Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan

Manuskrip Samson; Al-Qur'an Raksasa Tiba di Manokwari


rumahnahdliyyin.com, Manokwari - Manuskrip Samson adalah manuskrip yang terbuat bukan dari kertas Eropa ataupun dluwang (koba-koba, dok-dok) melainkan dari kertas modern. Kertas ini biasanya dijual di pasaran dan dikenal sebagai kertas semen (zaq). Bahannya yang kuat, memang cukup bagus untuk medium penulisan naskah.

Rabu (18/11) malam, KM. Gunung Dempo  sandar di Pelabuhan Manokwari (Port of Manokwari), Papua Barat. Ini adalah momen bersejarah, sebab kapal itu juga mengangkut Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa. Dikatakan raksasa, sebab ukurannya meliputi panjang 1,5 meter, lebar 1 meter dan tebal 10 centimeter.


Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua untuk Nahdliyyin di Jawa


Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa ini awalnya milik seorang Jenderal Bintang Satu matra Angkatan Udara di Jakarta. Karena ingin agar manuskrip ini bermanfaat, akhirnya disumbangkan untuk dirawat. Namun karena kurang perhatian, akhirnya manuskrip itu didatangkan ke Papua Barat.

Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa itu memiliki penutup (cover) terbuat dari sejenis kulit binatang yang disambung-sambung. Pada bagian awal naskah alias halaman pertama adalah Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Baqoroh dengan ilustrasi warna-warni. Sosok tokoh pewayangan tampak menghiasi.

Oleh sebab itu, Dr. R.A. Muhammad Jumaan, pendiri Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi (Centre of the Study of the Islamic Manuscripts and Philology) Manokwari menyebutnya dengan nama Codex Gigas alias Qur'an Wayang. Sebab, ukuran manuskrip ini sangat besar dan terdapat lukisan sosok pewayangan di dalamnya.


Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok di Enarotali


Di bagian tengah halaman, tampak juga ilustrasi yang serupa, hanya berbeda surah. Sayangnya, pada bagian awal dan akhir tidak tercantum kolofon sehingga saat ini belum dapat diketahui siapa, kapan, dimana dan untuk tujuan apa Manuskrip Samson ini dibuat.

Namun, dari jenis tinta yang dipergunakan, yaitu tinta emas, agaknya bisa dipastikan bahwa itu adalah berasal dari spidol. Begitu juga warna-warni yang menyusun ilustrasinya. Tidak ada ilustrasi lainnya, selain yang disebutkan tadi.


Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Asmat Butuh Pembina Agama


Pembina Nasional Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAA-I), Dr. R.A. Muhammad Jumaan, yang merupakan pemilik dan pemelihara naskah itu, langsung mengambilnya di Pelabuhan Manokwari. Perlu dua orang TKBM untuk menurunkannya dari kapal ke mobil. Meski beratnya hanya sekitar 42 kg. saja, namun mengingat volumetrik yang besar, cukup sulit untuk membawanya.

"Manuskrip samson Al-Qur'an Raksasa ini merupakan suatu karya yang patut diberikan apresiasi. Kegigihan penulisnya dalam menyelesaikan penulisan 30 juz tentu memerlukan waktu yang tidak sebentar dengan iringan peristiwa yang variatif: ada suka dan duka. Menulis di atas medium yang besar juga memerlukan energi dan kenyamanan tersendiri. Bila diperkirakan ditulis dalam waktu 100 hari, maka biaya yang dikeluarkan juga tentu tidak sedikit," jelas Dr. R.A. Muhammad Jumaan kepada kontributor rumahnahdliyyin.com lewat pesan di WA.


Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifa'i


Manuskrip Samson itu memiliki fungsi sebagai obyek penelitian yang penting. Sebab, di Papua ini ditengarai banyak terdapat manuskrip sejenis. Apakah penulis dan asal lokasi pembuatan manuskrip itu sama? Hanya penelitian Filologi dan Kodikologi yang dapat menjawabnya! []

(Redaksi RN)

Read More

PCNU Jombang Gelar Tradisi Ijazah Shohih Bukhori

 


rumahnahdliyyin.com, Jombang - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Jawa Timur, menggelar khataman kitab Shohih Bukhori untuk ketiga kalinya pada Senin malam (16/11/2020). Kegiatan yang diikuti oleh pengurus NU dan elemen pesantren ini dimotori langsung oleh kiai-kiai sepuh NU yang memegang sanad Shohih Bukhori hingga ke Hadlrotusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.


"Tradisi sesepuh ini (khataman kitab Shohih Bukhori) jangan sampai ditinggalkan," kata Rois Syuriyah PCNU Jombang, KH. Abd. Nashir Fattah di Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyiin, Paculgowang, Kecamatan Diwek, Jombang, yang dijadikan tempat kegiatan ini.


Baca Juga: Shohih Bukhori No. 1: Niat


Menurut KH. Abd. Nashir Fattah, pesantren-pesantren yang berada di Jombang mayoritas memiliki relasi yang kuat dari sisi keilmuan. Para sesepuh atau pendiri pesantren di Jombang, bila ditelusuri lebih jauh sanad keilmuannya, maka akan ketemu dengan guru-guru yang sama atau seirama.


"Pondok pesantren di Kabupaten Jombang ini terjalin satu 'alaqoh bathiniyah (hubungan batin yang kuat) yang terajut dengan tali hubung keilmuan dari masyayikh pendahulu," jelas Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, ini.


Pada kesempatan ini, kiai Nashir juga mengijazahkan sanad hadits musalsal dan sanad kitab Hadits Shohih Bukhori. Ijazah sanad tersebut diperoleh kiai Nashir dari guru-gurunya, diantaranya yaitu Sayyid Ismail bin Zein Al-Yamani, Syaikh Yasin bin Isa Al-Fadani, Sayyid Muhammad Al-Makky dan beberapa masyayikh yang bersandar kepada Hadrotusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari Tebuireng dari Syaikh Mahfudz At-Turmusyi.


Baca Juga: Shohih Bukhori No. 2: Cara Turunnya Wahyu Kepada Rosululloh


Sementara itu, Wakil Syuriyah PCNU Jombang, kiai M. Shaleh mengemukakan, kegiatan ini adalah upaya untuk merawat tradisi ulama pendahulu dalam memegang sanad-sanad keilmuan yang diberikan oleh guru-gurunya.


Hal ini penting karena menurutnya kualitas keilmuan seseorang (murid) sangat dipengaruhi oleh guru-gurunya yang memiliki sanad yang kuat.


"Dawuh Rois Syuriyah PCNU ini sungguh benar (khataman kitab Shohih Bukhori jangan sampai ditinggalkan). Karena kualitas ilmu seseorang sangat dipengaruhi oleh guru," tuturnya.


Ia mencontohkan salah satu 'ulama' dahulu, namanya Syaikh Zainuddin Al-Malibari, bahwa ia seringkali mengutip fatwa gurunya, yaitu Ibnu Hajar Al-Haitami, dalam merespons suatu masalah tanpa sanggahan, meskipun ia juga mengutip pendapat 'ulama' lain dalam masalah tersebut.


"Hal ini juga sering dilakukan para guru saya. Almarhum Mbah Yai Junaid dalam memaknai teks kitab selalu merujuk pada gurunya Al-Maghfurlah Mbah Yai Zubair (ayah Mbah Maimoen Zubair)," ungkapnya.


Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari


Di akhir acara, dilakukan juga ijazah sanad kitab hadits Shohih Bukhori dari KH. Ahmad Taufiqurrohman Mukhith, Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang, yang juga Musytasyar PCNU Kabupaten Jombang. Sanad yang diijazahkannya ini bersumber dari guru-gurunya. Antara lain dari KH. Mahfudz Anwar Seblak dan masyayikh lainnya yang bersumber dari Hadlrotusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari.[]


(Redaksi RN)

Sumber: NU Online


Read More

Di Bulan Gus Dur, Jaringan Gusdurian Menerima Asia Democracy and Human Rights Award 2018


rumahnahdliyyin.com - Bulan Desember ini adalah bulan istimewa bagi kami, Jaringan Gusdurian Indonesia. Pertama, bulan ini adalah bulan Gus Dur. Bulan ketika kita semua memperingati wafatnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di bulan ini, haul Gus Dur diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia untuk mengenang sekaligus menebarkan tauladan beliau.

Kedua, di Desember tahun ini, Jaringan Gusdurian mendapatkan anugerah Asia Democracy and Human Rights Award 2018 oleh The Taiwan Foundation for Democracy (TFD). Penghargaan ini secara langsung diberikan oleh Presiden Republik China Taiwan, Ibu Tsai Ing-wen.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Menurut TFD, Jaringan Gusdurian telah bekerja untuk mempromosikan dialog antaragama, multikulturalisme, konsolidasi masyarakat sipil, toleransi, demokrasi dan hak asasi manusia. Dengan berpegang pada sembilan nilai utama Gus Dur, JGD selama ini tak kenal lelah berjuang untuk kebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama.

Jaringan Gusdurian juga dinilai telah melakukan intervensi yang berarti terhadap masalah diskriminasi di Indonesia dengan membela mereka yang menjadi korban. Jaringan Gusdurian juga menjadi salah satu organisasi terkemuka dalam memerangi radikalisme dan intoleransi di Indonesia, termasuk mengurangi dan mengurangi potensi konflik komunal di negeri yang penuh dengan keragaman agama dan etnis.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Presiden Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia (FIDH), Dimitris Christopoulos, terkesan oleh upaya dialog antar-iman yang dilakukan oleh Jaringan Gusdirian, yang berasal dari aktivis Islam moderat di dunia dimana Islamophobia telah masuk ke dalam agenda politik.

Sementara Dr. Shin Hae Bong, Presiden Japan’s Human Rights Now, menyatakan bahwa Jaringan Gusdurian telah berkontribusi menciptakan ruang dialog yang aman bagi orang-orang dengan beragam latar belakang agama dan etnis, yang sangat penting dalam masyarakat multi-etnis, memainkan peran katalis dalam mempromosikan dialog antaragama, demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia dan di luar negeri.

Baca Juga: Ruh Gus Dur di Sidera

Penghargaan ini tentu saja membanggakan dan patut disyukuri. Ini menandakan bahwa kerja-kerja kami selama ini mendapatkan apresiasi di tingkat internasional.

Secara khusus, Jaringan Gusdurian mengucapkan terimakasih kepada The Taiwan Foundation for Democracy yang telah memberikan penghargaan ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada mitra-mitra kerja kami di Indonesia dan luar negeri yang selama ini telah membantu kerja-kerja Jaringan Gusdurian.

Penghargaan ini, secara khusus, kami dedikasikan kepada seluruh pejuang HAM di Indonesia dan seluruh dunia yang selama tidak kenal lelah terus berjuang menegakkan keadilan, demokrasi dan HAM.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Namun demikian, bagi kami, penghargaan ini lebih merupakan cambuk. Cambuk keras agar kami tidak berhenti dan terus bekerja. Perjuangan untuk menegakkan HAM tidak boleh berhenti hanya dengan sebuah award.

Bagi kami, penghargaan ini justru menjadi tanda bahwa Jarigan Gusdurian harus bekerja lebih keras dalam memperjuangkan keadilan, bebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama. Di masa mendatang kasus-kasus diskriminasi dan menguatnya politik identitas akan menjadi tantangan berat bagi kerja-kerja perjuangan Hak Asasi Manusia.

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur di Mata Profesor Jepang

Kami berharap penghargaan ini juga menjadi penanda baru bagi lebih dari seratus komunitas gusdurian yang tersebar di seluruh Indonesia untuk terus bekerja menebarkan nilai-nilai yang telah diajarkan Gus Dur bagi terwujudnya masa depan Indonesia yang lebih berperikemanusiaan.

Salam.

Seknas Jaringan Gusdurian Indonesia.
[]
Read More

Peringati Maulid Nabi, Warga Maros di Biak Tetap Lestarikan Tradisi


rumahnahdliyyin.com | Biak Numfor - Himpunan Keluarga Maros, Sulawesi Selatan, tetap menjaga tradisi budaya masyarakat Bugis-Makassar meskipun tengah berada di tanah perantauan, di Biak Numfor, Papua. Tradisi budaya tersebut yaitu membagi makanan ketan telur yang dihias dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah.

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 8 Desember 2018, itu dihadiri juga oleh Pelaksana Tugas Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap. Dalam kesempatan itu, Plt. Bupati mengajak warga Maros untuk memaknai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. tidak berhenti pada perayaan seremonialnya semata.

Baca Juga: Maulid

"Jadikan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. untuk saling berbagi dan menjaga kebersamaan antarwarga Maros dalam mendukung program pemerintah," ujarnya sebagaimana diberitakan oleh Antara.

Ia juga mengajak warga Maros agar terus menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat lain dan hidup berdampingan di Kabupaten Biak Numfor.

Melalui hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., menurut Herry, diharapkan warga Maros dapat meningkatkan nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga: Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia

Sementara itu, Ketua Himpunan Keluarga Maros Biak Numfor, Abdul Kadir, mengakui bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. itu dilaksanakan warga Maros sebagai bukti pengamalan nilai ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT.

"Di peringatan Maulid, warga Maros telah membagikan telur ketan beserta lauk-pauk untuk diberikan kepada setiap tamu yang hadir," katanya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah oleh Himpunan Keluarga Maros di Biak Numfor itu memang berlangsung dengan hikmad dan cukup meriah. Adapun ketan telur maulid disediakan oleh panitia penyelenggara.[]
Read More

Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia


rumahnahdliyyin.com | Paniai - PHBI Kabupaten Paniai, Papua, pada Sabtu, 1 Desember 2018, menghadirkan ustadz. Drs. Umar Bauw Al-Bintuni sebagai penceramah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 H. Acara yang bertempat di Masjid Al-Mubarok Enarotali itu berlangsung lancar.

Dalam ceramahnya, dai kelahiran Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, itu mengajak umat Islam untuk mencintai Nabi Muhammad SAW. sekaligus meneladani akhlaq beliau dalam kehidupan sehari-hari.

"Hablum-minalloh dan yang paling utama ini adalah hablum-minannas, hubungan baik kepada sesama manusia. Apalagi kita hidup di tengah-tengah umat Nasrani yang beraneka ragam. Kita harus mengetahui hak-hak bertetangga dengan umat non-muslim yang diajarkan oleh Nabi kita. Jangan sampai perbedaan ini menjadikan perpecahan. Namun bersatu merajut persaudaraan, bergandengan untuk kehidupan yang harmonis," ujar Kasi Pendidikan Agama Islam Kanwil Kemenag Papua itu.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Selain itu, ia juga sedikit mengulas sejarah masuknya agama Islam di Papua. Dituturkannya bahwa pada tahun 1213 M., agama Islam sudah ada di Teluk Bintuni Fakfak dan menjadi agama mayoritas masyarakat asli setempat. Namun ketika ada umat Nasrani datang yang ingin menyebarkan agama Nasrani, pun tidak ditolak. Pada waktu itu, raja setempat malah mengantarkan dan menunjukkan ke sebuah pulau yang namanya Pulau Mansinam (sekarang Manokwari, red.) yang mana masyarakat di sana sama sekali belum mengenal agama dan masih menganut agama nenek moyang dan ateisme.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan

Selanjutnya, dai asli Papua itu kemudian memaparkan contoh kerukunan yang ada di Teluk Bintuni. Di sana ada Masjid Pattimburak yang arsiteknya merupakan perpaduan antara gereja dan masjid. Masjid tersebut dulunya dibangun bersama umat Nasrani dan Katolik. Dan di sebelah Masjid tersebut juga dijadikan sebagai tempat ibadah orang Nasrani dan Katolik. Di sana hidup rukun berdampingan dan saling membantu satu dengan lainnya, sebagaimana dalam kehidupan sehari hari masyarakat di sana. Apabila dari umat Islam memerlukan pertolongan, umat Nasrani pun tidak enggan untuk membantu.

Kalau sudah seperti itu, lanjutnya lagi, tidak ada agama Islam atau Nasrani. Yang ada adalah manusia dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, di sana ada istilah “Satu Tungku Tiga Batu” sebagai gambaran bahwa meskipun kita berbeda agama namun kita harus bersama-sama bergandengan tangan dan tidak bermusuhan.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Pada acara tersebut, Bupati Paniai terpilih pun, bapak Mekky Nawipa, tampak hadir dan memberikan sambutannya. Walaupun ia seorang Nasrani, ia tetap menghargai peringatan hari-hari suci umat Islam dan mengapresiasi acara peringatan Maulid Nabi itu.

"Kita semua adalah makhluk Tuhan dan kita ketahui bahwa kita hidup dan lahir di Indonesia. Dan saya yakin semua agama mengajarkan untuk saling menghormati, mengasihi antar umat satu dengan yang lainnya. Mari bersama-sama menjaga kerukunan dan membangun Papua menjadi maju, harmonis dan tidak ada perpecahan," ajak bapak Bupati.[]
(M. Taha)
Read More

Gus Mus: Jangan Seret Agama ke Politik Praktis dan Perebutan Kekuasaan


rumahnahdliyyin.com | Jombang - KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), dalam acara Haul ke-3 KH. Aziz Manshur di Pesantren Pacul Gowang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin kemarin (6/11), meminta supaya politikus tidak menyeret agama untuk kepentingan politik praktis dan perebutan kekuasaan saja. Sebab, hal itu dapat merugikan agama Islam sendiri, apalagi digambarkan sebagai pembuat kerusuhan dan haus kekuasaan.

Sekarang banyak politikus yang menarik-narik agama ke politik. Alloh dibawa-bawa ke ranah kampanye. Suriah dulu rusak karena agama digunakan untuk kepentingan politik.

Baca Juga: Gus Mus: Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

"Dalil tidak digunakan pada tempatnya. Bisa-bisanya surat Al-Maidah ditarik ke politik. Perkara lima tahun sekali, kok dibelain sampai kayak mau kiamat. Padahal lima tahun lagi akan ada pemilihan baru," katanya.

Gus Mus juga menyoroti banyaknya politikus yang menggunakan dalil-dalil Al-Qur'an untuk menjatuhkan lawan politik. Ayat suci tersebut digunakan untuk membenarkan tindakannya. Terkesan memaksakan dalil. Bahkan karena saking fanatiknya pada pilihan politiknya, sampai-sampai merusak persaudaraan. Kakak dan adik tidak lagi akur. Sama tetangga tidak berteguran karena beda pilihan.

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

"Jadi saya tidak terlalu percaya kalau politikus suka dalil-dalil, kepentingan sesaat. Bahayanya kalau seandainya dalil lima tahun lalu berbeda dengan tahun sekarang. Karena keadaan politik, padahal jejak digital itu kejam. Malah kelihatan tidak konsisten, dulu mengharamkan tapi sekarang membolehkan," ujar Gus Mus.

Gus Mus pun mengaku heran dengan kelompok Islam gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits. Kelompok ini merasa paling benar dan teriak ke sana ke mari merasa paling gagah. Mereka berdemo-demo seolah paling benar. Ia berpendapat gerakan ini subur juga karena sekarang orang waras banyak yang mengalah. Ini harus dibalik sekarang, orang waras harus bicara.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

"Kok ya ada gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Al-Hadits tapi Al-Qur'an yang dimaksud adalah Qur'an terjemahan Departemen Agama (Depag). Padahal bahasa Indonesia itu tidak bisa sempurna memaknai bahasa Al-Qur'an. Karena keterbatasan kosa kata. Bersyukurlah santri yang masih belajar di pesantren," beber Gus Mus.

Oleh karenanya, Gus Mus usul untuk melawan gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits dengan ngaji kepada para ahli di pesantren. Ditambah lagi dengan memperbanyak kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena kalau tidak begitu, orang yang tidak paham agama secara mendalam, akan berfatwa terus.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

"Maulid nabi dan Haul kalau bisa setiap malam, biar tidak lali (lupa) sama kebaikan nabi dan kiai. Biar tidak ada lagi istilah nabi dawuh ngulon (barat), orangnya malah ngetan (timur). Sudah salah, ditambahi takbir lagi. Kembali ke Al-Qur'an itu ya ngaji, kembali ke pesantren," tandas Gus Mus.[]



Source: NU Online
Read More

FPI Kabupaten Malang: HTI Tak Boleh Ada di Indonesia


rumahnahdliyyin.com | Malang - Front Pembela Islam (FPI) Kabupaten Malang sepakat bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tak boleh ada di Indonesia. Hal itu ditegaskan FPI Kabupaten Malang dalam acara Cangkruan Kamtibmas Kapolres Malang, yang digelar oleh Polres Malang, pada Jum'at (26/10/2018).

Menurut Sekretaris FPI Kabupaten Malang, Muhammad Khosim, pihaknya memohon maaf karena pimpinan FPI Kabupaten Malang tak bisa hadir atas undangan cangkruan Kamtibmas Kapolres Malang itu.

"Pimpinan kami sedang ada acara, tidak bisa hadir. Karena kita (FPI Kabupaten Malang) masih baru, pimpinan kami menyampaikan agar kita tidak banyak menyampaikan statemen, soal pembakaran bendera HTI di Garut itu," jelasnya.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Namun, DPW. FPI Kabupaten Malang, tegas Khosim, telah sepakat bahwa insiden di Garut itu bukan unsur kesengajaan dari teman-teman Banser.

"Selain itu, kita (FPI Kabupaten Malang), sepakat bahwa HTI di Indonesia tidak boleh ada," tegas Khosim, di depan ratusan undangan dan para tokoh organisasi keagamaan dan kepemudaan yang hadir saat itu.

Menyikapi kejadian pembakaran bendera HTI di Garut itu, karena terjadi multi tafsir antara bendera HTI atau Al-Liwa'-Ar-Royah, Khosim mengatakan: "FPI sampai dengan saat ini tidak ada agenda menggelar aksi apapun di Kabupaten Malang," tegasnya yang disambut aplaus oleh para hadirin.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" oleh Hizbut Tahrir

Selain itu, Khosim juga menambahkan bahwa FPI Kabupaten Malang dengan teman-teman Banser di Kabupaten Malang sudah clear.

"Namun, seperti yang disampaikan MUI Kabupaten Garut, adalah permintaan maaf Banser kepada teman-teman yang menafsirkan berbeda, harus dilakukan," katanya.

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Sementara itu, menurut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang, Drs. H. Mursidi, MM., warga Muhamadiyah Kabupaten Malang sepakat tidak boleh ada aksi massa tandingan dan kemarahan yang berlebihan yang berpotensi pada perpecahan dan rusaknya persatuan bangsa.

"Kejadian Garut itu, agar menjadi bahan muhasabah, agar tidak terulang kejadian yang sama dengan alasan apapun. Tidak boleh terjadi lagi di Indonesia, terutama di Kabupaten Malang," katanya.[]
Read More