Tampilkan postingan dengan label Medsos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Medsos. Tampilkan semua postingan

Gus Mus: Meski Medsos Bikin Orang Gila, Jangan Ikut Gila


rumahnahdliyyin.com, Malang - KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih akrab disapa dengan Gus Mus, meminta negara supaya tegas dalam menindak mereka yang melanggar hukum. Tidak peduli siapapun, pihak yang melakukan perbuatan melawan hukum, harus ditindak.

Permintaan yang disampaikan oleh kiai yang juga budayawan asli Rembang itu, terkait dengan terungkapnya kelompok Muslim Cyber Army (MCA) yang melakukan aktivitas menyebarkan ujaran kebencian, hoaks serta diskriminasi SARA beberapa waktu yang lalu.

"Negara harus tegas. Harus tegas. Ada pelanggaran, harus ditindak. Siapapun yang melakukannya. Ini kan negara hukum," tegas Gus Mus, selepas acara dialog kebangsaan yang bertema "Merajut Kebersamaan dalam Kebhinekaan" di Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), Selasa, 13 Maret 2018.

Baca Juga:
Berbagi Tugas Menjaga Indonesia
Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu, juga menambahkan bahwa sekali pelanggaran hukum tidak ditindak tegas, proses hukum akan tidak dihargai lagi.

"Semua yang melanggar hukum, harus ditindak. Jangan dikasih tolerir. Kalau melanggar hukum ditolerir, akhirnya kasus hukum tidak dihargai," tekannya.

Peraih penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2017 itu enggan menduga-duga siapa dalang yang berada dibalik kelompok penyebar hoaks tersebut.

"Nah, silakan menebak-nebak. Ini kan negara teka-teki," katanya sembari tertawa.

Baca Juga:
Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya
Toilet Sebagai Jalan Keluar

Namun, ia meminta semua pihak agar tidak kehilangan akal sehatnya ditengah merebaknya kabar hoaks di media sosial akhir-akhir ini.

"Umat jangan sampai kehilangan akal sehat paringane (pemberiannya) Gusti Allah. Meskipun media sosial itu membikin orang gila, jangan ikut gila," tuturnya.

Ia pun meminta supaya kebhinekaan yang sudah berlangsung di Indonesia selama ini supaya tetap dijaga.

"Ya, harus menyadari lah, kalau Indonesia rumah kita semua. Harus kita jaga bersama-sama," pintanya.[]




(Redaksi RN)


* Sumber: kompas.com
Read More

Ciri Teroris di Medsos


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Hasanuddin Ali, Founder dan CEO Alvara Research Center, mengatakan sejumlah ciri-ciri kelompok radikal dan teroris yang bisa dikenali melalui media sosial.

“Mereka melakukan indoktrinasi dengan menanamkan nilai-nilai (tafsir) agama yang radikal, ekstrim dan tertutup tentang jihad dan khilafah,” katanya pada acara Diskusi Memperkuat Media Mainstream dalam Melakukan Kontranarasi, Rabu, 7 Maret 2018, di Hotel JS. Luwansa, Jakarta.

Ia juga menyebutkan bahwa melalui media sosial, kelompok-kelompok tersebut menggunakan ayat-ayat atau dalil, misalnya, untuk membenarkan pembunuhan.

“Ciri berikutnya adalah provokasi. Mereka membangkitkan kebencian, kemarahan, permusuhan atau anti terhadap NKRI serta seruan untuk jihad, i’dad (latihan) dan hijrah,” lanjutnya pada kegiatan yang diinisiasi oleh Wahid Foundation itu.

Selain itu, kelompok-kelompok tersebut juga melakukan pelecehan terhadap negara.

“Penghinaan terhadap simbol-simbol atau lembaga negara, seperti presiden/wakil presiden, konstitusi, Pancasila, UUD '45, TNI/Polri, Densus 88 dan BNPT,” ujarnya lagi.

Melalui media sosial, kelompok-kelompok radikal juga membagikan materi pelatihan (‘idad). Seperti cara merakit bom, senjata api, rompi peledak ranjau jalan, sangkur beracun, membobol ATM, taktik perang dan strategi kemiliteran.

Tidak hanya itu, mereka juga melakukan jual beli senjata.

“Memperjual belikan berbagai macam jenis senjata api (senpi). Senapan angin (sengin), samurai (katana), pisau, golok, panah,” kata penulis buku Millenial Nusantara itu.

Secara terbuka, mereka pun melakukan aksi penggalangan dana yang bisa jadi untuk mendukung aksi teror yang mereka sebut dengan amaliyah.

Yang terakhir, mereka juga menyebarkan ancaman pembunuhan terhadap anggota TNI/Polri atau orang lain yang dicap kafir.

Ali meminta masyarakat untuk waspada. Sebab, pengguna internet di Indonesia sangat tinggi.

"Dari 262 juta penduduk Indonesia, 146, 26 juta atau 54,68 persen penduduk mengakses internet," jelasnya Ali.

Dari angka tersebut, 87,13 persen menggunakannya untuk media sosial yang mana 83,4 persen dari keseluruhan pengguna itu adalah generasi milenial. []


* Sumber: nu.or.id
Read More

Tak Perlu Menanggapi Berita Provokatif


muslimpribumi.com - Mungkin diantara kita ada yang bertanya, kenapa kita tidak pernah menjumpai bait-bait syair yang mencaci maki Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya?

Apakah memang penyair-penyair Quraisy itu tidak pernah menghina dan mencaci Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya?

Jawabnya, Tentu saja mereka sering membuat syair-syair cacian untuk Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya.
Tapi kenapa syair-syair cacian dan celaan tersebut tidak ada yang kita ketahui sekarang?

Jawabnya adalah karena para sahabat tidak ada yang mempedulikannya. Tidak ada yang membicarakannya. Apalagi menyebarluaskannya. Sehingga seiring waktu, hilanglah syair-syair celaan dan hinaan tersebut ditelan masa.

Perilaku para sahabat ini sangat baik sekali jika kita tiru di medsos, yaitu dengan tidak menanggapi berita yang provokatif, tidak membicarakannya, apalagi menyebarluaskannya. Pasti berita tersebut akan segera hilang. Biarkan saja lewat di beranda kita tanpa tanggapan.

Dalam sebuah riwayat, Sayyidina Umar RA. pernah berkata:

أميتوا الباطل بالسكوت عنه، ولا تثرثروا فيه، فينتبه الشامتون

"Matikanlah kebatilan dengan mendiamkannya. Janganlah kalian meributkannya sehingga didengar oleh orang yang (senang dengan bencana orang lain)."

Semoga kita termasuk golongan yang ada dalam pernyataan Sayyidina Umar RA. yang tertulis dalam kitab Hilyah Auliya':

إنَّ لله عبادًا يُميتون الباطل بهجره، ويحيون الحقَّ بذكره

"Sesungguhnya Allah SWT. memiliki hamba yang mematikan kebatilan dengan cara meninggalkannya. Dan menghidupkan kebenaran dengan cara menyebutkannya".


* Oleh : M.Afifuddin Dimyati, Jombang, 8 Februari 2018.
Read More

PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Kejadian yang sangat viral pada saat ini adalah adanya penceramah agama yang tidak kompeten di salah satu TV Nasional, sehingga mengundang keprihatinan ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' (LD. PBNU), KH. Maman Imanul Haq.

Kiai Maman juga menegaskan bahwa TV adalah media yang efektif ditonton dan mempengaruhi pola pikir masyarakat umum. "Apabila tayangan ceramah keagamaan yang berkualitas dengan materi dakwah yang transformatif dan aktual disuguhkan oleh penceramah yang kompeten, maka akan mengukuhkan nilai agama yang menjadi spirit perubahan dan perdamaian. Sebaliknya, bila materi ceramah yang hanya tekstual, tidak komprehensif dikarenakan ketidak-kompetenan dan cenderung menyalahkan kelompok yang berbeda, maka akan mempengaruhi masyarakat untuk saling membenci dan akan membingungkan umat," ujarnya.

Kejadian kurang bagus ini menarik perhatian bersama-sama dengan ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr (Lembaga Infokom dan Publikasi) LTN PBNU, Cak Usma, untuk memberikan solusi terhadap penyediaan ustadz penceramah yang memiliki kompetensi keagamaan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada para pihak yang membutuhkan, termasuk stasiun televisi.

"Pada saat ini telah disediakan dan terus dikembangkan website layanan Syi'ar Digital Nahdlatul Ulama' dengan alamat www.nahdlatululama.id yang menyediakan daftar profil ustadz dari berbagai propinsi dengan beragam keilmuan agama yang secara video ditampilkan di kanal video http://youtube.com/nahdlatululama sehingga memudahkan masyarakat perkotaan dan perkantoran dalam mencari ustadz," lanjut Cak Usma.

Dalam kesempatan setelah penyerahan daftar profil 30 ustadz muda NU ke stasiun TV, LDNU dan LTNNU menyepakati secara sinergis dan berkala akan menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) untuk terus mengembangkan kegiatan syiar dakwah NU secara berkesinambungan, termasuk di dalamnya untuk melakukan visit media dan penawaran kepada para pihak yang membutuhkan para ustadz penceramah yang berkompeten, memberikan solusi keagamaan dengan penuh rahmat, serta memberikan dampak sosial yang membawa perbaikan bagi peradaban.[]
Read More