rumahnahdliyyin.com, Surabaya - Ketika menjadi pembicara dalam Seminar Internasional di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya, pada Selasa, 11 Maret 2018 ini, Syaikh Syarif Adnan As-Sawwaf, rektor Universitas Kaftaru Damaskus Suriah (Syiria), mendapat pertanyaan dari salah seorang peserta yang hadir. Pertanyaan tersebut yaitu mengenai terjadinya pembunuhan terhadap ulama Suriah. Termasuk ulama Internasional yang kharismatik, yaitu Syaikh Ramadhan Al-Buthy.
“Benar, ia dibunuh bersama 40 santrinya di dalam sebuah masjid ketika sedang mengajarkan kitab tafsir Al-Qur’an,” kenang Syaikh As-Sawwaf.
Selain dibunuh, kitab-kitab Syaikh Ramadhan Al-Buthy juga dibakar. Sebab, Syaikh Al-Buthy dipandang telah murtad dan kafir.
“Inilah tindakan takfir (mengafirkan orang) yang dilakukan oleh sesama muslim yang kemudian merenggut satu per satu ulama. Dan pelakunya, tanpa merasa berdosa sedikitpun,” sesal Syaikh As-Sawwaf.
Baca Juga:
Hentikan Pengajaran Islam Dangkal
Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah
Pada awal-awal kerusuhan tahun 2013, cerita Syaikh As-Sawwaf, bom berjatuhan hampir setiap jam. Sudah hampir satu juta orang yang meninggal dunia. Dan semua orang asing keluar Suriah. Termasuk para pelajar dari berbagai negara. Kecuali pelajar Indonesia.
“Kami hanya keluar, jika Syaikh keluar,” kata para pelajar Indonesia untuk meyakinkan kesetiaan mereka kepada rektor sekaligus guru mereka itu.
Pelajar Indonesia memang menolak untuk kembali ke Indonesia waktu itu. Meskipun telah disediakan angkutan pulang secara gratis.
“Nahnu abnausy-Syam" (kami adalah anak kandung Suriah)", kata mereka.
“Wa nahnu abnau Indonesia" (kami juga anak kandung Indonesia),” kata Syaikh As-Sawwaf sambil mengepalkan tangan. Dan gemuruhlah ruangan Seminar itu dengan tepuk tangan hadirin. Termasuk para mahasiswa yang harus duduk di lantai karena kehabisan kursi.
Baca Juga:
Walisongo dan Da'wah Metode Kambing
Sembilan Rekomendasi Silatnas Ke-VI Alsyami
“Percayalah, percayalah. Orang-orang jahat telah bersekutu menghancurkan negara kami. Tapi Allah telah mengatur dengan caranya sendiri untuk menyelamatkan kami,” katanya sambil mengutip salah satu ayat dalam surat Ali Imron.
"Percayalah, do'a Nabi pasti dikabulkan Allah. Inilah do'a yang pernah beliau panjatkan, Allâhumma bârik lanâ fî Syâminâ (wahai Allah, berkahilah kami melalui negeri Suriah ini)," lanjut Syaikh As-Sawwaf.
Baca Juga:
Indonesia Penyelamat Wajah Dunia Islam
Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia
Ketika ditanya oleh salah seorang peserta lagi mengenai apa yang bisa dibantu untuk Suriah, Syaikh As-Sawwaf meminta do'a.
“Do'a, do'a dan do'a. Do'akan kami. Karena do'a itulah yang melahirkan keajaiban,” tandasnya.
Jika ada dana, lanjut Syaikh As-Sawwaf lagi, maka supaya disalurkan melalui lembaga yang resmi dan terpercaya. Sebab, jangan sampai dana yang dikirim itu salah penyalurannya yang justru bisa memperparah keadaan bagaikan menyiram bensin pada api yang sudah berkobar.
Baca Juga:
Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Negara Islam
Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina
Menurut Syaikh As-Shawwaf, Suriah adalah negara multikultural. Ada penganut Madzhab Syafi'i, Maliki, Hanbali dan Hanafi. Juga ada Syi'ah dan Kristen.
“Tapi, sejak lama kami bersatu, bahkan anak-anak orang Syi'ah diberi nama Abu Bakar, Aisyah, Umar dan sebagainya. Anak-anak orang Sunni juga diberi nama Ali, Haidar dan sebagainya yang berbau Syi'ah,” jelasnya.
“Nah, sejak takfir menjadi senjata murah itulah, gelombang pembunuhan secara masif terjadi,” sesalnya.
Dalam pandangan Syarif Adnan Al Shawaf, Suriah memiliki sejumlah kesamaan dengan Indonesia, yaitu sama-sama Sunni bermadzhab Syafi’i dan beraqidah Al-Asy’ari. []
(Redaksi RN)
* Sumber: nu.or.id





