Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan

Jasa Pak Harto Atas NU


rumahnahdliyyin.com - Sejauh ini, kalau saya perhatikan di linimasa, teman-teman yang mengucapkan selamat Hari Santri Nasional kok hanya teman-teman yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Selebihnya, mungkin mereka yang punya hubungan batin dengan pesantren. Kalaupun tidak, mungkin punya hubungan dengan NU. Untuk benar tidaknya hal ini, silakan diamati sendiri.

Bicara tentang santri, niscaya harus menyinggung soal pesantren. Sedangkan bicara tentang pesantren, tentu tak bisa menghindar dari membicarakan NU. Ketiganya adalah unsur yang tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.

Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua untuk Nahdliyyin di Jawa

Kendati berbagai lembaga survei telah menunjukkan bahwa NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia, ada saja pihak-pihak yang mempertanyakannya. Katanya, NU hanya besar di Jawa saja. Di lain daerah tidak. Dan memang harus diakui demikianlah adanya.

Sayangnya, NU kurang memperhatikan kekurangannya itu. Walhasil, pihak-pihak yang komplain tadi buru-buru berlari kencang ke daerah-daerah luar Jawa untuk menyebar benih ormas/Islam versinya yang kemudian mengakar kuat di sana. Dan dewasa ini cengkeraman ini agak terasa sepertinya.

Baca Juga: NU Dimata Romo Benny

Di luar Jawa memang ada NU. Dan sebagian besar adalah NU kultural. Dalam artian, dalam keseharian ibadahnya ala NU. Kendati ala NU, bahkan tidak sedikit yang tidak tahu apa itu NU. Bahkan mendengarnya pun pelum pernah. Jangan heran pula bila mereka memang tak tahu. Karena faktanya memang tak tahu. Tahunya Islam. Titik. Kendati Islam yang dijalankannya selama ini adalah Islam ahlissunnah wal-jama'ah annahdliyyah. Dan muslim "thok" seperti inilah yang sangat mudah "digeret" oleh agen Islam "yang aneh-aneh."

Harus diakui memang kalau NU itu Jawa Centris. Di mana ada orang Jawa, di situlah ada kepengurusan NU. Bisa dikatakan hampir di seluruh propinsi dan daerah di Indonesia ini pasti pengurus NU-nya mayoritas orang Jawa. Di Sumatera, di Kalimantan, di Sulawesi, hingga di Papua.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Tahukah kita siapa yang paling berjasa atas adanya kepengurusan NU di luar Jawa? Tahukah kita siapa yang telah berjasa besar menyebar benih-benih Islam rahmah ke seluruh penjuru Nusantara? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah pak Harto.

Sebagaimana kita ketahui bersama, banyak diantara penduduk menengah ke bawah pada masa Orde Baru di Indonesia adalah warga Nahdliyyin. Dan tidak sedikit diantara mereka yang santri. Dan pak Harto-lah yang menyebar kelas sosial ini ke seluruh penjuru Nusantara lewat programnya transmigrasi. Kendati transmigrasi, mereka tetap berusaha ngurip-urip NU di daerah di mana mereka berada. Inilah hebatnya para transmigran dulu. Saya menduga, mereka melakukan ini mungkin terngiang-ngiang dawuhnya Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari yang kurang lebih berbunyi: "Siapa yang mau mengurusi NU, maka akan ku anggap sebagai santriku. Dan siapa yang jadi santriku, maka aku do'akan husnul khotimah beserta anak-cucunya."

Baca Juga: Kekecualian Nahdlatul Ulama'

Dan mumpung sekarang adalah hari di mana kita semua tengah memperingati Hari Santri Nasional, saya ingin mengajak berpikir siapa saja (tentu saja bagi yang mau), terutama buat sedulur-sedulur santri semuanya: "Sekarang sudah tak ada pak Harto. Tak ada program transmigrasi. Terlebih, kebanyakan dari kita pun sudah berada di titik nyaman di Jawa. Lalu, bagaimanakah supaya kita bisa menambal kekurangan NU di luar Jawa yang saat ini masih minim dan 'terancam' oleh adanya Islam 'aneh-aneh' itu? Bagaimanakah caranya supaya cara berislamnya santri yang rahmah ini bisa mengakar di seluruh penjuru negeri?"

Akhirnya, selamat berpikir dan jangan lupa sambil ngopi.

Salam.



* Oleh: Agus SB, Khodim Madrasah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Memahami Islam Nusantara


rumahnahdliyyin.com - Saya bertumbuh dalam warna Muhammadiyah. Setidaknya, masjid di kampung saya, dulu, sholat Tarawih 11 roka'at meski dalam berbagai urusan masih tercampur dengan "fikih NU".

Pada masa remaja, saya ikut Ibu pulang kampung ke Kauman, Jogjakarta, tempat lahirnya Muhammadiyah. Hanya ada satu warna dalam memahami dan mempraktikkan agama ini. Sudah pasti saya pun hanya tahu sedikit-sedikit. Bangga saja terhadap kisah-kisah masa lalu dari ibu saya tentang bapak beliau, KH. Abdul Hamid, yang adalah imam Masjid Agung Kauman, yang ditunjuk langsung oleh Sri Sultan dan ikut mendirikan Muhammadiyah.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Diluar itu, berbagai pengajian, terutama ceramah idola saya dulu, pak Amien Rais, mengkristalkan sudut pandang saya perihal agama ini. Saya remaja putih abu-abu yang mendeklarasikan partai Matahari Terbit di Lapangan Kridosono. Begitu menggebu-gebu.

Ketika menjadi wartawan pada awal 20-an, saya jadi punya kesempatan untuk memahami macam-macam aliran pemikiran dari rumah ibadah mereka, dari imam-imam mereka: Ahmadiyah, LDII, Syi'ah dan lainnya.

Babak yang cukup berat, karena pada saat yang sama, justru saya ada dalam disiplin pembelajaran Tarbiyah. Pengajian mingguan yang menggebukan ghiroh perjuangan, gerakan turun ke jalan yang menggemakan takbir, persaudaraan para anak muda pendakwah yang hangat dan membuat masa muda begitu ngangenin. Saya bahkan menjadi penyanyi nasyid.

Pula, pada waktu ini saya berkuliah di kampus dengan sentuhan Wahhabi yang sangat kuat. Ketika Pancasila menjadi gurauan di kelas perkuliahan.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Namun, jurnalistik benar-benar membantu saya untuk menemukan formula toleransi pada masa-masa sulit ini. Bahwa, toleransi kemudian saya artikan bukan kecenderungan untuk berdiam di kotak masing-masing. Toleransi mesti diawali dengan memahami. Diskusi tanpa tendensi. Memahami keyakinan suatu kelompok, berpikir dengan alam pikiran mereka pada prosesnya, lalu kembali kepada keyakinan sendiri.

Itulah mengapa saya kian tak terganggu dengan perbedaan. Bahkan, pada gilirannya, saya bisa memahami Trinitas Kristiani. Memahami, bukan mengimani.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Lalu, pada usia yang kian jauh dari titik remaja ini, saya merasa sangat....sangat nyaman dengan berbagai pemikiran NU. Terutama perihal ke-Indonesia-an.

Menyimak berbagai ceramah kiai-kiai NU, membuka sumbatan yang telah lama menyumpal kebebalan otak saya. Tentang Indonesia, misalnya, saya memahami baru-baru ini. Para kiai melihat Indonesia dengan kacamata yang sangat khas. Tidak terbaca dari sudut pandang yang ahistoris. Maka, menyimak ceramah Gus Wafiq, contohya, saya tidak hanya belajar Tauhid, tapi juga sejarah.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Mengapa tidak perlu menbenturkan Islam dengan ke-Indonesia-an? Sebab, Indonesia itu lahir dari rahim ijtihad para ulama. Mereka yang kearifannya tidak terjangkau keawaman umat. Hidup pada masa lalu, namun bervisi ratusan tahun ke depan.

Muslim Indonesia adalah "warisan" ulama. Para ulama adalah ahli waris para wali. Mereka yang menanam Islam dalam peradaban Nusantara yang sudah amat tinggi. Peradaban yang sanggup menolak segala bentuk penetrasi. Nusantara bukan sebuah peradaban kosong nilai, bahkan sebelum masa Hindu-Buddha.

Maka, formula Muslim Indonesia telah disiapkan begitu baik, teliti, bijaksana. Praktik Islam dalam keberagaman. Suatu kesadaran yang melahirkan sebuah entitas bernama Indonesia.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Jadi, saya memahami bahwa Pancasila itu nama yang telah ada sejak zaman Majapahit. Namun, isinya menjadi amat bertauhid Islam ketika dilahirkan kembali pada masa kemerdekaan.

Saya baru paham, saya benar-benar baru paham, oh, inikah maksudnya mengapa para ulama NU begitu kukuh dengan konsep Indonesia dan Pancasila. Sebab, keduanya adalah bagian tak terpisahkan dari ijtihad melahirkan identitas Islam Indonesia atau Islam Nusantara. Label yang memicu kesalahpahaman ketika tidak dimengerti dengan proses memahami.

Maka, saya bahagia karena menjadi tahu betapa terberkahi Tanah Air ini. Mewarisi kearifan hati, kecerdasan pikiran, ketinggian ilmu para ulama yang menjaga Indonesia.

Saya belajar memahami, lalu berusaha bertoleransi.[]



* Oleh: Tasaro GK.
Read More

NU Dimata Romo Benny


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Dalam acara peluncuran buku "NU Penjaga NKRI" pada Selasa, 10 April 2018, di Aula PBNU lantai 8, Jakarta, Romo Antonius Benny Susetyo yang juga menjadi narasumber mengatakan bahwa NU selalu hadir dimana-mana, tetapi tidak ke mana-mana.

Orang NU, menurutnya, bisa menyatu dengan segala lapisan. Dari situlah, muncul relasi yang baik. Dan karena itu pula, ada suatu kepercayaan yang bahwa masyarakat NU tidak membeda-bedakan. Dalam beriman, orang NU sudah melompat dari politik identitas karena dihayati dalam nilai kemanusiaan. Berdasar nilai kemanusiaanlah, NU tampil pada era reformasi.

"Dari kemanusiaan itulah orang tidak lagi membedakan suku, identitas," kata Romo Benny seperti yang diberitakan oleh nu.or.id.

Baca Juga: Bersatunya NU dan Muhammadiyah Menunjukkan Utopisnya Khilafah

Lebih lanjut, ia pun memberikan gambaran di Sampit, Madura, yang tidak pernah muncul stigma negatif atas bantuan dari agama Katolik. Warga di sana tidak menuduh adanya kristenisasi dibalik itu. Ia juga mengungkapkan bahwa Gus Dur sebagai representasi NU selalu pasang badan dalam forum demokrasi. Gus Dur memberi pembelaan terhadap Romo Mangunwijaya ketika hendak ada yang menuduhnya PKI.

"Gus Dur menjadi pelekat dari sebuah demokratisasi," ujarnya.

Selain berperan sebagai penjaga negara, NU juga menjadi pusat peradaban. Hal itu karena mengingat peran NU yang mempertemukan Islam dan budaya yang kemudian melahirkan ajaran agama yang penuh kasih.

"NU sebenarnya menjadi pusat. Tidak hanya pusat penjaga NKRI, tetapi juga pusat peradaban," ungkap pria kelahiran Malang, 50 tahun silam itu.

Baca Juga: Rais 'Aam PBNU Titip NU Pada Raja Bali

Ditengah kegersangan yang melanda negara ini, NU juga berdiri menjadi oase. NU menjadi penyejuk dengan merangkul semua elemen dan kalangan. Hal inilah yang meyebabkan NU sebagai pusat peradaban. Dalam hal ini, bangsa Indonesia berhutang kepada NU.

"Bangsa ini berhutang terhadap NU," terang alumnus Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang, itu.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau ndonesia Menjadi Negara Islam

Selain itu, Romo Benny juga menguraikan tiga kesetiaan NU. Pertama, NU konsisten berpandangan bahwa NKRI adalah negara kebangsaan, bukan negara yang berdasarkan agama tertentu.

Kedua, NU setia mengembalikan Pancasila kepada rel yang benar. Dari sinilah, NU selalu ada pada setiap krisis yang melanda bangsa ini yang merupakan kesetiaannya yang ketiga.

Oleh karena itu, menurut Romo Benny, NU dibutuhkan bangsa ini sebagai alat pemersatu bangsa.[]


(Redaksi RN)
Read More

Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama berpandangan bahwa tahun Pilpres, Pilkada dan Pileg ini sebagai proses demokrasi yang harus dihadapi secara dewasa dan dijalani dengan tenang dan damai. Demikian salah satu hasil Rapat Syuriah-Tanfidziyah yang digelar di Jakarta, Selasa siang, 6 Maret 2018.

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., mengatakan bahwa di tahun demokrasi ini, seluruh pengurus NU, baik di Lembaga maupun Badan Otonom, harus tunduk terhadap aturan organisasi.

"Yang paling mudah tunduk kepada aturan NU itu, semua pengurus NU tidak boleh menggunakan atribut NU untuk kepentingan politik praktis. Ini aturan mutlak. Tidak boleh ditawar," tegas kiai Said Aqil.

Kiai Said menambahkan lagi bahwa sebagai warga negara, pengurus NU boleh memilih dan dipilih. Konsekuensi organisasi saat dipilih, itu ada. Begitu juga aturan saat memilih, juga ada. Etika berpolitik bagi pengurus NU itu sudah jamak diketahui oleh pengurus NU, baik di Lembaga maupun Badan Otonom.

"Saya tidak perlu menggurui karena aturan NU sudah diketahui oleh pengurus. Karena itu, PBNU hanya menyegarkan kembali atas etika berpolitik bagi pengurus NU," imbuh pengasuh Pondok Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur tersebut.

Berkaitan dengan beberapa kader NU yang mengikuti kontestasi Pilkada, kiai Said Aqil menyerukan agar menjunjung tinggi etika berpolitik NU dan menjaga persaudaraan sesama warga bangsa. Menurut kiai Said, Pilkada tidak lebih penting daripada persaudaraan sesama anak bangsa.

"Bagi politisi, kekuasaan itu penting untuk mewujudkan idealisasinya. Tidak kalah penting lagi adalah persaudaraan untuk mewujudkan ketenangan dan ketenteraman kehidupan anak bangsa," terang kiai Said.

Rapat Syuriah-Tanfidziyah PBNU yang dimulai sejak siang hari dan baru selesai menjelang tengah malam itu, membahas beberapa agenda. Diantaranya yaitu tentang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan tahun politik Indonesia.




(Redaksi RN)
Read More

Lawan Kebencian, Mari Bangun Algoritme Kebersamaan


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, mengingatkan pentingnya kecerdasan dalam bermedia sosial. Hal itu diungkapkannya pada Selasa malam kemarin, 6 Maret 2018, dalam agenda acara "Istighotsah dan Diskusi Politik dan Cyber: Menuju Medsosul Karimah" di Masjid PBNU, Jakarta Pusat.

"Sekarang ini, yang penting bagi kita semua itu kecerdasan bermedia sosial. Agar Indonesia tetap tenang dan damai. Tidak terusik dari kekisruhan di media sosial. Kita harus lawan kebencian. Kita bangun algoritme kebersamaan," paparnya.

Pada acara ini, hadir pula Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU), KH. Miftahul Akhyar (Wakil Rais 'Aam PBNU), KH. Said Asrori (Syuriah PBNU), Kombes Mulya (Polri), Suwadi D. Pranoto (Wasekjen PBNU), KH. Aizzudin Abdurrahman (Ketua PBNU), Sabrang Damar Mowopanuluh (Noe Letto), KH. Atholillah Habib (Waketum Pagar Nusa) dan Hasanuddin Wahid (Sekum Pagar Nusa).

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj, dalam kesempatan ini mengajak warga Nahdliyyin dan semua warga Indonesia untuk cerdas dalam bermedia sosial. Beberapa negara Timur Tengah yang telah mengalami krisis dan konflik pun di sebutkan sebagai pembelajaran.

Baca Juga:
Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol
Ppagar Nusa Temanggung Adakan Muskercab

"Kita lihat bagaimana perpecahan yang terjadi di Timur Tengah. Dari Syiria, Yaman, Libia dan beberapa negara di sekitarnya. Sebagian besar, diawali dengan perdebatan yang tak kunjung henti di media sosial. Ini harus kita sadari bersama," ungkap kiai Sa'id.

Lebih lanjut, kiai Sa'id mengajak umat muslim dan warga Indonesia untuk melawan kebencian. Sebab, jelas sekali bahwa kebencian, apalagi menebarnya, adalah suatu hal yang dilarang oleh ajaran agama.

"Sudah jelas, ajaran agama melarang kita untuk menebar kebencian. Yang harus dilakukan, yakni membagi kebahagiaan, amal sholih dan akhlaqul karimah," jelas kiai Sa'id.

Sementara itu, dalam kesempatan diskusi, Sabrang Damar (Noe Letto), menganalisa bagaimana berkembangnya media sosial serta tertinggalnya pemikiran warga Indonesia. Di hadapan ratusan pendekar dan jama'ah Istighotsah, Sabrang mengingatkan agar kita semua sadar diri ketika bermedia sosial.

"Sekarang ini, revolusi Industri tahapan ketiga. Kita pernah dengar bitcoin dan beberapa inovasi digital. Tapi, sekarang ini, warga Indonesia masih terpaku pada perdebatan yang riuh di media sosial," papar Sabrang.

"Kita harus lihat, bagaimana media sosial itu diciptakan, siapa yang menciptakan? Media sosial dirancang hampir sama dengan narkoba, agar addict (kecanduan). Medsos dicipta sedemikian rupa, agar pengguna kecanduan. Nah, ini yang harus kita pahami," imbuh Sabrang Noe Letto agak lebih rinci.

"Jangan seperti anak kecil yang berkelahi dengan anak kecil. Yang dibutuhkan sekarang ini adalah pawang yang mampu memayungi perdebatan-perdebatan yang ada," ucapnya kemudian.

Baca Juga:
Ketum PP. Pagar Nusa: Gerakan Intoleran, Tidak Bisa Dibiarkan
Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa

Sedangkan Suwadi D. Pranoto, pakar geostrategi, menyampaikan pentingnya menganalisa skenario dibalik penciptaan media sosial.

"Jelas, bahwa kita tidak hanya melihat media sosial, semata teknis teknologi digital. Kita harus melihat lebih mendalam. Aspek filosofis dan strategis dibalik itu," kata Suwadi yang akrab disapa dengan Cak Su ini.

Pada masa khidmah kepengurusan tahun 2017-2022, Pagar Nusa dibawah komando Nabil Haroen ini mengkonsolidasi diri dengan meluaskan jaringan dan meningkatkan kualitas pendekar. Sedangkan kegiatan Istighotsah dan Kajian yang diselenggarakan secara rutin tiap bulannya di Masjid PBNU ini merupakan ajang silaturrahmi kebangsaan dan menguatkan ukhuwwah Islamiyyah. []
Read More

Pagar Nusa Temanggung Adakan Muskercab


rumahnahdliyyin.com, Temanggung - Pengurus Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Temanggung periode tahun 2017-2022 menyelenggarakan Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) pada hari Minggu kemarin, 4 Maret 2018.

Muskercab yang diselengggarakan di komplek Pondok Pesantren Hidayatullah, Tuksongo, Pringsurat, Temanggung, ini merupakan salah satu permusyawaratan tertinggi ditingkat PC. PSNU Pagar Nusa.

Baca Juga:
Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa
Ketum PP. Pagar Nusa: Gerakan Intoleran Tidak Bisa Dibiarkan
Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol

Jumlah peserta yang hadir dalam Muskercab kali ini ada sebanyak 57 orang. Jumlah itu terdiri dari peserta penuh dan peserta peninjau.

Peserta penuh merupakan Pengurus Cabang PSNU Pagar Nusa Temanggung. Sedangkan Peserta peninjau terdiri dari unsur pengurus Syuriyyah dan Tanfidziyah PCNU Temanggung, Dewan Khos Pagar Nusa yang diundang resmi oleh panitia, Dewan Khos PC. Pagar Nusa, utusan Padepokan Silat yang tergabung dalam wadah PSNU Pagar Nusa (seperti LGBR, Gasmi, Ababil dan Cimande) serta para awak media massa.

Diantara tujuan diadakannya kegiatan Muskercab PC. PSNU Pagar Nusa ini yaitu:
  1. Mengevaluasi pelaksanaan program kerja PC. PSNU serta sebagai laporan berkala kepada PCNU.
  2. Membahas dan menetapkan kerangka kerja bidang-bidang strategis sesuai dengan perkembangan Pencak Silat NU di tengah masyarakat
  3. Membahas dan menetapkan kerangka kerja penyelesaian masalah-masalah organisasi dan keanggotaan. 
Rangkaian acara ini dimulai dengan upacara pembukaan yang dihadiri oleh PCNU Temanggung, Dewan Khos dan PC. PSNU Pagar Nusa Temanggung, dan dilanjutkan dengan sidang pleno yang dibagi menjadi 3 komisi:
  • Komisi A, yaitu dengan agenda pembahasan dibidang advokasi dan hukum, komunikasi dan penguatan jaringan serta ketabiban.
  • Komisi B, yaitu diagendakan untuk sidang pengembangan seni bela diri, bidang wasit-juri dan bidang pasukan inti.
  • Komisi C, yaitu sidang dibidang penelitian dan pengembangan, baik pengembangan ekonomi kreatif maupun pengembangan organisasi dan keanggotaan.
Adapun beberapa hasil sidang pleno dari Muskercab kali ini yaitu:
  1. Pengurus Cabang segera merumuskan program kerja dan rencana strategis terkait dengan penguatan organisasi dan jaringan ke seluruh Anak Cabang (Kecamatan) se-Kab. Temanggung.
  2. Merekomendasikan kepada semua pangkalan dan padepokan silat yang tergabung dalam wadah PSNU Pagar Nusa Temanggung supaya melakukan updating data keanggotaan yang selanjutnya untuk membuatkan KTA sekaligus diagendakan untuk pelaksanaan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) pada tahun ini.
  3. Membentuk tim ekonomi kreatif demi kelangsungan organisasi sebagai Badan Otonom NU yang mandiri dan mampu menjawab berbagai tantangan kegiatan berbasis manajemen yang profesional.
  4. Meningkatkan peran dan fungsi PSNU Pagar Nusa sebagai benteng ulama', benteng Nusa Bangsa dan Agama. Selain itu juga sebagai olah raga prestasi yang terjun di kancah Kejurkab, Kejurda dan Kejurnas, serta even-even POPDA, Kejurprov, PON, dll. 
Diakhir Muskercab, acara dilanjutkan dengan sidang paripurna untuk menetapkan hasil sidang pleno oleh ketua PC. PSNU Pagar Nusa, yaitu K. Dukut Sri Widayat, dan dilanjutkan dengan upacara penutupan pada hari Minggu kemarin, 4 Maret 2018, sekitar pukul 15.00 Wib. []

(Eko Purwanto).
Read More

LTN NU dan Lazisnu Lombok Tengah Terbentuk


Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Lombok Tengah, resmi membentuk dua lembaga baru dibawah kepengurusan PCNU Lombok Tengah, yaitu Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Lombok Tengah dan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kabupaten Lombok Tengah.

Bertempat di Kantor PCNU Lombok Tengah, pada Jum'at lalu (3 Maret 2018), PCNU memandatkan pada Ahmad Jumaili, S. Pd.I dan Lalu M. Syamsul Arifin, S. Pd.I sebagai Ketua dan Sekretaris LTN NU Lombok Tengah dan pada Hamdan El-Haq, S. Pd.I, M. P.d.I bersama Muhammad Fahmi, M. Pd sebagai Ketua dan Sekretaris Lazisnu Lombok Tengah periode Kepengurusan 2016-2021. Sedangkan untuk bendahara, LTN NU dipegang oleh Ahmad Pahrurrozi, S. Sos.I dan Lazisnu dipegang oleh Mukminah, M. Pd.

Ketua PCNU Lombok Tengah, Lalu Fathul Bahri, S.Ip, yang juga Wakil Bupati Lombok Tengah, berpesan supaya para pengurus yang telah dimandati untuk mengurusi kedua lembaga ini segera bekerja cepat untuk membentuk divisi-divisi yang dibutuhkan serta menyusun program kerja yang realistis dan mampu dikerjakan.

"LTN NU akan segera memprogramkan pembuatan website informasi untuk PCNU dan penerbitan-penerbitan di Lombok Tengah. Begitu juga Lazisnu, akan segera bikin perwakilan Lazisnu di masing-masing MWC. Bangun komunikasi dan koordinasi dengan ulama'-ulama' kita di masing-masing MWC. Kalian sowan ke semua tokoh NU," ungkapnya saat koordinasi dengan dua lembaga ini disela-sela Rapat Panitia Perayaan Hari Lahir (HARLAH) NU Yang ke-92 di Praya, Sabtu lalu di Praya.

Lanjutnya, kedepan, semua database warga NU Lombok Tengah bisa dikelola dengan Baik. LTN NU dan Lazisnu bisa bekerja sama untuk membuat program pemberdayaan-pemberdayaan masyarakat yang lain, seperti pelatihan-pelatihan IT dan penulisan, penggalangan dana sosial bencana, kematian dan pengelolaan zakat, infaq dan shodaqoh di Lombok Tengah.

"Saya ingin semua warga NU punya Kartu NU (Kartanu). Dengan Kartanu ini, kita akan punya database besar yang dikelola oleh LTN sehingga pengelolaan apapun bisa kita kontrol," imbuhnya.

Dengan database seperti ini, tambahnya, setiap warga Nahdliyyin yang meninggal, akan dapat diberikan santunan kematian oleh warga NU sendiri. Begitu juga santunan yatim, tua jompo dan penyandang disabilitas.

"Setiap kematian, misalnya per-orang warga Nahdliyyin donasi atau sedekah sepuluh ribu atau lima ribu saja, dikalikan dengan jumlah Nahdliyyin yang ada di Lombok Tengah, wah, itu akan sangat dahsyat hasilnya" tandasnya.

Karenanya, Fathul sangat berharap, pengurus didua lembaga yang baru dibentuk ini, dapat bekerja secara maksimal dan ikhlas untuk perjuangan Nadlatul Ulama.

"Insya Allah, setiap perjuangan kita di Nahdlatul Ulama ini, betapapun kecilnya, akan mendapatkan berkah dari Allah. Alasannya cuma satu, karena kita mengurusi organisasi para ulama'," pungkasnya. []
Read More

Ijazah Do'a Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari Untuk NU


Dalam salah satu maqolahnya, Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa “Siapa yang mau mengurusi NU, aku anggap sebagai santriku. Siapa yang jadi santriku, maka aku doakan husnul khatimah beserta keluarganya”.

Hal ini semestinya menjadi penyemangat kaum muslimin untuk menghidupkan dan memajukan NU. Salah satu diantara ikhtiar untuk memajukan NU adalah berdo'a demi kebaikan NU kedepan.

Dalam hal ini, KH. Hasyim Asy’ari mengijazahkan do'a sebagai berikut:

 دُعَاءُ حَضْرَةِ الشَّيْخِ كِيَاهِي حَاجِي مُحَمَّدْ هَاشِمْ أَشْعَرِي رَحِمَهُ الله

اَللّٰهُمَّ أَيْقِظْ قُلُوْبَ الْعُلَمَاءِ وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نَوْمِ غَفْلَتِهِمِ الْعَمِيْقِ وَاهْدِهِمْ إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَا
اَللّٰهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ أَحْيِ جَمْعِيَّتَنَا جَمْعِيَّةَ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ حَيَاةً طَيِّبَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ بِبَرَكَةِ “فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧)”، “فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: ٣٧٧)”. وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَسُوْءٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
(٣x بعد المفروضة)

أجازنا الشيخ خطيب عمر، عن والده الشيخ عمر، عن الشيخ أسعد شمس العارفين، عن حضرة الشيخ محمد هاشم أشعري رحمهم الله

Artinya : “Ya Allah, bangunkanlah hati para ulama' dan umat Islam dari kelalaian yang dalam dan berkepanjangan. Dan tuntunlah mereka ke jalan petunjuk-Mu. Ya Allah, yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, hidupkanlah jam’iyyah kami, Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dengan kehidupan thoyyibah (kehidupan yang baik sesuai kehendak-Mu) hingga hari Kiamat dengan berkah ayat:

فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧) ، فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم:  ٣٧٧

“Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS. An-Nahl: 97). “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rizqi mereka berupa buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS Ibrahim: 37). Dan karuniakanlah mereka rizqi (berupa) kekuatan yang mengalahkan kebathilan, kedholiman, ketidak-senonohan dan keburukan agar mereka bertaqwa.”

Demikianlah doa ijazah dari Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari yang bisa diamalkan oleh segenap kaum muslim demi kemajuan NU. Semoga bermanfa'at.

* Dari KH. Khotib Umar, dari ayahnya (KH. Umar), dari KH. As’ad Syamsul Arifin, dari Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.
Read More

PCNU Mimika Donasi Buku di SDNU Limau Asri


muslimpribumi.com | Mimika - Derai hujan, tak mengurangi sedikitpun semangat murid-murid Sekolah Dasar NU Limau Asri, Mimika, Papua, untuk mensukseskan acara silaturrahim PCNU Mimika di sekolah mereka.

Dalam pembukaan, murid-murid melantunan Sholawat An-Nahdliyyah. Suara emas vokalis putri yang melantunkan sholawat itu, membuat suasana khidmat.

Wakil Kepala SDNU tersebut, ustadzah Waqiah, menyampaikan selamat datang dan terima kasih atas kesediaan PCNU Mimika untuk mengunjungi sekolahnya.

“Semoga, ke depan, silaturrahim ini bisa istiqomah dilakukan,” harap Waqiah.

Acara yang sudah berlangsung pekan lalu itu, diawali dengan perkenalan para guru dan para pengurus PCNU yang kemudian dilanjutkan dengan informasi terkini tentang PCNU Mimika.

Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso, mengakui bahwa komunikasi dan silaturrahmi ini baru sekali dilakukan.

"Terus terang, ke sekolah ini ya baru sekarang ini. Namun, ini saya harap bukan yang terakhir. Tapi awal yang dilanjutkan dengan jadwal pertemuan rutinan," terangnya.

Menurutnya, saat ini orang Mimika takut menyatakan ke-NU-annya dan lebih memilih untuk tidak ber-NU-NU-an. Mereka berdalih, yang penting Islam. Namun, justru pilihan ini membuat kelompok baru yang bernama "tidak NU-NU-an".

"Sebagai manusia, jelas tidak bisa tidak berkelompok. Sadar atau tidak, namun kita pilih kelompoknya para wali. Para ulama' yang sanadnya hingga Rasulullah SAW. Dan itu ada di NU," jelasnya.

Salah seorang pengajar, ustadz Hasyim, mengajak untuk mengikuti Rasulullah SAW. agar selamat dengan melalui sahabat, tabi'in, tabiut-tabi'in, murid murid tabiut-tabi'in hingga para ulama'nya NU.

"NU itu sudah jelas siapa sopirnya. Yakni KH. Hasyim Asy'ari," ungkap ustadz Hasyim.

Setelah sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan donasi buku dari PCNU Mimika untuk SDNU tersebut. Buku-buku tersebut tediri dari buku-buku keislaman, sejarah, tajwid, Al-Qur'an dan lain-lain. Selain itu, PCNU Mimika juga memberikan apresiasi kepada para guru atas dedikasinya selama ini.


* Sumber: nu.or.id
Read More

Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam


Gala Dinner, Asia Liberty Forum 2018, Oriental Mandarin Hotel, Jakarta, 11 Februari 2018.

(Jangan kuatir, dibawah teks Inggris ini ada terjemahan Indonesianya)

"At a think tank last Thursday afternoon in Washington, DC, someone asked me this question: 'You (the Nahdlatul Ulama) represent the majority of Muslims, in the largest Muslim-majority country in the world. Why don’t you want an Islamic state?'

Here is a story::

There is an historic building not far from this hotel—just a 10-12 minute drive—at Jalan Pejambon near Gambir. It was previously called 'Gedung Chuo Sangi In'—a Japanese term. Now it is called “Gedung Pancasila.”

There is a room in that building where—if you had entered it more than 70 years ago and looked around—you would have seen the dynamics of the entire world at play. That room was full of individuals who embraced all kinds of ideologies and views regarding the future of human civilization. These ranged from Western liberalism to Javanese integralism. From Islamism to Communism. So, the people in that room—Indonesia’s founding fathers—had to find a way to manage their differences, to prevent conflict and violence. That is why—when developing the foundational concept for the Indonesian nation state—the vision they articulated was not limited to Indonesia’s independence: i.e., our right to freedom from colonial occupation and repression.

They also articulated a profound vision for the future of humanity and civilization as a whole. A vision that aspired to promote international stability, security and harmony, based on freedom, enduring peace and social justice. These are all characteristics of nobility. For the vision of Indonesia’s founders was that of a 'noble civilization.'

Since our declaration of Independence in 1945, this vision has been the strongest single factor holding Indonesia, and Indonesians, together. Since Independence we have face countless problems, yet we have prevailed because we have something to unite us and hold on to together. This vision of a noble civilization.

Given the current state of the world, why don’t we—who come from so many different nations, cultures and ethnicities—do the same? Amidst so much diversity, why don’t we embrace the vision of a noble civilization, and nobility of character, as something that can unite all of us on the basis of our shared humanity?

I believe this will not be difficult. Nobility is a simple concept, which all decent people understand. Only cruel and malicious people fail to understand the nature of human nobility.

Nobility is intimately linked to freedom, dignity, compassion and justice. We all know this!

So, when we speak about economics, for example, why don’t we think about a “noble economy?” When we discuss politics, why don’t we think in terms of a “noble politics”? And so forth...."

_____________________________________

Terjemahan:

"Di sebuah lembaga kajian di Washington, Kamis siang yang lalu, seseorang bertanya kepada saya:

'Kalian (Nahdlatul Ulama) adalah mayoritas diantara umat Islam di negara mayoritas Muslim terbesar di dunia. Mengapa kalian tidak mau negara Islam?'

Begini ceritanya:

Ada sebuah gedung bersejarah tak jauh dari sini--cuma 10-12 menit--di Jalan Pejambon dekat Gambir. Dulu dinamai Gedung Chuo Sangi In--bahasa Jepang. Sekarang disebut Gedung Pancasila.

Di gedung itu ada satu ruangan yang--jika Anda memasukinya lebih dari 70 tahun yang lalu dan melihat sekeliling ruangan--Anda akan menyaksikan dinamika seluruh jagad tergambar disitu. Ruangan itu dipenuhi orang-orang yang menganut segala macam ideologi dan pandangan tentang masa depan peradaban umat manusia. Dari liberalisme Barat sampai integralisme Jawa. Dari Islamisme sampai komunisme. Maka, orang-orang di ruangan itu--para Bapak Pendiri Indonesia--butuh menemukan cara untuk mengelola perbedaan-perbedaan diantara mereka agar tidak terjadi konflik dan kekerasan. Itulah sebabnya--ketika mereka menyusun konsep landasan bagi Bangsa dan Negara Indonesia--visi yang mereka bangun tidak terbatas hanya tentang kemerdekaan Indonesia, yaitu hak kami untuk merdeka dari penjajahan dan penindasan.

Mereka mengajukan visi yang agung tentang masa depan kemanusiaan dan peradaban secara keseluruhan. Suatu visi yang ditujukan untuk mendorong stabilitas, keamanan dan harmoni internasional, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ini semua adalah ciri-ciri kemuliaan. Karena cita-cita para Bapak Pendiri Bangsa ini adalah untuk mencapai "Peradaban yang Mulia".

Sejak Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, cita-cita agung ini telah menjadi satu faktor paling kuat yang mempersatukan Indonesia beserta segenap bangsanya. Sejak kemerdekaan, kami telah menghadapi berbagai kesulitan yang tak terhitung jumlahnya, tapi kami bertahan karena kami punya sesuatu yang agung sebagai alasan untuk tetap bersatu dalam kebersamaan. Yaitu cita-cita akan peradaban mulia ini.

Mengingat keadaan dunia dewasa ini, mengapa kita--yang datang dari sekian banyak bangsa, budaya dan etnis yang berbeda-beda ini--melakukan hal yang sama? Ditengah begitu banyak perbedaan diantara kita, mengapa kita tidak menjemba cita-cita akan suatu peradaban mulia, dan akhlak mulia, sebagai sesuatu yang bisa mempersatukan kita semua atas dasar kemanusiaan?

Saya yakin ini tidak sulit. Kemuliaan adalah konsep sederhana, yang setiap orang baik-baik pasti memahami. Hanya manusia-manusia jahat dan keji yang gagal paham terhadap makna kemuliaan manusia.

Kemuliaan itu erat kaitannya dengan kemerdekaan, martabat, kasih-sayang dan keadilan. Kita semua tahu ini!

Maka, ketika kita bicara tentang ekonomi, misalnya, mengapa kita tidak berpikir tentang 'perekonomian yang mulia'? Ketika kita mendiskusikan politik, kenapa kita tidak berpikir tentang 'politik yang mulia'? Dan seterusnya...."


Oleh: KH. Yahya Cholil Tsaquf, Katib 'Aam PBNU dan Pengasuh PP. Raudlatul Thalibien, Leteh, Rembang.
Read More

Jihad Dalam Konteks Negara Bangsa di Era Modern


Keputusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur di PP. Sunan Bejagung Tuban, 10-11 Februari 2018

KOMISI MAUDHU'IYYAH
_________________________

JIHAD DALAM KONTEKS NEGARA BANGSA DI ERA MODERN

Mengutip KH. Maimun Zubair:
“Masa sekarang sudah tidak ada khilafah. Tidak ada negara Islam. Semuanya negara nasional … Pada masa sekarang kalau bangsanya tidak dijunjung maka akan runtuh.”

Karenanya, Islam tidak anti terhadap eksistensi negara bangsa sebagaimana yang berkembang dewasa kini. Islam menempatkan negara bangsa sebagai bagian penting sebagai wasilah untuk mencapai kemaslahatan. Berkaitan hal ini, Syaikh Wahbah az-Zuhaili menyatakan:

فَإِنَّ الْإِسْلَامَ لَا يَأْبَى الْاِعْتِرَافَ بِالتَّنْظِيمِ الدَّوْلِيِّ الْقَائِمِ عَلَى أَسَاسِ الْحُدُودِ الْجُغْرَافِيَّةِ، لِأَنَّ ذَلِكَ مِنَ الْوَسَائِلِ التَّنْظِيمِيّ 

“Maka sungguh Islam tidak enggan mengakui sistem kenegaraan yang eksis berdasarkan batas-batas geografis, sebab itu bagian dari sistem yang menjadi wasilah (untuk mencapai kemaslahatan manusia).”

Namun demikian, prinsip ini tidak menafikan pembelaan terhadap kaum muslimin yang terzalimi di manapun berada. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa komando perang militer hanya merupakan kewenangan pemimpin pemerintahan dan rakyat harus mentaati kebijakannya. Al-Muwaffiq Ibn Qudamah al-Maqdisi (541-620 H/1146-1223 M) menegaskan:

وَأَمْرُ الْجِهَادِ مَوْكُولٌ إِلَى الْإِمَامِ وَاجْتِهَادِهِ وَيَلْزَمُ الرَّعِيَّةَ طَاعَتُهُ فِيمَا يَرَاهُ مِنْ ذَلِكَ

“Urusan jihad dipasrahkan kepada pemimpin negara dan ijtihadnya, dan rakyat wajib mentaati kebijakannya dalam urusan tersebut.”

Perang militer termasuk bagian dari hukum-hukum kenegaraan. Tidak ada perbedaan pendapat ulama' bahwa siasat perang, deklarasi, gencatan senjata, analisis strategi dan dampaknya, semuanya masuk dalam hukum kenegaraan. Rakyat, siapapun itu, tidak boleh secara ilegal tanpa izin dan persetujuan pemimpin negara ikut campur atas kebijakannya. Rakyat, siapapun itu, tidak boleh memerangi orang yang berbeda agama hanya berdasarkan menuruti hawa nafsu.

Kewajiban jihad dalam konteks negara bangsa juga sudah terpenuhi dengan kebijakan negara dalam menjaga kedaulatan, menjaga tapal-tapal perbatasan dan memperkuat struktur kekuatan militer dan semisalnya. Bahkan sebenarnya, kewajiban jihad militer adalah kewajiban yang bersifat sebagai perantara (wasilah), bukan sebagai tujuan senyatanya. Karena maksud utamanya adalah menyampaikan hidayah agama.

Dari sini menjadi jelas, pada hakikatnya karakter dasar Islam adalah agama damai dan selalu mengutamakan upaya-upaya kedamaian sebisa mungkin. Perang merupakan solusi terakhir (tindakan darurat) yang dilakukan untuk menjaga perdamaian dan kemaslahatan umat manusia. Perang merupakan strategi taktis dan hanya dilakukan dalam kondisi darurat untuk menjaga kelestarian umat manusia, mencegah kejahatan dan menolak kezaliman di muka bumi.

Demikianlah hakikat jihad sebenarnya dalam Islam yang sesuai dengan nash-nash fuqaha' dan selaras dengan hadits Nabi SAW.:

لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ العَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللهَ العَافِيَةَ، فَإذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Janganlah kalian mengharap bertemu musuh dan mintalah keselamatan kepada Allah SWT. Namun demikian, bila kalian menemuinya maka bersabarlah.” (Muttafaq ‘Alaih).

Perumus:
KH. Arsyad Bushairi
KH. Azizi Hasbullah
KH. Suhaeri Idrus
K. Fauzi Hamzah Syam
Ahmad Muntaha AM
Ma'ruf Khozin
Faris Khoirul Anam Lc., M.H.I.


Tuban, 11 Februari 2018

PW. LBM NU Jawa Timur

Ketua

ttd.

KH. Ahmad Asyhar Shofwan, M.Pd.I



Wakil Sekretaris

ttd.

Ahmad Muntaha AM
Read More

Ketum Pagar Nusa: Gerakan Intoleran, Tidak Bisa Dibiarkan


muslimpribumi.com , Sumsel - Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, sangat menyayangkan tindakan penyerangan Gereja St. Lidwina Sleman dan penganiayaan terhadap pastor serta jemaat gereja. Pada Minggu pagi tadi, 11 Februari 2018, Gereja St. Lidwina Dk. Jambon, Trihanggo, Kec. Gambing, Kab. Sleman, Yogyakarta, diserang seorang lelaki bersenjata tajam. Penyerang melukai pastor dan beberapa jemaat. Selain itu, penyerang juga melukai seorang polisi yang berusaha mengamankan pelaku.

Menanggapi penyerangan ini, Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, menyeru gerakan intoleran tidak bisa dibiarkan lagi. "Saya sangat menyayangkan penyerangan yang terjadi di Gereja St. Lidwina, Sleman. Beberapa waktu lalu, terjadi penyerangan kiai di Cicalengka, Jawa Barat. Kalau penyerangan ini terus dibiarkan, akan memecah belah dan berdampak buruk bagi bangsa ini," ungkap Nabil dalam Silaturahmi Pagar Nusa se-Sumatera Selatan, di Tuga Jaya, Ogan Komering Ilir, Sumsel, hari ini.

Nabil Haroen mengungkapkan bahwa pada tahun 2018 dan 2019, yang dianggap sebagai tahun politik, konsolidasi dan silaturahmi antar elemen warga harus ditingkatkan. "Kemarin kiai yang dibacok, sekarang pastor yang diserang. Ini semacam rangkaian kekerasan yang harus diputus. Tidak sekedar mencari dan menemukan pelaku, tapi memutus jaringan kekerasan ini. Jangan sampai Indonesia kita dibuat keruh oleh kelompok yang tidak bertanggungjawab," terang Nabil.

Nabil Haroen mengajak warga Nahdliyyin, santri dan bersama warga lintas agama, serta Polri dan TNI, untuk saling menjaga situasi agar tetap kondusif. "Kita jangan sampai kalah dengan kekerasan. Harus ada gerakan bersama untuk memutus mata rantai kekerasan ini. Pagar Nusa sudah menginstruksikan jaringan pendekar untuk merapatkan barisan, konsolidasi dengan warga lintas agama serta simpul-simpulnya untuk saling bekerjasama. Kami juga terus berkomunikasi intensif dengan Panglima TNI dan Kapolri untuk bersama-sama menciptakan situasi kondusif," jelas Nabil Haroen yang didampingi Emi Sumirta, Ketua PW. Pagar Nusa Sumatera Selatan, Ki Cokro, M. Aziz, Muamarullah dan jajaran Pimpinan Pusat Pagar Nusa.

"Jangan sampai, situasi politik pada masa menjelang Pilkada, Pilleg, dan Pemilihan Presiden, pada tahun 2018 dan 2019 ini, menjadi turbulensi sehingga dimanfaatkan kelompok yang tidak bertanggungjawab," ungkap Nabil dihadapan ratusan pendekar Pagar Nusa dan antar Perguruan Silat di Ogan Kemiring Ilir.

Nabil Haroen mengajak pada tokoh-tokoh lintas agama untuk saling silaturahmi, untuk menyamakan persepsi menjaga bangsa. "Silaturahmi lintas agama harus diintensifkan antara tokoh maupun antar warganya. Ini penting agar umat antar agama saling bersilaturrahmi. Mari kita tingkatkan ukhuwwah basyariyyah, persaudaraan kemanusiaan kita, untuk menjaga situasi tetap damai. Kalau ukhuwwah ini terjaga, tujuan pelaku kekerasan untuk mencipta situasi chaos, tidak akan tercapai," harap Nabil Haroen.

Dalam waktu dekat, Pagar Nusa akan  menyelenggarakan Silaturrahmi antara ulama, santri dan pemuka lintas agama di beberapa kawasan, untuk keamanan dan persaudaraan kebangsaan. Agenda ini merupakan satu rangkaian dengan Ijazah Kubro Pagar Nusa pada Januari 2018 lalu di Cirebon, Jawa Barat (*).
Read More

Majalah Risalah Terima Anugerah


muslimpribumi.com - Presiden Joko Widodo, Jum'at hari ini menghadiri Puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2018 yang dihelat di Danau Cimpago, Kota Padang, Sumatera Barat. Presiden mengucapkan ribuan terima kasih kepada seluruh insan media atas dedikasi dan torehan tinta emasnya selama ini dalam ikut serta membangun bangsa dan negara Indonesia tercinta.

"Selamat dan sukses kepada pers di manapun berada," ujar Presiden Jokowi.

Presiden juga memberikan apresiasinya terhadap semua unsur media, termasuk kepada Majalah Risalah NU.

Sebagaimana diketahui bersama, Majalah Risalah NU adalah media yang bergerak dibawah Lembaga Ta'lif wan-Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' (LTN PBNU). Dalam kesempatan ini, Majalah ini memperoleh penghargaan dalam kategori Media Kepeloporan di Bidang Media Dakwah yang konsisten dalam perjuangan NKRI.

Penghargaan yang berupa trofi dan sertifikat ini diberikan oleh Menteri Kominfo Rudiantara dan diterima langsung oleh Pimpinan Redaksi Majalah Risalah NU, H. Musthafa Helmy.

Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU), Hari Usmayadi, bersyukur atas penghargaan untuk Majalah Risalah NU ini. Ia mengapresiasi Dewan Pers atas penghargaan yang diberikan kepada Majalah Risalah NU ini serta berterima kasih kepada para kiai dan tokoh NU atas bimbingannya.

“Kami atas nama LTN bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada para kiai, pini sepuh yang mendukung keberadaan Majalah Risalah NU ini untuk terbit secara istiqamah sehingga mendapat penghargaan dari Dewan Pers yang disampaikan oleh Presiden RI, bapak Jokowi,” ujar pria yang lebih akrab disapa dengan Cak Usma ini.

Menurutnya, penghargaan ini merupakan anugerah sekaligus momentum penting bagi Majalah Risalah NU yang keberadaannya sebagai majalah NU telah diakui secara nasional, dan bahkan internasional.

Yang terpenting lagi, penghargaan ini bukan saja berkah untuk Majalah Risalah NU, melainkan keberkahan untuk warga NU karena bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-92. “Jadi, bukan hanya internal pengurus NU yang bangga, akan tetapi seluruh warga NU,” ungkapnya.

Atas penghargaan tersebut, Cak Usma berharap semoga Majalah Risalah NU tetap istiqamah dan semakin berkembang lebih baik serta menjadi majalah kebanggaan Muslim dunia.


Sumber: nu.or.id
Read More

Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU


rumahnahdliyyin.com - Sejak awal berdiri, NU tidak hanya berperan dalam permasalahan tingkat lokal dan nasional. Tapi, juga internasional. NU berperan dalam upaya kebebasan bermazhab di Arab Saudi dengan membentuk Komite Hijaz. Upaya itu berhasil. Upaya-upaya lain, ketika menjadi partai, NU berperan aktif dalam Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA). Peran-peran internasional masih dilakukan hingga hari ini.

Pada tahun 1931, salah seorang pendiri NU, KH. Wahab Chasbullah, dalam catatannya di Swara Nahdlatoel Oelama mengatakan, keanggotaan NU melintasi batas negara. Asal beragama Islam dan mengikuti salah satu madzhab empat, yaitu Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali. Anggota NU juga tunduk kepada hukum-hukum negara dimana ia hidup. Tidak berupaya meruntuhkan ideologi dan menghancurkan negara dimana ia tinggal.

Karena itulah, sejak awal berdiri, NU telah memiliki Cabang di Singapura yang hadir pada muktamar 1937 di Malang. Cabang Singapura berdiri ketika KH. Wahab Chasbullah hendak menyampaikan Komite Hijaz. Beberapa ulama', misalnya dari India, Mesir, Timur Tengah, salah seorang di antaranya yaitu Syekh Ali Thayib pernah hadir di muktamar NU keempat tahun 1929 di Semarang. Ia mengikuti majelis-majelis bahtsul masail kiai NU.

Jika kita buka pemberitaan NU di Swara Nahdlatoel Oelama, Berita Nahdlatoel Oelama dan Oetoesan Nahdlatoel Oelama, akan ditemukan rubrik yang berisi pemberitaan dunia internasional. Isinya tidak melulu masalah agama. Tapi juga politik, ekonomi dan kebudayaan. Sejak awal, kiai-kiai NU telah melek dunia. Itu di tingkat pusat. Majalah Al-Mawaidz milik Cabang NU Tasikmalaya (terbit tiap minggu pada 1933-1935) memiliki rubrik Dunia Islam. Sejak awal, mata kiai NU menjangkau dunia.

Tak usah jauh-jauh, lihat saja lambang NU. Bola dunia, bukan? Itu artinya, sejak awal memang memiliki orientasi internasional. Namun, seperti dinyatakan Kiai Wahab tadi, NU tidak bercita-cita meruntuhkan batas-batas negara.

Nah, untuk mengetahui peran-peran NU di dunia internasional setelah 92 tahun berdiri, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Katib ‘Aam PBNU KH. Yahya Cholil Staquf (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang) di ruangannya, Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (25/1).

Berikut petikannya:



Bulan ini, berdasarkan penanggalan Masehi, NU akan genap harlah 92 tahun. Bisa cerita bagaimana peran internasional NU?


Dunia internasional, sebetulnya sudah melihat track record NU dalam dekade terakhir. Dan telah berkembang opini di masyarakat dunia bahwa NU punya potensi untuk meyediakan solusi bagi masalah-masalah peradaban yang sedang dihadapi dunia saat ini. Maka sekarang, bagaimana NU berupaya untuk merealisasikan harapan masyarakat dunia itu. Masyarakat dunia sudah berharap bahwa NU memberikan solusi terhadap masalah-masalah peradaban.

Harapan mereka itu ditunjukkan dengan apa?

Coba perhatikan pemberitaan. Googling dengan kata kunci "Nahdlatul Ulama", semua yang keluar adalah statement-statement (pernyataan), ekspresi berharap kepada NU. Googling saja. Apakah media Barat, Timur Tengah. Semuanya isinya ekspresi harapan bahwa NU memberikan jalan keluar masalah dunia hari ini. Yaitu masalah konflik yang berlarut-larut. Bukan hanya yang terkait dengan Islam. Tapi terkait dengan benturan-benturan peradaban pada umumnya. Googling saja. Dan kedua, coba lihat. Semua orang tamu yang datang ke sini (gedung PBNU), dengarkan pendapatnya. Semua orang berharap pada NU.

Bisa disebutkan contohnya?

Kemarin malam di LDNU juga. Dengarkan omongan setiap orang. Semua berharap kepada NU. Kamu dengarkan orang-orang yang datang ke JATMAN itu dari seluruh dunia. Semua berharap kepada NU. Dari mana mereka berharap kepada NU? Karena mereka melihat track record NU selama sekian puluh tahun terakhir, sepanjang sejarah, sekian puluh tahun terakhir, karena semuanya ada. Mulai dari awal berdirinya NU sampai sekarang, track recordnya jelas, bahwa NU ini memang berjuang dengan cita-cita peradaban.

Nah, maka sekarang, bagaimana kita berupaya mewujudkan harapan dunia ini. Dunia sudah berharap. Yang tidak berharap, silakan saja. Tapi yang lain berharap. Jerman, Amerika, Belgia, Inggris, semuanya ekspresi harapan. Jepang, berharap kepada NU. Bagaimana kita menjadikan harapan ini nyata, memenuhi harapan dunia ini, kita menyodorkan solusi dunia ini.

Nah, dari mana solusi itu? Dari track record kita sendiri. Jadi, enggak usah ngarang. Tidak usah mencari-cari dalil baru. Sudah ada semua. Cuma kalian sendiri tak mau baca. Kenapa kalian tidak ingat pidato KH. Ahmad Shiddiq di Situbondo tentang ukhuwwah insaniyyah (persaudaraan sesama umat manusia), ukhuwwah wathoniyyah (persaudaraan sesama warga negara), ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama umat Islam). Kenapa kalian tidak ingat khittah, kenapa kalian tidak ingat Mukaddimah UUD 1945.

Sekarang mau nyari dalil sendiri, mau dilurus-luruskan supaya gimana caranya sama dengan KH. Hasyim Asy’ari, tidak begitu caranya. Caranya adalah melihat perjalanan NU dari seluruh perjalanan, tidak hanya dari KH Hasyim Asy’ari. Karena ini pergulatan yang tidak terjadi di negara mana pun. Itu sudah ada dalil yang jelas bahwa NU tidak boleh dipakai untuk politik praktis. Tiba-tiba nemu dalil baru, yang ini mau dilupakan; bagaimana ceritanya ini. Ini merusak sejarah NU. Tak boleh begitu. Pulang dari Timur Tengah, terus qaulnya KH. Ahmad Shiddiq tak dipakai, qaulnya kiai Ali Ma’shum tidak dipakai, gimana ceritanya itu. Enak saja, dianggap tidak mu’tabar. Dikiranya dia saja yang ngaji. Orang yang dulu-dulu tidak ngaji apa, atau gimana?

Untuk memenuhi pemintaan masyarakat dunia itu, apa dan bagaimana yang dilakukan NU?


Kita tidak bisa memenuhi harapan itu kalau kita enggak paham track recordnya NU. Kalian tidak paham, mau gimana? Kalau kalian tidak paham, kalian sama dengan orang Pakistan itu.




Jadi, upaya-upayanya NU bagaimana?


Sebetulnya tidak perlu ngos-ngosan mencari peluang internasional. Undangan itu sudah tidak karu-karuan. Orang-orang itu ingin mendengar apa yang dikatakan NU. Semakin lama, kantor ini semakin sepi. Apa tidak terasa? Rais ‘Aam ke mana-mana ke luar negeri. Ketua Umum diundang ke mana-mana ke luar negeri. Semua ingin mendengar tentang NU. Bukan cuma itu, ada Pak Marsudi ke mana-mana, Savic Ali ini sekarang ke London. Sekarang ini kita tidak perlu ngos-ngosan mencari platform (rencana kerja; program) panggung untuk internasional.

Nah, sekarang tinggal bagaimana kita konsisten dengan artikulasi tentang NU. Jangan bolak-balik, ke sana ke mari. Sudah, NU adalah Khittah Nahdliyah, Pembukaan UUD 45, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, itu sudah. Jangan ngomong yang enggak-enggak.

Apakah ini artinya NU sedang menyelesaikan internal dulu sebelum memenuhi permintaan dunia?

Sebetulnya sih sekarang posisinya sudah tidak begitu. Kalau orang sekarang mengaku NU, ngomongnya tidak sama dengan track record NU, tidak akan dianggap. Lihat saja. Dunia sudah tahu. Sudah tahu logikanya NU kayak apa. Sudah menjadi persepsi dunia.

Jadi, misalnya, ada orang yang mengaku NU di sana, kemudian bilang, orang kafir itu tidak boleh jadi pemimpin, itu pasti tidak akan dianggap. Orang sudah punya frame NU itu bagaimana.



Peran PCINU untuk memuluskan cita-cita NU memenuhi keinginan dunia itu bagaimana?



PCINU harus sumbangkan sisi NU ini. PCINU di Yaman harus ngomong apa visi NU di PBNU. Kalau PCINU ini yang kita butuhkan adalah PCI berfungsi sebagai kedutaan. Jadi, dia membawakan visi NU kepada orang Yaman. Jangan maksa-maksain pikirannya orang Yaman ke NU, tidak boleh.


Di Mesir, juga harus membawakan visinya orang NU ke Mesir. Di Sudan, visinya NU kepada orang Sudan. Turatsnya begini. Orang NU bukan cuma turats pegangannya. NU itu mendialogkan teks dengan konteks. Bukan cuma teks. Jadi, nggak bisa cuma gaya-gayanan ngafalin teks. Tak ada gunanya.



Faktor apa yang bisa menyebabkan kiai-kiai NU mampu mendialogkan teks dengan realitas?


Karena ada tradisi riayah (memimpin dalam arti ngemong, red.) di sini. Kiai-kiai kita, sejak berabad-abad yang lalu, punya tradisi untuk melakukan fungsi riayah, ngemong kepada umat. Dan ini hanya ada di sini. Di timur Tengah tidak ada ulama' riayah. Yang ada sulthan, ulama'nya tidak mau tahu. Nasibnya bagaimana, tidak mau tahu. Hanya di sini, di Nusantara ini ulama'nya melakukan riayah. Hanya di Nusantara. Tak ada di tempat lain.

Lalu, kenapa hanya ada di Nusantara? Karena memang ulama' yang datang ke sini, berdakwah dengan visi membangun peradaban baru di sini. Kenapa? Karena elemen-elemen yang fundamental di dalam peradaban yang tumbuh di Timur Tengah dan di tempat-tempat lain sudah dianggap tidak punya energi cukup besar untuk besar.

Maka, itu riwayatnya Kiai As’ad tentang Raden Rahmatullah; Kiai As’ad mengatakan, Raden Rahmatullah ketika bermukim di Mekkah, beliau dirawuhi Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi mengatakan, kamu bawalah Islam ke Jawa sana. Tanah Arab ini sudah tidak kuat menyangganya. Kiai As’ad Syamsul Arifin yang mengatakan.

Perintahnya Rasululllah kepada Raden Rahmatullah, bawa Islam ini, bawa ke Tanah Jawa karena Tanah Arab ini tidak kuat menyangganya. Raden Rahmatullah dan lain-lain datang ke sini ingin membangun peradaban.

Membangun peradaban itu apa? Bergulat dengan realitas. Bukan cuma mikir teks; manthiqnya bagaimana, metodologi, enggak. Tapi realitasnya kayak apa. Sampai saat ini tidak ada kiai NU yang meminta hukuman potong tangan. Mereka melihat realitas. Padahal di dalam kitab, isinya potong tangan kabeh (semua). Bergulat dengan realitas. Karena bergulat dengan realitas, akan tumbuh peradaban.



Apakah itu mungkin watak dasar orang Nusantara?


Ya, watak dasar orang Nusantara karena memiliki basis peradaban yang kuat kenapa Kanjeng Nabi nunjuk, bawalah ke Jawa, tidak bawalah ke Amerika, misalnya, saya kira ada sesek-melek dengan Jawa. Karena ada peradaban Jawa yang sangat kuat dan kompatibel (serasi) dengan ruh Islam, dengan ruh Islam, ruhnya. Kompatibel.

Makanya sangat cepat. Masak dalam 40 tahun, Islam semua sak Nusantara. Padahal Islam sudah datang di sini sekian abad sebelumnya. Ada yang bilang, bahkan generasi pertama sahabat itu sudah ada yang sampai ke Nusantara, tapi tidak terjadi islamisasi.

Fitnah terhadap NU dan kiai-kiainya yang belakangan marak di medsos, apakah itu upaya untuk menggerogoti agar NU tak mampu memainkan peranannya, termasuk memenuhi peran dunia?


Jelas, itu orang-orang hasud aja. Dan dimana-mana, gimana, penyakit kita obatnya. Ya sudah wajar penyakit ya musuhnya obat di mana-mana. Apa sekarang modal mereka? Tak ada. Mereka tak ada pikiran alternatif kok. Adanya fitnah tok. Apa pikiran alternatifnya untuk solusi dunia? Tak ada. Mereka teriak Palestina, Palsetina, Palestina. Terus Palestina disuruh apa? Mana ada yang ngerti. Mereka teriak ayo perjuangkan Islam bersatu, terus ngapain?


Orang Yaman itu, tanya, mereka bagaimana menyelesaikan konflik mereka? Tak ada yang ngerti. Aku ngerti. Sini tak ajarin kalau mau. Aku ngerti caranya. Sini tak ajari kalau mau. Tanya orang Syiria, bagaimana caranya berhenti? Tak mengerti mereka. Tanya orang Libya, bagaimana caranya menjadi damai? Enggak ngerti. Aku ngerti. Saya tahu dari mana akar konfliknya. Saya tahu siapa saja yang terlibat. Saya tahu kepentingan masing-masing. Saya tahu bagaimana mengakses mereka. Tapi mau enggak. Golekno ayat, tak ketemu. Golekno ayat ketemune suwuk. Geopolitik ini.

Terkait memenuhi keinginan dunia itu, supaya ini tercapai dengan cepat, apa yang ingin Anda sampaikan kepada Nahdliyyin secara umum, PCINU, terutama kepada anak-anak muda NU?

Pertama, sikap. Sikap kita harus jujur kepada realitas apa adanya tentang kenyataan. Apa yang menjadi masalah harus kita akui sebagai masalah. Tak boleh ditutup-tutupi. Masalah, ya masalah. Karena masalah kalau tidak diakui, tidak ada jalan keluarnya. Harus jujur, itu satu.

Kedua, tidak boleh menggunakan agama sebagai alat. Sebagai senjata untuk mencapai tujuan-tujuan politik.

Yang ketiga, harus menerima negara sebagai sistem politik yang mengikat semua warga.

Yang keempat, harus menerima dan mentaati hukum negara yang sah yang dihasilkan oleh proses yang sah menurut tatanan negara yang bersangkutan dan tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk melawan hukum, dan/atau memberontak kepada pemerintah yang sah.



Empat konsensus dari mana atau dari siapa?


Dari kita. Muncul dalam Konferensi Internasional Ansor dalam deklarasi Ansor tentang Islam untuk kemanusiaan. Dalilnya mana? Cari! Yang ahli dalil, muter-muter, pokoknya ini. Kalau enggak pakai ini, enggak selamat. Gitu aja. Dalilnya mana, cari! Yang ahli dalill, silakan cari dalilnya.

Tapi realitas membutuhkan konsensus itu untuk keselamatan peradaban. Kalau enggak, enggak selamat, peradaban runtuh. Artinya apa? Ini adalah tradisi riayah ulama' kita yang melihat realitas dan kebutuhan masyarakat yang riil. Makanya kita tidak bicara ayatnya begini, haditsnya begini. Kita tidak hanya bicara itu saja; kebutuhan mereka itu apa? Bagaimana sebaiknya supaya maslahah; kan, peradaban itu realitas. Kita bukan hanya butuh nulis kitab. Kita ini butuh mencari jalan keluar dari masalah nyata yang terjadi.


Sumber: nu.or.id
Read More

Mabadi Khaira Ummah


muslimpribumi.com - Muktamar NU 1939 di Magelang adalah sebagai tindak lanjut dari muktamar sebelumnya, ditetapkanlah prinsip-prinsip pengembangan sosial dan ekonomi yang tertuang dalam Mabadi Khaira Ummah yakni pertama ash-shidqu (benar) tidak berdusta ; kedua, al-wafa bil 'ahd (menepati janji) dan ketiga at-ta'awun (tolong menolong). Ketiganya dikenal dengan "Mabadi khaira ummah ats-Tsalasah" atau Trisila Mabadi. Sebagai kelanjutan usaha itu pada tahun 1940, ketua HB NU KH. Machfud Shiddiq penggagas mabadi ini berkunjung ke Jepang untuk melakukan kerjasama ekonomi.

Sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan ekonomi, maka kemudian dalam Munas NU di Lampung 1992 mabadi khaira ummah ats-tsalasah dikembangkan lagi menjadi mabadi khaira ummah al-khomsah (Pancasila Mabadi) dengan menambahkan prinsip 'adalah (keadilan) dan Istiqomah (Konsistensi). Bahkan menurut KH. Machfud Shiddiq dalam negara yang berdasarkan Pancasila maka mabadi ini digunakan sebagai sarana mengembangkan masyarakat Pancasila, yaitu masyarakat sosialis religius yang dicita-citakan oleh NU dan Negara.

Prinsip pengembagan sosial ekonomi yang dirumuskan para ulama ini kelihatannya sangat sederhana, tetapi memiliki arti yang sangat besar dan impresif. Sesuai dengan prinsip bisnis modern maka as-shidqu (trust) memiliki posisi yang sangat penting dalam mengembagkan bisnis. Apalagi wafa bil 'ahd (menepati janji) merupakan indikasi bonafit tidaknya sebuah lembaga bisnis atau organisasi. Prinsip keadilan dan konsistensi sangat perlu ditegaskan saat ini karena ditengah sistem kapitalis keadilan menjadi sangat langka.

Bagaimanapun seringkali masalah moral ekonomi diabaikan dalam kenyataan semua masyarakat menghendaki adanya moral dalam ekonomi karena hal itu yang akan memungkinkan ekonomi berjalan ketika hukum masih bisa dipercayai, ketika transaksi masih bisa dipegangi, dan ketika kesepakatan masih bisa saling dihormati. Prinsip moral yang melandasi keseluruhan relasi sosial terutama dalam bidang ekonomi itulah yang dikehendaki mabadi khaira ummah untuk menciptakan kehidupan saling percaya sehingga memungkinkan dilakukan kerjasama.

Jika semula mabadi khaira ummah tiga butir, maka dua butir perlu ditambahkan untuk menjawab persoalan kontemporer yaitu 'adalah dan istiqomah yang dapat pula disebut al-Mabadi al-Khamsah dengan rincian sebagai berikut :

* Ash-Shidqu. Butir ini mengandung arti kejujuran atau kebenaran, kesungguhan. Jujur dalam arti satunya kata dengan perbuatan, ucapan dengan pikiran. Tidak memutarbalikkan fakta dan memberikan informasi yang menyesatkan, jujur saat berfikir dan bertransaksi. mau mengakui dan menerima pendapat yang leih baik.

* Al-amanah wal wafa bil 'ahdi yaitu melaksanakan semua beban yang harus dilakukan terutama hal-hal yang sudah dijanjikan. Karena itu kata tersebut dapat diartikan sebagai dapat dipercaya dan setia, tepat janji baik bersifat diniyah maupun ijtimaiyah. Semua ini untuk menghindarkan beberapa sifat buruk seperti manipulasi dan berkhianat.

* Al-'adalah. Bersikap objektif, proporsional dan taat asas yang menuntut setiap orang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, jauh dari pengarus egoisme, emosi pribadi dan kepentingan pribadi. Distorsi semacam itu bisa menjerumuskan orang pada kesalahan dalam bertindak. Dengan sikap adil, proporsional dan objektif relasi sosial dan transaksi ekonomi akan berjalan lancar dan saling menguntungkan.

* At-ta'awun. Tolong menolong merupakan sendi utama dalam tata kehidupan masyarakat, masyarakat tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan pihak lain. Ta'awun berarti bersikap setia kawan,gotong royong dalam kebaikan dan taqwa. Ta'awun memiliki arti timbal balik yaitu memberi dan menerima. Oleh karena itu sikap ta'awun mendorong orang untuk bersikap kreatif agar memiliki sesuatu untuk disumbangkan kepada yang lain untuk kepentingan bersama.

* Istiqomah. Berarti teguh, jejeg ajeg, konsisten. tetap teguh dengan ketentuan Allah, Rasulnya dan tuntutsn para shalafus shalihin dan aturan main serta rencana yang telah disepakati bersama. Ini juga berarti kesinambungan dan keterkaitan antara satu periode dengan periode berikutnya, sehingga kesemuanya merupakan suatu kesatuan yang saling menopang seperti sebuah bangunan. Ini juga berarti bersikap berkelanjutan dalam sebuah proses maju yang tidak kenal henti untuk mencapai tujuan.

Kebangkitan kembali prinsip mabadi khaira ummah ini didorong oleh kebutuhan-kebutuhan dan tantangan nyata yang dihadapi oleh NU khusunya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Kemiskinan dan kelangkaan sumber daya manusia, kemerosotan budaya dan mencairnya solidaritas sosial adalah keprihatinan yang dihadapi bangsa Indonesia. Sebagai nilai-nilai universal butir-butir mabadi khaira ummah dapat dijadikan sebagai jawaban langsung bagi problem-problem sosial yang dihadapi masyarakat dan bangsa ini.

Sumber : Disarikan dari Muktamar NU di Magelang 1939 dan Munas NU di Lampung 1992
Read More

Kaleng Penguat Ekonomi Umat


muslimpribumi.com - Eksistensi NU bisa dilihat dari seberapa kuat keberadaan NU di tingkat ranting atau anak ranting. Di situlah organ NU yang secara langsung menggerakkan dan bersentuhan dengan masyarakat dalam berbagai aktivitas organisasi dan sekaligus menjaga ideologi NU.

Kualitas kepengurusan ranting NU tidak cukup dengan hanya adanya struktur kepengurusan saja. Namun, harus dilihat sejauh mana aktivitas kepengurusan tersebut mampu memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Yaitu bagaimana antara jama'ah dan jam'iyyah saling menghidupi. Jika kegiatannya hanya sekedar tahlilan saja, maka kepengurusan tersebut bisa dikatakan kurang efektif. Tahlilan atau pengajian bisa berjalan dengan sendirinya tanpa perlu diurus oleh NU secara organisatoris.

Salah satu contoh pengelolaan Ranting NU yang sukses adalah NU Ranting Desa Pacarpeluk, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Upaya untuk menciptakan kemandirian dimulai dari kemandirian ekonomi dengan membuat Unit Pengelolaan Zakat (UPZ) ZIS NU Pacarpeluk melalui program Pacarpeluk Bersedekah. Mereka menempatkan kaleng-kaleng ke rumah warga dan menyarankan agar setiap harinya penduduk setempat menyisihkan koin senilai 500 atau 1000 rupiah ke dalam kaleng tersebut.

Kini dalam tiap bulannya kaleng-kaleng yang berjumlah 600 buah itu berhasil mengumpulkan sekitar lima juta rupiah. Terdapat lima program utama untuk pemanfaatan dana tersebut. Pertama, santunan duka, yaitu sumbangan air minum dalam kemasan kepada warga yang sedang berduka karena kematian. Air tersebut untuk minuman saat tahlilan selama tujuh hari. Kedua, jaminan pengobatan rawat jalan dengan Kartu Pacarpeluk Sehat bagi warga yang belum memiliki Kartu Indonesia Sehat atau BPJS. Ketiga, santunan persalinan bagi keluarga kurang mampu. Keempat, jenguk keluarga sakit berupa sumbangan dana bagi keluarga yang sakit. Dan yang terakhir yaitu program peduli bencana. Dalam bencana banjir di Pacitan baru-baru ini, UPZ Pacarpeluk menyumbangkan uang senilai dua juta rupiah.

Prinsip saling menghidupi antara jama'ah dan jam'iyyah serta pengelolaan yang transparan dan akuntabel benar-benar mampu dijalankan dengan baik sehingga masyarakat merasakan bahwa dana yang mereka sumbangkan bisa dimanfaatkan oleh tetangga atau keluarga yang sedang membutuhkan bantuan. Satu orang tidak bisa membantu semua orang, akan tetapi semua orang bisa membantu satu orang yang benar-benar membutuhkan. Disinilah NU mampu menjalankan peran sebagai lembaga yang mampu menjembatani kedua belah pihak tersebut.

Kisah sukses pengelolaan Ranting NU Pacarpeluk ini mendorong beberapa ranting NU daerah lainnya untuk belajar. Model pengelolaan kaleng koin sedekah UPZ Pacarpeluk ini juga menjadi salah satu dari 10 pemenang terbaik kompetisi Kreatifitas dan Inovasi (Krenova) Kabupaten Jombang 2017 atas nama ketua Ranting NU Pacarpeluk Nine Adien Maulana. Di MWC. Megaluh sendiri, dari 13 ranting NU, sudah terbentuk tujuh kepengurusan UPZ LAZISNU dengan jumlah donatur mencapai 2.200 warga.

Kesadaran akan semakin pentingnya kemandirian NU kini semakin meningkat. Pola menempatkan kaleng koin banyak diadopsi di banyak daerah. Di Ranting NU Desa Kemaduh, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, dalam setiap bulannya dana yang dikumpulkan mencapai sekitar tiga juta rupiah. Capaian angka tiga juga untuk sebuah desa dengan basis ekonomi pertanian ini sesungguhnya menggambarkan besarnya potensi penggalian dana karena saat ini semakin banyak daerah, terutama yang berbasis di perkotaan yang ekonomi berbasis sektor industri dan jasa dengan tingkat kemakmuran yang lebih tinggi.

Di Jawa Timur terdapat 7.724 desa dan 777 kelurahan. Mengingat Jawa Timur merupakan basis utama NU, jika 70 persen dari seluruh total desa dan kelurahan terdapat ranting yang hidup dan bergerak, maka setiap bulan akan terkumpul dana sebesar 17.8 miliar jika masing-masing ranting mampu mengumpulkan dana sekitar tiga juta per bulan. Dalam satu tahun ada 214 miliar yang bisa dikumpukan dan didistribusikan. Tentu saja, angka tersebut masih merupakan hitung-hitungan diatas kertas. Realisasi di lapangan akan sepenuhnya tergantung pada para muharrik atau penggerak di tingkat ranting.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan uang sebesar tersebut. Tak semuanya harus dihabiskan seketika. Cabang NU di masing-masing daerah bisa membuat amal usaha untuk melayani warga NU dan masyarakat umum yang membutuhkan, baik dalam pemberdayaan ekonomi, pendidikan maupun kesehatan. Jika pengumpulan dana tersebut bisa berjalan dengan konsisten dalam waktu jangka panjang, maka bisa dilakukan investasi produktif untuk melayani umat. Membuat gedung atau kantor yang memadai memang penting, tetapi jangan sampai dana-dana dari masyarakat tersebut dikeluarkan untuk hal-hal yang kurang produktif atau kurang menyentuh masyarakat.

PCNU atau MWCNU yang selama ini rantingnya belum aktif atau bahkan belum memiliki ranting NU di desa tertentu memiliki kewajiban untuk menggerakkan, mendampingi dan mengarahkan bagaimana basis NU ini bisa aktif. Karena sesungguhnya disitulah keberadaan NU secara nyata dirasakan oleh warga. Ranting NU yang sudah berhasil bisa menjadi tempat untuk belajar. Tak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan.

Sumber: nu.or.id
Read More

Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa


muslimpribumi.com - Madrasah Diniyyah atau yang sering di sebut Madin merupakan lembaga pendidikan keagamaan non-fomal yang sampai saat ini keberadaanya dari masa ke masa telah terbukti memberikan kontribusi positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Umumnya, Madrasah Diniyyah berkembang dan tersebar di pulau Jawa mulai dari desa-desa hingga kampung-kampung di pelosok Nusantara ini. Dan kebanyakan mereka yang mendirikan punya latar belakang santri dari pondok pesantren.

Berbicara mengenai problematika Madrasah Diniyyah di forum seminar, kajian serta penelitian yang memerlukan waktu dan dana yang tidak sedikit, hasilnya akan sia-sia saja dan tidak akan menemui pokok dari akar permasalahan dan menemu solusi yang jitu jikalau sekedar dibicarakan saja tanpa melihat secara langsung dan tindakan nyata.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa salah satu faktor utama untuk menyelenggarakan pendidikan formal maupun non-formal adalah soal finansial. Kemudian tenaga pendidik atau guru, gedung, kemudian santrinya.

Memang, Madrasah Diniyyah di Indonesia mengalami permasalahan yang kompleks dan hampir di semua daerah lain juga sama, baik itu yang ada di pulau Jawa maupun di luar Jawa. Untungnya, Madrasah Diniyyah memiliki susuatu yang melekat pada pengelola dan para gurunya yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain seperti sekolah konvensional kebanyakan, yaitu keikhlasan.

Tidak ada salahnya kalau mari kita simak potret Madrasah Diniyyah di Papua. Dan sebelum melangkah lebih jauh, paling tidak kita semua sudah tahu bahwa di Papua mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Kristen dan Katolik. Umat Islam di Papua merupakan bagian minoritas saja. Memang ada beberapa daerah di Papua yang penduduk aslinya mayoritas muslim, misalnya di Kabupaten Fakfak. Kendati demikian, pada umumnya masyarakat di Papua yang beragama Islam adalah masyarakat pendatang mulai dari pegawai, pekerja dan pedagang yang berasal dari Jawa, Bugis, Buton, Makasar dan lain lain. Ada pula masyarakat asli Papua yang beragama Islam namun sangat tidak signifikan jumlahnya.

Perlu diketahui juga bahwa kondisi sosial-budaya masyarakat Papua sangatlah beragam. Baik budaya, agama, ras, maupun suku. Namun, kebanyakan penduduk asli Papua bisa menerima, wellcome dan baik-baik saja terhadap keberagaman. Kalaupun ada yang keberatan dan intoleransi serta bersifat fanatik bisa dibilang sangat sedikit.

Kemudian, apakah ada Madrasah Diniyyah di Papua? Dengan asumsi bahwa di tiap daerah di Papua pasti terdapat umat Islamnya, maka dipastikan ada Madrasah Diniyyah di daerah-daerah tersebut mengingat sangat pentingnya keberadaannya. Disamping itu, dari Pemerintah Daerah lewat Kemenag selalu mendukung dan mengapresiasi langkah dan kegiatan bagi umat Islam, baik itu pendidikan maupun kegiatan sosial keagamaan demi syi'ar Islam di tanah Papua.

Namun kenyataannya, eksistensi Madrasah Diniyah di lapangan sangatlah berbeda dan sangat memprihatinkan. Apabila di Jawa rata-rata masalahnya adalah disegi finansial, namun kebanyakan persoalan Madrasah Diniyyah di Papua tidak hanya soal uang an sich. Yang paling utama yaitu keberadaan seorang guru. Terutama di Madrasah-Madrasah Diniyyah yang mengajarkan Islam Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah An-Nahdliyah.

Permasalahan ini bukan hanya terjadi di daerah saya saja (Kab. Paniai, Papua. red), namun menjadi kendala di semua Madrasah Diniyyah dan TPQ di Papua dan Papua Barat. Ada Madrasah Diniyyah namun tidak ada yang mengajar merupakan suatu hal yang sungguh ironis dalam dunia Islam. Ada juga yang ingin mendirikan Madrasah Diniyyah namun diurungkan karena tak ada yang mengajar. Lebih ironis lagi, ada Madrasah Diniyyah yang bubar lantaran bubarnya para pengajar.

"Mungkin karena problem Madrasah Diniyyah di Papua belum menjadi isu Nasional. Masih di taraf perorangan yang lokal," canda teman yang ada di kabupaten lain menanggapi perihal ini.

Selain itu, ada juga Madrasah Diniyyah yang tidak/belum memiliki tempat atau gedung yang memutuskan dengan menempuh jalan "nunut nebeng" di teras serambi Masjid.

Sebagaimana saya jelaskan di depan bahwa rata-rata yang ikut dalam membantu pendirian, para guru serta yang menghidupkan Madrasah Diniyyah di Papua dan Papua Barat adalah para santri-santri NU dari pesantren dan mempunyai jiwa militan, ikhlas nasyrul-'ilmi yang mengamalkan ajaran Islam Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Semoga saudara-saudara yang mengajar dan mengabdi di Madrasah Diniyyah di Papua dan Papua Barat senantiaaa diberi kesehatan dan bisa Istiqomah melanjutkan ajaran dan cita cita Nahdlatul Ulama’.

Kemudian, harapan dari teman-teman yang mengabdi di Papua dan Papua Barat adalah memohon kepada PBNU atau organisasi lain yang berahaluan Ke-NU-an untuk mengirimkan dan menugaskan kader-kadernya di Papua dan Papua Barat. Dari PCNU Kab. Paniai kami siap menerima dan membuka pintu lebar-lebar menyambut kedatangannya. Serta insya Allah dari PCNU kami sanggup memberikan biaya transport, biaya hidup serta bisyaroh.

Dengan langkah seperti itu, umat Islam di Papua dan Papua Barat, khususnya PCNU di Papua dan Papua Barat, bisa mengambil pelajaran dan NU bisa berkembang dan maju disamping pengelolaan Madrasah Diniyyah dan TPQ diharapkan bisa berkembang dan para santri mempunyai pengetahuan dan pelajaran tentang Ke-NU-an serta Madrasah Diniyyah tidak kosong karena tidak ada gurunya dan Madrasah Diniyyah di Papua bisa berjalan dengan baik dan berkembang seperti di daerah Jawa dan daerah lainnya yang sudah mantab dan istimewa.

Salam.


* Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU di Kab. Paniai, Prop. Papua.     
Read More