rumahnahdliyyin.com - Pada momentum Tasyakuran yang dihadiri oleh Relawan Lintas Iman dan Barisan Milenial, Abuya KH. Ma'ruf Amin berpidato cukup panjang. Berikut ini adalah butir-butir hikmah yang sempat saya catat dikala dengan khidmat menyimak tausiyah dan irsyadat dari beliau, yang secara umum berisi tentang peran ulama', kebangsaan, arus baru ekonomi Indonesia dan pesan-pesan terhadap generasi milenial:
1. Ulama itu harus faqih, munadhdhom dan muharriq. Faqih artinya 'alim secara keilmuan, juga secara amaliyah. Munadhdhom adalah organisatoris, yang artinya ulama' juga harus bisa menjalankan roda organisasi. Dan yang terpenting adalah muharriq yang artinya penggerak. Sebab, kalau bukan penggerak, maka ulama' akan digerakkan.
Baca Juga: Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Indonesia
2. Pada pundak mereka, ulama' mengemban dua tanggung jawab. Pertama mas'ûliyyah ummatiyyah, tanggung jawab keummatan. Dan yang kedua mas'ûliyyah wathoniyyah, tanggung jawab kebangsaan. Maka, mengurus umat sama halnya dengan mengurus bangsa.
3. Indonesia adalah dârul mîtsâq, rumah kesepakatan. Orang sering menyebutnya dârul 'ahdi. Namun, didalam Al-Qur'an ada istilah mîtsâqon Gholîdhon, yang artinya ikatan yang kuat.
4. Pancasila adalah kalimatun sawâ/common platform. Dan UUD 1945 adalah 'ittifâqôt akhowiyyah dan ittifâqôt wathoniyyah, perjanjian dua saudara dan perjanjian antar anak bangsa. Yang dimaksud perjanjian dua saudara adalah saudara muslim dengan saudara non-muslim untuk hidup rukun dan berdampingan.
(NB: Istilah dârul mîtsâq dan ittifâqôt akhowiyyah adalah istilah yang geniune yang datang dari Abuya KH. Ma'ruf Amin sendiri).
Baca Juga: Jangan Gunakan Nama Muslim untuk Sebar Hoax
5. Kalau ada yang bilang, kenapa ulama' bicara politik, maka jawabannya, dari dulu memang ulama' bicara politik. Dan terlibat dalam proses-proses politik. Politik ulama' adalah politik kebangsaan dan politik keummatan. Bukan politik dalam pengertian sempit untuk kepentingan pribadi dan segelintir golongan saja.
6. Konflik ideologi harus kita benahi. Supaya anak bangsa bisa fokus belajar, bekerja dan berkarya. Kita tidak menutup pintu kritik, tapi kritik yang beretika. Bukan dalam rangka mengganggu dan menggoyang-goyang kepemimpinan yang sah.
7. Arus baru ekonomi Indonesia adalah sebuah paradigma ekonomi yang berarti menguatkan yang lemah, dengan tidak melemahkan yang kuat. Artinya, semua sama sama saling menguatkan.
Baca Juga: Pesantren An-Nawawi Tanara Bangkitkan Ekonomi Ummat dari Pesantren
8. Generasi milenial harus berakhlak, berkarakter dan punya fighting spirit yang kuat. Perolehan medali kita di ASIAN GAMES kemarin adalah bukti bahwa kita bangsa yang kuat dan petarung.
9. Generasi milenial kalau dilempar ke laut, jadilah pulau. Kalau dilempar ke darat, jadilah gunung. Artinya, dimanapun kalian berada, kalian harus muncul dan menonjol diantara yang lain.
Demikianlah sembilan butir-butir hikmah yang saya rangkum dari tausiyah Abuya KH. Ma'ruf Amin. Semoga bisa menjadi semacam oase di tengah kerontangnya sahara politik dan situasi kebangsaan kita.[]
* Oleh: Khairi Fuady, Konsolidator Relawan Lintas Iman Kiai Ma'ruf.
Sumber: libertynesia.id.
