Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan


rumahnahdliyyin.com - Syaikh Muhammad Mahfudz At-Turmusy adalah salah satu kejora semesta. Cahaya ilmunya sedemikian benderang nan abadi sepanjang zaman. Akhlaqnya serupa akhlaq Rasulullah Muhammad SAW., kekasihnya. Tak heran jika puja dan puji terus mengalir dari orang-orang yang mengetahui peran besarnya dalam mengentaskan umat dari lembah kebodohan dan menuntun pada keelokan akhlaq Rasulullah Muhammad SAW.

Mungkin tidak ada yang mengira jika Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz, yang digelari sebagai al-‘alim, al-faqih, al-ushuli, al-muhaddits, al-muqri’, adalah sosok yang lahir di Indonesia. Terlebih, orang mungkin tidak menduga jika Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz lahir di sebuah daerah yang cukup terpencil.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Hadlrotusy Syaikh Mahfudz lahir pada tanggal 12 Jumadal Ula 1285 H. di desa Tremas, Pacitan. Pada masa kelahirannya, Pacitan masih termasuk dalam wilayah Solo. Ketika dilahirkan, Hadlrotusy Syaikh Abdullah, ayahnya, sedang berada di Makkah Al-Mukarromah.

Pada usia enam tahun, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz diajak sang ayah untuk ke Makkah Al-Mukarromah. Di tempat kelahiran Rasulullah SAW., Hadlrotusy Syaikh Mahfudz mendapatkan ragam pelajaran dari para cerdek cendekia (ulama) Hijaz dan Nusantara yang berada di Makkah. Hadlrotusy Syaikh Abdullah, sang ayah, pun merupakan ulama’ yang cukup disegani di Nusantara dan Hijaz.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Beberapa tahun berada di Makkah, Hadlrotusy Syaikh Abdullah dan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun kembali lagi ke Nusantara. Di tanah kelahirannya, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz mengambil sanad keilmuan sang kakek yang merupakan salah satu tokoh besar tanah Jawa, yakni Hadlrotusy Syaikh Abdul Manan. Kecerdasan, kemuliaan pekerti, keseriusan, ketelatenan dan keuletan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz membuat sang kakek demikian menyayanginya.

Setelah sekian tahun menyerap ilmu sang kakek dan sang ayah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz tergerak untuk mengembara dan berguru pada tokoh-tokoh istimewa di Nusantara.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

“Ananda bisa berguru kepada kiai Sholeh di Darat, Semarang. Kiai Sholeh masih sahabatku semasih belajar di tanah Hijaz,” jawab Hadlrotusy Syaikh Abdullah ketika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz mengutarakan minatnya untuk mengembara sekaligus meminta petunjuk kepada siapa dia berguru.

Setelah mendapatkan petunjuk dari Hadlrotusy Syaikh Abdullah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun bersama adik-adiknya, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi, berangkat ke Semarang.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Sesampai di Semarang, tiga kejora Tremas itu segera menemui Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat. Hati ulama agung Semarang itu demikian berbunga-bunga mengetahui yang datang adalah putra-putra dari sahabatnya. Dengan penuh cinta dan kasih, ketiganya di terima oleh Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat.

Kepada Hadlrotusy Syaikh Sholeh bin Umar ini, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz belajar berbagai macam kitab dan mengkhatamkan beragam kitab. Ketekunan dan kecerdasan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz cukup memikat hati sang guru. Dalam pandangan Hadlrotusy Syaikh Sholeh, ada beragam keistimewaan dan pancaran keelokan yang membuatnya demikian terpukau. Selama di Darat, Hadlrotusy Syaikh Muhammad Mahfudz memang dikenal sebagai santri yang visioner, inspiratif dan berbudi mulia.

Baca Juga: Toilet Sebagai Jalan Keluar

Mengamati perkembangan sang santri yang demikian mengagumkan, terbersit keinginan dalam hati Hadlrotusy Syaikh Sholeh untuk menjadikannya sebagai menantu. Terlebih, dimasa lalu, antara Hadlrotusy Syaikh Sholeh dan Hadlrotusy Syaikh Abdullah sempat terbersit keinginan untuk berbesanan. Namun, entah mengapa niat itu tak segera diutarakan dan dinyatakan. Mungkin, Hadlrotusy Syaikh Sholeh menunggu saat yang tepat. Terlebih, saat itu Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sedang semangat belajar. Meski demikian, Hadlrotusy Syaikh Sholeh demikian kentara dalam mencurahkan perhatian dan cinta kasih kepada Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

Ketika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pamit boyong dari Darat, Semarang, cucuran air mata Hadlrotusy Syaikh Sholeh tak dapat lagi terbendung. Ada rasa kehilangan yang menusuk-nusuk qolbunya. Dengan penuh cinta dan pengharapan, dia peluk santri kinasih sekaligus santri yang digadang-gadang menjadi menantunya itu.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Sekembali dari Darat, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz kembali menyerap ilmu keluarganya. Setelah sekian lama di Tremas, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz termotivasi untuk melanjutkan petualangan ilmiahnya. Tanah Hijaz adalah impiannya. Beruntung impiannya ini mendapatkan dukungan dari keluarga.

Berangkatlah Hadlrotusy Syaikh Mahfudz ke Makkah Al-Mukarromah dengan iringan derai air mata keluarga. Palu godam pun seketika menghantam palung jiwa Hadlrotusy Syaikh Sholeh ketika mendengar santri kinasihnya itu berangkat ke Makkah.

“Aku semakin jauh dari calon menantuku,” bisik benak Hadlrotusy Syaikh Sholeh.

Baca Juga: Al-Biruni, Antropolog Pertama?

Pun demikian, Hadlrotusy Syaikh Sholeh tak kehilangan cara untuk menunjukkan kasih sayang, perhatian dan keinginan menjadikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sebagai menantu. Berbagai macam hadiah dititipkan untuk Hadlrotusy Syaikh Mahfudz ketika ada orang Jawa yang melaksanakan ibadah haji atau pergi ke tanah Hijaz.

Hadiah demi hadiah yang terus diterima Hadlrotusy Syaikh Mahfudz dari sang guru, membuatnya berfikir, “Apa maksud kiai Sholeh selalu mengirimkan hadiah kepadaku ?” Sebuah kewajaran jika Hadlrotusy Syaikh Mahfudz bertanya-tanya dengan curahan hadiah dari sang guru.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Namun, rasa penasaran itu tak berlangsung lama. Ghirohnya dalam belajar membuat Hadlrotusy Syaikh Mahfudz larut dalam samudra ilmu. Hadiah demi hadiah yang dikirim Hadlrotusy Syaikh Sholeh pun lebih banyak dinikmati oleh kedua adiknya, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi.

Menyadari pancingan demi pancingan tak mendapatkan respon dari Hadlrotusy Syaikh Mahfudz, mau tidak mau Hadlrotusy Syaikh Sholeh tergerak untuk mengutarakan maksudnya secara langsung. Ditulislah surat “sakti” yang berisi keinginannya menjadikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz sebagai menantunya. Surat dititipkan kepada santri Hadlrotusy Syaikh Sholeh yang berangkat ke tanah Haram.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari

Surat yang dikirimkan Hadlrotusy Syaikh Sholeh pun segera sampai ke tangan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz. Jiwa Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun berkecamuk merasakan ketulusan sang guru. Bulir-bulir bening air mata membasahi pipi Hadlrotusy Syaikh Mahfudz. Baginya, permintaan guru adalah sabda yang tak bisa ditolak. Kepatuhan seorang santri pada kiai adalah sebuah keniscayaan. Sebuah cela jika santri tak patuh perintah kiai selama permintaan itu bukanlah maksiat. Permintaan yang demikian mudah bagi orang biasa itu menjadi sulit bagi Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

Lambaran kesulitan itu salah satunya berkait dengan keinginan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz untuk menghabiskan sisa-sisa usianya di Makkah. Sejak kembali menginjakkan kaki di Makkah, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz telah “bersumpah” untuk tinggal selamanya di tanah kelahiran Rasulullah SAW. itu.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Istikhoroh pun dilakukan oleh Hadlrotusy Syaikh Mahfudz untuk mendapatkan petunjuk terbaik dari Allah SWT. Setelah berkali-kali istikhoroh, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun mendapatkan isyarat untuk tinggal di Makkah. Kemantapan yang diperoleh melalui istikhoroh itu membuat Hadlrotusy Syaikh Mahfudz memutar otak untuk menghindari permintaan sang guru.

Tak mungkin Hadlrotusy Syaikh Mahfudz menolak keinginan sang guru tanpa alasan yang bisa diterima. Lebih menyakitkan lagi jika sampai sang guru terlukai perasaannya. Hadlrotusy Syaikh Mahfudz pun mencari strategi terbaik agar sang guru tidak terlukai perasaannya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Bersamaan dengan itu, masuklah selarik ilham untuk mengirimkan Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan, sang adik, sebagai pengganti dirinya. Setelah yakin dengan keputusannya, Hadlrotusy Syaikh Mahfudz segera menulis surat balasan untuk Hadlrotusy Syaikh Sholeh. Beberapa waktu berlalu, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan dan Hadlrotusy Syaikh Muhammad Dimyathi diminta untuk kembali ke Tremas. Terkhusus Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan, ada pesan istimewa yang diamanatkan oleh Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.

“Sesampai di Tremas, lekaslah engkau pergi ke Semarang. Temui kiai Sholeh. Sampaikan surat ini kepadanya. Mengabdilah kepadanya dan apa pun perintahnya, kamu harus taat dan patuh.”

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Singkat cerita, Hadlrotusy Syaikh Ahmad Dahlan pun menjadi menantu Hadlrotusy Syaikh Sholeh Darat menggantikan Hadlrotusy Syaikh Mahfudz.[]


* Oleh: Imam Muhtar
Read More

Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya


rumahnahdliyyin.com - Perjalanan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden RI ke-4, tak bisa dilepaskan dari peristiwa terbentuknya Poros Tengah pada 1999 yang kala itu dimotori oleh mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Amien Rais.

Saat itu, pasca-reformasi, masyarakat terbelah. Sebagian menghendaki agar BJ. Habibie melanjutkan posisinya sebagai Presiden. Sementara dikubu lain, PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu 1999, menghendaki Megawati Soekarno Putri yang jadi Presiden.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Dalam situasi politik yang memanas, bahkan sempat pecah menjadi bentrokan fisik yang dikenal dengan Peristiwa Semanggi antara "Laskar Merah" dan "Laskar Islam" itu, Poros Tengah bentukan Amien Rais muncul sebagai penengah.

Lewat Poros Tengah itu, Pak Amien Rais menengahi. Presidennya bukan Habibie, juga bukan Megawati. Dari sinilah kemudian muncul nama Gus Dur, yang kala itu sedang sakit, sebagai sosok tokoh yang memang bisa diterima oleh berbagai pihak, baik oleh kelompok Megawati maupun oleh kalangan umat Islam, untuk diusung sebagai Presiden.

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur Dimata Profesor Jepang

Setelah disepakati bahwa Gus Dur yang akan diusung jadi Presiden, Amien Rais kemudian meminta Muhaimin Iskandar (Cak Imin), yang kala itu diminta oleh Amien Rais bergabung dalam gerakan Poros Tengah itu, untuk menemaninya ke Ciganjur menemui Gus Dur.

Sebagai ABG (Anak Buah Gus Dur), saat itu Cak Imin deg-degan. Kondisi Gus Dur sakit, tapi diminta menjadi Presiden.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Setelah bertemu Gus Dur, Amien Rais mengatakan bahwa Indonesia sedang membutuhkan tokoh yang mampu jadi penengah. Amien mengatakan bahwa Gus Dur adalah pemimpin yang diharapkan mampu menenangkan pertentangan dan pertempuran antara sesama anak bangsa yang tengah memanas dalam menentukan pemimpin kala itu.

Gus Dur, setelah Amien Rais selesai bicara, tiba-tiba ambil posisi duduk dari posisi yang sebelumnya rebahan. Gus Dur pun lalu menyatakan menerima permintaan Poros Tengah itu untuk menjadi calon Presiden Indonesia.

Baca Juga: Keluarga Gus Dur Kunjungi Keluarga Mbah Moen

Mendengar pernyataan Gus Dur yang bersedia menjadi calon Presiden itu, Cak Imin mengaku kaget yang bercampur haru. Namun menurutnya, Amien Rais lebih kaget lagi.

"Lhoh, rencananya, kan, Gus Dur nolak jadi calon Presiden dan menyerahkan posisi calon Presiden pada saya?" bisik Amien Rais pada Cak Imin.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Dalam perjalanan pulang, jawaban Gus Dur yang tidak sesuai dengan skenario awal itu, membuat Cak Imin mendapat banyak pertanyaan dari para kolega yang mendukung Amien Rais menjadi calon Presiden.

Kenapa bukan Amien Rais yang akhirnya muncul sebagai alternatif yang menggantikan Gus Dur sebagai tokoh yang dicalonkan menjadi Presiden yang mewakili dari berbagai kekuatan? Menjawab cecaran pertanyaan itu, Cak Imin pun menyatakan bahwa ia tidak tahu kenapa Gus Dur bersedia dicalonkan sebagai Presiden dalam kondisi yang sakit itu.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Dari sinilah kemudian Gus Dur sering mengutarakan sebuah anekdot yang berbunyi: "Berpolitik tidak usah pakai biaya. Saya saja jadi Presiden tanpa Tim Sukses, tanpa biaya dan hanya modal dengkul. Itu pun dengkulnya Pak Amien Rais."[]
(Redaksi RN)


* Tulisan ini didasarkan pada cerita yang disampaikan oleh Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, sebagaimana dimuat di laman tempo.co, ketika ia hadir dalam forum Kongres Ulama Nusantara di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, pada Minggu, 1 Maret 2018.
Read More

Cegah Radikalisme, Polres Pekalongan Gelar Pengajian Rutin


rumahnahdliyyin.com, Pekalongan - Polres Pekalongan Kota, dalam mencegah radikalisme pada generasi muda, mengadakan pengajian untuk anak-anak setiap malamnya. Pengajian ini dibina langsung oleh anggota Sabhara Bripda Lukman mulai pukul 18.30 WIB. di Masjid Nur Hidayah, Polres Pekalongan Kota, Jl. Diponegoro, Pekalongan, Jawa Tengah.

Pengajian yang diikuti oleh 25 orang anak dari umur 8 hingga 12 tahun ini, diinisiatifi oleh Bripda Lukman.

"Awal-muasal saya 8 bulan lalu, waktu saya masih status bintara remaja. Saat saya bermain bola voli, ada anak-anak yang main di samping masjid. Saya tanya mereka, sholat nggak? ngaji nggak? kata mereka, ngaji, tapi jarang. Kebetulan saat itu masjid ini sepi dan jarang yang ke sini. Mulai dari situ, saya ajak anak-anak ngaji di sini," tutur Lukman sebagaimana dilansir oleh detik.com.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Lukman mengatakan, ia tidak hanya mengajar ngaji saja. Melainkan juga mengajarkan bagaimana caranya sholat serta memberikan sedikit ilmu pengetahuan tentang agama.

Jadwal mengaji anak-anak ini setiap hari. Akan tetapi, khusus malam Selasa, Lukman mengajarkan tata cara sholat. Sedangkan khusus malam Jumat, diadakan tahlilan, yaitu mengaji bersama-sama antara anak-anak pengajian dengan para polisi Polsek Pekalongan Kota.

"Alhamdulillah, Polres Pekalongan juga mendukung kalau malam Jumat itu mereka datang dan memberikan snack juga. Jadi anak-anak senang," tutur Lukman.

Baca Juga: Jama'ah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad Benteng Aswaja di Asmat

Sementara itu, untuk mencegah masuknya paham radikalisme di sekitar Pekalongan, Lukman mengatakan selalu memberi pemahaman kepada anak-anak mengenai persatuan Indonesia yang memiliki suku dan budaya yang beraneka ragam.

"Jadi, disini nggak cuma dari NU, ada juga dari Muhammadiyah. Di Pekalongan kalau ada yang ngajak demo tentang paham radikalisme, saya ajarkan mereka untuk tidak ikut. Saya juga ajarkan arti ngaji dimana mereka jangan melakukan kegiatan yang tidak penting. Setiap hari saya berikan motivasi kepada adik-adik yang menurut saya itu tidak pantas dilakukan. Dari situ saya ajarkan," jelas dia.

Baca Juga: Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol

Diketahui, Bripda Lukman juga salah satu lulusan dengan nomor registrasi pokok termuda di Sekolah Polisi Negara. Lukman juga pernah masuk nominasi Police Award dengan kategori kerohanian.[]


Editor : Redaksi RN
Sumber : detik.com
Read More

Pesantren An-Nawawi Tanara Bangkitkan Ekonomi Ummat Dari Pesantren


rumahnahdliyyin.com, Serang - Beragam riak dan gejolak kebangsaan yang terjadi di negeri ini, bermuara pada problem ekonomi umat. Karena itu, Pendiri Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara (Penata), KH. Ma’ruf Amin, menginisiasi Koperasi Mitra Santri Nasional (KMSN) yang akan dilaunching bersama sejumlah Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Umat (LPEU) oleh Presiden RI Joko Widodo, di Penata, Rabu, 14 Maret 2018, besok.

KMSN dan LPEU yang digerakkan oleh puluhan pesantren tersebut, telah bergerak disejumlah sektor bisnis dan usaha.

“Gerakan ini tidak "ujug-ujug" (tiba-tiba) ada. Ini sudah digelorakan kiai Ma’ruf sejak lama. Secara konseptual dan kodifikasi hukum, kiai memulainya sejak tahun 90-an. Saat itu, beliau mendorong lahirnya perbankan dan lembaga keuangan Syari'ah. Kemudian, sejak didaulat menjadi Rais 'Aam PBNU, beliau menggelar "halaqoh" keliling daerah se-Indonesia. Para kiai Syuriyyah NU dari tingkat Wilayah, Cabang hingga Ranting NU diajak berdialog untuk memetakan persoalan keummatan, sekaligus mendorong para kiai untuk bangkit menata kembali perekonomian umat dari berbagai sektor,” papar Ketua Panitia Grand Launching Pemberdayaan Ekonomi Umat, Uday Abdurrahman, di Penata, Serang, Selasa, 13 Maret 2018.

Baca Juga:
Kaleng Penguat Ekonomi Umat
Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Upaya pemberdayaan ekonomi umat tersebut, kata uday, tak bisa dilakukan sendirian atau hanya sekelompok tokoh. Karena itu, Kiai Ma’ruf mendorong pemerintah, tokoh agama dan para pengusaha untuk bersinergi mengintegrasikan komitmen dalam pemberdayaan ekonomi umat.

“Kiai menyebutnya sebagai Arus Baru Ekonomi Indonesia,” tandasnya.

Gerakan Kiai Ma’ruf Amin, yang kini menjabat sebagai Rais 'Aam PBNU dan sekaligus juga Ketua Umum MUI itu, menurut Uday, bukan tanpa rintangan. Banyak pihak yang awalnya skeptis. Bahkan mencibir.

“Tapi, beliau selalu bilang, yang penting kita bergerak saja. Nanti kalau sudah terlihat hasilnya, yang lain pun akan ikut bergerak. Sebab, di pesantren, kita diajarkan bahwa "alharakah, barakah". Pergerakan akan berbuah berkah,” imbuhnya.

Baca Juga:
Program Pemerintah 1.5 Triliun Tidak Jalan, Gerakan Koin NU Harus Digalakkan

Saat ini, meski belum genap setahun dibentuk, KMSN dan LPEU yang baru beranggotakan 25 pesantren di seluruh Indonesia itu telah bergerak di sejumlah sektor bisnis, yakni sektor jasa keuangan, ritel, budidaya pertanian, perikanan dan peternakan, serta sektor jasa.

“Jadi, pesantren anggota KMSN ini akan jadi percontohan gerakan pemberdayaan ekonomi umat. Kita sudah bekerjasama dengan Leumart di sektor ritel, REI di sektor properti, C-Farming IPB untuk pengembangan udang windu dan Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) untuk produk pertanian dan olahan jagung. Dengan REI kita akan membuat desa wisata dan rest area di Malang. Martha Thilaar juga kemarin mengajak kerjasama untuk pengembangan spa dan hotel Syari'ah,” paparnya.

Ketua Umum KMSN, Sholahuddin, menambahkan bahwa untuk olahan jagung yang dikembangkan di tiga pesantren di Lamongan, produksinya kini telah menembus pasar Malaysia dan di negara-negara Timur Tengah.

Baca Juga:
Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri
Memperkokoh Islam Kebangsaan, Memperkuat Ekonomi Umat

Sholah berharap, ke depan, KMSN tak hanya melibatkan 25 pesantren di Indonesia yang kini sudah bergerak, tapi juga bisa mengajak ribuan pesantren, pengelola masjid, majelis ta’lim, kampus, hingga organisasi kemasyarakatan di tingkat desa. Pesantren yang memiliki lahan agak luas diajak mengembangkan produk pertanian sehat, perkebunan,  peternakan dan perikanan akan didorong untuk mengembangkan produknya.

“Saat ini, yang sudah berjalan budidaya jagung di pesantren Nurul Huda, Kuningan, di Serang, Lamongan 3 pesantren, di Bangka Belitung dan Kalimantan Timur dengan KTNA Kaltim. Kita juga kerjasama dengan C-Farming IPB untuk pengembangan udang windu di kepulauan seribu,” paparnya.

Pasca Grand Launching di Penata, pihaknya juga merencanakan untuk membuka outlet atau ritel Leumart di 50 Pesantren di Jawa Timur.

“Ke depan, kita kembangkan Leumart ini di tiap kota 50 outlet atau ritel, bekerja sama dengan pesantren, masjid, kampus, ormas atau majelis ta’lim. Pengembangan pupuk hayati, yang memproduksi banyak pupuk untuk produk pertanian sehat, ada green kopi, olahan jagung dari eskrim, kerupuk, puding, dll. Di Lamongan sudah jalan, bahkan sudah eksport ke malaysia dan Timur Tengah. Ke depan, kita bisa bermitra dengan UMKM, kelompok tani, bahkan personal,” paparnya. []
(Malik)
Read More

Toilet Sebagai Jalan Keluar


Gus Mus diundang mengisi ceramah pengajian yang istimewa. Judul acaranya: "Nada dan Dakwah bersama Gus Mus dan --sebut saja:-- Sri". Sri, bukan nama sebenarnya, adalah seorang penyanyi ndangndut perempuan yang sedang naik daun waktu itu.

Banyak tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan ikut hadir. Mereka ditempatkan di deretan tempat duduk terdepan, tepat didepan panggung, sebelah-menyebelah dengan Gus Mus sendiri.

Usai ceramah pengajian, Gus Mus kembali ke kursinya dan acara dilanjutkan dengan hiburan lagu-lagu Islami oleh Si Sri.

"Saya sangat bangga dan berdebar-debar mendapatkan kesempatan menyanyi di sini", Sri membuka penampilan dengan sepatah-dua patah kata, "Apalagi dihadapan seorang ulama' yang sangat saya kagumi dan menjadi idola saya... Guus Muuus! Mana tepuk tangannyaaa? Tepuk tangan buat Guuus Muuuusss...!"

Dan musik pun mulai mengedut. Namanya ndangndut, walaupun Islami tetap saja menyondol-nyondol pinggang untuk bergoyang. Buat Sri sendiri, itu sudah naluri. Ditahan-tahan juga percuma. Ketika sudah masyuk dalam irama, ia pun melangkah turun panggung. Mendekati seorang pejabat di deretan depan, menggamit lengannya, dan membuat pejabat itu tak punya pilihan--atau tak ingin memilih--selain gabung berjoget bersama Sri.

Sementara itu, Gus Mus berkutat menahan gelisah. Entah seperti apa raut mukanya selama memaksa-maksakan diri untuk tersenyum-senyum waktu itu. Belakangan, jelas sekali ia tampak lega ketika seorang panitia mendekat menyuguhkan minuman. Gus Mus menggamit si panitia, "Dik, toilet dimana?"

"Oh, mari saya antarkan, Pak Kyai".

"Nggak usah. Tunjukkan saja tempatnya, biar saya kesana sendiri".

Panitia menunjuk pintu keluar gedung, "Dari situ terus kearah kiri, Pak Kyai".

Sambil mengangguk kanan-kiri, Gus Mus bergegas kearah pintu itu. Dari situ, ia langsung menuju tempat parkir mencari mobilnya, lalu menyuruh sopir cepat membawanya kabur.

Sopirnya pun heran, "Kok tergesa-gesa, 'Yai?"

"Aku takut diajak njoget".


* Oleh: KH. Yahya Cholil Tsquf
Read More

Imam Sibawaih-nya Papua

Kiai Ahmad Misri saat menjadi juri Lomba Cipta dan Baca Puisi dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.
muslimpribumi.com - Belum tiga menit menunggu air panas, Nokia jadul saya berdering. "Kulo sampun teng griyo, niki," suara hape saya berbicara.

Bergegas saya meluncur ke sumber suara. Keinginan hati hendak ngopi, saya urungkan. Tak lebih 10 menit kemudian, saya sudah di depan pintu kediaman lelaki paruh baya yang beberapa menit lalu telah memantulkan suaranya di hape saya tadi.

Rona ramah dari wajahnya menyambut kedatangan saya malam itu. Ramah yang tidak dibuat-buat dan senantiasa memancar untuk semua orang itu bak oase yang mampu menentramkan hati saya yang agak kalut malam itu.

Lelaki itu bernama Ahmad Misri. Orang-orang biasa memanggilnya dengan pak Misri. Meski saya belum begitu lama mengenalnya, namun dari simpul-simpul pertemuan saya dengannya yang lumayan sering, ada keyakinan dalam hati saya bahwa beliau kurang pantas bila hanya dipanggil dengan "pak Misri."

Mendengar rencananya hendak mendirikan pondok pesantren yang dalam waktu dekat ini akan segera dimulai pembangunannya, saya jadi teringat KH. Kholil Harun, Kasingan, Rembang. Berdasar cerita yang saya dapat, santri-santri jaman dahulu itu belum merasa puas dan sempurna ngajinya bila belum nyantri kepada tiga kiai yang salah satunya adalah beliau. Ketiga kiai itu yaitu KH. Hasyim Asy'ari di Tebuireng untuk ngaji Hadits, KH. Dimyathi di Termas untuk ngaji Fiqh dan KH. Kholil Harun untuk mematangkan ilmu alat.

Cerita pak Misri terkait rencana model bangunan pondoknya yang "wah", sama sekali tak mengingatkan saya pada KH. Kholil Harun. Yang mengingatkan saya pada kiai yang berjuluk Imam Sibawaih-nya Tanah Jawa itu yaitu misinya yang hendak menjadikan ilmu alat sebagai fokus utamanya. Kalau Imam Sibawaih-nya Jawa sudah ditemukan pada jaman old, yaitu KH. Kholil Harun, baru di jaman now ini Imam Sibawaih-nya Papua diketemukan. Setidaknya Imam Sibawaih-Nya Papua versi saya.

Meski saya sempat mengingatkan pada beliau bahwa kayaknya masyarakat sekarang lebih tertarik memasukkan anak-anaknya ke pondok pesantren Tahfidz daripada ilmu alat, beliau hanya senyum saja. Dan akhirnya saya pun harus mendoakannya semoga apa yang mulai dirintisnya ini bisa menjadi penyeimbang terhadap ustadz Wahabi yang berada di Sorong ini, yaitu ustadz Firanda.

Akhirnya, mari kita langitkan do'a bersama-sama untuk kelancaran pembangunan pondok pesantren yang hendak diberi nama dengan Al-Hikmah itu. Meski bangunan pondoknya belum jadi, pak Misri sudah melakukan penggemblengan ilmu alat pada beberapa anak-anak muda di sekitarnya.

Satu yang tak mampu saya lupakan dari pertemuan saya dengan pak Misri malam itu hingga saya menuliskan ini adalah perkataannya pada saya ditelpon itu. Sungguh saya tidak pantas untuk "dibosoni" oleh beliau.

Dan ditengah maraknya orang-orang dengan mudahnya menyematkan "gelar" didepan nama seseorang dengan "ustadz", biar saya agak kekinian juga karena mengikuti mode termutakhir itu, maka saya ingin juga menyematkan "gelar" didepan nama pak Misri dengan "kiai"; Kiai Ahmad Misri.

Dari segi kealiman, saya kira lelaki kelahiran Banyuwangi ini belum ada bandingnya di Papua ini (Setidaknya di Sorong ini). Dan melihat bahasa Jawa-nya yang ditujukan kepada saya yang notabene bukan siapa-siapa dengan menggunakan bahasa Jawa yang "berkasta" agak tinggi, saya kira bisa dijadikan cerminan akhlaqnya. Lebih dari itu semua, beliau sudah dan sedang bermanfaat. Khususnya di bidang keilmuan agama Islam.

Salam.

Oleh: Agus Setyabudi, Khodim di Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Acara Launching Angkringan GP. Ansor Rembang di Jl. Kiai Bisri Mustofa, Leteh, Rembang.

muslimpribumi.com - Di Semarang, Solo ataupun daerah lain di Jawa Tengah, termasuk pula Jogja, angkringan sangat akbrab di mata. Di pusat keramaian maupun di pinggir-pinggir jalan, ia begitu mudah bisa didapati.

Angkringan biasanya terbuat dari kayu dan papan yang berbentuk gerobak. Dengan beratapkan terpal, jenis lapak yang menjajakan makanan dan minuman ini bisa memuat enam hingga delapan orang. Dan tak jarang pula, si empunya lapak juga menyediakan tikar bila pembeli melimpah atau pembeli menginginkan duduk lesehan.

Bisa dikatakan, angkringan merupakan salah satu tempat yang merakyat. Dari mulai para mahasiswa, karyawan, bahkan pejabat, bisa nyaman menikmati suasananya.

Untuk memberdayakan ekonomi bagi para kadernya, baru-baru ini Gerakan Pemuda Ansor di Kabupaten Rembang, meluncurkan program angkringan di tiap kecamatan. Peluncuran yang dikemas dengan acara “ngangkring bareng" santri dan warga di sepanjang Jalan Kiai Bisri Mustofa, Leteh, Rembang, pada Sabtu sore, 13 Januari kemarin ini dilanjutkan dengan menyantap nasi, lauk dan kopi ala angkringan.

“Tiap kecamatan diberi satu unit gerobak angkringan. Lengkap dengan "uborampe" yang dibutuhkan. Ini ikhtiyar kita mewujudkan visi besar Nahdlatul Ulama dan Ansor untuk meningkatkan kemandirian dan perekonomian kader,” terang Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang M. Hanies Cholil Barro.

Selain sebagai upaya untuk mewujudkan kemandirian perekonomian organisasi dan kader, ternyata program ini juga bertujuan supaya masyarakat bisa menjadi lebih dekat dengan Ansor. Termasuk bisa bekerjasama dalam hal yang lainnya.

“Sebelum diluncurkan, operator per-kecamatan mengikuti pelatihan singkat pengelolaan angkringan. Pelatihan tentang pelayanan prima terhadap konsumen pun diberikan,” lanjutnya kemudian.

Selain Standar Operasional Prosedur (SOP) angkringan telah diberikan, Departemen Perekonomian Ansor di level kabupaten juga sudah memberikan pedoman tentang produk yang boleh dan dilarang dijual di angkringan tersebut.

“Untuk mengendalikan mutu dan kelanjutannya, Departemen yang membidangi akan selalu melakukan kontrol per-pekannya. Dengan upaya semacam ini, diharapkan angkringan Ansor bisa berkembang dengan pesat,” tandas pria yang akrab dipanggil dengan Gus Hanis ini.

Wakil Ketua Bidang Perekonomian Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang, Nadhief Shidqi, menambahkan, operator angkringan di tiap kecamatan terhubung secara online dengan Departemen Perekonomian. Setiap kasus, termasuk ide-ide inspiratif akan didiskusikan tiap harinya melalui layanan grup whatsapp. Dengan demikian, harapannya, setiap persoalan dan ide segar akan secara cepat diatasi serta SOP pun dapat dipantau penerapannya secara tepat.

Sumber: mataairradio.com
Read More