Tampilkan postingan dengan label Ustadz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ustadz. Tampilkan semua postingan

Apakah Ustadz Harus Faham Agama Islam?


rumahnahdliyyin.com - Dunia semakin lucu. Semakin semarak dengan munculnya orang-orang yang dipanggil "ustadz" atau "ustadzah", padahal tidak memiliki riwayat keilmuan yang jelas. Tidak diketahui pula runutan jalur keguruannya hingga Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Mereka tetap bersikeras untuk berdakwah, padahal sebenarnya maqomnya hanyalah orang awam. Malah, kemudian menantang balik. Mempertanyakan dalil dan atau aturan baku bahwa seorang baru bisa dianggap sebagai ustadz atau ulama' kalau sudah mondok di pesantren.

Baca Juga: Inilah Jawaban Terhadap Ustadz Hijrah yang Menyatakan Nabi SAW. Pernah Sesat

Ada juga yang sambil ngamuk-ngamuk, mempertanyakan apakah ada dalilnya seorang ustadz harus bisa baca kitab kuning.

Yang lebih asik lagi, ada yang dengan tegas mengatakan bahwa gurunya ialah Rosulullah SAW. dan para Shohabat Nabi RA. Padahal, kita bakal langsung skakmat dia; Kapan ketemu Kanjeng Nabi SAW. dan para Shohabat?

Jangankan dalam disiplin ilmu agama sebesar Islam. Dalam urusan duniawi saja, ada aturannya. Ada sebagian yang dibakukan, ada sebagian yang sama-sama tahu saja. Tapi, intinya sama, yakni legitimasi dan kepercayaan masyarakat.

Baca Juga: Benarkah Nabi Muhammad SAW. itu Sesat Sebelum Menjadi Nabi?

Sebagai contoh, saya tidak pernah sekolah kedokteran, hanya baca buku terjemahan cara membedah jantung manusia. Setelah saya baca, saya praktekkan, dan belum tentu orang yang saya bedah jantungnya itu celaka.

Disisi lain, ada yang sekolah kedokteran, kemudian mengambil spesialisasi bedah jantung. Ketika membedah jantung, pasien belum tentu orangnya selamat.

Namun, jika masyarakat masih dalam kondisi waras, disaat ada pasien yang harus mendapatkan penanganan bedah jantung, maka secara otomatis hendaknya mereka memilih dokter spesialis bedah jantung. Bukan memilih saya.

Baca Juga: Kontroversi Bacaan Do'a diantara Dua Sujud

Demikian juga dalam urusan agama. Orang awam yang cuma baca buku agama terjemahan, kemudian pandai merangkai kata-kata menarik dan memukau, ketika mengeluarkan pendapat dan fatwa, belum tentu salah.

Sedangkan seorang kiai yang nyantri puluhan tahun, lalu mengasuh pondok pesantren selama puluhan tahun dengan referensi ratusan kitab kuning, ketika berpendapat atau berfatwa, belum tentu pasti benar.

Namun, umat yang waras tentu saja akan tetap memilih kiai yang berpengalaman di bidangnya, ketimbang ustadz hasil didikan kilat dan baca buku terjemahan.

Baca Juga: Bahaya Berdalil Tanpa Ilmu

Semoga kita semua senantiasa terjaga dalam kewarasan dalam memahami agama Islam yang dibawa oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. dan diteruskan oleh para Shohabat, Tabi'in, Tabi'it Tabi'in, hingga segenasi Ulama' Sholih masa kini.

Kita tidak ketemu Kanjeng Nabi SAW., jadi tidak pantas ngaku-ngaku berguru kepada Kanjeng Nabi SAW. Bahkan, para Imam Muhadditsin sekalipun butuh para ulama' yang bukan 4 generasi awal Islam untuk memahami sebuah teks suci. Agar sanadnya nyambung kepada Kanjeng Nabi SAW.

Baca Juga: Tentang Salah Kaprah Penggunaan Istilah Taubat

Lalu, siapalah kita, kok, bisa-bisanya merasa langsung berguru dengan Kanjeng Nabi SAW. dan para shohabat, serta mengabaikan sandaran keilmuan yang dibawa ulama' setelah itu?[]



* Oleh : Shuniyya Ruhama, Pengajar Ponpes Tahfidzul Qur'an Al-Istiqomah, Weleri, Kendal.
Read More

PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Kejadian yang sangat viral pada saat ini adalah adanya penceramah agama yang tidak kompeten di salah satu TV Nasional, sehingga mengundang keprihatinan ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' (LD. PBNU), KH. Maman Imanul Haq.

Kiai Maman juga menegaskan bahwa TV adalah media yang efektif ditonton dan mempengaruhi pola pikir masyarakat umum. "Apabila tayangan ceramah keagamaan yang berkualitas dengan materi dakwah yang transformatif dan aktual disuguhkan oleh penceramah yang kompeten, maka akan mengukuhkan nilai agama yang menjadi spirit perubahan dan perdamaian. Sebaliknya, bila materi ceramah yang hanya tekstual, tidak komprehensif dikarenakan ketidak-kompetenan dan cenderung menyalahkan kelompok yang berbeda, maka akan mempengaruhi masyarakat untuk saling membenci dan akan membingungkan umat," ujarnya.

Kejadian kurang bagus ini menarik perhatian bersama-sama dengan ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr (Lembaga Infokom dan Publikasi) LTN PBNU, Cak Usma, untuk memberikan solusi terhadap penyediaan ustadz penceramah yang memiliki kompetensi keagamaan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada para pihak yang membutuhkan, termasuk stasiun televisi.

"Pada saat ini telah disediakan dan terus dikembangkan website layanan Syi'ar Digital Nahdlatul Ulama' dengan alamat www.nahdlatululama.id yang menyediakan daftar profil ustadz dari berbagai propinsi dengan beragam keilmuan agama yang secara video ditampilkan di kanal video http://youtube.com/nahdlatululama sehingga memudahkan masyarakat perkotaan dan perkantoran dalam mencari ustadz," lanjut Cak Usma.

Dalam kesempatan setelah penyerahan daftar profil 30 ustadz muda NU ke stasiun TV, LDNU dan LTNNU menyepakati secara sinergis dan berkala akan menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) untuk terus mengembangkan kegiatan syiar dakwah NU secara berkesinambungan, termasuk di dalamnya untuk melakukan visit media dan penawaran kepada para pihak yang membutuhkan para ustadz penceramah yang berkompeten, memberikan solusi keagamaan dengan penuh rahmat, serta memberikan dampak sosial yang membawa perbaikan bagi peradaban.[]
Read More