Tampilkan postingan dengan label KH. Sa'id Aqil Siroj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KH. Sa'id Aqil Siroj. Tampilkan semua postingan

Kiai Said dan Master Cheng Yen Berbicara Esensi Beragama


rumahnahdliyyin.com - Dua tokoh agama yang berpengaruh di dunia, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj dari Nahdlatul Ulama dan Master Cheng Yen dari Buddha Tzu Chi yang berpusat di Xincheng mengadakan pertemuan di kota Hualien Taiwan, Rabu lusa, 18 April 2018.

Setelah dua hari mengunjungi rumah sakit, media televisi, pusat bisnis dan universitas yang dikelola oleh komunitas Buddha Tzu Chi, kiai Said Aqil bertatap muka dengan Master Cheng Yen.

"Selamat datang di tempat kami. Bagaimana kesan Bapak terhadap kami setelah melihat langsung aktifitas kami? Tolong beritahu kekurangan penyambutan kami kepada Bapak," sapa Master Cheng Yen sambil membungkukkan tubuhnya dengan kedua telapak tangan yang menyatu didepan dada.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Mendapat sapaan hangat, kiai Said Aqil menyampaikan rasa terima kasih karena telah disambut secara terhormat dan merasa senang dapat menjalin persaudaraan dengan komunitas Buddha Tzu Chi.

"Kami mengajak Buddha Tzu Chi untuk bersinergi menegakkan keadilan, memberikan pengayoman terhadap yang lemah dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Kami menjalin persaudaraan dengan semua pihak, kecuali pelanggar hukum," balas kiai Said santun.

Baca Juga: Bahaya Berjihad Demi Syahwat

Master Cheng Yen dan kiai Said Aqil pun berdiskusi tentang berbagai isu kemanusiaan. Keduanya saling bertukar pikiran, menyampaikan pandangan dan solusinya. Terkadang tampak Master Cheng Yen mengangguk dengan sikap hormat. Begitu juga kiai Said menunjukkan sikap yang sama.

Kepada kiai Said Aqil, Master Cheng Yen menyampaikan rasa bahagianya mengamati kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia. Manusia, kata Master Cheng Yen, perlu saling menolong secara ikhlas dan kasih sayang. Agama itu yang terpenting adalah aksi. Atas keyakinannya itu, ia pun tak segan minta nasehat kepada kiai Said Aqil tentang peran kemanusiaan yang ideal.

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Kiai Said Aqil mengatakan bahwa selama ini Master Cheng Yen bersama Buddha Tzu Chi telah memberikan teladan kepada manusia. Esensi agama adalah kemanusiaan. Nabi Muhammad SAW. selalu memberikan keteladanan dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Karena itu, percuma beragama jika berperilaku bengis dan radikal.

Masyarakat beragama di belahan lain di dunia telah kehilangan esensi dalam beragama. Barat menjunjung tinggi capaian, sedangkan yang di Asia masih mampu membangun peradaban. Di kawasan ini masyarakat tidak mementingkan legal-formal, tapi mengutamakan pembangunan peradaban. Salah satu faktor kekuatannya adalah para agamawannya yang mengutamakan intuisi sehingga selalu dalam tuntunan Tuhan.[]




(Redaksi RN)
Read More

Tiga Tokoh Indonesia Masuk Top 50 Dalam The Muslim 500


rumahnahdliyyin.com, Jakarta
- Survei tahunan yang mencantumkan 500 sosok tokoh muslim yang paling berpengaruh di dunia, The Muslim 500, kembali menempatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke dalamnya bersama 500 tokoh muslim lainnya sedunia.

Penyelenggara survei ini adalah The Royal Islamic Strategic Studies Centre yang berkedudukan di Amman, Yordania. Dalam menentukan tokoh muslim yang berpengaruh sedunia ini, digabungkan kombinasi antara matriks sosial, opini publik dan pendapat para ahli.

Baca Juga: 


Presiden Jokowi sendiri, dalam survei ini, berada diurutan ke-16. Dalam publikasinya, para editor survei ini mengutip ucapan Jokowi yang menyatakan bahwa "keberagaman selalu menjadi bagian dari DNA Indonesia. Meskipun banyak tantangan, Islam di Indonesia selalu menjadi kekuatan yang moderat".

Selain Presiden Jokowi, ada dua nama lagi dari Indonesia yang masuk dalam Top 50. Kedua tokoh tersebut yaitu Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, diperingkat ke-22 dan Habib Luthfi bin Yahya diperingkat ke-41. Selain itu, ada nama mantan Ketua PP. Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang masuk dalam Honourable Mentions.[]



(Redaksi RN)
Read More

Kiai Said: Kebesaran dan Martabat Bangsa Ada Pada Budayanya


rumahnahdliyyin.com,
 Jakarta - Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, dalam peluncuran dan diskusi buku "NU Penjaga NKRI", di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa, 10 April 2018, mengatakan bahwa Organisasi Kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), bukan hanya menjaga keselamatan geografis NKRI. Tetapi juga menjaga keutuhan budaya.

"Jadi, silakan sekolah di Amerika, Australia dan Eropa. Tapi pulang, jangan bawa bir atau khomr. Pulanglah dengan membawa intelektual dan teknologinya," tuturnya sebagaimana dilansir oleh nu.or.id.

Baca Juga: Kiai Said: Nabi SAW. Tidak Diperintah Membangun Umat Islam, Tapi Umat Modern

Selain itu, kiai kelahiran Cirebon itu juga menekankan kepada siapa pun yang sekolah di Arab atau Timur Tengah untuk tidak membawa jenggot ketika pulang ke tanah air.

"Bawa pulang tafsir, hadits, bawa ilmu fiqh. Jangan bawa cadar, jangan bawa jenggot. Itu artinya, kita menjaga budaya. Sebab, budaya kita lebih mulia dari Barat dan Arab," katanya selanjutnya.

Di Barat, lanjut Kiai Said, seorang istri tidak pernah menjunjung tinggi tata krama atau kesopanan kepada suaminya. Di sana hidup sendiri-sendiri. Indonesia sangat tidak layak menerima budaya Barat.

Baca Juga: Kiai Said Tuntun Seorang Agnostik Amerika Masuk Islam

"Nah, begitu juga budaya Arab, kalau kita salat di Masjidil Haram, orang Arab itu biasa melangkahi kepala kita saat sedang sujud. Saya yakin, itu bukan orang Indonesia, Malaysia, bukan Brunei. Itu jelas orang Arab," tegasnya.

Di Arab dan Barat, memanggil orang yang lebih tua tidak dengan sebutan atau gelar kehormatan. Melainkan langsung namanya saja. Jelas, berbeda dengan di Indonesia.

"Orang kita itu, kalau lagi marah saja, pasti nyebut gelarnya. Misal, Kang Durahman, jahat sekali kamu," katanya yang disambut gemuruh tawa hadirin.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Karena itu, ia mengungkapkan bahwa kebesaran dan martabat bangsa itu ada pada budayanya.

"Maka, mari sama-sama kita jaga budaya. Karena keberadaan Indonesia adalah budayanya," pungkasnya.[]



(Redaksi RN)
Read More

Kiai Said: Nabi SAW. Tidak Diperintah Membangun Umat Islam, Tapi Umat Modern


rumahnahdliyyin.com, Medan - Dihadapan 136 peserta Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) PWNU. Sumatera Utara, lebih dari dua jam Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., menyampaikan materi pendalaman. Dan diantara titik yang ditekankan oleh kiai Said adalah makna pentingnya membangun ummatan wasathon.

Ummatan wasathon, menurut kiai Pengasuh Ponpes Ats-Tsaqofah, Ciganjur ini, bukan semata umat yang moderat. Melainkan juga umat yang modern. Umat yang berdiri diatas konstitusi. Umat yang seimbang antara dua kutub ekstrem, antara kanan dan kiri.

"Nabi tidak diperintah membangun umat Islam, tapi umat modern. Ummatan wasathon, bukan ummatan Islamiyyan, bukan ummatan 'Arobiyyan," jelas kiai Said.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis

Apa gambaran umat modern itu? Kiai Said mengatakan bahwa umat modern itu sistem sosialnya bercirikan citizenship. Di dalamnya bisa ada Arab dan non-Arab, ada muslim dan non-muslim.

Dalam struktur kewarganegaraan, dalam model citizenship ini tidak boleh ada permusuhan, kecuali pada yang melanggar hukum.

"Barang siapa membunuh non-muslim, nanti di akhirat berhadapan dengan saya. Barang siapa berhadapan dengan saya, tidak akan mencium baunya surga," demikian kiai Said mengutip sebuah hadits Bukhari.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Dengan penjelasan lain, ciri masyarakat modern, imbuhnya, adalah yang menerapkan tiga konsep persaudaraan. Yakni ukhuwwah Islamiyyah, ukhuwwah insaniyyah, dan ukhuwwah wathoniyyah.

"Wa kadzaalika ja'alnaakum ummatan wasathon litakuunu syuhadaa'a 'alan-naasi wa yakuunur-rosuula 'alaikum syahiida. Islam wasathon, Islam yang mutamaddin. Islam yang moderat, Islam yang maju," urai kiai Said.

Baca Juga: Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur'an Kepada Mu'allaf

Pada bagian lain, kiai Said juga menjelaskan pengaruh kuat Imam Syafi'i, Imam Ghazali dan Imam Madzhahibil-'Arba'ah dalam membangun konstruksi pemikiran keagamaan Islam yang moderat. Termasuk bagaimana mempertemukan jalan pikir hakikat dan syari'at.

"Hakikat itu ibarat pondasi. Syari'at bagaikan atapnya. Tembok yang mengelilinginya bernama akhlaq," jelas kiai Said.

MKNU yang diadakan PWNU Sumatera Utara ini berlangsung dari tanggal 16 hingga 18 Maret 2018.[]

(KSF/ANW).
Read More

Program Pemerintah 1,5 Triliun Tidak Jalan, Gerakan Koin NU Harus Digalakkan


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengakui bahwa pemberdayaan ekonomi warga merupakan program yang memerlukan energi besar, baik pemikiran, konsep hingga implementasinya. Meskipun sulit, PBNU menghimbau agar semua pihak yang telah melakukan program pemberdayaan ekonomi warga, tidak putus asa.

"Kita bisa melihat hasil program dibidang kesehatan, seperti pendirian rumah sakit. Kita juga bisa melihat capaian dibidang pendidikan, seperti mendirikan sekolah dan universitas. Namun, kita tidak pernah mudah melihat sejauh mana capaian program kita dibidang pemberdayaan ekonomi warga," kata Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj, MA., Ketua Umum PBNU dalam memaparkan program saat rapat Syuriah-Tanfidziyah PBNU, Selasa siang, pada 6 Maret 2018 lusa.

Baca Juga: Rakornas NU Care Lazisnu Ketiga Di Sragen

Menurut kiai Sa'id Aqil, pemerintah pun mengalami kesulitan yang sama saat diminta untuk menunjukkan sejauh mana capaian dibidang pemberdayaan ekonomi warga. Kesulitan ini bukan karena kemalasan dan kejumudan pemerintah, namun karena kompleksitas bidang ekonomi yang melibatkan dua ratus lima puluh ribu juta warga Indonesia.

"Contoh sederhana, Pak Jokowi ingin membantu permodalan masyarakat melalui NU dengan mengucurkan dana total Rp. 1,5 Triliun. Namun, sampai saat ini, Kementerian Keuangan kesulitan mencari skema pembiayaan tersebut karena pemerintah terbentur aturannya sendiri. PBNU minta bunga yang dibebankan kepada masyarakat paling tinggi 7 persen. Tapi pemerintah belum bisa memenuhi," kata kiai Sa'id Aqil lagi.

Baca Juga:
NU Care Lazisnu Peduli Papua
NU Peduli Wabah Campak dan Gizi Buruk di Asmat

Akibatnya, imbuh kiai Sa'id Aqil, pemerintah sampai saat ini masih belum bisa merealisasikan program mulia tersebut. Padahal, jika hal ini terealisasi, maka sangat membantu untuk menggerakkan ekonomi warga masyarakat bawah.

"Bunga yang dikenakan dari dana PKBL sudah bagus, 3% pertahun. Hanya, nominalnya masih terbatas. Jika Rp.1.5 Triliun ini dikenakan bunga, tak perlu 3%, cukup 7%, maka gairah ekonomi masyarakat kecil akan tampak bergerak cepat," tutur kiai Sa'id Aqil.

Baca Juga: Kaleng Penguat Ekonomi Umat

Kesulitan gerakan ekonomi warga karena aturan ini, harus ditemukan solusinya. Diantaranya yaitu dengan cara mendorong masyarakat untuk bisa membiayai dirinya sendiri. Maka, program gerakan Koin NU harus digalakkan.

"Tahun 2017, gerakan Koin NU sudah mampu mengumpulkan modal Rp. 250 miliar. Kita perlu gerakkan lagi, hingga di tahun 2018 ini mampu membukukan hingga satu triliun rupiah," tandas kiai Sa'id Aqil dalam rapat Syuriah-Tanfidziyah PBNU yang membahas beberapa agenda. Termasuk persoalan internal NU dan kemasyarakatan.





(Redaksi RN)
Read More

Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama berpandangan bahwa tahun Pilpres, Pilkada dan Pileg ini sebagai proses demokrasi yang harus dihadapi secara dewasa dan dijalani dengan tenang dan damai. Demikian salah satu hasil Rapat Syuriah-Tanfidziyah yang digelar di Jakarta, Selasa siang, 6 Maret 2018.

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., mengatakan bahwa di tahun demokrasi ini, seluruh pengurus NU, baik di Lembaga maupun Badan Otonom, harus tunduk terhadap aturan organisasi.

"Yang paling mudah tunduk kepada aturan NU itu, semua pengurus NU tidak boleh menggunakan atribut NU untuk kepentingan politik praktis. Ini aturan mutlak. Tidak boleh ditawar," tegas kiai Said Aqil.

Kiai Said menambahkan lagi bahwa sebagai warga negara, pengurus NU boleh memilih dan dipilih. Konsekuensi organisasi saat dipilih, itu ada. Begitu juga aturan saat memilih, juga ada. Etika berpolitik bagi pengurus NU itu sudah jamak diketahui oleh pengurus NU, baik di Lembaga maupun Badan Otonom.

"Saya tidak perlu menggurui karena aturan NU sudah diketahui oleh pengurus. Karena itu, PBNU hanya menyegarkan kembali atas etika berpolitik bagi pengurus NU," imbuh pengasuh Pondok Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur tersebut.

Berkaitan dengan beberapa kader NU yang mengikuti kontestasi Pilkada, kiai Said Aqil menyerukan agar menjunjung tinggi etika berpolitik NU dan menjaga persaudaraan sesama warga bangsa. Menurut kiai Said, Pilkada tidak lebih penting daripada persaudaraan sesama anak bangsa.

"Bagi politisi, kekuasaan itu penting untuk mewujudkan idealisasinya. Tidak kalah penting lagi adalah persaudaraan untuk mewujudkan ketenangan dan ketenteraman kehidupan anak bangsa," terang kiai Said.

Rapat Syuriah-Tanfidziyah PBNU yang dimulai sejak siang hari dan baru selesai menjelang tengah malam itu, membahas beberapa agenda. Diantaranya yaitu tentang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan tahun politik Indonesia.




(Redaksi RN)
Read More

Lawan Kebencian, Mari Bangun Algoritme Kebersamaan


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, mengingatkan pentingnya kecerdasan dalam bermedia sosial. Hal itu diungkapkannya pada Selasa malam kemarin, 6 Maret 2018, dalam agenda acara "Istighotsah dan Diskusi Politik dan Cyber: Menuju Medsosul Karimah" di Masjid PBNU, Jakarta Pusat.

"Sekarang ini, yang penting bagi kita semua itu kecerdasan bermedia sosial. Agar Indonesia tetap tenang dan damai. Tidak terusik dari kekisruhan di media sosial. Kita harus lawan kebencian. Kita bangun algoritme kebersamaan," paparnya.

Pada acara ini, hadir pula Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU), KH. Miftahul Akhyar (Wakil Rais 'Aam PBNU), KH. Said Asrori (Syuriah PBNU), Kombes Mulya (Polri), Suwadi D. Pranoto (Wasekjen PBNU), KH. Aizzudin Abdurrahman (Ketua PBNU), Sabrang Damar Mowopanuluh (Noe Letto), KH. Atholillah Habib (Waketum Pagar Nusa) dan Hasanuddin Wahid (Sekum Pagar Nusa).

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj, dalam kesempatan ini mengajak warga Nahdliyyin dan semua warga Indonesia untuk cerdas dalam bermedia sosial. Beberapa negara Timur Tengah yang telah mengalami krisis dan konflik pun di sebutkan sebagai pembelajaran.

Baca Juga:
Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol
Ppagar Nusa Temanggung Adakan Muskercab

"Kita lihat bagaimana perpecahan yang terjadi di Timur Tengah. Dari Syiria, Yaman, Libia dan beberapa negara di sekitarnya. Sebagian besar, diawali dengan perdebatan yang tak kunjung henti di media sosial. Ini harus kita sadari bersama," ungkap kiai Sa'id.

Lebih lanjut, kiai Sa'id mengajak umat muslim dan warga Indonesia untuk melawan kebencian. Sebab, jelas sekali bahwa kebencian, apalagi menebarnya, adalah suatu hal yang dilarang oleh ajaran agama.

"Sudah jelas, ajaran agama melarang kita untuk menebar kebencian. Yang harus dilakukan, yakni membagi kebahagiaan, amal sholih dan akhlaqul karimah," jelas kiai Sa'id.

Sementara itu, dalam kesempatan diskusi, Sabrang Damar (Noe Letto), menganalisa bagaimana berkembangnya media sosial serta tertinggalnya pemikiran warga Indonesia. Di hadapan ratusan pendekar dan jama'ah Istighotsah, Sabrang mengingatkan agar kita semua sadar diri ketika bermedia sosial.

"Sekarang ini, revolusi Industri tahapan ketiga. Kita pernah dengar bitcoin dan beberapa inovasi digital. Tapi, sekarang ini, warga Indonesia masih terpaku pada perdebatan yang riuh di media sosial," papar Sabrang.

"Kita harus lihat, bagaimana media sosial itu diciptakan, siapa yang menciptakan? Media sosial dirancang hampir sama dengan narkoba, agar addict (kecanduan). Medsos dicipta sedemikian rupa, agar pengguna kecanduan. Nah, ini yang harus kita pahami," imbuh Sabrang Noe Letto agak lebih rinci.

"Jangan seperti anak kecil yang berkelahi dengan anak kecil. Yang dibutuhkan sekarang ini adalah pawang yang mampu memayungi perdebatan-perdebatan yang ada," ucapnya kemudian.

Baca Juga:
Ketum PP. Pagar Nusa: Gerakan Intoleran, Tidak Bisa Dibiarkan
Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa

Sedangkan Suwadi D. Pranoto, pakar geostrategi, menyampaikan pentingnya menganalisa skenario dibalik penciptaan media sosial.

"Jelas, bahwa kita tidak hanya melihat media sosial, semata teknis teknologi digital. Kita harus melihat lebih mendalam. Aspek filosofis dan strategis dibalik itu," kata Suwadi yang akrab disapa dengan Cak Su ini.

Pada masa khidmah kepengurusan tahun 2017-2022, Pagar Nusa dibawah komando Nabil Haroen ini mengkonsolidasi diri dengan meluaskan jaringan dan meningkatkan kualitas pendekar. Sedangkan kegiatan Istighotsah dan Kajian yang diselenggarakan secara rutin tiap bulannya di Masjid PBNU ini merupakan ajang silaturrahmi kebangsaan dan menguatkan ukhuwwah Islamiyyah. []
Read More