikirkan hal teknis untuk menopang kedaulatannya. Gus Dur tidak menginginkan perang berlarut-larut antara Israel dan Palestina.

Langkah-langkah Gus Dur sering tidak dipahami oleh orang-orang yang selama ini berteriak kencang terkait isu Israel-Palestina. Gus Dur tidak setuju dengan strategi mengirimkan relawan ke Palestina, karena tidak akan menyelesaikan masalah.

Justru, menurut Gus Dur, diplomasi dan dukungan konkret di bidang politik dan kebudayaan akan lebih berdampak signifikan.

Langkah Gus Dur melakukan manuver-manuver politik untuk diplomasi perdamaian perlu dibaca dalam bingkai yang utuh. Dukungan Gus Dur terhadap Palestina dengan jalan sastra dan politik perlu menjadi pelajaran penting.

Langkah tersebut diteruskan Gus Mus untuk mengupayakan perdamaian Israel-Palestina, melalui media cinta yang berdentum universal, yaitu puisi. Saat ini, kita menunggu diplomasi cinta untuk perdamaian di negeri-negeri Timur Tengah dan dunia internasional.

Indonesia memiliki peluang dalam ruang diplomasi perdamaian ini, melalui jalur cinta, jalan kemanusiaan.


* Oleh: Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN PBNU, penulis buku "Merawat Kebinekaan."
Read More

Gus Mus - Dakwah


rumahnahdliyyin.com - Da'wah itu mengajak. Bukan menyuruh, memerintah, apalagi memaksa. Demikianlah kira-kira arti da'wah yang disampaikan oleh KH. A. Mustofa Bisri atau yang lebih akrab ditelinga dengan sapaan Gus Mus dalam video ini.

Supaya bisa mengetahui secara utuh apa itu arti dan makna da'wah, simaklah video yang disampaikan oleh pengasuh pondok pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, ini.
Read More

Gus Mus - Dzikir


KH. A. Musthofa Bisri atau Gus Mus tentang Dzikir. Silakan tonton videonya

Read More

Gus Mus - Ujian


Tentang Ujian oleh KH. A. Musthofa Bisri atau Gus Mus. Tonton selengkapnya video berikut ini:

Read More