Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Wafatnya "Imam Ghozali Indonesia"; Mengenang Prof. DR. KH. M. Tolhah Hasan


rumahnahdliyyin.com - Suatu malam saya bertanya ke istri, "Kenapa beli kitab sebanyak ini?", sambil melihat puluhan kitab dengan hardcover hijau tua yang baru datang dengan beberapa judul: Mukhtashor fii Ulumiddin, Al-Ghunyatuth Tholibin, Al-Fathur Robbany karya Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani yang menumpuk di ruang tengah. Istri menjawab, "satu set untuk saya, satu set yang lain untuk (dihadiahkan ke) Kiai Tolhah."

Seingat saya, ini bukan yang pertama. Beberapa tahun sebelumnya, waktu ke Kairo, saya pernah mengantar istri keliling ke toko kitab di dekat kampus Al-Azhar, tujuannya sama: mencarikan kitab-kitab pesanan Kiai Tolhah Hasan tentang Fiqh dari 4 madzhab (Madzahibul Arba'ah). Bahkan, musim haji 2018 lalu, kepada istri saya, KH. Tolhah juga memesan kitab Quutul Qulub karya Abu Tholib Al-Maky.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Model interaksi keilmuan semacam ini yang sering dilakukan istri saya dengan Kiai Tolhah Hasan, baik sebagai kerabat maupun pengurus di Yayasan Al-Maarif Singosari, dengan menjadikan Kiai Tolhah Hasan sebagai "jujugan" utama dalam berkonsultasi ketika menemukan persoalan organisasi, pendidikan di lingkungan Al-Maarif dan pesantren, hingga urusan pemilihan kitab tafsir Al-Ibriz karya KH. Bisri Mustofa yang akan diajarkan istri ke jama'ah ibu-ibu di Masjid Besar Hizbullah Singosari.

Kiai Tolhah memang pribadi yang lengkap. Seorang organisatoris handal (memulai menjadi aktifis Ansor hingga menjadi pimpinan PBNU), memiliki kemampuan akademik dalam disiplin ilmu umum (Pendiri dan Rektor Unisma), serta kealiman dan penguasaan literatur keisIaman yang luas. Gus Dur, bahkan, pernah menyebut KH. Tolhah Hasan sebagai Imam Ghozali-nya Indonesia. Maka tak heran ketika KH. Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI keempat, KH. Tolhah Hasan diangkat sebagai Menteri Agamanya.

Baca Juga: Meski Diminta Istri untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Saya sendiri punya banyak pengalaman pribadi dengan Kiai Tolhah dalam banyak hal, termasuk mengaji rutin kitab Rowai'ul Bayan Tafsiir Ayatul Ahkam karangan Muhammad Ali Ash-Ashobuny ke beliau di kediaman Singosari. Di luar urusan mengaji, sejak saya aktif di Ansor PAC. Singosari hingga Cabang Kabupaten Malang, saya punya pengalaman ketika saya ditunjuk menjadi ketua panitia Harlah Ansor ke 69. Saya diminta untuk membuat buku (Tak Lekang Ditelan Zaman) tentang sejarah kepengurusan GP. Ansor Kabupaten Malang sejak berdiri hingga Kepemimpinan Sahabat Hanief (saat saya menjadi sekretaris cabang), maka KH. Tolhah menjadi salah satu sesepuh yang kami sowani karena beliau mantan Ketua PC. Ansor di awal Tahun 1960-an.

Baca Juga: KH. Raden Asnawi; Ulama yang Keras Terhadap Penjajah

Salah satu cerita beliau yang sangat menarik adalah: hampir semua ranting di tingkat desa/dusun di Kabupaten Malang pernah beliau kunjungi.

Ketika Haul Gus Dur Tahun 2013, saya diminta keluarga Ciganjur untuk menjadi narahubung KH. Tolhah Hasan untuk memberikan ceramah dan testimoni tentang Almarhum KH. Abdurrahman Wahid. Ketika selesai acara, saya menyaksikan Kiai Tolhah menolak diberi bisyaroh oleh panitia. Beliau begitu hormat kepada Almarhum Gus Dur dan merasa sebagai keluarga besarnya.

Sewaktu Persiapan Harlah Ansor Tahun 2012 di Solo yang akan dibuka Presiden SBY, saya pernah diminta Sahabat Nusron Wahid untuk mengantar sowan ke KH. Tolhah Hasan di rumah beliau di Cibubur. Tetapi waktu itu, KH. Tolhah Hasan bersamaan dengan agenda lain sehingga tidak bisa hadir dalam pemberian penghargaan sebagai sesepuh di Harlah Ansor ke- 78 di Solo.

Baca Juga: KH. M. Aniq Muhammadun; Pakar Nahwu yang Tersembunyi

Di tahun-tahun terakhir ketika KH. Tolhah Hasan memilih untuk menetap di Singosari, setidaknya ada dua pengalaman dibidang keorganisasian yang patut diteladani Warga NU: beliau "menolak" dicalonkan menjadi pucuk pimpinan organisasi. Pertama, ketika saya menyaksikan KH. Hasyim Muzadi sowan ke Kiai Tolhah Hasan agar bersedia dicalonkan sebagai Rois 'Aam dalam rangka persiapan Muktamar NU Jombang. Kiai Tolhah ngendikan tidak bersedia karena faktor usia. Kedua, ketika saya mengantar Pak LBP dan Mbak Yenny Wahid ke Singosari untuk sebuah diskusi kemungkinan Kiai Tolhah Hasan bersedia menjadi Ketum MUI, beliau juga menjawab tidak bersedia karena faktor usia.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Sebelum saya berangkat ke Tiongkok untuk melanjutkan studi S3, Kiai Tolhah sempat memberikan wejangan ke saya tentang kemajuan China yang perlu dipelajari. Bahkan dalam berbagai kesempatan pulang ke Indonesia, ketika bertemu beliau, KH. Tolhah sering mengenalkan saya ke beberapa orang sebagai pengurus NU Tiongkok.

Beberapa minggu lalu saya mendengar berita dari istri: Kiai Tolhah masuk RS dan memberikan update kabar perkembangan kesehatan beliau dari waktu ke waktu. Hari ini, 29 Mei 2019, saya menerima kabar tentang wafatnya tokoh dan kiai panutan kita semua, KH. M. Tolhah Hasan, "Imam Ghozali-nya Indonesia".

Kullu man 'alaiha faan, wayabqo wajhurabbika dzul jalaali wa al-ikroom.

Sugeng tindak, pak kiai...



* Oleh: Imron Rosyadi Hamid, Rois Syuriyah PCINU Tiongkok.
Read More

Mengintip Masjid Peninggalan Paku Buwono X di Boyolali


rumahnahdliyyin.com, Boyolali - Pada umumnya, masjid di Indonesia selalu dinamai dengan mengambil kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Namun, tidak demikian halnya dengan salah satu masjid yang berada di Boyolali. Masjid yang terletak di kompleks wisata religi Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, itu, dinamai dengan mengambil kata-kata dari bahasa Jawa. Yaitu bernama Masjid Cipto Mulyo.

Unik, bukan? Masjid Cipto Mulyo ini ternyata merupakan salah satu masjid tertua di Boyolali. Ia dibangun oleh Raja Keraton Surakarta, yaitu Paku Buwono X, pada hari Selasa Pon, 14 Jumadil Akhir 1838 Je atau 1905 M. Kalau dihitung sampai sekarang (tahun 2019), masjid ini kurang lebih sudah berusia 114 tahun. Dan ada pendapat yang mengatakan bahwa kata "Cipto Mulyo" digunakan oleh Raja sebagai nama masjid, dengan harapan supaya hidup kita menjadi mulia, sejahtera lahir dan batin, baik di dunia dan akhirat.

Baca Juga: Masjid Jawa di Thailand

Selain namanya yang unik, bentuk bangunan masjid ini juga tergolong berbeda dari masjid kebanyakan. Masjid Cipto Mulyo ini menampilkan desain Jawa kuno. Ornamen-ornamen ukiran terpasang di ventilasi pintu.

Sejak dibangun ratusan tahun lalu, masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Namun, bentuk masjid masih dipertahankan seperti saat awal dibangun dulunya. Bahkan, konstruksi kayu dan bangunan juga belum berubah. Tiang dan usuk dari kayu jati masih yang aslinya. Dindingnya pun masih aslinya. Hanya saja, saat ini sebagian telah dilapisi dengan marmer.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Sejumlah benda-benda masjid pun masih asli sejak zaman dulu, seperti bedug dan kentongan. Bahkan, bedug berukuran besar itu dibuat dari kayu utuh. Di kentongan itu juga terdapat tulisan PB X.

Di serambi depan, tepatnya di atas tangga masuk, juga masih terpasang prasasti dari kayu dengan tulisan huruf Jawa yang menjelaskan tentang waktu didirikannya Masjid Cipto Mulyo ini. Kemudian kubah masjid yang memiliki arah angin juga masih dipertahankan.

Baca Juga: Mengintip Masjid Tertua di Sidoarjo

Selain termasuk sebagai masjid yang bersejarah dan merupakan jejak peninggalan penyebaran Islam di wilayah Pengging, di belakang masjid ini juga terdapat kompleks makam salah satu pujangga Keraton Surakarta, yaitu Yosodipuro.[]




Sumber: detik.com
Read More

Mengintip Masjid Tertua di Sidoarjo


rumahnahdliyyin.com, Sidoarjo - Masjid Al-Abror terletak di Dusun Kauman, Kelurahan Pekauman, Kecamatan Kota Sidoarjo. Tepatnya yakni berada di samping selatan sebuah mal, Jalan Gajah Mada, Sidoarjo, Jawa Timur. Karena berada di kawasan pusat perbelanjaan inilah masjid tersebut tidak terlalu nampak. Namun, siapa sangka Masjid Al-Abror merupakan cikal bakal pusat penyebaran Islam di Sidoarjo serta berdirinya Kabupaten Sidoarjo?

Masjid Al-Abror merupakan salah satu saksi bisu berdirinya Sidoarjo serta siar Islam di Kota Delta itu. Sekilas, orang tidak akan menyangka bila bangunan dua lantai yang berdiri kokoh dengan dominasi warna hijau dan kuning tersebut merupakan masjid tertua di Sidoarjo.

Baca Juga: Masjid Jawa di Thailand

Masjid Al-Abror dibangun pada tahun 1678 M. Mereka yang membangun adalah Mbah Moelyadi yang dibantu oleh Mbah Badriyah, Mbah Muso dan Mbah Sayid Salim. Keempat orang tersebut bukanlah penduduk asli Kauman. Mbah Moelyadi berasal dari Mataram, yang karena ada pemberontakan Trunojoyo, lantas ia pergi ke Kauman. Mbah Sayid Salim berasal dari Cirebon. Sedangkan Mbah Badriyah dan Mbah Muso keduanya berasal dari Madura. Keempatnya, makamnya pun berada di lokasi masjid ini.

Hingga kini, Masjid Al-Abror sudah direnovasi tiga kali. Dua bagian bangunan asli yang merupakan peninggalan pada tahun 1678 M., masih bisa disaksikan hingga sekarang, yaitu pintu masuk sisi utara masjid dan tempat pemakaman Mbah Moelyadi yang berada di depan tempat imam. Dan di sebelah makam Mbah Moelyadi, ada makam ketiga tokoh lainnya itu.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali Papua

Masjid Al-Abror dibangun berdekatan dengan Sungai Jetis yang merupakan jalur transportasi utama kala itu. Pada tahun 1859 H. dilakukan pemugaran oleh bupati pertama Bupati Sidokare (nama Sidoarjo waktu itu), yaitu R. Notopuro.

Ketika pemugaran itu, bangunan yang tidak direnovasi hanya pintu gerbang di sisi utara masjid yang dicat putih. Juga petunjuk waktu pertanda sholat dengan sinar matahari yang berada di depan masjid.

Adapun renovasi yang terakhir yaitu pada tahun 2007 oleh Bupati Wein Hendarso. Semua bangunan pun diubah hingga seperti yang terlihat saat ini.[]




Sumber: detik.com
Read More

Gus Dur; Menertawakan Diri Sendiri


rumahnahdliyyin.com - Salah satu sifat Gus Dur yang tidak dimiliki oleh tokoh-tokoh besar, baik tokoh bangsa, tokoh politik, tokoh agama lainnya, apalagi cuma tokoh kecil sahaja, adalah tidak malu menertawakan diri sendiri, selain menertawakan orang lain. Bahkan menertawakan NU. Lha, bukankah dia seorang kiai? Keturunan pendiri NU, Ketua Umum PBNU lagi. Tidak mungkin deh, beliau merendahkan diri sendiri.

Saudaraku, menertawakan bukan berarti menghina. Meskipun Gus Dur semasa hidupnya sering menertawakan dirinya sendiri, serta tidak jarang menjadikan organisasi kaum nahdliyyin ini sebagai bahan kelakar, beliau pasti tak bermaksud menghina, wong ini cuma canda alias lelucon guyonan, kok. Lagi pula, kalau Gus Dur benar-benar menertawakan NU, siapa juga yang berani protes.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Dalam keseharian, sikap menertawakan orang lain, tanpa disadari, cukup sering kita lakukan, seakan-akan menjadi sebuah kebiasaan tersendiri. Kita sering menertawakan keluguan orang lain, menertawakan kelemahan serta kekurangan orang lain.

Biasanya sebagian orang yang berkecukupan suka menertawakan orang yang lebih rendah dari mereka karena cara berpakaian dan bersikapnya dianggap sangat norak. Sebaliknya, sebagian orang yang hidupnya hanya apa adanya suka menertawakan sikap orang kaya yang senang bermewah-mewah, menghamburkan kekayaan.

Begitu juga orang yang merasa pintar suka menertawakan kebodohan orang lain. Sebaliknya, orang yang bodoh suka menertawakan sikap orang pintar yang dianggap sering sok tau. Orang dari kota menertawakan orang desa. Juga sebaliknya dan seterusnya.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Sikap menertawakan orang lain memang sangatlah mudah dan bisa dilakukan kapan saja. Namun yang sering terabaikan dan mungkin sulit untuk dilakukan adalah menertawakan diri sendiri.

Kita sering lupa menertawakan sikap kita yang suka mengejek orang lain, menghina, menyakiti orang lain, membuka dan menyebarkan aib orang lain dan seterusnya. Padahal sikap menertawakan diri sendiri dapat menjadi cermin diri agar kedepannya kita dapat melakukan yang terbaik.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Konon, Umar ibn Khothob, sahabat Rosululloh, kadang suka menertawakan dirinya sendiri ketika mengingat masa lalunya yang ia anggap lucu. Betapa tidak, ia membuat patung dari roti untuk kemudian disembah. Dan ketika dia merasa lapar, patung itu ia makan sendiri.

Gus Dur memang ahlinya memainkan lelucon penertawaan diri sendiri sekaligus mencairkan ketegangan politik lewat humor. Dengan begitu, politik tak lagi muram dan hubungan sosial tidak kehilangan makna.

Seperti beliau katakan, “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.”

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Jika Gus Dur masih hidup, mungkin Gus Dur akan cengar-cengir saja melihat politik Indonesia hari ini yang penuh caci maki tapi miskin imajinasi dan kekurangan lelucon. Barangkali ia cengar-cengar juga ketika melihat meme yang menghina salah satu putrinya, Alissa Qotrunnada Munawaroh, dengan sebutan “anak si buta”.

Ketika desakan pengunduran diri kepada Gus Dur sebagai Presiden RI makin kencang di mana-mana, Cak Nun mampir ke istana. Cak Nun mendatangi Gus Dur sebagai seorang sahabat yang bermaksud mengingatkan.

“Gus, sudahlah, mundur saja. Mundur tidak akan mengurangi kemuliaan sampeyan,” kira-kira begitu kata Cak Nun kepada Gus Dur.

Jawaban Gus Dur, “Aku ini maju aja susah, harus dituntun, apalagi suruh mundur.” Mereka berdua pun ngakak.

Baca Juga: Tubuh Menurut Gus Dur

Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur tetap sibuk dan tetap lucu. Ia masih melakukan safari ke daerah-daerah. Biasanya untuk berkunjung ke teman-temannya atau mengisi pengajian sampai kampung-kampung yang jauh.

Pada suatu ceramah di sebuah kampung, Gus Dur mengajak semua yang hadir di situ untuk bersholawat barsama-sama. Para hadirin senang sekali melafalkan sholawat yang dipimpin seorang kiai besar.

Di akhir ceramah, Gus Dur nyeletuk, “Saya minta anda semua bersholawat agar saya tahu berapa banyak jumlah yang hadir. Saya, kan, gak bisa melihat,” Gus Dur membuat orang satu lapangan terpingkal-pingkal.

Baca Juga: Inilah Karakter Gus Dur yang Ditempa oleh Ibundanya

Salah satu ulah Gus Dur yang paling dikenal adalah leluconnya soal kedekatan Tuhan dengan umat beragama. Ini juga mengandung unsur penertawaan diri terhadap sesuatu yang dianggap sakral tapi sering dipahami secara kaku, yaitu agama.

“Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apalagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa,” Hadirin pun tertawa.

Seandainya Gus Dur mengucapkannya di zaman sekarang ini, mungkin beliau akan didemo oleh 7 juta umat karena dianggap menistakan agama.

Gus, kami rindu pada sampeyan.[]



* Oleh: Rusdian Malik
Read More

Yaqut Cholil Qoumas, Tak Kemplang Kowe!


rumahnahdliyyin.com - Ini cerita tentang masa bujangan antara saya dan Yaqut Cholil Qoumas di masa mahasiswa, di penghujung era 90-an. Di kampus, saya semeja dengannya. Dalam demo '98, saya sering satu barisan dengannya. Di rumah kontrakan di gang sempit di kawasan Pasar Minggu, saya sering tidur satu kasur bersamanya. Dia pacaran, saya mengawal dia. Saya pacaran, dia mengawal saya. Ke mana-mana dia naik bis kota atau angkutan umum, kecuali sedang bersama saya, ia pasti saya bonceng di sepeda motor rombeng saya.

Di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, dia ngontrak satu rumah kecil di gang kecil. Di rumah itu ada dua kamar tidur, satu musholla, satu dapur dan satu kamar mandi. Di kamar depan, Yaqut tidur seorang diri. Di kamar belakang, ada 2 temannya, Fuad dan Marno. Kalau saya sedang di sana, saya tidur di kamar Yaqut atau Yaqut yang tidur bersama saya di ruang tamu yang kecil tanpa bangku apapun dan dialas karpet plastik warna cokelat, sambil nonton televisi butut karena untuk pindah channel kami biasa melakukannya pakai kaki.

Baca Juga: Jasa Pak Harto Atas NU

Di masa kuliah itu, banyak kawan saya tahu bahwa saya seperti kalong, alias tidak punya tempat yang tetap. Apalagi saat itu belum ada handphone, makin susah melacak posisi saya berada. Saya biasa tidur di bilangan Rawasari atau Pasar Minggu atau Ciputat atau Rangkasbitung atau Cibinong atau Joe atau Lenteng Agung. Namun sebagai orang yang sok ganteng dan banyak berkenalan dengan cewek, saya seringkali memberi nomor telpon rumah saya dengan rumah kontrakan Yaqut kepada pacar baru. Jadi Yaqut tahu benar kalau saya punya banyak pacar, sementara dia cuma bisa berteori tentang bagaimana merayu cewek.

Di kampus Driyarkara, Jakarta, saat itu saya dan Yaqut, biasanya ditemani oleh Fikri, kami bertiga sering berdiskusi soal politik, terutama tentang kekuasaan Orde Baru yang saat itu tengah goyang. Ia bahkan meminta saya agar tidak belajar filsafat mulu untuk memotret kenyataan bangsa saat itu. Lalu ia setengah memaksa saya membaca buku karangan L. Laeyendecker yaitu: Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Saya pun membacanya sampai tuntas.

Baca Juga: Radikalisme antara Suriah dan Indonesia

Namun sayang, di kampus itu ia cuma sebentar saja dan memilih menuntaskan studinya di jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Indonesia. Meski ia sudah tidak aktif di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, persahabatan kami terus berlanjut. Di rumah kontrakannya itulah saya banyak membaca tuntas buku-bukunya, mulai dari Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno hingga Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie.

Fuad dan Marno biasa manggil “Gus” ke Yaqut. Kalau saya biasa manggilnya “Yaqut” saja, kecuali kalau lagi iseng ngecengin dia, saya panggil dia “Gus”. Dia pun begitu, memanggil saya nama saja, kecuali lagi ngecengin saya, ia memanggil saya “Pak Haji”.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Dia yang Lucu
Di mata saya, Yaqut adalah tipe orang yang lucu. Ia suka humor, apalagi humor tingkat tinggi. Namun, orangnya senang jail sama orang. Ia selalu bersikap baik pada kawan dan perhatian betul sama perut kawan. Ia tahu saya lebih sering bokek ketimbang pegang uang, maka ia selalu mengajak saya ke warung nasi langganannya, yang dari gang kecil rumah kontrakannya masuk lagi ke gang yang super kecil menuju warung nasi itu.

Hidupnya sederhana dan tidak pernah menyombongkan diri, kecuali dalam konteks becanda. Padahal saat itu bapaknya yang terkenal sebagai tokoh NU dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH. Muhammad Cholil Bisri, adalah anggota DPR/MPR. Saya beberapa kali diajak Yaqut menemui bapaknya, biasanya di Hotel Hilton (sekarang Hotel Sultan). Sebagai anak pejabat negara, ia benar-benar tidak menunjukkan kebanggaan. Biasa saja.

Baca Juga: Kekecualian Nahdlatul Ulama

Ia tipe muka preman berhati santri. Lagu kesukaannya saat itu ialah lagu-lagu Paquita Wijaya. Ia menikmati pop jazz, meski sesekali ia dengarkan musik klasik agar di depan saya ia bisa membuktikan diri bahwa ia pengikut sejati Gus Dur. Ia juga cukup rajin membaca buku. Terbukti dari buku-bukunya yang saya baca, banyak yang ia tandai garis bawah dengan pena atau diblok dengan stabilo. Ia, seperti Fikri, pun rajin membaca koran dan majalah.

Bibit Kepemimpinan
Dalam kesehariannya, jika terdapat masalah, ia terlihat menyimak betul pengaduan yang sampai padanya. Ia seperti orang yang berhati-hati dalam mengambil keputusan. Di sisi lain, ia tipe orang yang secara intuitif tajam. Ia merasakan bahwa si anu sedang bicara bohong padanya, maka ia mendengar dengan khusyu’ kebohongan orang itu, meski secara intuitif dia yakin orang di hadapannya atau di ujung telepon sana sedang berbohong padanya. Maka di lain waktu, ia katakan kepada saya sambil menunjukan kebenaran-kebenaran intuisinya.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Dalam aksi-aksi di Universitas Indonesia, saya juga sering dikasih tahu sama dia, si orang itu kalau ngomong isinya pasti A, si anu pasti ngomong B. Giliran orang itu bicara di podium, apa yang dikatakan Yaqut tak jauh berbeda.

“Orang oportunis kalau ngomong ya gak jauh dari tema-tema itu,” katanya dengan kesal kepada salah satu utusan ILUNI UI yang saat itu tampil berorasi.

Kemampuannya dulu dalam melakukan analisis persoalan dan kepekaan intuisinya dalam memotret fenomena merupakan modal yang kuat baginya untuk menjadi pemimpin. Sikapnya yang dulu saya kenal bijak, sederhana dan tidak sombong, apalagi senang humor, merupakan kekayaan yang dibutuhkan dalam kepemimpinan bangsa ini.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Sekarang, konon Yaqut telah berada di lingkaran kekuasaan. Selain ia duduk sebagai anggota DPR RI, kini ia sedang menjadi orang yang berpengaruh di negeri ini karena ia sebagai Ketua Umum GP. Ansor.

Sejak ia memutuskan pulang ke Rembang, Jawa Tengah, saya tidak lagi pernah bertemu dengannya. Saya hanya mendengar dari kejauhan bahwa ia telah menikah dan menjadi politisi. Dari menjadi anggota DPRD dan Wakil Bupati Rembang, hingga menjadi anggota DPR RI dan Ketua Umum GP. Ansor.

Kini, fotonya dan pernyataan-pernyataannya tentang situasi negeri ini telah menghiasi media sosial dan media online yang sampai pada saya. Ia terlihat lebih gemuk dari yang saya kenal dulu saat masih bujangan.

Baca Juga: Fenomena Nissa Sabyan dan Bahasa Arab

Dulu ketika pacarnya di wisuda di IPB, Bogor, Jawa Barat, dia berharap saya bisa mengantarnya ke sana. Sebagai sahabat, saya pun mengantar Yaqut menemui pacarnya yang sedang bersuka cita karena diwisuda. Pada kesempatan itu, kami berfoto bertiga. Seingat saya, Yaqut tidak segemuk ini. Foto kami bertiga itu sempat lama tersimpan, namun sekarang entah di mana. Apakah istrinya adalah pacarnya yang saya kenal itu, saya pun tidak tahu. Saya dan Yaqut putus komunikasi sejak lama.

Yaqut, dia tetap sahabat saya. Saya merasakan bahwa ia adalah orang yang berpotensi menjadi pemimpin besar di negara ini. Karena itu, saya berharap dia bisa menunjukkan sikap-sikapnya yang bijaksana dan tenang. Bersikap rasional dan selalu mengasah ketajaman intuisinya seperti dulu. Saat ini Yaqut bukan hanya perlu bersikap tenang, namun lebih dari itu ia harus bisa tampil menenangkan negeri ini.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Ketika dilaporkan ke pihak kepolisian oleh sejumlah pengacara terkait pembakaran bendera yang diduga milik HTI di mana ada kalimat tauhid pada bendera itu (23/10/2018), Yaqut terlihat tenang bahkan ia bilang “saya tinggal ngopilah.”

Pada satu sisi, sikap seperti ini perlu ditunjukkan pada publik bahwa ia sedang tidak gaduh atau galau. Namun, publik lebih butuh bagaimana Yaqut bisa membawa GP. Ansor dan Bansernya melayani umat setenang dan sekhidmat mungkin agar bangsa yang dikenal beradab ini bisa sukses menjaga NKRI dengan bandrol harga mati.

Yaqut harus bisa menunjukan perbedaan dari pemimpin-pemimpin GP. Ansor yang terkesan frontal di masa lalu. Dia pasti bisa. Sebab, saya tahu ia punya potensi besar dari perjalanan yang tidak instan. Dari kejauhan, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.

“Yaqut, lu harus jadi pemimpin yang keren. Kalo gak, tak kemplang kowe, GUS!"

Salam rindu!



* Oleh: Chavchay Syaifullah.
Read More

KH. Raden Asnawi; Ulama' yang Keras Terhadap Penjajah


rumahnahdliyyin.com - Seperti sudah menjadi hal yang wajar pada masa dulu, biasanya seseorang akan mengganti namanya sepulangnya dari berhaji. Begitu pula KH. Raden Asnawi. Sebelum bernama Asnawi, kiai kelahiran Kudus, pada tahun 1861 ini, bernama Ilyas.

Pergantian nama Ilyas ini terjadi setelah kepulangannya dari berhaji untuk kali yang pertama. Sebelumnya lagi, atau sebelum nama Ilyas, namanya ialah Ahmad Syamsi, yaitu nama lahirnya hingga ia berusia sekitar 25 tahun. Sedangkan nama Asnawi sebagaimana yang kita kenal sekarang, terjadi setelah kepulangannya dari tanah suci untuk yang ketiga kalinya.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Sejak usia dini, KHR. Asnawi kecil sudah diperkenalkan huruf-huruf Arab dan diajari Al-Qur'an oleh orang tuanya sendiri, yaitu H. Abdullah Husnin. Hal ini selain karena di daerahnya tinggal, yaitu Damaran, ada semacam pandangan bahwa orang Islam yang sempurna itu bisa dilihat dari kemahirannya membaca Al-Qur'an, juga karena H. Abdullah Husnin menginginkan anaknya pandai dalam bidang agama.

Selain ingin anaknya pandai dalam agama, H. Abdullah Husnin juga menginginkan supaya anaknya kelak pun piawai dalam berdagang. Karena itu, sekitar tahun 1876, orang tuanya memboyong Syamsi atau kiai Asnawi kecil ke Tulung Agung, Jawa Timur. Di sinilah kiai Asnawi diajari berdagang oleh ayahnya mulai pagi hingga siang. Dan waktu sisanya, kiai Asnawi mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulung Agung.

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Selain di Tulung Agung, kiai Asnawi juga belajar di Mekah. Ada cerita menarik ketika kiai Asnawi di Mekah. Ia pernah berdebat dengan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, mufti Mekah, lewat tulisan. Berkaitan dengan hal ini, Sayyid Husain Bek, seorang mufti dari Mesir, datang ke Mekah ingin bertemu dan berkenalan dengan kiai Asnawi.

Ketika Sayyid Husain Bek memasuki kediaman kiai Asnawi, ia melihat ada lelaki kecil yang sebelumnya tidak disangkanya kalau lelaki kecil itu adalah kiai Asnawi yang mana pendapatnya ia kagumi. Namun begitu diketahui kalau lelaki itu adalah kiai Asnawi, Sayyid Husain Bek pun memberikan salam dan mencium kepalanya.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Kiai Asnawi termasuk salah satu kiai yang ikut mendirikan jam'iyyah NU (Nahdlatul 'Ulama). Bersama KH. Wahab Chasbullah, Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari dan kiai-kiai lainnya, kiai Asnawi ikut dalam pertemuan di Surabaya pada tahun 1926. Sebagai ulama' senior waktu itu, beliau diangkat menjadi salah seorang Mustasyar NU.

Kiai Asnawi tergolong kiai yang keras terhadap penjajah. Sebagai contohnya, madrasah yang didirikannya (Qudsiyyah) waktu itu tetap memakai istilah "madrasah" kendati hal tersebut dilarang oleh pemerintah kolonial. Padahal, pemerintah mengharuskan harus memakai nama "school". Penolakan kiai Asnawi terhadap istilah "school" merupakan salah satu sikap pembangkangan terhadap penjajah.

Baca Juga: Perempuan Pengarang Kitab Kuning dari Banjar

Contoh lainnya lagi, kiai Asnawi marah besar bila melihat ada orang pribumi (Indonesia) yang memakai dasi. Sebab, hal itu menyerupai dengan penjajah kolonial Belanda.

Untuk contoh yang terakhir ini, ada cerita menarik yang ditulis oleh bapak Menteri Agama kita saat ini, yaitu bapak Lukman Hakim Saifuddin, dalam pengantar sebuah buku yang berjudul KHR. Asnawi; Satu Abad Qudsiyyah, Jejak Kiprah Santri Menara.

Begini kira-kira tulisan pak Menteri; pada tahun 1953, ketika kiai Asnawi berkunjung ke rumah KH. Saifuddin Zuhri di Semarang, kiai Saifuddin gugup dan minta maaf lantaran ia memakai dasi. Sebab, kiai Saifuddin ingat betul bahwa kiai Asnawi pernah marah sambil menarik dasi yang dikenakan oleh seorang pimpinan Ansor dalam sebuah Konbes Ansor. Mendengar kiai Saifuddin minta maaf, kiai Asnawi justru menenangkannya dengan berkata: "Lain dulu, lain sekarang. Dulu saya mengharamkan dasi karena ada 'illat (sebab hukum), yaitu tasyabbuh (menyerupai) Belanda, orang kafir. Sekarag memakai dasi tidak haram lagi karena tidak tasyabbuh dengan Belanda. Tetapi menyerupai Bung Karno dan Abdul Wahid Hasyim."

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Selain meninggalkan warisan berupa Madrasah Qudsiyyah, KHR. Asnawi yang ibundanya bernama Raden Sarbinah ini juga meninggalkan beberapa karya tulis. Diantara karya tulis kiai Asnawi yang masyhur yaitu Fasholatan dan Jawab Soalipun Mu'taqod.

Kiai Asnawi wafat pada 26 Desember 1959 M. atau yang bertepatan dengan 25 Jumadil Akhir 1379 H., sekitar pukul tiga fajar. Sampai kini, makamnya yang terletak di sebidang tanah yang masih satu kompleks dengan makam Sunan Kudus pun masih ramai diziarahi.[]



* Oleh: Agus SB, Khodim Madrasah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Inilah Karakter Gus Dur yang Ditempa oleh Ibundanya


rumahnahdliyyin.com - Karakter Gus Dur banyak dipengaruhi oleh ibundanya, yaitu Nyai Hj. Sholihah Wahid Hasyim. Perempuan tangguh ini mempengaruhi Gus Dur dalam keteguhan memegang prinsip dan kepedulian kepada mereka yang terpinggirkan.

Nyai Hj. Sholihah binti KH. Bisri Sjansuri ini sedang mengandung anak keenamnya, Hasyim Wahid, saat sang suami, KH. Abdul Wahid Hasyim, ulama' cum negarawan muda paling moncer dalam sejarah Indonesia, berpulang akibat kecelakaan di Bandung.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Nyai Sholihah, yang belum genap berusia 30 tahun menjanda dengan tanggungan 6 buah hati: Abdurrahman Ad-Dakhil, Aisyah, Shalahuddin, Lily Khadijah, Umar dan Hasyim Wahid. Tak tega melihatnya sendirian di Jakarta, KH. Bisri Sjansuri meminta puterinya itu kembali tinggal ke Jombang. Sholihah menolak, dia bertekad membesarkan buah hatinya sendirian di ibukota. Di era 1950-an, di mana kondisi sosial-politik dan ekonomi tidak stabil, tentu pilihan ini sangat beresiko.

Instingnya sebagai seorang perempuan tangguh mulai terasah saat dia mulai berbisnis beras. Bahkan menjadi makelar mobil dan pemasok material ke kontraktor pun pernah dia jalani. Nyai Sholihah juga merintis panti asuhan, rumah bersalin, beberapa majelis ta'lim dan kegiatan sosial lainnya. Karakter Gus Dur yang peduli wong cilik, mendahulukan kepentingan orang lain, dan tempat bersandar bagi mereka yang terpinggirkan dan terdholimi, saya kira menurun secara genetik dari ibundanya ini.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Tak hanya itu, rumahnya dia jadikan sebagai salah satu basis politik NU. Keputusan penting seputar kiprah NU di perpolitikan digodog di sini oleh dua tokoh sentralnya: KH. Bisri Sjansuri (ayahnya) dan KH. A. Wahab Chasbullah (pakdenya). Sikap NU terkait dengan Dekrit Presiden, Kabinet Gotong Royong, hingga keputusan cepat Muslimat dan NU beberapa waktu usai G-30-S/PKI digodog di sini.

Dengan kerja keras dan tirakatnya, kelak para buah hatinya menjadi orang berhasil dibidangnya: Abdurrahman Ad-Dakhil alias Gus Dur menjadi Presiden Ke-4, Aisyah Hamid Baidlawi menjadi ketua Muslimat NU dan politisi Golkar, Lili Khadijah menjadi politisi PKB, Sholahuddin Wahid menjadi pengasuh pesantren, dan Umar Wahid menjadi direktur rumah sakit di Jakarta.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Bahkan, dalam beberapa keputusan penting di PBNU, ketika para kiai "gagal" melunakkan Gus Dur, mereka memilih jalan menghadap Nyai Sholihah agar bisa melunakkan putranya. Berhasil. Gus Dur taat pada ibundanya. Karakter Gus Dur yang dipahat ibundanya, juga sama dengan yang dialami oleh seorang yatim lainnya, BJ. Habibie. Keduanya ditinggal wafat sang ayah dalam usia belia, ditempa sang ibu dan kemudian menjadi presiden RI.

Ketika Gus Dur di Universitas Al-Azhar, Nyai Sholihah kerap menitipkan (melalui para sahabatnya) beberapa botol kecap dan puluhan sarung agar Gus Dur mau menjualnya. Maksudnya, biar menjadi tambahan uang saku. Apa daya, Gus Dur memang nggak berbakat sebagai pedagang. Kecap dan sarung memang ludes, bukan dibeli. Tapi diminta para sahabat-sahabatnya.[]



* Oleh: Rijal Mumazziq Z., Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Surabaya.
Read More