Santri Milenial dan Tantangan Seabad NU


muslimpribumi.com - Siklus seratus tahun merupakan pembuktian Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keislaman terbesar di dunia. Klaim Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di dunia bukan pepesan kosong, tapi merujuk pada data beberapa lembaga-lembaga survey terpercaya. Bukan sebagai penghargaan yang dirayakan, tapi menjadi refleksi kritis untuk melihat sejauh mana kontribusi NU dalam konteks keislaman, keindonesiaan dan dinamika internasional.

Survey IndoBarometer pada tahun 2000 menyebut bahwa warga Nahdliyyin berjumlah 143 juta jiwa. Sementara Lembaga Survey Indonesia (LSI) pada 2013 mengungkap data bahwa sejumlah 36 persen pemegang hak pilih nasional merupakan warga NU. Singkatnya, 91,2 juta pemilih nasional merupakan warga Nahdliyyin.

Sementara itu, Alvara Strategic Research, melansir hasil survei tentang organisasi Islam yang paling dikenal publik. Survei ini melibatkan 1.626 responden di 34 provinsi dengan wawancara tatap muka. Hasilnya, NU menempati peringkat pertama sebagai organisasi keislaman yang paling dikenal dengan prosentase sebesar 97,0.

Dilanjutkan Muhammadiyah sebesar 93,4 persen dan beberapa organisasi lain. Survei Alvara (2017) mengajukan data sejumlah 50,3 persen penduduk muslim mengaku NU serta 14,9 persen berafiliasi dengan Muhammadiyah. Dari laporan riset ini, terungkap data jumlah warga Nahdliyyin sekitar 79,04 juta jiwa. Sementara warga Muhammadiyah sejumlah 22,46 juta jiwa.

Dari catatan ini, penulis ingin melihat dinamika anak muda Nahdliyyin atau lapisan santri milenial. Lapisan ini penting ditelisik aspirasi sekaligus perannya dalam proses menuju seratus tahun Nahdlatul Ulama.

Milenial santri

Bagi lingkaran peneliti sosial, milenial disebut lapisan penduduk yang lahir pada 1980-2000. Atau, mereka yang saat ini berusia 18-38 tahun. Dalam skala ini, santri milenial saat ini berada pada lapisan santri yang masih mengaji di pesantren, sedang belajar di kampus, sampai pada tahapan menjadi profesional di beberapa perusahaan atau instansi.

Lapisan santri milenial ini, sebagian besar juga mewarnai muslim kelas menengah. Ada transformasi sosial, dari keluarga santri yang dulunya berlatar belakang agraris, kemudian kuliah dan bekerja secara profesional di beberapa kota. Terbukanya kompetisi di kampus-kampus nasional dan internasional dan afirmasi atas sekolah berbasis pesantren, membuka peluang bagi santri untuk menggeluti sains dan ilmu-ilmu yang melengkapi basis pesantren. Pergeseran ini berdampak pada identitas santri milenial yang mempengaruhi pola baru warga Nahdliyin.

Dari sisi komunikasi, santri-santri milenial juga mewarnai interaksi digital. Sindikasi media yang dibangun oleh santri-santi milenial berpengaruh pada pembentukan wacana di kalangan muslim kelas menengah. Sejauh ini, puluhan media digital yang mengkampanyekan nilai-nilai Islam Nusantara atau gagasan keislaman ala Nahdlatul Ulama. Interaksi digital dengan lintas platform media sosial berpengaruh pada wajah baru warga Nahdliyin. Ini menjadi penting dalam proses menuju satu abad Nahdlatul Ulama.

Dari sejarah panjangnya, Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab besar: keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Tanggung jawab ini merujuk pada prinsip Nahdlatul Ulama dalam menjaga ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan).

Tanggung jawab ini memiliki spektrum luas: politik kebangsaan, ekonomi, hukum, pendidikan hingga diplomasi internasional. Dari peta ini, tergambar jelas bagaimana sumbangsih sekaligus tantangan Nahdlatul Ulama dalam siklus seratus tahun (satu abad).

Tanggung jawab keislaman memberi tantangan bagi Nahdlatul Ulama untuk menebar dakwah Islam Nusatara yang rahmatan lil-alamin. Dakwah Islam yang rumah, bukan Islam yang menyebar amarah. Tanggung jawab ini menjadikan Nahdlatul Ulama memiliki spektrum gerak yang luas untuk menjawab problem keislaman di dunia internasional.

Wajah muslim di ranah internasional sedang murung. Peperangan dan konflik di beberapa negara Timur Tengah meremukkan persaudaraan. Konflik di Yaman, Syiria, serta kontestasi antara Israel dan Palestina, serta dinamika negara di sekitar Saudi, merupakan tantangan besar untuk mencipta perdamaian.

Di Asia Tenggara, kekerasan terhadap muslim Rohingya di Myanmar menjadi problem serius. Dalam lanskap internasional, inisiasi perdamaian di Afghanistan mencatat peran NU dalam diplomasi perdamaian. Inisiasi perdamaian di ranah internasional ini menjadi bagian dari dakwah Islam Nusantara.

Arus baru milenial

Seratus tahun Nahdlatul Ulama bagi generasi santri milenial memiliki arti penting untuk memandang wajah organisasi ini pada masa kini dan mendatang. Dengan munculnya lapisan santri milenial, penyebutan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi tradisional, tidak lagi relevan.

Tradisionalisme dalam menjaga sub-kultur pesantren, merupakan khazanah penting yang menjadi ciri khas. Maka, bisa kita saksikan bagaimana santri-santri milenial yang kuliah di beberapa kampus internasional maupun yang sudah berkarir profesional merasa perlu dengan sholawatan, pengajian maupun rangkaian tradisi lain.

Pada ranah tantangan ekonomi kerakyatan, pola santri milenial untuk membangun arus baru ekonomi berlangsung dengan cara yang berbeda. Beberapa santri menginisiasi start-up pada pelayanan publik, media dan social bussines dengan dukungan perusahan finansial internasional.

Munculnya beragam ventura yang berani mendanai eksekusi ide-ide bisnis berbasis digital menjadi peluang berharga. Meski belum berkembang massif, gerakan santri-santri milenial sudah terasa. Perlu ada dorongan intensif agar lapisan santri milenial ini melangsungkan penetrasi pada wilayah profesional baru.

Saya, sebagai bagian santri milenial merasa betapa inovasi teknologi digital dan media sosial berpengaruh pada transformasi harokah (gerakan) santri zaman now. Santri milenial memiliki strategi yang berbeda dalam merespons tanggung jawab keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Seratus tahun Nahdlatul Ulama membuka ruang bagi santri milenial untuk membuktikan kontribusi strategisnya.

* Oleh: Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Penulis buku "Merawat Kebinekaan" (2018).
Read More

Rakornas NU Care-Lazisnu Ketiga di Sragen


muslimpribumi.com - Sragen, NU Care-LAZISNU menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ketiga di Sragen, 29-31 Januari 2018, di Pondok Pesantren Walisongo, Sragen, Jawa Tengah. Rakornas diikut 300 orang pengurus NU Care-LAZISNU tingkat provinsi, kabupaten, dan kecamatan dari seluruh Indonesia dan NU Care-LAZISNU Taiwan.

Direktur NU Care-LAZISNU, H. Syamsul Huda mengatakan bahwa Rakornas tahun ini akan menguatkan metode pengumpulan dana yang paling tepat dilakukan Nahdliyin. Pengumpulan dana melalui Koin NU seperti yang digalakkan PCNU dan NU Care-LAZISNU Sragen, perlu terus digerakkan.

"Gerakan Koin NU Sragen juga sangat tepat menjadi keteledanan bagi Nahdliyin di seluruh Indonesia,” katanya.


Arus Baru Kemandirian Ekonomi NU dipilih menjadi tema Rakornas yang juga digelar untuk menyongsong 100 tahun NU.

Sejumlah agenda melengkapi Rakornas, yaitu seminar fundraising; ZIS Trip atau kunjungan ke lokasi usaha ekonomi, peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit NU (dari pemanfaatan Koin NU Sragen) oleh Rais 'Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin, Selasa (30/1), santunan anak yatim, janda dan dhu'afa' (29/1); serta bazar berbagai produk gagasan Lembaga Perekonomian NU (LPNU) Sragen.

Rais ‘Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin, menanggapi bahwa tema yang diangkat dalam Rakornas tersebut sungguh tepat. Karena, pada saat ini Nahdlatul Ulama' berada di akhir 100 tahun pertama.

“Kita akan memasuki 100 tahun kedua. Karena itu, sisa waktu yang ada menjelang 100 tahun kedua itu kita jadikan untuk membuat landasan-landasan yang kuat. Kita kuatkan runaway-nya supaya bisa tinggal landas. Karena menurut hadits, setiap awal 100 tahun itu akan ada pembaharu; ada gerakan baru,” jelas KH. Ma’ruf Amin saat ditemui di ruangannya di Gedung PBNU Lantai 4, Kamis (18/01).

Menurutnya, NU Care-LAZISNU telah melahirkan gerakan ekonomi mandiri Nahdliyin yang dahsyat. Di Sukabumi telah terbangun Klinik ZIS, di Sragen dengan pembangunan Rumah Sakit NU, di Lampung Timur dengan BMT (Baitul Maal wa Tamwil), dan juga di tempat-tempat yang lain.

Sebagai suatu organisasi, Nahdlatul Ulama' memiliki berbagai bagian. NU itu adalah fikroh (cara berpikir), 'amaliyah dan harokah (gerakan). Diantara gerakan NU, kata KH. Ma’ruf Amin, adalah gerakan perbaikan, yaitu harokah ishlahiyah di dalam bidang ekonomi supaya NU bisa mandiri. NU juga gerakkan khidmatun ummah atau pelayanan kepada umat.

“LAZISNU punya peran ganda. Pertama, ia (LAZISNU, red.) harus berperan dalam rangka meningkatkan kemandirian ekonomi umat dengan dana yang bisa dikelola dengan baik. Yang kedua, dengan memberikan pelayanan seperti melalui klinik, melalui rumah sakit, melalui pendidikan dan lain-lain yang bisa dilakukan,” tutur Kiai yang juga menjabat sebagai Ketua Umum MUI Pusat ini.

Karena itu, menurut beliau, tema Rakornas NU Care-LAZISNU 2018 dalam menyambut 100 tahun Nahdlatul Ulama' adalah suatu tema yang tepat. Rakornas akan menghasilkan gerakan yang massif, yang lebih baik lagi. Sehingga, pelayanan NU dan perbaikan untuk umat bisa dilaksanakan dengan baik.


Petikan pidato Direktur NU Care-LAZISNU, Senin (29/1).

Tidak terasa, kita sudah masuk di akhir Januari 2018, yang artinya Pengurus Pusat NU CARE-LAZISNU periode 2015-2020 telah masuk tahun ke-3. Pada tahun pertama, NU CARE-LAZISNU berkomitmen untuk melakukan konsolidasi organisasi yang diwujudkan dengan Rakornas di Jakarta pada tahun 2016.

Kemudian, di tahun kedua, NU CARE-LAZISNU kemudian mencoba menggali sumber-sumber kearifan lokal dari para kiai-kiai NU yang secara istiqomah menggerakkan umat melalui zakat, infaq dan sedekah. Alhasil, bertemulah kita kepada sosok yang luar biasa, yang mengabdikan dirinya kepada umat dengan model pengumpulan ZIS seperti yang dilakukan oleh para ulama terdahulu NU.

Di Tahun kedua itu, tepatnya Februari 2017, kita menggelar acara di Ponpes Al- Amin, Cicurug, Sukabumi dengan motivasi terbesarnya adalah untuk belajar langsung dari Almarhum Buya Basit yang tidak lain adalah Ketua Pengurus Cabang NU Kab. Sukabumi. Dalam forum tersebut, disepakatilah bahwa NU
CARE-LAZISNU menggunakan “Kotak Infaq Nusantara” atau yang disebut dengan KOIN NU untuk strategi pengumpulan infaq dan shadaqah.

Alhamdulillah, berkat pembelajaran langsung di Sukabumi, beberapa Cabang dan Wilayah di Indonesia kemudian bisa meniru dengan apa yang dilakukan oleh Sukabumi. Bahkan tidak bisa dipungkiri ada yang perkembangannya lebih cepat dan hasilnya lebih besar. Ini membuktikan bahwa spirit yang kita bangun melalui kegiatan di Sukabumi berdampak positif pada aktifitas NU CARE-LAZISNU di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri.

Di tahun ketiga ini, Rakornas NU CARE-LAZISNU digelar di Ponpes Walisongo, Sragen. Motivasi kami, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengambil semangat PCNU Sragen dan NU CARE-LAZISNU Kab. Sragen yang telah menjalankan program KOIN hingga terkumpul dana lebih dari 6 Milyar dalam waktu satu tahun.

Sebenarnya, bukan nominal yang menjadi acuan kami, namun sistem dan manajemen yang telah terkonsep di Sragen inilah yang menurut kami
menjadikan Sragen patut untuk dijadikan percontohan. Selain itu, tentunya semangat gotong royong warga nahdliyin yang terkonsolidasi dengan baik di Sragen ini, juga sangat sulit untuk ditemukan di daerah-daerah lain di Indonesia.

Harus diakui bahwa gerakan KOIN di Sragen sangat luar biasa. Apa yang telah dilakukan oleh Sragen saat ini seperti membuka ingatan kita ke masa lalu di awal-awal embrio berdirinya Nahdlatul Ulama', yang salah satunya adalah semangat pembangunan ekonomi umat melalui Nahdatut Tujjar.

Semangat terhadap pembangunan ekonomi umat adalah hal yang mutlak harus dilakukan jika ingin menjadikan NU sebagai organisasi yang mandiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat miskin di Indonesia didominasi oleh warga nahdliyin. Oleh karena itu, NU CARE-LAZISNU memiliki tugas yang berat untuk bersama-sama memberdayakan umat dan mengentaskannya dari kemiskinan.

Keberpihakan NU kepada penguatan ekonomi umat sudah tidak perlu
ditanyakan lagi. Sejak awal berdirinya, NU sudah sangat konsen dengan nasib ekonomi umatnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya Maklumat No. 7 tahun 1936 yang dikeluarkan oleh Hadlrotusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Maklumat itu,
kemudian memantik semangat pengurus NU di berbagai wilayah di Indonesia, baik di Jawa, Sumatera maupun Kalimantan untuk bergerak melakukan pemberdayaan ekonomi umat dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah jimpitan dan pendirian badan khusus yang menangani masalah sosial ekonomi umat. Tak sampai disitu, di era selanjutnya KH. Mahfudz Shiddiq kemudian mendirikan Syirkah Mu'awwanah (koperasi) disetiap PCNU yang ada di Indonesia. Tujuannya tidak lain adalah untuk memberdayakan ekonomi warga nahdliyin.

Dengan melihat pada kenyataan NU di masa lalu yang begitu massifnya menggerakkan semua elemen untuk pemberdayaan ekonomi, maka bukan tidak mungkin saat ini kita bisa melakukan yang lebih lagi. Jika dahulu saja para pendiri NU dengan segala keterbatasannya bisa melakukan hal itu, maka seharusnya sekarang sudah saatnya NU menjadi sebuah organisasi yang mandiri, yang berdaulat secara ekonomi dan kuat secara ideologi.

Oleh karena itu, kami ingin agar semangat yang telah dilakukan oleh PCNU Kab. Sragen dan NU CARE-LAZISNU Kab. Sragen dapat ditularkan kepada semua yang hadir di sini agar seluruh Wilayah, UPZIS Kabupaten/Kota/Luar Negeri dan
UPZIS Kecamatan bisa meniru strategi yang telah diterapkan di Sragen dengan lebih baik, atau minimal sama dengan yang telah dilakukan di Sragen.

Perlu kami sampaikan, bahwa pada forum ini kita juga kehadiran UPZIS NU CARE-LAZISNU Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur yang juga luar biasa dalam kiprahnya memberdayakan ekonomi umat sejak tahun 2007. Melalui inisiasi Pengurus MWC. NU Kecamatan Pasir Sakti dengan membentuk BMT. Mitra Dana Sakti pada saat itu, kini NU di Pasir Sakti menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di wilayah itu. Bahkan, BMT. yang dikelola dengan modal awal
39 juta, kini telah memiliki aset senilai 60 Milyar dan menjadi 3 besar BMT dengan aset terbanyak di Provinsi Lampung.

Maka dari itu, kami juga meminta kepada Ketua UPZIS NU CARE-LAZISNU Kecamatan Pasir Sakti, untuk juga dapat menularkan pengalamannya selama 9 tahun mengelola dana untuk kepentingan umat. Hal ini sangat penting agar di
tahun ini, seluruh Wilayah dan Cabang NU CARE-LAZISNU di seluruh Indonesia minimal memiliki satu BMT yang mengelola dana Zakat, Infaq dan Shodaqoh dan juga pemenuhan modal usaha untuk pengusaha kecil dan menengah. Tujuannya agar NU benar-benar hadir sebagai solusi konkret untuk menyelesaikan problematika ekonomi umat.

Jika dua strategi ini digabung dalam satu kesatuan utuh, maka NU benar-benar akan menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang luar biasa. Strategi penghimpunan dengan model Sragen dan strategi pengelolaan dengan model Pasir Sakti. Dua model inilah yang akan kita sajikan pada forum yang mulia ini untuk menciptakan sebuah gagasan baru sesuai dengan tema Rakornas kali ini, yaitu “Arus Kemandirian Ekonomi Nahdlatul Ulama; Menyongsong 100 Tahun Nahdlatul Ulama.”

Penentuan tema ini tidak lain karena kami menyadari bahwa dari perekonomian yang kuatlah akan tercipta pendidikan yang unggul dan kesehatan yang berkualitas. Itulah yang dicita-citakan oleh NU sebagaimana yang tercantum
dalam Amanat Muktamar NU ke-33 di Jombang, 2015 lalu. Sekali lagi, tugas kita adalah mewujudkan cita-cita besar para Ulama' NU untuk menjadikan NU sebagai organisasi yang warganya kuat secara ekonomi, berpendidikan tinggi dan
memiliki lembaga kesehatan yang berkualitas untuk melayani umat.

Perlu kami sampaikan, bahwa pada tahun 2017, Pengurus Pusat NU CARELAZISNU telah berhasil menghimpun dana sebesar Rp. 16.771.119.650,- (Enam Belas Miliar Tujuh Ratus Tujuh Puluh Satu Juta Seratus Sembilan Belas Ribu Enam Ratus Lima Puluh Rupiah). Dengan perolehan sebesar itu, Pengurus Pusat NU CARE-LAZISNU menyalurkan sebanyak Rp. 11.866.310.765 (Sebelas Miliar Delapan Ratus Enam Puluh Enam Juta Tiga Ratus Sepuluh Ribu Tujuh Ratus Enam Puluh Lima Rupiah).

Dengan rincian:

1. Pendidikan sebesar Rp. 4.301.905.000,- (Empat Milyar Tiga Ratus Satu Juta Sembilan Ratus Lima Rupiah).

2. Kesehatan sebesar Rp. 680. 264.053,- (Enam Ratus Delapan Puluh Juta Dua Ratus Enam Puluh Empat Ribu Lima Puluh Tiga Rupiah).

3. Pemberdayaan Ekonomi Rp. 2.709.302.872,- (Dua Milyar Tujuh Ratus Sembilan Juta Tiga Ratus Dua Ribu Delapan Ratus Tujuh Puluh Dua Rupiah).

4. Siaga Bencana Rp. 1.008.429.840,- (Satu Milyar Delapan Juta Empat Ratus Dua Puluh Sembilan Ribu Delapan Ratus Empat Puluh Rupiah).

Jumlah ini akan terus bertambah karena ini kami masih menunggu laporan Kinerja Akhir Tahun dari sahabat-sahabat PW. dan PC. NU CARE-LAZISNU di seluruh Indonesia yang jumlah totalnya insya Allah akan kami sampaikan pada penutupan Rakornas NU CARE-LAZISNU 2018 besok.

Hadirin yang kami muliakan; Semoga majunya NU tidak hanya di Sragen, tapi juga diseluruh Indonesia agar NU benar-benar menjadi organisasi yang mandiri, berdaulat secara ekonomi dan kuat secara ideologi.



* (Kang Sururi)
Read More

NU Care Lazisnu Peduli Papua


muslimpribumi.com - AlhamduliLlaah, rampung sudah menyalurkan amanat dari NU Care Lazisnu ke SD Al-Ma'arif di Kampung Maibo, Sorong, Papua Barat. Dengan ditemani beberapa teman, termasuk dari Lazisnu setempat, kira-kira jam sembilan-an kami sampai di Kampung Maibo. Ya, tentu saja setelah melewati hamburan debu jalanan yang masya Allah gaduhnya.

Ada tiga orang guru ketika saya tiba di SD ini. Pak Kaida, salah seorang guru yang memang sudah kenal baik dengan saya, langsung ke arah saya begitu melihat saya datang. Kita saling tanya kabar dan saya pun melanjutkannya dengan memberitahukan padanya maksud kedatangan saya kali ini ke sekolah yang letaknya di depan rumahnya itu.

Ia pun kemudian menyiapkan segalanya. Diantaranya menyuruh anak murid (istilah siswa-siswi di papua) berkumpul di satu ruangan dan mengambil beberapa kursi dari ruangan sebelah.

Begitu semuanya terkumpul di salah satu ruang kelas dari tiga ruang kelas yang ada, dalam hati saya ada kekhawatiran kalau-kalau paketan yang berisi tas dan peralatan sekolah ini tidak cukup. Sebab, dalam penglihatan saya tampak anak-anak begitu banyak sekali. Mendengar kabar-kabar kalau di Kampung ini terkadang ada keributan kecil soal pembagian seperti ini kalau-kalau ada yang tidak kebagian, maka saya sampaikan pada calon-calon generasi bangsa ini bahwa nanti yang dapat hadiah ini adalah anak-anak yang rajin masuk sekolah.

"Jadi, kalau diantara kalian nanti ada yang tidak kebagian, ah..berarti ketahuan kalau kamu malas-malas masuk sekolahnya. Mengerti, ya?" kata saya.

"Mengerti..." jawab mereka koor.

Dan untuk melakukan penyerahan bantuan ini, saya memohon kesediaan Bapak Kiai Ahmad Misri, salah satu tokoh NU di Sorong ini. Dan mewakili SD Ma'arif Maibo ini, saya mengucapkan terimakasih banyak pada NU Care Lazisnu. Semoga mampu kian menembus ke pelosok-pedalaman Papua.

Akhirnya, ketika Anda membaca postingan ini dan kebetulan sedang punya waktu lebih, coba amati kondisi gedung SD ini dan coba bandingkan dengan SD di tempat Anda tinggal. Saya yakin, SD di tempat tinggal Anda jauh lebih baik. Selanjutnya, biarkan nalar sehat Anda menjawab pertanyaan ini; layakkah sarana pendidikan seperti ini?

Silakan dijawab sendiri-sendiri. Saya tidak mengharuskan Anda untuk menuliskan jawaban tersebut dikolom komentar. Tapi menurut saya pribadi, bangunan SD ini lebih buruk dari kandang babi. Setuju dengan saya, boleh. Dan tak apa pula kalau tak sepakat, tapi jangan mengumpat.

Oh, iya. Ketika kami mendatangi lahan yang hendak dibangun sekolahan secara permanen, kebetulan ada pak Polisi yang datang. Kok gak enak rasanya kalau saya tidak mengajaknya poto sekalian 😊😁

Salam.


Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

PCNU Kab. Paniai, Papua, Peringati Harlah NU Ke-92

muslimpribumi.com - Setiap tanggal 31 Januari, organisasi terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama’, memperingati hari lahirnya. Di tahun 2018 ini, usia organisasi yang didirikan oleh Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari beserta para ulama' Nusantara ini kini genap berusia 92 tahun.

Acara peringatan Hari Lahir itu biasanya juga diikuti oleh para Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, Pengurus Anak Cabang, Ranting, Badan Otonom maupun Lembaga-lembaga NU yang ada diseluruh Indonesia, selain tentu saja Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' yang ada di Jakarta.

Tujuan diadakanya peringatan Harlah ini disamping untuk mensyukuri ni'mat Allah SWT. atas keistiqomahan Jam'iyyah NU selama ini, juga untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan pendiri NU sekaligus meneguhkan kembali peran ormas NU kepada umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Diantara PCNU yang tidak mau ketinggalan untuk memperingati Harlah NU ke-92 kali ini yaitu PCNU Kab. Paniai, Propinsi Papua. Meskipun keberadaan PCNU tergolong masih baru dan asing di telinga masyarakat setempat, namun hal itu tidak menyurutkan semangat para pengurusnya. Justru momen seperti ini merupakan ajang yang tepat untuk mensosialisasikan pada masyarakat setempat tentang NU.

Dan kegiatan peringatan Harlah NU yang di selenggarakan oleh PCNU Paniai ini pun sudah dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 21 Januari 2018 kemarin yang bertempat di Madrasah Ma’arif NU Paniai. Rangkaian acara dimulai sejak pagi jam 09.00 WIT. sampai jam 11.00 WIT. dengan pembacaan Khotmil Qur’an. Acara ini diikuti oleh para pengurus PCNU serta jam’aah yang kemudian dilanjutkan dengan acara puncak pada jam 13.00 WIT. sampai jam 15.00 WIT., yaitu santunan anak yatim-piatu serta sambutan-sambutan dan Mauidhoh Hasanah yang diakhiri dengan do’a bersama.

Pada acara puncak ini terlihat hadir ratusan masyarakat umum, para santri, wali santri Madin Ma’arif NU, dan jajaran aparat keamanan baik Bapak Kapolres dan TNI yang ada di kabupaten Paniai. Adapun anak yatim yang menerima santunan berjumlah 23 anak; 17 putra dan 7 putri. "Semoga dengan diberikan santunan ini dapat memberikan manfaat serta kelak menjadi anak yang sholih-sholihah, amin," ujar ketua Madin, Ahmad Muslih.

Dalam sambutannya, Ketua PCNU Kab. Paniai, Bapak Sodikin, menyampaikan maksud dan tujuan diselenggarakan acara ini. Yaitu supaya masyarakat umum tahu sejarah berdirinya ormas NU dan peran serta kontribusi NU, baik di masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta mengajak bersama-sama mayarakat untuk selalu mengajarkan Islam yang ramah dan santun. Tidak seperti Islam yang ada di media-media yang selalu mengajarkan kebencian dan radikal.

Semoga dengan acara ini bisa memberikan manfaat dan berkah serta rasa aman bagi masyarakat Muslim di Paniai pada khususnya, dan umumnya bagi masyarakat non-muslim. Serta semoga PCNU Kab. Paniai diberikan tetap istiqomah dalam berkhidmah mensyiarkan ajaran ASWAJA seperti apa yang telah dicita-citakan oleh para ulama’ NU terdahulu, Amin.

Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU di Paniai, Papua.
Read More

Sholawat


muslimpribumi.com - Allah SWT. telah berfirman dalam Al-Qur'an,

إنّ الله وملا ئكته يصلّون على النّبيّ ياايّهاالذين امنوا صلّوا عليه وسلّموا تسليما (الأحزاب: ٥٦).

Sungguh Allah SWT. dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Wahai orang-orang
yang beriman, bersholawatlah kalian semua kepada Nabi Muhammad SAW. dan berilah salam kepadanya dengan sungguh-sungguh.

Terkait dengan ayat ini, Imam Qurthubi dalam kitab tafsirnya menyebutkan bahwa sholawat dari Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. adalah bentuk rahmat dan ridlo-Nya atas Nabi Muhammad SAW. Adapun sholawat dari para malaikat berarti doa dan permohonan ampunan. Sedangkan sholawat dari umat muslim berarti doa dan bentuk tadhim.

Senada dengan pendapat ini dapat dijumpai dalam Tafsir Thobari yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA. Dari sini, bila kita mengaku sebagai orang yang beriman, sudah seharusnya kita semua menyambut firman Allah SWT. ini dengan menunaikannya. Terlebih, banyak hadits yang menyebut anjuran dan keutamaan sholawat.

Sabda Rasulullah SAW.,

من صلّى عليّ واحدة صلّى الله عليه عشرا

Barang siapa mengucapkan sholawat kepadaku sekali, maka Allah SWT. akan bersholawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali.

Sabda Rasulullah SAW. lagi,

اولى النّاس بي يوم القيامة أكثرهم عليّ صلاة

Manusia paling utama yang bersamaku
dihari kiamat kelak adalah mereka yang paling banyak mengucapkan sholawat.

Kedua hadits diatas merupakan sedikit contoh dari banyak hadits tentang keutamaan membaca sholawat.

Apabila kita mendengar ada seseorang sedang membaca sholawat atau menyebut nama Nabi Muhammad SAW., hendaklah kita menjawab orang tersebut dengan sholawat. Misal, ada seseorang berucap “Nabi Muhammad” atau “Rasulullah”, maka kita hendaklah menjawab “Shollallaahu 'alaihi wasallama”. Atau apabila ada seseorang berucap “Allaahumma sholli 'alaa sayyidina Muhammad”, maka kita menjawab “Allaahumma sholli alahi.”

Jangan sampai kita termasuk kedalam orang yang kikir atau orang yang celaka yang sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW.,

البخيل من ذكرت عنده فلم يصلّ عليّ

Orang bakhil (kikir) adalah orang yang ketika disisinya disebut namaku, ia tidak
membaca sholawat kepadaku.

Atau hadits yang berbunyi,

من ذكرت عنده فلم يصلّ عليّ فقد شقي

Barang siapa ketika disebut namaku disisinya dan ia tidak bersholawat kepadaku, sungguh celakalah ia.

Kita tentu sudah sering mendengar dan mengetahui berbagai macam sholawat. Ada sholawat Jibril, sholawat Ibrohimiyyah, sholawat Badar,
sholawat Fatih, sholawat Nariyah, sholawat Badawi dan banyak sholawat lainnya. Kita bisa dengan bebas memilih sholawat mana yang kita ingin
baca dan amalkan.

Kendati demikian, diantara berbagai banyak sholawat, ada sholawat yang paling sempurna. Yaitu sholawat Ibrohimiyyah. Sebab, teks dan lafadh sholawat ini berasal dari Nabi Muhammad SAW. Karena itulah sholawat ini dibaca ketika sholat. Yaitu ketika sedang tasyahud akhir dalam sholat.

Syaikh Syihabuddin Al-Qolyubi mengatakan bahwa semua amal orang muslim ada yang diterima dan ada yang tertolak, kecuali sholawat. Maksudnya, baik dilaksanakan dengan ikhlas maupun riya', membaca sholawat tetap mendapat pahala.

Hal ini karena membaca sholawat merupakan bentuk pemuliaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan ibadah lain yang hanya diterima bila kita dalam keadaan hati ikhlas. Sependapat dengan Syaikh Syihabuddin Al-Qolyubi ini adalah Imam Asy-Syatibi dan Imam As-Sanusi.

Demikian kiranya uraian ringkas mengenai sholawat. Semoga kita semua tergolong sebagai ahli sholawat. Amin.
WAllaahu a'lam.[]

Oleh: Agus Setyabudi, Khodim di Madarasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Aimas, Sorong, Papua Barat.
Read More

Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol


muslimpribumi.com - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengungkapkan apresiasi tinggi atas agenda Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pimpinan Pusat Pagar Nusa. Agenda Ijazah Kubro dan Pengukuhan berlangsung di Lapangan Puser Bumi, Ciperna, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (28/01/2018).


Agenda ini dihadiri Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Rais 'Aam PBNU Prof. Dr. KH. Ma'ruf Amin, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, KH. Said Asrori, KH. Ayib Abbas dan beberapa kiai sepuh. Dalam agenda ini, ulama dan ahli bela diri dari Tunisia, Dr. Nazim Syarif, hadir sebagai tamu kehormatan.


Panglima TNI mengapresiasi kader-kader dan pendekar Pagar Nusa yang mempraktikkan disiplin tinggi. "Saya sangat mengapresiasi Pagar Nusa yang memiliki kedisiplinan tinggi," ungkap Marsekal Hadi.

Dalam pandangannya, TNI sangat berharap dapat menjalin kerjasama intensif dengan Pagar Nusa dalam tujuan menjaga NKRI. "Saya yakin, Pagar Nusa dan Nahdlatul Ulama menjadi pilar penting untuk masa kini dan masa mendatang. Pagar Nusa dan Nahdlatul Ulama sangat dibutuhkan bangsa ini," jelasnya dihadapan ribuan pendekar Pagar Nusa dan warga Nahdliyyin.

Panglima TNI juga membuka pintu kepada kader Pagar Nusa untuk masuk ke Akmil dan Akpol. Hal ini dalam rangka membuka kesempatan bagi santri pendekar untuk mengabdi kepada bangsa melalui TNI dan Polri. "Kami membuka pintu bagi kader muda pendekar Pagar Nusa untuk masuk ke Akmil dan Akpol. Pagar Nusa telah membuktikan tingkat disiplin tinggi," tegas Panglima.

Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, menegaskan bahwa Pagar Nusa konsisten mengabdi kepada kiai dan menjaga NKRI. "Pagar Nusa itu Pagarnya NU dan Bangsa. Kami tidak hanya barisan pendekar yang mengandalkan otot. Tapi sekaligus dengan kekuatan intelektual dan kematangan spiritual. Ini yang ditempa di Pagar Nusa," jelas Nabil Haroen.

Pagar Nusa, ungkap Nabil Haroen, juga memiliki sejarah panjang membela NKRI. "Sejarah Pagar Nusa sepanjang sejarah pesantren dan Nahdlatul Ulama. Para pendekar santri terlibat dalam perang melawan kolonial dan perjuangan kemerdekaan. Sudah seharusnya Pagar Nusa terus mengawal Indonesia dengan arahan dari kiai-kiai," jelas Nabil, yang didampingi Sekretaris Umum Pagar Nusa, M. Hasanuddin Wahid, dan Ketua Panitia Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pagar Nusa, Zainul Munasichin.

Dalam waktu dekat, Pagar Nusa mengirim beberapa pelatih pencaksilat ke beberapa negara Eropa, Tunisia, Mesir, Eropa, Jepang dan China.
Read More

Kriminalisasi Ulama' di Masa Khilafah


muslimpribumi.com - Belakangan ini para pendukung khilafah jaman now banyak menebar isu telah terjadi kriminalisasi ulama di masa Presiden Jokowi. Bahkan seorang mantan Presiden juga ikut-ikutan menganggap telah terjadi kriminalisasi ulama. Kriminalisasi itu artinya orang yang tidak bersalah namun dianggap melakukan perbuatan kriminal. Atau ada orang yang sejatinya bukan ulama namun seolah dia naik kelas menjadi ulama hanya gara-gara menjadi tersangka tindak pidana. Benar atau tidaknya, kita serahkan pada proses hukum dan peradilan yang berlaku.

Saya hanya hendak mengisahkan bahwa di masa Khilafah jaman old telah terjadi penyiksaan dan pembunuhan terhadap para ulama. Sehingga kalau pendukung eks HTI teriak-teriak hanya khilafah yang bisa menghentikan terjadinya kriminalisasi ulama, maka jelas mereka buta dengan apa yang terjadi pada khilafah masa lalu.

Ini sedikit cuplikannya yang diambil dari kitab Tarikh karya Imam Thabari dan juga Imam Suyuthi:


1. Khalifah al-Manshur memerintahkan untuk mencambuk Imam Abu Hanifah rahimahullah ketika menolak diangkat menjadi hakim, memenjarakannya hingga wafat di penjara. Dikatakan bahwa Imam Abu Hanifah wafat karena diracun akibat telah berfatwa membolehkan memberontak melawan Khalifah Abu Ja’far al-Manshur.

2. Menurut Imam Suyuthi, Imam Malik mengeluarkan fatwa bahwa boleh keluar memberontak terhadap al-Manshur mengingat kekejaman yang dilakukannya. Gubernur Madinah kemudian menangkap dan mencambuk Imam Malik akibat fatwa itu. Sudah sebelumnya disebut di atas tindakan Khalifah al-Manshur kepada Imam Abu Hanifah.

3. Kekejaman terhadap ulama tidak berhenti pada dua nama besar Imam Mazhab ini tapi juga menimpa ulama lainnya yaitu Sufyan ats-Tsauri dan Abbad bin Katsir —yang pertama seorang ahli fiqh ternama, dan yang kedua seorang perawi Hadits. Hampir saja keduanya menemui ajal saat Abu Ja’far al-Manshur menunaikan ibadah haji. Namun Sufyan dan Abbad selamat meski sudah dimasukkan dalam penjara dan menunggu waktu eksekusi. Kata Imam Suyuthi, “namun Allah tidak memberi kesempatan khalifah sampai di Mekkah dengan selamat. Dalam perjalanan dia sakit dan wafat. Allah telah mencegah kekejamannya terhadap kedua ulama itu.”

4. Fitnah menerpa Imam Syafi’i, hingga ia diseret dengan tangan terantai menuju tempat Khalifah Harun ar-Rasyid di Baghdad dan terancam hukuman mati. Namun beliau berhasil menyampaikan peleidoi yang luar biasa, yang membuat Khalifah melepasnya. Pada saat itulah Imam Syafi’i bertemu dengan Syekh Muhammad bin Hasan al-Syaibani, seorang murid dari Imam Abu Hanifah. Maka mulailah Syafi’i belajar pada ulama hebat ini.

5. Khalifah al-Makmun  memerintahkan dikumpulkannya para ulama dan diinterogasi apakah mereka berpendapat al-Qur’an itu qadim atau makhluk. Sesiapa yang menjawab makhluk, maka amanlah dia. Sementara sesiapa yang menjawab qadim, habislah dia disiksa. Surat lengkap Khalifah al-Makmun kepada Ishaq bin Ibrahim yang memulai mihnah ini bisa dibaca di Tarikh Thabari, juz 8/361-345.

6. Kebijakan Khalifah al-Makmun diteruskan oleh khalifah selanjutnya. Imam Ahmad bin Hanbal ditangkap dan perintahkan untuk dicambuk oleh Khalifah al-Mu’tashim karena bertahan bahwa al-Qur’an itu qadim.

7. Ibn Sikkit seorang ahli sastra Arab yang menjadi guru kedua putra Khalifah al-Mutawakkil, diinjak perutnya hingga wafat. Imam Suyuthi mencatat bahwa ada riwayat lain yang mengatakan al-Mutawakkil memerintahkan pengawalnya mencabut lidah Ibn Sikkit hingga wafat. Ibn Sikkit dituduh sebagai Rafidhah.

8. Imam Buwaythi (salah seorang murid terkemuka Imam Syafi’i) wafat di penjara dengan tangan terikat akibat tidak lolos ujian keyakinan (mihnah), di masa Khalifah al-Watsiq. Beliau bertahan bahwa al-Qur’an itu qadim.

9. Imam Suyuthi melaporkan dalam kitabnya Tarikh Al-Khulafa bagaimana kepala  Ahmad bin Bashr al-Khuza’i dipenggal oleh Khalifah al-Watsiq dan kemudian dikirim ke Baghdad sementara tubuhnya diperintahkan untuk digantung di gerbang kota Samarra. Lantas, masih menurut catatan Imam Suyuthi, Khalifah tinggalkan tulisan yang tergantung di telinga Khuza’i: “Inilah Ahmad ibn Nashr al-Khuza’i yang membangkang mengenai kemakhlukan al-Qur’an dan menganggap Allah bisa dilihat kelak dengan mata kita. Dia dieksekusi oleh Khalifah Harun al-Watsiq. Inilah siksaan Allah yang lebih awal dari nerakaNya.”

10. Imam Thabari melaporkan bahwa sekitar 29 orang pengikut dan keluarga Ahmad ibn Nashr al-Khuza’i juga diburu dan dimasukkan ke penjara oleh Khalifah al-Watsiq, tidak boleh dikunjungi siapapun, dirantai dengan besi dan tidak diberi makanan. Tubuh Khuza’i yang tanpa kepala itu digantung selama 6 tahun dan baru diturunkan setelah Khalifah al-Watsiq wafat. Kekejaman yang tak terhingga.

Demikian catatan ringkas akan kriminalisasi terhadap para ulama yang dilakukan oleh para Khalifah masa lalu. Ini fakta sejarah yang tak terbantahkan dan dicatat dalam kitab klasik yg mu’tabar. Mayoritas dieksekusi tanpa melalui proses peradilan.

Ini tentu berbeda dengan kondisi sekarang di NKRI dimana setiap yang diduga melakukan tindak pidana akan menghadapi proses hukum dengan didampingi pengacara dan berlaku asas praduga tak bersalah. Saat pengadilan nanti didatangkan para saksi. Dan kalau tidak puas dengan keputusan hakim, masih bisa melakukan upaya banding dan kemudian kasasi.

Kalau sekarang kita kembali ke masa Khilafah, ngapain capek-capek pakai proses peradilan, tinggal penggal saja kepala mereka. Nah, yakin anda masih mau kembali ke jaman khilafah? Mikirrrrr!

Oleh: Nadirsyah Hosen, Penulis buku "Tafsir Al-Qur’an di Medsos".
Read More

Tatacara Sholat Gerhana


muslimpribumi.com - RasuluLlah SAW. telah bersabda:
إنّ الشّمس والقمر لاينكسفان لموت أحد ولالحياته فإذا رأيتم ذلك فصلّوا وادعوا الله تعالى . (رواه الشّيخان

"Sungguh, matahari dan rembulan itu tidak terjadi lantaran kematian dan kehidupan seseorang. Maka, apabila kalian melihat gerhana matahari dan rembulan, sholatlah dan berdo'alah kepada Allah Ta'ala." (Hadits riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim).

Mayoritas ulama' menyatakan bahwa sholat gerhana (matahari dan rembulan) hukumnya sunnah muakkadah. Pertama kali disyari'atkan sholat gerhana matahari yaitu pada tahun ke-dua Hijriyyah, sedangkan sholat gerhana rembulan pada tahun ke-lima Hijriyyah.

Adapun tatacara sholatnya yaitu:
1. Niat sholat gerhana.
    a. Niat sholat gerhana Matahari:

أُصلّى سنّة لكسوف الشّمس مأموما/إماما لله تعالى

    b. Niat sholat gerhana rembulan:

أصلّى سنّة لخسوف القمر مأموما/إماما لله تعالى

2. Niat diberengkan ketika takbirotul Ihrom.

3. Membaca doa Iftitah, Ta’awwudz dan Al-Fatihah serta surat (pada gerhana rembulan dikeraskan bacaannya. Sedangkan pada gerhana matahari bacaannya dipelankan.

4. Membaca doa ruku’ (tasbih).

5. I’tidal membaca:

سمع الله لمن حمده، ربّنا ولك الحمد

Kemudian membaca Al-Fatihah dan Surat yang panjang (lebih pendek dari surat yang pertama).

6. Ruku' lagi.

7. I’tidal lagi.

8. Sujud membaca do'a sujud (tasbih).

9. Membaca do'a duduk diantara dua sujud.

10. Sujud lagi.

11. Bangkit dari sujud dan dilanjutkan dengan mengerjakan roka'at kedua sebagaimana roka'at yang pertama.

12. Tahiyyat membaca tasyahhud akhir dan sholawat.

13. Salam.

14. Setelah salam, imam menyampaikan khotbah kepada para jama'ah.

Demikianlah tatacara sholat gerhana. Dan kita bisa mengamalkan sholat gerhana rembulan besok pada tanggal 31 Januari 2018 ini yang mana menurut para ahli astronomi akan terjadi gerhana rembulan pada hari tersebut.

WAllaahu a'lam. []
(Redaksi MP)
Read More

Dapat Yap Thiam Hien Award, Gus Mus: Saya Tidak Mengerti HAM


muslimpribumi.com - KH. Ahmad Mustofa Bisri atau biasa dipanggil Gus Mus menerima penghargaan dibidang hak asasi manusia Yap Thiam Hien Award.

Penghargaan ini diserahkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti yang disaksikan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Ketua Yayasan Yap Thiam Hien Todung Mulya Lubis, Komisioner Komisi Yudisial Sukma Violetta di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu malam, 24 Januari 2018.

Penghragaan Yap Thiam Hien diselenggarakan oleh Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia.

Menanggapi pemberian penghargaan ini, Gus Mus menilai berlebihan dan tidak mengetahui dasar dirinya mendapatkan Yap Thiam Hien Award ini.

"Ini sebenarnya tidak pantas. Alasan apa memilih saya. Sebenarnya HAM itu apa, saya tidak tahu," kata Gus Mus saat pidato pemberian penghargaan.

Dia mengaku hanya memperoleh pendidikan formal sampai kelas satu Tsanawiyyah (setingkat satu SMP) dan lebih banyak mendapat pendidikan dari pondok pesantren.

"Guru-guru saya adalah orang-orang sederhana yang mengajarkan bahwa Indonesia rumahmu, itu saja, dan saya akan menjaga rumahku. Sedangkan hak asasi itu tahu setelah saya ketemu dengan orang milinea-milinea," katanya yang langsung disambut tawa para hadirin.

Gus Mus mengatakan, di pesantren ia diajari untuk lebih mengutamakan kewajiban, sehingga dalam memaknai hak adalah kewajiban dirinya untuk menghargai hak orang lain dan hak asasi manusia.

Todung Mulya Lubis mengatakan Gus Mus sangat pantas menerima Yap Thiam Hien Award karena menjadi suara hati nurani bangsa. Suara hati ulama' yang menghendaki Indonesia kembali kepada jati dirinya yang menghargai kekayaan keragaman, kemajemukan masyarakat, adat istiadat, bahasa, agama dan keyakinan politik.

"Dalam keadaan keragaman terancam, dimana dalam keadaan gerakan politik identitas, politisi agama, fundamentalisme, sektarianisme dan radikalisme menjalar ke penjuru seluruh negeri, kehadirian dan kearifan Gus Mus mengingatkan kita semua sebagai bangsa terbuka, toleran dan saling memberi tempat, saling merangkul," katanya.

Todung juga menilai Gus Mus berani menyuarakan HAM walaupun dinilai sebagai kiai yang liberal. Bahkan, berani bersuara menolak politisasi agama, menolak masuknya agama dalam panggung politik dan menjadikan agama alat kampanye dan mendiskreditkan pihak lain.

Dia setuju dengan sikap Gus Mus karena masuknya agama dalam politik kampanye adalah sebuah langkah mundur.

"Presiden Joko Widodo selalu mengatakan bahwa keragaman sebagai bangsa, termasuk dari sisi agama yang dianut berbeda, harus dipertahankan sebagai bangsa. Indonesia yang mayoritas muslim dan toleran dan bisa berdemokrasi adalah contoh negara yang berhasil mengawinkan demokrasi universal dan Islam yang terbuka dan toleran," katanya.

* Sumber: tempo.co
Read More

Gus Mus - Dakwah


rumahnahdliyyin.com - Da'wah itu mengajak. Bukan menyuruh, memerintah, apalagi memaksa. Demikianlah kira-kira arti da'wah yang disampaikan oleh KH. A. Mustofa Bisri atau yang lebih akrab ditelinga dengan sapaan Gus Mus dalam video ini.

Supaya bisa mengetahui secara utuh apa itu arti dan makna da'wah, simaklah video yang disampaikan oleh pengasuh pondok pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, ini.
Read More

Imam Sibawaih-nya Papua

Kiai Ahmad Misri saat menjadi juri Lomba Cipta dan Baca Puisi dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.
muslimpribumi.com - Belum tiga menit menunggu air panas, Nokia jadul saya berdering. "Kulo sampun teng griyo, niki," suara hape saya berbicara.

Bergegas saya meluncur ke sumber suara. Keinginan hati hendak ngopi, saya urungkan. Tak lebih 10 menit kemudian, saya sudah di depan pintu kediaman lelaki paruh baya yang beberapa menit lalu telah memantulkan suaranya di hape saya tadi.

Rona ramah dari wajahnya menyambut kedatangan saya malam itu. Ramah yang tidak dibuat-buat dan senantiasa memancar untuk semua orang itu bak oase yang mampu menentramkan hati saya yang agak kalut malam itu.

Lelaki itu bernama Ahmad Misri. Orang-orang biasa memanggilnya dengan pak Misri. Meski saya belum begitu lama mengenalnya, namun dari simpul-simpul pertemuan saya dengannya yang lumayan sering, ada keyakinan dalam hati saya bahwa beliau kurang pantas bila hanya dipanggil dengan "pak Misri."

Mendengar rencananya hendak mendirikan pondok pesantren yang dalam waktu dekat ini akan segera dimulai pembangunannya, saya jadi teringat KH. Kholil Harun, Kasingan, Rembang. Berdasar cerita yang saya dapat, santri-santri jaman dahulu itu belum merasa puas dan sempurna ngajinya bila belum nyantri kepada tiga kiai yang salah satunya adalah beliau. Ketiga kiai itu yaitu KH. Hasyim Asy'ari di Tebuireng untuk ngaji Hadits, KH. Dimyathi di Termas untuk ngaji Fiqh dan KH. Kholil Harun untuk mematangkan ilmu alat.

Cerita pak Misri terkait rencana model bangunan pondoknya yang "wah", sama sekali tak mengingatkan saya pada KH. Kholil Harun. Yang mengingatkan saya pada kiai yang berjuluk Imam Sibawaih-nya Tanah Jawa itu yaitu misinya yang hendak menjadikan ilmu alat sebagai fokus utamanya. Kalau Imam Sibawaih-nya Jawa sudah ditemukan pada jaman old, yaitu KH. Kholil Harun, baru di jaman now ini Imam Sibawaih-nya Papua diketemukan. Setidaknya Imam Sibawaih-Nya Papua versi saya.

Meski saya sempat mengingatkan pada beliau bahwa kayaknya masyarakat sekarang lebih tertarik memasukkan anak-anaknya ke pondok pesantren Tahfidz daripada ilmu alat, beliau hanya senyum saja. Dan akhirnya saya pun harus mendoakannya semoga apa yang mulai dirintisnya ini bisa menjadi penyeimbang terhadap ustadz Wahabi yang berada di Sorong ini, yaitu ustadz Firanda.

Akhirnya, mari kita langitkan do'a bersama-sama untuk kelancaran pembangunan pondok pesantren yang hendak diberi nama dengan Al-Hikmah itu. Meski bangunan pondoknya belum jadi, pak Misri sudah melakukan penggemblengan ilmu alat pada beberapa anak-anak muda di sekitarnya.

Satu yang tak mampu saya lupakan dari pertemuan saya dengan pak Misri malam itu hingga saya menuliskan ini adalah perkataannya pada saya ditelpon itu. Sungguh saya tidak pantas untuk "dibosoni" oleh beliau.

Dan ditengah maraknya orang-orang dengan mudahnya menyematkan "gelar" didepan nama seseorang dengan "ustadz", biar saya agak kekinian juga karena mengikuti mode termutakhir itu, maka saya ingin juga menyematkan "gelar" didepan nama pak Misri dengan "kiai"; Kiai Ahmad Misri.

Dari segi kealiman, saya kira lelaki kelahiran Banyuwangi ini belum ada bandingnya di Papua ini (Setidaknya di Sorong ini). Dan melihat bahasa Jawa-nya yang ditujukan kepada saya yang notabene bukan siapa-siapa dengan menggunakan bahasa Jawa yang "berkasta" agak tinggi, saya kira bisa dijadikan cerminan akhlaqnya. Lebih dari itu semua, beliau sudah dan sedang bermanfaat. Khususnya di bidang keilmuan agama Islam.

Salam.

Oleh: Agus Setyabudi, Khodim di Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Jurang dan Jembatan FPI - NU


muslimpribumi.com - Bismillah.... Untuk memulai menulis catatan kecil ini, saya ingin menyampaikan pertanyaan untuk kita renungkan. Pertanyaan ini sangat urgent dan mendasar sekali, bisakah FPI & NU "berdamai"? Sengaja saya beri tanda petik dalam kalimat berdamai, karena ini menjadi bahasan saya dalam catatan penting selanjutnya dalam judul yang saya angkat kali ini.

Tidak ada maksud sedikitpun saya mensejajarkan keduanya. Sebagaimana diketahui bersama, NU berdiri jauh sebelum kemerdekaan indonesia, tahun 1926 atas prakarsa para Ulama terkemuka seperti Hadlratussyaikh Mbah Yai Hasyim Asy'ari, Mbah Yai Wahab Hasbullah, Mbah Yai Bisri Syansuri serta para Ulama terkemuka lainnya atas restu Seorang Waliyullah yang sangat dihormati & disegani para Ulama kala itu, Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan.

Berdirinya NU kalau kita baca dalam berbagai tulisan dan sejarah yang banyak ditulis, jelas sekali untuk "menghadang" gerakan faham Wahabi yang mulai gencar tumbuh dan berkembang kala itu. Dibentuknya komite Hijaz sebagai salah satu indikatornya, jelas sekali sebagai sikap para Ulama menyikapi kegelisahan yang ada.

NU berdiri tidak hanya pada aspek ijtima'iyah saja. Juga tidak hanya pada sisi jama'ah saja. Tapi jauh lebih penting dari itu, yakni sisi dakwah dan keagamaan, masalah-masalah diniyyah ijtima'iyah menjadi porsi utama dalam tujuan berdirinya NU.

Karena NU itu organisasi Ulama, maka seharusnya yang mengurusi NU itu harusnya berlatar belakang Ulama, minimal berlatar belakang Pesantren. Karena, bagaimana bisa "ngopeni" NU secara lahir dan bathin kalau pengurusnya misalnya, tidak memahami Ulama, tidak memahami Pesantren? Karena, NU lahir dari Pesantren, NU itu bukan "Perusahaan" yang bisa dimenej serba intruktif dan top down, apalagi mengesampingkan nilai-nilai Akhlaqul Karimah terhadap para Ulama sepuh misalnya.

Karena ruh NU itu berada di Ulama dan Pesantren, maka wajib hukumnya NU mempertahankan dan menjaga ruh ini. NU harus Istiqaamah menjaga uswah ini sebagaimana ketika awal berdirinya NU, Hadlratus Syaikh sebagai Rois Akbar NU memegang peranan sangat penting dan dominan. Posisi Syuriah lebih mendominasi dan menjadi rujukan mutlak di lingkungan NU. Sedang posisi Tanfidziyah yang kala itu dipercayakan kepada Hasan Gipo yang bertalar pengusaha, lebih pada pelaksana mandat para Ulama yang ada dijajaran Syuriah.

Lain NU, lain pula FPI. Setau saya, organisasi ini berdiri sekitar tahun 1996-an. Berawal dari cikal bakal Pamswakarsa yang kala itu dibentuk oleh Jenderal Wiranto. Saya yang kala itu masih menjadi mahasiswa, terdengar jelas sekali sayup-sayup di ibukota dan beberapa kota besar di tanah air munculnya OTB. Organisasi Tanpa Bentuk, begitu belakangan sering disebut oleh berbagai kalangan kala itu. Istilah Pamswakarsa atau Pengamanan Swakarsa atau swadaya masyarakat ini sengaja diciptakan dan dibentuk oleh pemerintah kala itu.

Jadi menurut saya, FPI memang dari awal sengaja dibentuk atas dasar politis. Politis yang saya maksud adalah karena munculnya dari benih organ Pamswakarsa yang memang sengaja dibentuk pemerintah. Wajar kalau FPI berpatronase dengan pemerintah dalam menjalankan program-programnya.

Dimana ada pelacuran terang-terangan maupun terselubung, di situ ada FPI yang getol menolaknya. Dimana ada diskotek, minum-minuman keras, kemaksiatan, dll. disitu ada FPI yang getol menolaknya secara "kasar" dan tanpa ampun. Seharusnya negara dan pemerintah berfungsi ofensif dengan penegakan hukumnya. Kadang kita banyak saksikan justru tumpul dan ada pembiaran-pembiaran sehingga ada kesan justru FPI yang dijadikan "ban serep" menghadapi semua itu.

Sampai-sampai sering muncul stigma agak kurang sedap terhadap FPI, bahkan plesetan negatif seperti Front Pentungan Indonesia, dll., karena setiap beraksi dan menolak "kemungkaran" tersebut, sedikit-sedikit selalu memakai "pentungan."

Diawal-awal berdiri tahun 1996-an, tentu kita ingat bagaimana Pamswakarsa juga beraksi setiap ada kerusuhan yang terjadi di Ibukota. Juga banyak memakai pentungan sebagaimana belakangan FPI juga memakai hal yang sama.

Catatan kecil saya ini tidak ada maksud memojokkan FPI sebagai sebuah organisasi massa yang saat ini tumbuh dan berkembang dibawah komando Al-Mukarrom Habib Rizieq. Tetapi saya hanya ingin sedikit mengurai kenapa FPI & NU itu "sulit" sekali berdamai. Bisakah kedua organisasi ini bisa berdamai?

Dilihat dari jumlah pengikut, jelas keduanya tidak bisa disamakan atau di sejajarkan. NU menurut data diatas kertas, ummat atau pengikutnya diatas 60 juta. Bahkan, konon secara kultural dan ajaran ada yang mengatakan bahwa separo lebih jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah ummat atau pengikut NU. Sedang pengikut FPI sendiri, belum ada data atau sumber yang jelas berapa jumlah pengikutnya.

Begitu kuatnya aroma ketidaksepahaman antara FPI dan NU, pernah suatu ketika sampai-sampai Sang Komando FPI Al-Mukarrom Habib Rizieq pernah mengatakan didalam suatu forum majlis bahwa Gus Dur itu "buta mata dan buta hati," saya sendiri masih ikut ceplas-ceplos yang dikatakan Al-Habib itu. Ini juga yang oleh sebagian besar ummat NU "mungkin" masih diingat dan melekat kuat sampai saat ini.

Entah karena disengaja atau keceplosan atau keseleo sebagaimana Ahok keseleo "menistakan" Al-Qur'an, Sang Habib sejak tahun 1999 sampai Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB, di berbagai forum dan kesempatan, HR selalu menyerang GD dengan kata-kata dan kalimat pedas lainnya. Sekali lagi, saya tidak mengerti apa motif yang sebenarnya kedua tokoh yang beda peran dan zaman ini berseberangan, baik secara tertutup maupun terbuka.

Walau Gus Dur menanggapi dengan rileks dan santai dengan slogan beliau yang terkenal itu: "begitu saja kok repot," tetapi ummat NU tetap saja sangat keberatan dan tidak terima dengan tudingan dan olok-olok sang Habib itu. Karena Gus Dur itu sebagai representasi NU, menghina Gus Dur sama saja dengan menghina NU. Kita tau Gus Dur adalah putra dari tokoh dan pahlawan nasional, KH. Abdul Wahid Hasyim dan cucu dari Pendiri NU sekaligus tokoh dan pahlawan nasional juga, beliau Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Al-Mukarrom Habib Rizieq sebagai komando FPI yang konon juga di tahbis menjadi Imam Besar FPI, alangkah elok, etis dan santunnya, andai saja Sang Habib "menyampaikan permohonan maaf"-nya kepada NU. Lebih khusus kepada keluarga Allah Yarham Al-Maghfurlah Gus Dur, dan umumnya kepada ummat NU atas tudingan atau ucapannya yang saya tulis diatas tadi. Sehingga "luka" hati dan perasaan ummat NU secara umum bisa terobati. Sebagai seorang Habib, saya yakin beliau mau demi kemaslahatan dan persaudaraan serta persatuan ummat secara umum.

Belakangan, apalagi saya mengamati dan melihat ada beberapa, bahkan bisa jadi sudah lumayan banyak, ummat NU yang ikut bergabung dengan FPI. Bahkan teman-teman se-Almamater saya dari sesama santri dan Alumni Tebuireng juga mulai ikut bergabung dengan FPI.

Tentu tidak elok rasanya kalau-kalau Dzurriyyah Hadlratus Syaikh dimana santri dan alumni Tebuireng pernah mengenyam nyantri atau jadi SANTRI Tebuireng, tetapi Dzurriyyah Hadlratus Syaikh "dihujat" dan diolok-olok sang Habib yang notabene ditahbis menjadi imam besar di internal FPI. Sebagai santri-santri Tebuireng yang ikut bergabung dengan FPI ataupun santri-santri lainnya yang ada garis ilmu dengan Hadlratus Syaikh seharusnya memberikan saran positif kepada Sang Habib sebagai imam besarnya. Selama masih ada beban sejarah dan psikologis itu, selama itu pula kedua organ ini sepertinya sulit bisa melupakan "luka lama itu."

Belum lagi persoalan Manhajiyah, keduanya sepertinya bagai kutub utara dan kutub selatan. Walau FPI selalu mengatakan saat ini telah banyak mengalami perubahan dan sama-sama mengaku berhaluan Ahlussunnah wal Jama'ah. Tapi, urusan Manhajiyah ini sejatinya adalah hal yang sangat mendasar dan prinsip. Seharusnya ini menjadi agenda penting kalau keduanya ingin ishlah "berdamai." Selama hal-hal mendasar ini belum tuntas menjadi kesepakatan bersama dan dibahas dalam tingkat dialog dan tabayyun, selama itu pula keduanya sulit dicapai dalam membangun harmonisasi, baik dalam dakwah maupun gerakan ke-ummat-an.

Melalui catatan kecil tulisan saya ini, saya berharap banyak, kedepan FPI bisa lebih santun, meninggalkan stigma "penthungan" sebagaimana saya tulis diatas. Mulai menggeser dari gerakan "jalanan" menjadi lebih ilmiah, santun dan beradab. Slogan An-Nahyu 'an Al-Munkar yang sering jadi pedoman dilapangan oleh para laskar-laskarnya itu harus mulai digeser menjadi "An-Nahyu 'an Al-Munkar Laa bil-Munkar wa Laakin An-Nahyu 'an Al-Munkar bil-Ma'ruuf," mencegah kemungkaran bukan dengan cara-cara munkar (cara-cara agitatif, provokatif, kekerasan, intimidatif, dll.), tetapi mencegah kemungkaran dengan cara-cara yang baik, santun, dan beradab atau dengan cara-cara ma'ruuf lainnya.

Kalau hal-hal prinsip ini kedepan terus mengalami perubahan secara signifikan, saya merasa yakin dan husnudzon keduanya, "FPI & NU", akan bertemu dan berdamai secara alamiah. Sebagai organ yang jauh lebih muda, seharusnya FPI bisa lebih pro aktif & mengkaji serta mengevaluasi konsep dan mabadi' organisasinya demi kemaslahatan ummat dan keutuhan bangsa ini dari jurang perpecahan yang lebih besar lagi.

Sejauh ini saya melihat dan membaca, sementara hanya NU dan Muhammadiyah yang masih tetap konsisten menjaga NKRI ini dari jurang dis-integrasi bangsa ini. Elemen-elemen bangsa lainnya termasuk FPI dll. seharusnya memberikan bukti kecintaannya dalam mengawal dan menjaga keutuhan NKRI dari cerai berai dan dis-integrasi..!!!

Wallaahu A'lam

Catatan kecil disepertiga malam.
Bumi Al-Rahman Al-Waqi'ah.
Pesantren Roudlotut Tholibin, Kombangan, Bangkalan, 21 Januari 2017.

Al-Dla'if wal Faqier, Lora H. Fawaid Abdullah (Pimpinan Pesantren Roudlotut Tholibin, Kombangan, Bangkalan & Mantan Ketua Umum Pengurus Wilayah Jawa Timur IKAPETE "Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng").
Read More

Berhukum Dengan Selain Hukum Allah


muslimpribumi.com - “Indonesia adalah negara thâgût karena tidak berhukum dengan hukum Allah SWT. Indonesia negara hukum, tetapi hukum ciptaan manusia. Padahal tidak ada hukum selain hukum Allah (ان الحكم الا لله) (QS. al-An’âm/6: 57; QS. Yûsuf/12: 40). Kewajiban setiap Muslim berjihad menegakkan hukum Allah SWT. dalam sebuah pemerintahan Islam. Siapa mengabaikan, berarti membela thâghût (anshârut thâgût).”

Kira-kira begitu materi fikih siyâsah yang mulai marak di berbagai tempat. Dari kampus perguruan tinggi hingga kantor pemerintahan dan BUMN. Mahasiswa dan elite profesional yang baru belajar Islam terhentak begitu dibacakan firman Allah SWT.: ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون.. فأولئك هم الظالمون.. فأولئك هم الفاسقون… (Siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah SWT., mereka itulah orang-orang kafir.. mereka itulah orang-orang dholim .. mereka itulah orang-orang fasik—QS. al-Mâidah/5: 44, 45, 47).

Seusai kajian, orang resah. Tiba-tiba mereka ingin berontak terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang “sekuler.” Mereka mulai unggah status di media sosial atau bikin portal. Isinya men-thagut-kan NKRI dan Pancasila, menjelek-jelekkan pemerintahan “sekuler" dan mencaci ormas Islam/tokoh Islam pembela thâghût.

Ada juga yang bilang, slogan “NKRI Harga Mati” itu merusak tauhid dan menyebabkan syirik. Ini segendang sepenarian. Ternyata narasi Islam yang dibangun di sekitar kita masih akan terus memproduksi Muslim-Muslim pemberontak.

Teman saya bercerita, di sebuah masjid di salah satu negara bagian di Amerika, seorang penceramah menegaskan tentang kewajiban orang Islam memperjuangkan tatanan Islam. Dia menyuruh orang Islam berjuang menegakkan pemerintahan Islam atau selemah-lemahnya menyatakan di dalam hati tidak rela terhadap sistem sekuler.

Bayangkan, di lingkungan minoritas saja Islam diajarkan dalam narasi pemberontakan. “Mau bagaimana lagi, Al-Qur’an-nya bilang begitu,” dalih mereka. Kita bisa bayangkan dahsyatnya jika doktrin ini diproduksi dan dipropagandakan di lingkungan Islam mayoritas. Hasilnya, selepas Arab Spring, Abu Bakar al-Baghdadi dan ISIS sukses melumat Timur Tengah dan Afrika. Luluh lantak semuanya. Dan melihat apa yang sedang terjadi di sini, tidak mustahil Indonesia korban berikutnya.

Untung saja kita punya referensi. Tak perlu risau atas tuduhan thâghût dan mencampakkan hukum Allah SWT. Tuduhan serupa pernah dilontarkan oleh sekelompok orang, yang keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib RA., dan kemudian membangun markas di Harura, 3,2 kilometer dari Kufah, Irak. Mereka disebut kaum Khawarij. Mereka mengkafirkan semua pihak yang terlibat dalam tahkim, baik dari kubu Ali RA. maupun Mu’awiyah , dengan tuduhan meninggalkan hukum Allah SWT.

Tahkim adalah perbuatan menunjuk hakam (juru runding atau arbitrer) untuk memutus sengketa. Ini praktik negosiasi yang lazim dalam sistem demokrasi dan bagian dari pengamalan syûra yang diperintahkan Al-Qur’an (QS. Ali Imran/3: 159; QS. as-Syura/42: 38). Tetapi kaum Khawarij menolak itu. Tahkim bagi mereka adalah mengadakan hukum sendiri di luar ketentuan Allah SWT. Hukum Allah SWT. bagi mereka adalah Mu’awiyah dan pendukungnya dibunuh, hartanya dirampas sebagai ghanîmah. Tanpa kompromi, tidak ada negosiasi dan tidak perlu demokrasi. Titik! Hukum manusia sudah ditetapkan dari langit, tak perlu mengadakan hukum baru di muka bumi.

Gen Khawarij yang berontak menurun ke kaum Neo-Khawarij. Berontak bukan sembarang berontak, mereka membawa kitab suci. Karena itu, siapa saja yang tidak cocok dengan mereka berarti melawan kitab suci alias kafir. Tradisi takfîrî juga diikuti kaum Neo-Khawarij. Dalam tulisan sebelumnya telah disinggung (baca: Lelaki Pemrotes Nabi dan Khawarij Zaman Now), mereka adalah kaum ahli ibadah yang membasahi lidahnya dengan Kitabullah, tetapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka seburuk-buruk makhluk dan Rasulullah memerintahkan kita memerangi mereka.

Saya ingin cuplikkan kisah yang menarik, kisah Ibn Abbas mengajak debat Khawarij dan membujuk mereka kembali ke jalan yang benar. Kisah ini diriwayatkan oleh sejumlah rawi seperti Thabarani, Hakim, Baihaki, dan Nasa’i. Saya akan menggunakan versi yang diriwayatkan oleh Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubrâ, Kitâb al-Khashâish, Bâb Dzkri Munâdlarati Abdillah ibn Abbâs al-Harûriyyah (7/479). Riwayatnya panjang lengkap dengan terjemahannya.

عن عبد اللّه بن عباس قال: لما خرجت الحروريّة اجتمعوا فى دار وهم ستة آلاف أتيت عليّا رضى اللّه عنه فقلت « يا أمير المؤمنين أبرد بالظّهر لعلّى آتى هؤلاء القوم فأكلّمهمْ ». قال « إنّى أخاف عليك ». قال قلت « كلاّ ». قال فخرجت آتيهم ولبست أحسن ما يكون من حلل اليمن فأتيتهم وهم مجتمعون فى دار وهم قائلون فسلّمت عليهم فقالوا « مرحَبا بك يا أبا عبّاس فما هذه الحلّة؟ » قال قلت « ما تعيبون علىّ لقد رأيت على رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم أحسن ما يكون من الحلل ونزلت (قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِى أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ) ». قالوا « فما جاء بك؟ » قلت « أَتيتكم من عند صحابة النبى صلى الله عليه وسلم من المهاجرين والأنصار لأبلِغكم ما يقولون وتخبرونى بما تقولون فعليهم نزل القرآن وهم أعلم بالوَحى منكم وفيهم أنزل وليس فيكم منهم أحد ». فقال بعضهم « لا تخاصموا قريشا فإن اللّه يقول (بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ) ».

قال ابن عبّاس « وأتيت قوما لم أَر قوما قط أشدّ اجتهادا منهم مسهّمة وجوههم من السّهر كأنّ أيديهم وركبهم ثفن عليهم قمصٌ مرحّضة ». قال بعضهم « لنكلّمنّه ولننظرنّ ما يقول ». قلت « أخبرونى ماذا نقمتم على ابن عمّ رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم وصهره والمهاجرين والأنصار». قالوا « ثلاثا » قلت « ما هنّ؟ ». قالوا « أما إحداهنّ فإنّه حكّم الرّجال فى أمر اللَّه قال اللَّه عزّ وجلّ (إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ) وما للرّجال وما للحكم ». فقلت « هذه واحدة ». قالوا « وأَما الأخرى فإنّه قاتل ولم يسب ولم يغنم فلئن كان الذين قاتل كفّارا لقَد حلّ سبيهم وغنيمتهم وإِن كانوا مؤمنين ما حلّ قتالهم ». قلت « هذه ثنتان فما الثالثة؟ » قالوا « إنّه محا اسمه من أمير المؤمنين فهو أمير الكافرين. »

قلت « أعندكم سوى هذا؟ ». قالوا « حسبنا هذا ». فقلت لهم « أرأيتم إن قرأْت عليكم من كتاب اللّه ومن سنّة نبيّه صلى الله عليه وسلم ما يردّ به قولكم أترضوْنَ؟ ». قَالُوا « نعم ». فقلت لهم « أمّا قولكم حكّم الرّجال فى أمر اللَّه فأَنا أَقرأ عليكم مَا قد ردّ حكمه إلى الرّجال فى ثمن ربع درهم فى أرنب ونحوها من الصّيد فقال (يا أيها الذين آمَنوا لا تقتلوا الصّيد وأنتم حرم) إلى قوله (يحكم به ذوا عدل منكم) فنشدتكم باللَّه أَحكم الرّجال فى أرنب ونحوها من الصّيد أفضل أم حكمهم فى دمائِهم وإِصْلاح ذات بينهِم وأَن تعلموا أنّ اللَّه لو شاء لحكم ولم يصيّر ذلك إلى الرّجال وفى المرأة وزوجها قال اللَّه عزّ وجلّ (وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهُمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاَحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا) فجعل اللّه حكم الرّجال سنّة ماضية أخرجت من هذه؟ ». قالوا « نَعَمْ ». قال « وأمّا قولكم قاتل فلم يسب ولم يغنم أتسبون أمّكم عائشة ثمّ تستحلّونَ منها ما يستحلّ من غيرها فلئن فعلتم لقد كفرتم وهى أمّكم ولئن قلتم ليست بأُمنا لقد كفرتم فإنّ اللّه تعالى يقول (النَّبِىُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ) فأنتم تدورون بين ضلالتين أيّهما صرتم إليها صرتم إلى ضلالة ». فنظر بعضهم إلى بعض.

قلت « أخرجت من هذه؟ ». قالوا « نعم ». « وأما قولكم محا نفسه من أمير المؤمنين فأنا آتيكم بمن ترضون أريكم قد سمعتم أنّ النبى صلى الله عليه وسلم يوم الحديبية كاتب المشركين سهيل بن عمرو وأبا سفيان بن حرب فقال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم لأَمِيرِ المؤمنين « اكتب يا علىّ هذا ما اصطلح عليه محمّد رسول اللّه ». فقال المشركون « لا واللَّه ما نعلم أنك رسول اللَّه لو نعلم أنك رسول اللّه ما قاتلناك ». فقال رسول اللّه صلى الله عليه وسلم « اللهم إنك تعلم أَنّى رسولك اكتب يا علىّ هذا ما اصطلح عليه محمّد بن عبد اللّه ». « فواللَّه لرسول اللَّه صلى الله عليه وسلم خير من علىّ وما أخرجه من النبوة حين محا نفسه ». قال عبد اللّه بن عبّاس« فرجع من القوم ألفان وقتل سائرهم على ضلالة ».

(Dari Ibn Abbas, Ketika orang Khawarij membelot ke Harura—mereka ada 6.000 orang—saya mendatangi Ali RA. dan berkata, "Wahai Amirul Mukminin, undurlah salat Dhuhur hingga terik lewat. Saya mau mendatangi mereka dan mengajak mereka bicara."

Ali menjawab, "Saya khawatir mereka mencelakaimu."

Saya jawab, "Tidak perlu khawatir."

Maka aku berangkat mendatangi mereka. Aku kenakan pakaian terbaik dari Yaman. Mereka sedang berkumpul di suatu rumah tengah tidur siang. Aku ucap salam. Mereka membalas, "Selamat datang, wahai Abu Abbas. Apa-apaan ini pakaianmu?"

Saya jawab, "Jangan kalian cela aku karena aku melihat Rasulullah SAW. seperti ini dan wahyu turun (Katakanlah, Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah SWT. yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pula yang mengharamkan) rezeki yang baik?" (QS. al-A’râf/7: 32)

Lantas mereka berkata, "Apa yang membawamu datang kemari?"

Aku jawab, "Aku datang mewakili para sahabat Nabi dari kaum Muhajirin dan Anshar untuk menyampaikan kepada kalian apa yang mereka katakan, dan menyampaikan kepada mereka apa yang kalian katakan. Wahyu turun ditengah mereka dan merekalah yang paling paham isinya dan tidak turun ditengah-tengah kalian."

Kemudian salah seorang diantara mereka berkata, "Jangan ladeni orang Quraisy. Karena, mereka senang bertengkar dan Allah SWT. telah berfirman: (QS. Zukhruf/43: 58, Sungguh mereka adalah kaum yang suka bertengkar)."

Ibn Abbas berkata, "Aku mendatangi kaum yang ketekunannya dalam ibadah tidak ada yang menandingi mereka. Wajah-wajah mereka pucat karena bangun tengah malam. Tangan dan mata kaki mereka kapalan. Jubah mereka cingkrang."

Salah seorang lainnya berkata, "Biarlah kami bicara dan melayani pembicarannya."

Aku berkata, "Beritahu aku apa alasan kalian meninggalkan sepupu Rasulullah SAW. dan menantunya dan juga meninggalkan kaum Muhajirin dan Anshar."

Mereka menjawab, "Ada tiga alasan."

Aku bilang, "Apa saja?"

Mereka menjawab, "Pertama, Ali mengangkat hakam (juru putus) dalam perkara Allah SWT. padahal Allah SWT. berfirman: (QS. al-An’âm/6: 57; QS. Yûsuf/12: 40—Tidak ada hukum kecuali hukum Allah SWT.), bukan hukum orang-orang atau juru putus."

Aku berkata, "Itu satu."

Mereka berkata, "Alasan lainnya Ali memerangi (pasukan unta) tetapi tidak menawan dan merampas harta mereka. Jika yang dia perangi adalah orang kafir, maka boleh menawan dan merampas harta mereka. Tetapi jika mereka mukmin, maka tidak boleh mereka diperangi."

Aku berkata, "Ini yang kedua. Apa nomor tiganya?"

Mereka menjawab, "Ali menghapus (dalam naskah perundingan) gelar Amirul Mukminin. Berarti dia Amirul Kafirin."

Aku berkata, "Apa kalian masih punya alasan lain?"
Mereka bilang, "Tidak, cukup ini saja."

Maka aku bilang kepada mereka, "Kalau aku datangkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi untuk menolak alasan kalian, apa kalian mau?"

Mereka menjawab, "Iya."

Maka aku sampaikan ke mereka, "Alasan pertama kalian bahwa Ali mengangkat hakam dalam perkara Allah SWT., aku bacakan firman Allah SWT. yang mengembalikan hukum-Nya kepada hakim dalam perkara harga seperempat kelinci dan sejenisnya daripada binatang buruan: 'Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram,' hingga firman-Nya, 'maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak (yang) seimbang dengan buruan yang dibunuhnya menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu' (QS. al-Mâidah/5: 95). Maka demi Allah, lebih penting manakah perkara kelinci dan binatang buruan dibanding urusan nyawa dan perdamaian umat? Dan kalian tahu jika Allah SWT. menghendaki, Dia akan putuskan sendiri tanpa menyerahkannya kepada manusia. Allah SWT. juga serahkan perkara suami-istri yang cekcok kepada hakam: 'Dan jika kamu takut pertengkaran diantara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari pihak laki-laki dan hakam dari pihak perempuan. Jika kedua hakam itu bermaksud mengadakan perdamaian, Allah SWT. akan menolong suami-istri itu kepada kebaikan' (QS. an-Nisâ’/4: 35). Allah SWT. jadikan putusan manusia sebagai hukum-Nya. Apakah cukup aku ketengahkan dalilnya?"

Mereka menjawab, "Iya."

Aku berkata, "Lalu terkait kenapa Ali RA. memerangi (pasukan unta) tetapi tidak menawan dan merampas harta mereka, apa kalian akan menawan Aisyah RA. dan menghalalkan apa yang ada padanya sebagaimana dihalalkan bagi yang lain? Jika kalian lakukan itu, kalian kafir karena dia adalah ibu kalian. Jika kalian mengingkari dia ibu kalian, kalian kafir karena Allah SWT. telah berfirman: 'Nabi itu lebih utama bagi orang-orang Mukmin daripada diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka' (QS. al-Ahzâb/33: 6). Kalian tahu dua jenis kesesatan ini. Maka kepada apa pun kalian condong ke salah satunya, kalian sesat."

Mereka kemudian saling pandang satu sama lain.

Aku berkata, "Apakah aku telah kemukakan hujjah?"

Mereka menjawab, "Iya."

Aku berkata, "Adapun pernyataan kalian terkait tindakan Ali RA. menghapus gelar Amirul Mukminin, aku akan tunjukkan contoh dari orang yang kalian hormati. Kalian pasti dengar bahwa di Hudaibiah, Rasulullah SAW. mengikat perjanjian dengan orang-orang musyrik yang diwakili oleh Suhail ibn Amr dan Abu Sufyan ibn Harb. Beliau perintah ke Ali RA. untuk menulis, ‘Ini adalah perikatan yang dibuat Muhammad Rasulullah.’ Orang-orang musyrik menolak, ‘Demi Tuhan, jika kami akui engkau utusan Allah, kami tidak akan memerangimu.’ Kemudian Rasulullah SAW. berkata, ‘Duhai Allah, Engkau tahu aku adalah utusan-Mu. Tulislah wahai Ali, ‘Ini adalah perikatan yang dibuat Muhammad ibn Abdullah.’ Maka demi Allah SWT., Rasulullah SAW. lebih baik dibanding Ali RA. Apa yang dilakukannya adalah mengikuti contoh Nabi SAW. dan dia hapus gelarnya sendiri.”

Abdullah ibn Abbas berkata, ‘Maka setelah itu mereka kembali ke barisan Ali RA. sebanyak 2.000 orang, sisanya terbunuh dalam kesesatan.’)

Saya ingin menutup hikayat ini dengan dua catatan. Pertama, jika ada orang pakai dalil men-thagut-kan NKRI dan Pancasila, tidak perlu risau. Jawablah sebagaimana jawaban Ibn Abbas. Founding Fathers yang menyiapkan kemerdekaan Indonesia dalam PPKI adalah hakam (juru runding dan juru putus) yang memutuskan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Sebagaimana tindakan Ali ibn Abi Thalib RA. mengangkat hakam untuk mengatasi pertumpahan darah, NKRI adalah produk dari para hakam untuk mengatasi perpecahan bangsa gara-gara tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Kedua, jika ada yang mengkafirkan NKRI karena tidak menerapkan hukum Allah SWT., tidak perlu galau. Jawablah dengan contoh tindakan Umar ibn Khattab RA. Hukum Allah itu bukan hanya diktat dari langit. Sebagian hukum Allah telah diserahkan kepada ijtihad manusia dengan pertimbangan kemaslahatan. Hukum Allah bukan sekadar legal formal (fiqh) yang baku, tetapi juga legal spirit (ushûl fiqh) yang dinamis sesuai dengan ada-tidaknya illat.

Umar RA beberapa kali melakukan ijtihad yang sekilas menyalahi hukum formal. Umar RA pernah mengabaikan had terhadap pencuri di masa paceklik, menambah jumlah cambukan penenggak khamr melebihi ketentuan, mencegah muallaf dari bagian zakat, dan tidak membagikan ghanimah kepada pasukan. Umar RA beberapa kali mengabaikan hukum (formal), tetapi sebenarnya sedang menegakkan hukum (substansial).

Setelah kalian sampaikan hujjah, dan mereka keukeuh, tidak perlu berkecil hati. Ibn Abbas, generasi awal yang paling alim dalam ilmu tafsir, pun hanya sanggup memulangkan kurang dari separuh para pembelot. Apalagi kita!

Oleh: M. Kholid Syeirazi, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP. ISNU).
Read More