rumahnahdliyyin.com - Syaikh Muhammad Mahfudz At-Turmusy adalah salah satu kejora semesta. Cahaya ilmunya sedemikian benderang nan abadi sepanjang zaman. Akhlaqnya serupa akhlaq Rasulullah Muhammad SAW., kekasihnya. Tak heran jika puja dan puji terus mengalir dari orang-orang yang mengetahui peran besarnya dalam mengentaskan umat dari lembah kebodohan dan menuntun pada keelokan akhlaq Rasulullah Muhammad SAW.
Mungkin tidak ada yang mengira jika Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz, yang digelari sebagai al-‘alim, al-faqih, al-ushuli, al-muhaddits, al-muqri’, adalah sosok yang lahir di Indonesia. Terlebih, orang mungkin tidak menduga jika Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz lahir di sebuah daerah yang cukup terpencil.
Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak
Hadlrotusy Syaikh Mahfudz lahir pada tanggal 12 Jumadal Ula 1285 H. di desa Tremas, Pacitan. Pada masa kelahirannya, Pacitan masih termasuk dalam wilayah Solo. Ketika dilahirkan, Hadlrotusy Syaikh Abdullah, ayahnya, sedang berada di Makkah Al-Mukarromah.
Pada usia enam tahun, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz diajak sang ayah untuk ke Makkah Al-Mukarromah. Di tempat kelahiran Rasulullah SAW., Hadlrotusy Syaikh Mahfudz mendapatkan ragam pelajaran dari para cerdek cendekia (ulama) Hijaz dan Nusantara yang berada di Makkah. Hadlrotusy Syaikh Abdullah, sang ayah, pun merupakan ulama’ yang cukup disegani di Nusantara dan Hijaz.
Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks
Beberapa tahun berada di Makkah, Hadlrotusy Syaikh Abdullah dan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun kembali lagi ke Nusantara. Di tanah kelahirannya, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz mengambil sanad keilmuan sang kakek yang merupakan salah satu tokoh besar tanah Jawa, yakni Hadlrotusy Syaikh Abdul Manan. Kecerdasan, kemuliaan pekerti, keseriusan, ketelatenan dan keuletan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz membuat sang kakek demikian menyayanginya.
Setelah sekian tahun menyerap ilmu sang kakek dan sang ayah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz tergerak untuk mengembara dan berguru pada tokoh-tokoh istimewa di Nusantara.
Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya
“Ananda bisa berguru kepada kiai Sholeh di Darat, Semarang. Kiai Sholeh masih sahabatku semasih belajar di tanah Hijaz,” jawab Hadlrotusy Syaikh Abdullah ketika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz mengutarakan minatnya untuk mengembara sekaligus meminta petunjuk kepada siapa dia berguru.
Setelah mendapatkan petunjuk dari Hadlrotusy Syaikh Abdullah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun bersama adik-adiknya, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi, berangkat ke Semarang.
Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan
Sesampai di Semarang, tiga kejora Tremas itu segera menemui Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat. Hati ulama agung Semarang itu demikian berbunga-bunga mengetahui yang datang adalah putra-putra dari sahabatnya. Dengan penuh cinta dan kasih, ketiganya di terima oleh Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat.
Kepada Hadlrotusy Syaikh Sholeh bin Umar ini, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz belajar berbagai macam kitab dan mengkhatamkan beragam kitab. Ketekunan dan kecerdasan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz cukup memikat hati sang guru. Dalam pandangan Hadlrotusy Syaikh Sholeh, ada beragam keistimewaan dan pancaran keelokan yang membuatnya demikian terpukau. Selama di Darat, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz memang dikenal sebagai santri yang visioner, inspiratif dan berbudi mulia.
Baca Juga: Toilet Sebagai Jalan Keluar
Mengamati perkembangan sang santri yang demikian mengagumkan, terbersit keinginan dalam hati Hadlrotusy Syaikh Sholeh untuk menjadikannya sebagai menantu. Terlebih, dimasa lalu, antara Hadlrotusy Syaikh Sholeh dan Hadlrotusy Syaikh Abdullah sempat terbersit keinginan untuk berbesanan. Namun, entah mengapa niat itu tak segera diutarakan dan dinyatakan. Mungkin, Hadlrotusy Syaikh Sholeh menunggu saat yang tepat. Terlebih, saat itu Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sedang semangat belajar. Meski demikian, Hadlrotusy Syaikh Sholeh demikian kentara dalam mencurahkan perhatian dan cinta kasih kepada Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.
Ketika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pamit boyong dari Darat, Semarang, cucuran air mata Hadlrotusy Syaikh Sholeh tak dapat lagi terbendung. Ada rasa kehilangan yang menusuk-nusuk qolbunya. Dengan penuh cinta dan pengharapan, dia peluk santri kinasih sekaligus santri yang digadang-gadang menjadi menantunya itu.
Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri
Sekembali dari Darat, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz kembali menyerap ilmu keluarganya. Setelah sekian lama di Tremas, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz termotivasi untuk melanjutkan petualangan ilmiahnya. Tanah Hijaz adalah impiannya. Beruntung impiannya ini mendapatkan dukungan dari keluarga.
Berangkatlah Hadlrotusy Syaikh Mahfudz ke Makkah Al-Mukarromah dengan iringan derai air mata keluarga. Palu godam pun seketika menghantam palung jiwa Hadlrotusy Syaikh Sholeh ketika mendengar santri kinasihnya itu berangkat ke Makkah.
“Aku semakin jauh dari calon menantuku,” bisik benak Hadlrotusy Syaikh Sholeh.
Baca Juga: Al-Biruni, Antropolog Pertama?
Pun demikian, Hadlrotusy Syaikh Sholeh tak kehilangan cara untuk menunjukkan kasih sayang, perhatian dan keinginan menjadikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sebagai menantu. Berbagai macam hadiah dititipkan untuk Hadlrotusy Syaikh Mahfudz ketika ada orang Jawa yang melaksanakan ibadah haji atau pergi ke tanah Hijaz.
Hadiah demi hadiah yang terus diterima Hadlrotusy Syaikh Mahfudz dari sang guru, membuatnya berfikir, “Apa maksud kiai Sholeh selalu mengirimkan hadiah kepadaku ?” Sebuah kewajaran jika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz bertanya-tanya dengan curahan hadiah dari sang guru.
Baca Juga: Politiknya Kiai
Namun, rasa penasaran itu tak berlangsung lama. Ghirohnya dalam belajar membuat Hadlrotusy Syaikh Mahfudz larut dalam samudra ilmu. Hadiah demi hadiah yang dikirim Hadlrotusy Syaikh Sholeh pun lebih banyak dinikmati oleh kedua adiknya, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi.
Menyadari pancingan demi pancingan tak mendapatkan respon dari Hadlrotusy Syaikh Mahfudz, mau tidak mau Hadlrotusy Syaikh Sholeh tergerak untuk mengutarakan maksudnya secara langsung. Ditulislah surat “sakti” yang berisi keinginannya menjadikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sebagai menantunya. Surat dititipkan kepada santri Hadlrotusy Syaikh Sholeh yang berangkat ke tanah Haram.
Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari
Surat yang dikirimkan Hadlrotusy Syaikh Sholeh pun segera sampai ke tangan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz. Jiwa Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun berkecamuk merasakan ketulusan sang guru. Bulir-bulir bening air mata membasahi pipi Hadlrotusy Syaikh Mahfudz. Baginya, permintaan guru adalah sabda yang tak bisa ditolak. Kepatuhan seorang santri pada kiai adalah sebuah keniscayaan. Sebuah cela jika santri tak patuh perintah kiai selama permintaan itu bukanlah maksiat. Permintaan yang demikian mudah bagi orang biasa itu menjadi sulit bagi Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.
Lambaran kesulitan itu salah satunya berkait dengan keinginan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz untuk menghabiskan sisa-sisa usianya di Makkah. Sejak kembali menginjakkan kaki di Makkah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz telah “bersumpah” untuk tinggal selamanya di tanah kelahiran Rasulullah SAW. itu.
Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan
Istikhoroh pun dilakukan oleh Hadlrotusy Syaikh Mahfudz untuk mendapatkan petunjuk terbaik dari Allah SWT. Setelah berkali-kali istikhoroh, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun mendapatkan isyarat untuk tinggal di Makkah. Kemantapan yang diperoleh melalui istikhoroh itu membuat Hadlrotusy Syaikh Mahfudz memutar otak untuk menghindari permintaan sang guru.
Tak mungkin Hadlrotusy Syaikh Mahfudz menolak keinginan sang guru tanpa alasan yang bisa diterima. Lebih menyakitkan lagi jika sampai sang guru terlukai perasaannya. Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun mencari strategi terbaik agar sang guru tidak terlukai perasaannya.
Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua
Bersamaan dengan itu, masuklah selarik ilham untuk mengirimkan Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan, sang adik, sebagai pengganti dirinya. Setelah yakin dengan keputusannya, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz segera menulis surat balasan untuk Hadlrotusy Syaikh Sholeh. Beberapa waktu berlalu, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi diminta untuk kembali ke Tremas. Terkhusus Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan, ada pesan istimewa yang diamanatkan oleh Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.
“Sesampai di Tremas, lekaslah engkau pergi ke Semarang. Temui kiai Sholeh. Sampaikan surat ini kepadanya. Mengabdilah kepadanya dan apa pun perintahnya, kamu harus taat dan patuh.”
Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama
Singkat cerita, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan pun menjadi menantu Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat menggantikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.[]
* Oleh: Imam Muhtar
