Hubungan, Kesamaan dan Perbedaan FPI dan HTI


rumahnahdliyyin.com - FPI dan HTI dua organisasi Islam yang muncul setelah jatuhnya Soeharto. Kedua organisasi ini memiliki semangat yang sama dalam hal formalisasi syari'ah. Daya kritis keduanya terhadap penguasa sama kerasnya. Dan mereka bersih dari pengaruh KKN di masa Orde Baru. Tiga kesamaan ini membuat FPI dan HTI bisa berdekatan.

Momentum Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) keempat pada 17-21 April 2005 di Jakarta yang diselenggarakan Majlis Ulama Indonesia (MUI), HTI intensif mendekati ormas dan tokoh Islam. HTI kemudian membentuk lajnah khusus untuk menggarap tokoh dari ormas-ormas Islam. Lajnah ini disebut Lajnah Fa'aliyah. Ustadz Al-Khaththath ditunjuk sebagai ketua dibantu beberapa orang anggota lajnah. Agenda terdekat Lajnah Fa'aliyah pasca KUII keempat adalah menjaga hubungan dengan tokoh-tokoh ormas peserta KUII yang kemudian melahirkan Forum Umat Islam (FUI) yang digagas oleh HTI.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Saat itu, sebenarnya FUI kepanjangan tangan dari DPP HTI. Ustadz Al-Khaththath dan anggota Lajnah Fa'aliyah di-BKO-kan di FUI. Mereka selalu konsultasi dengan DPP HTI soal isu dan aksi apa yang bisa diangkat melalui FUI. Setiap bulan, perkembangan aktivitas Lajnah Fa'aliyah, khususnya di FUI, dilaporkan pada rapat bulanan DPP HTI. Dari sini lahir aksi-aksi FUI. Di daerah-daerah, HTI melakukan hal yang sama dengan di pusat. Membentuk Lajnah Fa'aliyah tingkat propinsi. Mengontak para tokoh ormas. Menjalin hubungan dengan mereka. Bila memungkinkan, membentuk wadah bersama seperti FUI di Jakarta.

Di balik kesamaan emosi dalam memperjuangkan syari'ah, FPI dan HTI menyimpan perbedaan yang dalam dan mendasar. Secara 'aqidah, FPI menganut paham Asy'ariyah yang oleh HTI dianggap sesat. FPI mengambil Syafi'iyah sebagai madzhab fiqih, sedangkan HTI bermadzhab Nabhaniyah. FPI ingin mewujudkan NKRI Bersyari'ah, adapun HTI berjuang ingin membentuk Khilafah Tahririyah. FPI langsung dibawah komando ketua umumnya HRS, sedangkan ketua DPP HTI hanya pelaksana tugas Amir Hizbut Tahrir. Tapi HTI perlu FPI sebagai sekutu sementara untuk melawan penguasa mengingat FPI memiliki massa, kader yang banyak dan militan, serta jaringan yang kuat di Jakarta.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" oleh Hizbut Tahrir

Persekutuan sementara ini tidak berumur panjang. Hanya berjalan 3 tahun. Persekutuan ini berakhir ketika Insiden Monas 2008 pecah ketika FPI dan HTI melalui wadah FUI mengadakan aksi bersama. Pada saat aksi terjadi bentrokan antara massa AKKBB dengan oknum massa FPI. Atas kejadian itu, DPP HTI cuci tangan. Lalu keluar dari FUI. DPP HTI yang culas blas. Hal ini membuat marah HRS. Sejak itu, hubungan FPI dan HTI jadi memanas. Saling menjelekkan satu sama lain di forum-forum. Adapun posisi Ustadz Al-Khaththath memilih keluar dari HTI. Dia tetap di FUI dan berhubungan terus dengan HRS sampai sekarang.

Dua tahun setelah Insiden Monas, FPI dan HTI masih tegang. Di Bangka Belitung, sebagai ketua HTI, saya mengundang HRS dalam acara Safari Dakwah. Mengundang tokoh-tokoh Islam nasional dan kontroversial cara paling efektif untuk mensosialisasikan HTI di Babel. Tokoh-tokoh yang selama ini wajah dan suaranya mereka tonton di TV, kini hadir di tengah-tengah mereka. Sebelum HRS, awal 2008 saya mengundang ustadz Abu Bakar Ba'asyir dan ustadz Al-Khaththath dalam acara Sarasehan Umat Islam Bangka Belitung.

Baca Juga: FPI Kabupaten Malang: HTI Tak Boleh Ada di Indonesia

Safari Dakwah HRS di Bangka memicu kontroversi di internal HTI. Di safari dakwah ini HRS jadi penceramah tunggal. Iklan acara dimuat di buletin Al-Islam cetakan HTI Babel. Tentu saja acara safari dakwah HRS di Bangka sepengetahuan dan seizin DPP HTI. Pada saat yang sama, kebetulan ada kunjungan rutin supervisi dari DPP HTI. Hikmahnya, HRS dan DPP HTI bisa ketemu kembali. Pertemuan itu terjadi di ruang VIP Bandara Depati Amir Pangkalpinang. Sekalian mengantar kepulangan HRS ke Jakarta.

FPI dan HTI sudah saling kenal. Persekutuan FPI dan HTI terjalin kembali. Pada kasus pembakaran bendera di Garut, sepintas lalu publik melihat FPI membela HTI. Tetapi di sisi lain, FPI Malang dan Jombang setuju HTI dilarang eksis kembali. FPI sama sekali tidak bersikap ambigu terhadap HTI karena pada insiden pembakaran di Garut persepsi FPI bendera itu bendera tauhid bukan bendera HTI.

Emangnya tauhid itu semacam ormas baru yang punya bendera?!


* Oleh: Ayik Heriansyah, Mantan HTI.
Bandung, 29 Oktober 2018.
Read More

Yaqut Cholil Qoumas, Tak Kemplang Kowe!


rumahnahdliyyin.com - Ini cerita tentang masa bujangan antara saya dan Yaqut Cholil Qoumas di masa mahasiswa, di penghujung era 90-an. Di kampus, saya semeja dengannya. Dalam demo '98, saya sering satu barisan dengannya. Di rumah kontrakan di gang sempit di kawasan Pasar Minggu, saya sering tidur satu kasur bersamanya. Dia pacaran, saya mengawal dia. Saya pacaran, dia mengawal saya. Ke mana-mana dia naik bis kota atau angkutan umum, kecuali sedang bersama saya, ia pasti saya bonceng di sepeda motor rombeng saya.

Di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, dia ngontrak satu rumah kecil di gang kecil. Di rumah itu ada dua kamar tidur, satu musholla, satu dapur dan satu kamar mandi. Di kamar depan, Yaqut tidur seorang diri. Di kamar belakang, ada 2 temannya, Fuad dan Marno. Kalau saya sedang di sana, saya tidur di kamar Yaqut atau Yaqut yang tidur bersama saya di ruang tamu yang kecil tanpa bangku apapun dan dialas karpet plastik warna cokelat, sambil nonton televisi butut karena untuk pindah channel kami biasa melakukannya pakai kaki.

Baca Juga: Jasa Pak Harto Atas NU

Di masa kuliah itu, banyak kawan saya tahu bahwa saya seperti kalong, alias tidak punya tempat yang tetap. Apalagi saat itu belum ada handphone, makin susah melacak posisi saya berada. Saya biasa tidur di bilangan Rawasari atau Pasar Minggu atau Ciputat atau Rangkasbitung atau Cibinong atau Joe atau Lenteng Agung. Namun sebagai orang yang sok ganteng dan banyak berkenalan dengan cewek, saya seringkali memberi nomor telpon rumah saya dengan rumah kontrakan Yaqut kepada pacar baru. Jadi Yaqut tahu benar kalau saya punya banyak pacar, sementara dia cuma bisa berteori tentang bagaimana merayu cewek.

Di kampus Driyarkara, Jakarta, saat itu saya dan Yaqut, biasanya ditemani oleh Fikri, kami bertiga sering berdiskusi soal politik, terutama tentang kekuasaan Orde Baru yang saat itu tengah goyang. Ia bahkan meminta saya agar tidak belajar filsafat mulu untuk memotret kenyataan bangsa saat itu. Lalu ia setengah memaksa saya membaca buku karangan L. Laeyendecker yaitu: Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Saya pun membacanya sampai tuntas.

Baca Juga: Radikalisme antara Suriah dan Indonesia

Namun sayang, di kampus itu ia cuma sebentar saja dan memilih menuntaskan studinya di jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Indonesia. Meski ia sudah tidak aktif di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, persahabatan kami terus berlanjut. Di rumah kontrakannya itulah saya banyak membaca tuntas buku-bukunya, mulai dari Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno hingga Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie.

Fuad dan Marno biasa manggil “Gus” ke Yaqut. Kalau saya biasa manggilnya “Yaqut” saja, kecuali kalau lagi iseng ngecengin dia, saya panggil dia “Gus”. Dia pun begitu, memanggil saya nama saja, kecuali lagi ngecengin saya, ia memanggil saya “Pak Haji”.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Dia yang Lucu
Di mata saya, Yaqut adalah tipe orang yang lucu. Ia suka humor, apalagi humor tingkat tinggi. Namun, orangnya senang jail sama orang. Ia selalu bersikap baik pada kawan dan perhatian betul sama perut kawan. Ia tahu saya lebih sering bokek ketimbang pegang uang, maka ia selalu mengajak saya ke warung nasi langganannya, yang dari gang kecil rumah kontrakannya masuk lagi ke gang yang super kecil menuju warung nasi itu.

Hidupnya sederhana dan tidak pernah menyombongkan diri, kecuali dalam konteks becanda. Padahal saat itu bapaknya yang terkenal sebagai tokoh NU dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH. Muhammad Cholil Bisri, adalah anggota DPR/MPR. Saya beberapa kali diajak Yaqut menemui bapaknya, biasanya di Hotel Hilton (sekarang Hotel Sultan). Sebagai anak pejabat negara, ia benar-benar tidak menunjukkan kebanggaan. Biasa saja.

Baca Juga: Kekecualian Nahdlatul Ulama

Ia tipe muka preman berhati santri. Lagu kesukaannya saat itu ialah lagu-lagu Paquita Wijaya. Ia menikmati pop jazz, meski sesekali ia dengarkan musik klasik agar di depan saya ia bisa membuktikan diri bahwa ia pengikut sejati Gus Dur. Ia juga cukup rajin membaca buku. Terbukti dari buku-bukunya yang saya baca, banyak yang ia tandai garis bawah dengan pena atau diblok dengan stabilo. Ia, seperti Fikri, pun rajin membaca koran dan majalah.

Bibit Kepemimpinan
Dalam kesehariannya, jika terdapat masalah, ia terlihat menyimak betul pengaduan yang sampai padanya. Ia seperti orang yang berhati-hati dalam mengambil keputusan. Di sisi lain, ia tipe orang yang secara intuitif tajam. Ia merasakan bahwa si anu sedang bicara bohong padanya, maka ia mendengar dengan khusyu’ kebohongan orang itu, meski secara intuitif dia yakin orang di hadapannya atau di ujung telepon sana sedang berbohong padanya. Maka di lain waktu, ia katakan kepada saya sambil menunjukan kebenaran-kebenaran intuisinya.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Dalam aksi-aksi di Universitas Indonesia, saya juga sering dikasih tahu sama dia, si orang itu kalau ngomong isinya pasti A, si anu pasti ngomong B. Giliran orang itu bicara di podium, apa yang dikatakan Yaqut tak jauh berbeda.

“Orang oportunis kalau ngomong ya gak jauh dari tema-tema itu,” katanya dengan kesal kepada salah satu utusan ILUNI UI yang saat itu tampil berorasi.

Kemampuannya dulu dalam melakukan analisis persoalan dan kepekaan intuisinya dalam memotret fenomena merupakan modal yang kuat baginya untuk menjadi pemimpin. Sikapnya yang dulu saya kenal bijak, sederhana dan tidak sombong, apalagi senang humor, merupakan kekayaan yang dibutuhkan dalam kepemimpinan bangsa ini.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Sekarang, konon Yaqut telah berada di lingkaran kekuasaan. Selain ia duduk sebagai anggota DPR RI, kini ia sedang menjadi orang yang berpengaruh di negeri ini karena ia sebagai Ketua Umum GP. Ansor.

Sejak ia memutuskan pulang ke Rembang, Jawa Tengah, saya tidak lagi pernah bertemu dengannya. Saya hanya mendengar dari kejauhan bahwa ia telah menikah dan menjadi politisi. Dari menjadi anggota DPRD dan Wakil Bupati Rembang, hingga menjadi anggota DPR RI dan Ketua Umum GP. Ansor.

Kini, fotonya dan pernyataan-pernyataannya tentang situasi negeri ini telah menghiasi media sosial dan media online yang sampai pada saya. Ia terlihat lebih gemuk dari yang saya kenal dulu saat masih bujangan.

Baca Juga: Fenomena Nissa Sabyan dan Bahasa Arab

Dulu ketika pacarnya di wisuda di IPB, Bogor, Jawa Barat, dia berharap saya bisa mengantarnya ke sana. Sebagai sahabat, saya pun mengantar Yaqut menemui pacarnya yang sedang bersuka cita karena diwisuda. Pada kesempatan itu, kami berfoto bertiga. Seingat saya, Yaqut tidak segemuk ini. Foto kami bertiga itu sempat lama tersimpan, namun sekarang entah di mana. Apakah istrinya adalah pacarnya yang saya kenal itu, saya pun tidak tahu. Saya dan Yaqut putus komunikasi sejak lama.

Yaqut, dia tetap sahabat saya. Saya merasakan bahwa ia adalah orang yang berpotensi menjadi pemimpin besar di negara ini. Karena itu, saya berharap dia bisa menunjukkan sikap-sikapnya yang bijaksana dan tenang. Bersikap rasional dan selalu mengasah ketajaman intuisinya seperti dulu. Saat ini Yaqut bukan hanya perlu bersikap tenang, namun lebih dari itu ia harus bisa tampil menenangkan negeri ini.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Ketika dilaporkan ke pihak kepolisian oleh sejumlah pengacara terkait pembakaran bendera yang diduga milik HTI di mana ada kalimat tauhid pada bendera itu (23/10/2018), Yaqut terlihat tenang bahkan ia bilang “saya tinggal ngopilah.”

Pada satu sisi, sikap seperti ini perlu ditunjukkan pada publik bahwa ia sedang tidak gaduh atau galau. Namun, publik lebih butuh bagaimana Yaqut bisa membawa GP. Ansor dan Bansernya melayani umat setenang dan sekhidmat mungkin agar bangsa yang dikenal beradab ini bisa sukses menjaga NKRI dengan bandrol harga mati.

Yaqut harus bisa menunjukan perbedaan dari pemimpin-pemimpin GP. Ansor yang terkesan frontal di masa lalu. Dia pasti bisa. Sebab, saya tahu ia punya potensi besar dari perjalanan yang tidak instan. Dari kejauhan, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.

“Yaqut, lu harus jadi pemimpin yang keren. Kalo gak, tak kemplang kowe, GUS!"

Salam rindu!



* Oleh: Chavchay Syaifullah.
Read More

FPI Kabupaten Malang: HTI Tak Boleh Ada di Indonesia


rumahnahdliyyin.com | Malang - Front Pembela Islam (FPI) Kabupaten Malang sepakat bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tak boleh ada di Indonesia. Hal itu ditegaskan FPI Kabupaten Malang dalam acara Cangkruan Kamtibmas Kapolres Malang, yang digelar oleh Polres Malang, pada Jum'at (26/10/2018).

Menurut Sekretaris FPI Kabupaten Malang, Muhammad Khosim, pihaknya memohon maaf karena pimpinan FPI Kabupaten Malang tak bisa hadir atas undangan cangkruan Kamtibmas Kapolres Malang itu.

"Pimpinan kami sedang ada acara, tidak bisa hadir. Karena kita (FPI Kabupaten Malang) masih baru, pimpinan kami menyampaikan agar kita tidak banyak menyampaikan statemen, soal pembakaran bendera HTI di Garut itu," jelasnya.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Namun, DPW. FPI Kabupaten Malang, tegas Khosim, telah sepakat bahwa insiden di Garut itu bukan unsur kesengajaan dari teman-teman Banser.

"Selain itu, kita (FPI Kabupaten Malang), sepakat bahwa HTI di Indonesia tidak boleh ada," tegas Khosim, di depan ratusan undangan dan para tokoh organisasi keagamaan dan kepemudaan yang hadir saat itu.

Menyikapi kejadian pembakaran bendera HTI di Garut itu, karena terjadi multi tafsir antara bendera HTI atau Al-Liwa'-Ar-Royah, Khosim mengatakan: "FPI sampai dengan saat ini tidak ada agenda menggelar aksi apapun di Kabupaten Malang," tegasnya yang disambut aplaus oleh para hadirin.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" oleh Hizbut Tahrir

Selain itu, Khosim juga menambahkan bahwa FPI Kabupaten Malang dengan teman-teman Banser di Kabupaten Malang sudah clear.

"Namun, seperti yang disampaikan MUI Kabupaten Garut, adalah permintaan maaf Banser kepada teman-teman yang menafsirkan berbeda, harus dilakukan," katanya.

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Sementara itu, menurut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang, Drs. H. Mursidi, MM., warga Muhamadiyah Kabupaten Malang sepakat tidak boleh ada aksi massa tandingan dan kemarahan yang berlebihan yang berpotensi pada perpecahan dan rusaknya persatuan bangsa.

"Kejadian Garut itu, agar menjadi bahan muhasabah, agar tidak terulang kejadian yang sama dengan alasan apapun. Tidak boleh terjadi lagi di Indonesia, terutama di Kabupaten Malang," katanya.[]
Read More

Jasa Pak Harto Atas NU


rumahnahdliyyin.com - Sejauh ini, kalau saya perhatikan di linimasa, teman-teman yang mengucapkan selamat Hari Santri Nasional kok hanya teman-teman yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Selebihnya, mungkin mereka yang punya hubungan batin dengan pesantren. Kalaupun tidak, mungkin punya hubungan dengan NU. Untuk benar tidaknya hal ini, silakan diamati sendiri.

Bicara tentang santri, niscaya harus menyinggung soal pesantren. Sedangkan bicara tentang pesantren, tentu tak bisa menghindar dari membicarakan NU. Ketiganya adalah unsur yang tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.

Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua untuk Nahdliyyin di Jawa

Kendati berbagai lembaga survei telah menunjukkan bahwa NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia, ada saja pihak-pihak yang mempertanyakannya. Katanya, NU hanya besar di Jawa saja. Di lain daerah tidak. Dan memang harus diakui demikianlah adanya.

Sayangnya, NU kurang memperhatikan kekurangannya itu. Walhasil, pihak-pihak yang komplain tadi buru-buru berlari kencang ke daerah-daerah luar Jawa untuk menyebar benih ormas/Islam versinya yang kemudian mengakar kuat di sana. Dan dewasa ini cengkeraman ini agak terasa sepertinya.

Baca Juga: NU Dimata Romo Benny

Di luar Jawa memang ada NU. Dan sebagian besar adalah NU kultural. Dalam artian, dalam keseharian ibadahnya ala NU. Kendati ala NU, bahkan tidak sedikit yang tidak tahu apa itu NU. Bahkan mendengarnya pun pelum pernah. Jangan heran pula bila mereka memang tak tahu. Karena faktanya memang tak tahu. Tahunya Islam. Titik. Kendati Islam yang dijalankannya selama ini adalah Islam ahlissunnah wal-jama'ah annahdliyyah. Dan muslim "thok" seperti inilah yang sangat mudah "digeret" oleh agen Islam "yang aneh-aneh."

Harus diakui memang kalau NU itu Jawa Centris. Di mana ada orang Jawa, di situlah ada kepengurusan NU. Bisa dikatakan hampir di seluruh propinsi dan daerah di Indonesia ini pasti pengurus NU-nya mayoritas orang Jawa. Di Sumatera, di Kalimantan, di Sulawesi, hingga di Papua.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Tahukah kita siapa yang paling berjasa atas adanya kepengurusan NU di luar Jawa? Tahukah kita siapa yang telah berjasa besar menyebar benih-benih Islam rahmah ke seluruh penjuru Nusantara? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah pak Harto.

Sebagaimana kita ketahui bersama, banyak diantara penduduk menengah ke bawah pada masa Orde Baru di Indonesia adalah warga Nahdliyyin. Dan tidak sedikit diantara mereka yang santri. Dan pak Harto-lah yang menyebar kelas sosial ini ke seluruh penjuru Nusantara lewat programnya transmigrasi. Kendati transmigrasi, mereka tetap berusaha ngurip-urip NU di daerah di mana mereka berada. Inilah hebatnya para transmigran dulu. Saya menduga, mereka melakukan ini mungkin terngiang-ngiang dawuhnya Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari yang kurang lebih berbunyi: "Siapa yang mau mengurusi NU, maka akan ku anggap sebagai santriku. Dan siapa yang jadi santriku, maka aku do'akan husnul khotimah beserta anak-cucunya."

Baca Juga: Kekecualian Nahdlatul Ulama'

Dan mumpung sekarang adalah hari di mana kita semua tengah memperingati Hari Santri Nasional, saya ingin mengajak berpikir siapa saja (tentu saja bagi yang mau), terutama buat sedulur-sedulur santri semuanya: "Sekarang sudah tak ada pak Harto. Tak ada program transmigrasi. Terlebih, kebanyakan dari kita pun sudah berada di titik nyaman di Jawa. Lalu, bagaimanakah supaya kita bisa menambal kekurangan NU di luar Jawa yang saat ini masih minim dan 'terancam' oleh adanya Islam 'aneh-aneh' itu? Bagaimanakah caranya supaya cara berislamnya santri yang rahmah ini bisa mengakar di seluruh penjuru negeri?"

Akhirnya, selamat berpikir dan jangan lupa sambil ngopi.

Salam.



* Oleh: Agus SB, Khodim Madrasah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

KH. Raden Asnawi; Ulama' yang Keras Terhadap Penjajah


rumahnahdliyyin.com - Seperti sudah menjadi hal yang wajar pada masa dulu, biasanya seseorang akan mengganti namanya sepulangnya dari berhaji. Begitu pula KH. Raden Asnawi. Sebelum bernama Asnawi, kiai kelahiran Kudus, pada tahun 1861 ini, bernama Ilyas.

Pergantian nama Ilyas ini terjadi setelah kepulangannya dari berhaji untuk kali yang pertama. Sebelumnya lagi, atau sebelum nama Ilyas, namanya ialah Ahmad Syamsi, yaitu nama lahirnya hingga ia berusia sekitar 25 tahun. Sedangkan nama Asnawi sebagaimana yang kita kenal sekarang, terjadi setelah kepulangannya dari tanah suci untuk yang ketiga kalinya.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Sejak usia dini, KHR. Asnawi kecil sudah diperkenalkan huruf-huruf Arab dan diajari Al-Qur'an oleh orang tuanya sendiri, yaitu H. Abdullah Husnin. Hal ini selain karena di daerahnya tinggal, yaitu Damaran, ada semacam pandangan bahwa orang Islam yang sempurna itu bisa dilihat dari kemahirannya membaca Al-Qur'an, juga karena H. Abdullah Husnin menginginkan anaknya pandai dalam bidang agama.

Selain ingin anaknya pandai dalam agama, H. Abdullah Husnin juga menginginkan supaya anaknya kelak pun piawai dalam berdagang. Karena itu, sekitar tahun 1876, orang tuanya memboyong Syamsi atau kiai Asnawi kecil ke Tulung Agung, Jawa Timur. Di sinilah kiai Asnawi diajari berdagang oleh ayahnya mulai pagi hingga siang. Dan waktu sisanya, kiai Asnawi mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulung Agung.

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Selain di Tulung Agung, kiai Asnawi juga belajar di Mekah. Ada cerita menarik ketika kiai Asnawi di Mekah. Ia pernah berdebat dengan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, mufti Mekah, lewat tulisan. Berkaitan dengan hal ini, Sayyid Husain Bek, seorang mufti dari Mesir, datang ke Mekah ingin bertemu dan berkenalan dengan kiai Asnawi.

Ketika Sayyid Husain Bek memasuki kediaman kiai Asnawi, ia melihat ada lelaki kecil yang sebelumnya tidak disangkanya kalau lelaki kecil itu adalah kiai Asnawi yang mana pendapatnya ia kagumi. Namun begitu diketahui kalau lelaki itu adalah kiai Asnawi, Sayyid Husain Bek pun memberikan salam dan mencium kepalanya.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Kiai Asnawi termasuk salah satu kiai yang ikut mendirikan jam'iyyah NU (Nahdlatul 'Ulama). Bersama KH. Wahab Chasbullah, Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari dan kiai-kiai lainnya, kiai Asnawi ikut dalam pertemuan di Surabaya pada tahun 1926. Sebagai ulama' senior waktu itu, beliau diangkat menjadi salah seorang Mustasyar NU.

Kiai Asnawi tergolong kiai yang keras terhadap penjajah. Sebagai contohnya, madrasah yang didirikannya (Qudsiyyah) waktu itu tetap memakai istilah "madrasah" kendati hal tersebut dilarang oleh pemerintah kolonial. Padahal, pemerintah mengharuskan harus memakai nama "school". Penolakan kiai Asnawi terhadap istilah "school" merupakan salah satu sikap pembangkangan terhadap penjajah.

Baca Juga: Perempuan Pengarang Kitab Kuning dari Banjar

Contoh lainnya lagi, kiai Asnawi marah besar bila melihat ada orang pribumi (Indonesia) yang memakai dasi. Sebab, hal itu menyerupai dengan penjajah kolonial Belanda.

Untuk contoh yang terakhir ini, ada cerita menarik yang ditulis oleh bapak Menteri Agama kita saat ini, yaitu bapak Lukman Hakim Saifuddin, dalam pengantar sebuah buku yang berjudul KHR. Asnawi; Satu Abad Qudsiyyah, Jejak Kiprah Santri Menara.

Begini kira-kira tulisan pak Menteri; pada tahun 1953, ketika kiai Asnawi berkunjung ke rumah KH. Saifuddin Zuhri di Semarang, kiai Saifuddin gugup dan minta maaf lantaran ia memakai dasi. Sebab, kiai Saifuddin ingat betul bahwa kiai Asnawi pernah marah sambil menarik dasi yang dikenakan oleh seorang pimpinan Ansor dalam sebuah Konbes Ansor. Mendengar kiai Saifuddin minta maaf, kiai Asnawi justru menenangkannya dengan berkata: "Lain dulu, lain sekarang. Dulu saya mengharamkan dasi karena ada 'illat (sebab hukum), yaitu tasyabbuh (menyerupai) Belanda, orang kafir. Sekarag memakai dasi tidak haram lagi karena tidak tasyabbuh dengan Belanda. Tetapi menyerupai Bung Karno dan Abdul Wahid Hasyim."

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Selain meninggalkan warisan berupa Madrasah Qudsiyyah, KHR. Asnawi yang ibundanya bernama Raden Sarbinah ini juga meninggalkan beberapa karya tulis. Diantara karya tulis kiai Asnawi yang masyhur yaitu Fasholatan dan Jawab Soalipun Mu'taqod.

Kiai Asnawi wafat pada 26 Desember 1959 M. atau yang bertepatan dengan 25 Jumadil Akhir 1379 H., sekitar pukul tiga fajar. Sampai kini, makamnya yang terletak di sebidang tanah yang masih satu kompleks dengan makam Sunan Kudus pun masih ramai diziarahi.[]



* Oleh: Agus SB, Khodim Madrasah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Shohih Bukhori No. 2; Cara Turunnya Wahyu kepada Rosululloh

rumahnahdliyyin.com - Asy-Syaikh Al-Imam Al-Hafidh Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrohim bin Al-Mughiroh Al-Bukhori berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ: أخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ اُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَألَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَارَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ يَأْتِيْكَ الْوَحْيُ؟

فَقَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أحْيَانًا يَأْتِيْنِى مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ، وَهُوَ أشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيَفْصِمُ عَنِّى وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِى الْمَلَكُ رَجُلًا، فَيُكَلِّمُنِى فَأعِى مَا يَقُولُ

ُقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: وَلَقَدْ رَأيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْي
 فِى الْيَوْمِ الشَّدِيْدِ الْبَرْدِ، فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإنَّ جَبِيْنَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا

'Abdulloh bin Yusuf menceritakan kepadaku, ia berkata: Malik mengabarkan kepadaku dari Hisyam bin 'Urwah, dari ayahnya, dari 'Aisyah ummil mu'minin rodliyaLlhôhu 'anhâ bahwasanya Harits bin Hisyam ra. bertanya kepada Rosululloh sholloLlôhu 'alaihi wasallam dengan berkata: "Ya Rosululloh, bagaimanakah wahyu datang kepada Anda?"

Maka Rosululloh sholloLlôhu 'alaihi wasallam berkata: "Terkadang ia datang kepadaku seperti lonceng yang berdentang, dan itu sangat berat bagiku. Lalu ketika terputus, maka sungguh aku mengerti dan hafal apa yang telah dikatakannya. Dan terkadang malaikat datang padaku menyerupai seseorang, lalu berkata kepadaku, maka aku mengerti dan hafal apa yang ia katakan."

'Aisyah rodliyaLlôhu 'anhâ berkata: "Sungguh aku melihatnya (Rosululloh) ketika wahyu turun kepadanya (Rosululloh) pada hari yang sangat dingin, lalu ketika wahyu itu terputus, sungguh dahinya (Rosululloh) bersimbah keringat."

Hadits ini adalah hadits kedua dari Shohih Bukhori dan termuat dalam Bab Bagaimana permulaan Wahyu Turun kepada Rosululloh sholloLlôhu 'alaihi wasallam.[]

Lihat juga Hadits Pertama.
Read More

Akhlaq Menurut Imam Ghozali


rumahnahdliyyin.com - Minggu-minggu ini, saya amat menikmati Ngaji Ihya' yang saya ampu setiap minggu, baik melalui online atau kopdar dimana saya bertemu dengan audiens secara langsung di sejumlah daerah.

Saya menikmati, karena pembahasan kitab Ihya' yang sedang saya baca saat ini sedang mengulas tema penting--soal akhlak. Saya sangat menikmati ulasan filsafat etika dalam gagasan Imam Ghozali ini.

Pembahasan Imam Ghozali mengenai tema ini sangat mendalam, sistematis, dengan pendekatan yang dengan jelas menampakkan keakraban imam besar ini dengan filsafat etika yang digeluti oleh para filsuf muslim besar seperti Ibn Sina, Al-Farobi, Abu Bakr al-Rozi dan lain-lain.

Baca Juga: Akhlaq Sebagai Inti Islam

Saya mulai dengan definisi Imam Ghozali tentang akhlak. Beliau men-ta'rif-kannya sebagai: kondisi kejiwaan yang permanen (dalam teks Arab-nya: hai'atun li al-nafsi rosikhotun), dan keadaan ini memungkinkan seseorang melakukan suatu tindakan tertentu dengan mudah, alamiah, tanpa dipaksa atau dibuat-buat (artifisial).

Seseorang yang berakhlak dermawan atau pelit, misalnya, kedua sifat itu menetap pada orang tersebut, sehingga tindakan kedermawanan atau kepelitan yang keluar dari dirinya, dengan mudah, tanpa dipaksa-paksa. Akhlak membuat suatu tindakan nampak alamiah, normal, tanpa ada kesan keterpaksaan didalamnya.

Jika seseorang menjadi dermawan mendadak karena kondisi tertentu (misalnya karena menjelang Pilpres atau Pileg), tetapi setelah itu kemudian ia menjadi pelit kembali, maka tindakan kedermawanan pada orang tersebut tidaklah terbit dari kondisi kejiwaan yang permanen. Kedermawanan pada orang itu, dengan demikian, tak bisa disebut sebagai akhlak.

Baca Juga: Dawuh KH. M. Anwar Manshur tentang Santri, Ngaji, Akhlaq dan Birrulwalidain

Dengan kata lain, sesuatu disebut sebagai akhlak manakala ia telah melekat pada struktur kejiwaan seseorang, sehingga menyerupai sebuah tabiat atau kebiasaan. Cak Nur pernah menyebut akhlak sebagai second nature, tabiat kedua yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang lama.

Dalam pandangan Al-Ghozali, akhlak bukanlah sesuatu yang secara alamiah ada pada seseorang. Akhlak adalah sesuatu yang bisa diperoleh seseorang melalui sebuah latihan--atau riyadloh dalam bahasa Imam Ghozali.

Salah satu gagasan penting Imam Ghozali adalah kemungkinan akhlak untuk berubah (taghyir al-akhlaq), melalui sebuah latihan yang sabar dan konsisten. Ia serupa dengan sejumlah kecakapan pada seseorang yang bisa diperoleh melalui sebuah latihan pelan-pelan, misalnya kecakapan bermain bola.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Kecakapan main bola bisa “ditanamkan” pada seseorang yang memang memiliki bakat bermain bola, melalui sebuah training. Latihan ini akan membentuk apa yang oleh para filsuf etika muslim seperti Ibn Miskawayh (w. 1030 M) disebut sebagai malakah.

Malakah adalah kecakapan (skill) yang melekat sehingga menyerupai suatu property, hak milik (ada keserupaan akar kata antara istilah malakah dan milk yang artinya hak milik).

Baca Juga: Belajar Tawadlu' dari Kiai Tawadlu'

Dalam pandangan Al-Ghozali, fondasi akhlak adalah dua daya atau quwwah, force, yang ada pada manusia: yaitu daya syahwah dan daya ghodlob.

Syahwah adalah daya yang secara alamiah ada pada semua manusia. Melalui daya ini seseorang memiliki hasrat akan sesuatu; misalnya hasrat untuk mengonsumsi makanan atau minuman.

Sementara ghodlob (marah) adalah daya yang melahirkan pada diri manusia apa yang oleh Imam Ghozali disebut sebagai hamiyyah, atau semangat, passion, motivasi yang kuat untuk melakukan sesuatu.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Teman saya dari Pati, Habib Anis Sholeh Ba'asyin, mempunyai observasi yang menarik tentang dua daya ini. Menurut dia, karakter syahwah adalah menyerap sesuatu ke dalam diri manusia. Sementara karakter ghodlob (marah) adalah mengeluarkan sesuatu ke luar diri manusia.

Pada dirinya sendiri, syahwat dan marah bukanlah hal yang jelek, negatif. Menurut Al-Ghozali, baik syahwat dan ghodlob adalah daya-daya yang secara niscaya ada pada semua manusia dan diciptakan oleh Tuhan karena tujuan tertentu (khuliqot li fa'idatin).

Baca Juga: Bully Zaman Mbah Bisri

Akhlak yang baik muncul pada diri seseorang manakala ia berhasil mengendalikan dua daya itu agar tak terjatuh pada dua titik ekstrim. Ekstrim yang pertama adalah apa yang oleh Al-Ghozali disebut dengan ifroth, atau ekstrim kanan, berlebihan—esktrim surplus.

Ekstrim yang kedua adalah tafrith, yaitu ekstrim kiri, berlebihan karena defisit, kekurangan. Seseorang menjadi berakhlak jika ia bisa mengendalikan dengan akalnya kedua daya tadi--syahwat dan marah.

Baca Juga: Tentang Salah Kaprah Penggunaan Istilah "Taubat"

Inti teori akhlak ala Imam Ghozali adalah ide tentang tengah-tengah ini (al-wasath, al-i'tidal, al-tawazun). Akhlak menjadi hilang manakala terjadi ketiadaan keseimbangan. Dengan kata lain, setiap kecenderungan ekstrim jelas berlawanan dengan, sebut saja, “ke-etika-an”, "ke-akhlak-an".

Syahwat yang njomplang ke kanan (ifroth), akan melahirkan sikap-sikap destruktif seperti isrof, berlebihan dalam mengonsumsi sesuatu. Sementara syahwat yang terlalu condong ke kiri (tafrith) akan melahirkan sikap taqtir, thrift/frugality, medhit (bahasa Jawa: pelit), dan sebagainya.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Seseorang disebut berakhlak jika ia berhasil menyeimbangkan diri diantara dua titik ekstrim tersebut. Sikap yang muncul dari keseimbangan itu adalah apa yang oleh Imam Ghozali disebut dengan sakho' atau kedermawanan.

Begitu juga dalam hubungannya dengan daya ghodlob atau marah. Daya ini akan melahirkan akhlak yang baik jika bisa diseimbangkan, tidak ndoyong terlalu berlebihan ke kanan atau ke kiri.

Daya ghodlob yang terlalu ndoyong ke kanan (marah yang berlebihan) akan melahirkan tindakan-tindakan agresif, menyerang, yang destruktif, merusak--apa yang oleh Al-Ghozali disebut dengan tahawwur.

Baca Juga: Asmat; Kota Terapi Syukur

Sebaliknya, jika daya ghodlob ini ndoyong berlebihan ke kiri (mengalami kondisi kekurangan, defisit, yang berlebihan), yang muncul dari sana adalah sikap jubnun, ketakutan, kepengecutan, kekhawatiran yang eksesif terhadap sesuatu.

Sebagaimana sikap agresif bisa destruktif, sikap takut yang berlebihan juga bisa merusak mental seseorang. Kondisi akhlak yang sehat tercipta manakala ada titik keseimbangan antara dua sikap ekstrem itu.

Baca Juga: Empat Kata Penyempurna Iman

Inti teori akhlak dalam pandangan Al-Ghozali, dengan demikian, adalah kemampun melakukan pengendalian diri, self-restrain; tidak membiarkan diri terserap ke dalam luapan jiwa yang berkobar-kobar pada suatu saat. Syahwat dan ghodlob bisa meluap seperti banjir bandang yang susah dikontrol. Saat “banjir” ini terjadi, biasanya akhlak menjauh dari seseorang.

Pandangan Al-Ghozali tentang akhlak ini memang berseberangan dengan karakter zaman kita dimana semangat yang menonjol adalah “menenggak semaksimal mungkin kenikmatan sesaat”. Kapitalisme modern menciptakan “kelimpahan material” karena mesin-mesin modern yang mampu memproduksi barang secara massal.

Baca Juga: Sekutu Iblis

Dalam situasi yang serba berkelimpahan seperti ini, godaan untuk “meluapkan syahwat konsumsi”, juga godaan untuk menikmati the joy of consumption, kelezatan mengonsumsi segala hal secara kebablasan, sangatlah besar.

Teori akhlak Al-Ghozali bisa kita pandang sebagai kritik atas kecenderungan-kecenderungan yang berlebihan (ekstrimisme dalam pengertian yang luas) yang menjadi karakter zaman kita sekarang.***

Keterangan gambar: Salah satu ajaran akhlak Plato, filsuf besar Yunani, adalah moderation yang dalam bahasa Imam Ghozali adalah i'tidal.[]



* Oleh: Ulil Abshar Abdalla
Read More

Shohih Bukhori No. 1; Niat


rumahnahdliyyin.com - Asy-Syaikh Al-Imam Al-Hafidh Abu 'Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrohim bin Al-Mughiroh Al-Bukhori berkata:

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُاللهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيىَ بْنُ سَعِيْدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ: أخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إبْرَاهِيْمَ التَّيْمِيُّ: أنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إنَّمَاالْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى دُنْيا يُصِيْبُهَا، أوْ إلَى امْرَأةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

Humaidi Abdulloh bin Az-Zubair menceritakan pada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan pada kami, ia berkata: Yahya bin Sa'id Al-Anshori menceritakan pada kami, ia berkata: Muhammad bin Ibrohim At-Taymi mengabarkan padaku bahwasanya ia mendengar 'Alqomah bin Waqqosh Al-Laitsi berkata: Aku mendengar 'Umar bin Al-Khoththob rodliyaLlohu 'anhu di atas mimbar berkata: Aku mendengar RosuluLloh sholloLlohu 'alaihi wasallama berkata: Sungguh perbuatan-perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sungguh bagi tiap orang akan mendapatkan (balasan sesuai) apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrohnya untuk memperoleh dunia atau untuk wanita yang ingin dinikahinya, maka (balasan) hijrohnya itu sesuai dengan niat berhijrohnya itu.

Hadits ini adalah hadits pertama dari kitab Shohih Bukhori dan termuat dalam Bab Bagaimana Permulaan Wahyu Turun kepada RosuluLloh sholloLlohu 'alaihi wasallam.[]

Baca Juga: Hadits No. 1
Read More

Inilah Tausiyah Habib Umar tentang Kehidupan Bernegara


rumahnahdliyyin.com - Inilah petikan Tausiyah Al-'Allamah Al-Musnid Al-Habib Umar bin Hafidz di Hotel Aryaduta, Bandung, Jawa Barat, bersama PWNU. Jawa Barat, yang juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, pada Selasa, 9 Oktober 2018.

Dijelaskan dalam sebuah riwayat bahwa sahabat Abdulloh bin Mas'ud rodliyallohu'anhu, seorang khodim (pembantu) Rosululloh shollollohu 'alaihi wasallam (Rosululloh senang akan bacaan Al-Qur'an dari sahabat Abdullah bin Mas'ud), ketika sedang berjalan di tengah jalan bertemu dengan sekelompok umat Islam yang sedang menyuruh seorang kafir dzimmi (orang kafir yang tinggal di negeri Islam dan dibawah perlindungan kaum muslimin).

Baca Juga: Berhukum dengan Selain Hukum Allah

Orang kafir tersebut disuruh oleh sekelompok kaum muslimin untuk membawa tentengan. Lalu sahabat Abdullah bin Mas'ud turun dari tunggangan beliau, lalu bertanya kepada orang kafir tersebut, "Apakah engkau senang dengan perintah orang-orang itu kepadamu?" Orang Kafir itu menjawab, "Tidak".

Kemudian sahabat Abdullah bin Mas'ud menemui sekelompok kaum muslimin tadi dan berkata, "Sejak kapan kalian telah melanggar janji Rosululloh Shollolohu 'alaihi wasallam untuk menjaga dan memelihara hak-hak non-muslim di tengah kaum muslimin?"

Baca Juga: Menolak Ide Khilafah

Sebuah kisah lain di masa Kholifah 'Umar bin Khothob rodliyallohu'anhu, pada waktu itu ada seorang non-muslim yang membayar pajak kepada Pemerintahan Umat Islam sebagai imbalan perlindungan umat Islam kepadanya.

Di masa mudanya, non-muslim tersebut selalu membayar pajak kepada Pemerintahan Umat Islam. Hingga suatu ketika di masa tuanya, Kholifah 'Umar bin Khoththob mendapati non-muslim tersebut sedang mengemis meminta-minta sehingga ia tidak lagi membayar pajak kepada pemerintah.

Baca Juga: Menjernihkan Makna "An-Nas" dalam Hadits Memerangi Musyrikin

Lalu Kholifah 'Umar bertanya, "Apa yang terjadi denganmu?" Non-muslim itu menjawab, "Dulu waktu saya muda, saya masih kuat bekerja dan saya masih mampu untuk membayar pajak kepada pemerintah. Akan tetapi sekarang, saya sudah tidak mampu sehingga saya sekarang mengemis".

Kholifah 'Umar kemudian berkata, "Tidak boleh ketika di masa mudamu engkau memberikan kepada kami pajak atas perlindungan yang kami berikan kepada engkau, lantas ketika dimasa tuamu kami telantarkan engkau begitu saja. Tidak, engkau duduk saja di rumahmu. Engkau tidak lagi perlu membayar pajak. Dan nafkahmu sehari-hari kami yang tanggung dari Baitul Mal kaum Muslimin".[]
Read More

Inilah Karakter Gus Dur yang Ditempa oleh Ibundanya


rumahnahdliyyin.com - Karakter Gus Dur banyak dipengaruhi oleh ibundanya, yaitu Nyai Hj. Sholihah Wahid Hasyim. Perempuan tangguh ini mempengaruhi Gus Dur dalam keteguhan memegang prinsip dan kepedulian kepada mereka yang terpinggirkan.

Nyai Hj. Sholihah binti KH. Bisri Sjansuri ini sedang mengandung anak keenamnya, Hasyim Wahid, saat sang suami, KH. Abdul Wahid Hasyim, ulama' cum negarawan muda paling moncer dalam sejarah Indonesia, berpulang akibat kecelakaan di Bandung.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Nyai Sholihah, yang belum genap berusia 30 tahun menjanda dengan tanggungan 6 buah hati: Abdurrahman Ad-Dakhil, Aisyah, Shalahuddin, Lily Khadijah, Umar dan Hasyim Wahid. Tak tega melihatnya sendirian di Jakarta, KH. Bisri Sjansuri meminta puterinya itu kembali tinggal ke Jombang. Sholihah menolak, dia bertekad membesarkan buah hatinya sendirian di ibukota. Di era 1950-an, di mana kondisi sosial-politik dan ekonomi tidak stabil, tentu pilihan ini sangat beresiko.

Instingnya sebagai seorang perempuan tangguh mulai terasah saat dia mulai berbisnis beras. Bahkan menjadi makelar mobil dan pemasok material ke kontraktor pun pernah dia jalani. Nyai Sholihah juga merintis panti asuhan, rumah bersalin, beberapa majelis ta'lim dan kegiatan sosial lainnya. Karakter Gus Dur yang peduli wong cilik, mendahulukan kepentingan orang lain, dan tempat bersandar bagi mereka yang terpinggirkan dan terdholimi, saya kira menurun secara genetik dari ibundanya ini.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Tak hanya itu, rumahnya dia jadikan sebagai salah satu basis politik NU. Keputusan penting seputar kiprah NU di perpolitikan digodog di sini oleh dua tokoh sentralnya: KH. Bisri Sjansuri (ayahnya) dan KH. A. Wahab Chasbullah (pakdenya). Sikap NU terkait dengan Dekrit Presiden, Kabinet Gotong Royong, hingga keputusan cepat Muslimat dan NU beberapa waktu usai G-30-S/PKI digodog di sini.

Dengan kerja keras dan tirakatnya, kelak para buah hatinya menjadi orang berhasil dibidangnya: Abdurrahman Ad-Dakhil alias Gus Dur menjadi Presiden Ke-4, Aisyah Hamid Baidlawi menjadi ketua Muslimat NU dan politisi Golkar, Lili Khadijah menjadi politisi PKB, Sholahuddin Wahid menjadi pengasuh pesantren, dan Umar Wahid menjadi direktur rumah sakit di Jakarta.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Bahkan, dalam beberapa keputusan penting di PBNU, ketika para kiai "gagal" melunakkan Gus Dur, mereka memilih jalan menghadap Nyai Sholihah agar bisa melunakkan putranya. Berhasil. Gus Dur taat pada ibundanya. Karakter Gus Dur yang dipahat ibundanya, juga sama dengan yang dialami oleh seorang yatim lainnya, BJ. Habibie. Keduanya ditinggal wafat sang ayah dalam usia belia, ditempa sang ibu dan kemudian menjadi presiden RI.

Ketika Gus Dur di Universitas Al-Azhar, Nyai Sholihah kerap menitipkan (melalui para sahabatnya) beberapa botol kecap dan puluhan sarung agar Gus Dur mau menjualnya. Maksudnya, biar menjadi tambahan uang saku. Apa daya, Gus Dur memang nggak berbakat sebagai pedagang. Kecap dan sarung memang ludes, bukan dibeli. Tapi diminta para sahabat-sahabatnya.[]



* Oleh: Rijal Mumazziq Z., Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Surabaya.
Read More

Fatwa Mufti Makkah untuk Zakat Sagu di Nusantara Timur


rumahnahdliyyin.com - Ini adalah secarik manuskrip berisi fatwa dari Syaikh ‘Abdullâh b. Muhammad Shâlih al-Zawâwî al-Makkî (w. 1343 H./1924 M.), seorang ulama' besar dunia Islam yang juga menjabat mufti madzhab Syafi’i di Makkah, terkait hukum mengeluarkan zakat fitrah untuk wilayah Nusantara Timur.

Fatwa ini kemungkinan besar ditulis pada akhir abad ke-19 M. atau awal abad ke-20 M. Manuskrip ini sendiri tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden (Universitaire Bibliotheken Leiden), Belanda, dalam kumpulan arsip Christian Snouck Hurgronje (w. 1936), seorang orientalis besar Belanda yang juga penasihat pemerintahan colonial Hindia-Belanda (menjabat sepanjang tahun 1889-1906).

Baca Juga: Alumni Santri di Sorong, Papua, Bahas Soal Zakat

Sebagaimana dimaklumi bahwa mengeluarkan zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap muslim yang ditunaikan satu tahun satu kali, yaitu pada bulan Romadlon. Zakat yang dikeluarkan berupa bahan makanan pokok suatu negeri di mana seorang muslim itu tinggal dan dengan ukuran tertentu.

Bagi muslim Timur Tengah, yang mana makanan pokok mereka adalah roti-rotian berbahan pokok gandum, maka zakat fitrah yang ditunaikan juga berupa gandum. Sementara bagi muslim di India, yang mana makanan pokok mereka adalah roti-rotian sekaligus nasi, maka zakat fitrah yang ditunaikan pun berupa gandum atau beras. Sementara bagi muslim Nusantara, yang mana makanan pokok mereka adalah nasi, maka zakat fitrah yang ditunaikan pun adalah beras.

Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama' Kendal

Lalu bagaimana dengan muslim Nusantara yang berasal dari kawasan Timur, yang mana makanan pokok mereka adalah sagu, bukan gandum dan bukan juga nasi? Apakah mereka menunaikan zakat fitrahnya dengan beras, dengan pertimbangan diqiyaskan dengan muslim Nusantara wilayah Barat dan Tengah yang memang makanan pokoknya adalah nasi? Ataukah mereka tetap menunaikan zakat fitrah dengan sagu?

Pertanyaan inilah yang diajukan kepada Syaikh ‘Abdullâh b. Muhammad Shâlih al-Zawâwî al-Makkî dalam kapasitasnya yang bukan hanya sebagai mufti Syafi’iyyah di Makkah, tetapi juga sebagai guru para ulama' besar asal Nusantara pada abad ke-20 M.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asma'ul Husna Karya Gus Mus

Tertulis pertanyaan dalam secarik kertas fatwa tersebut:

ما قولكم في أهل قطر يقتاتون شيئا يسمى بالساقو ولا تزرع بلدهم غيره ولا يميلون الى قوت غيره. فهل والحال ما ذكر يخرجون زكاة فطرتهم منه لكونهم اعتادوه قوتا غالبا اختيارا أم يكلفون بتحصيل غيره من قوت غير بلدهم. لازلتم هداة مرشدين الى الصراط السوي

"Apa pendapat Tuan tentang penduduk sebuah negeri (daerah) yang mana mereka menggunakan makanan pokok mereka dengan sesuatu yang disebut “Sagu”. Di daerah itu tidak ditanam (tanaman yang dijadikan makanan pokok) selain sagu tersebut. Mereka juga tidak memakan makanan pokok selain sagu. Dalam kondisi demikian, apakah mereka mengeluarkan zakat fitrah dari sagu tersebut karena mereka memang menjadikan sagu sebagai makanan pokok mereka sebagai pilhan, atau mereka diharuskan mendapatkan makanan pokok dari luar daerah mereka (sepeti beras)? Semoga engkau selalu menjadi petunjuk dan pembimbing menuju jalan yang lempang."

Baca Juga: Kontroversi Bacaan Do'a diantara Dua Sujud

Syaikh ‘Abdullâh al-Zawâwî kemudian menjawab pertanyaan di atas dengan menegaskan bahwa muslim Nusantara kawasan Timur yang menjadikan sagu sebagai bahan pokok makanan utama mereka, maka zakat fitrah yang dikeluarkannya pun harus berupa sagu. Beliau menulis:

تقدم نظير هذا السؤال قبل سنين وأجبنا عنه نظير ما يتحرر هنا وهو أن أهل القطر الذين يقتادون الاقتيات بالساقو يخرجون زكاة فطرتهم منه، ولا يطلب منهم تحصيل غيره من قوت غير بلدهم. فان الواجب المقرر في كتب المذهب هو اخراج الفطرة من أغلب قوت البلد حتى لو كان في البلد نوعان أو أكثر يقتاد أهل البلد منها جميعا. فالواجب اخراج زكاة الفطر من أغلب ما يقتادون منه. وإن كان الجميع على السواء فيخرج الفطرة من أيها شاء. ولا يكلف أحد جلب البرا وغيره من أخرى والله أعلم. أمر برقمه مفتى الشافعية بمكة المحمية والأقطار الحجازية الراجي غفران المساوي عبد الله بن السيد محمد صالح الزواوي. كان الله لهما آمين آمين.

"Pertanyaan semacam ini telah datang kepada kami sejak beberapa tahun yang lalu. Dan kami pun menjawab pertanyaan seperti itu di sini: bahwasannya para penduduk suatu negeri (daerah) yang terbiasa menjadikan makanan pokok mereka dengan sagu, maka mereka mengeluarkan zakat fitrah dari sagu tersebut. Tidak diharuskan bagi mereka untuk mendatangkan makanan pokok selain sagu (seperti beras, gandum, dll) dari luar wilayah mereka, yang memang bukan menjadi makanan pokok negeri mereka. Hal yang wajib dan ditetapkan dalam kitab-kitab rujukan madzhab kita (madzhab Syafi’i) adalah mengeluarkan zakat firah dari makanan pokok mayoritas penduduk sebuah negeri, meski di negeri tersebut terdapat dua buah makanan pokok atau lebih. (dalam kasus seperti itu, maka) yang wajib untuk dikeluarkan zakat fitrahnya adalah makanan pokok yang banyak dikonsumsi oleh para penduduk negeri. Jika antara dua makanan pokok atau lebih itu taraf konsumsinya sama, maka para penduduk negeri boleh memilih mana saja untuk menunaikan zakat fitrahnya. Tidak diharuskan seseorang untuk mendatangkan sebuah makanan pokok lain dari luar wilayah negeri mereka. WAllôhu a’lam. Telah memerintah untuk menuliskan (fatwa) ini, seorang mufti madzhab Syafi’i di Makkah dan kota-kota Hijaz lainnya, seorang yang mengharapkan ampunan Tuhannya, ‘Abdullâh b. Sayyid Muhammad Shâlih al-Zawâwî. Semoga Allah senantiasa bersama keduanya. Amin."

Baca Juga: Menyikapi Fatwa yang Kontroversial

Pendapat Syaikh ‘Abdullâh al-Zawâwî di atas merupakan pendapat konvensional-klasik hukum zakat fitrah dalam madzhab Syafi’i, yang mana seorang muslim harus membayar zakat fitrahnya dengan bahan makanan pokok mereka, seperti beras, gandum atau sagu. Saat ini, berkembang pendapat para ulama' yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan uang, senilai harga takaran zakat fitrah yang semestinya ditunaikan.

WAllôhu A’lam.[]



* Oleh: Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban, Bandung, Muharrom 1440 H./Oktober 2018 M.
Read More