Di Bulan Gus Dur, Jaringan Gusdurian Menerima Asia Democracy and Human Rights Award 2018


rumahnahdliyyin.com - Bulan Desember ini adalah bulan istimewa bagi kami, Jaringan Gusdurian Indonesia. Pertama, bulan ini adalah bulan Gus Dur. Bulan ketika kita semua memperingati wafatnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di bulan ini, haul Gus Dur diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia untuk mengenang sekaligus menebarkan tauladan beliau.

Kedua, di Desember tahun ini, Jaringan Gusdurian mendapatkan anugerah Asia Democracy and Human Rights Award 2018 oleh The Taiwan Foundation for Democracy (TFD). Penghargaan ini secara langsung diberikan oleh Presiden Republik China Taiwan, Ibu Tsai Ing-wen.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Menurut TFD, Jaringan Gusdurian telah bekerja untuk mempromosikan dialog antaragama, multikulturalisme, konsolidasi masyarakat sipil, toleransi, demokrasi dan hak asasi manusia. Dengan berpegang pada sembilan nilai utama Gus Dur, JGD selama ini tak kenal lelah berjuang untuk kebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama.

Jaringan Gusdurian juga dinilai telah melakukan intervensi yang berarti terhadap masalah diskriminasi di Indonesia dengan membela mereka yang menjadi korban. Jaringan Gusdurian juga menjadi salah satu organisasi terkemuka dalam memerangi radikalisme dan intoleransi di Indonesia, termasuk mengurangi dan mengurangi potensi konflik komunal di negeri yang penuh dengan keragaman agama dan etnis.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Presiden Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia (FIDH), Dimitris Christopoulos, terkesan oleh upaya dialog antar-iman yang dilakukan oleh Jaringan Gusdirian, yang berasal dari aktivis Islam moderat di dunia dimana Islamophobia telah masuk ke dalam agenda politik.

Sementara Dr. Shin Hae Bong, Presiden Japan’s Human Rights Now, menyatakan bahwa Jaringan Gusdurian telah berkontribusi menciptakan ruang dialog yang aman bagi orang-orang dengan beragam latar belakang agama dan etnis, yang sangat penting dalam masyarakat multi-etnis, memainkan peran katalis dalam mempromosikan dialog antaragama, demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia dan di luar negeri.

Baca Juga: Ruh Gus Dur di Sidera

Penghargaan ini tentu saja membanggakan dan patut disyukuri. Ini menandakan bahwa kerja-kerja kami selama ini mendapatkan apresiasi di tingkat internasional.

Secara khusus, Jaringan Gusdurian mengucapkan terimakasih kepada The Taiwan Foundation for Democracy yang telah memberikan penghargaan ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada mitra-mitra kerja kami di Indonesia dan luar negeri yang selama ini telah membantu kerja-kerja Jaringan Gusdurian.

Penghargaan ini, secara khusus, kami dedikasikan kepada seluruh pejuang HAM di Indonesia dan seluruh dunia yang selama tidak kenal lelah terus berjuang menegakkan keadilan, demokrasi dan HAM.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Namun demikian, bagi kami, penghargaan ini lebih merupakan cambuk. Cambuk keras agar kami tidak berhenti dan terus bekerja. Perjuangan untuk menegakkan HAM tidak boleh berhenti hanya dengan sebuah award.

Bagi kami, penghargaan ini justru menjadi tanda bahwa Jarigan Gusdurian harus bekerja lebih keras dalam memperjuangkan keadilan, bebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama. Di masa mendatang kasus-kasus diskriminasi dan menguatnya politik identitas akan menjadi tantangan berat bagi kerja-kerja perjuangan Hak Asasi Manusia.

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur di Mata Profesor Jepang

Kami berharap penghargaan ini juga menjadi penanda baru bagi lebih dari seratus komunitas gusdurian yang tersebar di seluruh Indonesia untuk terus bekerja menebarkan nilai-nilai yang telah diajarkan Gus Dur bagi terwujudnya masa depan Indonesia yang lebih berperikemanusiaan.

Salam.

Seknas Jaringan Gusdurian Indonesia.
[]
Read More

Peringati Maulid Nabi, Warga Maros di Biak Tetap Lestarikan Tradisi


rumahnahdliyyin.com | Biak Numfor - Himpunan Keluarga Maros, Sulawesi Selatan, tetap menjaga tradisi budaya masyarakat Bugis-Makassar meskipun tengah berada di tanah perantauan, di Biak Numfor, Papua. Tradisi budaya tersebut yaitu membagi makanan ketan telur yang dihias dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah.

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 8 Desember 2018, itu dihadiri juga oleh Pelaksana Tugas Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap. Dalam kesempatan itu, Plt. Bupati mengajak warga Maros untuk memaknai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. tidak berhenti pada perayaan seremonialnya semata.

Baca Juga: Maulid

"Jadikan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. untuk saling berbagi dan menjaga kebersamaan antarwarga Maros dalam mendukung program pemerintah," ujarnya sebagaimana diberitakan oleh Antara.

Ia juga mengajak warga Maros agar terus menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat lain dan hidup berdampingan di Kabupaten Biak Numfor.

Melalui hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., menurut Herry, diharapkan warga Maros dapat meningkatkan nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga: Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia

Sementara itu, Ketua Himpunan Keluarga Maros Biak Numfor, Abdul Kadir, mengakui bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. itu dilaksanakan warga Maros sebagai bukti pengamalan nilai ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT.

"Di peringatan Maulid, warga Maros telah membagikan telur ketan beserta lauk-pauk untuk diberikan kepada setiap tamu yang hadir," katanya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah oleh Himpunan Keluarga Maros di Biak Numfor itu memang berlangsung dengan hikmad dan cukup meriah. Adapun ketan telur maulid disediakan oleh panitia penyelenggara.[]
Read More

Ruh Gus Dur di Sidera


rumahnahdliyyin.com - Ketika menjadi presiden, Gus Dur sering melakukan lawatan ke berbagai negara. Tujuannya untuk meyakinkan dunia internasional agar tak turut campur mengobok-obok Indonesia.

Ketika itu negeri kita diambang disintegrasi. Separatis muncul di Papua, GAM di Aceh dan RMS di Maluku yang remote-nya dimainkan di luar negeri.

Banyak orang murka. Mereka menuduh Gus Dur cuma "jalan-jalan" menghabiskan uang rakyat. Dan puncaknya waktu Gus Dur berkunjung ke ibu kota Perancis, Paris. Para pembencinya semakin menjadi-jadi.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Tapi apa kata Gus Dur saat ditanyakan hal itu, "Tahu apa mereka dengan yang saya kerjakan. Lha ngapain juga saya jalan-jalan ke Paris kalo nggak ada gunanya? Wong Paris dan Jakarta bagi saya sama saja kok. Sama-sama gelap." Ujarnya cuek. Buat Gus Dur keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk melakukan banyak hal bagi persatuan bangsa.

Hari Minggu kemarin, saya mengunjungi Sidera. Salah satu desa yang mengalami bencana Liquifaksi. Dan betapa terkejutnya saya karena bertemu Gus Dur di tempat ini.

Tapi, jangan salah paham dulu. Sebab yang saya maksud dengan pertemuan itu bukanlah pertemuan fisik. Di Sidera itu saya menemukan "ruh" Gus Dur. Gus Dur yang menjelma menjadi semangat persatuan. Semangat toleransi.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Uang

Di Sidera toleransi dijunjung tinggi. Masjid dan Gereja berdampingan. Warga muslim dan kristiani hidup rukun. Menurut warga setempat, walaupun orang Tator mayoritas, mereka tetap menghormati etnis Jawa yang minoritas.

Paska gempa di Sidera, banyak warga yang kehilangan tempat tinggal. Saya dengar, ada orang Jawa menetap di rumah orang Tator karena rumahnya hancur. Mereka diterima dengan baik layaknya keluarga sendiri.

Inilah yang mendorong komunitas para pecinta toleransi yang diperjuangkan Gus Dur (GUSDURIAN) untuk membangunkan warga Sidera Hunian sementara (Huntara). Harapannya, Huntara ini bisa didiami oleh siapa saja tanpa tersekat-sekat primordialisme.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Huntara ini menempati lokasi yang tidak terlalu luas. Letaknya di sepanjang jalan yang menghubungkan Desa Sidera dan Desa Jono Oge. Bangunanya sederhana, terbuat dari triplek dan dipetak-petak memanjang dari timur ke barat berbentuk persegi empat. Bangunan ini mengingatkan saya pada los-los pedagang di pasar tradisional di pedesaan. Selain hunian warga, dibangun juga musholla. Tempatnya pas di tengah-tengah Huntara.

Huntara terlihat mencolok, karena dicat warna-warni dan dihiasi gambar serta pesan-pesan bijak Gus Dur, sehingga ia terlihat unik dan mengundang perhatian warga yang lewat. Tidak sedikit diantara mereka yang mampir dan berswafoto di depannya.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Raga Gus Dur mamang telah tiada. Ia disemayamkan nun jauh di Jombang. Namun semangatnya tetap hidup. Ia tetap "pelesiran" ke mana-mana. Dan kini saya melihat Gus Dur berada di Sidera.[]



* Oleh : Abdul Hakim Madda
Read More

Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia


rumahnahdliyyin.com | Paniai - PHBI Kabupaten Paniai, Papua, pada Sabtu, 1 Desember 2018, menghadirkan ustadz. Drs. Umar Bauw Al-Bintuni sebagai penceramah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 H. Acara yang bertempat di Masjid Al-Mubarok Enarotali itu berlangsung lancar.

Dalam ceramahnya, dai kelahiran Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, itu mengajak umat Islam untuk mencintai Nabi Muhammad SAW. sekaligus meneladani akhlaq beliau dalam kehidupan sehari-hari.

"Hablum-minalloh dan yang paling utama ini adalah hablum-minannas, hubungan baik kepada sesama manusia. Apalagi kita hidup di tengah-tengah umat Nasrani yang beraneka ragam. Kita harus mengetahui hak-hak bertetangga dengan umat non-muslim yang diajarkan oleh Nabi kita. Jangan sampai perbedaan ini menjadikan perpecahan. Namun bersatu merajut persaudaraan, bergandengan untuk kehidupan yang harmonis," ujar Kasi Pendidikan Agama Islam Kanwil Kemenag Papua itu.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Selain itu, ia juga sedikit mengulas sejarah masuknya agama Islam di Papua. Dituturkannya bahwa pada tahun 1213 M., agama Islam sudah ada di Teluk Bintuni Fakfak dan menjadi agama mayoritas masyarakat asli setempat. Namun ketika ada umat Nasrani datang yang ingin menyebarkan agama Nasrani, pun tidak ditolak. Pada waktu itu, raja setempat malah mengantarkan dan menunjukkan ke sebuah pulau yang namanya Pulau Mansinam (sekarang Manokwari, red.) yang mana masyarakat di sana sama sekali belum mengenal agama dan masih menganut agama nenek moyang dan ateisme.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan

Selanjutnya, dai asli Papua itu kemudian memaparkan contoh kerukunan yang ada di Teluk Bintuni. Di sana ada Masjid Pattimburak yang arsiteknya merupakan perpaduan antara gereja dan masjid. Masjid tersebut dulunya dibangun bersama umat Nasrani dan Katolik. Dan di sebelah Masjid tersebut juga dijadikan sebagai tempat ibadah orang Nasrani dan Katolik. Di sana hidup rukun berdampingan dan saling membantu satu dengan lainnya, sebagaimana dalam kehidupan sehari hari masyarakat di sana. Apabila dari umat Islam memerlukan pertolongan, umat Nasrani pun tidak enggan untuk membantu.

Kalau sudah seperti itu, lanjutnya lagi, tidak ada agama Islam atau Nasrani. Yang ada adalah manusia dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, di sana ada istilah “Satu Tungku Tiga Batu” sebagai gambaran bahwa meskipun kita berbeda agama namun kita harus bersama-sama bergandengan tangan dan tidak bermusuhan.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Pada acara tersebut, Bupati Paniai terpilih pun, bapak Mekky Nawipa, tampak hadir dan memberikan sambutannya. Walaupun ia seorang Nasrani, ia tetap menghargai peringatan hari-hari suci umat Islam dan mengapresiasi acara peringatan Maulid Nabi itu.

"Kita semua adalah makhluk Tuhan dan kita ketahui bahwa kita hidup dan lahir di Indonesia. Dan saya yakin semua agama mengajarkan untuk saling menghormati, mengasihi antar umat satu dengan yang lainnya. Mari bersama-sama menjaga kerukunan dan membangun Papua menjadi maju, harmonis dan tidak ada perpecahan," ajak bapak Bupati.[]
(M. Taha)
Read More

Gus Dur; Menertawakan Diri Sendiri


rumahnahdliyyin.com - Salah satu sifat Gus Dur yang tidak dimiliki oleh tokoh-tokoh besar, baik tokoh bangsa, tokoh politik, tokoh agama lainnya, apalagi cuma tokoh kecil sahaja, adalah tidak malu menertawakan diri sendiri, selain menertawakan orang lain. Bahkan menertawakan NU. Lha, bukankah dia seorang kiai? Keturunan pendiri NU, Ketua Umum PBNU lagi. Tidak mungkin deh, beliau merendahkan diri sendiri.

Saudaraku, menertawakan bukan berarti menghina. Meskipun Gus Dur semasa hidupnya sering menertawakan dirinya sendiri, serta tidak jarang menjadikan organisasi kaum nahdliyyin ini sebagai bahan kelakar, beliau pasti tak bermaksud menghina, wong ini cuma canda alias lelucon guyonan, kok. Lagi pula, kalau Gus Dur benar-benar menertawakan NU, siapa juga yang berani protes.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Dalam keseharian, sikap menertawakan orang lain, tanpa disadari, cukup sering kita lakukan, seakan-akan menjadi sebuah kebiasaan tersendiri. Kita sering menertawakan keluguan orang lain, menertawakan kelemahan serta kekurangan orang lain.

Biasanya sebagian orang yang berkecukupan suka menertawakan orang yang lebih rendah dari mereka karena cara berpakaian dan bersikapnya dianggap sangat norak. Sebaliknya, sebagian orang yang hidupnya hanya apa adanya suka menertawakan sikap orang kaya yang senang bermewah-mewah, menghamburkan kekayaan.

Begitu juga orang yang merasa pintar suka menertawakan kebodohan orang lain. Sebaliknya, orang yang bodoh suka menertawakan sikap orang pintar yang dianggap sering sok tau. Orang dari kota menertawakan orang desa. Juga sebaliknya dan seterusnya.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Sikap menertawakan orang lain memang sangatlah mudah dan bisa dilakukan kapan saja. Namun yang sering terabaikan dan mungkin sulit untuk dilakukan adalah menertawakan diri sendiri.

Kita sering lupa menertawakan sikap kita yang suka mengejek orang lain, menghina, menyakiti orang lain, membuka dan menyebarkan aib orang lain dan seterusnya. Padahal sikap menertawakan diri sendiri dapat menjadi cermin diri agar kedepannya kita dapat melakukan yang terbaik.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Konon, Umar ibn Khothob, sahabat Rosululloh, kadang suka menertawakan dirinya sendiri ketika mengingat masa lalunya yang ia anggap lucu. Betapa tidak, ia membuat patung dari roti untuk kemudian disembah. Dan ketika dia merasa lapar, patung itu ia makan sendiri.

Gus Dur memang ahlinya memainkan lelucon penertawaan diri sendiri sekaligus mencairkan ketegangan politik lewat humor. Dengan begitu, politik tak lagi muram dan hubungan sosial tidak kehilangan makna.

Seperti beliau katakan, “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.”

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Jika Gus Dur masih hidup, mungkin Gus Dur akan cengar-cengir saja melihat politik Indonesia hari ini yang penuh caci maki tapi miskin imajinasi dan kekurangan lelucon. Barangkali ia cengar-cengar juga ketika melihat meme yang menghina salah satu putrinya, Alissa Qotrunnada Munawaroh, dengan sebutan “anak si buta”.

Ketika desakan pengunduran diri kepada Gus Dur sebagai Presiden RI makin kencang di mana-mana, Cak Nun mampir ke istana. Cak Nun mendatangi Gus Dur sebagai seorang sahabat yang bermaksud mengingatkan.

“Gus, sudahlah, mundur saja. Mundur tidak akan mengurangi kemuliaan sampeyan,” kira-kira begitu kata Cak Nun kepada Gus Dur.

Jawaban Gus Dur, “Aku ini maju aja susah, harus dituntun, apalagi suruh mundur.” Mereka berdua pun ngakak.

Baca Juga: Tubuh Menurut Gus Dur

Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur tetap sibuk dan tetap lucu. Ia masih melakukan safari ke daerah-daerah. Biasanya untuk berkunjung ke teman-temannya atau mengisi pengajian sampai kampung-kampung yang jauh.

Pada suatu ceramah di sebuah kampung, Gus Dur mengajak semua yang hadir di situ untuk bersholawat barsama-sama. Para hadirin senang sekali melafalkan sholawat yang dipimpin seorang kiai besar.

Di akhir ceramah, Gus Dur nyeletuk, “Saya minta anda semua bersholawat agar saya tahu berapa banyak jumlah yang hadir. Saya, kan, gak bisa melihat,” Gus Dur membuat orang satu lapangan terpingkal-pingkal.

Baca Juga: Inilah Karakter Gus Dur yang Ditempa oleh Ibundanya

Salah satu ulah Gus Dur yang paling dikenal adalah leluconnya soal kedekatan Tuhan dengan umat beragama. Ini juga mengandung unsur penertawaan diri terhadap sesuatu yang dianggap sakral tapi sering dipahami secara kaku, yaitu agama.

“Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apalagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa,” Hadirin pun tertawa.

Seandainya Gus Dur mengucapkannya di zaman sekarang ini, mungkin beliau akan didemo oleh 7 juta umat karena dianggap menistakan agama.

Gus, kami rindu pada sampeyan.[]



* Oleh: Rusdian Malik
Read More