Maulid


muslimpribumi.com - Sebagaimana telah kita ketahui dan sudah kita imani bersama bahwa orang yang telah membawa agama mulia yang kita peluk ini, yaitu Islam, adalah Muhammad bin Abdullah. Seorang manusia agung yang terlahir dari rahim Sayyidatina Siti Aminah binti Wahb.

Beliau lahir pada hari Senin, malam 12 Robi'ul Awwal tahun Gajah. Disebut dengan tahun Gajah karena pada tahun tersebut Abrahah Al-Asyram, penguasa Yaman, sedang berusaha menyerang Mekah untuk menghancurkan Ka'bah dengan pasukan gajahnya. Dan hal ini telah diabadikan oleh Allah SWT. dalam Al-Qur'an surat Al-Fiil.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW. ini disambut gembira oleh kakeknya, yaitu Abdul Muththolib. Dialah yang memberi nama seorang bayi yang telah menjadi yatim sejak berumur dua bulan dalam kandungan ibundanya ini dengan nama “Muhammad”.

Tidak hanya kakeknya saja yang gembira atas kelahiran Rasulullah SAW. ini. Pamannya, yaitu Abu Lahab, karena saking gembiranya mendengar kabar kelahiran Rasululullah SAW. ini, seketika pun langsung memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah yang telah memberinya kabar tersebut.

Kendati Abu Lahab adalah dedengkot orang kafir dan telah dikecam dalam Al-Qur'an sebagai orang celaka, karena kegembiraannya ini, dia dapat keringanan siksaan pada tiap hari kelahiran Nabi SAW. ini, yaitu tiap hari Senin.

Sebagai umat Islam, tentunya kita semua juga sangat gembira atas lahirnya Nabi kita ini. Tanpa beliau, pasti kita semua masih hidup dalam kejahiliyahan hingga hari ini. Ibarat film , beliau adalah pahlawan kita. Super hero kita semua.

Dalam kitab Haulal-Ihtifal Bidzikril Maulidin Nabawi Asy-Syarif, Sayyid Muhammad bin 'Alawi Al-Maliki Al-Hasani mengatakan bahwa 
kegembiraan atas keberadaan Rasulullah SAW. merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh agama. Firman Allah SWT., “Qul bifadllillaahi wabirohmatihi fabidzaalika falyafrohuu ,” katakanlah bahwa dengan anugerah Allah SWT. dan dengan rahmat-Nya, supaya berbahagia-lah mereka semua.

Ibnu Abbas RA. mengatakan bahwa yang dimaksud dengan anugerah dalam ayat diatas adalah ilmu. Sedangkan yang dimaksud dengan rahmat adalah Nabi Muhammad SAW.

Tentu saja setiap orang mempunyai cara berbeda-beda dalam mengekspresikan kegembiraan. Rasulullah SAW. sendiri dalam mensyukuri kelahiran beliau ini yaitu dengan berpuasa. Pernah suatu hari beliau ditanya oleh seorang sahabat yang mendapati beliau sedang berpuasa dihari senin. Beliaupun menjawab bahwa hari itu adalah hari kelahiran beliau.

Bergembira atas lahirnya Rasulullah SAW. dengan meniru beliau dengan berpuasa, tentu sangat baik. Kendati demikian, melakukan hal lain selama tidak menyimpang dan menyalahi aturan agama juga tidak apa-apa. Terlebih bila yang dilakukan itu terbukti baik dan bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. serta menambah syi'ar Islam. Seperti berkumpul untuk berdzikir, membaca Al-Qura'n, sholawatan, mendengar kisah-kisah mulia beliau, bersedekah atau lainnya.

Bersyukur dan bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. alangkah baiknya dilakukan setiap saat. Akan tetapi, lebih dianjurkan lagi 
pada setiap hari Senin dan setiap bulan Robi'ul Awwal. Sebab, hal itu adalah berkaitan dengan ketepatan waktu kelahiran Rasulullah SAW. 
Karena itu, para ulama dan kiai-kiai kita telah mengajari kita semua pada tiap hari Senin malam untuk melakukan pembacaan sholawat bersama-sama di Musholla, Masjid dan tempat lainnya. Juga melakukan hal yang sama ketika datang bulan Robi'ul Awwal selama sebulan penuh.

Tetapi sayang, kelihatannya lambat laun tradisi yang mulia ini mulai berkurang dilaksanakan dimana-mana. Semakin hari semakin meredup dan perlahan menghilang entah karena apa. 
Meskipun demikian, tiap bulan Robi'ul Awwal tiba kita masih bisa melihat kaum muslimin dimana-mana bersuka cita merayakan kelahiran Rasulullah SAW. dengan berbagai rangkaian acara.

Bukankah kita selalu bersuka cita ketika tiba hari kelahiran anak, istri atau suami kita tercinta? Bukankah kita selalu memperingati kelahiran orang-orang terdekat yang kita cintai dan sayangi itu dengan minimal membuat pesta ala kadarnya?

Kalau terhadap mereka saja kita bersuka cita karena kelahirannya, tentu terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW. kita juga sudah sepatutnya melakukan hal yang sama. Sebab, mereka dan Nabi Muhammad SAW. adalah orang-orang yang kita cintai bukan?

Akhirnya, al-mar-u ma'a man ahabbah, seseorang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang dicintainya. Semoga di akhirat kelak kita semua dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang kita cintai. Termasuk dan terlebih dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Amin. Wallaahu a'lam.

Oleh: Agus Setyabudi, Khodim di Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *