Tampilkan postingan dengan label Ponpes Raudlatut Thalibin Rembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ponpes Raudlatut Thalibin Rembang. Tampilkan semua postingan

Gus Mus Tekankan Niat Dalam Launching Santriversitas


rumahnahdliyyin.com, Rembang – Lembaga Bimbingan Belajar untuk para santri yang ingin melanjutkan studi pada jenjang pendidikan tinggi, Santriversitas, diluncurkan secara Nasional pada Selasa siang kemarin, 3 April 2018, di Aula Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang. Yayasan MataAir Indonesia dan Gerakan Pemuda Ansor pun tampak mendukung acara Launching Nasional Santriversitas tahun 2018 itu.

Terpantau hadir dalam acara tersebut yaitu Ketua Umum Santriversitas (Chumaedi), Ketua Yayasan MataAir Indonesia (Achmad Solechan) dan Koordinator Wilayah Jawa Tengah Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (Mujiburrachman).

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Selain itu, tampak hadir pula para tamu undangan. Diantaranya yaitu Bupati Rembang (Abdul Hafidz), Kapolres Rembang (AKBP. Pungky Bhuana Santoso) dan kiai Chatib Mabrur (pengasuh Pondok Pesantren Al-Abidin, Pondok Pesantren yang menjadi tempat pelaksanaan Santriversitas di Rembang).

Launching ini ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Yayasan MataAir Indonesia yang kemudian diserahkannya kepada KH. Ahmad Mustofa Bisri yang selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan MataAir Indonesia.

Baca Juga: Gus Mus: Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

Tahun ini, Santriversitas hadir di 13 kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang meliputi Rembang, Demak, Cirebon, Sleman, Bantul, Magelang, Depok, Serang, Ambon, Jakarta Barat, Blora, Semarang dan Malang.

“Santriversitas ini untuk mengantarkan santri supaya bisa mendapatkan hak belajar ke jenjang yang lebih tinggi, universitas,” kata Ketua Umum Santriversitas, Chumaedi, sebagaimana dilansir pada laman radio lokal di Rembang, mataairradio.com

Di Rembang sendiri, Santriversitas akan digelar mulai 15 April hingga 5 Mei mendatang.

Baca Juga: Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Sementara itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri, yang akrab disapa dengan Gus Mus, ketika memberikan taushiyyah selepas acara potong tumpeng, meminta kepada para pemangku di Santriversitas agar menanamkan niat secara benar.

“Saya minta pertama kali, yang harus Anda tanamkan adalah niat. Niat ini yang akan membimbing kita,” pesan Gus Mus.

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Menurut Gus Mus, dahulu, santri zaman old, ketika berangkat ke pesantren itu niatnya sederhana, yakni menghilangkan kebodohan. Padahal, kebodohan itu tidak bisa hilang. Karena itu, harapannya, santri di Santriversitas meniatkan yang sama.

“Semakin pandai, Anda merasa bodoh. Anda boleh tidak sekolah, tapi tidak boleh berhenti belajar. Banyak yang berhenti belajar karena merasa pandai,” tutur Gus Mus kemudian.

Baca Juga: Gus Mus: Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Gus Mus juga mengingatkan bahwa apabila yang diniatkan hanya duniawi, maka mungkin dunia didapat. Tetapi urusan akhirat, bisa keteteran.

“Orang Islam sekarang, karena niatnya salah, kalau bicara soal masa depan, selalu berhenti pada usia tua. Padahal menurut Islam, masa depan itu adalah hari akhir,” tutur Gus Mus kemudian.[]
(Redaksi RN)
Read More

KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri


rumahnahdliyyin.com - 24 Agustus 2004 silam, Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, hujan air mata. Berduyun-duyun tangis serta sesenggukan terus kian menumpah sejak selepas waktu Isya' di hari Senin malam Selasa itu.

Syaikhina KH. Cholil Bisri, nama inilah yang telah membuat air mata para santri yang diikuti oleh masyarakat Rembang terkuras. Kepergiannya ke haribaan Yang Maha Pencipta waktu itu, sungguh membuat para santri terpukul. Juga menggodamkan kesedihan yang sangat mendalam bagi masyarakat Rembang.

Baca Juga: Kontribusi HTI Untuk NKRI

Abah, begitu para santri memanggil kiai Cholil, merupakan sosok kiai yang sangat mencintai santrinya. Beliau tidak pernah ridlo bila ada santri yang diperlakukan dengan kekerasan. Tidak boleh ada santri yang karena suatu kesalahan, kemudian dihukum dengan cara dipukul atau sejenisnya. Dengan demikian, beliau menekankan kepada para pengurus pondok untuk senantiasa memupuk kesabaran.

Kiai Cholil juga sosok kiai yang sangat menghormati kemerdekaan. Hal itu terbukti dalam sistem yang diberlakukan di pondok yang diasuhnya. Karena pondok tidak memiliki sekolah formal, para santri yang ingin sekolah formal pun diberi keleluasaan untuk memilih sekolah yang diinginkan di luar pondok. Baik sekolah ke-Islam-an sepeti MTs/MA ataupun sekolah umum seperti SMP/SMA/SMK. Tentu saja dengan catatan tidak boleh sampai mengganggu peraturan dan kegiatan yang telah ditetapkan dan berlaku di pondok.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

"Kamu boleh melakukan apa saja, yang penting ngaji," begitu dawuh yang sering disampaikan kiai yang diakhir hayatnya masih mengemban amanat sebagai Wakil Ketua MPR RI kepada para santrinya itu.

Sepintas, dawuh beliau di atas memang terbaca sangat sederhana. Namun, apabila kita angen-angen, dawuh itu mengandung makna yang sangat dalam.

Pertama, beliau ingin santrinya supaya tidak berhenti ngaji atau belajar. Walaupun dalam keadaan apapun. Kedua, beliau menginginkan santrinya jangan takut untuk melakukan apa saja. Walaupun kemudian ternyata salah. Dan kesalahan itu adalah bagian dari proses belajar. Ketiga, beliau menginginkan santrinya supaya ketika melakukan apa saja jangan sampai tidak didasari dengan ilmu. Karena itu, harus belajar atau ngaji.

Baca Juga: Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Selain itu, kiai yang juga kakak dari Syaikhina KH. A. Mustofa Bisri dan juga ayah dari KH. Yahya Cholil Tsaquf (Katib 'Aam PBNU) juga Gus Yaqut Cholil Qoumas (Ketum GP. Ansor) ini, tawadlu'nya sangat luar biasa. Contohnya, pernah beliau tidak sepakat dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam suatu hal, namun beliau tidak menyampaikannya secara langsung. Bukan pula kemudian diumumkan dipublik. Melainkan beliau menyampaikan kepada kiai lain yang menurut beliau "setaraf" atau punya "maqom" lebih tinggi dari Gus Dur. Pendek kata, meski kealiman beliau tidak ada yang meragukan, namun beliau masih merasa ada kiai lain yang lebih alim, termasuk Gus Dur.

Akhirnya, semoga para santri beliau bisa meneladani dan mengamalkan apa yang telah didawuhkan dan diajarkan oleh beliau. Dan berhubung hari ini tepat 7 Rojab dimana beliau telah dipanggil oleh Allah SWT. sebagaimana menurut penanggalan tahun Hijriyyah, marilah kita langitkan doa untuk beliau. Lahul-Fatihah... []



* Oleh: Agus Setyabudi, Alumni PP. Raudlatut Thalibin Rembang, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More