Tampilkan postingan dengan label Tamak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tamak. Tampilkan semua postingan

Strategi Mbah Bisri Memelihara Diri dari Larangan Tamak


rumahnahdliyyin.com - Pada suatu misi pengajian, kiai Bisri Mustofa mengajak serta seorang santri seniornya. Menjelang sampai ke tempat acara, kiai Bisri menyuruh sopir berhenti di sebuah warung makan. Hidangan dipesan. Tapi si santri senior menolak ikut makan.

“Masih kenyang," katanya. Kiai Bisri pun membiarkannya.

Sampai di tempat acara, sebelum pengajian dimulai, tuan rumah terlebih dahulu mempersilakan untuk menikmati hidangan makan (malam). Tentu saja kiai Bisri menolak.

“Baru saja makan! Nanti saja."

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Usai pengajian, kembali makan malam ditawarkan. Tapi kiai Bisri tetap menolak.

“Masih kenyang."

Si santri seniorlah yang kemudian gelisah oleh lapar, karena tadi tidak ikut makan di warung. Kiainya pura-pura tidak tahu.

Melihat diantara suguhan jajanan terdapat lemper, santri itu merasa beruntung.

“Lumayan, buat ganjal perut," pikirnya.

Apa lacur, baru saja tangannya menjulur hendak meraih lemper, kiai Bisri tiba-tiba beranjak berdiri dan langsung pamitan.

Si santri harus menahan perih perut sampai esok hari. Karena besek berkat yang biasanya diberikan untuk dirayah santri-santri pun ternyata tidak diserahkan.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Menurut Imam Ghozali (Asy-Syaikh Al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali Ath-Thusi), ada yang lebih tinggi tingkatannya daripada ijtinaabun-nawaahiy (menghindari larangan), yaitu ihtiroos ‘anin-nawaahiy (memelihara diri dari larangan). Apa beda keduanya?

Dalam perkelahian, kalau orang berkelit dari pukulan, sehingga pukulan itu luput, gerakan berkelit itulah ijtinaab. Kalau orang berlindung didalam benteng, sehingga tak dapat diserang, itulah ihtiroos. Jadi, ijtinaab itu manuver, sedangkan ihtiroos itu security system.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Setiap hendak menghadiri undangan pengajian, kiai Bisri Mustofa mewajibkan diri mampir ke warung makan menjelang sampai ke tempat acara. Jajan, meskipun di tempat pengajian nanti biasanya tuan rumah menyediakan jamuan makan. Itu adalah ihtiroos ‘anith-thoma’, supaya tidak berharap-harap (thoma’) akan suguhan si tuan rumah.

Menjelang Pemilu 1977, setelah NU (terpaksa) berfusi kedalam PPP, sejumlah kiai NU justru menyeberang ke Golkar. Diantaranya lantaran iming-iming bantuan dana dari Pemerintah. Pada hari-hari itu, Kiai Bisri memborong banyak mobil. Ada tujuh buah mobil di rumah. Padahal garasi hanya cukup untuk satu. Mobil-mobil itupun dijajarkan di jalanan di depan rumah.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Meskipun ada tujuh, hanya satu saja yang dipergunakan, yaitu sebuah sedan Datsun keluaran tahun ’60-an. Bagaimana dengan enam lainnya? Tak banyak yang tahu rahasianya. Ternyata, selain sedan Datsun, mobil-mobil itu mustahil bisa hidup mesinnya kecuali didorong. Artinya, cuma body yang mulus, sedangkan mesinnya bodhol.

Apa tujuannya memborong “kereta-kereta tak berguna” macam itu?

“Untuk dipamerkan!” kata kiai Bisri.

Pameran dalam rangka apa?

“Supaya orang mengira aku ini sudah kaya raya."

Apa untungnya dianggap kaya?

“Supaya tak ada yang berani menawariku uang."

Kalau nggak mau uang, ya ditolak saja toh?

“Kalau ada yang nawari, kuatirnya justru aku yang nggak tahan…”



* Oleh: KH. Yahya Cholil Staquf, Pernah menjadi Juru Bicara Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat ini sebagai Katib ‘Aam PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang.

** Tulisan ini pernah dimuat di teronggosong.com dengan judul "Ihtiroos".
Read More