rumahnahdliyyin.com, Kudus - Mendengar nama KH. Abdul Djalil Hamid, bagi generasi sekarang mungkin kurang familiar. Tetapi bagi kalangan santri dan kiai di Kudus dan Pati, khususnya di Tayu, nama tersebut tidaklah asing. Keilmuan dan kiprah sosialnya tidak sekadar di level nasional, tetapi internasional.
Lahir dari pasangan KH. Abdul Hamid dan Nyai Syamsiyah di Bulumanis Kidul, Margoyoso, Tayu, Pati, Mbah Djalil -demikian sang kiai biasa disebut- merupakan maestro (ahli) falak yang tidak diragukan kemampuannya.
”Mbah Djalil diambil menantu KH. Nur Chudlrin, pendiri TBS. Beliau juga merupakan salah satu guru di madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) generasi pertama,” terang KH. Choirozyad.
Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan
Menurut KH. Choirozyad, Mbah Djalil mengajar di TBS antara lain semasa dengan KH. Arwani Amin dan KH. Turaichan Adjhuri. KH. Turaichan Adjhuri tak lain adalah ayahanda dari KH. Choirozyad, salah satu sesepuh madrasah TBS saat ini.
”Kalau secara usia, Mbah Djalil lebih senior dari KH. Turaichan Adjhuri. Sedang untuk bidang ilmu falak, kepakaran Mbah Djalil sangat diakui,” terang KH. Choirozyad menambahkan.
Pendidikan dan Kiprahnya
Perjalanan intelektual KH. Abdul Djalil Hamid, cukup berliku. Dia belajar di berbagai pesantren di tanah air dan tidak sebentar waktu yang dihabiskannya untuk belajar di Makkah.
Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari
Dimulai dengan pendidikan yang diberikan langsung oleh sang ayah hingga 1919, selanjutnya Abdul Djalil belajar di Pondok Pesantren Jamsaren, Solo, asuhan KH. Idris (1919–1920), lalu meneruskan belajar lagi ke Pondok Pesantren Termas asuhan KH. Dimyati (1920-1921), dan kemudian di Pondok Pesantren Kasingan, Rembang, asuhan KH. Kholil Harun (1921-1924).
Selanjutnya, pada 1924-1926, Abdul Djalil muda mukim dan belajar di Makkah Al-Mukarramah. Setelah itu, lalu melanjutkan belajar lagi di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dibawah asuhan langsung KH. Hasyim Asy’ari (1926-1927), dan kemudian kembali lagi ke Makkah pada 1927-1930.
Tak berselang lama dari pengembaraan intelektualnya yang cukup panjang, ia kemudian mengajar di Madrasah TBS. Di Madrasah TBS, KH. Abdul Djalil Hamid tercatat menjadi guru kepala pada 1932-1935.
Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan
Selain di TBS, berbagai posisi penting pernah diembannya. Antara lain menjadi anggota Raad Agama Islam di Kudus (1934-1945), Ketua Pengadilan Agama Kudus (1950-an), Pembantu Khusus Wakil Perdana Menteri RI (1951-1958), hingga anggota DPR/MPR mewakili alim ulama di Fraksi NU (1958-1967).
Untuk dibidang sosial, KH. Abdul Djalil Hamid diantaranya tercatat ikut mendirikan Madrasah Darul Ulum di Makkah (1927-1930), anggota pembina PBNU (1930 -1974), Ketua NU Cabang Kudus (1932-1934), Rois Syuriyah NU Jawa Tengah (1967- 1974), Katib Syuriyah PBNU (1954-1967), Ketua Tim Penentu Arah Qiblat Masjid Baiturrahman Semarang (1968), Penyusun Almanak NU (1930-1974) dan Ketua Lajnah Falakiyah PBNU sekaligus merangkap Lajnah Falakiyah Departemen Agama RI (1969-1973).
Hj. Roihanah, menantu KH. Abdul Djalil Hamid yang ditemui di kediamannya disamping Masjid Alhamidiyyah, Mlati, menceritakan bahwa dalam perjalanannya, ayah mertuanya juga sempat di penjara.
Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq
Berdasarkan data yang disimpan pihak keluarga, KH. Abdul Djalil Hamid yang menjadi Komandan Gerilya melawan Belanda di Gunung Muria (1948-1949) itu ditahan Belanda di penjara Kudus pada 1949. Data itu juga menyebutkan, Mbah Djalil pernah ditahan di era pemerintahan Orde Lama di Salatiga pada 1952-1954.
Gemar Menulis
Perhatian KH. Abdul Djalil Hamid terhadap dunia keilmuan yang demikian tinggi, khususnya ilmu-ilmu agama, ditengah kesibukannya yang luar biasa, bisa dilihat dari berbagai karya (kitab) yang ditulisnya.
Berbagai karya Mbah Djalil, diantaranya yaitu Fathur-Rouf Al-Mannan, Rubu’ Mujayyab (Quadrant), Jadwal Rubu’, Dalil Al-Minhaj, Tawajjuh, Tuhfah Asy-Asyfiya’, Ahkam Al-Fuqoha’ dan Takkalam bil-Lughoh Al-Arobiyyah.
‘’Keseharian Bapak, dulu sukanya membaca kitab, membaca buku dan menulis. Dulu juga sering mengajar ngaji di masjid ini (Masjid Al-Hamidiyah–red.). Dulu, masjidnya masih sangat sederhana,’’ terang Hj. Roihanah yang didampingi putrinya, Nur Uswati, itu.
Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks
KH. Abdul Djalil Hamid meninggal dunia di Makkah Al-Mukarramah pada 16 Dzulqo’dah 1394 H. atau bertepatan dengan 30 November 1974.
”Yang membantu mengurusi pemakaman Mbah Djalil di Makkah waktu itu adalah Prof. Dr. KH. Maghfur Usman,” lanjutnya menambahkan.
Prof. Maghfur Usman merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) asal Cepu, Blora, yang pernah belajar di Madrasah TBS Kudus dan tercatat sebagai Mustasyar PBNU periode 2010-2015.
‘’Dulu, kalau Prof. Maghfur Usman berkesempatan hadir saat haul Mbah Djalil, beliau yang selalu membaca riwayat hidup Mbah Djalil,’’ tutur Hj. Roihanah.
Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan
KH. Abdul Djalil Hamid merupakan keturunan ke-8 dari KH. Mutamakkin Kajen, Pati. Ia menikah dengan istri pertama Siti Siryati Binti KH. Adnan Bulumanis Kidul dan dikaruniai seorang putri bernama Roudloh.
Sepeninggal istri pertama, Mbah Djalil menikah dengan Hj. Aminah Noor Binti KH. Noor Khudlrin, Baletengahan. Pernikahan dengan Hj. Aminah Noor ini, Mbah Djalil dikaruniai seorang putra, yaitu H. Hamdan Abdul Djalil.[]
(adb/ros)
