Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan

Akhlaq Menurut Imam Ghozali


rumahnahdliyyin.com - Minggu-minggu ini, saya amat menikmati Ngaji Ihya' yang saya ampu setiap minggu, baik melalui online atau kopdar dimana saya bertemu dengan audiens secara langsung di sejumlah daerah.

Saya menikmati, karena pembahasan kitab Ihya' yang sedang saya baca saat ini sedang mengulas tema penting--soal akhlak. Saya sangat menikmati ulasan filsafat etika dalam gagasan Imam Ghozali ini.

Pembahasan Imam Ghozali mengenai tema ini sangat mendalam, sistematis, dengan pendekatan yang dengan jelas menampakkan keakraban imam besar ini dengan filsafat etika yang digeluti oleh para filsuf muslim besar seperti Ibn Sina, Al-Farobi, Abu Bakr al-Rozi dan lain-lain.

Baca Juga: Akhlaq Sebagai Inti Islam

Saya mulai dengan definisi Imam Ghozali tentang akhlak. Beliau men-ta'rif-kannya sebagai: kondisi kejiwaan yang permanen (dalam teks Arab-nya: hai'atun li al-nafsi rosikhotun), dan keadaan ini memungkinkan seseorang melakukan suatu tindakan tertentu dengan mudah, alamiah, tanpa dipaksa atau dibuat-buat (artifisial).

Seseorang yang berakhlak dermawan atau pelit, misalnya, kedua sifat itu menetap pada orang tersebut, sehingga tindakan kedermawanan atau kepelitan yang keluar dari dirinya, dengan mudah, tanpa dipaksa-paksa. Akhlak membuat suatu tindakan nampak alamiah, normal, tanpa ada kesan keterpaksaan didalamnya.

Jika seseorang menjadi dermawan mendadak karena kondisi tertentu (misalnya karena menjelang Pilpres atau Pileg), tetapi setelah itu kemudian ia menjadi pelit kembali, maka tindakan kedermawanan pada orang tersebut tidaklah terbit dari kondisi kejiwaan yang permanen. Kedermawanan pada orang itu, dengan demikian, tak bisa disebut sebagai akhlak.

Baca Juga: Dawuh KH. M. Anwar Manshur tentang Santri, Ngaji, Akhlaq dan Birrulwalidain

Dengan kata lain, sesuatu disebut sebagai akhlak manakala ia telah melekat pada struktur kejiwaan seseorang, sehingga menyerupai sebuah tabiat atau kebiasaan. Cak Nur pernah menyebut akhlak sebagai second nature, tabiat kedua yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang lama.

Dalam pandangan Al-Ghozali, akhlak bukanlah sesuatu yang secara alamiah ada pada seseorang. Akhlak adalah sesuatu yang bisa diperoleh seseorang melalui sebuah latihan--atau riyadloh dalam bahasa Imam Ghozali.

Salah satu gagasan penting Imam Ghozali adalah kemungkinan akhlak untuk berubah (taghyir al-akhlaq), melalui sebuah latihan yang sabar dan konsisten. Ia serupa dengan sejumlah kecakapan pada seseorang yang bisa diperoleh melalui sebuah latihan pelan-pelan, misalnya kecakapan bermain bola.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Kecakapan main bola bisa “ditanamkan” pada seseorang yang memang memiliki bakat bermain bola, melalui sebuah training. Latihan ini akan membentuk apa yang oleh para filsuf etika muslim seperti Ibn Miskawayh (w. 1030 M) disebut sebagai malakah.

Malakah adalah kecakapan (skill) yang melekat sehingga menyerupai suatu property, hak milik (ada keserupaan akar kata antara istilah malakah dan milk yang artinya hak milik).

Baca Juga: Belajar Tawadlu' dari Kiai Tawadlu'

Dalam pandangan Al-Ghozali, fondasi akhlak adalah dua daya atau quwwah, force, yang ada pada manusia: yaitu daya syahwah dan daya ghodlob.

Syahwah adalah daya yang secara alamiah ada pada semua manusia. Melalui daya ini seseorang memiliki hasrat akan sesuatu; misalnya hasrat untuk mengonsumsi makanan atau minuman.

Sementara ghodlob (marah) adalah daya yang melahirkan pada diri manusia apa yang oleh Imam Ghozali disebut sebagai hamiyyah, atau semangat, passion, motivasi yang kuat untuk melakukan sesuatu.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Teman saya dari Pati, Habib Anis Sholeh Ba'asyin, mempunyai observasi yang menarik tentang dua daya ini. Menurut dia, karakter syahwah adalah menyerap sesuatu ke dalam diri manusia. Sementara karakter ghodlob (marah) adalah mengeluarkan sesuatu ke luar diri manusia.

Pada dirinya sendiri, syahwat dan marah bukanlah hal yang jelek, negatif. Menurut Al-Ghozali, baik syahwat dan ghodlob adalah daya-daya yang secara niscaya ada pada semua manusia dan diciptakan oleh Tuhan karena tujuan tertentu (khuliqot li fa'idatin).

Baca Juga: Bully Zaman Mbah Bisri

Akhlak yang baik muncul pada diri seseorang manakala ia berhasil mengendalikan dua daya itu agar tak terjatuh pada dua titik ekstrim. Ekstrim yang pertama adalah apa yang oleh Al-Ghozali disebut dengan ifroth, atau ekstrim kanan, berlebihan—esktrim surplus.

Ekstrim yang kedua adalah tafrith, yaitu ekstrim kiri, berlebihan karena defisit, kekurangan. Seseorang menjadi berakhlak jika ia bisa mengendalikan dengan akalnya kedua daya tadi--syahwat dan marah.

Baca Juga: Tentang Salah Kaprah Penggunaan Istilah "Taubat"

Inti teori akhlak ala Imam Ghozali adalah ide tentang tengah-tengah ini (al-wasath, al-i'tidal, al-tawazun). Akhlak menjadi hilang manakala terjadi ketiadaan keseimbangan. Dengan kata lain, setiap kecenderungan ekstrim jelas berlawanan dengan, sebut saja, “ke-etika-an”, "ke-akhlak-an".

Syahwat yang njomplang ke kanan (ifroth), akan melahirkan sikap-sikap destruktif seperti isrof, berlebihan dalam mengonsumsi sesuatu. Sementara syahwat yang terlalu condong ke kiri (tafrith) akan melahirkan sikap taqtir, thrift/frugality, medhit (bahasa Jawa: pelit), dan sebagainya.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Seseorang disebut berakhlak jika ia berhasil menyeimbangkan diri diantara dua titik ekstrim tersebut. Sikap yang muncul dari keseimbangan itu adalah apa yang oleh Imam Ghozali disebut dengan sakho' atau kedermawanan.

Begitu juga dalam hubungannya dengan daya ghodlob atau marah. Daya ini akan melahirkan akhlak yang baik jika bisa diseimbangkan, tidak ndoyong terlalu berlebihan ke kanan atau ke kiri.

Daya ghodlob yang terlalu ndoyong ke kanan (marah yang berlebihan) akan melahirkan tindakan-tindakan agresif, menyerang, yang destruktif, merusak--apa yang oleh Al-Ghozali disebut dengan tahawwur.

Baca Juga: Asmat; Kota Terapi Syukur

Sebaliknya, jika daya ghodlob ini ndoyong berlebihan ke kiri (mengalami kondisi kekurangan, defisit, yang berlebihan), yang muncul dari sana adalah sikap jubnun, ketakutan, kepengecutan, kekhawatiran yang eksesif terhadap sesuatu.

Sebagaimana sikap agresif bisa destruktif, sikap takut yang berlebihan juga bisa merusak mental seseorang. Kondisi akhlak yang sehat tercipta manakala ada titik keseimbangan antara dua sikap ekstrem itu.

Baca Juga: Empat Kata Penyempurna Iman

Inti teori akhlak dalam pandangan Al-Ghozali, dengan demikian, adalah kemampun melakukan pengendalian diri, self-restrain; tidak membiarkan diri terserap ke dalam luapan jiwa yang berkobar-kobar pada suatu saat. Syahwat dan ghodlob bisa meluap seperti banjir bandang yang susah dikontrol. Saat “banjir” ini terjadi, biasanya akhlak menjauh dari seseorang.

Pandangan Al-Ghozali tentang akhlak ini memang berseberangan dengan karakter zaman kita dimana semangat yang menonjol adalah “menenggak semaksimal mungkin kenikmatan sesaat”. Kapitalisme modern menciptakan “kelimpahan material” karena mesin-mesin modern yang mampu memproduksi barang secara massal.

Baca Juga: Sekutu Iblis

Dalam situasi yang serba berkelimpahan seperti ini, godaan untuk “meluapkan syahwat konsumsi”, juga godaan untuk menikmati the joy of consumption, kelezatan mengonsumsi segala hal secara kebablasan, sangatlah besar.

Teori akhlak Al-Ghozali bisa kita pandang sebagai kritik atas kecenderungan-kecenderungan yang berlebihan (ekstrimisme dalam pengertian yang luas) yang menjadi karakter zaman kita sekarang.***

Keterangan gambar: Salah satu ajaran akhlak Plato, filsuf besar Yunani, adalah moderation yang dalam bahasa Imam Ghozali adalah i'tidal.[]



* Oleh: Ulil Abshar Abdalla
Read More

Belajar Tawadlu' dari Kiai Tawadlu'


rumahnahdliyyin.com - Mbah Kiai Umar Abdul Mannan (wafat 1980), pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, dikenal luas sebagai seorang kiai yang sangat tawadlu’ (rendah hati). Hal ini tidak lepas dari cara Mbah Umar memperhatikan kitab Ta’limul Muta’allim secara kritis, yakni bukan tentang hak-haknya sebagai guru, melainkan tentang kewajiban-kewajibannya. Selain Ta'limul Muta'allim, kitab lain yang juga menjadi rujukan Mbah Umar dalam bertawadlu' adalah kitab Al-Barzanji.

Sebagai contoh, Mbah Umar sebagai guru tidak pernah berpikir bagaimana dibayari santri. Sebab, itu sama saja dengan tamak dalam hal duniawi. Bahwa seorang tholibul ‘ilmi atau santri diibaratkan seperti budak dalam hubungannya dengan guru seperti yang diungkapkan oleh Sayyidina Ali kw., Mbah Umar sebagai guru tidak menggunakan hal itu untuk memperlancar tercapainya kepentingan duniawi beliau.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Hal itu juga merupakan refleksi dari sikap tawadlu’ dan keikhlasan beliau dalam mendidik para santri. Mbah Umar adalah orang yang jujur dan tulus karena beliau memang seorang sufi yang secara istiqomah memilih hidup zuhud. Beliau tidak silau terhadap gemerlapnya dunia. Maka bisa dimengerti, apa yang disebut ndalem Mbah Umar hanyalah sebuah rumah yang sangat sederhana.

Oleh karena Mbah Umar memelihara sikap tawadlu’, maka santri-santri tetap beliau hargai dengan tidak merendahkan, apalagi menghina mereka. Mbah Umar tetap menjunjung kesantunan kepada para santri. Mbah Umar tidak pernah memberikan sesuatu kepada santri dengan menggunakan tangan kiri atau dengan cara melemparkannya.

Baca Juga: Meski Diminta Istri untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Sikap tawadlu’ Mbah Umar tersebut sebenarnya tidak hanya merupakan cerminan dari praktik tawadlu’ seperti yang dimaksudkan dalam kitab Ta’limul Muta’allim, tetapi juga dalam kitab Al-Barzanji yang ditulis oleh Sayyid Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim.

Dalam kitab Al-Barzanji dijelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang pribadi yang sangat tawadlu’. Wakâna shallaLlâhu ‘alaihi wa sallama syadîdal hayâ’ wat-tawâdlu’i. Wujud nyata dari tawadlu’ beliau ﷺ antara lain yaitu mencintai fakir miskin dan mau bergaul bersama mereka.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Bentuk tawadlu’ seperti yang dicontohkan RasuluLlah SAW. tersebut diikuti oleh Mbah Umar dengan baik. Buktinya, Mbah Umar banyak berhubungan dengan wong-wong cilik yang kalau dilihat dari segi nasab biasa-biasa saja. Kepada mereka, Mbah Umar seringkali berbicara dalam bahasa Jawa Krama Hinggil, seperti kepada tukang becak, tukang bangunan, tukang pos, para santri yang belum cukup beliau kenal dan sebagainya. Semua itu merupakan bukti bahwa Mbah Umar memang orang yang sangat tawadlu’.

Terhadap orang-orang yang Mbah Umar meyakininya lebih tinggi karena lebih sepuh, misalnya, beliau senantiasa memberikan penghormatan yang disebut ta'dhim. Hal ini antara lain dapat dilihat contohnya ketika Mbah Kiai Umar menerima tamu yang notabene sahabat beliau, yakni Mbah Kiai Ali Maksum dari Krapyak, Bantul, Yogyakarta. Mbah Umar mencium tangan Mbah Kiai Ali Maksum (Rais 'Aam PBNU 1980-1984) seperti dapat dilihat pada gambar.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Dengan mengacu pada apa yang dipraktikkan Mbah Kiai Umar, kita dapat menyimpulkan antara lain bahwa orang tawadlu' adalah orang yang senantiasa menahan diri untuk tidak merasa lebih tinggi dari pada orang lain yang secara sosiologis sebenarnya berada dibawahnya. Sedangkan terhadap orang lain yang diyakininya lebih tinggi, orang tersebut senantiasa melakukan ta’dhim, yakni bersikap memuliakan dengan memberikan penghormatan yang tulus.[]



* Oleh: Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. Tulisan ini diambil dari NU Online.
Read More