Tampilkan postingan dengan label Gus Dur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gus Dur. Tampilkan semua postingan

Di Bulan Gus Dur, Jaringan Gusdurian Menerima Asia Democracy and Human Rights Award 2018


rumahnahdliyyin.com - Bulan Desember ini adalah bulan istimewa bagi kami, Jaringan Gusdurian Indonesia. Pertama, bulan ini adalah bulan Gus Dur. Bulan ketika kita semua memperingati wafatnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di bulan ini, haul Gus Dur diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia untuk mengenang sekaligus menebarkan tauladan beliau.

Kedua, di Desember tahun ini, Jaringan Gusdurian mendapatkan anugerah Asia Democracy and Human Rights Award 2018 oleh The Taiwan Foundation for Democracy (TFD). Penghargaan ini secara langsung diberikan oleh Presiden Republik China Taiwan, Ibu Tsai Ing-wen.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Menurut TFD, Jaringan Gusdurian telah bekerja untuk mempromosikan dialog antaragama, multikulturalisme, konsolidasi masyarakat sipil, toleransi, demokrasi dan hak asasi manusia. Dengan berpegang pada sembilan nilai utama Gus Dur, JGD selama ini tak kenal lelah berjuang untuk kebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama.

Jaringan Gusdurian juga dinilai telah melakukan intervensi yang berarti terhadap masalah diskriminasi di Indonesia dengan membela mereka yang menjadi korban. Jaringan Gusdurian juga menjadi salah satu organisasi terkemuka dalam memerangi radikalisme dan intoleransi di Indonesia, termasuk mengurangi dan mengurangi potensi konflik komunal di negeri yang penuh dengan keragaman agama dan etnis.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Presiden Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia (FIDH), Dimitris Christopoulos, terkesan oleh upaya dialog antar-iman yang dilakukan oleh Jaringan Gusdirian, yang berasal dari aktivis Islam moderat di dunia dimana Islamophobia telah masuk ke dalam agenda politik.

Sementara Dr. Shin Hae Bong, Presiden Japan’s Human Rights Now, menyatakan bahwa Jaringan Gusdurian telah berkontribusi menciptakan ruang dialog yang aman bagi orang-orang dengan beragam latar belakang agama dan etnis, yang sangat penting dalam masyarakat multi-etnis, memainkan peran katalis dalam mempromosikan dialog antaragama, demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia dan di luar negeri.

Baca Juga: Ruh Gus Dur di Sidera

Penghargaan ini tentu saja membanggakan dan patut disyukuri. Ini menandakan bahwa kerja-kerja kami selama ini mendapatkan apresiasi di tingkat internasional.

Secara khusus, Jaringan Gusdurian mengucapkan terimakasih kepada The Taiwan Foundation for Democracy yang telah memberikan penghargaan ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada mitra-mitra kerja kami di Indonesia dan luar negeri yang selama ini telah membantu kerja-kerja Jaringan Gusdurian.

Penghargaan ini, secara khusus, kami dedikasikan kepada seluruh pejuang HAM di Indonesia dan seluruh dunia yang selama tidak kenal lelah terus berjuang menegakkan keadilan, demokrasi dan HAM.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Namun demikian, bagi kami, penghargaan ini lebih merupakan cambuk. Cambuk keras agar kami tidak berhenti dan terus bekerja. Perjuangan untuk menegakkan HAM tidak boleh berhenti hanya dengan sebuah award.

Bagi kami, penghargaan ini justru menjadi tanda bahwa Jarigan Gusdurian harus bekerja lebih keras dalam memperjuangkan keadilan, bebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama. Di masa mendatang kasus-kasus diskriminasi dan menguatnya politik identitas akan menjadi tantangan berat bagi kerja-kerja perjuangan Hak Asasi Manusia.

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur di Mata Profesor Jepang

Kami berharap penghargaan ini juga menjadi penanda baru bagi lebih dari seratus komunitas gusdurian yang tersebar di seluruh Indonesia untuk terus bekerja menebarkan nilai-nilai yang telah diajarkan Gus Dur bagi terwujudnya masa depan Indonesia yang lebih berperikemanusiaan.

Salam.

Seknas Jaringan Gusdurian Indonesia.
[]
Read More

Ruh Gus Dur di Sidera


rumahnahdliyyin.com - Ketika menjadi presiden, Gus Dur sering melakukan lawatan ke berbagai negara. Tujuannya untuk meyakinkan dunia internasional agar tak turut campur mengobok-obok Indonesia.

Ketika itu negeri kita diambang disintegrasi. Separatis muncul di Papua, GAM di Aceh dan RMS di Maluku yang remote-nya dimainkan di luar negeri.

Banyak orang murka. Mereka menuduh Gus Dur cuma "jalan-jalan" menghabiskan uang rakyat. Dan puncaknya waktu Gus Dur berkunjung ke ibu kota Perancis, Paris. Para pembencinya semakin menjadi-jadi.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Tapi apa kata Gus Dur saat ditanyakan hal itu, "Tahu apa mereka dengan yang saya kerjakan. Lha ngapain juga saya jalan-jalan ke Paris kalo nggak ada gunanya? Wong Paris dan Jakarta bagi saya sama saja kok. Sama-sama gelap." Ujarnya cuek. Buat Gus Dur keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk melakukan banyak hal bagi persatuan bangsa.

Hari Minggu kemarin, saya mengunjungi Sidera. Salah satu desa yang mengalami bencana Liquifaksi. Dan betapa terkejutnya saya karena bertemu Gus Dur di tempat ini.

Tapi, jangan salah paham dulu. Sebab yang saya maksud dengan pertemuan itu bukanlah pertemuan fisik. Di Sidera itu saya menemukan "ruh" Gus Dur. Gus Dur yang menjelma menjadi semangat persatuan. Semangat toleransi.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Uang

Di Sidera toleransi dijunjung tinggi. Masjid dan Gereja berdampingan. Warga muslim dan kristiani hidup rukun. Menurut warga setempat, walaupun orang Tator mayoritas, mereka tetap menghormati etnis Jawa yang minoritas.

Paska gempa di Sidera, banyak warga yang kehilangan tempat tinggal. Saya dengar, ada orang Jawa menetap di rumah orang Tator karena rumahnya hancur. Mereka diterima dengan baik layaknya keluarga sendiri.

Inilah yang mendorong komunitas para pecinta toleransi yang diperjuangkan Gus Dur (GUSDURIAN) untuk membangunkan warga Sidera Hunian sementara (Huntara). Harapannya, Huntara ini bisa didiami oleh siapa saja tanpa tersekat-sekat primordialisme.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Huntara ini menempati lokasi yang tidak terlalu luas. Letaknya di sepanjang jalan yang menghubungkan Desa Sidera dan Desa Jono Oge. Bangunanya sederhana, terbuat dari triplek dan dipetak-petak memanjang dari timur ke barat berbentuk persegi empat. Bangunan ini mengingatkan saya pada los-los pedagang di pasar tradisional di pedesaan. Selain hunian warga, dibangun juga musholla. Tempatnya pas di tengah-tengah Huntara.

Huntara terlihat mencolok, karena dicat warna-warni dan dihiasi gambar serta pesan-pesan bijak Gus Dur, sehingga ia terlihat unik dan mengundang perhatian warga yang lewat. Tidak sedikit diantara mereka yang mampir dan berswafoto di depannya.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Raga Gus Dur mamang telah tiada. Ia disemayamkan nun jauh di Jombang. Namun semangatnya tetap hidup. Ia tetap "pelesiran" ke mana-mana. Dan kini saya melihat Gus Dur berada di Sidera.[]



* Oleh : Abdul Hakim Madda
Read More

Gus Dur; Menertawakan Diri Sendiri


rumahnahdliyyin.com - Salah satu sifat Gus Dur yang tidak dimiliki oleh tokoh-tokoh besar, baik tokoh bangsa, tokoh politik, tokoh agama lainnya, apalagi cuma tokoh kecil sahaja, adalah tidak malu menertawakan diri sendiri, selain menertawakan orang lain. Bahkan menertawakan NU. Lha, bukankah dia seorang kiai? Keturunan pendiri NU, Ketua Umum PBNU lagi. Tidak mungkin deh, beliau merendahkan diri sendiri.

Saudaraku, menertawakan bukan berarti menghina. Meskipun Gus Dur semasa hidupnya sering menertawakan dirinya sendiri, serta tidak jarang menjadikan organisasi kaum nahdliyyin ini sebagai bahan kelakar, beliau pasti tak bermaksud menghina, wong ini cuma canda alias lelucon guyonan, kok. Lagi pula, kalau Gus Dur benar-benar menertawakan NU, siapa juga yang berani protes.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Dalam keseharian, sikap menertawakan orang lain, tanpa disadari, cukup sering kita lakukan, seakan-akan menjadi sebuah kebiasaan tersendiri. Kita sering menertawakan keluguan orang lain, menertawakan kelemahan serta kekurangan orang lain.

Biasanya sebagian orang yang berkecukupan suka menertawakan orang yang lebih rendah dari mereka karena cara berpakaian dan bersikapnya dianggap sangat norak. Sebaliknya, sebagian orang yang hidupnya hanya apa adanya suka menertawakan sikap orang kaya yang senang bermewah-mewah, menghamburkan kekayaan.

Begitu juga orang yang merasa pintar suka menertawakan kebodohan orang lain. Sebaliknya, orang yang bodoh suka menertawakan sikap orang pintar yang dianggap sering sok tau. Orang dari kota menertawakan orang desa. Juga sebaliknya dan seterusnya.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Sikap menertawakan orang lain memang sangatlah mudah dan bisa dilakukan kapan saja. Namun yang sering terabaikan dan mungkin sulit untuk dilakukan adalah menertawakan diri sendiri.

Kita sering lupa menertawakan sikap kita yang suka mengejek orang lain, menghina, menyakiti orang lain, membuka dan menyebarkan aib orang lain dan seterusnya. Padahal sikap menertawakan diri sendiri dapat menjadi cermin diri agar kedepannya kita dapat melakukan yang terbaik.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Konon, Umar ibn Khothob, sahabat Rosululloh, kadang suka menertawakan dirinya sendiri ketika mengingat masa lalunya yang ia anggap lucu. Betapa tidak, ia membuat patung dari roti untuk kemudian disembah. Dan ketika dia merasa lapar, patung itu ia makan sendiri.

Gus Dur memang ahlinya memainkan lelucon penertawaan diri sendiri sekaligus mencairkan ketegangan politik lewat humor. Dengan begitu, politik tak lagi muram dan hubungan sosial tidak kehilangan makna.

Seperti beliau katakan, “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.”

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Jika Gus Dur masih hidup, mungkin Gus Dur akan cengar-cengir saja melihat politik Indonesia hari ini yang penuh caci maki tapi miskin imajinasi dan kekurangan lelucon. Barangkali ia cengar-cengar juga ketika melihat meme yang menghina salah satu putrinya, Alissa Qotrunnada Munawaroh, dengan sebutan “anak si buta”.

Ketika desakan pengunduran diri kepada Gus Dur sebagai Presiden RI makin kencang di mana-mana, Cak Nun mampir ke istana. Cak Nun mendatangi Gus Dur sebagai seorang sahabat yang bermaksud mengingatkan.

“Gus, sudahlah, mundur saja. Mundur tidak akan mengurangi kemuliaan sampeyan,” kira-kira begitu kata Cak Nun kepada Gus Dur.

Jawaban Gus Dur, “Aku ini maju aja susah, harus dituntun, apalagi suruh mundur.” Mereka berdua pun ngakak.

Baca Juga: Tubuh Menurut Gus Dur

Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur tetap sibuk dan tetap lucu. Ia masih melakukan safari ke daerah-daerah. Biasanya untuk berkunjung ke teman-temannya atau mengisi pengajian sampai kampung-kampung yang jauh.

Pada suatu ceramah di sebuah kampung, Gus Dur mengajak semua yang hadir di situ untuk bersholawat barsama-sama. Para hadirin senang sekali melafalkan sholawat yang dipimpin seorang kiai besar.

Di akhir ceramah, Gus Dur nyeletuk, “Saya minta anda semua bersholawat agar saya tahu berapa banyak jumlah yang hadir. Saya, kan, gak bisa melihat,” Gus Dur membuat orang satu lapangan terpingkal-pingkal.

Baca Juga: Inilah Karakter Gus Dur yang Ditempa oleh Ibundanya

Salah satu ulah Gus Dur yang paling dikenal adalah leluconnya soal kedekatan Tuhan dengan umat beragama. Ini juga mengandung unsur penertawaan diri terhadap sesuatu yang dianggap sakral tapi sering dipahami secara kaku, yaitu agama.

“Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apalagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa,” Hadirin pun tertawa.

Seandainya Gus Dur mengucapkannya di zaman sekarang ini, mungkin beliau akan didemo oleh 7 juta umat karena dianggap menistakan agama.

Gus, kami rindu pada sampeyan.[]



* Oleh: Rusdian Malik
Read More

Tubuh Menurut Gus Dur


rumahnahdliyyin.com - Sering, ketika tamu-tamu sudah pulang, malam telah sepi, penghuni rumah tak lagi terdengar bisik-bisiknya, dan bulan di langit tertatih-tatih berjalan ke barat untuk beberapa jam kemudian tenggelam, Gus Dur tak langsung masuk kamar untuk istirahat, tidur. Beliau lebih suka tidur di ruang depan, di ruang tamu atau di ruang terbuka di mana saja yang dirasanya nyaman.

Jika pun sudah di dalam kamar, ia acap keluar kamar sendirian, sambil meraba-raba tembok lalu mencari kursi. Ia duduk-duduk di situ sambil tangannya tetap seperti mengetuk-ngetuk. Atau, ia mengambil tempat dilantai dan merebahkan tubuhnya begitu saja, atau melingkar sambil memeluk bantal.

Ia tak pernah memilih tempat untuk tubuhnya. Kebiasaan ini tidak hanya ketika ia di rumahnya, melainkan juga di tempat atau di rumah orang lain.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Uang

Pada saat ia ke pesantren saya di Cirebon dalam rangka “diadili” para ulama, ia makan sambil duduk di lantai yang hanya dilapisi tikar tipis. Lalu ketika ia singgah dan menginap di rumah Kiyai Fuad Hasyim (alm), Buntet Pesantren, Cirebon, ia juga melakukan kebiasaan itu.

“Gus Dur sering mampir ke sini untuk sekedar cari teman ngobrol ngalor-ngidul. Kadang sampai dini hari yang dingin, sambil lesehan, leyeh-leyeh. Jika sudah ngantuk beliau langsung merebahkan tubuhnya di lantai, begitu saja. Kadang melepaskan bajunya dan tidur dalam keadaan tubuh bagian atas tetap terbuka," ini cerita alm. Kiyai Fuad kepada saya suatu hari di rumahnya.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Bagi Gus Dur, tempat di mana pun sama saja. Sebab, tubuh sangat tergantung pada jiwa. Tanpa jiwa, bentuk adalah benda padat yang tak berguna.

Seorang sufi berkata: "Khudz al-lubb in kunta min uli al-albab" (ambillah saripati jika engkau seorang cendekia).

“Memanjakan tubuh sering melalaikan Tuhan”, kata para sufi.



* Oleh: KH. Husein Muhammad.
Read More

Inilah Karakter Gus Dur yang Ditempa oleh Ibundanya


rumahnahdliyyin.com - Karakter Gus Dur banyak dipengaruhi oleh ibundanya, yaitu Nyai Hj. Sholihah Wahid Hasyim. Perempuan tangguh ini mempengaruhi Gus Dur dalam keteguhan memegang prinsip dan kepedulian kepada mereka yang terpinggirkan.

Nyai Hj. Sholihah binti KH. Bisri Sjansuri ini sedang mengandung anak keenamnya, Hasyim Wahid, saat sang suami, KH. Abdul Wahid Hasyim, ulama' cum negarawan muda paling moncer dalam sejarah Indonesia, berpulang akibat kecelakaan di Bandung.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Nyai Sholihah, yang belum genap berusia 30 tahun menjanda dengan tanggungan 6 buah hati: Abdurrahman Ad-Dakhil, Aisyah, Shalahuddin, Lily Khadijah, Umar dan Hasyim Wahid. Tak tega melihatnya sendirian di Jakarta, KH. Bisri Sjansuri meminta puterinya itu kembali tinggal ke Jombang. Sholihah menolak, dia bertekad membesarkan buah hatinya sendirian di ibukota. Di era 1950-an, di mana kondisi sosial-politik dan ekonomi tidak stabil, tentu pilihan ini sangat beresiko.

Instingnya sebagai seorang perempuan tangguh mulai terasah saat dia mulai berbisnis beras. Bahkan menjadi makelar mobil dan pemasok material ke kontraktor pun pernah dia jalani. Nyai Sholihah juga merintis panti asuhan, rumah bersalin, beberapa majelis ta'lim dan kegiatan sosial lainnya. Karakter Gus Dur yang peduli wong cilik, mendahulukan kepentingan orang lain, dan tempat bersandar bagi mereka yang terpinggirkan dan terdholimi, saya kira menurun secara genetik dari ibundanya ini.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Tak hanya itu, rumahnya dia jadikan sebagai salah satu basis politik NU. Keputusan penting seputar kiprah NU di perpolitikan digodog di sini oleh dua tokoh sentralnya: KH. Bisri Sjansuri (ayahnya) dan KH. A. Wahab Chasbullah (pakdenya). Sikap NU terkait dengan Dekrit Presiden, Kabinet Gotong Royong, hingga keputusan cepat Muslimat dan NU beberapa waktu usai G-30-S/PKI digodog di sini.

Dengan kerja keras dan tirakatnya, kelak para buah hatinya menjadi orang berhasil dibidangnya: Abdurrahman Ad-Dakhil alias Gus Dur menjadi Presiden Ke-4, Aisyah Hamid Baidlawi menjadi ketua Muslimat NU dan politisi Golkar, Lili Khadijah menjadi politisi PKB, Sholahuddin Wahid menjadi pengasuh pesantren, dan Umar Wahid menjadi direktur rumah sakit di Jakarta.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Bahkan, dalam beberapa keputusan penting di PBNU, ketika para kiai "gagal" melunakkan Gus Dur, mereka memilih jalan menghadap Nyai Sholihah agar bisa melunakkan putranya. Berhasil. Gus Dur taat pada ibundanya. Karakter Gus Dur yang dipahat ibundanya, juga sama dengan yang dialami oleh seorang yatim lainnya, BJ. Habibie. Keduanya ditinggal wafat sang ayah dalam usia belia, ditempa sang ibu dan kemudian menjadi presiden RI.

Ketika Gus Dur di Universitas Al-Azhar, Nyai Sholihah kerap menitipkan (melalui para sahabatnya) beberapa botol kecap dan puluhan sarung agar Gus Dur mau menjualnya. Maksudnya, biar menjadi tambahan uang saku. Apa daya, Gus Dur memang nggak berbakat sebagai pedagang. Kecap dan sarung memang ludes, bukan dibeli. Tapi diminta para sahabat-sahabatnya.[]



* Oleh: Rijal Mumazziq Z., Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Surabaya.
Read More

Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika


rumahnahdliyyin.com - Alkisah, suatu malam yang hening di sebuah sanggar Hindu, di sisi utara Pulau Bali yang indah, tiga orang sahabat lintas-iman, dengan balutan rasa hormat dan ikatan persahabatan yang erat, berdiskusi tentang konsep wali atau santo atau orang suci.

Diskusi itu mengantarkan ketiganya pada sebuah titik pertemuan spiritualitas tertinggi, rasa keagamaan yang mendalam. Ketiga orang itu adalah Gus Dur, Ibu Gedong Bagus Oka dan Romo Mangun Wijaya.

Peristiwa ini diceritakan sendiri oleh Gus Dur dalam salah satu tulisannya. Kedalaman peristiwa itu terekam jelas dalam tulisan Gus Dur yang mengisahkan peristiwa tersebut.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

“Baik agama Hindu, Katolik maupun Islam, memandang orang suci memiliki beberapa sifat yang membedakan dari orang lain, ciri-ciri istimewa yang diberikan Tuhan, ataupun pengorbanan mereka pada kepentingan manusia. Persamaan pandangan inilah yang membuat kami saling menghormati dengan sepenuh hati. Saya tidak pernah memikirkan perbedaan, melainkan justru persamaan yang selalu kami jadikan sebagai titik pandang untuk melakukan pengabdian kemanusiaan.” (Abdurrahman Wahid, Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman, 83-84).

Kisah di atas bisa menjadi jendela penting dalam memahami pandangan Gus Dur tentang kebhinnekaan (pluralisme) dan persahabatan serta kerja sama lintas-agama. Bagi Gus Dur, kemajemukan harus diterima tanpa syarat. Karena kemajemukan adalah sebuah keniscayaan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya.

Akan tetapi, mengakui fakta kemajemukan saja tidak cukup. Mengakui adanya keragaman tanpa memiliki komitmen atasnya, tidak memiliki arti apa-apa. Pluralisme adalah sebuah sikap positif terhadap keragaman. Termasuk didalamnya adalah menjaga secara aktif hak-hak keyakinan orang lain, saling memahami dan saling peduli.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Dalam seluruh sejarah hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang terus-menerus membela kelompok-kelompok lemah yang disingkirkan hanya karena alasan perbedaan.

Bagi Gus Dur, harga kemanusiaan mengatasi segalanya. Nilai-nilai kemanusiaan-lah yang sanggup mengatasi seluruh perbedaan. Bahkan, salah satu wasiat Gus Dur kepada keluarganya adalah kelak ketika meninggal dunia, hendaknya di nisan makamnya ditulis “here lies a humanist”.

Beranjak dari penghormatannya yang kuat terhadap martabat manusia, Gus Dur terus-menerus mendorong terciptanya kerja sama lintas-agama. Sebegitu kuatnya keyakinannya pada kerja sama ini, hingga dia memandang bahwa dialog lintas-agama adalah sebuah keniscayaan.

Baginya, dialog lintas-agama adalah sebuah kewajiban sosial yang harus dijalani oleh para pemeluk agama. Jika dialog adalah prasyarat bagi terciptanya toleransi, kerja sama dan perdamaian, maka dialog antar-agama adalah keniscayaan yang harus dilalui.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

“Perbedaan keyakinan tidak membatasi atau melarang kerja sama antara Islam dan agama-agama lain, terutama dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan umat manusia. Penerimaan Islam akan kerja sama itu tentunya akan dapat diwujudkan dalam praktek kehidupan, apabila ada dialog antar agama…. Kerja sama tidak akan terlaksana tanpa dialog. Oleh karena itu, dialog antar agama juga menjadi kewajiban.” (Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda dan Islam Kita, 2006: 133-134).

Pandangan Gus Dur ini, bisa dikatakan sama dengan pendapat Hans Kung yang menyatakan bahwa, “There will be no peace among the people of this world without peace among the world religions.”

Gus Dur memandang bahwa inti dari setiap agama adalah cinta kasih kepada sesama. Salah satu statemen Gus Dur yang sangat terkenal adalah “Tuhan Yang Maha Besar, Maha Agung dan Maha Berkuasa tidak perlu dibela; Yang memerlukan pembelaan adalah manusia yang ditindas dan dianiaya.”

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur Dimata Profesor Jepang

Muara dari seluruh ajaran agama adalah cinta kasih kepada sesama manusia. Di sini, seakan Gus Dur hendak mengatakan bahwa untuk apa beragama (membela Tuhan mati-matian), jika dengan itu, martabat kemanusiaan diinjak-injak dan dinistakan.

Diatas cara pandang inilah Gus Dur menolak ekstremisme dalam agama. Baginya, agama mengajarkan perdamaian. Sedang ekstremisme mengajarkan permusuhan dan kekerasan. Ekstremisme dalam agama tidak memiliki hasil apapun kecuali menebar teror dengan memanipulasi ajaran suci agama yang penuh damai. Gus Dur pernah menyatakan, “Agama mengajarkan pesan-pesan damai. Dan ekstremis memutarbalikkannya”.

Baca Juga: Tionghoa dan Kran Pembuka Eksklusivitasnya

Suatu ketika, Gus Dur pernah berkata kepada salah seorang kepercayaannya yang non-Muslim. “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Sebagai seorang non-Muslim, si orang tersebut tidak pernah menyangka jika seorang Gus Dur, tokoh Nahdlatul Ulama, membuka lebar pintu bagi dirinya.

Gus Dur menunjukkan bahwa tempat asal kita bukanlah sebuah masalah. Bahkan, bukan sebuah masalah pula siapa orang tua atau leluhur kita. Dia berkata bahwa hanya amal baiklah yang akan membawa kita pada kebaikan.

Pandangan-pandangan inilah yang selalu disuarakan Gus Dur sebagai Guru Bangsa. Dia mencintai NKRI sebagaimana adanya. Dia membela bangsa Indonesia yang berbhinneka. Dia membela Pancasila, karena baginya, Pancasila-lah yang bisa menyatukan kita sebagai sebuah bangsa. Saat hampir semua organisasi keislaman gamang dan ragu menerima Pancasila sebagai azaz tunggal, dia dengan lantang menyatakan bahwa Indonesia tanpa Pancasila akan bubar.

Baca Juga: Islam Bhinneka Tunggal Ika

Ketika beberapa kalangan dalam Islam meributkan hubungan antara keislaman dan keindonesiaan, sambil terus-menerus memperjuangkan Indonesia yang Islam (baik menjadi negara Islam atau dominasi Islam atas agama-agama lain di Indonesia), Gus Dur dengan tegas menyatakan, “Keindonesiaan adalah ketika agama-agama atau keyakinan yang hidup di Indonesia berdiri sejajar dan memiliki kontribusi yang sama terhadap negeri.”

Baginya, esensi kesejarahan kita sebagai bangsa Indonesia adalah memastikan bahwa kita bisa hidup bersama dalam damai. “Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi kesejarahan kita yang tidak boleh kita lupakan sama sekali!,” tegasnya.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Dari mana mata air pandangan-pandangan Gus Dur sehingga mengarus pikiran-pikiran bening itu?

Pertanyaan ini perlu dilontarkan, karena banyak yang mengira bahwa pandangan Gus Dur sepenuhnya adalah sekuler. Bahkan, di kalangan umat Islam, banyak yang menuduh bahwa pikiran-pikiran Gus Dur tidak sesuai dengan Islam. Bahkan, bertendensi menghancurkan Islam.

Yang perlu diingat, Gus Dur adalah cucu KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Sejak kecil mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya, KH. A. Wahid Hasyim, yang kemudian dibimbing oleh kiai-kiai ternama hingga akhirnya dia melanjutkan studinya ke Mesir dan Irak.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Saat ini, jasadnya terbaring berdekatan dengan jasad kakek dan ayahnya di lokasi pemakaman Pesantren Tebuireng, Jombang. Adalah tidak masuk akal memisahkan pandangan Gus Dur dari keyakinan agamanya, sekalipun caranya memahami agama pasti diperkaya oleh berbagai ilmu dan pengalaman yang dimilikinya.

Dalam hal kebhinnekaan, Allah SWT. telah berfirman di dalam Al-Qur’an bahwa Dia sendirilah yang menciptakan manusia yang beraneka ragam. Surah Al-Hujurat, ayat 13, barangkali adalah salah satu ayat yang paling banyak dihafal. Disini, Allah SWT. secara tegas berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai, manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah SWT. ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Baca Juga: Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Indonesia

Allah SWT. sendirilah yang menciptakan kebhinnekaan ini. Dia sendirilah yang menghendakinya. Fakta keragaman manusia bukan karena Allah SWT. tak mampu membuatnya menjadi satu. Namun begitulah yang dikehendaki-Nya. Apakah Allah SWT. tidak sanggup membuat seluruh hamba-Nya beriman kepada-Nya? Allah SWT. tegas menjawabnya dalam surah Yunus, ayat 99:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus: 99).

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas Nilai Agama

Senada dengan ayat diatas, dibagian lain, Allah SWT. juga menyatakan bahwa setiap kaum memiliki jalan dan caranya sendiri-sendiri. Seluruh perbedaan yang ada ini diciptakan bukan tanpa tujuan. Tapi justru menjadi sarana untuk mencapai kebaikan. Sebagaimana firman-Nya:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah SWT. menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi Allah SWT. hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al-Ma’idah: 48).

Baca Juga: Antara Agama, Manusia dan Tuhan

Jelaslah bahwa Allah SWT. menjadikan keragaman ini sebagai washilah bagi umat manusia untuk meraih kebaikan. Kebaikan tidak bisa diraih dengan cara mengolok dan merendahkan orang lain. Kebaikan hanya mungkin dicapai jika kita mengakui keberadaan orang lain dengan capaian-capaiannya.

Inilah yang dikehendaki Allah SWT. dengan mencipta keragaman. Tapi, betapa seringnya capaian atau prestasi orang lain tidak membuat kita tertantang untuk fastabiqûl-khoirôt (berlomba-lomba berbuat kebajikan), namun justru melahirkan kedengkian yang kemudian mendorong kita melakukan perendahan, penghinaan, bahkan penghancuran kelompok lain.

Baca Juga: Tasawuf Pancasila

Ironisnya, tindakan-tindakan rendah ini tidak jarang justru dibalut dengan simbol-simbol agama, seakan Allah-lah yang menyuruh seluruh tindakan kekerasan dan penghancuran ini. Padahal, dalam surat Al-Hujurat, Allah SWT. telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ -

“Wahai, orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain. (Karena) boleh jadi, mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain. (Karena) boleh jadi, perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).” (QS. Al-Hujurat: 11).

Baca Juga: Islam Melarang Umatnya Merusak Rumah Ibadah Umat Lain

Bahkan, ketika Allah SWT. menggaransi bahwa hanya Islam-lah agama yang diakui oleh-Nya, Dia tetap mewanti-wanti agar keyakinan mutlak kita terhadap Islam ini tidak menggelincirkan kita untuk melakukan tindakan pemaksaan keyakinan terhadap orang lain. Kredo kebebasan beragama telah dinyatakan secara jelas oleh Allah SWT. dalam surah Al-Baqoroh, ayat 256:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama.” (Al-Baqoroh, 256).

Jadi, jelaslah bahwa yang diinginkan Allah SWT. terhadap umat Islam adalah menciptakan sebuah kehidupan yang penuh kedamaian di muka bumi. Kebhinnekaan yang ada di dunia, termasuk kebhinnekaan dalam keyakinan, adalah sunnatuLlah yang tidak bisa diingkari.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Agama, seyakin apapun kita dan sekuat apapun kita memeluknya, tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menghinakan dan berbaku hantam. Sebaliknya, agama seharusnya menjadi energi positif dalam membangun peradaban bumi, dimana setiap orang atau kelompok hidup bersama dalam damai (peacefull coexistence).

Adalah mustahil bagi orang seperti Gus Dur tidak memahami ayat-ayat ini. Sebagai seorang muslim, Gus Dur percaya bahwa Islam adalah agama perdamaian sebagaimana makna generik dari kata al-Islam itu sendiri. Dengan makna seperti ini, Islam kaffah (Islam paripurna) berarti sebuah perdamaian total. Prinsip nir-kekerasan menjadi fondasi Gus dur dalam membangun hubungan dengan orang atau kelompok lain.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Dari sinilah lahir berbagai tindakan Gus Dur yang mendamaikan. Misalnya, dialog antar-pemeluk agama, rekonsiliasi dan toleransi. Dimata Gus Dur, tindakan-tindakan ini tidak hanya merupakan kewajiban sosial. Tapi juga misi keagamaan terdalam yang wajib ditunaikan.

Izinkan saya menutup tulisan ini dengan sebuah quote dari Gus Dur yang sangat menginspirasi: “Dalam hidup nyata dan dalam perjuangan yang tak mudah, kita bukan tokoh dongeng dan mitos yang gagah berani dan penuh sifat kepahlawanan. Kita, yang bukan tokoh mitos, yang punya anak, istri dan keluarga, mengenal rasa takut. Meskipun takut, kita jalan terus. Berani melompati pagar batas ketakutan tadi. Mungkin, disitu harga kita ditetapkan.”[]



* Oleh: Ahmad Zainul Hamdi, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Sumber: santrinews.com
Read More

Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya


rumahnahdliyyin.com - Perjalanan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden RI ke-4, tak bisa dilepaskan dari peristiwa terbentuknya Poros Tengah pada 1999 yang kala itu dimotori oleh mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Amien Rais.

Saat itu, pasca-reformasi, masyarakat terbelah. Sebagian menghendaki agar BJ. Habibie melanjutkan posisinya sebagai Presiden. Sementara dikubu lain, PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu 1999, menghendaki Megawati Soekarno Putri yang jadi Presiden.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Dalam situasi politik yang memanas, bahkan sempat pecah menjadi bentrokan fisik yang dikenal dengan Peristiwa Semanggi antara "Laskar Merah" dan "Laskar Islam" itu, Poros Tengah bentukan Amien Rais muncul sebagai penengah.

Lewat Poros Tengah itu, Pak Amien Rais menengahi. Presidennya bukan Habibie, juga bukan Megawati. Dari sinilah kemudian muncul nama Gus Dur, yang kala itu sedang sakit, sebagai sosok tokoh yang memang bisa diterima oleh berbagai pihak, baik oleh kelompok Megawati maupun oleh kalangan umat Islam, untuk diusung sebagai Presiden.

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur Dimata Profesor Jepang

Setelah disepakati bahwa Gus Dur yang akan diusung jadi Presiden, Amien Rais kemudian meminta Muhaimin Iskandar (Cak Imin), yang kala itu diminta oleh Amien Rais bergabung dalam gerakan Poros Tengah itu, untuk menemaninya ke Ciganjur menemui Gus Dur.

Sebagai ABG (Anak Buah Gus Dur), saat itu Cak Imin deg-degan. Kondisi Gus Dur sakit, tapi diminta menjadi Presiden.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Setelah bertemu Gus Dur, Amien Rais mengatakan bahwa Indonesia sedang membutuhkan tokoh yang mampu jadi penengah. Amien mengatakan bahwa Gus Dur adalah pemimpin yang diharapkan mampu menenangkan pertentangan dan pertempuran antara sesama anak bangsa yang tengah memanas dalam menentukan pemimpin kala itu.

Gus Dur, setelah Amien Rais selesai bicara, tiba-tiba ambil posisi duduk dari posisi yang sebelumnya rebahan. Gus Dur pun lalu menyatakan menerima permintaan Poros Tengah itu untuk menjadi calon Presiden Indonesia.

Baca Juga: Keluarga Gus Dur Kunjungi Keluarga Mbah Moen

Mendengar pernyataan Gus Dur yang bersedia menjadi calon Presiden itu, Cak Imin mengaku kaget yang bercampur haru. Namun menurutnya, Amien Rais lebih kaget lagi.

"Lhoh, rencananya, kan, Gus Dur nolak jadi calon Presiden dan menyerahkan posisi calon Presiden pada saya?" bisik Amien Rais pada Cak Imin.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Dalam perjalanan pulang, jawaban Gus Dur yang tidak sesuai dengan skenario awal itu, membuat Cak Imin mendapat banyak pertanyaan dari para kolega yang mendukung Amien Rais menjadi calon Presiden.

Kenapa bukan Amien Rais yang akhirnya muncul sebagai alternatif yang menggantikan Gus Dur sebagai tokoh yang dicalonkan menjadi Presiden yang mewakili dari berbagai kekuatan? Menjawab cecaran pertanyaan itu, Cak Imin pun menyatakan bahwa ia tidak tahu kenapa Gus Dur bersedia dicalonkan sebagai Presiden dalam kondisi yang sakit itu.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Dari sinilah kemudian Gus Dur sering mengutarakan sebuah anekdot yang berbunyi: "Berpolitik tidak usah pakai biaya. Saya saja jadi Presiden tanpa Tim Sukses, tanpa biaya dan hanya modal dengkul. Itu pun dengkulnya Pak Amien Rais."[]
(Redaksi RN)


* Tulisan ini didasarkan pada cerita yang disampaikan oleh Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, sebagaimana dimuat di laman tempo.co, ketika ia hadir dalam forum Kongres Ulama Nusantara di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, pada Minggu, 1 Maret 2018.
Read More