Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan

Jasa Pak Harto Atas NU


rumahnahdliyyin.com - Sejauh ini, kalau saya perhatikan di linimasa, teman-teman yang mengucapkan selamat Hari Santri Nasional kok hanya teman-teman yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Selebihnya, mungkin mereka yang punya hubungan batin dengan pesantren. Kalaupun tidak, mungkin punya hubungan dengan NU. Untuk benar tidaknya hal ini, silakan diamati sendiri.

Bicara tentang santri, niscaya harus menyinggung soal pesantren. Sedangkan bicara tentang pesantren, tentu tak bisa menghindar dari membicarakan NU. Ketiganya adalah unsur yang tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.

Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua untuk Nahdliyyin di Jawa

Kendati berbagai lembaga survei telah menunjukkan bahwa NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia, ada saja pihak-pihak yang mempertanyakannya. Katanya, NU hanya besar di Jawa saja. Di lain daerah tidak. Dan memang harus diakui demikianlah adanya.

Sayangnya, NU kurang memperhatikan kekurangannya itu. Walhasil, pihak-pihak yang komplain tadi buru-buru berlari kencang ke daerah-daerah luar Jawa untuk menyebar benih ormas/Islam versinya yang kemudian mengakar kuat di sana. Dan dewasa ini cengkeraman ini agak terasa sepertinya.

Baca Juga: NU Dimata Romo Benny

Di luar Jawa memang ada NU. Dan sebagian besar adalah NU kultural. Dalam artian, dalam keseharian ibadahnya ala NU. Kendati ala NU, bahkan tidak sedikit yang tidak tahu apa itu NU. Bahkan mendengarnya pun pelum pernah. Jangan heran pula bila mereka memang tak tahu. Karena faktanya memang tak tahu. Tahunya Islam. Titik. Kendati Islam yang dijalankannya selama ini adalah Islam ahlissunnah wal-jama'ah annahdliyyah. Dan muslim "thok" seperti inilah yang sangat mudah "digeret" oleh agen Islam "yang aneh-aneh."

Harus diakui memang kalau NU itu Jawa Centris. Di mana ada orang Jawa, di situlah ada kepengurusan NU. Bisa dikatakan hampir di seluruh propinsi dan daerah di Indonesia ini pasti pengurus NU-nya mayoritas orang Jawa. Di Sumatera, di Kalimantan, di Sulawesi, hingga di Papua.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Tahukah kita siapa yang paling berjasa atas adanya kepengurusan NU di luar Jawa? Tahukah kita siapa yang telah berjasa besar menyebar benih-benih Islam rahmah ke seluruh penjuru Nusantara? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah pak Harto.

Sebagaimana kita ketahui bersama, banyak diantara penduduk menengah ke bawah pada masa Orde Baru di Indonesia adalah warga Nahdliyyin. Dan tidak sedikit diantara mereka yang santri. Dan pak Harto-lah yang menyebar kelas sosial ini ke seluruh penjuru Nusantara lewat programnya transmigrasi. Kendati transmigrasi, mereka tetap berusaha ngurip-urip NU di daerah di mana mereka berada. Inilah hebatnya para transmigran dulu. Saya menduga, mereka melakukan ini mungkin terngiang-ngiang dawuhnya Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari yang kurang lebih berbunyi: "Siapa yang mau mengurusi NU, maka akan ku anggap sebagai santriku. Dan siapa yang jadi santriku, maka aku do'akan husnul khotimah beserta anak-cucunya."

Baca Juga: Kekecualian Nahdlatul Ulama'

Dan mumpung sekarang adalah hari di mana kita semua tengah memperingati Hari Santri Nasional, saya ingin mengajak berpikir siapa saja (tentu saja bagi yang mau), terutama buat sedulur-sedulur santri semuanya: "Sekarang sudah tak ada pak Harto. Tak ada program transmigrasi. Terlebih, kebanyakan dari kita pun sudah berada di titik nyaman di Jawa. Lalu, bagaimanakah supaya kita bisa menambal kekurangan NU di luar Jawa yang saat ini masih minim dan 'terancam' oleh adanya Islam 'aneh-aneh' itu? Bagaimanakah caranya supaya cara berislamnya santri yang rahmah ini bisa mengakar di seluruh penjuru negeri?"

Akhirnya, selamat berpikir dan jangan lupa sambil ngopi.

Salam.



* Oleh: Agus SB, Khodim Madrasah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Memahami Islam Nusantara


rumahnahdliyyin.com - Saya bertumbuh dalam warna Muhammadiyah. Setidaknya, masjid di kampung saya, dulu, sholat Tarawih 11 roka'at meski dalam berbagai urusan masih tercampur dengan "fikih NU".

Pada masa remaja, saya ikut Ibu pulang kampung ke Kauman, Jogjakarta, tempat lahirnya Muhammadiyah. Hanya ada satu warna dalam memahami dan mempraktikkan agama ini. Sudah pasti saya pun hanya tahu sedikit-sedikit. Bangga saja terhadap kisah-kisah masa lalu dari ibu saya tentang bapak beliau, KH. Abdul Hamid, yang adalah imam Masjid Agung Kauman, yang ditunjuk langsung oleh Sri Sultan dan ikut mendirikan Muhammadiyah.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Diluar itu, berbagai pengajian, terutama ceramah idola saya dulu, pak Amien Rais, mengkristalkan sudut pandang saya perihal agama ini. Saya remaja putih abu-abu yang mendeklarasikan partai Matahari Terbit di Lapangan Kridosono. Begitu menggebu-gebu.

Ketika menjadi wartawan pada awal 20-an, saya jadi punya kesempatan untuk memahami macam-macam aliran pemikiran dari rumah ibadah mereka, dari imam-imam mereka: Ahmadiyah, LDII, Syi'ah dan lainnya.

Babak yang cukup berat, karena pada saat yang sama, justru saya ada dalam disiplin pembelajaran Tarbiyah. Pengajian mingguan yang menggebukan ghiroh perjuangan, gerakan turun ke jalan yang menggemakan takbir, persaudaraan para anak muda pendakwah yang hangat dan membuat masa muda begitu ngangenin. Saya bahkan menjadi penyanyi nasyid.

Pula, pada waktu ini saya berkuliah di kampus dengan sentuhan Wahhabi yang sangat kuat. Ketika Pancasila menjadi gurauan di kelas perkuliahan.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Namun, jurnalistik benar-benar membantu saya untuk menemukan formula toleransi pada masa-masa sulit ini. Bahwa, toleransi kemudian saya artikan bukan kecenderungan untuk berdiam di kotak masing-masing. Toleransi mesti diawali dengan memahami. Diskusi tanpa tendensi. Memahami keyakinan suatu kelompok, berpikir dengan alam pikiran mereka pada prosesnya, lalu kembali kepada keyakinan sendiri.

Itulah mengapa saya kian tak terganggu dengan perbedaan. Bahkan, pada gilirannya, saya bisa memahami Trinitas Kristiani. Memahami, bukan mengimani.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Lalu, pada usia yang kian jauh dari titik remaja ini, saya merasa sangat....sangat nyaman dengan berbagai pemikiran NU. Terutama perihal ke-Indonesia-an.

Menyimak berbagai ceramah kiai-kiai NU, membuka sumbatan yang telah lama menyumpal kebebalan otak saya. Tentang Indonesia, misalnya, saya memahami baru-baru ini. Para kiai melihat Indonesia dengan kacamata yang sangat khas. Tidak terbaca dari sudut pandang yang ahistoris. Maka, menyimak ceramah Gus Wafiq, contohya, saya tidak hanya belajar Tauhid, tapi juga sejarah.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Mengapa tidak perlu menbenturkan Islam dengan ke-Indonesia-an? Sebab, Indonesia itu lahir dari rahim ijtihad para ulama. Mereka yang kearifannya tidak terjangkau keawaman umat. Hidup pada masa lalu, namun bervisi ratusan tahun ke depan.

Muslim Indonesia adalah "warisan" ulama. Para ulama adalah ahli waris para wali. Mereka yang menanam Islam dalam peradaban Nusantara yang sudah amat tinggi. Peradaban yang sanggup menolak segala bentuk penetrasi. Nusantara bukan sebuah peradaban kosong nilai, bahkan sebelum masa Hindu-Buddha.

Maka, formula Muslim Indonesia telah disiapkan begitu baik, teliti, bijaksana. Praktik Islam dalam keberagaman. Suatu kesadaran yang melahirkan sebuah entitas bernama Indonesia.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Jadi, saya memahami bahwa Pancasila itu nama yang telah ada sejak zaman Majapahit. Namun, isinya menjadi amat bertauhid Islam ketika dilahirkan kembali pada masa kemerdekaan.

Saya baru paham, saya benar-benar baru paham, oh, inikah maksudnya mengapa para ulama NU begitu kukuh dengan konsep Indonesia dan Pancasila. Sebab, keduanya adalah bagian tak terpisahkan dari ijtihad melahirkan identitas Islam Indonesia atau Islam Nusantara. Label yang memicu kesalahpahaman ketika tidak dimengerti dengan proses memahami.

Maka, saya bahagia karena menjadi tahu betapa terberkahi Tanah Air ini. Mewarisi kearifan hati, kecerdasan pikiran, ketinggian ilmu para ulama yang menjaga Indonesia.

Saya belajar memahami, lalu berusaha bertoleransi.[]



* Oleh: Tasaro GK.
Read More

NU Dimata Romo Benny


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Dalam acara peluncuran buku "NU Penjaga NKRI" pada Selasa, 10 April 2018, di Aula PBNU lantai 8, Jakarta, Romo Antonius Benny Susetyo yang juga menjadi narasumber mengatakan bahwa NU selalu hadir dimana-mana, tetapi tidak ke mana-mana.

Orang NU, menurutnya, bisa menyatu dengan segala lapisan. Dari situlah, muncul relasi yang baik. Dan karena itu pula, ada suatu kepercayaan yang bahwa masyarakat NU tidak membeda-bedakan. Dalam beriman, orang NU sudah melompat dari politik identitas karena dihayati dalam nilai kemanusiaan. Berdasar nilai kemanusiaanlah, NU tampil pada era reformasi.

"Dari kemanusiaan itulah orang tidak lagi membedakan suku, identitas," kata Romo Benny seperti yang diberitakan oleh nu.or.id.

Baca Juga: Bersatunya NU dan Muhammadiyah Menunjukkan Utopisnya Khilafah

Lebih lanjut, ia pun memberikan gambaran di Sampit, Madura, yang tidak pernah muncul stigma negatif atas bantuan dari agama Katolik. Warga di sana tidak menuduh adanya kristenisasi dibalik itu. Ia juga mengungkapkan bahwa Gus Dur sebagai representasi NU selalu pasang badan dalam forum demokrasi. Gus Dur memberi pembelaan terhadap Romo Mangunwijaya ketika hendak ada yang menuduhnya PKI.

"Gus Dur menjadi pelekat dari sebuah demokratisasi," ujarnya.

Selain berperan sebagai penjaga negara, NU juga menjadi pusat peradaban. Hal itu karena mengingat peran NU yang mempertemukan Islam dan budaya yang kemudian melahirkan ajaran agama yang penuh kasih.

"NU sebenarnya menjadi pusat. Tidak hanya pusat penjaga NKRI, tetapi juga pusat peradaban," ungkap pria kelahiran Malang, 50 tahun silam itu.

Baca Juga: Rais 'Aam PBNU Titip NU Pada Raja Bali

Ditengah kegersangan yang melanda negara ini, NU juga berdiri menjadi oase. NU menjadi penyejuk dengan merangkul semua elemen dan kalangan. Hal inilah yang meyebabkan NU sebagai pusat peradaban. Dalam hal ini, bangsa Indonesia berhutang kepada NU.

"Bangsa ini berhutang terhadap NU," terang alumnus Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang, itu.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau ndonesia Menjadi Negara Islam

Selain itu, Romo Benny juga menguraikan tiga kesetiaan NU. Pertama, NU konsisten berpandangan bahwa NKRI adalah negara kebangsaan, bukan negara yang berdasarkan agama tertentu.

Kedua, NU setia mengembalikan Pancasila kepada rel yang benar. Dari sinilah, NU selalu ada pada setiap krisis yang melanda bangsa ini yang merupakan kesetiaannya yang ketiga.

Oleh karena itu, menurut Romo Benny, NU dibutuhkan bangsa ini sebagai alat pemersatu bangsa.[]


(Redaksi RN)
Read More

Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama berpandangan bahwa tahun Pilpres, Pilkada dan Pileg ini sebagai proses demokrasi yang harus dihadapi secara dewasa dan dijalani dengan tenang dan damai. Demikian salah satu hasil Rapat Syuriah-Tanfidziyah yang digelar di Jakarta, Selasa siang, 6 Maret 2018.

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., mengatakan bahwa di tahun demokrasi ini, seluruh pengurus NU, baik di Lembaga maupun Badan Otonom, harus tunduk terhadap aturan organisasi.

"Yang paling mudah tunduk kepada aturan NU itu, semua pengurus NU tidak boleh menggunakan atribut NU untuk kepentingan politik praktis. Ini aturan mutlak. Tidak boleh ditawar," tegas kiai Said Aqil.

Kiai Said menambahkan lagi bahwa sebagai warga negara, pengurus NU boleh memilih dan dipilih. Konsekuensi organisasi saat dipilih, itu ada. Begitu juga aturan saat memilih, juga ada. Etika berpolitik bagi pengurus NU itu sudah jamak diketahui oleh pengurus NU, baik di Lembaga maupun Badan Otonom.

"Saya tidak perlu menggurui karena aturan NU sudah diketahui oleh pengurus. Karena itu, PBNU hanya menyegarkan kembali atas etika berpolitik bagi pengurus NU," imbuh pengasuh Pondok Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur tersebut.

Berkaitan dengan beberapa kader NU yang mengikuti kontestasi Pilkada, kiai Said Aqil menyerukan agar menjunjung tinggi etika berpolitik NU dan menjaga persaudaraan sesama warga bangsa. Menurut kiai Said, Pilkada tidak lebih penting daripada persaudaraan sesama anak bangsa.

"Bagi politisi, kekuasaan itu penting untuk mewujudkan idealisasinya. Tidak kalah penting lagi adalah persaudaraan untuk mewujudkan ketenangan dan ketenteraman kehidupan anak bangsa," terang kiai Said.

Rapat Syuriah-Tanfidziyah PBNU yang dimulai sejak siang hari dan baru selesai menjelang tengah malam itu, membahas beberapa agenda. Diantaranya yaitu tentang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan tahun politik Indonesia.




(Redaksi RN)
Read More

Lawan Kebencian, Mari Bangun Algoritme Kebersamaan


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, mengingatkan pentingnya kecerdasan dalam bermedia sosial. Hal itu diungkapkannya pada Selasa malam kemarin, 6 Maret 2018, dalam agenda acara "Istighotsah dan Diskusi Politik dan Cyber: Menuju Medsosul Karimah" di Masjid PBNU, Jakarta Pusat.

"Sekarang ini, yang penting bagi kita semua itu kecerdasan bermedia sosial. Agar Indonesia tetap tenang dan damai. Tidak terusik dari kekisruhan di media sosial. Kita harus lawan kebencian. Kita bangun algoritme kebersamaan," paparnya.

Pada acara ini, hadir pula Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU), KH. Miftahul Akhyar (Wakil Rais 'Aam PBNU), KH. Said Asrori (Syuriah PBNU), Kombes Mulya (Polri), Suwadi D. Pranoto (Wasekjen PBNU), KH. Aizzudin Abdurrahman (Ketua PBNU), Sabrang Damar Mowopanuluh (Noe Letto), KH. Atholillah Habib (Waketum Pagar Nusa) dan Hasanuddin Wahid (Sekum Pagar Nusa).

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj, dalam kesempatan ini mengajak warga Nahdliyyin dan semua warga Indonesia untuk cerdas dalam bermedia sosial. Beberapa negara Timur Tengah yang telah mengalami krisis dan konflik pun di sebutkan sebagai pembelajaran.

Baca Juga:
Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol
Ppagar Nusa Temanggung Adakan Muskercab

"Kita lihat bagaimana perpecahan yang terjadi di Timur Tengah. Dari Syiria, Yaman, Libia dan beberapa negara di sekitarnya. Sebagian besar, diawali dengan perdebatan yang tak kunjung henti di media sosial. Ini harus kita sadari bersama," ungkap kiai Sa'id.

Lebih lanjut, kiai Sa'id mengajak umat muslim dan warga Indonesia untuk melawan kebencian. Sebab, jelas sekali bahwa kebencian, apalagi menebarnya, adalah suatu hal yang dilarang oleh ajaran agama.

"Sudah jelas, ajaran agama melarang kita untuk menebar kebencian. Yang harus dilakukan, yakni membagi kebahagiaan, amal sholih dan akhlaqul karimah," jelas kiai Sa'id.

Sementara itu, dalam kesempatan diskusi, Sabrang Damar (Noe Letto), menganalisa bagaimana berkembangnya media sosial serta tertinggalnya pemikiran warga Indonesia. Di hadapan ratusan pendekar dan jama'ah Istighotsah, Sabrang mengingatkan agar kita semua sadar diri ketika bermedia sosial.

"Sekarang ini, revolusi Industri tahapan ketiga. Kita pernah dengar bitcoin dan beberapa inovasi digital. Tapi, sekarang ini, warga Indonesia masih terpaku pada perdebatan yang riuh di media sosial," papar Sabrang.

"Kita harus lihat, bagaimana media sosial itu diciptakan, siapa yang menciptakan? Media sosial dirancang hampir sama dengan narkoba, agar addict (kecanduan). Medsos dicipta sedemikian rupa, agar pengguna kecanduan. Nah, ini yang harus kita pahami," imbuh Sabrang Noe Letto agak lebih rinci.

"Jangan seperti anak kecil yang berkelahi dengan anak kecil. Yang dibutuhkan sekarang ini adalah pawang yang mampu memayungi perdebatan-perdebatan yang ada," ucapnya kemudian.

Baca Juga:
Ketum PP. Pagar Nusa: Gerakan Intoleran, Tidak Bisa Dibiarkan
Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa

Sedangkan Suwadi D. Pranoto, pakar geostrategi, menyampaikan pentingnya menganalisa skenario dibalik penciptaan media sosial.

"Jelas, bahwa kita tidak hanya melihat media sosial, semata teknis teknologi digital. Kita harus melihat lebih mendalam. Aspek filosofis dan strategis dibalik itu," kata Suwadi yang akrab disapa dengan Cak Su ini.

Pada masa khidmah kepengurusan tahun 2017-2022, Pagar Nusa dibawah komando Nabil Haroen ini mengkonsolidasi diri dengan meluaskan jaringan dan meningkatkan kualitas pendekar. Sedangkan kegiatan Istighotsah dan Kajian yang diselenggarakan secara rutin tiap bulannya di Masjid PBNU ini merupakan ajang silaturrahmi kebangsaan dan menguatkan ukhuwwah Islamiyyah. []
Read More

Pagar Nusa Temanggung Adakan Muskercab


rumahnahdliyyin.com, Temanggung - Pengurus Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Temanggung periode tahun 2017-2022 menyelenggarakan Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) pada hari Minggu kemarin, 4 Maret 2018.

Muskercab yang diselengggarakan di komplek Pondok Pesantren Hidayatullah, Tuksongo, Pringsurat, Temanggung, ini merupakan salah satu permusyawaratan tertinggi ditingkat PC. PSNU Pagar Nusa.

Baca Juga:
Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa
Ketum PP. Pagar Nusa: Gerakan Intoleran Tidak Bisa Dibiarkan
Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol

Jumlah peserta yang hadir dalam Muskercab kali ini ada sebanyak 57 orang. Jumlah itu terdiri dari peserta penuh dan peserta peninjau.

Peserta penuh merupakan Pengurus Cabang PSNU Pagar Nusa Temanggung. Sedangkan Peserta peninjau terdiri dari unsur pengurus Syuriyyah dan Tanfidziyah PCNU Temanggung, Dewan Khos Pagar Nusa yang diundang resmi oleh panitia, Dewan Khos PC. Pagar Nusa, utusan Padepokan Silat yang tergabung dalam wadah PSNU Pagar Nusa (seperti LGBR, Gasmi, Ababil dan Cimande) serta para awak media massa.

Diantara tujuan diadakannya kegiatan Muskercab PC. PSNU Pagar Nusa ini yaitu:
  1. Mengevaluasi pelaksanaan program kerja PC. PSNU serta sebagai laporan berkala kepada PCNU.
  2. Membahas dan menetapkan kerangka kerja bidang-bidang strategis sesuai dengan perkembangan Pencak Silat NU di tengah masyarakat
  3. Membahas dan menetapkan kerangka kerja penyelesaian masalah-masalah organisasi dan keanggotaan. 
Rangkaian acara ini dimulai dengan upacara pembukaan yang dihadiri oleh PCNU Temanggung, Dewan Khos dan PC. PSNU Pagar Nusa Temanggung, dan dilanjutkan dengan sidang pleno yang dibagi menjadi 3 komisi:
  • Komisi A, yaitu dengan agenda pembahasan dibidang advokasi dan hukum, komunikasi dan penguatan jaringan serta ketabiban.
  • Komisi B, yaitu diagendakan untuk sidang pengembangan seni bela diri, bidang wasit-juri dan bidang pasukan inti.
  • Komisi C, yaitu sidang dibidang penelitian dan pengembangan, baik pengembangan ekonomi kreatif maupun pengembangan organisasi dan keanggotaan.
Adapun beberapa hasil sidang pleno dari Muskercab kali ini yaitu:
  1. Pengurus Cabang segera merumuskan program kerja dan rencana strategis terkait dengan penguatan organisasi dan jaringan ke seluruh Anak Cabang (Kecamatan) se-Kab. Temanggung.
  2. Merekomendasikan kepada semua pangkalan dan padepokan silat yang tergabung dalam wadah PSNU Pagar Nusa Temanggung supaya melakukan updating data keanggotaan yang selanjutnya untuk membuatkan KTA sekaligus diagendakan untuk pelaksanaan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) pada tahun ini.
  3. Membentuk tim ekonomi kreatif demi kelangsungan organisasi sebagai Badan Otonom NU yang mandiri dan mampu menjawab berbagai tantangan kegiatan berbasis manajemen yang profesional.
  4. Meningkatkan peran dan fungsi PSNU Pagar Nusa sebagai benteng ulama', benteng Nusa Bangsa dan Agama. Selain itu juga sebagai olah raga prestasi yang terjun di kancah Kejurkab, Kejurda dan Kejurnas, serta even-even POPDA, Kejurprov, PON, dll. 
Diakhir Muskercab, acara dilanjutkan dengan sidang paripurna untuk menetapkan hasil sidang pleno oleh ketua PC. PSNU Pagar Nusa, yaitu K. Dukut Sri Widayat, dan dilanjutkan dengan upacara penutupan pada hari Minggu kemarin, 4 Maret 2018, sekitar pukul 15.00 Wib. []

(Eko Purwanto).
Read More

LTN NU dan Lazisnu Lombok Tengah Terbentuk


Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Lombok Tengah, resmi membentuk dua lembaga baru dibawah kepengurusan PCNU Lombok Tengah, yaitu Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Lombok Tengah dan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kabupaten Lombok Tengah.

Bertempat di Kantor PCNU Lombok Tengah, pada Jum'at lalu (3 Maret 2018), PCNU memandatkan pada Ahmad Jumaili, S. Pd.I dan Lalu M. Syamsul Arifin, S. Pd.I sebagai Ketua dan Sekretaris LTN NU Lombok Tengah dan pada Hamdan El-Haq, S. Pd.I, M. P.d.I bersama Muhammad Fahmi, M. Pd sebagai Ketua dan Sekretaris Lazisnu Lombok Tengah periode Kepengurusan 2016-2021. Sedangkan untuk bendahara, LTN NU dipegang oleh Ahmad Pahrurrozi, S. Sos.I dan Lazisnu dipegang oleh Mukminah, M. Pd.

Ketua PCNU Lombok Tengah, Lalu Fathul Bahri, S.Ip, yang juga Wakil Bupati Lombok Tengah, berpesan supaya para pengurus yang telah dimandati untuk mengurusi kedua lembaga ini segera bekerja cepat untuk membentuk divisi-divisi yang dibutuhkan serta menyusun program kerja yang realistis dan mampu dikerjakan.

"LTN NU akan segera memprogramkan pembuatan website informasi untuk PCNU dan penerbitan-penerbitan di Lombok Tengah. Begitu juga Lazisnu, akan segera bikin perwakilan Lazisnu di masing-masing MWC. Bangun komunikasi dan koordinasi dengan ulama'-ulama' kita di masing-masing MWC. Kalian sowan ke semua tokoh NU," ungkapnya saat koordinasi dengan dua lembaga ini disela-sela Rapat Panitia Perayaan Hari Lahir (HARLAH) NU Yang ke-92 di Praya, Sabtu lalu di Praya.

Lanjutnya, kedepan, semua database warga NU Lombok Tengah bisa dikelola dengan Baik. LTN NU dan Lazisnu bisa bekerja sama untuk membuat program pemberdayaan-pemberdayaan masyarakat yang lain, seperti pelatihan-pelatihan IT dan penulisan, penggalangan dana sosial bencana, kematian dan pengelolaan zakat, infaq dan shodaqoh di Lombok Tengah.

"Saya ingin semua warga NU punya Kartu NU (Kartanu). Dengan Kartanu ini, kita akan punya database besar yang dikelola oleh LTN sehingga pengelolaan apapun bisa kita kontrol," imbuhnya.

Dengan database seperti ini, tambahnya, setiap warga Nahdliyyin yang meninggal, akan dapat diberikan santunan kematian oleh warga NU sendiri. Begitu juga santunan yatim, tua jompo dan penyandang disabilitas.

"Setiap kematian, misalnya per-orang warga Nahdliyyin donasi atau sedekah sepuluh ribu atau lima ribu saja, dikalikan dengan jumlah Nahdliyyin yang ada di Lombok Tengah, wah, itu akan sangat dahsyat hasilnya" tandasnya.

Karenanya, Fathul sangat berharap, pengurus didua lembaga yang baru dibentuk ini, dapat bekerja secara maksimal dan ikhlas untuk perjuangan Nadlatul Ulama.

"Insya Allah, setiap perjuangan kita di Nahdlatul Ulama ini, betapapun kecilnya, akan mendapatkan berkah dari Allah. Alasannya cuma satu, karena kita mengurusi organisasi para ulama'," pungkasnya. []
Read More