Tampilkan postingan dengan label Islam Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Nusantara. Tampilkan semua postingan

Soal Islam Nusantara, Gus Yahya: Orang Eropa Saja Tidak Bingung


rumahnahdliyyin.com | Surabaya - Memperingati datangnya bulan Muharrom, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, menggelar acara Gebyar Muharrom. Kegiatan yang ditutup dengan pengajian umum ini menghadirkan KH. Yahya Cholil Staquf, Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), akhir pekan lalu, di Karang Menjangan, Gubeng, Surabaya.

Dengan mengambil tema "Islam Nusantara di Era milenial", panitia berharap bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang istilah "Islam Nusantara" yang saat ini kembali menjadi pembahasan hangat di tengah masyarakat. Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh ketua panitia acara, Ustadz Zainul Muttaqin.

"Harapannya, masyarakat bisa lebih paham dengan apa yang dimaksud dengan Islam Nusantara," katanya.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Zaman Now

Sementara itu, Gus Yahya, sapaan akrab KH. Yahya Cholil Staquf, menjelaskan maksud dari Islam Nusantara yang menjadi tema Muktamar ke-33 NU di Jombang pada 2015. Menurutnya, jika ada orang Indonesia yang bingung dengan Islam Nusantara, orang itu mungkin hanya pura-pura bingung saja.

"Jadi, kalau ada orang Indonesia yang katanya bingung tentang Islam Nusantara, itu pura-pura aja, saya kira. Sebetulnya tidak bingung. Kalau bingung, biar dipikir-pikir sendiri. Lah wong orang Eropa saja tidak bingung, kok. Masa orang Karang Menjangan bingung, kan aneh toh? Saya kira begitu," jelas pengasuh Pondok Pesantren Leteh, Rembang, ini.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna untuk Manusia

Seluruh dunia, imbuh beliau, menyambut Islam Nusantara dengan gegap gempita sewaktu penetapan Islam Nusantara sebagai tema muktamar. Sudah lebih dari 48 negara datang ke PBNU untuk belajar tentang Islam Nusantara. Dan puluhan negara mengundang PBNU untuk datang, untuk datang dan berbagi tentang Islam Nusantara di negara itu. Bahkan ada harapan, dengan Islam Nusantara ini, Nahdlatul Ulama bisa memberikan sumbangan untuk perdamaian dunia.

"Salah satu media di Arab, yaitu Al-Arab, sampai membuat tulisan editorial. Bahwa Islam Nusantara merupakan jalan masuk menuju masa depan dunia Islam. Masa depan yang diwarnai dengan kedamaian dan harmoni," terang Gus Yahya.

Menurut beliau lagi, Islam Nusantara itu adalah yang seperti dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada kesehariannya.

Baca Juga: Khitah Islam Nusantara

"Sebab, Islam Nusantara itu mudah. Islam Nusantara, ya, kalian itu. Sampeyan Islam mboten? Islam nggeh? Karang Menjangan itu bagian Nusantara mboten? Ya, itulah Islam Nusantara," jelasnya.

Lebih lanjut, Gus Yahya membeberkan alasan pemberian nama khusus, Islam Nusantara. Alasannya adalah karena ada perbedaan.

"Kenapa diberikan nama yang khusus, Islam Nusantara? Kok tidak Islam saja? Kok pakai Islam Nusantara? Sebab memang ada perbedaan. Bedanya gimana? Acara seperti ini contohnya. Coba kalian cari model pengajian umum seperti ini di tempat lain," imbuhnya.

Baca Juga: Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu

"Apakah Islam Nusantara membuat madzhab baru? Tidak. Wudlunya, ya, sama dengan wudlunya Imam Syafi'i, rukunnya enam. Apa ada kiai mencontohkan dengan sebelas? Tidak ada," tambahnya lagi.

Pengajian seperti ini, menurut salah seorang Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini, merupakan bentuk konsolidasi sosial untuk memperkuat kohesi, keguyuban dan kerukunan masyarakat. Di samping itu , juga sebagai media penanda arah, sehingga masyarakat bisa mendapat inspirasi ke mana arah yang bisa diperjuangkan bersama.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

"Sebetulnya pengajian umum seperti ini lebih ke arah media untuk konsolidasi sosial. Kalau pendidikan, itu yang dilakukan oleh kiai-kiai ini sehari-hari. Kiai-kiai ini yang melakukan pendidikan ke generasi muda untuk memperbaiki akhlaknya, untuk mempersiapkan kekuatan lahir batinnya untuk menghadapi masa depan," tandas Gus Yahya.[]



nu.or.id
Read More

Islam Nusantara


rumahnahdliyyin.com - Saya tidak heran kalau orang-orang Salafi, baik Hijazi maupun Ikhwani, menolak Islam Nusantara, karena sejak dari "sono"-nya mereka menolak NU dan menggolongkannya sebagai ahlul bid’ah. Saya juga tidak heran kalau orang-orang Masyumi dan keturunannya mencela Islam Nusantara, karena sejak dulu kita memilih berada di satu rumah tetapi beda kamar.

Yang saya takjub itu orang-orang NU yang ikut latah menolak Islam Nusantara, gara-gara opini orang yang salah paham atau pahamnya salah. Islam Nusantara itu, ya, Islam NU itu, Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah An-Nahdliyyah! Itu kayak isi lama dalam botol baru. Tidak ada yang berubah. Basis teologinya sama; Asy’ariyyah. Madzhab fikihnya Syafi’i. Pandangan tasawufnya ikut Junaid Al-Baghdadi dan Al-Ghazali. Gampangnya, Islam Nusantara itu Islam yang diamalkan dalam wadah budaya Nusantara, sebagaimana sudah dijalankan NU selama ini.

Baca Juga: Khitah Islam Nusantara

Nalarnya tidak usah dibikin rumit. Islam itu agama. Sifatnya universal, lintas ruang dan waktu. Manusia itu temporal-partikular, terikat ruang dan waktu. Dia makhluk berbudaya. Begitu agama yang universal itu diamalkan oleh manusia yang partikular, ekspresinya beragam, sesuai dengan wadah budayanya.

Islam yang diamalkan di Arab, tentu punya karakteristik yang berbeda dengan Islam yang diamalkan di Persia, Cina dan Jawa. Perbedaannya di tingkat cabang (furû’), bukan pokok (ushûl). Yang pokok bersifat universal, tidak berubah atau diubah, untuk selamanya.

Syahadatnya, ya, syahadatain, tidak boleh ditambah atau dikurangi. Sholat Shubuh, ya, dua roka’at, tidak boleh ditambah atau dikurangi. Soal pakai Qunut, itu persoalan cabang, karena kita mengikuti Imam Syafi’i.

Baca Juga: Islam Nusantara dalam Perspektif Perempuan

Dan perlu diingat, Imam Syafi’i itu orang Arab keturunan Qura’isy yang lahir di Palestina. Karena itu, pandangan-pandangannya sangat Arabis. Soal sholat, misalnya, sudah pasti Imam Syafi’i mewajibkan sholat dalam Bahasa Arab. Tidak sah sholat selain dalam bahasa Arab, karena pedomannya qath’i:
صلّوا كما رأيتمونى أصلّى

Ini berbeda dengan Imam Hanafi yang orang Persia. Dalam sebuah qoul, Imam Hanafi membolehkan sholat dalam Bahasa Persia, meski yang utama pakai Bahasa Arab. Jadi, tidak masuk akal tudingan pencela NU yang bilang bahwa Islam Nusantara itu anti-Arab.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Nabi kita orang Arab dan NU sangat ta’dzim kepada habaib keturunan Nabi. Sholat kita pakai Bahasa Arab. Tidak pernah ada bahtsul masâ’il di NU yang membolehkan sholat pakai Bahasa Jawa. Bahkan, nama-nama keluarga santri NU hampir rata-rata nama Arab, termasuk saya. Rasanya tidak mantap kalau santri NU tidak pakai nama Arab.

Lucunya, pencela NU yang bilang Islam Nusantara itu anti-Arab, seringkali asal namanya sendiri justru nama Nusantara yang kemudian “di-Arab-Arabkan,” pakai ganti nama atau ditambah embel Abu-Abi atau Ummu-Ummi.

Baca Juga: Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu

Masih soal sholat, orang Arab pakai jubah dan umamah (surban, udeng-udeng), kita pakai batik dan kopyah. Itulah Islam Nusantara. Sebelum sholat, puji-pujian; setelah sholat, dzikir bareng dan mushofahah. Itulah Islam Nusantara. Nabi tidak mengajarkannya, tetapi juga tidak melarangnya.

Soal zakat, kita jalankan zakat, tetapi objeknya tidak sama dengan orang Arab. Orang Arab zakat fitrah pakai kurma atau gandum, kita pakai beras. Itulah Islam Nusantara.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Soal puasa, kita sama-sama tidak makan-minum dan jima’ dari Shubuh sampai Maghrib. Tidak ada NU mengajarkan puasa ngebleng, puasa semalam suntuk, karena Nabi tidak mengajarkannya. Tetapi soal menu buka puasa, orang Arab pakai kurma, kita kolak pisang. Itulah Islam Nusantara. Lepas bulan puasa, kita halal bihalal, didahului acara mudik kolosal. Itulah Islam Nusantara.

Soal haji, kita sama-sama pergi ke Arab, tidak ke Parung. Tetapi, soal dulu Nabi ke Makkah pakai unta atau kuda, dan kita sekarang terbang pakai pesawat, itu soal teknis dan sama sekali bukan bid’ah.

Baca Juga: Lupakan Islam Nusantara

Orang Arab tidak punya budaya Slametan. Orang Jawa hobi cangkruk, slametan, yang isinya keplek dan nenggak miras. Walisongo datang, slametannya dipertahankan, tetapi isinya diganti Tahlil dan Sholawat. Keplek dan mirasnya diganti berkat. Namanya tahlilan. Itulah Islam Nusantara.

Orang Arab itu egaliter. Memanggil Nabi yang mulia tidak ada bedanya dengan memanggil penggembala domba; “Ya Muhammad.” Orang Jawa punya budaya unggah-ungguh, stratanya canggih dan rumit. Njangkar alias manggil orang mulia apa adanya itu saru alias tabu. Ada embel-embel Ngarso Ndalem, Sinuhun dan seterusnya.

Karena itu, orang Arab sholawatnya cukup pakai redaksi:
اللّهم صلّ على محمّد
orang NU ditambah kata Sayyidina (سيدنا). Itulah Islam Nusantara.

Baca Juga: Islam Bhinneka Tunggal Ika

Jadi, Islam Nusantara itu bukan barang baru. Itu soal ganti casing. Kalau ada yang ingin dipertegas dari Islam Nusantara adalah pandangan politiknya. Islam Nusantara itu pendukung sintesis Islam dan kebangsaan. NKRI final, titik. Tidak ada Khilafah sebagai sistem politik. NKRI yang isinya pembangunan inklusif, ekonomi berdikari dan minim ketimpangan, itu sudah islami. Itu yang harus didorong. Tidak ada lagi membentuk Negara Islam.

Manifestasi Islam Nusantara itu bukan hanya dalam fikroh dîniyyah (agama), tetapi juga siyâsiyyah (politik) dan iqtishôdiyyah (ekonomi). Fikroh diniyyah-nya tawassuth, fikroh siyâsiyyah-nya NKRI, fikroh iqtishodiyyah-nya ekonomi konstitusi. Jadilah Negara Kesejahteraan Pancasila. Inilah tema Kongres II ISNU yang insya Allah digelar di Bandung, 24-26 Agustus 2018: Pembangunan Inklusif dan Islam Nusantara Menyongsong se-Abad Indonesia Sebagai Negara Kesejahteraan Pancasila.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Inti gagasan ini sederhana, kita ingin membangun Indonesia berdasarkan agama. Artinya, kita tidak ingin membentuk Indonesia sebagai negara sekuler. Tetapi, agama seperti apa yang ingin kita tegakkan? Agama yang ramah, toleran, inklusif, yang menunjang Pembangunan Indonesia, bukan Pembangunan di Indonesia.

Tentu ada beda antara Pembangunan Indonesia dan Pembangunan di Indonesia. Pembangunan Indonesia merefleksikan bahwa pelaku dan penerima manfaat pembangunan adalah rakyat Indonesia. Sementara Pembangunan di Indonesia adalah pembangunan oleh siapa saja di Indonesia. Tidak peduli siapa pelaku dan penerima manfaatnya.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Karena Indonesia mayoritas muslim, agama disini adalah Islam. Jadi Islam yang ingin kita tegakkan adalah Islam nasionalis, Islam inklusif yang mendukung pembangunan inklusif. Itulah Islam Nusantara.

Kalau kalian punya persepsi lain tentang Islam Nusantara, itu urusan kalian. Kami tidak mengurusi keyakinan orang lain. Kami hanya mengurusi keyakinan kami sendiri. Kami hanya ingin jadi umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. dengan segala ekspresi kami sebagai orang Jawa, orang Sunda, orang Melayu dan lain-lain.

Kalau kalian menganggap ber-Islam harus sama atau semakin dekat dengan budaya Arab, silakan saja, asal kalian menghormati tempat bumi berpijak, Indonesia, dan tidak berencana merusaknya. Indonesia dengan segala warna-warninya adalah anugerah bagi kita semua.[]



* Oleh: M. Kholid Syeirazi, Sekretaris Jenderal PP. ISNU.
Read More

Khitah Islam Nusantara


rumahnahdliyyin.com - Akhir-akhir ini, Islam Nusantara jadi wacana publik. Tak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin), tetapi seluruh masyarakat Indonesia ikut memperbincangkannya, seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru.

Hal ini wajar, karena Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan didalam organisasi ini, pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangatlah positif, baik bagi NU maupun bagi negeri ini.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Sebagai tema Muktamar NU 2015 di Jombang, Islam Nusantara memang baru dideklarasikan. Namun sebagai pemikiran, gerakan dan tindakan, Islam Nusantara bukanlah hal baru bagi kita. Islam Nusantara adalah Islam Ahlussunnah wal-Jama'ah An-Nahdliyyah.

Mengapa di sini perlu penyifatan An-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain diluar NU yang juga mengklaim sebagai pengikut Ahlussunnah wal-Jama'ah (disingkat Aswaja), tetapi memiliki cara pikir, gerakan dan amalan yang berbeda dengan NU.

Baca Juga: Islam Nusantara dalam Perspektif Perempuan

Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pun mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah wal-Jama'ah, tetapi sepak terjang mereka selama ini sangat ditentang NU. Karena itu, Islam Nusantara adalah cara dan sekaligus identitas Aswaja yang dipahami dan dipraktikkan para muassis (pendiri) dan ulama' NU.

Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan yang ada pada diri mereka guna mengiktibarkan karakteristik-karakteristik ke-NU-an. Karakteristik-karakteristik ini bersifat peneguhan identitas yang distingtif, tetapi demokratis, toleran dan moderat.

Baca Juga: Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu

Pada dasarnya ada tiga pilar atau rukun penting didalam Islam Nusantara. Pertama, pemikiran (fikroh); kedua, gerakan (harokah); dan ketiga, tindakan nyata ('amaliyyah).

Pilar pertama, pemikiran, meliputi cara berpikir yang moderat (tawassuth). Artinya, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. Tekstualis yang dimaksud adalah berpikir secara kaku pada nash (al-jumûd al-manqûlãt) sebagaimana yang terjadi pada kaum Wahabi didalam memahami teks-teks Al-Qur'an.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Salah satu pernyataan Imam Al-Qarafi, ulama ahli ushul fiqih, menyatakan jika al-jumûd 'alã al-manqûlãt abadan dalãl fid-din wa jahl bi maqosidihi, pembacaan yang statis (tanpa tafsir) penafsiran pada hal-hal yang dalil-dalil yang selamanya adalah kesesatan didalam agama dan kebodohan tentang maksud-maksud agama. Liberal dimaksud adalah cara berpikir yang bebas tanpa mengindahkan metodologi yang disepakati dikalangan ulama yang dijadikan pegangan berpikir dikalangan NU.

Pilar kedua adalah gerakan. Artinya, semangat yang mengendalikan Islam Nusantara itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan. Tugas Islam Nusantara adalah melakukan perbaikan-perbaikan (reformasi) untuk jam'iyyah (perkumpulan) dan jama'ah (warga) yang tak hanya didasarkan pada tradisi, tetapi juga inovasi.

Baca Juga: Lupakan Islam Nusantara

Reformasi Islam Nusantara adalah reformasi menuju tahapan yang lebih baik dan secara terus-menerus. Jadi, posisi Islam Nusantara bukan hanya mengambil hal yang baik saja (al-akhdzu bil-jadid al-aslah), karena istilah mengambil itu pasif, tetapi juga melakukan inovasi, mencipta yang terbaik dan terbaik. Prosesnya terus-menerus. Inovasi pun tak cukup, juga harus dibarengi dengan sikap aktif dan kritis.

Pilar ketiga adalah 'amaliyah. Islam Nusantara sebagai identitas Aswaja NU menekankan bahwa segala hal yang dilakukan nahdliyyin harus lahir dari dasar pemikiran yang berlandaskan pada fiqih dan ushul fiqih; disiplin yang menjadi dasar kita untuk menyambungkan amaliyah yang diperintah Al-Qur'an dan Sunah Nabi SAW.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Dengan cara demikian, amaliyah Islam Nusantara itu sangat menghormati pada tradisi-tradisi serta budaya yang telah berlangsung sejak lama ditengah masyarakat. Tradisi atau budaya yang didalam ushul fiqih disebut dengan 'urf atau 'ãdat tidak begitu saja diberangus, tetapi dirawat sepanjang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Praktik keagamaan yang demikian inilah yang pada dasarnya dilakukan Wali Songo dan kemudian diwariskan pada pendiri NU dan kepada kita semua.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Beragama

Ada lima penanda Islam Nusantara. Pertama, reformasi (islahiyyah). Artinya, pemikiran, gerakan dan amalan yang dilakukan para nahdliyyin selalu berorientasi pada perbaikan. Pada aspek pemikiran, misalnya, selalu ada perkembangan disana (tatwir al-fikroh), dan karena itu, pemikiran Islam Nusantara adalah pemikiran yang ditujukan untuk perbaikan terus. Cara berpikirnya adalah tidak statis dan juga tidak kelewat batas.

Kedua, tawazunniyyah, yang berarti seimbang di segala bidang. Jika sebuah gerakan diimplementasikan, maka aspek keseimbangan juga harus dijadikan pertimbangan. Tawazunniyyah ini menimbang dengan keadilan.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna untuk Manusia

Ketiga, ta-awuniyyah, yang berarti sukarela (volunterisme). Satu hal yang harus dipegang dalam kesukarelaan ini adalah dalam menjalankan pemikiran, gerakan dan amalan, nahdliyyin tidak boleh memaksakan pada pihak lain (lã ijbãriyyah). Artinya, orang NU harus memperhatikan hak-hak orang diluar NU. Secara internal, warga NU juga tak boleh bersikap fatalistik (jabbãriyyah), harus senantiasa berusaha dan berinovasi menegakkan tiga pilar Islam Nusantara diatas. Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan, tetapi bukan tidak berbuat apa-apa.

Keempat, santun (akhlaqiyyah), yaitu segala bentuk pemikiran, gerakan dan amalan warga Islam Nusantara dilaksanakan dengan santun. Santun disini berlaku sesuai dengan etika kemasyarakatan dan kenegaraan serta keagamaan.

Baca Juga: Ulama' Otoriter dan Ulama' Otoritatif

Kelima, tasamuh, yang berarti bersikap toleran, respek kepada pihak lain. Sikap toleran ini tidak pasif, tetapi kritis dan inovatif. Dalam bahasa keseharian warga NU adalah sepakat untuk tidak sepakat.

Secara konseptual, kelima penanda Islam Nusantara tersebut mudah diucapkan, tetapi sulit direalisasikan. Sulit disini berbeda dengan tidak bisa melaksanakan. Misalnya, sikap Islam Nusantara dalam menyikapi dua arus formalisme keagamaan dan substansialisasi keagamaan berada ditengah. Kedua arus boleh diperjuangkan selama tidak menimbulkan konflik. Prinsip yang harus dipegang dalam hal ini adalah kesepakatan (konsensus), demokratis dan konstitusional.

Baca Juga: Islam Bhinneka Tunggal Ika

Hal penting lain yang ingin penulis sampaikan adalah persoalan ijtihad. Apakah model ijtihad Islam Nusantara? Ijtihad Islam Nusantara adalah ijtihad yang selama ini dipraktikkan oleh NU. Prinsipnya, Islam tak hanya terdiri pada aspek yang bersifat tekstual, tetapi juga aspek yang bersifat ijtihadiyyah. Ketika kita menghadapi masalah yang tak ada didalam teks, maka kita menganggap masalah selesai, artinya tidak dicarikan jawaban.

Islam Nusantara tidak berhenti disini, tetapi melihat dan mengkajinya lebih dulu lewat mekanisme-mekanisme pengambilan hukum yang disepakati dikalangan nahdliyyin. Hasil dari mekanisme metodologi hukum ini (proses istinbãt al-hukm) harus dibaca lagi dari perspektif Al-Qur'an dan Sunnah. Mekanisme metodologi hukum yang biasa dipakai nahdliyyin disini, misalnya, adalah mashlahah (kebaikan).

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Ilustrasinya, jika sebuah amalan tak ada di rujukan tekstualnya, tetapi ia membawa kebaikan ditengah masyarakat, hal itu justru harus dilestarikan: idhã wujida nash fathamma mashlahah, idhã wujida al-maslahah fathamma shar' al-Lãh—jika ditemukan teks, maka disana ada kebaikan, dan jika ditemukan kebaikan, maka disana adalah hukum Allah. Ini uraian singkat dan pokoknya saja. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan diruang yang lebih luas.

Pada akhir tulisan pendek ini saya ingin mengatakan bahwa Islam Nusantara harus lebih digali lagi sebagai perilaku bangsa agar tidak ada lagi hal-hal yang tidak kita inginkan justru terjadi.[]




* Oleh: KH. Ma'ruf Amin, Rais 'Aam PBNU dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Read More

Lupakan Islam Nusantara


rumahnahdliyyin.com -
أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلإِ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ مِن بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُواْ لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكاً نُّقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلاَّ تُقَاتِلُواْ قَالُواْ وَمَا لَنَا أَلاَّ نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَآئِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْاْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ 

لَّقَدْ سَمِعَ اللّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاء سَنَكْتُبُ مَا قَالُواْ وَقَتْلَهُمُ الأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ الْحَرِيقِ 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّواْ أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُواْ رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدَّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى وَلاَ تُظْلَمُونَ فَتِيلاً 

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَاناً فَتُقُبِّلَ مِن أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ 

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ قُلِ اللّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاء لاَ يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُواْ لِلّهِ شُرَكَاء خَلَقُواْ كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Lima ayat diatas tak punya hubungan dengan wacana Islam Nusantara. Kelima ayat diatas juga bukan hujjah untuk Islam Nusantara. Konon, Islam Nusantara hanya merupakan tipologi. Bukan madzhab, bukan pula aliran. Maka, ia tak butuh dalil. Pertanyaanya, kenapa Islam harus ditambahkan embel-embel Nusantara? Kenapa tidak mandiri saja: Islam!

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Mari kita kembali mandiri dalam menyebut Islam. Untuk itu, kita lupakan saja "Islam" + "Nusantara". Dengan begitu, kita pun harus lupakan deretan embel-embel lain yang selama ini sering melekat dan mengiringi diksi Islam.

Selain Islam Nusantara, kita mendengar juga Islam Berkemajuan, Islam Modern, Islam Tradisional, Islam Moderat, Islam Kaffah, Islam Rohmatan lil-'alamin, Islam Militan, Islam Garis Keras, Islam Pluralis, Islam Progresif, Islam Transformatif, Islam Inklusif, Islam Aktual, hingga Islam Liberal dan masih banyak deretan embel-embel lain yang menyertai.

Baca Juga: Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu

Pertanyaanya, kenapa diksi "Islam" perlu menggunakan embel-embel?

Mungkin, upaya menyertakan adjective atau predikat lain terhadap diksi "Islam" lantaran makna Islam itu begitu general dan universal. Maka, Islam "seperti butuh" predikat tertentu demi menjelaskan daya jangkaunya yang mampu menyusup di semua aspek kehidupan. Karena tak bisa disangkal, betapa daya jangkau Islam itu mampu menembus berbagai ranah, seperti geografis, sosiologis, antropologis, sains, psikologis, hingga filosofis. Seakan, embel-embel yang menyertai diksi "Islam" itu hanya bagian-bagian kecil dalam upaya memotret kemenyeluruhan Islam.

Tapi, rupanya menyertakan embel-embel apapun punya resiko besar. Lantaran upaya itu dapat memberi kesan "menodai" kemurnian Islam. Maka sekali lagi, seharusnya Islam adalah Islam. Islam! Itu saja. Islam. Titik!

Baca Juga: Islam Nusantara dalam Perspektif Perempuan

Islam adalah Islam. Benar, Islam adalah Islam. Tapi kenapa ketika Islam ditulis dengan Al-Islam sekalipun, meski sama-sama memiliki akar pemaknaan yang sama, yakni pasrah atau berserah, sebagaimana yang terjadi di jaman para sahabat Nabi SAW., secara aplikatif makna Islam tetap akan menuai pemahaman, pengalaman dan cita rasa yang beragam? Kenapa Imam Hanafi yang sangat memahami Islam, punya sejumlah pandangan yang berbeda dengan Imam Syafi'i yang juga jelas-jelas memahami Islam? Begitu juga Imam-imam yang lain.

Padahal, mereka bukan hanya muslim, tapi juga pribadi yang sangat otoritatif dalam memahami Islam. Tapi, Imam Hanafi hingga Imam Hambali, bahkan Imam Ja'far yang menjadi dedengkot sebelum mereka semua, tak pernah menyebut Islam Kuffah, Islam Irak, Islam Iran, Islam Basrah, Islam Madinah, apalagi Islam Nusantara! Maka, kembalilah kepada Islam tanpa embel-embel apapun. Titik!

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Kita maklum, manusia sebagai homo simbolicum terbiasa menggunakan simbol-simbol dalam mengartikulasikan gagasan dan pemikiran. Salah satu simbol itu bernama bahasa. Dari sini, kiranya wajar jika kita juga menyusur "cara" keberagamaan kita lewat bahasa. Apalagi, Al-Qur'an yang Allah SWT. singkapkan kepada Sang Nabi SAW. adalah peristiwa dimana Allah Yang Maha Tak Terbatas berkenan menggunakan bahasa manusia yang terbatas; yakni Bahasa Arab.

Jika saya katakan Bahasa Arab terbatas, tentu membuat pekak telinga orang yang menganggap Bahasa Arab sebagai segalanya. Padahal, selagi masih menggunakan huruf dan kata-kata, ekspresi apapun selalu terbatas.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Saya yakin betapa Al-Qur'an untuk setiap ayatnya mengandung 70 ribu makna. Bahkan untuk setiap huruf dalam setiap kata, menyimpan makna-makna tertentu yang tak terbayangkan. Tapi, itu bukan berangkat dari bahasa Arab. Ada Bahasa "lain" yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. "Bahasa" yang demikian itu hanya "dirasa" sebagaimana yang pernah disingkapkan kepada Nabi SAW.

Kita bertanya, peristiwa pewahyuan yang jelas-jelas berlangsung secara kasyfi (penyingkapan) yang jauh diluar nalar-aqliyah, kenapa kemudian kita berupaya sekeras-kerasnya hendak menyingkap kedalaman Al-Qur'an, atau berusaha keras menemukan maqoshidul-ayat dengan perangkat-perangkat nalar kita yang terbatas?

Bukankah dalam Surat Al-Waqi'ah disebutkan, "Tidak ada yang dapat menyentuh atau memahami Al-Qur'an kecuali orang yang disucikan (muthohharun)?" Diksi yang digunakan dalam ayat tersebut adalah orang yang disucikan (muthohharun), bukan orang yang bersuci (muthohhirun), apalagi sok suci. Maka, disucikan di sini bermakna kita ini pasif, tak berdaya, tak mampu apa-apa. Dalam pandangan basyariyyah, mustahil kita yang najis dapat menyucikan diri kita sendiri. Hanya yang Maha Suci yang dapat menyucikan kita.

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas Nilai Agama

Bagi santri yang belajar Bahasa Arab secara tuntas, membaca lima ayat diatas tentu tak butuh terjemahan. Sementara pihak lain yang tak paham Bahasa Arab, harus tunduk pada makna yang diperoleh dari hasil terjemahan. Padahal, terjemahan apapun itu sudah merupakan tafsir karena telah berupaya mengalihkan dalam Bahasa lain. Kita lupa, bahwa kita hidup dalam rumah besar yang bernama rumah tafsir. Apapun yang menghampiri kita, pasti akan berhadapan dengan tafsir kita sendiri.

Dengan demikian, ayat per ayat yang menghampiri kita, maknanya akan dirasakan oleh kita tergantung pada kapasitas tafsir yang kita punya. Sehingga, baik yang mampu menerjemahkan sendiri atau yang berangkat dari terjemahan orang lain, respon pertama adalah kesan.

Kesan ini dalam perkembangannya mungkin saja akan dipertanyakan oleh diri sendiri. Apakah kesan dirinya adalah wahm yang berdasarkan nafsu dan pengerahan akal, atau kesan berupa kesadaran menyerah bahwa Pemilik Otoritas makna hanyalah Tuhan, sehingga dirinya menyerah tak tahu apa yang dimaksud.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Untuk kasus lima ayat diatas, saya sendiri tak mampu menerjemahkan, apalagi menafsir. Saat membaca lima ayat diatas, saya hanya menemukan kesan bahwa lima ayat tersebut bukan dari surat yang sama dalam Al-Qur'an, melainkan dari surat-surat yang berbeda, yakni: (1) Surat Al-Baqoroh ayat 246; (2) Surat Ali Imran ayat 181; (3) Surat An-Nisa' ayat 77; (4) surat Al-Maidah ayat 27; dan (5) Surat Ar-Ra’d ayat 16.

Kesan berikut saat membaca kelima ayat diatas, saya cuma menemukan bahwa tiap-tiap ayat tersebut sama-sama memiliki 10 huruf Qof. Karena masing-masing memiliki 10 Qof, jika semua ayat itu dibaca, maka dipastikan saya melafalkan 50 huruf Qof. Memang ada apa dengan huruf Qof? Saya tidak bisa jawab. Karena hal ini sudah masuk urusan tafsir.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Kasus lain adalah doa. Seorang santri asal Rembang, misalnya, yang lama berjibaku di pesantren, kemudian berkesempatan kuliah di negeri Arab yang berbahasa Arab, ketika ia pulang kampung dan berdoa, kira-kira doa apa yang akan ia baca? Tentu saja doa-doa yang ada dalam Al-Qur'an atau doa-doa yang pernah diajarkan Nabi SAW. yang ia ketahui dari guru-guru dan kitab-kitab yang ia baca.

Apakah si santri itu akan menggunakan Bahasa Arab? Tentu saja, iya. Ia bukan hanya mahir Bahasa Arab, tapi ia pun tahu dalam riwayat bahwa Nabi SAW. berdoa dengan Bahasa Arab.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Tapi, bagaimana dengan makna dari doa-doa yang ia baca? Meskipun santri Rembang itu sudah menguasai 1000-an nadhom dalam kitab Al-Fiyah, bahkan khatam Mantiq, Juman hingga Bayan, ketika Bahasa Arab ia lafalkan dalam doa-doanya, hati si santri Rembang itu tetap akan mencari bahasa lokalnya atawa Bahasa Ibunya.

Kenapa si santri yang fasih berdoa dalam Bahasa Arab-nya masih harus menggunakan cita rasa Bahasa Ibunya dan tidak menggunakan cita rasa dari epistemic-nya Bahasa Arab saja? Ketika santri melangsungkan itu, sebenarnya atas mau siapa? Dorongan apa yang membuat si santri harus menggunakan bahasa primordialnya?

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Saya tidak bisa jawab pertanyaan diatas. Tapi ayat 4 dalam surat Ibrahim ini bisa menjelaskan:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Tidaklah Kami utus dari seorang rasulpun, kecuali dengan lisan kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah SWT. menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana."

Baca Juga: Menyikapi Fatwa yang Kontroversial

Tentu saja santri yang mengalami hal seperti itu bukan hanya santri dari Rembang, Jawa Tengah. Mungkin saja berasal dari Papua, Aceh, Medan, Bandung, Banten, Tegal, Madura, Amerika, Prancis, hingga Cape Town. Masing-masing dari mereka, punya epistemic sendiri berdasarkan udara, air, pepohonan, pantai atau pegunungan yang menjadi kediaman tubuh mereka.

Maka, santri yang berasal dari Sumedang tetap akan berdoa dengan Bahasa Arabnya yang fasih, tapi batinnya tetap bergelayut dalam lokalitas kesundaannya. Begitu juga santri Minahasa. Ia tak akan main-main untuk berdoa dengan bahasa lain selain Bahasa Al-Qur'an dengan segala pertimbangan tauhidnya, namun sejarah Bahasa Ibu dalam jiwanya tak bisa ia tanggalkan. Bila demikian yang berlangsung, apakah sikap santri-santri itu keliru?

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Dalam perkembangannya, Bahasa Ibunya kemudian menyublim dalam keseharian, seiring kesadaran Islam yang menyusup dalam keyakinannya. Sehingga santri dari Klaten, misalnya, memohon ampun kepada Allah SWT. dengan bergumam, "Ya Allah Gusti, dalem nyuwun agunging pangapunten, duh Gusti. Mugi Gusti kerso dalem dados umatipun Kanjeng Nabi."

Salahkah santri Klaten itu karena tidak menggunakan Bahasa Arab sebagaimana yang pernah digunakan Sang Nabi SAW.? Apakah Allah SWT. begitu bodoh karena hanya bisa memahami Bahasa Arab, bukan bahasa-bahasa manusia yang lain? Bagaimana dengan ayat 4 dalam surat Ibrahim diatas?

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Zaman Now

Berangkat dari ekspresi berdoa, mungkin kita dapat mempertimbangkan pula dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita bisa lihat sejumlah istilah tata negara kita yang banyak menggunakan idiom Bahasa Arab. Majlis Permusyawaratan Rakyat, itu semua berasal dari Bahasa Arab "Majlis", "Musyawaroh", "Ro'iyyah". "Dewan" juga dari Bahasa Arab.

Sepintas yang terlihat adalah, disatu sisi, Nusantara begitu banyak dipengaruhi Bahasa Arab, dan disisi lain, Islam yang sumber-sumbernya menggunakan Bahasa Arab, dalam praktiknya kadang menggunakan bahasa lokal. Sebut saja kata "Puasa". Selama ini, kita begitu akrab menggunakan diksi "puasa" ketimbang "shiyam". Padahal, "puasa" yang berasal dari uphawasa adalah bukan Bahasa Arab.

Begitu juga saat usai seluruh ibadah shiyam di Bulan Romadlon, umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri, kita menyebutnya lebaran. Kemudian kita Mudik ke kampung, bersalam-salaman, sungkeman dan bermaaf-maafan, kemudian saling berbagi, bahkan mengadakan halal bihalal. Apakah semua tradisi itu salah sebagai ekspresi lokalitas yang menyublim bersama spirit Islam? Apakah Islam kemudian ternoda?

Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama Kendal

Jika benar semua tradisi yang sebenarnya menjadi perwujudan nilai-nilai Islam itu dianggap merusak dan menodai kemurnian Islam, maka lepaskan semua atribut lokalitas kita saat ini juga. Lupakan tanah air ini yang pernah menjadi tumpah darah kita. Lupakan bahasa Sunda, Jawa, Bugis, Aceh, Minang, Papua dan bahasa mana pun yang bukan bahasa Al-Qur'an. Ratakan semua makam para wali yang sering diziarahi di bumi ini karena tidak sesuai dengan Islam sebagaimana di negeri Arab. Ratakan pula seluruh pesantren di negeri ini karena Nabi SAW. tidak pernah mendirikan pesantren sepanjang hayatnya.

Lepaskan juga semua jeans atau sarung dan baju surjanmu karena semua itu tak pernah dipakai oleh Nabi SAW. sama sekali. Hapus juga semua sistem ekonomi, politik, budaya yang bukan Islam. Karena semua praktik itu sama sekali bukanlah Islam alias kafir. Hapus tradisi lebaran dan bermaaf-maafan di negeri ini. Bila perlu, bunuh saja siapa saja yang masih berkunjung dan sungkeman saat lebaran. Karena perilaku itu tidak ada dasar dalil sama sekali.

Baca Juga: Kriminalisasi ulama Dimasa Khilafah

Akhirnya, jika sungguh untuk menjadi Islam adalah harus sama persis sebagaimana yang terjadi di jaman Nabi SAW., maka gurunkan negeri ini segera. Semoga perang besar di negeri ini segera terjadi. Perang antara pihak manapun yang meyakini bahwa Islam harus sama persis sebagaimana Nabi SAW. melawan pihak yang meyakini bahwa keislaman Nabi SAW. dapat melebur dimana saja ia berada, termasuk di Nusantara ini. Semoga kita sama-sama hancur atas nama keyakinan diri sendiri. Semoga Allah Mengabulkan.[]



* Oleh: Abdullah Wong
Read More

Islam Nusantara dalam Perspektif Perempuan


rumahnahdliyyin.com - Barusan saya berargumentasi dengan salah seorang kerabat di WAG keluarga tentang Islam Nusantara yang dimatanya Islam yang campur aduk, tak jelas batas mana yang Islam mana yang budaya.

Saya menyanggahnya. Tapi, ya sudah lah. Otak salaf memang beku. Baginya, Islam tak pernah bergerak melintasi ruang dan waktu berakulturasi dengan wilayah yang dilaluinya. Bahkan, dengan era penjajahan, dan membentuk "Agama Islam".

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Islam itu, baginya, beku di era Rasulullah SAW. Meskipun herannya, dia hidup di Nusantara yang Islamnya jelas Islam Nusantara. Wong makannya juga masih nasi, berzakatnya juga dengan beras.

Belakangan, salah satu pemicu penolakan pada gagasan Islam Nusantara dikemukakan oleh penceramah perempuan, Mamah Dedeh. Meskipun dia telah meminta maaf, utamanya kepada kalangan Nahdliyin, saya merasa perlu untuk memberi argumentasi lain sebagai perempuan dengan perspektif perempuan.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Mamah Dedeh bisa menjadi muballighot, ceramah didepan umum yang jamaahnya perempuan dan laki-laki, bisa bicara di TV dan suaranya tak dianggap aurot, itu karena ia berada dan menganut islam Nusantara.

Islam Nusantara adalah Islam yang memberi ruang kepada perempuan dan keragaman. Bayangkan, (mengutip Gus Dur yang mengemukakannya pertama kali) hanya di Indonesia perempuan bisa menjadi hakim agama. Itu karena awal mulanya, IAIN membuka pintu kepada santri-santri putri lulusan pesantren untuk lanjut kuliah di Fakultas Syari'ah. Ketika itu, Menteri Agamanya ayahanda beliau, KH. Wahid Hasyim, perempuan menjadi hakim itu barang terlarang di negara-negara Islam lain atau di sumbernya.

Baca Juga: Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu

Islam Nusantara adalah Islam yang memberi ruang kepada keragaman budaya yang kemudian diserap oleh nilai-nilai Islam. Islam Nusantaran adalah Islam yang beradaptasi dengan budaya agraris, budaya sungai, budaya urban, budaya pesisir dan budaya pedalaman.

Budaya Islam adalah budaya yang menghargai alam yang subur. Karenanya, kita menabur kembang di kuburan, membuat ketupat saat Idul Fitri, membuat opor dan rendang dari kelapa, bukan dari kurma, dan menyelenggarakan sholat di tanah lapang. Pelaku-pelaku budaya itu, adalah orang seperti Mamah Dedeh juga, umumnya perempuan.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Budaya (Islam) Nusantara adalah budaya yang memberi ruang kepada perempuan mendirikan organisasi khusus perempuan membahas kebutuhannya sendiri. Karenanya, lahir Aisyiyah dan Muslimat/Fatayat.

Islam Nusantara juga adalah Islam yang mendendangkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. dengan penuh rindu dalam ragam sholawat, mendaras Al-Qur'an dan menghafal hadits. Berulang kali khataman Al-Qur'an sebagai pencapaian pribadi yang dirayakan dengan selamatan dan syukuran, ngaji kitab kuning dari tingkat pemula di madrasah hingga luhur (Ma'had Aly) dan mendalami Ushul Fiqh sebagai metode yang teruji untuk memahami teks klasik Islam.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Dalam keseluruhan proses mengaji itu, perempuan merupakan jiwa yang menghidupkannya. Karena Islam Nusantara, maka ada Majelis Ta'lim, kaum Ibu berbondong-bondong pakai baju warna-warni, pakai bedak dan lisptik, minyak wangi dan pakai aneka jilbab dan hijab dengan pernak-penik aksesorisnya.

Budaya Nusantara adalah budaya yang membolehkan orang kayak Mamah Dedeh cewawakan, ketawa, bahkan terbahak-bahak didepan kaum lelaki, didepan publik.

Masih mau Islam Salafi Islam Arab? saya sih, ogah!
[]



* Oleh: Lies Marcoes, Tulisan diambil dari Akun Facebook.
Read More

Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu


rumahnahdliyyin.com - Beberapa bulan sebelum puasa tahun ini, saya menyaksikan sendiri peneliti Jepang mewawancarai Rais Syuriyah PBNU, KH. Ahmad Ishomuddin, di Pojok Gus Dur, lantai dasar PBNU, Jakarta. Dia bertanya tentang tawassul sebagai salah satu praktik warga NU atau Islam Nusantara.

Masya Allah, peneliti yang profesor itu kebingungan bukan main memahaminya. Kalau tidak banyak orang di situ, mungkin dia akan membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Namun, karena sikap semacam itu tak elok dilakukan oleh seorang profesor jenis apa pun, apalagi dari negara maju, dia hanya meringis dan mengernyitkan kening seperti orang yang menahan buang hajat berbulan-bulan.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Berkali-kali dia bertanya sambil mencatat. Bertanya, mencatat. Bekali-kali pula kiai Ishom menjelaskan dengan berbagai tamtsil dan dalil.

Entahlah, waktu itu dia pada akhirnya memahami atau tidak, saya tidak bertanya dan dia tidak memberitahukan pemahaman yang diserapnya. Mudah-mudahan saja dia paham. Kalupun tidak, mudah-mudahan tidak seperti orang Indonesia yang menafsirkan sendiri, menyimpulkan sendiri, lalu menyalahkannya.

Wajar mungkin sang profesor sempoyongan dalam memahami tawassul, karena terbentur dengan cara berpikir yang berlainan. Butuh beberapa waktu untuk memahaminya seperti yang dimaksud dalam pemahaman orang NU sendiri.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Hal itu merupakan Islam Nusantara dalam salah satu praktiknya. Lalu, bagaimana dengan organisasinya, Nahdlatul Ulama?

Sekitar tahun 1971, KH. Saifuddin Zuhri menceritakan dalam salah satu tulisannya tentang KH. Wahab Hasbullah, ada peneliti Amerika Serikat bernama Allan Samson yang meneliti NU selama 6 bulan. Ia mengeluh, ternyata kesimpulannya salah. Ia juga mengeluh ternyata banyak peneliti lain yang salah baca. Namanya salah baca, tentu saja salah juga dalam mengambil kesimpulan, bukan?

Menurut kiai Saifuddin, 6 bulan itu tak seberapa. Ada pemimpin-pemimpin besar Indonesia sendiri yang selama 40 tahun bergaul dengan NU, tapi tetap saja mengambil kesimpulan salah. Mereka sukar memahaminya atau memang tak mau paham.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Jadi, biasa saja orang mengambil kesimpulan salah terhadap NU. Karena memang dari sananya sudah begitu jejaknya. Jika hari ini banyak orang yang mempertanyakan tentang Islam Nusantara dengan cibiran dan menyalahkan, memang gen mereka sudah ada sejak masa lalu. Bibitnya selalu diternak.

Tariklah ke masa yang lebih jauh, pada masa awal NU berdiri, yakni tahun 1926. Sekelompok kiai pesantren dari desa tiba-tiba membikin organisasi. Tidak bergemuruh. Lalu, dalam statutennya (AD/ART), mereka mencantumkan sebagai kelompok bermadzhab kepada salah satu imam mazhab empat.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Waktu itu, statuten demikian yang lain dari yang lain, tentunya lantaran sedang bergemuruh semangatnya Islam pembaruan, kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits. Buat apa madzhab-madzhab-an. Umat Islam harusnya mengambil hukum dari sumbernya langsung. Sikap bermadzhab (mereka menyebutnya taqlid buta, padahal istilah itu tidak ada di NU) adalah lambang kejumudan yang mengakibatkan berlangsungnya penjajahan.

Mereka mungkin lupa Pangeran Diponegoro yang berusaha mengusir penjajah pada 1825-1830, pemberontakan rakyat Banten dan lain-lain, yang dilakukan oleh kelompok bermadzhab. Atau, mungkin pura-pura lupa dan tak membaca sejarah.

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas dari Agama

Menurut kiai Saifuddin pada Secercah Dakwah (1984), kelompok yang demikian tidak kritis terhadap Muhammad Abduh yang membelokkan pisau analisisnya terhadap kesewenang-wenangan kolonialisme Barat, lalu berbalik menggunakan pisaunya untuk menguliti dunia Islam sendiri, terutama terhadap para ulama.

Pada saat yang sama, mereka lupa ada yang lebih penting dari itu, yaitu menggalang persatuan umat Islam. Menyalahkan umat Islam sendiri dalam hal furu’iyyah, justru akan melanggengkan penjajahan.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Kelompok tersebut, di Indonesia (dulu Hindia Belanda) mengarahkan pisaunya ke kiai-kiai pesantren yang kemudian mendirikan NU. Sebagai kiai pesantren, kiai Wahab tampil membela sembari “merayu” Hadlrotusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan sebuah organisasi kelompok bermadzhab. Namun tak direstui hingga 10 tahun.

Menurut kiai Wahab, seandainya Hadlrotusy Syaikh tidak merestui, ada dua pilihan baginya. Pertama, masuk menjadi anggota organisasi mereka dan bertempur tiap hari dengan mereka untuk membela kalangan pesantren. Kedua, kembali ke pesantren, menutup rapat-rapat informasi dari dunia luar. Ia hanya mengajar santri. Beruntunglah, Hadlrotusy Syaikh kemudian merestui.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Sekali lagi, jika hari ini ada kelompok yang menyalahkan NU yang tidak bersifat prinsipil, mereka adalah copy paste dari kelompok masa lalu yang salah baca. Namanya salah baca, sekali lagi, akan salah mengambil kesimpulan.

Dalam Secercah Dakwah, kiai Saifuddin mengutip pendapat Dr. Alfian dari Universitas Indonesia. Kesalahan baca tersebut bersumber dari sikap arogansi, angkuh, karena tidak puas dengan kesangsian menghadapi kebenaran.

Namun, NU membuktikan dari waktu ke waktu tetap berjalan, lolos melewati berbagai tantangan situasi. Yakinlah, copy paste masa lalu itu akan bisa dihadapi pula oleh NU hari ini.[]



* Oleh: Abdullah Alawi, Tulisan ini diambil dari NU Online.
Read More

Memahami Islam Nusantara


rumahnahdliyyin.com - Saya bertumbuh dalam warna Muhammadiyah. Setidaknya, masjid di kampung saya, dulu, sholat Tarawih 11 roka'at meski dalam berbagai urusan masih tercampur dengan "fikih NU".

Pada masa remaja, saya ikut Ibu pulang kampung ke Kauman, Jogjakarta, tempat lahirnya Muhammadiyah. Hanya ada satu warna dalam memahami dan mempraktikkan agama ini. Sudah pasti saya pun hanya tahu sedikit-sedikit. Bangga saja terhadap kisah-kisah masa lalu dari ibu saya tentang bapak beliau, KH. Abdul Hamid, yang adalah imam Masjid Agung Kauman, yang ditunjuk langsung oleh Sri Sultan dan ikut mendirikan Muhammadiyah.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Diluar itu, berbagai pengajian, terutama ceramah idola saya dulu, pak Amien Rais, mengkristalkan sudut pandang saya perihal agama ini. Saya remaja putih abu-abu yang mendeklarasikan partai Matahari Terbit di Lapangan Kridosono. Begitu menggebu-gebu.

Ketika menjadi wartawan pada awal 20-an, saya jadi punya kesempatan untuk memahami macam-macam aliran pemikiran dari rumah ibadah mereka, dari imam-imam mereka: Ahmadiyah, LDII, Syi'ah dan lainnya.

Babak yang cukup berat, karena pada saat yang sama, justru saya ada dalam disiplin pembelajaran Tarbiyah. Pengajian mingguan yang menggebukan ghiroh perjuangan, gerakan turun ke jalan yang menggemakan takbir, persaudaraan para anak muda pendakwah yang hangat dan membuat masa muda begitu ngangenin. Saya bahkan menjadi penyanyi nasyid.

Pula, pada waktu ini saya berkuliah di kampus dengan sentuhan Wahhabi yang sangat kuat. Ketika Pancasila menjadi gurauan di kelas perkuliahan.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Namun, jurnalistik benar-benar membantu saya untuk menemukan formula toleransi pada masa-masa sulit ini. Bahwa, toleransi kemudian saya artikan bukan kecenderungan untuk berdiam di kotak masing-masing. Toleransi mesti diawali dengan memahami. Diskusi tanpa tendensi. Memahami keyakinan suatu kelompok, berpikir dengan alam pikiran mereka pada prosesnya, lalu kembali kepada keyakinan sendiri.

Itulah mengapa saya kian tak terganggu dengan perbedaan. Bahkan, pada gilirannya, saya bisa memahami Trinitas Kristiani. Memahami, bukan mengimani.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Lalu, pada usia yang kian jauh dari titik remaja ini, saya merasa sangat....sangat nyaman dengan berbagai pemikiran NU. Terutama perihal ke-Indonesia-an.

Menyimak berbagai ceramah kiai-kiai NU, membuka sumbatan yang telah lama menyumpal kebebalan otak saya. Tentang Indonesia, misalnya, saya memahami baru-baru ini. Para kiai melihat Indonesia dengan kacamata yang sangat khas. Tidak terbaca dari sudut pandang yang ahistoris. Maka, menyimak ceramah Gus Wafiq, contohya, saya tidak hanya belajar Tauhid, tapi juga sejarah.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Mengapa tidak perlu menbenturkan Islam dengan ke-Indonesia-an? Sebab, Indonesia itu lahir dari rahim ijtihad para ulama. Mereka yang kearifannya tidak terjangkau keawaman umat. Hidup pada masa lalu, namun bervisi ratusan tahun ke depan.

Muslim Indonesia adalah "warisan" ulama. Para ulama adalah ahli waris para wali. Mereka yang menanam Islam dalam peradaban Nusantara yang sudah amat tinggi. Peradaban yang sanggup menolak segala bentuk penetrasi. Nusantara bukan sebuah peradaban kosong nilai, bahkan sebelum masa Hindu-Buddha.

Maka, formula Muslim Indonesia telah disiapkan begitu baik, teliti, bijaksana. Praktik Islam dalam keberagaman. Suatu kesadaran yang melahirkan sebuah entitas bernama Indonesia.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Jadi, saya memahami bahwa Pancasila itu nama yang telah ada sejak zaman Majapahit. Namun, isinya menjadi amat bertauhid Islam ketika dilahirkan kembali pada masa kemerdekaan.

Saya baru paham, saya benar-benar baru paham, oh, inikah maksudnya mengapa para ulama NU begitu kukuh dengan konsep Indonesia dan Pancasila. Sebab, keduanya adalah bagian tak terpisahkan dari ijtihad melahirkan identitas Islam Indonesia atau Islam Nusantara. Label yang memicu kesalahpahaman ketika tidak dimengerti dengan proses memahami.

Maka, saya bahagia karena menjadi tahu betapa terberkahi Tanah Air ini. Mewarisi kearifan hati, kecerdasan pikiran, ketinggian ilmu para ulama yang menjaga Indonesia.

Saya belajar memahami, lalu berusaha bertoleransi.[]



* Oleh: Tasaro GK.
Read More