Tampilkan postingan dengan label M. Kholid Syeirazi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M. Kholid Syeirazi. Tampilkan semua postingan

Ciri Khowârij



Cikal bakal Khowarij berasal dari seorang lelaki pemrotes Nabi SAW. Sepulang dari fathu Makkah, Nabi SAW. dan pasukannya mengepung kabilah Hawazin dan terlibat perang di lembah Hunain. Nabi SAW. mendapat rampasan perang yang banyak: 4.000 ons perak, 24.000 ekor unta dan 40.000 ekor kambing. Dan Nabi SAW. transit di lembah Ji’ranah dan membagikan sebagian perak yang disimpan Bilal.

Tiba-tiba, datang seorang lelaki dan menegur Nabi SAW.: “Hai Muhammad, berlakulah adil!”

Nabi murka dan menjawab: “Celaka. Kalau saya saja tidak adil, lantas siapa yang adil!? Seandainya saya tidak adil, niscaya kamu buntung dan rugi!”

Mendengar itu, Sayyidina 'Umar marah dan minta izin untuk membunuh lelaki itu. Tapi Nabi SAW. menolak dan berkata: “Aku berlindung kepada Allah SWT. dari perkataan orang-orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri. Orang ini dan pengikutnya, kelak membaca Al-Qur’an tetapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka keluar dari agama, seperti lepasnya anak panah dari buruannya.”

Cerita ini berasal dari hadits shohih riwayat Imam Muslim. Di dalam Kitâb Az-Zakât, Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dari berbagai jalur dan perbedaan matan (Shohîh Muslim bi Syarh An-Nawâwî, Vol. 7, Beirut: Ad-Dâr Ats-Tsaqâfiyah Al-Arabiyah, 1929, h. 157-160).

Siapa sesungguhnya lelaki pemrotes itu? Dari riwayat ini, belum jelas. Tapi, peristiwanya terjadi pada tahun 8 H.

Kronologi serupa diceritakan oleh Ibn Hisyam dalam Sîrah-nya. Redaksi yang digunakan Ibn Hisyam adalah “kelak dari jenis laki-laki ini lahir sekelompok orang yang berlebih-lebihan dalam agama sehingga keluar dari agama."

.(يتعمقون فى الدين حتى يخرجوا منه)

(Ibn Hisyâm, As-Sîrah An-Nabawiyyah, Beirût: Dâr Ibn Hazm, 2001, h. 590-91).

Dalam riwayat lain, Nabi SAW. membagikan emas mentah yang dikirim oleh Sayyidina Ali dari Yaman. Emas itu dibagikan kepada empat orang, yaitu Uyaynah ibn Badr, Aqro’ ibn Hâbis, Zaid Al-Khail dan Alqamah ibn ‘Ulatsah atau Amir ibn Thufail. Lalu, salah seorang sahabat memprotes: “Kami lebih pantas menerimanya ketimbang mereka.”

Ucapan ini, sampai kepada Nabi SAW. dan beliau berkata: “Apa kalian tidak mempercayaiku, padahal aku ini kepercayaan langit yang mendatangiku dengan kabar (wahyu) tiap pagi dan petang?”

Kemudian berdiri seorang laki-laki yang cekung matanya, menonjol pipi dan dahinya, lebat jenggotnya, plontos kepalanya dan cingkrang celananya, yang berkata: “Hai Rasulullah, takutlah kepada Allah SWT.”

Nabi SAW. menjawab: “Celaka! Bukankah aku ini penduduk bumi yang paling berhak untuk takut kepada Allah SWT.?”

Begitu lelaki itu berpaling, Khalid ibn Walid berkata: ”Wahai Rasulullah, izinkan aku menikam lehernya.”

Nabi SAW. menjawab: “Jangan! Barangkali dia sholat.”

Khalid menukas: “Banyak sekali orang yang sholat yang mengucapkan sesuatu yang berbeda dengan hatinya.”

Nabi SAW. berkata: “Sungguh, aku tidak diperintah untuk menyelidiki hati manusia dan membedah isi perutnya.”

Nabi SAW. kemudian menatap lelaki yang menyingkir itu dan berkata: “Sungguh, akan keluar dari jenis lelaki ini suatu kaum yang lancar membaca Kitabullâh, tetapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka keluar dari agama, seperti keluarnya anak panah dari busurnya.”

Abu Said Al-Khudlri mendengar samar-samar Rasulullah SAW. berkata: “Jika aku jumpai mereka, akan aku perangi mereka seperti kaum Tsamud.”

Riwayat ini, muttafaqun ‘alaih. Tercantum dalam Shohih Bukhôrî (Kitâbul Maghôzî) dan Shohîh Muslim (Kitâbuz Zakât).

Siapa lelaki pemrotes itu? Namanya belum tersebut. Tapi, ciri-cirinya digambarkan lebih rinci dan peristiwanya terjadi pada tahun 9 Hijriyah setelah peristiwa Hunain dan menjelang pelaksanaan Haji Wada’.

Kendati demikian, nama lelaki itu muncul dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori-Muslim dengan sedikit perbedaan redaksi:

عن أبي سعيد قال بينا النبي صلى اللّه عليه وسلم يقسم جاء عبد اللَّه بن ذي الخويصرة التميمي فقال « اعدل يا رسول اللّه » فقال « ويلك ومن يعدل إذا لم أعدل » قال عمر بن الخطّاب « دعني أضرب عنقه » قال « دعه فإنّ له أصحابا يحقِر أحدكم صلاته مع صلاته وصيامه مع صيامه يمرقون من الدّين كما يمرق السّهم من الرّميّة ينظر في قذذه فلا يوجد فيه شيء ثم ينظر في نصله فلا يوجد فيه شيء ثمّ ينظر في رصافه فلا يوجد فيه شيء ثمّ ينظر في نضيّه فلا يوجد فيه شيء قد سبق الفرث والدم آيتهم رجل إحدى يديه أو قال ثدييه مثل ثدي المرأة أو قال مثل البضعة تدردر يخرجون على حين فرْقة من النّاس » قال أبو سعيد « أشهَد سمعت من النّبيّ صلى اللّه عليه وسلم وأشهد أنّ عليّا قتلهم وأنا معه جيء بالرجل على النعت الّذي نعته النبيّ صلّى اللّه عليه وسلم » قال فنزلت فيه ومنهم من يلمِزك في الصّدقات.  متفق عليه

Dari Abu Sa'id, ia berkata: “Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW. yang tengah membagi-bagikan (ghonîmah), datanglah 'Abdullah ibn Dzil Khuwaishirah At-Tamimi dan berkata: “Wahai Rasulullah, berlakulah adil!”

Rasulullah SAW. menjawab: “Celaka! Siapa yang bisa adil kalau saya saja tidak adil!?”

Kemudian ‘Umar ibn Khattab berkata: “Wahai Rasulullah, biarkan saya memenggal lehernya!”

Nabi SAW. menjawab: “Biarkan dia. Kelak dia akan punya banyak pengikut yang sholat kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengab sholat mereka. Puasa kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan puasa mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari busurnya. Maka, ketika diperiksa ujung panahnya, tidak ditemukan apa-apa. Diteliti batang panahnya, tidak ditemukan apa-apa. Diselidiki bulu anak panahnya, tidak ditemukan apa-apa. Anak panah itu menembus kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah lelaki yang salah satu lengan atasnya atau dadanya bagaikan payudara wanita atau terdapat segumpal daging kenyal yang bergerak-gerak. Mereka akan muncul saat terjadinya perpecahan manusia.”

Abu Sa’id berkata: “Saya bersaksi bahwa saya mendengar hadits ini dari Rasulullah SAW. Dan saya bersaksi bahwa ‘Ali ibn Abu Thalib memerangi mereka dan saya bersamanya saat didatangkan seorang laki-laki yang disebutkan ciri-cirinya oleh Rasulullah SAW.”

Kemudian turunlah ayat: ”Dan diantara mereka ada yang mencelamu dalam pembagian zakat.” (HR. Bukhari-Muslim).

Hadits ini tercantum dalam Shohîh Bukhôri (Kitâb Istitâbatil Murtaddin wal Mu’ânidîn) dan Shohîh Muslim (Kitâbuz Zakât).

Ibn Hajar Al-Asqolâni memastikan bahwa dua peristiwa protes—dengan latar belakang ghonîmah Hunain dan emas kiriman sayyidna 'Ali dari Yaman—adalah dua peristiwa berbeda yang boleh jadi melibatkan aktor yang sama (Ibn Hajar Al-Asqolâni, Fathul Bârî, Vol. 12, Beirut: Dâr Ihyâ-it Turâts Al-Araby, 1988, h. 244; Vol. 8, h. 55).

Lelaki pemrotes itu, yang diramalkan oleh Nabi SAW. di tahun 8-9 H., belakangan menjadi Khowarij yang muncul sebagai firqoh agama dan politik pada tahun 37 H. selepas Perang Shiffin. Yaitu Mereka yang protes terhadap keputusan Sayyidina 'Ali yang bersedia menerima arbitrase (tahkîm). Mereka menggemakan kalimat lâ hukma illa lillâh dan keluar dari barisan Sayyidina 'Ali. Semua pihak yang terlibat dalam tahkîm, baik dari kubu Sayyidina 'Ali maupun Mu’awiyah, dicap oleh Khowarij ini sebagai kafir dan halal darahnya.

Tiga tahun setelah itu, Sayyidina 'Ali ibn Thalib ditikam dan wafat oleh 'Abdurrahman ibn Muljam, anggota Khowârij. Mereka juga mengincar Mu’awiyah, tetapi gagal melakukan eksekusi.

Khowârij dan Ciri-cirinya

'Abdullah ibn Dzil Khuwaishirah, nama lainnya adalah Hurqûsh ibn Zuhair As-Sa’dy, digambarkan sebagai lelaki sholeh. Berbagai riwayat shohih menggambarkan lelaki Bani Tamim ini satu klan dengan Muhammad ibn Abdul Wahab At-Tamimi—pendiri Wahabi, dengan sejumlah ciri fisik: cekung matanya, menonjol tulang pipi dan dahinya, lebat jenggotnya, plontos kepalanya dan cingkrang celananya.

Dari jenis lelaki ini, kelak lahir para ahli ibadah yang membasahi bibirnya dengan bacaan Al-Qur’an hingga dikenal sebagai Al-Qurra’. Ibadah mereka tekun. Tangannya kapalan. Diantara dua matanya terdapat tanda bekas sujud. Rasulullah SAW. berkata, “Bacaan kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan bacaan mereka. Sholat kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan sholat mereka. Puasa kalian tidak ada apa-apanya bila dibanding dengab puasa mereka.”

Namun, kesholehan itu sirna karena mereka merasa paling sholeh. Mereka membaca Al-Qur’an dan menyangka Al-Qur’an hujjah bagi mereka. Padahal, Al-Qur'an menjadi hujjah terhadap mereka. Kata Ibn 'Umar, mereka adalag seburuk-buruknya makhluk Allah SWT.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW. pernah menyuruh para sahabat utamanya, yaitu Abu Bakar, 'Umar bin Khaththab dan 'Ali bin Abi Tholib untuk membunuh seorang laki-laki yang kondang ibadah tetapi ujub dengan ibadahnya. Mereka juga merasa paling benar dan mengukuhi pendapat sendiri. Yang tidak sejalan dengan mereka, dituding sesat dan kafir. Pengikutnya berasal dari anak-anak muda belia yang cekak akalnya. Mereka mengucapkan sebaik-baik perkataan manusia, tetapi tidak menyelami maknanya. Sabda Nabi SAW.:

‏‏سيخرج في آخر الزّمان قوم أحداث الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من خير قول البريّة يقرءون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدّين كما يمرق السّهم من الرّميّة فإذا لقيتموهم فاقتلوهم فإِنّ في قتلهم أجرًا لمن قتلهم عند اللَّه يوم القيامة. رواه مسلم

“Akan muncul di akhir zaman sekelompok anak-anak muda belia yang cekak akalnya dan mengucapkan sebaik-baik perkataan manusia. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka keluar dari agama, seperti melesatnya anak panah dari busurnya. Jika kalian menjumpai mereka, perangilah mereka. Karena memerangi mereka ada pahala di sisi Allah SWT. di hari kiamat.” (HR. Muslim).

Ciri lain Khowârij adalah memberontak terhadap pemimpin. Kata Ibn Hajar, mereka disebut Khowârij karena keluar dari ketaatan kepada pemimpin dan kemudian meninggalkannya dan jama'ahnya. Awalnya adalah protes terhadap kebijakan pemimpin seperti yang dilakukan oleh Dzil Khuwaishirah kepada Nabi SAW. Giliran berikutnya lalu memberontak terhadap pemimpin seperti yang dilakukan oleh 'Abdullah ibn Al-Kawwa’ dan gerombolannya kepada Sayyidna 'Ali. Mereka meninggalkan Sayyidina 'Ali dan menuju lembah yang dinamakan Harûrâ.

Apa alasan pemberontakan itu? Sayyidina 'Ali sebagai Ulil Amri dituduh telah meninggalkan hukum Allah SWT. berdasarkan pengertian mereka yang sempit. Dulu, Dzul Khuwaishirah menuduh Nabi SAW. tidak adil. Dan penerusnya, lalu menuduh menantu Nabi SAW. ('Ali bin Abi Tholib) telah mencampakkan Kitabullâh karena menerima tahkîm.

Ciri Khowârij berikutnya adalah gemar memakai ayat Al-Qur'an yang turunnya sebetulnya diperuntukkan bagi orang kafir, digunakan untuk “memukul” orang mu'min. Mereka, misalnya, menggunakan ayat 44, 45, 47, surat Al-Maidah:

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون والظالمون والفاسقون.

untuk mengafirkan Sqyyidina 'Ali karena telah menerima tahkîm.

Sayyidina 'Ali, dengan enteng pun menjawab:
كلمة حق يراد بها الباطل 

(kalimat benar, maksud kalimatnya yang salah).

Mereka menjustifikasi Al-Qur’an untuk makar terhadap Ulil Amri yang tidak sejalan dengan mereka.

Memberontak terhadap kekuasaan yang sah, yang tidak nyata tiran dan maksiat, merupakan ciri khas Khowârij. Jadi, Khowârij memang tercatat dalam sejarah Islam. Cikal bakalnya telah ditandai Nabi SAW. pada tahun 8-9 H. Tetapi, wujudnya baru menjelma pada tahun 37 H.

Sebagai entitas sejarah, Khowâij telah lenyap. Tetapi ciri dan karakternya, bisa ditemukan di sepanjang zaman. Mereka adalah sekelompok ahli ibadah yang berlebihan dalam agama. Sehingga malah kehilangan inti agama.

Pendahulu Khowârij, Dzul Khuwaishirah, digambarkan berjenggot tebal, bercelana congklang dan berdahi hitam—tanda-tanda kesholehan bagi anggapan sebagian orang. Namun, Nabi SAW. justru melaknatnya sebagai pendahulu seburuk-buruknya makhluk.

Sedangkan penerus Dzul Khuwaishirah digambarkan sebagai sekumpulan ahli ibadah. Bacaan Al-Qur’an, sholat dan puasa mereka tidak ada bandingannya. Tetapi Nabi SAW. justru memerintahkan kita untuk memerangi mereka. Kenapa? Karena mereka membajak Islam untuk membela nafsu mereka dalam memonopoli kebenaran.

Khowârij adalah penduhulu kelompok takfîri. Hukum Allah SWT. diringkus dalam tafsir mereka yang sempit. Siapa saja yang tidak berhukum dengan hukum Allah SWT. dalam pengertian mereka—dicap sesat, kafir dan boleh diperangi.

Doktrin mereka subversif. Ulil Amri yang tidak menerapkan hukum Allah SWT. menurut tafsir mereka yang sempit itu, boleh dirongrong dan digulingkan. Selain pendahulu kelompok takfîri, Khowârij adalah pendahulu tradisi bughot dalam sejarah Islam. Padahal, Al-Qur’an memerintahkan orang beriman untuk taat kepada Allah SWT., taat kepada Rasulullah SAW. dan Ulil Amri (An-Nisa’/4: 59).

Taat kepada Ulil Amri bersifat muqayyad, artinya tidak sama dengan membeo dan menjilat. Kritik perlu, tetapi kritik tidak sama dengan makar. Oposisi loyal penting, tetapi bughot tidak dibenarkan dalam Islam.

Apakah kita temukan ciri-ciri Khowârij di zaman now? Tengoklah kanan-kiri dan periksalah diri kita sendiri. Mudah-mudahan, kami, kalian dan kita semua tidak termasuk golongan yang dilaknat Nabi SAW. sebagai seburuk-buruk makhluk itu. Wal-‘iyâdhu biLlâh.


* Oleh: M. Kholid Syeirazi, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP. ISNU).
Read More

Berhukum Dengan Selain Hukum Allah


muslimpribumi.com - “Indonesia adalah negara thâgût karena tidak berhukum dengan hukum Allah SWT. Indonesia negara hukum, tetapi hukum ciptaan manusia. Padahal tidak ada hukum selain hukum Allah (ان الحكم الا لله) (QS. al-An’âm/6: 57; QS. Yûsuf/12: 40). Kewajiban setiap Muslim berjihad menegakkan hukum Allah SWT. dalam sebuah pemerintahan Islam. Siapa mengabaikan, berarti membela thâghût (anshârut thâgût).”

Kira-kira begitu materi fikih siyâsah yang mulai marak di berbagai tempat. Dari kampus perguruan tinggi hingga kantor pemerintahan dan BUMN. Mahasiswa dan elite profesional yang baru belajar Islam terhentak begitu dibacakan firman Allah SWT.: ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون.. فأولئك هم الظالمون.. فأولئك هم الفاسقون… (Siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah SWT., mereka itulah orang-orang kafir.. mereka itulah orang-orang dholim .. mereka itulah orang-orang fasik—QS. al-Mâidah/5: 44, 45, 47).

Seusai kajian, orang resah. Tiba-tiba mereka ingin berontak terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang “sekuler.” Mereka mulai unggah status di media sosial atau bikin portal. Isinya men-thagut-kan NKRI dan Pancasila, menjelek-jelekkan pemerintahan “sekuler" dan mencaci ormas Islam/tokoh Islam pembela thâghût.

Ada juga yang bilang, slogan “NKRI Harga Mati” itu merusak tauhid dan menyebabkan syirik. Ini segendang sepenarian. Ternyata narasi Islam yang dibangun di sekitar kita masih akan terus memproduksi Muslim-Muslim pemberontak.

Teman saya bercerita, di sebuah masjid di salah satu negara bagian di Amerika, seorang penceramah menegaskan tentang kewajiban orang Islam memperjuangkan tatanan Islam. Dia menyuruh orang Islam berjuang menegakkan pemerintahan Islam atau selemah-lemahnya menyatakan di dalam hati tidak rela terhadap sistem sekuler.

Bayangkan, di lingkungan minoritas saja Islam diajarkan dalam narasi pemberontakan. “Mau bagaimana lagi, Al-Qur’an-nya bilang begitu,” dalih mereka. Kita bisa bayangkan dahsyatnya jika doktrin ini diproduksi dan dipropagandakan di lingkungan Islam mayoritas. Hasilnya, selepas Arab Spring, Abu Bakar al-Baghdadi dan ISIS sukses melumat Timur Tengah dan Afrika. Luluh lantak semuanya. Dan melihat apa yang sedang terjadi di sini, tidak mustahil Indonesia korban berikutnya.

Untung saja kita punya referensi. Tak perlu risau atas tuduhan thâghût dan mencampakkan hukum Allah SWT. Tuduhan serupa pernah dilontarkan oleh sekelompok orang, yang keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib RA., dan kemudian membangun markas di Harura, 3,2 kilometer dari Kufah, Irak. Mereka disebut kaum Khawarij. Mereka mengkafirkan semua pihak yang terlibat dalam tahkim, baik dari kubu Ali RA. maupun Mu’awiyah , dengan tuduhan meninggalkan hukum Allah SWT.

Tahkim adalah perbuatan menunjuk hakam (juru runding atau arbitrer) untuk memutus sengketa. Ini praktik negosiasi yang lazim dalam sistem demokrasi dan bagian dari pengamalan syûra yang diperintahkan Al-Qur’an (QS. Ali Imran/3: 159; QS. as-Syura/42: 38). Tetapi kaum Khawarij menolak itu. Tahkim bagi mereka adalah mengadakan hukum sendiri di luar ketentuan Allah SWT. Hukum Allah SWT. bagi mereka adalah Mu’awiyah dan pendukungnya dibunuh, hartanya dirampas sebagai ghanîmah. Tanpa kompromi, tidak ada negosiasi dan tidak perlu demokrasi. Titik! Hukum manusia sudah ditetapkan dari langit, tak perlu mengadakan hukum baru di muka bumi.

Gen Khawarij yang berontak menurun ke kaum Neo-Khawarij. Berontak bukan sembarang berontak, mereka membawa kitab suci. Karena itu, siapa saja yang tidak cocok dengan mereka berarti melawan kitab suci alias kafir. Tradisi takfîrî juga diikuti kaum Neo-Khawarij. Dalam tulisan sebelumnya telah disinggung (baca: Lelaki Pemrotes Nabi dan Khawarij Zaman Now), mereka adalah kaum ahli ibadah yang membasahi lidahnya dengan Kitabullah, tetapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka seburuk-buruk makhluk dan Rasulullah memerintahkan kita memerangi mereka.

Saya ingin cuplikkan kisah yang menarik, kisah Ibn Abbas mengajak debat Khawarij dan membujuk mereka kembali ke jalan yang benar. Kisah ini diriwayatkan oleh sejumlah rawi seperti Thabarani, Hakim, Baihaki, dan Nasa’i. Saya akan menggunakan versi yang diriwayatkan oleh Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubrâ, Kitâb al-Khashâish, Bâb Dzkri Munâdlarati Abdillah ibn Abbâs al-Harûriyyah (7/479). Riwayatnya panjang lengkap dengan terjemahannya.

عن عبد اللّه بن عباس قال: لما خرجت الحروريّة اجتمعوا فى دار وهم ستة آلاف أتيت عليّا رضى اللّه عنه فقلت « يا أمير المؤمنين أبرد بالظّهر لعلّى آتى هؤلاء القوم فأكلّمهمْ ». قال « إنّى أخاف عليك ». قال قلت « كلاّ ». قال فخرجت آتيهم ولبست أحسن ما يكون من حلل اليمن فأتيتهم وهم مجتمعون فى دار وهم قائلون فسلّمت عليهم فقالوا « مرحَبا بك يا أبا عبّاس فما هذه الحلّة؟ » قال قلت « ما تعيبون علىّ لقد رأيت على رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم أحسن ما يكون من الحلل ونزلت (قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِى أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ) ». قالوا « فما جاء بك؟ » قلت « أَتيتكم من عند صحابة النبى صلى الله عليه وسلم من المهاجرين والأنصار لأبلِغكم ما يقولون وتخبرونى بما تقولون فعليهم نزل القرآن وهم أعلم بالوَحى منكم وفيهم أنزل وليس فيكم منهم أحد ». فقال بعضهم « لا تخاصموا قريشا فإن اللّه يقول (بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ) ».

قال ابن عبّاس « وأتيت قوما لم أَر قوما قط أشدّ اجتهادا منهم مسهّمة وجوههم من السّهر كأنّ أيديهم وركبهم ثفن عليهم قمصٌ مرحّضة ». قال بعضهم « لنكلّمنّه ولننظرنّ ما يقول ». قلت « أخبرونى ماذا نقمتم على ابن عمّ رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم وصهره والمهاجرين والأنصار». قالوا « ثلاثا » قلت « ما هنّ؟ ». قالوا « أما إحداهنّ فإنّه حكّم الرّجال فى أمر اللَّه قال اللَّه عزّ وجلّ (إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ) وما للرّجال وما للحكم ». فقلت « هذه واحدة ». قالوا « وأَما الأخرى فإنّه قاتل ولم يسب ولم يغنم فلئن كان الذين قاتل كفّارا لقَد حلّ سبيهم وغنيمتهم وإِن كانوا مؤمنين ما حلّ قتالهم ». قلت « هذه ثنتان فما الثالثة؟ » قالوا « إنّه محا اسمه من أمير المؤمنين فهو أمير الكافرين. »

قلت « أعندكم سوى هذا؟ ». قالوا « حسبنا هذا ». فقلت لهم « أرأيتم إن قرأْت عليكم من كتاب اللّه ومن سنّة نبيّه صلى الله عليه وسلم ما يردّ به قولكم أترضوْنَ؟ ». قَالُوا « نعم ». فقلت لهم « أمّا قولكم حكّم الرّجال فى أمر اللَّه فأَنا أَقرأ عليكم مَا قد ردّ حكمه إلى الرّجال فى ثمن ربع درهم فى أرنب ونحوها من الصّيد فقال (يا أيها الذين آمَنوا لا تقتلوا الصّيد وأنتم حرم) إلى قوله (يحكم به ذوا عدل منكم) فنشدتكم باللَّه أَحكم الرّجال فى أرنب ونحوها من الصّيد أفضل أم حكمهم فى دمائِهم وإِصْلاح ذات بينهِم وأَن تعلموا أنّ اللَّه لو شاء لحكم ولم يصيّر ذلك إلى الرّجال وفى المرأة وزوجها قال اللَّه عزّ وجلّ (وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهُمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاَحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا) فجعل اللّه حكم الرّجال سنّة ماضية أخرجت من هذه؟ ». قالوا « نَعَمْ ». قال « وأمّا قولكم قاتل فلم يسب ولم يغنم أتسبون أمّكم عائشة ثمّ تستحلّونَ منها ما يستحلّ من غيرها فلئن فعلتم لقد كفرتم وهى أمّكم ولئن قلتم ليست بأُمنا لقد كفرتم فإنّ اللّه تعالى يقول (النَّبِىُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ) فأنتم تدورون بين ضلالتين أيّهما صرتم إليها صرتم إلى ضلالة ». فنظر بعضهم إلى بعض.

قلت « أخرجت من هذه؟ ». قالوا « نعم ». « وأما قولكم محا نفسه من أمير المؤمنين فأنا آتيكم بمن ترضون أريكم قد سمعتم أنّ النبى صلى الله عليه وسلم يوم الحديبية كاتب المشركين سهيل بن عمرو وأبا سفيان بن حرب فقال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم لأَمِيرِ المؤمنين « اكتب يا علىّ هذا ما اصطلح عليه محمّد رسول اللّه ». فقال المشركون « لا واللَّه ما نعلم أنك رسول اللَّه لو نعلم أنك رسول اللّه ما قاتلناك ». فقال رسول اللّه صلى الله عليه وسلم « اللهم إنك تعلم أَنّى رسولك اكتب يا علىّ هذا ما اصطلح عليه محمّد بن عبد اللّه ». « فواللَّه لرسول اللَّه صلى الله عليه وسلم خير من علىّ وما أخرجه من النبوة حين محا نفسه ». قال عبد اللّه بن عبّاس« فرجع من القوم ألفان وقتل سائرهم على ضلالة ».

(Dari Ibn Abbas, Ketika orang Khawarij membelot ke Harura—mereka ada 6.000 orang—saya mendatangi Ali RA. dan berkata, "Wahai Amirul Mukminin, undurlah salat Dhuhur hingga terik lewat. Saya mau mendatangi mereka dan mengajak mereka bicara."

Ali menjawab, "Saya khawatir mereka mencelakaimu."

Saya jawab, "Tidak perlu khawatir."

Maka aku berangkat mendatangi mereka. Aku kenakan pakaian terbaik dari Yaman. Mereka sedang berkumpul di suatu rumah tengah tidur siang. Aku ucap salam. Mereka membalas, "Selamat datang, wahai Abu Abbas. Apa-apaan ini pakaianmu?"

Saya jawab, "Jangan kalian cela aku karena aku melihat Rasulullah SAW. seperti ini dan wahyu turun (Katakanlah, Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah SWT. yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pula yang mengharamkan) rezeki yang baik?" (QS. al-A’râf/7: 32)

Lantas mereka berkata, "Apa yang membawamu datang kemari?"

Aku jawab, "Aku datang mewakili para sahabat Nabi dari kaum Muhajirin dan Anshar untuk menyampaikan kepada kalian apa yang mereka katakan, dan menyampaikan kepada mereka apa yang kalian katakan. Wahyu turun ditengah mereka dan merekalah yang paling paham isinya dan tidak turun ditengah-tengah kalian."

Kemudian salah seorang diantara mereka berkata, "Jangan ladeni orang Quraisy. Karena, mereka senang bertengkar dan Allah SWT. telah berfirman: (QS. Zukhruf/43: 58, Sungguh mereka adalah kaum yang suka bertengkar)."

Ibn Abbas berkata, "Aku mendatangi kaum yang ketekunannya dalam ibadah tidak ada yang menandingi mereka. Wajah-wajah mereka pucat karena bangun tengah malam. Tangan dan mata kaki mereka kapalan. Jubah mereka cingkrang."

Salah seorang lainnya berkata, "Biarlah kami bicara dan melayani pembicarannya."

Aku berkata, "Beritahu aku apa alasan kalian meninggalkan sepupu Rasulullah SAW. dan menantunya dan juga meninggalkan kaum Muhajirin dan Anshar."

Mereka menjawab, "Ada tiga alasan."

Aku bilang, "Apa saja?"

Mereka menjawab, "Pertama, Ali mengangkat hakam (juru putus) dalam perkara Allah SWT. padahal Allah SWT. berfirman: (QS. al-An’âm/6: 57; QS. Yûsuf/12: 40—Tidak ada hukum kecuali hukum Allah SWT.), bukan hukum orang-orang atau juru putus."

Aku berkata, "Itu satu."

Mereka berkata, "Alasan lainnya Ali memerangi (pasukan unta) tetapi tidak menawan dan merampas harta mereka. Jika yang dia perangi adalah orang kafir, maka boleh menawan dan merampas harta mereka. Tetapi jika mereka mukmin, maka tidak boleh mereka diperangi."

Aku berkata, "Ini yang kedua. Apa nomor tiganya?"

Mereka menjawab, "Ali menghapus (dalam naskah perundingan) gelar Amirul Mukminin. Berarti dia Amirul Kafirin."

Aku berkata, "Apa kalian masih punya alasan lain?"
Mereka bilang, "Tidak, cukup ini saja."

Maka aku bilang kepada mereka, "Kalau aku datangkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi untuk menolak alasan kalian, apa kalian mau?"

Mereka menjawab, "Iya."

Maka aku sampaikan ke mereka, "Alasan pertama kalian bahwa Ali mengangkat hakam dalam perkara Allah SWT., aku bacakan firman Allah SWT. yang mengembalikan hukum-Nya kepada hakim dalam perkara harga seperempat kelinci dan sejenisnya daripada binatang buruan: 'Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram,' hingga firman-Nya, 'maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak (yang) seimbang dengan buruan yang dibunuhnya menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu' (QS. al-Mâidah/5: 95). Maka demi Allah, lebih penting manakah perkara kelinci dan binatang buruan dibanding urusan nyawa dan perdamaian umat? Dan kalian tahu jika Allah SWT. menghendaki, Dia akan putuskan sendiri tanpa menyerahkannya kepada manusia. Allah SWT. juga serahkan perkara suami-istri yang cekcok kepada hakam: 'Dan jika kamu takut pertengkaran diantara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari pihak laki-laki dan hakam dari pihak perempuan. Jika kedua hakam itu bermaksud mengadakan perdamaian, Allah SWT. akan menolong suami-istri itu kepada kebaikan' (QS. an-Nisâ’/4: 35). Allah SWT. jadikan putusan manusia sebagai hukum-Nya. Apakah cukup aku ketengahkan dalilnya?"

Mereka menjawab, "Iya."

Aku berkata, "Lalu terkait kenapa Ali RA. memerangi (pasukan unta) tetapi tidak menawan dan merampas harta mereka, apa kalian akan menawan Aisyah RA. dan menghalalkan apa yang ada padanya sebagaimana dihalalkan bagi yang lain? Jika kalian lakukan itu, kalian kafir karena dia adalah ibu kalian. Jika kalian mengingkari dia ibu kalian, kalian kafir karena Allah SWT. telah berfirman: 'Nabi itu lebih utama bagi orang-orang Mukmin daripada diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka' (QS. al-Ahzâb/33: 6). Kalian tahu dua jenis kesesatan ini. Maka kepada apa pun kalian condong ke salah satunya, kalian sesat."

Mereka kemudian saling pandang satu sama lain.

Aku berkata, "Apakah aku telah kemukakan hujjah?"

Mereka menjawab, "Iya."

Aku berkata, "Adapun pernyataan kalian terkait tindakan Ali RA. menghapus gelar Amirul Mukminin, aku akan tunjukkan contoh dari orang yang kalian hormati. Kalian pasti dengar bahwa di Hudaibiah, Rasulullah SAW. mengikat perjanjian dengan orang-orang musyrik yang diwakili oleh Suhail ibn Amr dan Abu Sufyan ibn Harb. Beliau perintah ke Ali RA. untuk menulis, ‘Ini adalah perikatan yang dibuat Muhammad Rasulullah.’ Orang-orang musyrik menolak, ‘Demi Tuhan, jika kami akui engkau utusan Allah, kami tidak akan memerangimu.’ Kemudian Rasulullah SAW. berkata, ‘Duhai Allah, Engkau tahu aku adalah utusan-Mu. Tulislah wahai Ali, ‘Ini adalah perikatan yang dibuat Muhammad ibn Abdullah.’ Maka demi Allah SWT., Rasulullah SAW. lebih baik dibanding Ali RA. Apa yang dilakukannya adalah mengikuti contoh Nabi SAW. dan dia hapus gelarnya sendiri.”

Abdullah ibn Abbas berkata, ‘Maka setelah itu mereka kembali ke barisan Ali RA. sebanyak 2.000 orang, sisanya terbunuh dalam kesesatan.’)

Saya ingin menutup hikayat ini dengan dua catatan. Pertama, jika ada orang pakai dalil men-thagut-kan NKRI dan Pancasila, tidak perlu risau. Jawablah sebagaimana jawaban Ibn Abbas. Founding Fathers yang menyiapkan kemerdekaan Indonesia dalam PPKI adalah hakam (juru runding dan juru putus) yang memutuskan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Sebagaimana tindakan Ali ibn Abi Thalib RA. mengangkat hakam untuk mengatasi pertumpahan darah, NKRI adalah produk dari para hakam untuk mengatasi perpecahan bangsa gara-gara tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Kedua, jika ada yang mengkafirkan NKRI karena tidak menerapkan hukum Allah SWT., tidak perlu galau. Jawablah dengan contoh tindakan Umar ibn Khattab RA. Hukum Allah itu bukan hanya diktat dari langit. Sebagian hukum Allah telah diserahkan kepada ijtihad manusia dengan pertimbangan kemaslahatan. Hukum Allah bukan sekadar legal formal (fiqh) yang baku, tetapi juga legal spirit (ushûl fiqh) yang dinamis sesuai dengan ada-tidaknya illat.

Umar RA beberapa kali melakukan ijtihad yang sekilas menyalahi hukum formal. Umar RA pernah mengabaikan had terhadap pencuri di masa paceklik, menambah jumlah cambukan penenggak khamr melebihi ketentuan, mencegah muallaf dari bagian zakat, dan tidak membagikan ghanimah kepada pasukan. Umar RA beberapa kali mengabaikan hukum (formal), tetapi sebenarnya sedang menegakkan hukum (substansial).

Setelah kalian sampaikan hujjah, dan mereka keukeuh, tidak perlu berkecil hati. Ibn Abbas, generasi awal yang paling alim dalam ilmu tafsir, pun hanya sanggup memulangkan kurang dari separuh para pembelot. Apalagi kita!

Oleh: M. Kholid Syeirazi, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP. ISNU).
Read More