Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Manuskrip Samson; Al-Qur'an Raksasa Tiba di Manokwari


rumahnahdliyyin.com, Manokwari - Manuskrip Samson adalah manuskrip yang terbuat bukan dari kertas Eropa ataupun dluwang (koba-koba, dok-dok) melainkan dari kertas modern. Kertas ini biasanya dijual di pasaran dan dikenal sebagai kertas semen (zaq). Bahannya yang kuat, memang cukup bagus untuk medium penulisan naskah.

Rabu (18/11) malam, KM. Gunung Dempo  sandar di Pelabuhan Manokwari (Port of Manokwari), Papua Barat. Ini adalah momen bersejarah, sebab kapal itu juga mengangkut Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa. Dikatakan raksasa, sebab ukurannya meliputi panjang 1,5 meter, lebar 1 meter dan tebal 10 centimeter.


Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua untuk Nahdliyyin di Jawa


Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa ini awalnya milik seorang Jenderal Bintang Satu matra Angkatan Udara di Jakarta. Karena ingin agar manuskrip ini bermanfaat, akhirnya disumbangkan untuk dirawat. Namun karena kurang perhatian, akhirnya manuskrip itu didatangkan ke Papua Barat.

Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa itu memiliki penutup (cover) terbuat dari sejenis kulit binatang yang disambung-sambung. Pada bagian awal naskah alias halaman pertama adalah Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Baqoroh dengan ilustrasi warna-warni. Sosok tokoh pewayangan tampak menghiasi.

Oleh sebab itu, Dr. R.A. Muhammad Jumaan, pendiri Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi (Centre of the Study of the Islamic Manuscripts and Philology) Manokwari menyebutnya dengan nama Codex Gigas alias Qur'an Wayang. Sebab, ukuran manuskrip ini sangat besar dan terdapat lukisan sosok pewayangan di dalamnya.


Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok di Enarotali


Di bagian tengah halaman, tampak juga ilustrasi yang serupa, hanya berbeda surah. Sayangnya, pada bagian awal dan akhir tidak tercantum kolofon sehingga saat ini belum dapat diketahui siapa, kapan, dimana dan untuk tujuan apa Manuskrip Samson ini dibuat.

Namun, dari jenis tinta yang dipergunakan, yaitu tinta emas, agaknya bisa dipastikan bahwa itu adalah berasal dari spidol. Begitu juga warna-warni yang menyusun ilustrasinya. Tidak ada ilustrasi lainnya, selain yang disebutkan tadi.


Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Asmat Butuh Pembina Agama


Pembina Nasional Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAA-I), Dr. R.A. Muhammad Jumaan, yang merupakan pemilik dan pemelihara naskah itu, langsung mengambilnya di Pelabuhan Manokwari. Perlu dua orang TKBM untuk menurunkannya dari kapal ke mobil. Meski beratnya hanya sekitar 42 kg. saja, namun mengingat volumetrik yang besar, cukup sulit untuk membawanya.

"Manuskrip samson Al-Qur'an Raksasa ini merupakan suatu karya yang patut diberikan apresiasi. Kegigihan penulisnya dalam menyelesaikan penulisan 30 juz tentu memerlukan waktu yang tidak sebentar dengan iringan peristiwa yang variatif: ada suka dan duka. Menulis di atas medium yang besar juga memerlukan energi dan kenyamanan tersendiri. Bila diperkirakan ditulis dalam waktu 100 hari, maka biaya yang dikeluarkan juga tentu tidak sedikit," jelas Dr. R.A. Muhammad Jumaan kepada kontributor rumahnahdliyyin.com lewat pesan di WA.


Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifa'i


Manuskrip Samson itu memiliki fungsi sebagai obyek penelitian yang penting. Sebab, di Papua ini ditengarai banyak terdapat manuskrip sejenis. Apakah penulis dan asal lokasi pembuatan manuskrip itu sama? Hanya penelitian Filologi dan Kodikologi yang dapat menjawabnya! []

(Redaksi RN)

Read More

Mengintip Masjid Peninggalan Paku Buwono X di Boyolali


rumahnahdliyyin.com, Boyolali - Pada umumnya, masjid di Indonesia selalu dinamai dengan mengambil kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Namun, tidak demikian halnya dengan salah satu masjid yang berada di Boyolali. Masjid yang terletak di kompleks wisata religi Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, itu, dinamai dengan mengambil kata-kata dari bahasa Jawa. Yaitu bernama Masjid Cipto Mulyo.

Unik, bukan? Masjid Cipto Mulyo ini ternyata merupakan salah satu masjid tertua di Boyolali. Ia dibangun oleh Raja Keraton Surakarta, yaitu Paku Buwono X, pada hari Selasa Pon, 14 Jumadil Akhir 1838 Je atau 1905 M. Kalau dihitung sampai sekarang (tahun 2019), masjid ini kurang lebih sudah berusia 114 tahun. Dan ada pendapat yang mengatakan bahwa kata "Cipto Mulyo" digunakan oleh Raja sebagai nama masjid, dengan harapan supaya hidup kita menjadi mulia, sejahtera lahir dan batin, baik di dunia dan akhirat.

Baca Juga: Masjid Jawa di Thailand

Selain namanya yang unik, bentuk bangunan masjid ini juga tergolong berbeda dari masjid kebanyakan. Masjid Cipto Mulyo ini menampilkan desain Jawa kuno. Ornamen-ornamen ukiran terpasang di ventilasi pintu.

Sejak dibangun ratusan tahun lalu, masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Namun, bentuk masjid masih dipertahankan seperti saat awal dibangun dulunya. Bahkan, konstruksi kayu dan bangunan juga belum berubah. Tiang dan usuk dari kayu jati masih yang aslinya. Dindingnya pun masih aslinya. Hanya saja, saat ini sebagian telah dilapisi dengan marmer.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Sejumlah benda-benda masjid pun masih asli sejak zaman dulu, seperti bedug dan kentongan. Bahkan, bedug berukuran besar itu dibuat dari kayu utuh. Di kentongan itu juga terdapat tulisan PB X.

Di serambi depan, tepatnya di atas tangga masuk, juga masih terpasang prasasti dari kayu dengan tulisan huruf Jawa yang menjelaskan tentang waktu didirikannya Masjid Cipto Mulyo ini. Kemudian kubah masjid yang memiliki arah angin juga masih dipertahankan.

Baca Juga: Mengintip Masjid Tertua di Sidoarjo

Selain termasuk sebagai masjid yang bersejarah dan merupakan jejak peninggalan penyebaran Islam di wilayah Pengging, di belakang masjid ini juga terdapat kompleks makam salah satu pujangga Keraton Surakarta, yaitu Yosodipuro.[]




Sumber: detik.com
Read More

Mengintip Masjid Tertua di Sidoarjo


rumahnahdliyyin.com, Sidoarjo - Masjid Al-Abror terletak di Dusun Kauman, Kelurahan Pekauman, Kecamatan Kota Sidoarjo. Tepatnya yakni berada di samping selatan sebuah mal, Jalan Gajah Mada, Sidoarjo, Jawa Timur. Karena berada di kawasan pusat perbelanjaan inilah masjid tersebut tidak terlalu nampak. Namun, siapa sangka Masjid Al-Abror merupakan cikal bakal pusat penyebaran Islam di Sidoarjo serta berdirinya Kabupaten Sidoarjo?

Masjid Al-Abror merupakan salah satu saksi bisu berdirinya Sidoarjo serta siar Islam di Kota Delta itu. Sekilas, orang tidak akan menyangka bila bangunan dua lantai yang berdiri kokoh dengan dominasi warna hijau dan kuning tersebut merupakan masjid tertua di Sidoarjo.

Baca Juga: Masjid Jawa di Thailand

Masjid Al-Abror dibangun pada tahun 1678 M. Mereka yang membangun adalah Mbah Moelyadi yang dibantu oleh Mbah Badriyah, Mbah Muso dan Mbah Sayid Salim. Keempat orang tersebut bukanlah penduduk asli Kauman. Mbah Moelyadi berasal dari Mataram, yang karena ada pemberontakan Trunojoyo, lantas ia pergi ke Kauman. Mbah Sayid Salim berasal dari Cirebon. Sedangkan Mbah Badriyah dan Mbah Muso keduanya berasal dari Madura. Keempatnya, makamnya pun berada di lokasi masjid ini.

Hingga kini, Masjid Al-Abror sudah direnovasi tiga kali. Dua bagian bangunan asli yang merupakan peninggalan pada tahun 1678 M., masih bisa disaksikan hingga sekarang, yaitu pintu masuk sisi utara masjid dan tempat pemakaman Mbah Moelyadi yang berada di depan tempat imam. Dan di sebelah makam Mbah Moelyadi, ada makam ketiga tokoh lainnya itu.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali Papua

Masjid Al-Abror dibangun berdekatan dengan Sungai Jetis yang merupakan jalur transportasi utama kala itu. Pada tahun 1859 H. dilakukan pemugaran oleh bupati pertama Bupati Sidokare (nama Sidoarjo waktu itu), yaitu R. Notopuro.

Ketika pemugaran itu, bangunan yang tidak direnovasi hanya pintu gerbang di sisi utara masjid yang dicat putih. Juga petunjuk waktu pertanda sholat dengan sinar matahari yang berada di depan masjid.

Adapun renovasi yang terakhir yaitu pada tahun 2007 oleh Bupati Wein Hendarso. Semua bangunan pun diubah hingga seperti yang terlihat saat ini.[]




Sumber: detik.com
Read More

Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia


rumahnahdliyyin.com | Paniai - PHBI Kabupaten Paniai, Papua, pada Sabtu, 1 Desember 2018, menghadirkan ustadz. Drs. Umar Bauw Al-Bintuni sebagai penceramah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 H. Acara yang bertempat di Masjid Al-Mubarok Enarotali itu berlangsung lancar.

Dalam ceramahnya, dai kelahiran Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, itu mengajak umat Islam untuk mencintai Nabi Muhammad SAW. sekaligus meneladani akhlaq beliau dalam kehidupan sehari-hari.

"Hablum-minalloh dan yang paling utama ini adalah hablum-minannas, hubungan baik kepada sesama manusia. Apalagi kita hidup di tengah-tengah umat Nasrani yang beraneka ragam. Kita harus mengetahui hak-hak bertetangga dengan umat non-muslim yang diajarkan oleh Nabi kita. Jangan sampai perbedaan ini menjadikan perpecahan. Namun bersatu merajut persaudaraan, bergandengan untuk kehidupan yang harmonis," ujar Kasi Pendidikan Agama Islam Kanwil Kemenag Papua itu.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Selain itu, ia juga sedikit mengulas sejarah masuknya agama Islam di Papua. Dituturkannya bahwa pada tahun 1213 M., agama Islam sudah ada di Teluk Bintuni Fakfak dan menjadi agama mayoritas masyarakat asli setempat. Namun ketika ada umat Nasrani datang yang ingin menyebarkan agama Nasrani, pun tidak ditolak. Pada waktu itu, raja setempat malah mengantarkan dan menunjukkan ke sebuah pulau yang namanya Pulau Mansinam (sekarang Manokwari, red.) yang mana masyarakat di sana sama sekali belum mengenal agama dan masih menganut agama nenek moyang dan ateisme.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan

Selanjutnya, dai asli Papua itu kemudian memaparkan contoh kerukunan yang ada di Teluk Bintuni. Di sana ada Masjid Pattimburak yang arsiteknya merupakan perpaduan antara gereja dan masjid. Masjid tersebut dulunya dibangun bersama umat Nasrani dan Katolik. Dan di sebelah Masjid tersebut juga dijadikan sebagai tempat ibadah orang Nasrani dan Katolik. Di sana hidup rukun berdampingan dan saling membantu satu dengan lainnya, sebagaimana dalam kehidupan sehari hari masyarakat di sana. Apabila dari umat Islam memerlukan pertolongan, umat Nasrani pun tidak enggan untuk membantu.

Kalau sudah seperti itu, lanjutnya lagi, tidak ada agama Islam atau Nasrani. Yang ada adalah manusia dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, di sana ada istilah “Satu Tungku Tiga Batu” sebagai gambaran bahwa meskipun kita berbeda agama namun kita harus bersama-sama bergandengan tangan dan tidak bermusuhan.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Pada acara tersebut, Bupati Paniai terpilih pun, bapak Mekky Nawipa, tampak hadir dan memberikan sambutannya. Walaupun ia seorang Nasrani, ia tetap menghargai peringatan hari-hari suci umat Islam dan mengapresiasi acara peringatan Maulid Nabi itu.

"Kita semua adalah makhluk Tuhan dan kita ketahui bahwa kita hidup dan lahir di Indonesia. Dan saya yakin semua agama mengajarkan untuk saling menghormati, mengasihi antar umat satu dengan yang lainnya. Mari bersama-sama menjaga kerukunan dan membangun Papua menjadi maju, harmonis dan tidak ada perpecahan," ajak bapak Bupati.[]
(M. Taha)
Read More

KH. Raden Asnawi; Ulama' yang Keras Terhadap Penjajah


rumahnahdliyyin.com - Seperti sudah menjadi hal yang wajar pada masa dulu, biasanya seseorang akan mengganti namanya sepulangnya dari berhaji. Begitu pula KH. Raden Asnawi. Sebelum bernama Asnawi, kiai kelahiran Kudus, pada tahun 1861 ini, bernama Ilyas.

Pergantian nama Ilyas ini terjadi setelah kepulangannya dari berhaji untuk kali yang pertama. Sebelumnya lagi, atau sebelum nama Ilyas, namanya ialah Ahmad Syamsi, yaitu nama lahirnya hingga ia berusia sekitar 25 tahun. Sedangkan nama Asnawi sebagaimana yang kita kenal sekarang, terjadi setelah kepulangannya dari tanah suci untuk yang ketiga kalinya.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Sejak usia dini, KHR. Asnawi kecil sudah diperkenalkan huruf-huruf Arab dan diajari Al-Qur'an oleh orang tuanya sendiri, yaitu H. Abdullah Husnin. Hal ini selain karena di daerahnya tinggal, yaitu Damaran, ada semacam pandangan bahwa orang Islam yang sempurna itu bisa dilihat dari kemahirannya membaca Al-Qur'an, juga karena H. Abdullah Husnin menginginkan anaknya pandai dalam bidang agama.

Selain ingin anaknya pandai dalam agama, H. Abdullah Husnin juga menginginkan supaya anaknya kelak pun piawai dalam berdagang. Karena itu, sekitar tahun 1876, orang tuanya memboyong Syamsi atau kiai Asnawi kecil ke Tulung Agung, Jawa Timur. Di sinilah kiai Asnawi diajari berdagang oleh ayahnya mulai pagi hingga siang. Dan waktu sisanya, kiai Asnawi mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulung Agung.

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Selain di Tulung Agung, kiai Asnawi juga belajar di Mekah. Ada cerita menarik ketika kiai Asnawi di Mekah. Ia pernah berdebat dengan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, mufti Mekah, lewat tulisan. Berkaitan dengan hal ini, Sayyid Husain Bek, seorang mufti dari Mesir, datang ke Mekah ingin bertemu dan berkenalan dengan kiai Asnawi.

Ketika Sayyid Husain Bek memasuki kediaman kiai Asnawi, ia melihat ada lelaki kecil yang sebelumnya tidak disangkanya kalau lelaki kecil itu adalah kiai Asnawi yang mana pendapatnya ia kagumi. Namun begitu diketahui kalau lelaki itu adalah kiai Asnawi, Sayyid Husain Bek pun memberikan salam dan mencium kepalanya.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Kiai Asnawi termasuk salah satu kiai yang ikut mendirikan jam'iyyah NU (Nahdlatul 'Ulama). Bersama KH. Wahab Chasbullah, Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari dan kiai-kiai lainnya, kiai Asnawi ikut dalam pertemuan di Surabaya pada tahun 1926. Sebagai ulama' senior waktu itu, beliau diangkat menjadi salah seorang Mustasyar NU.

Kiai Asnawi tergolong kiai yang keras terhadap penjajah. Sebagai contohnya, madrasah yang didirikannya (Qudsiyyah) waktu itu tetap memakai istilah "madrasah" kendati hal tersebut dilarang oleh pemerintah kolonial. Padahal, pemerintah mengharuskan harus memakai nama "school". Penolakan kiai Asnawi terhadap istilah "school" merupakan salah satu sikap pembangkangan terhadap penjajah.

Baca Juga: Perempuan Pengarang Kitab Kuning dari Banjar

Contoh lainnya lagi, kiai Asnawi marah besar bila melihat ada orang pribumi (Indonesia) yang memakai dasi. Sebab, hal itu menyerupai dengan penjajah kolonial Belanda.

Untuk contoh yang terakhir ini, ada cerita menarik yang ditulis oleh bapak Menteri Agama kita saat ini, yaitu bapak Lukman Hakim Saifuddin, dalam pengantar sebuah buku yang berjudul KHR. Asnawi; Satu Abad Qudsiyyah, Jejak Kiprah Santri Menara.

Begini kira-kira tulisan pak Menteri; pada tahun 1953, ketika kiai Asnawi berkunjung ke rumah KH. Saifuddin Zuhri di Semarang, kiai Saifuddin gugup dan minta maaf lantaran ia memakai dasi. Sebab, kiai Saifuddin ingat betul bahwa kiai Asnawi pernah marah sambil menarik dasi yang dikenakan oleh seorang pimpinan Ansor dalam sebuah Konbes Ansor. Mendengar kiai Saifuddin minta maaf, kiai Asnawi justru menenangkannya dengan berkata: "Lain dulu, lain sekarang. Dulu saya mengharamkan dasi karena ada 'illat (sebab hukum), yaitu tasyabbuh (menyerupai) Belanda, orang kafir. Sekarag memakai dasi tidak haram lagi karena tidak tasyabbuh dengan Belanda. Tetapi menyerupai Bung Karno dan Abdul Wahid Hasyim."

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Selain meninggalkan warisan berupa Madrasah Qudsiyyah, KHR. Asnawi yang ibundanya bernama Raden Sarbinah ini juga meninggalkan beberapa karya tulis. Diantara karya tulis kiai Asnawi yang masyhur yaitu Fasholatan dan Jawab Soalipun Mu'taqod.

Kiai Asnawi wafat pada 26 Desember 1959 M. atau yang bertepatan dengan 25 Jumadil Akhir 1379 H., sekitar pukul tiga fajar. Sampai kini, makamnya yang terletak di sebidang tanah yang masih satu kompleks dengan makam Sunan Kudus pun masih ramai diziarahi.[]



* Oleh: Agus SB, Khodim Madrasah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Sejarah Panyematan Gelar Haji


rumahnahdliyyin.com - Gelar "haji", konon hanya dipakai oleh bangsa Melayu. Tidak ada dalil yang mengharuskan jika setelah menunaikan ibadah haji harus diberi gelar haji atau hajjah. Bahkan, sahabat Rasulullah SAW. pun tidak ada yang dipanggil "haji".

Sejarah pemberian gelar "haji" dimulai pada tahun 654 H. Yakni pada saat kalangan tertentu di kota Makkah bertikai dan pertikaian ini menimbulkan kekacauan dan fitnah yang mengganggu keamanan kota Makkah.

Baca Juga: Antara Ibadah di Indonesia dan di Negara Lain

Karena kondisi yang tidak kondusif tersebut, hubungan kota Makkah dengan dunia luar pun terputus. Ditambah kekacauan yang terjadi, maka pada tahun itu, ibadah haji tidak bisa dilaksanakan sama sekali, bahkan oleh penduduk setempat.

Setahun kemudian, setelah keadaan mulai membaik, ibadah haji dapat dilaksanakan lagi. Tapi, bagi mereka yang berasal dari luar kota Makkah, selain mereka mempersiapkan mental, mereka juga membawa senjata lengkap untuk perlindungan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan perlengkapan ini, para jama'ah haji ibarat mau berangkat ke medan perang.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali Papua

Sekembalinya mereka dari ibadah haji, mereka pun disambut dengan upacara kebesaran bagaikan menyambut pahlawan yang pulang dari medan perang. Dengan kemeriahan sambutan dengan tambur dan seruling, mereka dielu-elukan dengan sebutan “Ya Hajj, Ya Hajj”. Maka, berawal dari sinilah, setiap orang yang pulang haji diberi gelar “Haji”.

Di zaman penjajahan Belanda, pemerintahan Kolonial sangat membatasi gerak-gerik umat muslim dalam berdakwah. Segala sesuatu yang berhubungan dengan penyebaran agama, terlebih dahulu harus mendapat ijin dari pihak pemerintah Belanda. Mereka sangat khawatir aktifitas itu dapat menimbulkan rasa persaudaraan dan persatuan di kalangan rakyat pribumi, lalu menimbulkan pemberontakan.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Masalahnya, banyak tokoh yang kembali ke tanah air sepulang naik haji membawa perubahan. Contohnya adalah Muhammad Darwis yang pergi haji dan ketika pulang mendirikan Muhammadiyah, Hasyim Asy'ari yang pergi haji dan kemudian mendirikan Nadhlatul Ulama, Samanhudi yang pergi haji dan kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam, Cokroaminoto yang juga berhaji dan mendirikan Sarekat Islam.

Hal-hal seperti inilah yang merisaukan pihak Belanda. Maka, salah satu upaya belanda untuk mengawasi dan memantau aktifitas serta gerak-gerik ulama'-ulama' ini adalah dengan mengharuskan penambahan gelar "haji" didepan nama orang yang telah menunaikan ibadah haji yang kembali ke tanah air.

Baca Juga: Politik Jangan Dibawa ke Masjid

Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903. Pemerintahan Kolonial pun mengkhususkan P. Onrust dan P. Khayangan di Kepulauan Seribu sebagai gerbang utama jalur lalu lintas perhajian di Indonesia.

Jadi, demikianlah gelar "haji" pertama kali dibuat oleh pemerintahan Kolonial dengan penambahan gelar huruf “H”, yang berarti orang tersebut telah naik haji ke Makkah. Seperti disinggung sebelumnya, karena banyaknya tokoh yang membawa perubahan sepulang berhaji, maka pemakaian gelar "H" akan memudahkan pemerintah Kolonial untuk mencari orang tersebut apabila terjadi pemberontakan.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Uniknya, pemakaian gelar tersebut sekarang ini malah menjadi kebanggaan. Tak lengkap rasanya apabila sepulang berhaji tak dipanggil "Pak Haji" atau "Bu Hajjah". Ritual ibadah yang berubah makna menjadi prestise? Ironis...

WAllaahu 'alam.
[]



* Oleh: Sholeh Id.
Read More

Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu


rumahnahdliyyin.com - Beberapa bulan sebelum puasa tahun ini, saya menyaksikan sendiri peneliti Jepang mewawancarai Rais Syuriyah PBNU, KH. Ahmad Ishomuddin, di Pojok Gus Dur, lantai dasar PBNU, Jakarta. Dia bertanya tentang tawassul sebagai salah satu praktik warga NU atau Islam Nusantara.

Masya Allah, peneliti yang profesor itu kebingungan bukan main memahaminya. Kalau tidak banyak orang di situ, mungkin dia akan membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Namun, karena sikap semacam itu tak elok dilakukan oleh seorang profesor jenis apa pun, apalagi dari negara maju, dia hanya meringis dan mengernyitkan kening seperti orang yang menahan buang hajat berbulan-bulan.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Berkali-kali dia bertanya sambil mencatat. Bertanya, mencatat. Bekali-kali pula kiai Ishom menjelaskan dengan berbagai tamtsil dan dalil.

Entahlah, waktu itu dia pada akhirnya memahami atau tidak, saya tidak bertanya dan dia tidak memberitahukan pemahaman yang diserapnya. Mudah-mudahan saja dia paham. Kalupun tidak, mudah-mudahan tidak seperti orang Indonesia yang menafsirkan sendiri, menyimpulkan sendiri, lalu menyalahkannya.

Wajar mungkin sang profesor sempoyongan dalam memahami tawassul, karena terbentur dengan cara berpikir yang berlainan. Butuh beberapa waktu untuk memahaminya seperti yang dimaksud dalam pemahaman orang NU sendiri.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Hal itu merupakan Islam Nusantara dalam salah satu praktiknya. Lalu, bagaimana dengan organisasinya, Nahdlatul Ulama?

Sekitar tahun 1971, KH. Saifuddin Zuhri menceritakan dalam salah satu tulisannya tentang KH. Wahab Hasbullah, ada peneliti Amerika Serikat bernama Allan Samson yang meneliti NU selama 6 bulan. Ia mengeluh, ternyata kesimpulannya salah. Ia juga mengeluh ternyata banyak peneliti lain yang salah baca. Namanya salah baca, tentu saja salah juga dalam mengambil kesimpulan, bukan?

Menurut kiai Saifuddin, 6 bulan itu tak seberapa. Ada pemimpin-pemimpin besar Indonesia sendiri yang selama 40 tahun bergaul dengan NU, tapi tetap saja mengambil kesimpulan salah. Mereka sukar memahaminya atau memang tak mau paham.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Jadi, biasa saja orang mengambil kesimpulan salah terhadap NU. Karena memang dari sananya sudah begitu jejaknya. Jika hari ini banyak orang yang mempertanyakan tentang Islam Nusantara dengan cibiran dan menyalahkan, memang gen mereka sudah ada sejak masa lalu. Bibitnya selalu diternak.

Tariklah ke masa yang lebih jauh, pada masa awal NU berdiri, yakni tahun 1926. Sekelompok kiai pesantren dari desa tiba-tiba membikin organisasi. Tidak bergemuruh. Lalu, dalam statutennya (AD/ART), mereka mencantumkan sebagai kelompok bermadzhab kepada salah satu imam mazhab empat.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Waktu itu, statuten demikian yang lain dari yang lain, tentunya lantaran sedang bergemuruh semangatnya Islam pembaruan, kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits. Buat apa madzhab-madzhab-an. Umat Islam harusnya mengambil hukum dari sumbernya langsung. Sikap bermadzhab (mereka menyebutnya taqlid buta, padahal istilah itu tidak ada di NU) adalah lambang kejumudan yang mengakibatkan berlangsungnya penjajahan.

Mereka mungkin lupa Pangeran Diponegoro yang berusaha mengusir penjajah pada 1825-1830, pemberontakan rakyat Banten dan lain-lain, yang dilakukan oleh kelompok bermadzhab. Atau, mungkin pura-pura lupa dan tak membaca sejarah.

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas dari Agama

Menurut kiai Saifuddin pada Secercah Dakwah (1984), kelompok yang demikian tidak kritis terhadap Muhammad Abduh yang membelokkan pisau analisisnya terhadap kesewenang-wenangan kolonialisme Barat, lalu berbalik menggunakan pisaunya untuk menguliti dunia Islam sendiri, terutama terhadap para ulama.

Pada saat yang sama, mereka lupa ada yang lebih penting dari itu, yaitu menggalang persatuan umat Islam. Menyalahkan umat Islam sendiri dalam hal furu’iyyah, justru akan melanggengkan penjajahan.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Kelompok tersebut, di Indonesia (dulu Hindia Belanda) mengarahkan pisaunya ke kiai-kiai pesantren yang kemudian mendirikan NU. Sebagai kiai pesantren, kiai Wahab tampil membela sembari “merayu” Hadlrotusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan sebuah organisasi kelompok bermadzhab. Namun tak direstui hingga 10 tahun.

Menurut kiai Wahab, seandainya Hadlrotusy Syaikh tidak merestui, ada dua pilihan baginya. Pertama, masuk menjadi anggota organisasi mereka dan bertempur tiap hari dengan mereka untuk membela kalangan pesantren. Kedua, kembali ke pesantren, menutup rapat-rapat informasi dari dunia luar. Ia hanya mengajar santri. Beruntunglah, Hadlrotusy Syaikh kemudian merestui.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Sekali lagi, jika hari ini ada kelompok yang menyalahkan NU yang tidak bersifat prinsipil, mereka adalah copy paste dari kelompok masa lalu yang salah baca. Namanya salah baca, sekali lagi, akan salah mengambil kesimpulan.

Dalam Secercah Dakwah, kiai Saifuddin mengutip pendapat Dr. Alfian dari Universitas Indonesia. Kesalahan baca tersebut bersumber dari sikap arogansi, angkuh, karena tidak puas dengan kesangsian menghadapi kebenaran.

Namun, NU membuktikan dari waktu ke waktu tetap berjalan, lolos melewati berbagai tantangan situasi. Yakinlah, copy paste masa lalu itu akan bisa dihadapi pula oleh NU hari ini.[]



* Oleh: Abdullah Alawi, Tulisan ini diambil dari NU Online.
Read More

Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali


rumahnahdliyyin.com - Masjid merupakan suatu tempat sentral bagi umat Islam. Semua kegiatan kaum muslim yang berkaitan dan bersifat keagamaan, seperti menjalankan ibadah sekaligus syiar Islam, di masjid-lah tempatnya.

Di Papua, sebagaimana kita ketahui bersama, Islam bukanlah agama yang mayoritas. Sebagai agama yang minoritas, keberadaan masjid di tanah Cenderawasih ini bisa menjadi indikator bahwa di mana ada masjid, maka di situ pasti ada pemeluk Islam yang jumlahnya cukup lumayan. Karena itu, kuantitas masjid di tanah Papua merupakan salah satu tolok ukur mengenai jumlah populasi umat muslim yang berada di daerah Papua.

Baca Juga: Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai, Papua

Istilah Masjid, di Papua, bagi kalangan umat Nasrani, mempunyai istilah sebutan nama yang unik dan beragam. Misalnya saja di daerah Enarotali, Kab. Paniai, Papua. Masyarakat asli Papua di daerah ini, yang notabene mayoritas pemeluk agama Nasrani, menyebut "masjid" dengan istilah “Gereja Islam”.

Entah mengapa istilah tersebut melekat diingatan umat Nasrani. Sampai saat ini, pun kebanyakan masyarakat asli yang sudah tua masih menyebut tempat ibadah umat Islam dengan sebutan “Gereja Islam”, bukan masjid.

Baca Juga: Sejarah Awal Perkembangan PCNU Paniai, Papua

Penyebutan Istilah tersebut, bagi kalangan umat Islam sendiri, tidak menjadi masalah. Hal ini menandakan bahwa antara umat Nasrani dan Islam saling menjaga kerukunan dan penguatan tali persaudaraan antar agama yang ada di Kabupaten Paniai.

Pada zaman dahulu, konon ceritanya, istilah sebutan itu merupakan bentuk penghormatan umat Nasrani kepada umat Islam yang belum mempunyai tempat ibadah sebagaimana tempat ibadah yang dimiliki oleh umat Nasrani pada waktu itu.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai, Papua, Peringati Harlah NU ke-92 dengan Santuni Anak Yatim

Begitu juga nama Masjid Al-Mubarok Enarotali, sejak mulai berdirinya sampai saat ini, pun tidak ada, bahkan sengaja tidak dikasih papan nama seperti kebanyakan Masjid pada umumnya. Namun belakangan, akhir-akhir ini diatas pintu gerbang masuk masjid terdapat tulisan “Masjid Al-Mubarok Enarotali“. Itupun hanya kecil dan sekedar sebagai identitas rumah ibadah bagi umat Islam saja. Itulah indahnya orang terdahulu mensikapi keberagaman pada masanya.

Sejarah awal berdirinya Masjid Al-Mubarok Enarotali di Kabupaten Paniai, Papua, yang terletak di jalan Enaro-Madi, tepatnya di kompleks pasar (kompas) lama ini, diperkirakan dibangun pada tahun 1980-an yang diprakasai oleh Bapak Munaf, seorang anggota polisi yang kebetulan bertugas di Enarotali. Bersama dengan umat muslim lainnya, beliau mendirikan sebuah bangunan kecil yang penting bisa dijadikan untuk menjalakan kewajiban agama sebagai seorang muslim.

Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa

Kemudian pada tahun 1986, bapak Munaf Yusuf berinisiatif menguatkannya dengan mensertifikatkan tanah diatas "hitam putih" dengan mengurus surat tanah dan pelepasan tanah yang disaksikan oleh kepala suku, tokoh adat dan para pendeta, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kelak dikemudian hari nanti.


Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan

Salah satu masyarakat muslim asli Paniai, yakni bapak H. Arif Pigome, mengatakan bahwa pada tahun 1986, pada waktu itu ia masih kecil, ia melihat sudah ada bangunan rumah kecil seperti musholla dan surau. Kemudian setelah berjalannya waktu, tahun demi tahun, dengan bertambahnya umat muslim yang datang, serta kondisi bangunan lama yang tidak bisa menampung para jama’ah, maka dengan pertimbangan tersebut, bapak Munaf Yusuf dan umat muslim bersepakat untuk memperluas bangunan tersebut. Walhasil, bangunan yang dulunya hanya sebuah bangunan rumah kecil berupa musolla, berubah menjadi sebuah bangunan Masjid.

Dalam perkembangannya, bangunan Masjid Al-Mubarok ini pun mengalami banyak perubahan. Adapun perkembangan selanjutnya, menurut ketua MUI setempat, yaitu dititik beratkan pembangunan pagar dan batas tanah milik Masjid.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana sekaligus Dakwah Umat Islam

Adapun dalam perkembangannya, bangunan Masjid ini diantaranya sebagai berikut:

Pada tahun 1990, perbaikan atap masjid. Dilanjutkan pada tahun 1995, yaitu pembuatan tempat wudlu' dan kamar mandi. Kemudian di tahun 1997, diteruskan dengan pembangunan tempat kamar imam serta kamar muadzin serta merbot. Di tahun 2000, pembangunan dilanjut dengan pembangunan serambi Masjid dan pagar gerbang Masjid, serta yang terakhir yaitu pada tahun 2017, yakni merenovasi tempat wudlu'.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Demikianlah sejarah singkat Masjid Al-Mubarok Enarotali yang berada di Kabupaten Paniai, Papua. Semoga menginspirasi dan bermanfaat. Salam.[]




* Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU di Kabupaten Paniai, Papua.
Read More

Meski Diminta Istri Untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya


rumahnahdliyyin.com - Salah satu penyebab seseorang melakukan poligami adalah alasan personal, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS. Atas permintaan istri pertamanya, yaitu Siti Sarah, Nabi Ibrahim pun memenuhi permintaan itu dengan menikahi Siti Hajar hingga lahirlah Nabi Ismail AS. dari rahim istri kedua tersebut.

Permintaan Siti Sarah itu dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa hingga usia mencapai lebih dari 80 tahun, Nabi Ibrahim AS. belum dikaruniai seorang anak pun. Kasus ini, ternyata mirip dengan yang terjadi pada Mbah Kiai Abdul Mannan, Solo. Bedanya, kiai Mannan menolak permintaan istrinya untuk poligami itu.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoax

Mbah Kiai Abdul Mannan adalah salah seorang pendiri Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkyudan, Surakarta, yang didirikan pada tahun 1930-an. Beliau adalah ayah dari Mbah Kiai Ahmad Umar Abdul Mannan, yang mengasuh pesantren tersebut hingga beliau wafat pada tahun 1981.

Penolakan Mbah Kiai Abdul Mannan untuk berpoligami, meski diminta sendiri oleh istri beliau, yaitu Mbah Nyai Mushlihah, adalah karena memang beliau tidak pernah menginginkan untuk berpoligami kendati sudah pernah menikah hingga tiga kali.

Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan

Perkawinan Mbah Kiai Abdul Mannan dengan istri pertamanya, berakhir dengan mufaroqoh yang tak bisa dihindarkan. Perkawinannya dengan istri kedua, berakhir ketika sang istri mendahului wafat. Sedangkan perkawinannya dengan istri yang ketiga, yakni dengan Mbah Nyai Mushlihah, berlangsung langgeng hingga Mbah Kiai Abdul Mannan wafat pada tahun 1964. Sedang Mbah Nyai Mushlihah sendiri, wafat pada tahun 1981 sebelum beberapa minggu kewafatan Mbah Kiai Ahmad Umar.

Pertanyaannya, mengapa Mbah Nyai Mushlihah minta dimadu dan mengapa pula Mbah Kiai Abdul Mannan menolaknya?

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Berdasarkan penuturan dari salah seorang putri Mbah Kiai Abdul Mannan, yakni Mbah Ngismatun Sakdullah, Solo—biasa dipanggil Mbah Ngis (wafat 1994)—dengan terus terang, Mbah Nyai Mushlihah memohon kepada Mbah Kiai Abdul Mannan yang notabene sebagai suaminya supaya menikah lagi. Hal tersebut karena Mbah Nyai Mushlihah merasa sudah tua dan tak sanggup lagi memenuhi kewajibannya untuk melayani hubungan suami-istri setelah menopause.

Memang, wanita yang sudah menopause, pada umumnya mengalami banyak perubahan yang menyebabkan hilangnya gairah seksual. Selain itu, menurunnya kemampuan berhubungan seksual, jika dipaksakan bisa menimbulkan ketidaknyamanan, baik secara fisik maupun psikis.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Untuk itu, Mbah Nyai Mushlihah bersedia melamarkan siapa pun yang dipilih Mbah Kiai Abdul Mannan untuk dijadikan madunya dengan maksud supaya hak-hak Mbah Kiai Abdul Mannan sebagai suami tetap bisa terpenuhi karena libido seksual laki-laki memang bertahan sampai mati.

Meski Mbah Kiai Abdul Mannan sadar bahwa sang istri rela dimadu, tapi beliau menolak permintaan itu. Sebab, pada dasarnya, beliau tidak menginginkan berpoligami. Tentu saja beliau punya beberapa alasan atas penolakannya itu, yang pada intinya demi menghindari madlorot yang lebih besar daripada kemanfaatannya.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Poligami sudah pasti berpotensi menimbulkan kecemburuan dan permusuhan diantara para istri dan anak-anak sebagaimana Siti Sarah yang mencemburui Siti Hajar serta bersikap tidak ramah. Padahal, kehadiran Siti Hajar sebagai istri kedua Nabi Ibrahim AS. merupakan permintaan Siti Sarah sendiri.

Jadi, alasan permintaan Mbah Nyai Mushlihah kepada Mbah KH. Abdul Mannan untuk berpoligami itu bersifat personal sebagaimana permintaan Siti Sarah kepada Nabi Ibrahim AS. Hanya saja, Siti Sarah belum dikaruniai seorang anak pun, sedangkan Mbah Nyai Mushlihah sudah dikaruniai lebih dari enam orang anak, termasuk Mbah Ngis, yang dilahirkannya sendiri.

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Memilih Puasa

Dikalangan pesantren dikenal ada tiga tipologi kiai, yakni kiai ‘alim, kiai ‘abid dan kiai ‘arif. Secara sederhana, kiai ‘alim adalah kiai yang ilmu pengetahuan agamanya luas dan banyak berkiprah di pengajaran ilmu-ilmu agama seperti di pesantren atau majelis-majelis ta’lim. Kiai ‘abid adalah kiai yang ahli ibadah dan banyak menghabiskan waktu serta tenaganya untuk beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan kiai ‘arif adalah kiai yang ilmu hikmahnya menonjol dan banyak riyadloh sehingga menjadi sosok yang arif-bijaksana. Mbah Kiai Abdul Mannan sendiri, dalam tipologi ini, tergolong dalam kiai tipe yang ketiga, yaitu lebih menonjol sebagai kiai 'arif.

Dalam menyikapi persoalan personalnya dengan Mbah Nyai Mushlihah yang sudah "meminta pensiun" dari tugas melayani urusan kasur, Mbah Kiai Abdul Mannan bukannya menceraikan sang istri lalu menikah lagi dengan dalih menghindari perzinahan.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hsyim Asy'ari

Nafsu seksual laki-laki memang terus hidup selama hayat masih dikandung badan. Tapi, poligami bukanlah satu-satunya cara untuk mengatasi persoalan personal yang berupa syahwat itu. Ada cara lain untuk mengatasinya, yakni berpuasa, sebagaimana hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim: Puasa adalah perisai (peredam) syahwat.

Cara berpuasa itulah yang dipilih oleh Mbah Kiai Abdul Mannan ketika mencari solusi terbaik dalam mengatasi persoalan syahwatnya disaat Mbah Nyai Mushlihah Abdul Mannan sudah tidak sanggup lagi memenuhi kewajibannya karena sudah udzur. Mbah Kiai Abdul Mannan mampu menjawab persoalan hukum (fiqh) dengan jawaban moral (akhlaq) yang tentu saja lebih luhur karena puasa merupakan ibadah satu-satunya untuk Allah SWT. dan Dia sendiri yang akan membalasnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits qudsi riwayat Imam Bukhori: Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.[]



Oleh: Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.


Sumber: NU Online
Read More

Peninggalan Islam Aceh Kurang Dipedulikan Selama ini


rumahnahdliyyin.com,
 Banda Aceh - Sebagai daerah yang menjadi pusat kejayaan peradaban Islam di masa lalu, Aceh banyak menyimpan bukti-bukti kebesaran sejarah Islam yang sangat mudah ditemukan hingga kini. Namun, tidak terurus dan bahkan ditelantarkan.

Padahal, dengan memiliki sejarah adanya kerajaan Islam terbesar di Nusantara dan Asia Tenggara pada masa lalu, Aceh terkenal keislamannya yang kental hingga saat ini. Sehingga, berbagai benda peninggalan sejarah tersebut, harus tetap dijaga dengan baik oleh generasi sekarang.

Demikianlah antara lain yang disampaikan oleh arkeolog Aceh dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Dr. Husaini Ibrahim MA., saat mengisi pengajian rutin di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu malam, 11 April 2018.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Pada pengajian yang dimoderatori oleh Badaruddin S.Pd, M.Pd. (Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Dayah Aceh) ini, juga turut dihadiri oleh Kapolresta Banda Aceh, AKBP. Trisno Riyanto.

"Karenanya, mari selamatkan peninggalan sejarah Islam tersebut. Dan ini menjadi kewajiban kita bersama," ujar Abu Husaini Ibrahim sebagaimana diberitakan oleh antaranews.com.

Baca Juga: Menulis Sejarah Secara Cermat

Dosen FKIP Unsyiah yang kini menjabat Ketua Laboratorium Sejarah ini menjelaskan bahwa sangat banyak jejak-jejak sejarah dan peradaban Islam masa lalu. Seperti makam ulama besar, batu nisan orang-orang berilmu, bahkan Kerajaan Samudera Pasai, Peureulak, Lamuri hingga Gampong Pande. Ada pula bukti batu nisan ulama-ulama yang betahunkan 1.070 Masehi.

"Selama ini, kita terkesan tidak peduli dengan jejak-jejak Islam pada benda-benda peninggalan sejarah tersebut. Bukan berarti kita menkultuskan benda, tapi itu bisa menjadi pedoman untuk dipelajari lagi oleh generasi sekarang. Bahwa Aceh dulu berjaya dengan peradaban Islam, maka untuk bisa berjaya lagi sekarang, kita bisa mengikuti jejak ulama-ulama yang berilmu tinggi dahulu. Bukan malah membuang kotoran ke makam mereka," terangnya.

Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Abu Husaini juga menambahkan bahwa Aceh pada masa kerajaan tempo dulu itu memegang peranan sangat penting dalam menyangga atau membentengi kawasan Nusantara dari kolonialisme penjajah Eropa. Diantaranya yaitu menghalau penjajah Portugis dan Belanda.

“Tujuan Kerajaan Aceh menyerang Portugis sampai ke Melaka dan Johor adalah dalam rangka membentengi Islam di wilayah Nusantara dari kolonialisasi penjajah,” jelasnya.

Baca Juga: Sejarah dan Keutamaan Istighotsah

Disebutkan juga bahwa andai tanpa kerajaan Aceh, maka Portugis dipastikan dengan mudah dapat menguasai Nusantara pada masa itu.

"Kita tahu bahwa penjajah Barat itu mengemban misi 3G, yaitu Gold (keinginan untuk memiliki emas, hasil alam dan kekayaan), Glory (keinginan mempunyai kejayaan) dan Gospel (keinginan untuk menyebabarkan agama Nasrani). Dari semua penjajah Barat itu, Portugis adalah yang terburuk dalam mengemban misi agama,” lanjut Husaini Ibrahim.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Selain itu, peran Aceh juga sangat besar dalam upaya dakwah dan penyiaran Islam di Nusantara dan membebaskan Nusantara dari cengkeraman kolonialisme.

“Barangkali, kalau Portugis sempat menguasai Aceh, maka Aceh sudah menjadi daerah non-muslim dan nama-nama orang Aceh sudah berubah menjadi Thomas dan lain-lain, serta menjadi basis pengembangan agama lain seperti Timor Timur,” katanya kemudian.

Husaini menambahkan lagi bahwa orang Aceh pada masa lampau memiliki semangat dan kekuatan jihad yang tinggi, sehingga mampu mengalahkan Portugis. Padahal, Portugis itu adalah negara hebat dan kuat.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia

Diterangkannya juga bahwa orang Aceh tempo dulu itu sangat serius menjalankan ajaran Islam. Dan bersatunya ulama dan umaro dalam membangun peradaban Islam, mengalami kejayaan hingga kemudian datanglah orientalis yang bernama Christian Snouck Hurgronje, seorang sarjana Belanda dan Penasehat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang merusak peradaban Islam di Aceh.

"Dia kembangkan sekulerisme. Dia pisahkan ulama dan umaro sampai diciptakan ajaran bahwa yang mengejar dunia itu bagaikan anjing yang mengejar bangkai. Sehingga, umat Islam dan ulama tidak perlu lagi mengurus urusan dunia dan dijauhkan dari urusan politik. Ulama-ulama cukup belajar agama saja," terangnya terhadap ajaran Snouck Hurgronje.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Selain itu, lanjutnya lagi, Snouck Hurgronje yang memiliki nama Islam Abdul Ghafar itu juga menciptakan musuh-musuh dalam selimut dan pengkhianat ditengah masyarakat Aceh yang menjual Aceh kepada penjajah hingga kerajaan Aceh menjadi lemah serta melahirkan politik adu domba untuk mengacaukan kekuatan Islam yang dampaknya masih dirasakan hingga saat ini.[]



(Redaksi RN)
Read More

Mbah Abdul Djalil Hamid


rumahnahdliyyin.com, Kudus - Mendengar nama KH. Abdul Djalil Hamid, bagi generasi sekarang mungkin kurang familiar. Tetapi bagi kalangan santri dan kiai di Kudus dan Pati, khususnya di Tayu, nama tersebut tidaklah asing. Keilmuan dan kiprah sosialnya tidak sekadar di level nasional, tetapi internasional.

Lahir dari pasangan KH. Abdul Hamid dan Nyai Syamsiyah di Bulumanis Kidul, Margoyoso, Tayu, Pati, Mbah Djalil -demikian sang kiai biasa disebut- merupakan maestro (ahli) falak yang tidak diragukan kemampuannya.

”Mbah Djalil diambil menantu KH. Nur Chudlrin, pendiri TBS. Beliau juga merupakan salah satu guru di madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) generasi pertama,” terang KH. Choirozyad.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Menurut KH. Choirozyad, Mbah Djalil mengajar di TBS antara lain semasa dengan KH. Arwani Amin dan KH. Turaichan Adjhuri. KH. Turaichan Adjhuri tak lain adalah ayahanda dari KH. Choirozyad, salah satu sesepuh madrasah TBS saat ini.

”Kalau secara usia, Mbah Djalil lebih senior dari KH. Turaichan Adjhuri. Sedang untuk bidang ilmu falak, kepakaran Mbah Djalil sangat diakui,” terang KH. Choirozyad menambahkan.

Pendidikan dan Kiprahnya

Perjalanan intelektual KH. Abdul Djalil Hamid, cukup berliku. Dia belajar di berbagai pesantren di tanah air dan tidak sebentar waktu yang dihabiskannya untuk belajar di Makkah.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari

Dimulai dengan pendidikan yang diberikan langsung oleh sang ayah hingga 1919, selanjutnya Abdul Djalil belajar di Pondok Pesantren Jamsaren, Solo, asuhan KH. Idris (1919–1920), lalu meneruskan belajar lagi ke Pondok Pesantren Termas asuhan KH. Dimyati (1920-1921), dan kemudian di Pondok Pesantren Kasingan, Rembang, asuhan KH. Kholil Harun (1921-1924).

Selanjutnya, pada 1924-1926, Abdul Djalil muda mukim dan belajar di Makkah Al-Mukarramah. Setelah itu, lalu melanjutkan belajar lagi di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dibawah asuhan langsung KH. Hasyim Asy’ari (1926-1927), dan kemudian kembali lagi ke Makkah pada 1927-1930.

Tak berselang lama dari pengembaraan intelektualnya yang cukup panjang, ia kemudian mengajar di Madrasah TBS. Di Madrasah TBS, KH. Abdul Djalil Hamid tercatat menjadi guru kepala pada 1932-1935.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Selain di TBS, berbagai posisi penting pernah diembannya. Antara lain menjadi anggota Raad Agama Islam di Kudus (1934-1945), Ketua Pengadilan Agama Kudus (1950-an), Pembantu Khusus Wakil Perdana Menteri RI (1951-1958), hingga anggota DPR/MPR mewakili alim ulama di Fraksi NU (1958-1967).

Untuk dibidang sosial, KH. Abdul Djalil Hamid diantaranya tercatat ikut mendirikan Madrasah Darul Ulum di Makkah (1927-1930), anggota pembina PBNU (1930 -1974), Ketua NU Cabang Kudus (1932-1934), Rois Syuriyah NU Jawa Tengah (1967- 1974), Katib Syuriyah PBNU (1954-1967), Ketua Tim Penentu Arah Qiblat Masjid Baiturrahman Semarang (1968), Penyusun Almanak NU (1930-1974) dan Ketua Lajnah Falakiyah PBNU sekaligus merangkap Lajnah Falakiyah Departemen Agama RI (1969-1973).

Hj. Roihanah, menantu KH. Abdul Djalil Hamid yang ditemui di kediamannya disamping Masjid Alhamidiyyah, Mlati, menceritakan bahwa dalam perjalanannya, ayah mertuanya juga sempat di penjara.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Berdasarkan data yang disimpan pihak keluarga, KH. Abdul Djalil Hamid yang menjadi Komandan Gerilya melawan Belanda di Gunung Muria (1948-1949) itu ditahan Belanda di penjara Kudus pada 1949. Data itu juga menyebutkan, Mbah Djalil pernah ditahan di era pemerintahan Orde Lama di Salatiga pada 1952-1954.

Gemar Menulis

Perhatian KH. Abdul Djalil Hamid terhadap dunia keilmuan yang demikian tinggi, khususnya ilmu-ilmu agama, ditengah kesibukannya yang luar biasa, bisa dilihat dari berbagai karya (kitab) yang ditulisnya.

Berbagai karya Mbah Djalil, diantaranya yaitu Fathur-Rouf Al-Mannan, Rubu’ Mujayyab (Quadrant), Jadwal Rubu’, Dalil Al-Minhaj, Tawajjuh, Tuhfah Asy-Asyfiya’, Ahkam Al-Fuqoha’ dan Takkalam bil-Lughoh Al-Arobiyyah.

‘’Keseharian Bapak, dulu sukanya membaca kitab, membaca buku dan menulis. Dulu juga sering mengajar ngaji di masjid ini (Masjid Al-Hamidiyah–red.). Dulu, masjidnya masih sangat sederhana,’’ terang Hj. Roihanah yang didampingi putrinya, Nur Uswati, itu.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

KH. Abdul Djalil Hamid meninggal dunia di Makkah Al-Mukarramah pada 16 Dzulqo’dah 1394 H. atau bertepatan dengan 30 November 1974.

”Yang membantu mengurusi pemakaman Mbah Djalil di Makkah waktu itu adalah Prof. Dr. KH. Maghfur Usman,” lanjutnya menambahkan.

Prof. Maghfur Usman merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) asal Cepu, Blora, yang pernah belajar di Madrasah TBS Kudus dan tercatat sebagai Mustasyar PBNU periode 2010-2015.

‘’Dulu, kalau Prof. Maghfur Usman berkesempatan hadir saat haul Mbah Djalil, beliau yang selalu membaca riwayat hidup Mbah Djalil,’’ tutur Hj. Roihanah.

Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan

KH. Abdul Djalil Hamid merupakan keturunan ke-8 dari KH. Mutamakkin Kajen, Pati. Ia menikah dengan istri pertama Siti Siryati Binti KH. Adnan Bulumanis Kidul dan dikaruniai seorang putri bernama Roudloh.

Sepeninggal istri pertama, Mbah Djalil menikah dengan Hj. Aminah Noor Binti KH. Noor Khudlrin, Baletengahan. Pernikahan dengan Hj. Aminah Noor ini, Mbah Djalil dikaruniai seorang putra, yaitu H. Hamdan Abdul Djalil.[]
(adb/ros)
Read More

Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan


rumahnahdliyyin.com - Syaikh Muhammad Mahfudz At-Turmusy adalah salah satu kejora semesta. Cahaya ilmunya sedemikian benderang nan abadi sepanjang zaman. Akhlaqnya serupa akhlaq Rasulullah Muhammad SAW., kekasihnya. Tak heran jika puja dan puji terus mengalir dari orang-orang yang mengetahui peran besarnya dalam mengentaskan umat dari lembah kebodohan dan menuntun pada keelokan akhlaq Rasulullah Muhammad SAW.

Mungkin tidak ada yang mengira jika Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz, yang digelari sebagai al-‘alim, al-faqih, al-ushuli, al-muhaddits, al-muqri’, adalah sosok yang lahir di Indonesia. Terlebih, orang mungkin tidak menduga jika Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz lahir di sebuah daerah yang cukup terpencil.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Hadlrotusy Syaikh Mahfudz lahir pada tanggal 12 Jumadal Ula 1285 H. di desa Tremas, Pacitan. Pada masa kelahirannya, Pacitan masih termasuk dalam wilayah Solo. Ketika dilahirkan, Hadlrotusy Syaikh Abdullah, ayahnya, sedang berada di Makkah Al-Mukarromah.

Pada usia enam tahun, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz diajak sang ayah untuk ke Makkah Al-Mukarromah. Di tempat kelahiran Rasulullah SAW., Hadlrotusy Syaikh Mahfudz mendapatkan ragam pelajaran dari para cerdek cendekia (ulama) Hijaz dan Nusantara yang berada di Makkah. Hadlrotusy Syaikh Abdullah, sang ayah, pun merupakan ulama’ yang cukup disegani di Nusantara dan Hijaz.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Beberapa tahun berada di Makkah, Hadlrotusy Syaikh Abdullah dan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun kembali lagi ke Nusantara. Di tanah kelahirannya, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz mengambil sanad keilmuan sang kakek yang merupakan salah satu tokoh besar tanah Jawa, yakni Hadlrotusy Syaikh Abdul Manan. Kecerdasan, kemuliaan pekerti, keseriusan, ketelatenan dan keuletan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz membuat sang kakek demikian menyayanginya.

Setelah sekian tahun menyerap ilmu sang kakek dan sang ayah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz tergerak untuk mengembara dan berguru pada tokoh-tokoh istimewa di Nusantara.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

“Ananda bisa berguru kepada kiai Sholeh di Darat, Semarang. Kiai Sholeh masih sahabatku semasih belajar di tanah Hijaz,” jawab Hadlrotusy Syaikh Abdullah ketika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz mengutarakan minatnya untuk mengembara sekaligus meminta petunjuk kepada siapa dia berguru.

Setelah mendapatkan petunjuk dari Hadlrotusy Syaikh Abdullah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun bersama adik-adiknya, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi, berangkat ke Semarang.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Sesampai di Semarang, tiga kejora Tremas itu segera menemui Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat. Hati ulama agung Semarang itu demikian berbunga-bunga mengetahui yang datang adalah putra-putra dari sahabatnya. Dengan penuh cinta dan kasih, ketiganya di terima oleh Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat.

Kepada Hadlrotusy Syaikh Sholeh bin Umar ini, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz belajar berbagai macam kitab dan mengkhatamkan beragam kitab. Ketekunan dan kecerdasan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz cukup memikat hati sang guru. Dalam pandangan Hadlrotusy Syaikh Sholeh, ada beragam keistimewaan dan pancaran keelokan yang membuatnya demikian terpukau. Selama di Darat, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz memang dikenal sebagai santri yang visioner, inspiratif dan berbudi mulia.

Baca Juga: Toilet Sebagai Jalan Keluar

Mengamati perkembangan sang santri yang demikian mengagumkan, terbersit keinginan dalam hati Hadlrotusy Syaikh Sholeh untuk menjadikannya sebagai menantu. Terlebih, dimasa lalu, antara Hadlrotusy Syaikh Sholeh dan Hadlrotusy Syaikh Abdullah sempat terbersit keinginan untuk berbesanan. Namun, entah mengapa niat itu tak segera diutarakan dan dinyatakan. Mungkin, Hadlrotusy Syaikh Sholeh menunggu saat yang tepat. Terlebih, saat itu Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sedang semangat belajar. Meski demikian, Hadlrotusy Syaikh Sholeh demikian kentara dalam mencurahkan perhatian dan cinta kasih kepada Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

Ketika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pamit boyong dari Darat, Semarang, cucuran air mata Hadlrotusy Syaikh Sholeh tak dapat lagi terbendung. Ada rasa kehilangan yang menusuk-nusuk qolbunya. Dengan penuh cinta dan pengharapan, dia peluk santri kinasih sekaligus santri yang digadang-gadang menjadi menantunya itu.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Sekembali dari Darat, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz kembali menyerap ilmu keluarganya. Setelah sekian lama di Tremas, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz termotivasi untuk melanjutkan petualangan ilmiahnya. Tanah Hijaz adalah impiannya. Beruntung impiannya ini mendapatkan dukungan dari keluarga.

Berangkatlah Hadlrotusy Syaikh Mahfudz ke Makkah Al-Mukarromah dengan iringan derai air mata keluarga. Palu godam pun seketika menghantam palung jiwa Hadlrotusy Syaikh Sholeh ketika mendengar santri kinasihnya itu berangkat ke Makkah.

“Aku semakin jauh dari calon menantuku,” bisik benak Hadlrotusy Syaikh Sholeh.

Baca Juga: Al-Biruni, Antropolog Pertama?

Pun demikian, Hadlrotusy Syaikh Sholeh tak kehilangan cara untuk menunjukkan kasih sayang, perhatian dan keinginan menjadikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sebagai menantu. Berbagai macam hadiah dititipkan untuk Hadlrotusy Syaikh Mahfudz ketika ada orang Jawa yang melaksanakan ibadah haji atau pergi ke tanah Hijaz.

Hadiah demi hadiah yang terus diterima Hadlrotusy Syaikh Mahfudz dari sang guru, membuatnya berfikir, “Apa maksud kiai Sholeh selalu mengirimkan hadiah kepadaku ?” Sebuah kewajaran jika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz bertanya-tanya dengan curahan hadiah dari sang guru.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Namun, rasa penasaran itu tak berlangsung lama. Ghirohnya dalam belajar membuat Hadlrotusy Syaikh Mahfudz larut dalam samudra ilmu. Hadiah demi hadiah yang dikirim Hadlrotusy Syaikh Sholeh pun lebih banyak dinikmati oleh kedua adiknya, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi.

Menyadari pancingan demi pancingan tak mendapatkan respon dari Hadlrotusy Syaikh Mahfudz, mau tidak mau Hadlrotusy Syaikh Sholeh tergerak untuk mengutarakan maksudnya secara langsung. Ditulislah surat “sakti” yang berisi keinginannya menjadikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sebagai menantunya. Surat dititipkan kepada santri Hadlrotusy Syaikh Sholeh yang berangkat ke tanah Haram.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari

Surat yang dikirimkan Hadlrotusy Syaikh Sholeh pun segera sampai ke tangan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz. Jiwa Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun berkecamuk merasakan ketulusan sang guru. Bulir-bulir bening air mata membasahi pipi Hadlrotusy Syaikh Mahfudz. Baginya, permintaan guru adalah sabda yang tak bisa ditolak. Kepatuhan seorang santri pada kiai adalah sebuah keniscayaan. Sebuah cela jika santri tak patuh perintah kiai selama permintaan itu bukanlah maksiat. Permintaan yang demikian mudah bagi orang biasa itu menjadi sulit bagi Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

Lambaran kesulitan itu salah satunya berkait dengan keinginan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz untuk menghabiskan sisa-sisa usianya di Makkah. Sejak kembali menginjakkan kaki di Makkah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz telah “bersumpah” untuk tinggal selamanya di tanah kelahiran Rasulullah SAW. itu.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Istikhoroh pun dilakukan oleh Hadlrotusy Syaikh Mahfudz untuk mendapatkan petunjuk terbaik dari Allah SWT. Setelah berkali-kali istikhoroh, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun mendapatkan isyarat untuk tinggal di Makkah. Kemantapan yang diperoleh melalui istikhoroh itu membuat Hadlrotusy Syaikh Mahfudz memutar otak untuk menghindari permintaan sang guru.

Tak mungkin Hadlrotusy Syaikh Mahfudz menolak keinginan sang guru tanpa alasan yang bisa diterima. Lebih menyakitkan lagi jika sampai sang guru terlukai perasaannya. Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun mencari strategi terbaik agar sang guru tidak terlukai perasaannya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Bersamaan dengan itu, masuklah selarik ilham untuk mengirimkan Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan, sang adik, sebagai pengganti dirinya. Setelah yakin dengan keputusannya, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz segera menulis surat balasan untuk Hadlrotusy Syaikh Sholeh. Beberapa waktu berlalu, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi diminta untuk kembali ke Tremas. Terkhusus Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan, ada pesan istimewa yang diamanatkan oleh Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

“Sesampai di Tremas, lekaslah engkau pergi ke Semarang. Temui kiai Sholeh. Sampaikan surat ini kepadanya. Mengabdilah kepadanya dan apa pun perintahnya, kamu harus taat dan patuh.”

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Singkat cerita, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan pun menjadi menantu Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat menggantikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.[]


* Oleh: Imam Muhtar
Read More

Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya


rumahnahdliyyin.com - Perjalanan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden RI ke-4, tak bisa dilepaskan dari peristiwa terbentuknya Poros Tengah pada 1999 yang kala itu dimotori oleh mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Amien Rais.

Saat itu, pasca-reformasi, masyarakat terbelah. Sebagian menghendaki agar BJ. Habibie melanjutkan posisinya sebagai Presiden. Sementara dikubu lain, PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu 1999, menghendaki Megawati Soekarno Putri yang jadi Presiden.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Dalam situasi politik yang memanas, bahkan sempat pecah menjadi bentrokan fisik yang dikenal dengan Peristiwa Semanggi antara "Laskar Merah" dan "Laskar Islam" itu, Poros Tengah bentukan Amien Rais muncul sebagai penengah.

Lewat Poros Tengah itu, Pak Amien Rais menengahi. Presidennya bukan Habibie, juga bukan Megawati. Dari sinilah kemudian muncul nama Gus Dur, yang kala itu sedang sakit, sebagai sosok tokoh yang memang bisa diterima oleh berbagai pihak, baik oleh kelompok Megawati maupun oleh kalangan umat Islam, untuk diusung sebagai Presiden.

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur Dimata Profesor Jepang

Setelah disepakati bahwa Gus Dur yang akan diusung jadi Presiden, Amien Rais kemudian meminta Muhaimin Iskandar (Cak Imin), yang kala itu diminta oleh Amien Rais bergabung dalam gerakan Poros Tengah itu, untuk menemaninya ke Ciganjur menemui Gus Dur.

Sebagai ABG (Anak Buah Gus Dur), saat itu Cak Imin deg-degan. Kondisi Gus Dur sakit, tapi diminta menjadi Presiden.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Setelah bertemu Gus Dur, Amien Rais mengatakan bahwa Indonesia sedang membutuhkan tokoh yang mampu jadi penengah. Amien mengatakan bahwa Gus Dur adalah pemimpin yang diharapkan mampu menenangkan pertentangan dan pertempuran antara sesama anak bangsa yang tengah memanas dalam menentukan pemimpin kala itu.

Gus Dur, setelah Amien Rais selesai bicara, tiba-tiba ambil posisi duduk dari posisi yang sebelumnya rebahan. Gus Dur pun lalu menyatakan menerima permintaan Poros Tengah itu untuk menjadi calon Presiden Indonesia.

Baca Juga: Keluarga Gus Dur Kunjungi Keluarga Mbah Moen

Mendengar pernyataan Gus Dur yang bersedia menjadi calon Presiden itu, Cak Imin mengaku kaget yang bercampur haru. Namun menurutnya, Amien Rais lebih kaget lagi.

"Lhoh, rencananya, kan, Gus Dur nolak jadi calon Presiden dan menyerahkan posisi calon Presiden pada saya?" bisik Amien Rais pada Cak Imin.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Dalam perjalanan pulang, jawaban Gus Dur yang tidak sesuai dengan skenario awal itu, membuat Cak Imin mendapat banyak pertanyaan dari para kolega yang mendukung Amien Rais menjadi calon Presiden.

Kenapa bukan Amien Rais yang akhirnya muncul sebagai alternatif yang menggantikan Gus Dur sebagai tokoh yang dicalonkan menjadi Presiden yang mewakili dari berbagai kekuatan? Menjawab cecaran pertanyaan itu, Cak Imin pun menyatakan bahwa ia tidak tahu kenapa Gus Dur bersedia dicalonkan sebagai Presiden dalam kondisi yang sakit itu.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Dari sinilah kemudian Gus Dur sering mengutarakan sebuah anekdot yang berbunyi: "Berpolitik tidak usah pakai biaya. Saya saja jadi Presiden tanpa Tim Sukses, tanpa biaya dan hanya modal dengkul. Itu pun dengkulnya Pak Amien Rais."[]
(Redaksi RN)


* Tulisan ini didasarkan pada cerita yang disampaikan oleh Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, sebagaimana dimuat di laman tempo.co, ketika ia hadir dalam forum Kongres Ulama Nusantara di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, pada Minggu, 1 Maret 2018.
Read More

Sejarah dan Keutamaan Istighotsah


rumahnahdliyyin.com - Ketika bangsa mengalami bencana, baik bencana alam, bencana sosial maupun bencana terkait carut-marutnya kepemimpinan nasional, masyarakat Muslim di Indonesia--khususnya kalangan pesantren dan warga NU--terbiasa melaksanakan Istighotsah dalam rangka memohon petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT.

Dzikir dan do'a yang terdapat dalam Istighotsah, disusun pertama kali oleh KH. Muhammad Romli Tamim, Jombang, yang kemudian disepakati oleh para kiai sepuh NU dijadikan sebagai bacaan baku secara turun-temurun hingga sekarang.

Baca Juga: Buku Tarekat dan Semangat Nasionalisme Dibagi Gratis

KH. Ishomuddin Ma'shum, telah menulis buku tentang Sejarah dan Keutamaan Istighotsah yang baru-baru ini telah diterbitkan oleh LTN Pustaka PWLTN NU Jawa Timur. Buku ini mengulas dengan sangat menarik mengenai sejarah penyusunan Istighotsah dan perkembangannya dengan disertai kisah-kisah inspiratif yang penuh hikmah.

Buku ini, dengan cukup mendalam, juga mengungkap rahasia dan keutamaan dzikir dalam Istighotsah berdasarkan Al-Qur'an, Hadits dan pendapat para Ulama' Ahlussunnah wal-Jama'ah (Aswaja). Selain itu, buku ini sekaligus juga menjawab secara ilmiah tuduhan kelompok-kelompok tertentu yang telah meyakini adanya unsur-unsur bid’ah dan kesesatan didalam Istighotsah.

Baca Juga: LTN NU Lampung Terbitkan Dua Buku Dalam Satu Periode

Ini beberapa endorsmen dari para kiai terhadap buku tersebut.

“Tradisi Istighotsah adalah tradisi yang baik yang telah diwariskan oleh para kiai pesantren dan NU. Maka, jadikan buku ini sebagai langkah awal untuk mengenalnya, sehingga kita senang menjadikannya sebagai washilah ruhiyyah agar semakin dekat dengan Allah SWT., hingga memperoleh kedamaian jiwa bersama-Nya.” KH. Anwar Manshur (Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur).

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

"Istighotsah adalah sarana seorang hamba untuk mendekat--sekaligus memohon--kepada Allah SWT. agar semua impian dan keinginan dapat dikabulkan. Istilah ini tidaklah asing bagi kalangan pesantren dan NU. Termasuk bagi para pengikut tarekat di Indonesia. Tapi, kita semua hampir tidak tahu, siapakah sebenarnya yang terlibat menyusun bacaan-bacaan Istighotsah. Hingga dalam setiap acara Istighatsah, dipastikan bacaannya sama. Karenanya, buku ini layak dibaca sebab menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus memberikan penjelasan sejarah dan keutamaan-keutamaan dalam setiap bacaanya Istighotsah." KH. Sholeh Qosim (Pengasuh PP. Bahauddin Sepanjang, Sidoarjo).

Mengenai keterangan buku secara lengkap, yaitu:

  • Judul: Sejarah dan Keutamaan Istighotsah
  • Penulis: KH. Ishomuddin Ma'shum
  • Pengantar: KH. Tamim Romli
  • Editor: Wasid Manshur
  • Penerbit: LTN Pustaka PWLTN NU Jatim
  • Tebal: 136 halaman
  • Pemesanan: 085230702045

[]
Read More

KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri


rumahnahdliyyin.com - 24 Agustus 2004 silam, Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, hujan air mata. Berduyun-duyun tangis serta sesenggukan terus kian menumpah sejak selepas waktu Isya' di hari Senin malam Selasa itu.

Syaikhina KH. Cholil Bisri, nama inilah yang telah membuat air mata para santri yang diikuti oleh masyarakat Rembang terkuras. Kepergiannya ke haribaan Yang Maha Pencipta waktu itu, sungguh membuat para santri terpukul. Juga menggodamkan kesedihan yang sangat mendalam bagi masyarakat Rembang.

Baca Juga: Kontribusi HTI Untuk NKRI

Abah, begitu para santri memanggil kiai Cholil, merupakan sosok kiai yang sangat mencintai santrinya. Beliau tidak pernah ridlo bila ada santri yang diperlakukan dengan kekerasan. Tidak boleh ada santri yang karena suatu kesalahan, kemudian dihukum dengan cara dipukul atau sejenisnya. Dengan demikian, beliau menekankan kepada para pengurus pondok untuk senantiasa memupuk kesabaran.

Kiai Cholil juga sosok kiai yang sangat menghormati kemerdekaan. Hal itu terbukti dalam sistem yang diberlakukan di pondok yang diasuhnya. Karena pondok tidak memiliki sekolah formal, para santri yang ingin sekolah formal pun diberi keleluasaan untuk memilih sekolah yang diinginkan di luar pondok. Baik sekolah ke-Islam-an sepeti MTs/MA ataupun sekolah umum seperti SMP/SMA/SMK. Tentu saja dengan catatan tidak boleh sampai mengganggu peraturan dan kegiatan yang telah ditetapkan dan berlaku di pondok.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

"Kamu boleh melakukan apa saja, yang penting ngaji," begitu dawuh yang sering disampaikan kiai yang diakhir hayatnya masih mengemban amanat sebagai Wakil Ketua MPR RI kepada para santrinya itu.

Sepintas, dawuh beliau di atas memang terbaca sangat sederhana. Namun, apabila kita angen-angen, dawuh itu mengandung makna yang sangat dalam.

Pertama, beliau ingin santrinya supaya tidak berhenti ngaji atau belajar. Walaupun dalam keadaan apapun. Kedua, beliau menginginkan santrinya jangan takut untuk melakukan apa saja. Walaupun kemudian ternyata salah. Dan kesalahan itu adalah bagian dari proses belajar. Ketiga, beliau menginginkan santrinya supaya ketika melakukan apa saja jangan sampai tidak didasari dengan ilmu. Karena itu, harus belajar atau ngaji.

Baca Juga: Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Selain itu, kiai yang juga kakak dari Syaikhina KH. A. Mustofa Bisri dan juga ayah dari KH. Yahya Cholil Tsaquf (Katib 'Aam PBNU) juga Gus Yaqut Cholil Qoumas (Ketum GP. Ansor) ini, tawadlu'nya sangat luar biasa. Contohnya, pernah beliau tidak sepakat dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam suatu hal, namun beliau tidak menyampaikannya secara langsung. Bukan pula kemudian diumumkan dipublik. Melainkan beliau menyampaikan kepada kiai lain yang menurut beliau "setaraf" atau punya "maqom" lebih tinggi dari Gus Dur. Pendek kata, meski kealiman beliau tidak ada yang meragukan, namun beliau masih merasa ada kiai lain yang lebih alim, termasuk Gus Dur.

Akhirnya, semoga para santri beliau bisa meneladani dan mengamalkan apa yang telah didawuhkan dan diajarkan oleh beliau. Dan berhubung hari ini tepat 7 Rojab dimana beliau telah dipanggil oleh Allah SWT. sebagaimana menurut penanggalan tahun Hijriyyah, marilah kita langitkan doa untuk beliau. Lahul-Fatihah... []



* Oleh: Agus Setyabudi, Alumni PP. Raudlatut Thalibin Rembang, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Sejarah Awal Perkembangan PCNU Paniai Papua


rumahnahdliyyin.com - Setelah kepengurusan PCNU di Kabupaten Paniai terbentuk secara resmi, pada awalnya, kepengurusan ini belum bisa berjalan dengan baik. Banyak kegiatan-kegiatan yang sifatnya keagamaan dan rapat-rapat, selalu menggandeng pengurus masjid setempat. Bukan apa-apa. Sebab, PCNU yang masih bau kencur ini belum mempunyai tempat Sekretariat dan gedung sendiri. Selain itu, para pengurus NU juga masih banyak yang belum mengetahui tentang NU secara mendalam.

Pada tahun 2014, setelah kepengurusan berjalan kira-kira empat bulanan, pengurus NU pun mengadakan musyawarah. Dalam musyawarah ini, pengurus NU membahas keinginannya yang kuat untuk mencari dan membeli tanah yang nantinya akan dijadikan sebagai Sekretariat sekaligus lokasi pendidikannya.

Baca Juga: Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai Papua

Mengingat pendidikan yang dikelola oleh pengurus NU selama ini (Madin dan TPQ) masih meminjam serambi Masjid Al-Mubarok, dengan alasan tersebut, akhirnya disepakatilah untuk mencari informasi tanah yang dijual sembari mempersiapkan dananya.

Dalam kesempatan ini pula, PCNU mendiskusikan keinginannya untuk melebarkan sayapnya agar NU di Paniai bisa berkembang. Dan salah satu strategi yang disepakati adalah melalui jalur pendidikan. Walhasil, dibentuklah LP. Ma’arif dan BP2 Ma’arif. Dan Madrasah Diniyyah yang sedari awal namanya Al-Mubarok, pun akhirnya dirubah menjadi Madrasah Diniyyah Ma’arif NU.

Diujung tahun 2014, PCNU yang masih sangat muda ini pun berkesempatan untuk pertama kalinya memenuhi undangan dalam Muktamar NU di Jombang. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan. Sebelum acara Muktamar, mereka mengagendakan untuk bersilaturrahmi sekaligus meminta do’a restu kepada PBNU di Jakarta agar PCNU Paniai dapat mengemban tugasnya dengan lancar serta mampu mewujudkan cita-citanya saat itu, yaitu memiliki Sekretariat dan gedung pendidikan.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai Papua Peringati Harlah NU Ke-92

Lambat laun, dengan perjuangan dan kerja keras serta do’a dari pengurus NU, guru Madrasah serta santri yang belajar, ditambah lagi dukungan dari para tokoh dan wali santri, akhirnya pada pertengahan tahun, tepatnya bulan Shofar 1437 H., PCNU mendapatkan angin segar. Yaitu ada seseorang yang menawarkan tanah kepada pengurus NU.

Mengingat membeli tanah di Paniai sangatlah tidak mudah, peluang dan kesempatan tersebut akhirnya ditindak lanjuti dengan serius. Dengan mengadakan musyawarah dan masukan dari para tokoh setempat, dibahaslah soal pembelian tanah tersebut. Dengan bermodal dana kas yang pas-pasan, akhirnya kekurangan tersebut bisa terlunasi dengan penggalangan dana. AlhamduliLlâh, akhirnya tanah tersebut berhasil dimiliki oleh PCNU yang lokasinya sekarang ini berada di Kampung Nunubado, Distrik Eikaitadi, Paniai Timur.

Hingga saat ini, dilokasi tanah tersebut pun sudah berdiri dua bangunan gedung yang difungsikan sebagai tempat pendidikan Madrasah Diniyyah, TPQ dan Madrasah Ibtidaiyyah Ma’arif NU Paniai.

Baca Juga: Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di jawa

Kepengurusan PCNU Paniai pun saat ini sudah berjalan dengan cukup baik. Diantara kegiatannya yang rutin setiap bulannya yaitu Khotmil Qur'an bin-Nadhor yang bertempat di Madrasah Ma'arif NU Paniai. Tentu saja ada juga diskusi dalam kegiatan ini yang membahas tentang perkembangan umat Islam terkini dan ke-NU-an. Selain itu, ditiap hari-hari besar Islam pun, semisal Maulid Nabi SAW., PCNU Paniai juga tak pernah ketinggalan untuk memperingatinya.

Dengan adanya PCNU di Kabupaten Paniai ini, semoga akan membawa manfaat bagi warga Paniai pada umumnya dan bagi umat Islam pada khususnya. Serta Syiar Islam pun semoga bisa semakin berkembang mengingat organisasi ini yang senantiasa mencerminkan Islam yang ramah bagi siapa dan apa saja (rohmatan lil'alamin).

Meskipun saat ini kepengurusan PCNU Paniai sudah berjalan dengan cukup baik, kendati demikian, sebagai Ormas yang tergolong masih baru, tentu saja masih membutuhkan bimbingan dan arahan dari kepengurusan yang berada ditingkat atasnya, dalam hal ini yaitu PWNU Papua ataupun PBNU. Dan semoga semua pengurus PCNU Kab. Paniai ini senantiasa diberikan kesehatan dan keistiqomahan. Amin.[]


* Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU Paniai
Read More