Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Wafatnya "Imam Ghozali Indonesia"; Mengenang Prof. DR. KH. M. Tolhah Hasan


rumahnahdliyyin.com - Suatu malam saya bertanya ke istri, "Kenapa beli kitab sebanyak ini?", sambil melihat puluhan kitab dengan hardcover hijau tua yang baru datang dengan beberapa judul: Mukhtashor fii Ulumiddin, Al-Ghunyatuth Tholibin, Al-Fathur Robbany karya Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani yang menumpuk di ruang tengah. Istri menjawab, "satu set untuk saya, satu set yang lain untuk (dihadiahkan ke) Kiai Tolhah."

Seingat saya, ini bukan yang pertama. Beberapa tahun sebelumnya, waktu ke Kairo, saya pernah mengantar istri keliling ke toko kitab di dekat kampus Al-Azhar, tujuannya sama: mencarikan kitab-kitab pesanan Kiai Tolhah Hasan tentang Fiqh dari 4 madzhab (Madzahibul Arba'ah). Bahkan, musim haji 2018 lalu, kepada istri saya, KH. Tolhah juga memesan kitab Quutul Qulub karya Abu Tholib Al-Maky.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Model interaksi keilmuan semacam ini yang sering dilakukan istri saya dengan Kiai Tolhah Hasan, baik sebagai kerabat maupun pengurus di Yayasan Al-Maarif Singosari, dengan menjadikan Kiai Tolhah Hasan sebagai "jujugan" utama dalam berkonsultasi ketika menemukan persoalan organisasi, pendidikan di lingkungan Al-Maarif dan pesantren, hingga urusan pemilihan kitab tafsir Al-Ibriz karya KH. Bisri Mustofa yang akan diajarkan istri ke jama'ah ibu-ibu di Masjid Besar Hizbullah Singosari.

Kiai Tolhah memang pribadi yang lengkap. Seorang organisatoris handal (memulai menjadi aktifis Ansor hingga menjadi pimpinan PBNU), memiliki kemampuan akademik dalam disiplin ilmu umum (Pendiri dan Rektor Unisma), serta kealiman dan penguasaan literatur keisIaman yang luas. Gus Dur, bahkan, pernah menyebut KH. Tolhah Hasan sebagai Imam Ghozali-nya Indonesia. Maka tak heran ketika KH. Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI keempat, KH. Tolhah Hasan diangkat sebagai Menteri Agamanya.

Baca Juga: Meski Diminta Istri untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Saya sendiri punya banyak pengalaman pribadi dengan Kiai Tolhah dalam banyak hal, termasuk mengaji rutin kitab Rowai'ul Bayan Tafsiir Ayatul Ahkam karangan Muhammad Ali Ash-Ashobuny ke beliau di kediaman Singosari. Di luar urusan mengaji, sejak saya aktif di Ansor PAC. Singosari hingga Cabang Kabupaten Malang, saya punya pengalaman ketika saya ditunjuk menjadi ketua panitia Harlah Ansor ke 69. Saya diminta untuk membuat buku (Tak Lekang Ditelan Zaman) tentang sejarah kepengurusan GP. Ansor Kabupaten Malang sejak berdiri hingga Kepemimpinan Sahabat Hanief (saat saya menjadi sekretaris cabang), maka KH. Tolhah menjadi salah satu sesepuh yang kami sowani karena beliau mantan Ketua PC. Ansor di awal Tahun 1960-an.

Baca Juga: KH. Raden Asnawi; Ulama yang Keras Terhadap Penjajah

Salah satu cerita beliau yang sangat menarik adalah: hampir semua ranting di tingkat desa/dusun di Kabupaten Malang pernah beliau kunjungi.

Ketika Haul Gus Dur Tahun 2013, saya diminta keluarga Ciganjur untuk menjadi narahubung KH. Tolhah Hasan untuk memberikan ceramah dan testimoni tentang Almarhum KH. Abdurrahman Wahid. Ketika selesai acara, saya menyaksikan Kiai Tolhah menolak diberi bisyaroh oleh panitia. Beliau begitu hormat kepada Almarhum Gus Dur dan merasa sebagai keluarga besarnya.

Sewaktu Persiapan Harlah Ansor Tahun 2012 di Solo yang akan dibuka Presiden SBY, saya pernah diminta Sahabat Nusron Wahid untuk mengantar sowan ke KH. Tolhah Hasan di rumah beliau di Cibubur. Tetapi waktu itu, KH. Tolhah Hasan bersamaan dengan agenda lain sehingga tidak bisa hadir dalam pemberian penghargaan sebagai sesepuh di Harlah Ansor ke- 78 di Solo.

Baca Juga: KH. M. Aniq Muhammadun; Pakar Nahwu yang Tersembunyi

Di tahun-tahun terakhir ketika KH. Tolhah Hasan memilih untuk menetap di Singosari, setidaknya ada dua pengalaman dibidang keorganisasian yang patut diteladani Warga NU: beliau "menolak" dicalonkan menjadi pucuk pimpinan organisasi. Pertama, ketika saya menyaksikan KH. Hasyim Muzadi sowan ke Kiai Tolhah Hasan agar bersedia dicalonkan sebagai Rois 'Aam dalam rangka persiapan Muktamar NU Jombang. Kiai Tolhah ngendikan tidak bersedia karena faktor usia. Kedua, ketika saya mengantar Pak LBP dan Mbak Yenny Wahid ke Singosari untuk sebuah diskusi kemungkinan Kiai Tolhah Hasan bersedia menjadi Ketum MUI, beliau juga menjawab tidak bersedia karena faktor usia.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Sebelum saya berangkat ke Tiongkok untuk melanjutkan studi S3, Kiai Tolhah sempat memberikan wejangan ke saya tentang kemajuan China yang perlu dipelajari. Bahkan dalam berbagai kesempatan pulang ke Indonesia, ketika bertemu beliau, KH. Tolhah sering mengenalkan saya ke beberapa orang sebagai pengurus NU Tiongkok.

Beberapa minggu lalu saya mendengar berita dari istri: Kiai Tolhah masuk RS dan memberikan update kabar perkembangan kesehatan beliau dari waktu ke waktu. Hari ini, 29 Mei 2019, saya menerima kabar tentang wafatnya tokoh dan kiai panutan kita semua, KH. M. Tolhah Hasan, "Imam Ghozali-nya Indonesia".

Kullu man 'alaiha faan, wayabqo wajhurabbika dzul jalaali wa al-ikroom.

Sugeng tindak, pak kiai...



* Oleh: Imron Rosyadi Hamid, Rois Syuriyah PCINU Tiongkok.
Read More

KH. Raden Asnawi; Ulama' yang Keras Terhadap Penjajah


rumahnahdliyyin.com - Seperti sudah menjadi hal yang wajar pada masa dulu, biasanya seseorang akan mengganti namanya sepulangnya dari berhaji. Begitu pula KH. Raden Asnawi. Sebelum bernama Asnawi, kiai kelahiran Kudus, pada tahun 1861 ini, bernama Ilyas.

Pergantian nama Ilyas ini terjadi setelah kepulangannya dari berhaji untuk kali yang pertama. Sebelumnya lagi, atau sebelum nama Ilyas, namanya ialah Ahmad Syamsi, yaitu nama lahirnya hingga ia berusia sekitar 25 tahun. Sedangkan nama Asnawi sebagaimana yang kita kenal sekarang, terjadi setelah kepulangannya dari tanah suci untuk yang ketiga kalinya.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Sejak usia dini, KHR. Asnawi kecil sudah diperkenalkan huruf-huruf Arab dan diajari Al-Qur'an oleh orang tuanya sendiri, yaitu H. Abdullah Husnin. Hal ini selain karena di daerahnya tinggal, yaitu Damaran, ada semacam pandangan bahwa orang Islam yang sempurna itu bisa dilihat dari kemahirannya membaca Al-Qur'an, juga karena H. Abdullah Husnin menginginkan anaknya pandai dalam bidang agama.

Selain ingin anaknya pandai dalam agama, H. Abdullah Husnin juga menginginkan supaya anaknya kelak pun piawai dalam berdagang. Karena itu, sekitar tahun 1876, orang tuanya memboyong Syamsi atau kiai Asnawi kecil ke Tulung Agung, Jawa Timur. Di sinilah kiai Asnawi diajari berdagang oleh ayahnya mulai pagi hingga siang. Dan waktu sisanya, kiai Asnawi mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulung Agung.

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Selain di Tulung Agung, kiai Asnawi juga belajar di Mekah. Ada cerita menarik ketika kiai Asnawi di Mekah. Ia pernah berdebat dengan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, mufti Mekah, lewat tulisan. Berkaitan dengan hal ini, Sayyid Husain Bek, seorang mufti dari Mesir, datang ke Mekah ingin bertemu dan berkenalan dengan kiai Asnawi.

Ketika Sayyid Husain Bek memasuki kediaman kiai Asnawi, ia melihat ada lelaki kecil yang sebelumnya tidak disangkanya kalau lelaki kecil itu adalah kiai Asnawi yang mana pendapatnya ia kagumi. Namun begitu diketahui kalau lelaki itu adalah kiai Asnawi, Sayyid Husain Bek pun memberikan salam dan mencium kepalanya.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Kiai Asnawi termasuk salah satu kiai yang ikut mendirikan jam'iyyah NU (Nahdlatul 'Ulama). Bersama KH. Wahab Chasbullah, Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari dan kiai-kiai lainnya, kiai Asnawi ikut dalam pertemuan di Surabaya pada tahun 1926. Sebagai ulama' senior waktu itu, beliau diangkat menjadi salah seorang Mustasyar NU.

Kiai Asnawi tergolong kiai yang keras terhadap penjajah. Sebagai contohnya, madrasah yang didirikannya (Qudsiyyah) waktu itu tetap memakai istilah "madrasah" kendati hal tersebut dilarang oleh pemerintah kolonial. Padahal, pemerintah mengharuskan harus memakai nama "school". Penolakan kiai Asnawi terhadap istilah "school" merupakan salah satu sikap pembangkangan terhadap penjajah.

Baca Juga: Perempuan Pengarang Kitab Kuning dari Banjar

Contoh lainnya lagi, kiai Asnawi marah besar bila melihat ada orang pribumi (Indonesia) yang memakai dasi. Sebab, hal itu menyerupai dengan penjajah kolonial Belanda.

Untuk contoh yang terakhir ini, ada cerita menarik yang ditulis oleh bapak Menteri Agama kita saat ini, yaitu bapak Lukman Hakim Saifuddin, dalam pengantar sebuah buku yang berjudul KHR. Asnawi; Satu Abad Qudsiyyah, Jejak Kiprah Santri Menara.

Begini kira-kira tulisan pak Menteri; pada tahun 1953, ketika kiai Asnawi berkunjung ke rumah KH. Saifuddin Zuhri di Semarang, kiai Saifuddin gugup dan minta maaf lantaran ia memakai dasi. Sebab, kiai Saifuddin ingat betul bahwa kiai Asnawi pernah marah sambil menarik dasi yang dikenakan oleh seorang pimpinan Ansor dalam sebuah Konbes Ansor. Mendengar kiai Saifuddin minta maaf, kiai Asnawi justru menenangkannya dengan berkata: "Lain dulu, lain sekarang. Dulu saya mengharamkan dasi karena ada 'illat (sebab hukum), yaitu tasyabbuh (menyerupai) Belanda, orang kafir. Sekarag memakai dasi tidak haram lagi karena tidak tasyabbuh dengan Belanda. Tetapi menyerupai Bung Karno dan Abdul Wahid Hasyim."

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Selain meninggalkan warisan berupa Madrasah Qudsiyyah, KHR. Asnawi yang ibundanya bernama Raden Sarbinah ini juga meninggalkan beberapa karya tulis. Diantara karya tulis kiai Asnawi yang masyhur yaitu Fasholatan dan Jawab Soalipun Mu'taqod.

Kiai Asnawi wafat pada 26 Desember 1959 M. atau yang bertepatan dengan 25 Jumadil Akhir 1379 H., sekitar pukul tiga fajar. Sampai kini, makamnya yang terletak di sebidang tanah yang masih satu kompleks dengan makam Sunan Kudus pun masih ramai diziarahi.[]



* Oleh: Agus SB, Khodim Madrasah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Sembilan Kalam Hikmah Abuya KH. Ma'ruf Amin


rumahnahdliyyin.com - Pada momentum Tasyakuran yang dihadiri oleh Relawan Lintas Iman dan Barisan Milenial, Abuya KH. Ma'ruf Amin berpidato cukup panjang. Berikut ini adalah butir-butir hikmah yang sempat saya catat dikala dengan khidmat menyimak tausiyah dan irsyadat dari beliau, yang secara umum berisi tentang peran ulama', kebangsaan, arus baru ekonomi Indonesia dan pesan-pesan terhadap generasi milenial:

1. Ulama itu harus faqih, munadhdhom dan muharriq. Faqih artinya 'alim secara keilmuan, juga secara amaliyah. Munadhdhom adalah organisatoris, yang artinya ulama' juga harus bisa menjalankan roda organisasi. Dan yang terpenting adalah muharriq yang artinya penggerak. Sebab, kalau bukan penggerak, maka ulama' akan digerakkan.

Baca Juga: Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Indonesia

2. Pada pundak mereka, ulama' mengemban dua tanggung jawab. Pertama mas'ûliyyah ummatiyyah, tanggung jawab keummatan. Dan yang kedua mas'ûliyyah wathoniyyah, tanggung jawab kebangsaan. Maka, mengurus umat sama halnya dengan mengurus bangsa.

3. Indonesia adalah dârul mîtsâq, rumah kesepakatan. Orang sering menyebutnya dârul 'ahdi. Namun, didalam Al-Qur'an ada istilah mîtsâqon Gholîdhon, yang artinya ikatan yang kuat.

4. Pancasila adalah kalimatun sawâ/common platform. Dan UUD 1945 adalah 'ittifâqôt akhowiyyah dan ittifâqôt wathoniyyah, perjanjian dua saudara dan perjanjian antar anak bangsa. Yang dimaksud perjanjian dua saudara adalah saudara muslim dengan saudara non-muslim untuk hidup rukun dan berdampingan.

(NB: Istilah dârul mîtsâq dan ittifâqôt akhowiyyah adalah istilah yang geniune yang datang dari Abuya KH. Ma'ruf Amin sendiri).

Baca Juga: Jangan Gunakan Nama Muslim untuk Sebar Hoax

5. Kalau ada yang bilang, kenapa ulama' bicara politik, maka jawabannya, dari dulu memang ulama' bicara politik. Dan terlibat dalam proses-proses politik. Politik ulama' adalah politik kebangsaan dan politik keummatan. Bukan politik dalam pengertian sempit untuk kepentingan pribadi dan segelintir golongan saja.

6. Konflik ideologi harus kita benahi. Supaya anak bangsa bisa fokus belajar, bekerja dan berkarya. Kita tidak menutup pintu kritik, tapi kritik yang beretika. Bukan dalam rangka mengganggu dan menggoyang-goyang kepemimpinan yang sah.

7. Arus baru ekonomi Indonesia adalah sebuah paradigma ekonomi yang berarti menguatkan yang lemah, dengan tidak melemahkan yang kuat. Artinya, semua sama sama saling menguatkan.

Baca Juga: Pesantren An-Nawawi Tanara Bangkitkan Ekonomi Ummat dari Pesantren

8. Generasi milenial harus berakhlak, berkarakter dan punya fighting spirit yang kuat. Perolehan medali kita di ASIAN GAMES kemarin adalah bukti bahwa kita bangsa yang kuat dan petarung.

9. Generasi milenial kalau dilempar ke laut, jadilah pulau. Kalau dilempar ke darat, jadilah gunung. Artinya, dimanapun kalian berada, kalian harus muncul dan menonjol diantara yang lain.

Demikianlah sembilan butir-butir hikmah yang saya rangkum dari tausiyah Abuya KH. Ma'ruf Amin. Semoga bisa menjadi semacam oase di tengah kerontangnya sahara politik dan situasi kebangsaan kita.[]



* Oleh: Khairi Fuady, Konsolidator Relawan Lintas Iman Kiai Ma'ruf.

Sumber: libertynesia.id.
Read More

Inflasi Ulama


rumahnahdliyyin.com - Dalam kondisi tercabik perang saudara dan dalam durasi tidak sampai satu bulan, Yaman kehilangan tiga ulamanya. Belum lama ditinggal wafat Al-Habib Salim Asy-Syathiri pada pertengahan Februari, di awal bulan ini, Al-Habib Idrus Bin Sumaith syahid di atas sajadahnya. Beliau dibunuh teroris, 3 Maret silam.

Dua hari berselang, seorang ulama zahid yang dijuluki 'Ainu Tarim (matanya Kota Tarim), Al-Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi Bin Syihab, menyusul dua sahabatnya. Tidak sampai satu bulan, Tarim, Hadramaut kehilangan permata ilmunya. Ketiga ulama ini masyhur ketajaman mata hatinya dan menjadi punjer-nya Yaman.

Baca Juga:
Kriminalisasi Ulama di Masa Khilafah
Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Di awal Maret ini pula, KH. R. Abd Hafidz bin Abdul Qadir Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, berpulang ke hadirat-Nya. Ulama sederhana, yang menjadi penjaga wahyu sebagaimana ayah dan kakeknya.

Satu per satu tiang pancang ilmu dirobohkan oleh Allah SWT. Kita bersedih bukan hanya karena ditinggalkan beliau-beliau. Melainkan karena kita tidak mampu menyerap gelontoran ilmu saat beliau-beliau masih hidup. Kita juga bersedih bukan hanya semakin sedikitnya stok ulama. Melainkan karena kewafatan beliau-beliau, meninggalkan generasi yang rapuh seperti saya, dan mungkin juga anda. Wafatnya beliau-beliau menjadi penanda apabila satu ulama berpulang, ikut pula keilmuan yang dimiliki.

Ibaratnya dalam dunia sepakbola, satu pemain pensiun, tidak akan bisa digantikan oleh pemain dengan kualitas yang setara. Pele, Maradona, Zidane, tidak akan bisa digantikan oleh Messi, Ronaldo, Mohammed Salah dan sebagainya. Kemampuan mereka genuine, tidak bisa dikloning dan tidak bisa di-kopipaste. Semua punya karakter dan kemampuan yang khas.

Demikian pula dalam dunia ulama. Satu orang KH. Hasyim Asy'ari, tidak bisa ditiru oleh KH. Hasyim Muzadi. Keduanya punya karakter, keilmuan dan gaya yang khas.

Di sinilah barangkali alasan mengapa dalam kitabnya, Tanqihul Qaul, Syaikh Nawawi Al-Bantani menukil sabda Rasulullah SAW. yang termuat dalam Lubabul Hadits-nya Imam As-Suyuthi bahwa diantara tanda orang munafik adalah tidak bersedih atas wafatnya seorang ulama (Baginda SAW. mengucapkan "munafik" sebanyak tiga kali).

Kalau kita biasa-biasa saja, merasa wajar atas robohnya tiang rumah kita, berarti ada yang eror dalam pribadi kita. Demikian pula ketika ada tiang pancang dunia bernama ulama yang wafat dan kita santai, tidak menampakkan simpati, mungkin ada sesuatu yang hilang dari kita. Jangan-jangan, kita bagian dari kaum munafik itu? WaLlâhu a'lam.

Baca Juga:
Dunia Berharap Kepada NU
Madzhab Gantung Kaki

Karena itu, mengingat gentingnya kewafatan para ulama, Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith, dalam Al-Manhajus Sawi, membuat penjelasan tersendiri. Dengan mengutip pendapat Imam Baghowi dalam tafsirnya, Habib Zain memuat QS. Ar-Ra'd ayat 41 (dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?) dengan memaknai apabila "pengurangan" dalam ayat ini bermakna kematian para ulama dan hilangnya ahli fiqh.

Begitu berharganya seorang ulama hingga dalam kitab ini pula Habib Zain mengutip kalimat Sayyidina 'Abdullah ibnu Mas'ud radliyaLlâhu 'anhu bahwa kematian seorang ulama adalah lubang dalam Islam dan tidak ada yang bisa menambalnya sepanjang siang dan malam. Oleh karena itu, kata Ibnu Mas'ud, carilah ilmu sebelum dicabut. Dan, ilmu dicabut dengan kematian orang-orangnya.

Demikian gawatnya kewafatan seorang ulama hingga Sayyidina 'Ali karramaLlâhu wajhah juga menganalogikannya dengan telapak tangan. Apabila dipotong salah satunya, maka tidak bisa tumbuh kembali.

Demikian beberapa keterangan yang termuat dalam Al-Manhajus Sawi karya Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith.

***

Dalam Konferensi Dakwah yang dihelat di Magelang, 1 Oktober 1951, KH. A. Wahid Hasyim melontarkan statemen keras bahwa saat itu sebutan ulama sudah mengalami inflasi. Inflasi tersebut, menurut Kiai Wahid, diakibatkan dari banyaknya ulama "palsu" yang beredar sebagaimana inflasi dalam bidang ekonomi karena banyaknya peredaran uang palsu.

Banyak orang yang disebut ulama hanya untuk menunjukkan bahwa menjadi ulama itu tidak sulit. Meskipun pengetahuan keagamaan mereka dangkal, tetapi mereka dipandang sebagai pemimpin Islam. Mereka justru malah memimpin para ulama yang sesungguhnya. Bahkan, membatasi ruang geraknya.

Statemen kiai Wahid Hasyim diatas, dikemukakan kembali oleh KH. Saifuddin Zuhri dalam bukunya Berangkat dari Pesantren.

Jika di era 1950-an saja kiai Wahid menilai seperti itu, lantas bagaimana dengan kondisi sekarang. Dimana selain banyak yang mendaku diri sebagai ulama, juga ada yang berlagak mujtahid mutlak yang dengan songong dan sombong bilang tidak perlu merujuk pendapat otoritatif para ulama, cukup merujuk pada Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Benarlah jika demikian, kewafatan para ulama ternyata juga memunculkan generasi yang tidak tahu diri karena terlalu tinggi menilai kualitas dirinya.

WaLlâhu a'lam bishshowâb.


* Oleh: Rijal Mumazziq Z., Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Surabaya.
Read More

Politiknya Kiai


rumahnahdliyyin.com - Kiai itu bukan cendekiawan yang–seperti ditamsilkan oleh Arief Budiman—berumah di angin. Pergulatan ilmiah memang menempati satu ruang istimewa dalam perihidup kiai. Tapi bukan yang paling banyak menyita energinya.

Melanjutkan tradisi yang telah dimapankan sejak era Wali Songo, sosok kiai hadir terutama sebagai missionaris. Dalam perkembangan kiprahnya, kiai beserta para pengikutnya membangun komunitas tersendiri yang independen–oleh Gus Dur digambarkan sebagai subkultur dimana kiai kemudian tegak sebagai pemimpin paripurna.

Ia mengayomi kehidupan rohani pengikut-pengikutnya, sekaligus menggeluti segala tungkus-lumus duniawi mereka. Ia mewakili, memakelari dan seringkali harus mengkonsolidasikan mereka untuk “menghadapi dunia luar”.

Dalam konteks ini, jelaslah bahwa kiai, pada dasarnya, juga pemimpin politik. Sepanjang sejarah, kiai senantiasa menjadi pengimbang (counterfailing-elite) terhadap para penguasa keraton.

Baca Juga: Mengapa Indonesia Tidak Mau Negara Islam

Catatan Sartono Kartodirdjo, bahkan lebih menegaskan lagi fungsi kepemimpinan politik kiai: pada sekitar 600 kali pemberontakan petani melawan VOC selama abad ke-19, hampir seluruhnya diprakarsai oleh gerakan-gerakan tarekat, dimotivasi dengan seruan-seruan agama dan dipimpin oleh… kiai! Ketika komunitas disekitar kiai mengalami tekanan dari luar, fungsi kepemimpinannya menuntutnya untuk tidak tinggal diam.

Semua analisis sosiologi dan ekonomi menyatakan bahwa dibawah rezim kapitalis moderen, komunitas-komunitas lokal semakin tertekan. Politik ekonomi negara justru cenderung mempersempit ruang gerak mereka. Lebih-lebih setelah globalisasi, dimana negara sendiri tertekan oleh kekuatan-kekuatan raksasa global, komunitas-komunitas lokal kian lantak.

Ditengah situasi ini, bukankah peran politik kiai sebagai pemimpin lokal semakin relevan? Bahkan, cukup banyak kiai masa kini yang semangat berpolitiknya tumbuh justru karena masih diliputi “romantisme peran kepemimpinan masa lalu” itu.

Hanya saja, kiprah politik kiai dewasa ini memang menunjukkan tanda-tanda “dekaden”. Pengaruhnya memudar. Langkah-langkahnya rombeng dan tumpul. Pilihan-pilihannya ceroboh. Sasaran-sasarannya "remeh". Tak heran jika sebagian orang menjadi jemu dibuatnya. Kemudian menyerukan agar kai-kiai berhenti saja dari mengurusi politik.

Baca Juga: Dunia Berharap Kepada NU

Dekadensi itu berakar pada sekurang-kurangnya sejumlah faktor berikut:
Pertama, wawasan politik kiai belum juga beranjak dari wacana kitab kuning. Dalam wacana kepustakaan klasik pesantren itu, kekuasaan hanya dikaitkan dengan jabatan (imaamah). Maka, yang dibicarakan hanya seputar kriteria normatif calon pejabat (imaam), tata-cara mendaulat pejabat (nashbul imaam) dan etika kepejabatan atau panduan akhlaq untuk pejabat.

Politik memang soal kekuasaan. Tak ada politik tanpa keterkaitan dengan kekuasaan. Masalahnya, kebanyakan kiai belum menyadari adanya wujud-wujud kekuasaan selain jabatan. Yang tampak dari kiprah politik mereka nyaris seluruhnya berkutat diseputar dukung-mendukung calon pejabat di berbagai cabang dan tingkat pemerintahan.

Kiai belum cukup memahami kekuasaan dalam wujud kekuatan kelompok penekan. Dalam wujud penguasaan sumberdaya-sumberdaya ekonomi, alam dan manusia. Dalam wujud jaringan kepentingan dan sebagainya. Memahami saja belum, apalagi memainkannya secara kreatif.

Kedua, gerusan peradaban global telah meruntuhkan batas-batas komunitas independen yang menjadi keratonnya kiai di masa lalu.

Kini, praktis kerajaan kiai hanya setakat pagar batas pesantrennya saja. Intensitas pergulatannya dengan masyarakat diluar pagar itu berkurang. Kalaupun masih ada ikatan khusus dengan kelompok-kelompok tertentu, posisi-pusat kiai lebih berwatak selebritas ketimbang kepemimpinan langsung.

Dengan sendirinya, penghayatan kiai terhadap kepentingan komunitas lokal pun berkurang. “Kepentingan sempit” dari lembaga pondok-pesantren miliknya sendiri semakin mendominasi motivasi politik kiai. Kalaupun ada agitasi tentang kepentingan yang luas, tema dan argumennya malah bersifat abstrak seperti: membela agama, anti-komunis, anti-liberal, anti-ahmadiyah, anti-porno dan sebagainya. Kepentingan riil dari komunitas lokal terlewati.

Celakanya, gagasan-gagasan abstrak yang akhir-akhir ini digemari sejumlah kiai itu–walaupun mungkin populer di media massa—justru oleh rakyat banyak tak dirasakan relevansinya dengan masalah-masalah nyata kehidupan mereka. Kiprah politik kiai pun kian teralienasi dari lingkungannya.

Ketiga, kemiskinan yang merajalela dan kehidupan ekonomi yang semakin sulit telah merontokkan nilai luhur dan ideologi dari daftar motivasi politik rakyat. Masa depan yang terasa gelap membuat mereka tak acuh pada kepentingan jangka panjang. Barangsiapa memberi sedikit kenyamanan untuk hari ini–bukan janji besok, apalagi masa depan yang jauh—kepadanyalah mereka berpihak. Bahkan agama itu sendiri kian tersingkir dari pusat pergulatan hidup mereka.

Jangan-jangan, merebaknya minat terhadap agama dewasa ini bukan demi agama itu sendiri. Yang terasa justru kesan bahwa masyarakat memburu agama seperti orang sakit mencari pengobatan alternatif: jalan pintas untuk keluar dari kesulitan.

Sambutan antusias terhadap seruan bersedekah tidak didorong oleh rasa keagamaan dan solidaritas sosial yang menguat, tapi oleh motivasi untuk memperoleh ganjaran rizqi yang berlipat dari yang telah dikeluarkan. Kiai dihayati sebagai dukun, politik uang diterima dengan riang-gembira.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis

Jelas bahwa yang menjadi masalah bukan keterlibatan kiai dalam politik, tapi kualitasnya. Menyerah dan menarik diri dari politik, justru berarti putus asa.

Tantangan kiai adalah bagaimana memperkaya wawasan, memperdalam intensitas keterlibatan dengan kepentingan-kepentingan kaum lemah dan mengasah kreatifitas dan keterampilan dalam memberdayakan dan memanfaatkan instrumen-instrumen politik yang lebih beragam.


* Oleh: KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), pernah menjadi Juru Bicara Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat ini sebagai Katib ‘Aam PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang.
Read More