Tampilkan postingan dengan label Pancasila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pancasila. Tampilkan semua postingan

Sholawat Pancasila


rumahnahdliyyin.com - Bagi bangsa Indonesia, adanya Pancasila merupakan salah satu anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah SWT. terhadap bangsa ini. Ditengah berbagai keragaman dan kemajemukan bangsa Indonesia, terbukti Pancasila telah mampu mempersatukan bangsa ini.

Disaat yang sama, dimana banyak negara yang terkoyak dan terberai karena adanya perbedaan yang tak bisa disatukan lagi, bangsa Indonesia tetap kokoh bersatu. Keadaan Indonesia bisa seperti ini tidak lain berkat bangsa Indonesia yang mengamalkan falsafah Pancasila yang terdiri dari lima sila itu.

Baca Juga: Tasawuf Pancasila

Makanya tak heran bila kemudian bangsa ini menetapkan dan memperingati Hari Kelahiran Pancasila pada tiap tahunnya. Yakni tanggal 1 Juni. Tentu saja banyak cara yang dilakukan dalam acara peringatan tersebut. Bahkan, ada yang sampai mengekspresikannya dengan cara mengarang syair-syair tentang Pancasila dengan nada dan irama Sholawat.

Inilah syair-syair tentang Pancasila yang diberi judul dengan "Sholawat Pancasila" dengan mengikuti nada dan irama Sholawat Badar.

Baca Juga: Ini Pandangan Gand Syaikh Al-Azhar Tentang Pancasila

صَلَاةُ الله سَلَامُ الله * عَلَى طَهَ رَسُولِ الله
صَلَاةُ الله سَلَامُ الله * عَلَى يس حَبِيبِ الله

Ponco silo dasar negoro * isine cocok karo agomo
Mulo ayo podo diamalno * ben negoro iso tambah joyo

Esa kuwi maknane siji * yo iku iman marang Kang Siji
Ojo syirik ojo ngadohi * marang agomo ajaran ilahi

Nomer loro kemanungsan * ingkang adil cocok aturan
Ojo delok opo agamane * kabeh menungso podo asale

Nomor telu persatuan * ojo ra rukun podo tukaran
Agomo ngongkon kito bersatu * ngadohi khilaf lan poro padu

Nomor papat mentingno rakyat * lewat coro sing maslahat
Kebeh perkoro musyawarohno * ngono iku sing wijaksono

Kudu adil sing nomer limo * mbantu rakyat kudu sing lomo
Ojo podo mbedakke konco * ngono kuwi yo ajaran agomo

Baca Juga: Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Bangsa

Demikianlah salah satu ekspresi dalam mensyukuri lahirnya Pancasila. Sebuah ekspresi yang positif dan perlu diapresiasi serta menjadi inspirasi bagi warga Indonesia yang lainnya.

Adalah Muhammad Ni'am yang mengarang Sholawat Pancasila di atas. Ia mengaku, inspirasi untuk mengarang sholawat ini ia dapatkan ketika tengah mengikuti upacara Peringatan Hari Pancasila.

"Saya sendiri yang buat. Tadi pas upacara saya mikir, harusnya ada sholawatan Pancasila. Karena, sholawat sekarang jadi media dakwah yang dahsyat," ungkap salah satu Pengasuh PMH Alkautsar Kajen dan Kepala SMK Pesantren Cordova Pati ini kepada muslimpribumi.com via WA.[]

(Redaksi RN)
Read More

Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Indonesia


rumahnahdliyyin.com, Lampung - KH. Ma'ruf Amin mengungkapkan bahwa saat ini banyak berkembang aqidah yang menyimpang dan memiliki cara berfikir yang menyimpang, radikal dan intoleran. Kelompok-kelompok ini bersifat eksklusif dan gampang menilai kelompok lain salah. Bahkan, gampang menuduh orang yang tidak sepaham dengannya sebagai kafir.

"Kelompok ini dapat merusak tatanan dalam bermasyarakat dan bernegara," kata kiai Ma'ruf dalam sambutannya pada acara Pelantikan Pengurus Gerakan Nasional Anti Narkoba (Ganas Annar) di Graha Bintang Universitas Malahayati Lampung, Kamis, 8 Maret 2018.

Baca Juga:
Mengapa Indonesia Tidak Mau Negara Islam

Untunglah bangsa Indonesia memiliki pemersatu bangsa yang diwariskan oleh para ulama dan pejuang NKRI, yaitu Pancasila.

"Kenapa Indonesia bisa bersatu sampai dengan sekarang ini? Adanya Pancasila dan Piagam Jakarta merupakan dua pilar yang menyebabkan bangsa kita satu dalam bingkai ke-Indonesia-an," jelas kiai yang kini mengemban tugas sebagai Rais 'Aam PBNU dan Ketua MUI itu.

Selain itu, kiai Ma'ruf yang juga Ketua Umum Ganas Annar Pusat ini menjelaskan bahwa Pancasila merupakan "kalimatun sawa" (pernyataan kebersamaan). Sila-sila dalam Pancasila, jelasnya, tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan, justru menambah kesejukan kehidupan ditengah keberagaman Indonesia.

"Kehidupan seperti di Indonesia ini, harus disebarkan ke seluruh dunia agar kehidupan di dunia bisa seperti kehidupan di Indonesia," tegasnya. []


* Sumber: nu.or.id
Read More

Tasawuf Pancasila


Seharusnya, umat Islam tidak perlu lagi mempersoalkan posisi antara agama dan negara. Menurut penulis, masalah agama dan negara itu sudah selesai secara politis ketika pendiri bangsa menetapkan Pancasila sebagai dasar negara.

Pancasila adalah dasar negara. Sedangkan Islam merupakan akidah yang harus dipedomani. Pancasila mengakui dan menghormati nilai-nilai ketuhanan dan keagamaan dalam islam. Pancasila telah mampu berdampingan dengan agama Islam dan agama lainnya di Indonesia.

Begitulah memang bahwa sejatinya napas atau ruh dari Pancasila itu sendiri ialah Ketuhanan Yang Maha Esa. Agama (aturan Tuhan) telah hadir dimuka bumi menjadi satu paket dengan proses penciptaan manusia itu sendiri. Oleh karenanya, ketika siapapun mempersoalkan eksistensi agama (dengan produk peradabannya) dan atau akan memisahkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan agama, sama halnya memisahkan ikan dengan air. Atau memisahkan manusia (mahluk hidup) dengan oksigen.

Dengan demikian, Pancasila dan Agama tidak sekadar dapat berdampingan. Justru lebih dari itu, dalam konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, Pancasila akan kehilangan makna jika tidak dijiwai dan atau mengejawantahkan nilai-nilai kebenaran universal agama (Ketuhanan) itu sendiri.

Substansi dari agama yang diturunkan oleh Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa ialah untuk menjamin tata kehidupan manusia yang berkeadaban secara holistik integral jauh dari tirani dan eksploitasi antara satu dengan yang lain, baik dalam konteks individual maupun komunal. Pancasila yang merupakan sumber dari segala sumber hukum bagi bangsa Indonesia menempatkannya sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis. Sehingga setiap materi muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Hal inilah kemudian yang belakangan sempat menjadi perdebatan ketika lahirnya regulasi (perda) berbasis syari’ah dipandang tidak selaras dengan Pancasila. Padahal, ketuhanan adalah inti dari Pancasila itu sendiri. Ketika sebuah sistem dibangun berdasarkan ketuhanan, insya Allah sudah secara otomatis akan melindungi harkat martabat kemanusian dan keadilan sosial sekaligus.

Jika dilihat dari aspek sejarah, para ulama' Islam memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai contoh, peran pendahulu Nadhlatul Ulama', KH. Wahid Hasyim, yang memiliki komitmen kebangsaan saat terlibat langsung dalam menyiapkan kemerdekaan Indonesia bersama Soekarno, Mohammad Hatta dan tokoh lainnya. Kalau warga NU ditanya, pilih Islam atau Pancasila, ya dua-duanya. Islam dan Pancasila itu sejalan. Islam itu aqidah, sedangkan Pancasila itu dasar negara. Tidak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila.

Sebagai negara berideologi Pancasila, Indonesia bukanlah negara sekuler atau negara yang memisahkan antara agama dengan negara. Disisi lain, negara kebangsaan Indonesia yang ber-Pancasila juga bukan negara agama atau negara yang berdasarkan atas agama tertentu. Negara Pancasila pada hakekatnya adalah negara kebangsaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa.

Pancasila dan ajaran Islam sama-sama mengajarkan budi pekerti luhur. Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia adalah objektivikasi ajaran Islam. Jika dihayati dengan benar, pancasila juga bisa menjadi pengendali tingkah laku. Karena pancasila juga berisi ajaran moral.

Pancasila merupakan cerminan ajaran Al-Qur'an, tetapi dibahasakan dengan budaya setempat. Sehingga bisa diterima oleh kelompok Non-Muslim sekalipun.

Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam adalah Pancasila bukan agama dan tidak bisa menggantikan agama. Pancasila bisa menjadi wahana implementasi Syari'at Islam. Pancasila dirumuskan oleh tokoh bangsa yang mayoritas beragama Islam. Selain hal-hal di atas, keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam juga tercermin dari kelima silanya yang selaras dengan ajaran Islam.

Islam mengajarkan sebuah ajaran kerohaniaan yang disebut dengan tasawuf. Tasawuf menekankan pentingnya manusia untuk mengenal Tuhannya, yang pada implikasinya akan bisa mengendalikan tingkah lakunya. Ajaran tasawuf lebih menekankan pada pendidikan hati, pengamalan dan penghayatan terhadap agama yang dalam hubungan sosial akan mengakibatkan terkendalinya tingkah laku maupun perbuatannya karena senantiasa merasa melihat ataupun dilihat oleh Tuhannya.

Setidaknya ada dua makna yang disebut dengan Tasawuf Pancasila. Pertama, Tasawuf Pancasila adalah dimana nilai Islam dan kebangsaan berpadu dalam cinta dan perdamaian dengan ungkapan ad-diin huwa al-hubb, agama adalah cinta. Inilah perangkat moral dan etik untuk mengajarkan nilai dasar Islam sebagai agama yang membawa kedamaian, mengajarkan cinta dan kasih sayang.

Kedua, Tasawuf Pancasila sebagai spiritualitas baru diharapkan menjadi energi gerak kolektif bangsa Indonesia untuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Pancasila dan tasawuf sama-sama sebagai penegak moral. Pancasila dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, sedangkan tasawuf dalam konteks keagamaan.

Pancasila dan Tasawuf sebagai sama-sama penegak moral, maka menarik untuk bagaimana melihat Pancasila dalam perspektif Tasawuf sebagai inti dari ajaran Islam, karena penekanan dari ajaran Tasawuf ialah konsep ihsan, yaitu selalu merasa melihat atau dilihat oleh Allah SWT. yang pada implikasinya dapat mengendalikan tingkah laku maupun perbuatannya dalam hubungan sosial, berbangsa, dan bernegara.

Ketiga, Konsep Tasawuf Pancasila adalah dimana agama dan negara tidak bisa dipisahkan dalam sejarah bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, Indonesia hari ini memerlukan sosok yang bisa menjadi jembatan antara ketiga konsep tersebut. Saat ini Indonesia mulai kehilangan sosok yang mampu menjembatani antara Pancasila, agama dan negara.

Saya berharap kepada organisasi kemasyarakatan yang berbasis agama, seperti NU, Muhammadiyah, Mathla’ul Anwar, dan lain-lain, harus berperan aktif dalam membumikan Tasawuf Pancasila ini.

Untuk itu, ayo mari saya mengajak sahabat untuk ber-Tasawuf Pancasila. Karena penulis adalah sebagai pendidik, dalam mimbar ini setidaknya memberikan sumbangsih saran, yaitu: kita harus ada kesadaran kolektif, terkhusus dari lingkungan pendidikan. Misal, perguruan tinggi dengan menggagas wacana diskusi dan implementasi mengenai peran Tasawuf Pancasila sebagai memanifestasi rahmatan lil alamin. Rahmat untuk seluruh umat manusia melalui cinta dan perdamaian.

Menurut penulis, ini penting. Keterlibatan “orang-orang tercerahkan” itu akan meneguhkan sinergitas dan integrasi dua arus pendekatan sekaligus, yaitu: teoretis dan praktis, ilmi dan amali.


* Oleh: Eko Supriatno, penganggit buku “Politik Zaman Now”, tenaga ahli DPRD Provinsi Banten.
Read More