Tampilkan postingan dengan label Ciri Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ciri Santri. Tampilkan semua postingan

Kemenag: Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri


rumahnahdliyyin.com, Yogyakarta - Mengawali penyampaiannya pada Halaqoh Santri Nusantara yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu, 28 Maret 2018, Menag Lukman Hakim Saifuddin bertanya kepada para santri dan mahasiswa yang hadir tentang siapa tokoh idolanya selain Nabi Muhammad SAW.

Seketika, berhamburan nama-nama tokoh idola yang mereka sampaikan. Ada sosok mantan Presiden RI Gus Dur, kiai dan juga budayawan KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, Pahlawan Nasional Agus Salim, hingga KH. Imam Zarkasyi yang merupakan salah satu pendiri Pondok Pesantren Gontor.

Baca Juga: Santri Milenial dan Tantangan Seabad NU

Kemudian, Lukman Hakim pun bercerita bahwa pagi tadi dirinya sempat memposting di twitternya sebuah ungkapan, "Hidup itu dijalani dengan 2 cara, bersyukur dan/atau bersabar. Kalau tak bisa bersyukur, bersabarlah. Kalau tak bisa bersabar bersyukurlah. Kalau tak bisa keduanya, terus mau hidup dengan cara apa?"

Unggahan atau postingan tersebut, kata Menag, mengajak kita semua untuk bersyukur dengan apa yang kita alami yang jauh lebih baik dibanding era generasi dahulu kita.

Baca Juga: Nahdlatul Ulama (NU) dan Pesantren di Era Milenial

Menag mengajak untuk mengedepankan rasa syukur terhadap eksistensi kita sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia.

"Kita menjadi Indonesia bukan kemauan kita. Mengapa bukan bagian dari negara lain, kok Indonesia, ini bukan pilihan kita. Tapi takdir Tuhan. Jadi, kita ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi bagian bangsa Indonesia," jelas Menag pada kesempatan itu yang dihadiri oleh civitas akademika UIN Sunan Kalijaga.

"Saya ingin katakan, betapa bangsa ini begitu religius. Inilah kita. Dan ini sejak ratusan tahun lalu. Dan Tuhan mentakdirkan kita menjadi bagian dari bangsa religius ini," lanjutnya.

“Oleh karenanya, diawal pertemuan ini, saya ingin mengajak dan mengawali dengan syukur menjadi bangsa Indonesia. Bangsa yang agamis dan majemuk. Dua hal, religiusitas dan keberagamannya. Dan sebenarnya (religiusitas dan keberagaman), miniaturnya ada di Pondok Pesantren,” ucap Menag.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Menag menyampaikan, ciri lain santri adalah memiliki kecintaan luar biasa kepada Tahah Air. Menurutnya, ini adalah hasil tempaan para pendahulu kita.

“Santri bagian inti dari bagaimana menjaga ke-Indonesia-an kita. Bangsa yang tidak bisa dipisahkan dari nilai agama dalam menjalani kehidupannya,” tuturnya.

Baca Juga: Pentingnya Kreatifitas Bagi Pesantren

Disampaikannya juga, santri diharapkan mampu mengusung moderasi agama, yaitu Islam yang moderat. Bukan yang ekstrim. Dan ini semakin relevan dengan kondisi saat ini.

Santri-lah yang punya tradisi hidup dalam kemajemukan. Kemajemukan adalah cara Tuhan menurunkan keberkahan untuk saling melengkapi, bukan saling menegasikan. Ini harus dipahami para santri dan mahawasiswa tentang Islam moderat.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

“Inilah menurut hemat saya yang harus jadi pegangan kita. Dan bersyukur pemerintah berkomitmen menempatkan santri pada posisinya untuk bagaimana menjaga eksistensi bangsa. Hari Santri ditetapkan dengan harapan santri mampu berkontribusi bagi masa depan bangsa,” ucapnya.

Penetapan Hari Santri merupakan wujud pemberian tanggung jawab bagi kalangan santri untuk menentukan nasib bangsa ini ke depan. Jadi, bukan sekedar pengakuan. Tapi harus dimaknai sebagai tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa ini.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Dalam kesempatan ini, Menag juga menyerahkan secara simbolis Bantuan Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama Tahun 2018 dan dilanjutkan dengan Deklarasi Ngayogyakarta Dari Santri Untuk NKRI.

Hadir dalam acara ini yaitu Dirjen Pendidikan Islam (Kamaruddin Amin), Rektor UIN Yogyakarta (Yudian Wahyudi), Staf Khusus Menag (Hadirrahman), Direktur PD. Pontren (Ahmad Zayadi), Kepala Biro Humas, Data dan Informasi (Mastuki), Kakanwil Kemenag Yogyakarta (M. Lutfi Ahmad) serta civitas akademika UIN Yogyakarta.


Editor    : Redaksi RN
Sumber : kemenag.go.id
Read More