Sejarah dan Keutamaan Istighotsah


rumahnahdliyyin.com - Ketika bangsa mengalami bencana, baik bencana alam, bencana sosial maupun bencana terkait carut-marutnya kepemimpinan nasional, masyarakat Muslim di Indonesia--khususnya kalangan pesantren dan warga NU--terbiasa melaksanakan Istighotsah dalam rangka memohon petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT.

Dzikir dan do'a yang terdapat dalam Istighotsah, disusun pertama kali oleh KH. Muhammad Romli Tamim, Jombang, yang kemudian disepakati oleh para kiai sepuh NU dijadikan sebagai bacaan baku secara turun-temurun hingga sekarang.

Baca Juga: Buku Tarekat dan Semangat Nasionalisme Dibagi Gratis

KH. Ishomuddin Ma'shum, telah menulis buku tentang Sejarah dan Keutamaan Istighotsah yang baru-baru ini telah diterbitkan oleh LTN Pustaka PWLTN NU Jawa Timur. Buku ini mengulas dengan sangat menarik mengenai sejarah penyusunan Istighotsah dan perkembangannya dengan disertai kisah-kisah inspiratif yang penuh hikmah.

Buku ini, dengan cukup mendalam, juga mengungkap rahasia dan keutamaan dzikir dalam Istighotsah berdasarkan Al-Qur'an, Hadits dan pendapat para Ulama' Ahlussunnah wal-Jama'ah (Aswaja). Selain itu, buku ini sekaligus juga menjawab secara ilmiah tuduhan kelompok-kelompok tertentu yang telah meyakini adanya unsur-unsur bid’ah dan kesesatan didalam Istighotsah.

Baca Juga: LTN NU Lampung Terbitkan Dua Buku Dalam Satu Periode

Ini beberapa endorsmen dari para kiai terhadap buku tersebut.

“Tradisi Istighotsah adalah tradisi yang baik yang telah diwariskan oleh para kiai pesantren dan NU. Maka, jadikan buku ini sebagai langkah awal untuk mengenalnya, sehingga kita senang menjadikannya sebagai washilah ruhiyyah agar semakin dekat dengan Allah SWT., hingga memperoleh kedamaian jiwa bersama-Nya.” KH. Anwar Manshur (Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur).

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

"Istighotsah adalah sarana seorang hamba untuk mendekat--sekaligus memohon--kepada Allah SWT. agar semua impian dan keinginan dapat dikabulkan. Istilah ini tidaklah asing bagi kalangan pesantren dan NU. Termasuk bagi para pengikut tarekat di Indonesia. Tapi, kita semua hampir tidak tahu, siapakah sebenarnya yang terlibat menyusun bacaan-bacaan Istighotsah. Hingga dalam setiap acara Istighatsah, dipastikan bacaannya sama. Karenanya, buku ini layak dibaca sebab menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus memberikan penjelasan sejarah dan keutamaan-keutamaan dalam setiap bacaanya Istighotsah." KH. Sholeh Qosim (Pengasuh PP. Bahauddin Sepanjang, Sidoarjo).

Mengenai keterangan buku secara lengkap, yaitu:

  • Judul: Sejarah dan Keutamaan Istighotsah
  • Penulis: KH. Ishomuddin Ma'shum
  • Pengantar: KH. Tamim Romli
  • Editor: Wasid Manshur
  • Penerbit: LTN Pustaka PWLTN NU Jatim
  • Tebal: 136 halaman
  • Pemesanan: 085230702045

[]
Read More

Buku Tarekat dan Semangat Nasionalisme Dibagi Gratis


rumahnahdliyyin.com - Buku berjudul Tarekat & Semangat Nasionalisme yang dibagikan secara gratis pada pembukaan acara Musyawarah Idaroh (MUSDA) ke-4 Jam'iyyah Ahlith-Thoriqoh Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Wusto Jawa Timur, menampilkan fakta sejarah tentang peran para kaum Tarekat dan kaum Sufi dalam proses berdirinya NKRI hingga kontribusinya dalam mempertahankan dan mengembangkan NKRI. Buku ini juga menepis asumsi bahwa kaum Tarekat dan Sufi hanyalah seorang yang ahli Dzikir.

"Dengan potensi sosial yang solid diikat oleh rasa kebersamaan dan ketaatan searah kepada pimpinan spiritual, maka institusi tarekat menjadi potensial untuk ditransformasikan sebagai sebuah gerakan perlawanan terhadap realitas politik dan pemerintahan yang tidak adil. Termasuk mengawal NKRI," papar Dr. Ahmad Marzuqi, Koordinator Penulisan Buku tersebut disela-sela Pembukaan acara tersebut, Sabtu, 31 Maret 2018.

Baca Juga: Peran Strategis Jatman Dalam Mengawal Keutuhan NKRI

Ada 2000 eksemplar buku Tarekat & Semangat Nasionalisme yang dibagikan secara gratis kepada para peserta aktif dalam acara tersebut. Mereka terdiri dari para Mursyid, pengurus Idaroh Aliyah, pengurus Idaroh Wustho dan beberapa tamu undangan VIP. Tamu-tamu undangan VIP tersebut antara lain yaitu Kapolda, para pejabat pemerintah dan tokoh-tokoh lintas agama.

Penulisan buku tersebut terinspirasi dari teladan KH. M. Sholeh Bahruddin selaku Pengasuh Pondok Pesantren Ngalah, Purwosari, Pasuruan.

Baca Juga: Lima Ribu Arwah Awali Pembukaan Musda Jatman Jatim

“Terkait buku Tarekat dan Semangat Nasionalisme, buku ini lahir diawali dari inspirasi beliau Romo kiai Sholeh Bahruddin selaku pengasuh Pondok Pesantren Ngalah. Selain inspirasi dari beliau, buku ini berawal dari kegelisahan dari situasi dimana negara kita sudah mulai mengalami krisis cinta tanah air," imbuh Alumni Pondok Pesantren Ngalah tersebut saat Konferensi Pers bersama para wartawan disela-sela kegiatan Musda tersebut.[]
(Dianis)
Read More

Nahdliyyin Kalbar Deklarasikan Pilkada Damai


rumahnahdliyyin.com, Sekadau – Sabtu, 31 Maret 2018, ribuan warga Nahdliyyin Kalimantan Barat mengkampanyekan dan mendeklarasikan Pilkada Damai Anti Hoax dan Isu Sara dalam acara Apel Akbar Kesetiaan Pancasila yang berlokasi di Lapangan Parkir Lawang Kuari, Desa Sungai Ringin, Kecamatan Sekadau Hilir.

“Kepada Warga NU se-Kalimantan Barat, izinkan saya menyampaikan beberapa pesan. Yang pertama, tolak politik uang dan politisasi sara Pilkada. Mari kita jaga bersama Pilkada ini menjadi Pilkada yang demokratis dan berintegritas. Tolak uangnya dan laporkan pemberinya. Bantu kami, Bawaslu, untuk mengawasi pemilu,” kata Sarifa Aryana, Komisioner Bawaslu Kalimantan Barat.

Baca Juga: Gema Yalal Wathon di Sekadau Tunjukkan Nahdliyyin di Kalbar Banyak

Bawaslu juga berpesan supaya warga Nahdliyyin memeriksa nama-namanya di DPS. Apakah namanya tercantum dalam daftar pemilihan, atau tidak.

“Dan yang kedua, periksa nama kita di pengumuman DPS dikelurahan, RW dan RT untuk memastikan hak pilih kita. Dan lapor ke posko penerimaan pengaduan jika nama kita tidak terdaftar. Mari kita bergembira menyambut pesta demokrasi pada 27 juni 2018,” pesannya.

Selain itu, Sarifa juga mengajak agar warga NU Kalimantan Barat untuk ikut berperan dan membantu Bawaslu dalam menyampaikan Pilkada Damai.

Baca Juga: LP. Ma'arif NU Kalbar Memantabkan Eksistensinya

Selanjutnya, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat, KH. Hildi Hamid, memandu warga Nahdliyyin untuk membacakan Pernyataan sikap warga NU Se-Kalimantan Barat pada Apel Kesetiaan Pancasila dan Harlah NU 92, Sabtu 31 Maret 2018 itu. Isi dari pertanyaan sikap tersebut yaitu:

  1. Menolak berita hoax/berita bohong/fitnah yang dapat memecah belah persatuan bangsa.
  2. Mendukung kepolisian melakukan penegakan hukum untuk memberantas pelaku hoax.
  3. Kami siap mendukung Pilkada Kalbar berjalan dengai damai dan menjaga pluralisme di Kalimantan Barat.

Baca Juga: Musda MUI Kalbar Bertema Ukhuwwah dan Wasathiyyah

Deklarasi Pilkada Damai ini bertujuan agar warga Nahdliyyin se-Kalimantan Barat ikut andil dan berperan untuk menebarkan kedamaian. Terutama saat Pilkada mendatang.

Acara apel Akbar yang dinilai merupakan momen yang pas untuk menyampaikan Deklarasi Pilkada Damai ini pun sekaligus untuk memastikan bahwa acara Apel Akbar ini murni acara Nahdlatul Ulama, tidak ada sangkut paut politik didalamnya.[]
(Maulida)
Read More

Gema Yalal Wathon di Sekadau Tunjukkan Nahdliyyin di Kalbar Banyak


rumahnahdliyyin.com, Sekadau - Ribuan warga Nahdliyyin se-Kalimantan Barat, siang tadi, Sabtu, 31 Maret 2018, membanjiri Lapangan Parkir Lawang Kuari, Desa Sungai Ringin, Kecamatan Sekadau Hilir. Ribuan masa tersebut hadir dalam rangka mengikuti Apel Akbar Kesetiaan Pancasila. Lantunan Lagu Mars Yalal Wathon pun bergema di lapangan tersebut.

Seluruh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama hingga Badan Otonom Nahdlatul Ulama, seperti Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU, juga para kiai, Polda dan TNI Kalimantan Barat, bersemangat, lantang dan hidmat dalam menyanyikan Mars Yalal Wathon.

Baca Juga: LP. Ma'arif NU Kalbar Memantabkan Eksistensinya

“Mars Yalal Wathon ini adalah lagu kebangsaan warga Nahdliyyin. Untuk itu, mari kita nyanyikan lagu ini dengan penuh kebanggaan,” pungkas Bang Nasir, Ketua Panitia Apel Akbar sekaligus pemandu lagu sebelum acara apel dimulai.

Semangat Nahdliyyin muda di Kalimantan Barat tidak diragukan lagi. Pasalnya, sebagian besar massa yang memenuhi lapangan tersebut adalah para Nahdliyyin muda yang merupakan santri dan pelajar yang ada di Kalimantan Barat. Mereka sangat antusias dan menjiwai ketika menyanyikan lagu mars Yalal Wathon.

Baca Juga: Musda MUI Kalbar Bertema Ukhuwwah dan Wasathiyyah

Tidak kalah dengan Nahdliyyin muda, kaum Hawa yang menjadi Fatayat dan Muslimat pun sangat bersemangat ketika menyayikan lagu karangan KH. Abdul Wahab Chasbullah itu. Mereka bernyanyi, seakan-akan telah mengenalkan lagu kebanggaan NU itu di lingkungan Sekadau.

Bergemanya lagu mars Yalal Wathon ini menunjukkan bahwa Nahdlatul Ulama di Kalimantan Barat, khususnya di Sekadau, telah maju. Antusias dan semangat warga Nahdlatul Ulama se-Kalimantan telah nampak ketika mereka mulai melantunkan lagu mars tersebut. Suara ribuan Nahdliyyin se-Kalimantan Barat tersebut menjadi saksi bahwa suara warga Nahdliyyin di Kalimantan Barat sangat banyak.[]




(Redaksi RN)
Read More

Lima Ribu Arwah Awali Pembukaan Musda Jatman Jatim


rumahnahdliyyin.com, Pasuruan - Sebanyak 5000 kartu arwah dalam kegiatan Tahlil Kubro, dibacakan untuk mengawali Pembukaan Musyawarah Idaroh (MUSDA) ke-4 Ahlith-Thoriqoh Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Wustho, Propinsi Jawa Timur. Kegiatan yang dimulai setelah Sholat Shubuh tadi itu merupakan permintaan langsung dari Ulama Jawa Timur untuk memperkuat tradisi Nahdlatul Ulama.

"Itu merupakan request langsung dari pengurus Jatman jatim untuk memperkuat tradisi kaum Nahdliyyin. Sebab, tahlil dan kirim arwah atau haul merupakan tradisi NU yang perlu dilestarikan," tutur Syukron Fanani selaku Panitia Penanggung Jawab kegiatan Tahlil Kubro dan Pembacaan Kartu Arwah disela-sela acara tersebut.

Baca Juga: Peran Strategis Jatman Dalam Mengawal Keutuhan NKRI

Ia juga menjelaskan bahwa Pembacaan Kartu Arwah tersebut dibacakan oleh Pengurus Jatman Kecamatan Purwosari, Pengurus MWC. NU Purwosari dan Segenap Ustadzh Pondok Pesantren Ngalah. Adapun Kartu Arwah tersebut berasal dari Jama’ah Thoriqoh se-Jawa Timur yang dikirim melalui pengurus Jatman Idaroh Wustho Propinsi Jawa Timur.

“Kartu arwah itu berasal dari Jama’ah Thoriqoh se-Jawa Timur yang disebar panitia melalui pengurus Jatman dari tingkat Wustho, Syu’biyah, hingga ditingkat ranting," pungkas mahasiswa Pascasarjana Universitas Yudharta Pasuruan tersebut.

Baca Juga: Pentingnya Ber-NU Menurut Habib Luthfi

Usai Tahlil Kubro, kegiatan dilanjut dengan Manaqib Kubro Sanatiyah, Yudharta Bersholawat Bersama TNI-POLRI, Pembukaan Musda, Ikrar Perdamaian Masyarakat Dunia dan Pertemuan Mursyid Thoriqoh Se-Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung hingga 1 April ini bertempat di Universitas Yudharta, Komplek Pondok Pesantren Ngalah, Pasuruan.[]
(Dianis)
Read More

Strategi Mbah Bisri Memelihara Diri dari Larangan Tamak


rumahnahdliyyin.com - Pada suatu misi pengajian, kiai Bisri Mustofa mengajak serta seorang santri seniornya. Menjelang sampai ke tempat acara, kiai Bisri menyuruh sopir berhenti di sebuah warung makan. Hidangan dipesan. Tapi si santri senior menolak ikut makan.

“Masih kenyang," katanya. Kiai Bisri pun membiarkannya.

Sampai di tempat acara, sebelum pengajian dimulai, tuan rumah terlebih dahulu mempersilakan untuk menikmati hidangan makan (malam). Tentu saja kiai Bisri menolak.

“Baru saja makan! Nanti saja."

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Usai pengajian, kembali makan malam ditawarkan. Tapi kiai Bisri tetap menolak.

“Masih kenyang."

Si santri seniorlah yang kemudian gelisah oleh lapar, karena tadi tidak ikut makan di warung. Kiainya pura-pura tidak tahu.

Melihat diantara suguhan jajanan terdapat lemper, santri itu merasa beruntung.

“Lumayan, buat ganjal perut," pikirnya.

Apa lacur, baru saja tangannya menjulur hendak meraih lemper, kiai Bisri tiba-tiba beranjak berdiri dan langsung pamitan.

Si santri harus menahan perih perut sampai esok hari. Karena besek berkat yang biasanya diberikan untuk dirayah santri-santri pun ternyata tidak diserahkan.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Menurut Imam Ghozali (Asy-Syaikh Al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali Ath-Thusi), ada yang lebih tinggi tingkatannya daripada ijtinaabun-nawaahiy (menghindari larangan), yaitu ihtiroos ‘anin-nawaahiy (memelihara diri dari larangan). Apa beda keduanya?

Dalam perkelahian, kalau orang berkelit dari pukulan, sehingga pukulan itu luput, gerakan berkelit itulah ijtinaab. Kalau orang berlindung didalam benteng, sehingga tak dapat diserang, itulah ihtiroos. Jadi, ijtinaab itu manuver, sedangkan ihtiroos itu security system.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Setiap hendak menghadiri undangan pengajian, kiai Bisri Mustofa mewajibkan diri mampir ke warung makan menjelang sampai ke tempat acara. Jajan, meskipun di tempat pengajian nanti biasanya tuan rumah menyediakan jamuan makan. Itu adalah ihtiroos ‘anith-thoma’, supaya tidak berharap-harap (thoma’) akan suguhan si tuan rumah.

Menjelang Pemilu 1977, setelah NU (terpaksa) berfusi kedalam PPP, sejumlah kiai NU justru menyeberang ke Golkar. Diantaranya lantaran iming-iming bantuan dana dari Pemerintah. Pada hari-hari itu, Kiai Bisri memborong banyak mobil. Ada tujuh buah mobil di rumah. Padahal garasi hanya cukup untuk satu. Mobil-mobil itupun dijajarkan di jalanan di depan rumah.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Meskipun ada tujuh, hanya satu saja yang dipergunakan, yaitu sebuah sedan Datsun keluaran tahun ’60-an. Bagaimana dengan enam lainnya? Tak banyak yang tahu rahasianya. Ternyata, selain sedan Datsun, mobil-mobil itu mustahil bisa hidup mesinnya kecuali didorong. Artinya, cuma body yang mulus, sedangkan mesinnya bodhol.

Apa tujuannya memborong “kereta-kereta tak berguna” macam itu?

“Untuk dipamerkan!” kata kiai Bisri.

Pameran dalam rangka apa?

“Supaya orang mengira aku ini sudah kaya raya."

Apa untungnya dianggap kaya?

“Supaya tak ada yang berani menawariku uang."

Kalau nggak mau uang, ya ditolak saja toh?

“Kalau ada yang nawari, kuatirnya justru aku yang nggak tahan…”



* Oleh: KH. Yahya Cholil Staquf, Pernah menjadi Juru Bicara Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat ini sebagai Katib ‘Aam PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang.

** Tulisan ini pernah dimuat di teronggosong.com dengan judul "Ihtiroos".
Read More

Peran Strategis Jatman Dalam Mengawal Keutuhan NKRI


rumahnahdliyyin.com - Keberadaan Jam’iyyah Ahlut-Thariqat Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) dalam rangka ikut serta menjaga keutuhan NKRI menjadi bagian terpenting dari misi keberadaan organisasi para pengamal tarekat tersebut. Sesuai dengan amanah ulama pendahulu, pengamal tarekat ini harus mampu menjadi teladan dalam menjaga moralitas dan keutuhan bangsa ditengah-tengah masyarakat.

Komitmen mengawal keutuhan NKRI menjadi spirit Idarah Wustha JATMAN Jawa Timur dalam menyelenggarakan Musyawarah Idarah (Musda) ke-4, Sabtu–Minggu (31 Maret dan 1 April 2018) di Universitas Yudharta, Pondok Pesantren Ngalah, Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur.

Baca Juga: Pentingnya Ber-NU Menurut Habib Luthfi

Melalui Musda ke-4 JATMAN Jatim itu diharapkan dapat mempererat serta memperkokoh ukhuwwah islamiyyah, basyariyyah dan wathoniyyah demi keutuhan NKRI. Sebagai forum tertinggi di Idarah Wustha (tingkat propinsi), Musda memiliki peran untuk memilih, menyusun dan menetapkan kepengurusan yang baru.

Wakil Katib Idarah Wustha JATMAN Jatim, KH. Kholil Arpapi, menuturkan bahwa Musda juga menjadi forum untuk evaluasi program kerja kepengurusan yang lalu dan merancang kembali program untuk kepengurusan berikutnya.

“Dan melaksanakan bathsul masail tarekat untuk memecahkan problematika yang berkaitan dengan tarekat,” tuturnya kemudian.

Baca Juga: Jihad Dalam Konteks Negara Bangsa di Era Modern

Faidlus Syukri, selaku Ketua panitia Musda, membeberkan peserta yang terlibat aktif dalam forum Musda tersebut. Yakni, sebanyak 55 peserta berasal dari Idarah Wustha dan 240 peserta dari Idarah Sub’iyah (tingkat kota/kabupaten).

“Ditambah dengan undangan dari Idarah Aliyah 180 orang, Idarah Wustha se-Indonesia 120 orang dan sebanyak 187 Mursyid se-Jatim, perwakilan jama'ah thoriqoh dari masing-masing syu'biyah dari Jatim, jama'ah Manaqib dan Dzikrul Ghofilin yang diasuh KH. Sholeh bahruddin” ungkapnya.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Beberapa rangkaian acara di pembukaan Musda, akan digelar. Seperti pembacaan sholawat dan Maulid Diba’, Manaqib Kubro, orasi kebangsaan oleh Kapolda Jatim (Irjen Pol. Machfud Arifin) dan Pangdam V Brawijaya (Mayjen TNI Arif Rahman), pembacaan taushiyyah Idarah Aliyah, ikrar perdamaian masyarakat dunia dan penandatanganan prasasti.

Pembukaan Musda akan dilakukan oleh Gubernur Jatim, H. Soekarwo, dan dihadiri ribuan undangan dari berbagai kalangan. Seperti TNI-POLRI, Bupati dan DPRD Kabupaten, Muspika, dunia usaha dan industri, pengurus NU, FKUB Jatim dan beberapa Negara sahabat dari Konsul Amerika, RRT, Australia dan jepang.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis

Penegasan netralitas dalam berpolitik
Musda ke-4 tahun 2018 ini juga merupakan penegasan peran strategis JATMAN dalam meneguhkan moralitas bangsa dan mengawal keutuhan NKRI. Para pengamal ajaran tarekat dalam JATMAN harus menjadi teladan dengan mewarisi sikap para ulama terdahulu yang turut serta mendirikan bangsa.

Sebagaimana nasihat Rais 'Aam JATMAN, Habib Lutfi bin Ali bin Yahya, pada Muktamar JATMAN Januari lalu bahwa warga tarekat supaya tidak hanyut dalam pusaran politik demi kepentingan kekuasaan oleh kekuatan politik tertentu.

“Politik JATMAN adalah politik kebangsaan. Yang tak lain untuk menjaga dan memelihara keutuhan NKRI,” ujarnya saat itu.

Baca Juga: Dunia Berharap Kepada NU

Hal yang sama, berlaku untuk Musda ke-4 JATMAN Jatim. Musda yang digelar bersamaan dengan tahun politik (baca: pilkada serentak) rentan dilirik oleh kekuatan politik. Tidak terkecuali kekuatan politik yang saat ini tengah berkompetisi untuk mendulang dukungan suara dalam kontestasi demokrasi di tahun politik ini.

Namun, sebagaimana ditegaskan Rais JATMAN Jatim, KH. Muh. Martain Karim, bahwa Musda ke-4 JATMAN Jatim bersih dari kepentingan elit politik yang maju sebagai calon Kepala Daerah.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Senada dengan Kiai Martain, Ketua Panitia Musda (Faidlus Syukri) juga menuturkan atas kesepakatan panitia, para kiai dan mursyid tarekat bahwa dengan tegas menolak politik praktis masuk dalam agenda Musda.

“Komitmen kita senantiasa kepada politik kebangsaan sebagaimana termanifestasikan dalam tema Musda. Yakni meneguhkan moralitas bangsa dan mengawal keutuhan NKRI,” tegas pria yang alumni Pesantren Ngalah itu.[]
 ​

Pasuruan, 29 Maret 2018
Tim Media Center Musda JATMAN ke-4 Jatim
Read More

Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, Atau Sebaliknya


rumahnahdliyyin.com, Jayapura - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Papua, Ustadz Saiful Islam Al-Payage, menegaskan bahwa umat Islam di Bumi Cendrawasih sangat mengedepankan sikap toleransi antar umat beragama. Pernyataan ini dikemukakan oleh Ustadz Payage dalam Silaturrahmi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) yang bertemakan "Merajut Persatuan dan Kesatuan, Memelihara Toleransi antar Umat Beragama di Tanah Papua" yang diprakarsai oleh Polda Papua.

"Perlu saya tegaskan bahwa umat Islam di Papua tidak sekali pun membuat intoleransi. Saya akan terdepan untuk mencegah sikap intoleransi," kata Ustadz asli Papua itu di Kota Jayapura, Papua, pada Selasa, 27 Maret 2018, sebagaimana dilansir oleh antaranews.com.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Menurutnya, umat muslim di Papua dan di Indonesia, pada umumnya telah hidup berdampingan cukup lama dengan pemeluk agama lainnya secara harmonis satu sama lain.

"Jadi, sangat salah sekali jika ada tindakan anarkis atau konflik atas nama agama. Karena, baik Islam dan Kristen, pada dasarnya adalah satu. Asal Islam dan Kristen itu satu. Jika dalam Islam disebut Nabi Ibrahim, maka dalam Kristen disebut Abraham. Dari sini-lah paham ini menyebar hingga ada Islam, Kristen, Yahudi dan agama lainnya" tambah tokoh muslim asli Papua ini yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Salafiyyah Syafi'iyyah, Situbondo, Jawa Timur.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Berbicara terkait agama, imbuh Ustadz Payage, pada intinya sama. Semua agama mengajarkan nilai universal. Nilai kebaikan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kebersihan hati dan akhlaq, sudah pasti diajarkan. Dan toleransi, juga pasti dikedepankan.

"Demi menjaga toleransi di Papua, saya harapkan isu yang terjadi diluar sana jangan dibawa ke Papua, atau sebaliknya. Saya meyakini bahwa daerah bagian barat, (Indonesia Barat, red.) pada suatu kelak akan mencontoh kerukunan dan sikap toleransi di Papua. Apalagi, semua komponen di Papua sudah komitmen untuk hidup rukun dan damai," tegasnya.

Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifai

Sedangkan mengenai pembangunan Masjid Al-Aqsha dan menaranya di Sentani, Kabupaten Jayapura, menurut Ustadz Payage sebenarnya sudah ditangani oleh MUI setempat. Hanya saja terlanjur viral kemana-mana.

"Bahkan, saya sendiri akhirnya bertemu dengan Ketua DPRD Kabupaten Jayapura untuk bahas ini. Tapi informasi beredar di media sosial facebook tidak bisa dibendung. Bahkan untuk bertindak cepat, kami gelar pertemuan di LPTQ Kotaraja, Kota Jayapura, dengan para pimpinan muslim yang ada," katanya lagi.

Sekarang, katanya lagi, sudah ada tim kecil yang dibentuk bersama untuk menyelesaikan persoalan menara masjid yang dimaksud. Sehingga, diharapkan semua pihak bersabar dalam menyikapi persolan tersebut.[]


Editor    : Redaksi RN
Sumber : antaranews.com
Read More

Gus Mus Terima Penghargaan Dari Unnes


rumahnahdliyyin.com, Semarang - KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih akrab disapa dengan Gus Mus, Kamis, 29 Maret 2018, menerima penghargaan dari kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes). Gus Mus diberikan anugerah Upakarti Parama Bhujangga karena dinilai telah memberi kontribusi besar dibidang kesusastraan di Indonesia.

Kehormatan itu diberikan dalam peringatan Dies Natalis ke-53 Unnes, siang tadi, di Auditorium Kampus Sekaran, Gunung Pati, Semarang. Selain Gus Mus, Unnes juga memberikan penghargaan Upakarti Prabaswara Mandala kepada Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.


Rektor Unnes Faturrokhman mengatakan bahwa penghargaan ini diberikan karena dua sosok itu dinilai telah memberikan kontribusi nyata sesuai visi dan misi Unnes.

"Gus Mus itu seorang ulama, budayawan, sastrawan. Beliau aset nasional yang (berhasil) menembus dunia. Dan itu sekarang mulai jarang," kata Fatur seusai peringatan Dies Natalis, siang tadi, sebagaimana dilansir oleh kompas.com.


Unnes berharap, nilai yang dimiliki Gus Mus dapat diikuti oleh masyakat diberbagai elemen.

"Biar menjadi motivasi agar diikuti sastrawan, budayawan di Indonesia," imbuh Fatur.

Baik Gus Mus maupun Hendrar, menerima penghargaan langsung dari Unnes. Gus Mus bahkan sempat mengangkat penghargaan itu hingga membuat suasana di auditorium menjadi gemuruh.


Selepas acara selesai, Gus Mus mengatakan bahwa penghargaan itu terlalu berlebihan bagi dirinya. Namun, bagi Hendrar Prihadi sangat tepat.

"Untuk Wali Kota itu pas. Kalau untuk saya sendiri, itu lebay," tutur budayawan yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, itu.[]



Editor    : Redaksi RN
Sumber : kompas.com
Read More

Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik


rumahnahdliyyin.com - Hizbut Tahrir berasal dari bahasa Arab yang disusun dalam bentuk idlofah. Hizb sebagai mudlof (kata yang disandari) yang dalam bahasa Indonesia berarti partai dan tahrir sebagai mudlof ilaihi (kata yang bersandar kepada mudlof) yang berarti pembebasan. Sehingga, Hizbut Tahrir dalam bahasa Indonesia berarti Partai (untuk) Pembebasan.

Saya kutipkan definisi Hizbut Tahrir dari sebuah buku sangat tipis berbahasa Arab, karena bahasa resmi Hizbut Tahrir adalah Bahasa Arab, berjudul Hizb At-Tahrir yang
terdiri dari 106 halaman yang terdapat definisi (at-ta’rif) dari Hizbut Tahrir sebagai berikut:

حزب التحرير هو حزب سياسي مبدؤه الإسلام فالسياسة عمله والإسلام مبدؤه وهو يعمل بين الأمة ومعها لتتخذ الإسلام قضية لها وليقودها الإعادة الخلافة والحكم بما أنزل الله إلى الوجود وحزب التحرير هو تكتل سياسي وليس تكتلا روحيا ولا تكتلا علميا ولا تعليميا ولا تكتلا خيريا

"Hizbut Tahrir adalah partai politik. Ideologinya, Islam. Maka, politik adalah aktivitasnya, sedangkan Islam adalah ideologinya. Hizbut Tahrir selalu beraktivitas diantara umat dan bersamanya untuk menjadikan Islam sebagai petunjuk baginya dan agar menjadi penuntunnya untuk mengembalikan Al-Khilafah dan berhukum dengan apa yang diturunkan Allah kepada wujud. Hizbut Tahrir adalah perhimpunan (organisasi) yang bersifat politik. Bukan organisasi kerohanian. Bukan organisasi ilmiah. Bukan organisasi pendidikan dan bukan pula organisasi sosial.”

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam di Pengadilan

Dalam buku berbahasa Arab yang berjudul Hizbut Tahrir tersebut, dijelaskan tentang aktivitas atau kegiatan Hizbut Tahrir yang keseluruhannya adalah aktivitas politik dengan penjelasan sebagai berikut:

فعمل الحزب كله عمل سياسي سواء أكان خارج الحكم أم كان في الحكم وليس عمله تعليميا فهو ليس مدرسة كما أن عمله ليس وعظاوإرشادا بل عمله سياسي تعطى فيه أفكار الإسلام وأحكامه ليعمل بها ولتحمل لإيجادها في واقع الحياة والدولة

"Maka, aktivitas Hizbut Tahrir semuanya adalah aktivitas politik, baik aktivitas itu diluar hukum atau didalam hukum. Aktivitasnya bukan bersifat pendidikan. Sehingga ia bukanlah madrasah sebagaimana bahwa aktivitasnya bukanlah memberikan petuah dan bimbingan. Namun, aktivitasnya bersifat politik yang didalamnya diberikan gagasan-gagasan Islam dan hukum-hukumnya agar diamalkan dan diwujudkan dalam kehidupan nyata dan negara (daulah islamiyyah).”

Baca Juga: Khilafah itu Institusi Politik, Bukan Agama

Website resmi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)--yang merupakan bagian Hizbut Tahrir (HT)--juga menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik yang beridiologi Islam. Bukan organisasi kerohanian, bukan lembaga ilmiah, bukan lembaga pendidikan dan bukan pula lembaga sosial. Hizbut Tahrir bermaksud membangun kembali Daulah Khilafah Islamiyah di muka bumi.

Dalam buku berbahasa Inggris, The Method to Re-Estasblish the Khilafah and Resume the Islamic Way of Life, yang dirilis oleh Hizbut Britain dinyatakan bahwa Hizbut Tahrir sebagai partai dimaksudkan untuk bekerja ke arah pembentukan pemerintahan, menerapkan Islam secara komprehensif dan membawa pesannya ke seluruh dunia.

Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah ala HTI

Dari berbagai kutipan diatas cukup jelas bahwa HTI adalah partai politik yang merupakan bagian dari Hizbut Tahrir yang juga partai politik. Bahkan, satu-satunya partai politik Islam di dunia Internasional.


* Oleh: KH. Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriah PBNU. Tulisan ini diambil dari tulisan beliau (bagian Definisi Hizbut Tahrir) yang dipresentasikan pada tanggal 15 Maret 2018 dihadapan Majelis Hakim PTUN dalam perkara gugatan TUN yang diajukan oleh ex-HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) terhadap Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM, Nomor: AHU-0028.60.10 Tahun 2014 Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum HTI.
Read More

Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asma'ul Husna Karya Gus Mus


rumahnahdliyyin.com - Kitab berjudul Al-Muna fi Tarjamah Nadhm Al-Asma’ Al-Husna, karya KH. Ahmad Mustofa Bisri, Rembang, merupakan kitab terjemah Jawa Pegon atas nadhom Asmaul Husna, yang terkenal dengan sebutan Nailul Muna.

Nadhom Nailul Muna, yang dijadikan obyek terjemah dan syarah di dalam kitab Al-Muna, merupakan salah satu wirid (bacaan dzikir yang dilanggengkan) yang disukai oleh KH. Ali Ma’shum, Krapyak, Yogyakarta.

Dahulu, KH. Ahmad Mustofa Bisri pernah mendapatkan ijazah wirid Nailul Muna tersebut langsung dari KH. Ali Ma’shum, sebagaimana yang diceritakan dalam muqoddimah kitab Al-Muna.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Berikut adalah cuplikan nadhom Nailul Muna:

بِسْمِ الْإِلَهِ وَبِهِ بَدَأْنَا :: وَلَوْ عَبَدْنَا غَيْرَهُ لَشَقَيْنَا
يَا حَبَّذَا رَبًّا وَحَبَّ دِيْنَا :: وَحَبَّذَا مُحَمَّدًا هَادِيْنَا
لَوْلَاهُ مَا كُنَّا وَلَا بَقَيْنَا :: لَوْلَاهُ مَا كُنَّا وَلَا بَقَيْنَا
اَللهُ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا :: وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا
فَأَنْزِلَنْ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا :: وَثَبِّتِ الْأَقْدَامَ إِنْ لَقَيْنَا
نَحْنُ الْأُوْلَى جَاؤُكَ مُسْلِمِيْنَ :: نَحْنُ الْأُوْلَى جَاؤُكَ مُسْلِمِيْنَ 

Baca Juga: Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Biasanya, pada waktu dulu, santri-santri Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, me-wirid-kan nadhom berbahasa Arab Asmaul Husna Nailul Muna tersebut pada setiap ba'da Shubuh ketika hendak mengaji kepada KH. Ali Ma’shum. Bukan hanya di Pesantren Krapyak saja, di pesantren-pesantren lain di Indonesia, Nailul Muna acapkali dijadikan wirid harian para santri dibeberapa pesantren yang ada di bumi Nusantara ini.

Seperti halnya di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an yang didirikan oleh KH. Muhammad Arwani Amin, Kudus, yang juga pernah mondok di Pesantren Krapyak dibawah asuhan KH. Muhammad Munawwir, Nailul Muna juga dijadikan wirid harian para santrinya. Biasanya dibaca secara rutin setelah mendirikan sholat Tahajjud.

Baca Juga: Dapat Yap Thiam Hien Award, Gus Mus: Saya Tidak Mengerti HAM

Ada beberapa pendapat mengenai siapakah yang menyusun syair-syair indah Asmaul Husna Nailul Muna tersebut. KH. Nu’man Thohir, Kajen, Pengasuh Pondok Pesantren Kulon Banon, Kajen, pernah mendapatkan cerita langsung dari KH. Ali Ma’shum bahwa kumpulan nadhom Asmaul Husna Nailul Muna ini digubah oleh Syaikh Yusuf bin Isma’il An-Nabhani, ulama besar abad ke-19 dan alumnus Al-Azhar yang juga menulis kitab Sa’adat Ad-Darain fi Ash-Shalawat ‘ala Sayyid Al-Kaunain. Ada pula yang mengatakan bahwa yang menciptakan mandhumat Nailul Muna ini adalah kiai-kiai Pondok Tremas, Pacitan, Jawa Timur.

Mengenai siapa yang menggubah mandhumat Nailul Muna, di dalam kitab Al-Muna karya KH. Ahmad Mustofa Bisri ini tidak disebutkan secara jelas. Pun, di dalam mandhumat Nailul Muna yang tersebar dan dipergunakan di pondok-pondok juga tidak dijelaskan siapakah penulisnya.

Agaknya, penyusun Nailul Muna mungkin lebih suka menyembunyikan identitasnya untuk menjaga rasa ikhlas dihadapan Allah Sang Maha Welas. Sebab, untuk menjaga keikhlasan, sebagian ulama ada yang berprinsip, “Yang penting kitabnya bermanfaat, meskipun pengarangnya tidak diingat-ingat.”

Baca Juga: Gus Mus: Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

Masyarakat pesantren percaya bahwa Asmaul Husna, sama halnya dengan wirid-wirid yang lain, memiliki beragam khasiat dan keistimewaan. Apalagi, dalam Al-Qur'an, surat Al-A’raf ayat 180, Allah SWT. menyatakan bahwa Dia memiliki Asmaul Husna atau nama-nama yang Maha Baik. Dan Dia memerintahkan para hamba-Nya agar berdoa memohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang Baha Baik itu. Perintah Allah SWT. untuk berdoa dengan menggunakan Asmaul Husna itulah yang menjadi landasan munculnya beragam bacaan dzikir Asmaul Husna yang dibalut dengan doa-doa semacam Nailul Muna.

Secara garis besar, kumpulan nadhom Nailul Muna berisi tentang macam-macam tawassul dengan Asmaul Husna yang memuat berbagai macam pujian, doa-doa dan permohonan seorang hamba. Mulai dari keselamatan agama, perlindungan dari musuh, hingga kebahagiaan dunia dan akhirat.

Baca Juga: Gus Mus: Smangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Nailul Muna yang digubah dalam bentuk mandhumat (kumpulan nadhom) indah berbahasa Arab ini, bagi masyarakat muslim Nusantara yang masih awam, tentu akan sulit dipahami maknanya. Pada umumnya, syair-syair berbahasa Arab yang digubah menjadi nadhom atau qoshidah, adalah bentuk-bentuk ungkapan yang dalam bahasa Ilmu Balaghoh disebut dengan ijaz, yakni sebuah kalimat yang kata-katanya sedikit, namun mengandung makna banyak.

Untuk memahami bentuk kalimat ijaz, tentu dibutuhkan perangkat ilmu ke-bahasa-Arab-an yang beragam, yang pada umumnya tidak dimiliki oleh kalangan awam. Oleh karena itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri tergerak untuk menulis kitab Al-Muna yang merupakan terjemahan Jawa Pegon dari kumpulan nadhom Nailul Muna karya Syaikh Yusuf bin Isma’il An-Nabhani, dengan tujuan supaya umat Islam Indonesia yang tidak memahami bahasa Arab bisa mengetahui maknanya.

Baca Juga: Toilet Sebagai Jalan Keluar

Ketika seorang hamba membaca wirid atau doa, dan ia paham betul tentang makna yang terkandung didalamnya, maka akan sangat mudah baginya untuk menghayati, meresapi dan merasakan kandungannya. Dawuh beliau, KH. Ahmad Mustofa Bisri:

كُوْلَا تَطَفُّلْ، نٓرْجٓمَاهَاكٓنْ دَاتٓڠْ بَهَاسَا جَاوِيْ كَانْطِيْ ڤٓڠَاجٓڠْ-ڠَاجٓڠْ سَاڮٓدَا ڤَارَا سٓدَيْرَيْكْ قَوْمْ مُسْلِمِيْنْ إِڠْكَڠْ كِيْرَاڠْ مٓڠُوَاسَاهِيْ لُغَةْ عَرَبِيَّةْ، سَاڮٓدْ فَهَمْ أَرْطَاسِيْڤُوْنْ. سٓلَاجٓڠِيْڤُوْنْ، كَانْطِيْ مٓمَاهَامِيْ أَرْطَوْسِيْڤُوْنْ، دُعَاءْ إِڠْكَڠْ دِيْڤُوْنْ وَاهَوْسْ سَاڮٓدْ دِيْڤُوْنْ رَاهَوْسَاكٓنْ وَوْنْتٓنْ إِڠْ مَانَاهْ

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Kitab Al-Muna karya KH. Ahmad Mustofa Bisri ini menggunakan teknik penerjemahan "makna gandul" atau terjemah "jenggotan" (bearded translation) yang dilengkapi dengan syarah atau penjelasan serta catatan-catatan pada setiap nadhom yang diterjemahkan. Dengan begitu, sehingga memudahkan orang-orang awam untuk memahami secara mendalam kalimat-kalimat bahasa Arab yang diterjemahkan.

Selain itu, dalam penulisan kitab Al-Muna yang menggunakan aksara Arab Pegon tersebut, KH. Ahmad Mustofa Bisri juga mengenalkan beberapa kosakata Arab yang dimasukkan (baca: diserap) ke dalam tulisan Pegon, seperti tathafful (تَطَفُّلْ) yang memiliki arti: merenungkan, atau memikirkan. Pengenalan beberapa istilah Arab dalam tulisan Pegon oleh para ulama Nusantara yang dilakukan “secara halus” kepada para pembaca ini, mengandung unsur pengajaran yang gradual untuk memahami kosakata-kosakata Arab secara bertahap.

Baca Juga: Gus Mus: Meski Medsos Bikin Orang Gila, Jangan Ikut Gila

Kenyataan bahwa ada banyak istilah Arab yang dimasukkan ke dalam tulisan Pegon, semakin menguatkan bahwa aksara Arab Pegon menjadi gerbang besar bagi masuknya kosakata Arab ke dalam Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain yang pernah ditulis dengan menggunakan aksara Arab Pegon. Diantara kosakata Arab yang sudah masuk dan diserap ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa melalui gerbang aksara Arab Pegon adalah: Sholat (صلاة), Zakat (زكاة), Haji (حجّ), Iman (إيمان), Islam (إسلام), Masjid (مسجد), Musholla (مصلّى) dan lain-lain.

Istilah-istilah Arab yang diserap ke dalam bahasa Jawa, bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain yang hidup di Nusantara, ketika ditulis dalam aksara Pegon tetap ditulis seperti aslinya. Tidak ada perubahan sama sekali. Oleh karenanya, keberadaan aksara Pegon ini tidak pernah merusak tatanan bahasa Arab dengan adanya penulisan istilah Arab yang tidak sesuai pakemnya itu. Juatru, Aksara Pegon menjadi pelengkap bahasa Arab yang sistem tulisannya tidak mampu menampung sistem bunyi atau fonologi bahasa-bahasa non-Arab. Dengan adanya aksara Pegon, bahasa Arab akan mudah membumi dan menyatu dengan bunyi-bunyian bahasa non-Arab serta berdialektika langsung dengan masyarakat ‘ajam tempat dimana ia menyebar.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Kitab Al-Muna fi Tarjamah Nadhm Al-Asma’ Al-Husna ini selesai ditulis oleh Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin, Leteh, Rembang, yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri, di Rembang. Tepatnya yaitu pada hari Senin, tanggal 22 Juli 1996 M./06 Rabi’ul Awwal 1417 H. dan diterbitkan oleh Penerbit Al-Miftah Surabaya dengan ketebalan 31 halaman.


* Oleh: Sahal Japara, Kepala SMPQT Yanbu’ul Qur’an 1 Pati dan Pemerhati Aksara Pegon.
Read More

Kemenag: Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri


rumahnahdliyyin.com, Yogyakarta - Mengawali penyampaiannya pada Halaqoh Santri Nusantara yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu, 28 Maret 2018, Menag Lukman Hakim Saifuddin bertanya kepada para santri dan mahasiswa yang hadir tentang siapa tokoh idolanya selain Nabi Muhammad SAW.

Seketika, berhamburan nama-nama tokoh idola yang mereka sampaikan. Ada sosok mantan Presiden RI Gus Dur, kiai dan juga budayawan KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, Pahlawan Nasional Agus Salim, hingga KH. Imam Zarkasyi yang merupakan salah satu pendiri Pondok Pesantren Gontor.

Baca Juga: Santri Milenial dan Tantangan Seabad NU

Kemudian, Lukman Hakim pun bercerita bahwa pagi tadi dirinya sempat memposting di twitternya sebuah ungkapan, "Hidup itu dijalani dengan 2 cara, bersyukur dan/atau bersabar. Kalau tak bisa bersyukur, bersabarlah. Kalau tak bisa bersabar bersyukurlah. Kalau tak bisa keduanya, terus mau hidup dengan cara apa?"

Unggahan atau postingan tersebut, kata Menag, mengajak kita semua untuk bersyukur dengan apa yang kita alami yang jauh lebih baik dibanding era generasi dahulu kita.

Baca Juga: Nahdlatul Ulama (NU) dan Pesantren di Era Milenial

Menag mengajak untuk mengedepankan rasa syukur terhadap eksistensi kita sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia.

"Kita menjadi Indonesia bukan kemauan kita. Mengapa bukan bagian dari negara lain, kok Indonesia, ini bukan pilihan kita. Tapi takdir Tuhan. Jadi, kita ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi bagian bangsa Indonesia," jelas Menag pada kesempatan itu yang dihadiri oleh civitas akademika UIN Sunan Kalijaga.

"Saya ingin katakan, betapa bangsa ini begitu religius. Inilah kita. Dan ini sejak ratusan tahun lalu. Dan Tuhan mentakdirkan kita menjadi bagian dari bangsa religius ini," lanjutnya.

“Oleh karenanya, diawal pertemuan ini, saya ingin mengajak dan mengawali dengan syukur menjadi bangsa Indonesia. Bangsa yang agamis dan majemuk. Dua hal, religiusitas dan keberagamannya. Dan sebenarnya (religiusitas dan keberagaman), miniaturnya ada di Pondok Pesantren,” ucap Menag.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Menag menyampaikan, ciri lain santri adalah memiliki kecintaan luar biasa kepada Tahah Air. Menurutnya, ini adalah hasil tempaan para pendahulu kita.

“Santri bagian inti dari bagaimana menjaga ke-Indonesia-an kita. Bangsa yang tidak bisa dipisahkan dari nilai agama dalam menjalani kehidupannya,” tuturnya.

Baca Juga: Pentingnya Kreatifitas Bagi Pesantren

Disampaikannya juga, santri diharapkan mampu mengusung moderasi agama, yaitu Islam yang moderat. Bukan yang ekstrim. Dan ini semakin relevan dengan kondisi saat ini.

Santri-lah yang punya tradisi hidup dalam kemajemukan. Kemajemukan adalah cara Tuhan menurunkan keberkahan untuk saling melengkapi, bukan saling menegasikan. Ini harus dipahami para santri dan mahawasiswa tentang Islam moderat.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

“Inilah menurut hemat saya yang harus jadi pegangan kita. Dan bersyukur pemerintah berkomitmen menempatkan santri pada posisinya untuk bagaimana menjaga eksistensi bangsa. Hari Santri ditetapkan dengan harapan santri mampu berkontribusi bagi masa depan bangsa,” ucapnya.

Penetapan Hari Santri merupakan wujud pemberian tanggung jawab bagi kalangan santri untuk menentukan nasib bangsa ini ke depan. Jadi, bukan sekedar pengakuan. Tapi harus dimaknai sebagai tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa ini.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Dalam kesempatan ini, Menag juga menyerahkan secara simbolis Bantuan Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama Tahun 2018 dan dilanjutkan dengan Deklarasi Ngayogyakarta Dari Santri Untuk NKRI.

Hadir dalam acara ini yaitu Dirjen Pendidikan Islam (Kamaruddin Amin), Rektor UIN Yogyakarta (Yudian Wahyudi), Staf Khusus Menag (Hadirrahman), Direktur PD. Pontren (Ahmad Zayadi), Kepala Biro Humas, Data dan Informasi (Mastuki), Kakanwil Kemenag Yogyakarta (M. Lutfi Ahmad) serta civitas akademika UIN Yogyakarta.


Editor    : Redaksi RN
Sumber : kemenag.go.id
Read More

Ketua LTN PBNU: Konsolidasi Potensi NU Untuk Membangun Peradaban Teknologi


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ketua Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (Infokom dan Publikasi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Hari Usmayadi, pada kesempatan Ngaji Teknologi yang digelar pada Rabu, 28 Maret 2018, di ruang Perpustakaan PBNU, di gedung PBNU lantai 2, Jakarta, menyebutkan bahwa Indonesia sedang banjir startup.

Banyaknya aplikasi yang memenuhi dunia digital Indonesia, membuat masyarakat terkena dampak dari teknologi tersebut. Sekitar 50 persen dari 250 juta lebih bangsa Indonesia ini adalah pengakses internet. Namun masih sangat sedikit yang berperan sebagai produsen, penyedia ataupun pengembang dari teknologi itu.

“Tapi sekali lagi, kita lebih banyak sebagai konsumennya,” tegasnya.

Baca Juga: Ngaji Teknologi LTN-Lakpesdam Akan Gelar Olimpiade Teknologi Terapan

Menurut Cak Usma, demikian sapaan akrab ketua LTN PBNU itu, NU sebagai ormas terbesar di negeri ini, pasti juga terkena imbas dari teknologi itu juga. Karena itu, NU harus terlibat dalam kemajuan teknologi itu. Tidak saja sebagai pengguna atau konsumen saja, tetapi juga harus aktif sebagai pencipta.

“NU secara kultural jangan hanya sebagai konsumen, dan bagaimana struktural itu mengarahkan,” ujarnya.

Baca Juga: Sosialisasi LTN NU di Papua Barat

Secara teknis, harus dibuat tim khusus untuk meneliti supaya ditemukan langkah-langkah konkret dalam menghadapi pesatnya kemajuan teknologi ini. Meskipun demikian, NU tidak boleh terjebak dalam prosesnya, sehingga tidak meninggalkan masalah lainnya.

Artinya, selain NU harus menindaklanjuti ketertinggalan yang sudah sedemikian jauh itu, NU juga harus tetap mengawal anak-anak bangsa yang masih kerap kali mengambil sisi-sisi negatif dari perkembangan teknologi.

Baca Juga: LTN NU Lampung Terbitkan Dua Buku Dalam Satu Periode

NU harus memberikan informasi ketertinggalan melalui media-media secara periodi, yang disebut Cak Usma sebagai "warning". Lalu, membuat gerakan baru supaya ditindaklanjuti.

“Perlu dibuat bola salju berikutnya yang nantinya kita tindaklanjuti,” ungkapnya.

Melihat hal tersebut, dengan demikian, salah satu tantangan NU ke depan adalah mengonsolidasi potensi NU untuk membangun peradaban teknologi sebagai energi untuk peradaban berikutnya.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Selain Cak Usma, hadir pula dalam acara ini yaitu Wakil Sekretaris Lembaga4 Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Mahbub Ma’afi, Sejarahwan Yul Amrozy dan Praktisi Teknologi Elwin Andririanto.[]


Editor    : Redaksi RN
Sumber : nu.or.id
Read More

Ngaji Teknologi LTN-Lakpesdam Akan Gelar Olimpiade Teknologi Terapan


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN)  PBNU bersama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU menginisiasi gelaran Olimpiade Matematika dan Teknologi Terapan bagi kader Nahdlatul Ulama. Wacana itu disampaikan dalam acara Ngaji Teknologi yang digelar di Perpustakaan PBNU, Jl. Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu, 28 Maret 2018. 

“Indonesia merupakan salah satu negara dengan perkembangan yang cukup besar dalam bidang ekonomi. Pasar teknologi di Indonesia juga cukup pesat perkembangannya. Kader NU yang bergerak dibisnis startup juga tak sedikit. Banyak potensi yang perlu didorong agar lebih berkembang. Agar bisa setara dengan unicorp asing semacam Ali Baba dan sebagainya, “ papar Ketua LTN PBNU, Hari Usmayadi.

Baca Juga: LTN NU Lampung Terbitkan Dua Buku Dalam Satu Periode

Ia mencontohkan sejumlah sektor yang saat ini sedang digarap. Diantaranya yaitu sektor industri pariwisata, khususnya wisata religius, pelatihan, kursus dan pendidikan berbasis teknologi komunikasi, hingga industri kreatif yang perlu diarahkan untuk masuk ke ranah bisnis online.

Senada dengan Cak Usma, demikian Ketua LTN PBNU itu akrab disapa, hal ini juga disampaikan oleh Praktisi Teknologi ITS, Elwin Andirianto. Menurut Elwin, agar NU tetap relevan, harus menyiapkan kader tangguh dibidang teknologi.

“Banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya mengadakan olimpiade Matematika dan Teknologi Terapan. Kalau yang menggerakkan NU, saya yakin dampaknya berbeda. Akan terasa bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujar Elwin.

Baca Juga: Di Papua Barat, LTN PBNU Sosialisasikan Pentingnya Media

Usulan tersebut disambut para pengurus Lembaga NU yang hadir. Yakni Ketua LTN PBNU, Wakil Ketua Lakpesdam PBNU, Daniel Zuchron, dan Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Mahbub Ma'afi.

Menurut Daniel, Olimpiade Matematika dan Teknologi Terapan perlu digelar dengan menggandeng berbagai Lembaga di PBNU.

“Ngaji Teknologi ini merupakan pijakan awal untuk gelaran olimpiade Teknologi Terapan. Setiap bulan, semua Lembaga PBNU dan berbagai stakeholder di Indonesia akan kita undang untuk membahas isu terkini berkaitan dengan kelembagaan NU. Sekaligus mematangkan rencana olimpiade tersebut. Ini perlu, agar semua lembaga di NU berjalan sinergis dalam pengabdian terhadap umat,” tandasnya.

Baca Juga: PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif

“Ini selaras dengan semangat yang digelorakan oleh Rais 'Aam kita bahwa hal yang paling penting untuk dilakukan NU adalah terus menerus melakukan perbaikan-perbaikan. Sebab, permasalahan manusia terus berkembang. Rais 'Aam juga sering menyatakan perlunya sinergi antar Lembaga dan Banom NU. Agar saling mendukung dan tak bergerak sendiri-sendiri. Apalagi bergerak secara personal” ungkap Mahbub Ma'afi yang mengamini rencana tersebut.[]




(Redaksi RN)
Read More

Cegah Radikalisme, Polres Pekalongan Gelar Pengajian Rutin


rumahnahdliyyin.com, Pekalongan - Polres Pekalongan Kota, dalam mencegah radikalisme pada generasi muda, mengadakan pengajian untuk anak-anak setiap malamnya. Pengajian ini dibina langsung oleh anggota Sabhara Bripda Lukman mulai pukul 18.30 WIB. di Masjid Nur Hidayah, Polres Pekalongan Kota, Jl. Diponegoro, Pekalongan, Jawa Tengah.

Pengajian yang diikuti oleh 25 orang anak dari umur 8 hingga 12 tahun ini, diinisiatifi oleh Bripda Lukman.

"Awal-muasal saya 8 bulan lalu, waktu saya masih status bintara remaja. Saat saya bermain bola voli, ada anak-anak yang main di samping masjid. Saya tanya mereka, sholat nggak? ngaji nggak? kata mereka, ngaji, tapi jarang. Kebetulan saat itu masjid ini sepi dan jarang yang ke sini. Mulai dari situ, saya ajak anak-anak ngaji di sini," tutur Lukman sebagaimana dilansir oleh detik.com.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Lukman mengatakan, ia tidak hanya mengajar ngaji saja. Melainkan juga mengajarkan bagaimana caranya sholat serta memberikan sedikit ilmu pengetahuan tentang agama.

Jadwal mengaji anak-anak ini setiap hari. Akan tetapi, khusus malam Selasa, Lukman mengajarkan tata cara sholat. Sedangkan khusus malam Jumat, diadakan tahlilan, yaitu mengaji bersama-sama antara anak-anak pengajian dengan para polisi Polsek Pekalongan Kota.

"Alhamdulillah, Polres Pekalongan juga mendukung kalau malam Jumat itu mereka datang dan memberikan snack juga. Jadi anak-anak senang," tutur Lukman.

Baca Juga: Jama'ah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad Benteng Aswaja di Asmat

Sementara itu, untuk mencegah masuknya paham radikalisme di sekitar Pekalongan, Lukman mengatakan selalu memberi pemahaman kepada anak-anak mengenai persatuan Indonesia yang memiliki suku dan budaya yang beraneka ragam.

"Jadi, disini nggak cuma dari NU, ada juga dari Muhammadiyah. Di Pekalongan kalau ada yang ngajak demo tentang paham radikalisme, saya ajarkan mereka untuk tidak ikut. Saya juga ajarkan arti ngaji dimana mereka jangan melakukan kegiatan yang tidak penting. Setiap hari saya berikan motivasi kepada adik-adik yang menurut saya itu tidak pantas dilakukan. Dari situ saya ajarkan," jelas dia.

Baca Juga: Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol

Diketahui, Bripda Lukman juga salah satu lulusan dengan nomor registrasi pokok termuda di Sekolah Polisi Negara. Lukman juga pernah masuk nominasi Police Award dengan kategori kerohanian.[]


Editor : Redaksi RN
Sumber : detik.com
Read More

IPNU-IPPNU Klaten Deklarasikan Anti Money Politik


rumahnahdliyyin.com, Klaten - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC. IPNU-IPPNU) Klaten bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Klaten mengadakan Pendidikan Demokrasi Pelajar dan Sosialisasi Pemilih Pemula pada Minggu kemarin, 25 Maret 2018. Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor PCNU Klaten itu dihadiri oleh Pengurus PC. IPNU-IPPNU serta pengurus harian Anak Cabang se-Kabupaten Klaten.

Dalam sambutannya, Ketua PC. IPNU Klaten, rekan Muchtar, mengatakan bahwa IPNU hari ini adalah pemimpin masa depan. Pembekalan tentang ilmu sosial seperti demokrasi adalah barang wajib yang harus dilakukan. Jadi segala aspek, baik religius, akademik maupun sosial, IPNU-IPPNU harus memilikinya untuk menjadi modal sebagai pemimpin dikemudian hari kelak.


Ditambahkan pula oleh rekanita Fitroh Nahdliyah yang selaku Ketua PC. IPPNU Klaten dalam sambutannya bahwa hari ini apatisnya masyarakat, terutama pemuda dan pelajar, terhadap demokrasi Indonesia menjadi keprihatinan bersama. Maka dengan kegiatan ini, diharapkan menjadi awal yang baik bahwa pemuda dan pelajar hadir sebagai penggerak untuk kemajuan bangsa dengan ikhtiar pendidikan semacam ini. 

Acara yang dilaksanakan mulai pukul 09.00 WIB. hingga pukul 11.30 WIB. itu diikuti oleh para peserta dengan antusias. Sebab, banyak para peserta yang pada Pilgub Jawa Tengah pada Juni nanti akan menjadi kali pertamanya bagi mereka untuk memilih Gubernurnya secara langsung.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Selanjutnya, H. Mujiburrohman S.IP, ketua PCNU Klaten, menyampaikan dalam sambutan dan penggarahannya, mengajak para kader muda NU ini untuk terus berupaya merawat ke-Indonesia-an dengan baik. Bersama-sama membentengi generasi muda dari paham intoleran guna mempersiapkan pemimpin harapan di masa depan. Penguatan hubbul-wathon minal-iman dan demokrasi untuk pelajar yang berkaitan dengan kaidah agama, juga dibahas.

Sedangkan Komisaris KPU Klaten, Muhammad Ansori S.Pd.I, menekankan dalam materinya tentang arti pentingnya demokrasi dan kenapa harus memilih dalam kontestasi Pemilihan Gubernur nanti. Selain itu, beliau juga mengajak para peserta untuk menolak money politic atau politik uang dengan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan kelompoknya hingga sampai tingkatan teratas. Beliau menggambarkan bagaimana bahayanya dan langkah apa saja jika melihat hal tersebut.


"Anti Money Politic" yang merupakan jargon KPU Klaten, diakhir acara kemudian langsung disikapi oleh IPNU-IPPNU dengan mendeklarasikan diri bersama KPU bahwa IPNU-IPPNU Klaten menolak money politic, Politisasi SARA dan akan berperan aktif menjaga kondusifitas diajang pemilihan Gubernur Jawa Tengah tahun 2018 ini. Selanjutnya, IPNU-IPPNU Klaten juga mendeklarasikan diri bersama Kepolisian bahwa IPNU-IPPNU Klaten menolak hoax dan akan bersinergi untuk melawan hoax tidak hanya dalam suasana Pilgub ini, namun dalam keseharian. []

(Redaksi RN)
Read More

Sekutu Iblis


rumahnahdliyyin.com - Benar kiranya bila ada yang mengatakan bahwa pioner hoax adalah Iblis. Iblis yang karena angkuhnya tak mau memenuhi perintah Tuhan untuk bersujud kepada Nabi Adam AS., ternyata telah membawanya pada obsesi untuk melakukan hoax. Yaitu dengan membisiki suatu kedustaan pada pasangan pertama manusia itu tentang buah Khuldi.

Tak hanya membisiki, makhluk paling banyak strategi dan siasat dalam menggoda manusia inipun memprovokatori pula. Sebagai akibatnya, diusirlah kedua kakek-nenek moyang kita itu dari surga dan tingggal di bumi ini sebagai khalifahNya serta beranak pinak hingga era penuh hoax ini.

Baca Juga:
Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks
Jangan Gunakan Nama Muslim Untuk Sebar Hoax

Hoax, sejatinya bukanlah tujuan dari para pelakunya. Sebagaimana bila kita pernah menyimak kisah Iblis, hoax yang dilakukannya tidaklah lebih dari ekspresi penyaluran sakit hatinya. Lantaran membangkang perintah Dzat Yang Maha Segalanya, ia pun diusir lebih dulu dari surga. Sakit hati inilah yang mendorong Iblis untuk melakukan hoax yang ternyata sudah ditiru dan didaur ulang oleh para manusia.

Celakanya, para manusia yang telah meniru dan meneladani Iblis dalam berhoax ria itu tidak menggunakannya untuk melawan balik terhadap Iblis. Seolah bersekutu dengan para Iblis, para manusia pelaku hoax itu justru melakukannya terhadap saudaranya sesama manusia. Sungguh ironis. Bahkan ada yang mengaku bahwa semua itu dilakukannya demi agama dan Tuhannya.

Baca Juga:
Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah
Kiai Said: MCA Memalukan

Harus diakui bahwa fakta sejarah hoax yang sudah ada sejak era Mbah Adam AS. itu, alih-alih kita sudah mampu untuk memberangusnya, justru kita manusia-lah yang sudah dan tengah nguri-nguri untuk menghidupkan dan merawat perilaku Iblis tersebut. Dari era ke era, dari masa ke masa, dengan demikian, benarkah manusia itu lebih suka bersekutu dengan Iblis?

Dan untuk kita sekarang ini yang hidup di era thuthul, apabila kita memang betul-betul enggan, tersinggung, atau bahkan marah bila dikatakan suka bersekutu dengan Iblis, caranya sangat mudah; jangan rumat perilaku Iblis yang diantaranya adalah pembuat, pembisik, penggoda dan provokator hoax.

Selain itu, ada satu lagi perilaku Iblis yang wajib kita hindari dan jauhi, yaitu sikap dan laku rasis. Bukankah pembangkangan Iblis kepada Tuhannya karena rasisnya? WAllahu a'lam.

Salam.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Akhlaqul Karimah Tingkat Tinggi Dalam Ijazahan Pagar Nusa


rumahnahdliyyin.com - Hari Ahad kemarin (25 Maret 2018), saya diundang oleh PC. Pagar Nusa Pamekasan dalam agenda “Ijazahan Pendekar”. Efek dari Ijazah Kubro yang diselenggarakan oleh PP. Pagar Nusa tempo hari di Cirebon, ternyata telah merambah ke berbagai daerah yang juga ingin menggelar acara serupa.

PC. Pagar Nusa Pamekasan mengundang dua kiai besar sebagai mujiznya, yaitu KH. R. Mudatsir Badruddin (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur) dan KH. Badrul Huda Zainal Abidin atau yang akrab disapa dengan Gus Bidin (Dewan Khos PP. Pagar Nusa/Pengasuh PP. Lirboyo, Kediri).

Baca Juga: Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa

Acara ijazahan kali ini, luar biasa. Banyak sekali hal-hal yang membuat saya sendiri maupun hadirin berdecak kagum. Antusias para peserta juga tidak kalah dahsyatnya. Dari ijazah kit yang disiapkan oleh panitia sejumlah 700 paket, ludes. Bahkan, pendaftar tercatat mencapai 1500 orang. Dan panitia harus menyusulkan 800 paket sisanya bagi mereka yang belum mendapatkan.

Ketua Pagar Nusa, baik tingkat Cabang dan Wilayah, menunjukkan etika yang luar biasa. Keduanya tidak menyampaikan sambutan diatas podium, tapi dibawah, menyatu dengan para pendekar. Keduanya merasa tidak pantas tampil diatas podium karena itu adalah tempat bagi para kiai, maqom bagi ulama. Ini sungguh membuat saya berbangga bahwa pimpinan Pagar Nusa tahu diri dan tahu posisi. Kami hanyalah pesuruh para kiai, yang harus siap setiap saat untuk diperintah dan menjalankan amanat.

Baca Juga: Ketum Pagar Nusa: Gerakan Intoleran Tidak Bisa Dibiarkan

Kekaguman berikutnya membuat kami semakin yakin bahwa kedua mujiz (kiai yang memberikan ijazah) memang layak menjadi panutan kami. Dalam susunan acara, kiai Mudatsir tertulis sebagai mujiz pertama, baru kemudian Gus Bidin. Namun karena sikap tawadlu’, kiai Mudatsir meminta kepada pembawa acara untuk meminta kepada Gus Bidin yang terlebih dahulu menyampaikan ijazah.

Setelah pembawa acara mengundang Gus Bidin untuk naik ke panggung, Gus Bidin lantas memegang mikrofon dan berkata, “Saya memohon dengan hormat kepada kiai Mudatsir untuk lebih dahulu menyampaikan ijazah, baru kemudian saya. Karena beliau jauh lebih ‘alim.”

Baca Juga: Lawan Kebencian, Mari Bangun Algoritme Kebersamaan

Lantas, mikrofon diserahkan kepada kiai Mudatsir. Beliau berkata, “Mohon maaf, saya tidak berani menyampaikan ijazah terlebih dahulu. Karena materi ijazah Gus Bidin ada materi yang berasal dari almarhum kiai Mahrus Aly (Lirboyo). Terlebih, Gus Bidin ini adalah penerus almarhum Gus Maksum yang bisa terbang itu. Oleh karenanya, saya memohon, Gus Bidin yang sudah selayaknya menyampaikan ijazah, baru nanti saya sisanya saja.”

Setelah itu, Gus Bidin tetap tidak berkenan menyampaikan ijazah terlebih dahulu. “Sekali lagi, mohon maaf kiai Mudatsir. Kami yang muda ini sangat berharap ijazah panjenengan terlebih dahulu. Kami mohon dengan sangat,” pinta Gus Bidin.

Baca Juga: Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol

Sejurus kemudian, mikrofon kembali berpindah kepada kiai Mudatsir. “Baiklah, saya akan memberi pengantar saja. Saya minta semuanya dalam keadaan suci. Yang belum atau sudah batal wudlu'nya, silakan mengambil air wudlu,” perintah kiai Mudatsir kepada hadirin.

Sambil menunggu peserta berwudlu', kiai Mudatsir mengisahkan soal wirid, amalan dan lain sebagainya, dimulai sejak zaman Rasulullah SAW. Beliau juga menceritakan bahwa sejak dahulu sudah ada pendekar wanita yang juga sahabat Rasulullah SAW., namanua Khaulah binti Ja’far. Setelah semuanya berwudlu', ijazahan pun dimulai oleh Gus Bidin.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Saat selesai memberikan penjelasan tentang materi ijazah, tibalah saatnya “akad ijazah” yang ditandai dengan memegang ujung sorban oleh Gus Bidin dan ujung sorban oleh para peserta. Nampak kiai Mudatsir juga ikut menerima ijazah.

“Saya ijazahkan amalan dan wirid ini sebagaimana guru saya mengijazahkan kepada saya,” ucap Gus Bidin.

Ribuan peserta menjawab dengan lantang, “Qabiltu!” Selesailah proses ijazah bagian pertama.

Baca Juga: Gus Mus: Akhlaq Sebagai Inti Islam

Berikutnya, giliran kiai Mudatsir yang memberikan penjelasan materi ijazah dengan lengkap. Beliau juga menceritakan kisah-kisah kiai terdahulu yang sholih.

Setelah penjelasan paripurna, kiai Mudatsir pun berkata, “Saya ijazahkan amalan dan wirid ini sebagaimana guru saya mengijazahkan kepada saya.”

Serentak, semua peserta menjawab, “Qabiltu!”

Baca Juga: Keluarga Gus Dur Kunjungi Keluarga Mbah Moen

Dan saya juga menyaksikan bahwa Gus Bidin juga turut serta menerima ijazah dengan memegang ujung sorban, tepat disamping saya. Saat kiai Mudatsir menyampaikan penjelasan, Gus Bidin juga dengan seksama mengikuti dan mendengarkan perintah mujiz.

Sungguh, malam ini kami ditunjukkan, dipertontonkan pertunjukan etika. akhlaqul karimah tingkat tinggi oleh dua kiai kami. Belum lagi, melihat sosok Gus Bidin yang sangat tawadlu’. Tidak hanya kepada kiai, tapi kepada semuanya. Dengan sabar beliau meladeni permintaan hadirin satu persatu.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Tulisan ini hanyalah menceritakan kepingan kecil peristiwa besar ijazahan di Pamekasan. Masih banyak kisah luar biasa yang disaksikan langsung oleh ribuan peserta ijazahan.

Sebagai bagian dari saksi hidup saat itu, saya merasa berkewajiban menceritakan ini sebagai bagian dari tahadduts binni’mah (cerita atas nikmat yang Allah berikan) kepada kami. Semoga ini menjadi jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga akhir nanti.

Jakarta, 26 Maret 2018


* Oleh: M. Nabil Haroen, Ketum PP. Pencak Silat NU Pagar Nusa
Read More

KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri


rumahnahdliyyin.com - 24 Agustus 2004 silam, Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, hujan air mata. Berduyun-duyun tangis serta sesenggukan terus kian menumpah sejak selepas waktu Isya' di hari Senin malam Selasa itu.

Syaikhina KH. Cholil Bisri, nama inilah yang telah membuat air mata para santri yang diikuti oleh masyarakat Rembang terkuras. Kepergiannya ke haribaan Yang Maha Pencipta waktu itu, sungguh membuat para santri terpukul. Juga menggodamkan kesedihan yang sangat mendalam bagi masyarakat Rembang.

Baca Juga: Kontribusi HTI Untuk NKRI

Abah, begitu para santri memanggil kiai Cholil, merupakan sosok kiai yang sangat mencintai santrinya. Beliau tidak pernah ridlo bila ada santri yang diperlakukan dengan kekerasan. Tidak boleh ada santri yang karena suatu kesalahan, kemudian dihukum dengan cara dipukul atau sejenisnya. Dengan demikian, beliau menekankan kepada para pengurus pondok untuk senantiasa memupuk kesabaran.

Kiai Cholil juga sosok kiai yang sangat menghormati kemerdekaan. Hal itu terbukti dalam sistem yang diberlakukan di pondok yang diasuhnya. Karena pondok tidak memiliki sekolah formal, para santri yang ingin sekolah formal pun diberi keleluasaan untuk memilih sekolah yang diinginkan di luar pondok. Baik sekolah ke-Islam-an sepeti MTs/MA ataupun sekolah umum seperti SMP/SMA/SMK. Tentu saja dengan catatan tidak boleh sampai mengganggu peraturan dan kegiatan yang telah ditetapkan dan berlaku di pondok.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

"Kamu boleh melakukan apa saja, yang penting ngaji," begitu dawuh yang sering disampaikan kiai yang diakhir hayatnya masih mengemban amanat sebagai Wakil Ketua MPR RI kepada para santrinya itu.

Sepintas, dawuh beliau di atas memang terbaca sangat sederhana. Namun, apabila kita angen-angen, dawuh itu mengandung makna yang sangat dalam.

Pertama, beliau ingin santrinya supaya tidak berhenti ngaji atau belajar. Walaupun dalam keadaan apapun. Kedua, beliau menginginkan santrinya jangan takut untuk melakukan apa saja. Walaupun kemudian ternyata salah. Dan kesalahan itu adalah bagian dari proses belajar. Ketiga, beliau menginginkan santrinya supaya ketika melakukan apa saja jangan sampai tidak didasari dengan ilmu. Karena itu, harus belajar atau ngaji.

Baca Juga: Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Selain itu, kiai yang juga kakak dari Syaikhina KH. A. Mustofa Bisri dan juga ayah dari KH. Yahya Cholil Tsaquf (Katib 'Aam PBNU) juga Gus Yaqut Cholil Qoumas (Ketum GP. Ansor) ini, tawadlu'nya sangat luar biasa. Contohnya, pernah beliau tidak sepakat dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam suatu hal, namun beliau tidak menyampaikannya secara langsung. Bukan pula kemudian diumumkan dipublik. Melainkan beliau menyampaikan kepada kiai lain yang menurut beliau "setaraf" atau punya "maqom" lebih tinggi dari Gus Dur. Pendek kata, meski kealiman beliau tidak ada yang meragukan, namun beliau masih merasa ada kiai lain yang lebih alim, termasuk Gus Dur.

Akhirnya, semoga para santri beliau bisa meneladani dan mengamalkan apa yang telah didawuhkan dan diajarkan oleh beliau. Dan berhubung hari ini tepat 7 Rojab dimana beliau telah dipanggil oleh Allah SWT. sebagaimana menurut penanggalan tahun Hijriyyah, marilah kita langitkan doa untuk beliau. Lahul-Fatihah... []



* Oleh: Agus Setyabudi, Alumni PP. Raudlatut Thalibin Rembang, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Kontribusi HTI Untuk NKRI?


rumahnahdliyyin.com - Pertama telinga saya mendengar nama ustadz Fadlan Garamatan (UFG) berasal dari mulut seorang tokoh Islam di salah satu kampung yang seratus persen penduduknya muslim asli Papua. Waktu itu saya bersama beberapa teman silaturrahmi ke rumahnya. Meskipun saya tidak paham apa yang dimaksudkan dari ucapannya terkait UFG ketika itu, namun karena teman saya kelihatan manggut-manggut, maka saya pun tidak menanyakan apa maksud dari pria paruh baya itu kok mewanti-wanti kita agar jangan sampai seperti UFG.

Karena penasaran, selepas pertemuan dengan tokoh Islam asli Papua itu, saya pun bertanya pada teman saya, siapakah sebenarnya UFG itu? Berawal dari sinilah saya jadi sedikit tahu tentang UFG yang beberapa bulan kemudian saya ketahui juga ternyata punya julukan sebagai "Ustadz Sabun".

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Beberapa hari ini ada sebaran video UFG di grup-grup WA. Yaitu video ceramahnya yang menceritakan tentang strategi dakwahnya di pedalaman Papua dengan menggunakan sabun. Itulah mengapa ia dijuluki sebagai "Ustadz Sabun".

Kendati ada tokoh Islam Papua yang menyatakan bahwa apa yang dikatakan UFG dalam video tersebut adalah omong kosong belaka, namun ditulisan kali ini saya tidak akan mengupas tentang apa yang dikatakan UFG dalam video itu. Selain karena saat ini pengetahuan saya untuk menguak hal itu kurang memadai, juga karena saat membuka video UFG tersebut saya sangat kaget dengan adanya label bendera HTI dipojok kanan atasnya. Di sudut itulah justru fokus saya terarah selain tentu saja menyimak apa yang dikatakan oleh ustadz yang konon sudah mengislamkan ribuan orang asli Papua ini.

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Sebagaimana kita ketahui bersama, pengadilan HTI beberapa waktu lalu sempat ramai di medsos. Gus Guntur Romli dan kiai Ishomuddin menjadi target lontaran miring dan fitnahan selepas beliau berdua menjadi saksi di PTUN. Dan setelah kesaksian yang membungkam itu, kini ada sebaran video ceramah seorang ustadz yang ada label bendera HTI yang diakhir videonya terkesan nasionalisme banget.

Terlepas apakah UFG juga seorang HTI atau tidak, saya tidak tahu. Setahu saya, UFG selalu memakai bendera AFKN dalam kegiatannya. Yaitu nama sebuah yayasan yang dibentuknya. Dan apakah ini hanya siasat HTI supaya banyak orang tahu bahwa HTI sangat cinta Indonesia dengan bukti adanya video itu, mungkin saja iya.

Kendati andai benar keinginan HTI dalam membuat video itu semata untuk menunjukkan kecintaannya pada NKRI demi kebaikan salah satu daerah di Indonesia, maka apa yang telah dilakukannya adalah salah besar. Justru video itu ternyata telah membuat "gerah" masyarakat daerah yang berkaitan. Dengan konten seorang ustadz yang menuduh para missionaris sebagai biang kerok kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan Papua selama ini, tentu saja dapat berbenih hal yang sangat tidak baik bagi hubungan antar warga negara yang beda agama. Inikah kontribusi ormas yang cinta negaranya?

Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah ala HTI

Itu kesalahan yang pertama. Yang kedua, HTI telah keliru menjadikan UFG sebagai ikon nasionalismenya---kalau memang video itu dengan tujuan seperti itu. Sebab, integritas dan kiprah UFG dalam berdakwah di Papua selama ini ternyata tidak sedikit yang meragukan dan mempertanyakannya. Saya sendiri mendengar nama UFG untuk yang pertama kalinya saja adalah nama dengan konotasi yang buruk. Terlebih beberapa penemuan saya yang lain setelahnya yang sepertinya selaras dengan konotasi tersebut.

Diantara penemuan saya itu yaitu penyebutan terhadap salah satu kampung yang sudah muslim secara turun-temurun sejak era Kerajaan Tidore sebagai "kampung muallaf". Hal ini kayaknya sepele, tapi bagi penduduk yang disebut seperti itu, tentu tersinggung.

Diluar konten ceramahnya dalam video yang saya lihat ada benderanya HTI tersebut, saya juga menemukan video UFG lain yang mempertontonkan orang-orang asli Papua masuk Islam sembari ramai-ramai berwudlu di sungai. Dari pengakuan seorang teman saya di Sorong sini, dalam video itu ternyata adalah orang-orang asli Papua yang sudah memeluk Islam sejak lahir semua. Bukan non-muslim yang di-Islamkan oleh UFG sebagaimana narasi yang telah disebutkan dalam video itu. Bahkan, teman saya bilang bahwa dalam video tersebut ada saudaranya.

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Jadi, kalau video itu adalah usaha dan upaya HTI untuk menunjukkan kepada publik bahwa HTI dengan ustadznya telah berkontribusi terhadap NKRI, sangat salah besar. Dengan gen serta karakter diluar sadarnya yang orientasinya ingin mendirikan Khilafah, sudah sewajarnya kalau pemerintah melarang keberadaan ormas tersebut. Kalau kemudian ada anggota HTI yang berdalih bahwa HTI tak pernah punya tujuan untuk mendirikan Khilafah, maka tak perlu dihiraukan orang tersebut. Sebab, dengan bertanya seperti itu, berarti dia belum/tidak paham HTI dan dengan demikian tidak layak menjadi anggota HTI. Kalau jadi anggota saja tidak layak, berarti tidak patut juga menjadi pengurus. Tidak ada pengurus, tidak akan ada organisasi.

Sebagai penutup, mari dengarkan wejangan Kanjeng Sunan Bonang yang disampaikan kepada Kanjeng Sunan Kalijogo muda, "Kalau nyuci pakaian jangan pakai air kotor." Mungkin wejangan inilah yang sepertinya tepat diarahkan pada HTI. Kalau ingin berbuat baik, pakailah cara yang baik. Kalau ingin melakukan kebajikan, gunakanlah cara yang penuh kebijakan.

Akhirnya, lantaran video yang dibuat (entah diedit) oleh HTI itu, saya dengar-dengar kini UFG menghadapi ancaman akan dihadapkan ke depan hukum besok Senin. Semoga kita bisa memetik hikmah dan pelajaran. Juga, semoga kerukunan di Bumi Papua ini tetap terjaga kendati di pulau Cendrawasih ini perbedaannya sangat kaya.

WAllaahu a'lam.

Salam.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More