Manuskrip Samson; Al-Qur'an Raksasa Tiba di Manokwari


rumahnahdliyyin.com, Manokwari - Manuskrip Samson adalah manuskrip yang terbuat bukan dari kertas Eropa ataupun dluwang (koba-koba, dok-dok) melainkan dari kertas modern. Kertas ini biasanya dijual di pasaran dan dikenal sebagai kertas semen (zaq). Bahannya yang kuat, memang cukup bagus untuk medium penulisan naskah.

Rabu (18/11) malam, KM. Gunung Dempo  sandar di Pelabuhan Manokwari (Port of Manokwari), Papua Barat. Ini adalah momen bersejarah, sebab kapal itu juga mengangkut Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa. Dikatakan raksasa, sebab ukurannya meliputi panjang 1,5 meter, lebar 1 meter dan tebal 10 centimeter.


Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua untuk Nahdliyyin di Jawa


Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa ini awalnya milik seorang Jenderal Bintang Satu matra Angkatan Udara di Jakarta. Karena ingin agar manuskrip ini bermanfaat, akhirnya disumbangkan untuk dirawat. Namun karena kurang perhatian, akhirnya manuskrip itu didatangkan ke Papua Barat.

Manuskrip Samson Al-Qur'an Raksasa itu memiliki penutup (cover) terbuat dari sejenis kulit binatang yang disambung-sambung. Pada bagian awal naskah alias halaman pertama adalah Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Baqoroh dengan ilustrasi warna-warni. Sosok tokoh pewayangan tampak menghiasi.

Oleh sebab itu, Dr. R.A. Muhammad Jumaan, pendiri Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi (Centre of the Study of the Islamic Manuscripts and Philology) Manokwari menyebutnya dengan nama Codex Gigas alias Qur'an Wayang. Sebab, ukuran manuskrip ini sangat besar dan terdapat lukisan sosok pewayangan di dalamnya.


Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok di Enarotali


Di bagian tengah halaman, tampak juga ilustrasi yang serupa, hanya berbeda surah. Sayangnya, pada bagian awal dan akhir tidak tercantum kolofon sehingga saat ini belum dapat diketahui siapa, kapan, dimana dan untuk tujuan apa Manuskrip Samson ini dibuat.

Namun, dari jenis tinta yang dipergunakan, yaitu tinta emas, agaknya bisa dipastikan bahwa itu adalah berasal dari spidol. Begitu juga warna-warni yang menyusun ilustrasinya. Tidak ada ilustrasi lainnya, selain yang disebutkan tadi.


Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Asmat Butuh Pembina Agama


Pembina Nasional Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAA-I), Dr. R.A. Muhammad Jumaan, yang merupakan pemilik dan pemelihara naskah itu, langsung mengambilnya di Pelabuhan Manokwari. Perlu dua orang TKBM untuk menurunkannya dari kapal ke mobil. Meski beratnya hanya sekitar 42 kg. saja, namun mengingat volumetrik yang besar, cukup sulit untuk membawanya.

"Manuskrip samson Al-Qur'an Raksasa ini merupakan suatu karya yang patut diberikan apresiasi. Kegigihan penulisnya dalam menyelesaikan penulisan 30 juz tentu memerlukan waktu yang tidak sebentar dengan iringan peristiwa yang variatif: ada suka dan duka. Menulis di atas medium yang besar juga memerlukan energi dan kenyamanan tersendiri. Bila diperkirakan ditulis dalam waktu 100 hari, maka biaya yang dikeluarkan juga tentu tidak sedikit," jelas Dr. R.A. Muhammad Jumaan kepada kontributor rumahnahdliyyin.com lewat pesan di WA.


Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifa'i


Manuskrip Samson itu memiliki fungsi sebagai obyek penelitian yang penting. Sebab, di Papua ini ditengarai banyak terdapat manuskrip sejenis. Apakah penulis dan asal lokasi pembuatan manuskrip itu sama? Hanya penelitian Filologi dan Kodikologi yang dapat menjawabnya! []

(Redaksi RN)

Read More

Najis dan Klasifikasinya


rumahnahdliyyin.com - Najis adalah setiap benda yang haram untuk dimakan secara mutlak (kecuali dalam keadaan terpaksa) bukan karena menjijikan. Najis terbagi menjadi tiga macam :


Pertama, Najis Mughallazhah (berat)

Kedua, Najis Mutawassithah (sedang)

Ketiga, Najis Mukhaffafah (ringan)


 1.Najis Mughallazhah 


Najis Mughallazhah adalah najis berat. Yang masuk pada najis jenis ini adalah anjing, babi dan binatang yang lahir dari keduanya (perkawinan silang antara anjing dan babi), atau keturunan silang dengan hewan lain yang suci. Cara menyucikan najis mughallazhah adalah membasuhnya dengan air sebanyak tujuh kali dan salah satu basuhannya dicampur dengan debu yang suci. Bisa pula dengan lumpur atau pasir yang mengandung debu. 

Benda dan sifat najis harus sudah hilang pada saat basuhan pertama. Jika tidak, maka harus diulang-ulang sampai hilang, baru dilanjutkan dengan basuhan kedua, ketiga dan seterusnya sampai ketujuh. Jadi, yang dianggap sebagai basuhan pertama adalah basuhan yang menghilangkan benda dan sifat dari najis mughallazhah. Jika masih belum hilang, maka belum bisa dianggap satu basuhan. Campuran debu bisa diletakkan dalam basuhan yang mana saja. Tapi yang lebih utama pada saat basuhan pertama. Jika air yang digunakan adalah air keruh dengan debu, semisal air banjir, maka sudah dianggap cukup tanpa harus mencampurnya dengan debu. 


Baca Juga "Fardu Wudhu"

 

2. Najis Mutawassithah


Najis Mutawassithah adalah najis tingkat sedang. Najis jenis ini ada lima belas macam: 

  1. Setiap benda cair yang memabukkan.
  2. Air kencing, selain kencing bayi laki-laki di bawah dua tahun yang belum makan apa-apa selain air susu ibu. 
  3. Madzi, yaitu cairan berwarna putih agak pekat yang keluar dari kemaluan. Cairan madzi biasanya keluar ketika syahwat sebelum memuncak (ejakulasi) 
  4. Wadi, yaitu cairan putih, keruh dan kental yang keluar dari kemaluan. Wadi biasanya keluar setelah kencing ketika ditahan, atau di saat membawa benda berat. 
  5. Tinja atau kotoran manusia.
  6. Kotoran hewan, baik yang bisa dimakan dagingnya atau tidak. 
  7. Air luka yang berubah baunya.
  8. Nanah, baik kental atau cair.
  9. Darah, baik darah manusia atau lainnya, selain hati dan limpa. 
  10. Air empedu.
  11. Muntahan, yakni benda yang keluar dari perut ketika muntah. 
  12.  Kunyahan hewan yang dikeluarkan dari perutnya. 
  13. Air susu hewan yang tidak bisa dimakan dagingnya. Sedangkan air susu manusia dihukumi suci kecuali jika keluar dari anak perempuan yang belum mencapai umur baligh (9 tahun), maka dihukumi najis.[2] 
  14. Semua bagian tubuh dari bangkai, kecuali bangkai belalang, ikan dan jenazah manusia. Yang dimaksud bangkai dalam istilah fikih adalah hewan yang mati tanpa melalui sembelihan secara syara’ seperti mati sendiri, terjepit, ditabrak kendaraan atau lainnya. 
  15. Organ hewan yang dipotong/terpotong ketika masih hidup (kecuali bulu atau rambut hewan yang boleh dimakan dagingnya). 

 

Najis Mutawassithah tersebut masih terbagi menjadi dua macam, yaitu Najis Hukmiyah dan Najis AiniyahNajis Hukmiyah adalah najis yang mana benda, rasa, bau dan warnanya sudah hilang atau tidak tertangkap oleh indera kita. Cara menyucikan najis hukmiyah cukup dengan mengalirkan air pada bagian yang terkena najis. 


Sedangkan Najis Ainiyah adalah najis yang salah satu dari benda, rasa, bau dan warnanya masih ada atau tertangkap oleh indera. Cara menyucikannya adalah dengan membasuh najis tersebut sampai benda dan sifat-sifatnya hilang. 


Jika Najis Ainiyah berada di tengah-tengah lantai misalnya, maka ada cara yang lebih praktis untuk menyucikannya, yaitu dengan dijadikan najis hukmiyah terlebih dahulu (dihilangkan benda, bau, rasa dan warnanya dengan digosok menggunakan kain basah misalnya, kemudian tempat najisnya dikeringkan). Setelah itu cukup mengalirkan air ke tempat yang tadinya basah. Cara ini bisa digunakan agar tidak usah mengepel lantai seluruhnya. 

 

3. Najis Mukhaffafah 


Najis Mukhaffafah adalah najis yang ringan. Yang masuk dalam kategori mukhaffafah hanyalah kencing bayi laki-laki yang belum makan apa-apa selain air susu ibu dan umurnya belum mencapai dua tahun. Adapun kencing bayi perempuan tidak masuk dalam kategori mukhaffafah, melainkan mutawassithah. 


Cara menyucikan najis mukhaffafah cukup dengan memercikkan air pada tempat yang terkena najis, setelah menghilangkan benda dan sifat-sifat najisnya (basahnya air kencing) terlebih dahulu. 


Baca Juga "Kebersihan Menurut Islam"


Bahan untuk Mensucikan 


Benda yang dapat menyucikan ada dua macam, yaitu air dan debu. Fungsi air untuk menyucikan telah ditegaskan dalam al-Qur’an: 

 

وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا 

 

Artinya: “Kami (Allah) turunkan dari langit berupa air sebagai bersuci” (QS al-Furqân [25]: 48)

Mengenai fungsi debu, Rasulullah Muhammad saw bersabda.: 

 

جُعِلَتْ لَنَا الأَرْضَ مَسْجِدًا وَتُرْبَتُهَا لَنَا طَهُوْرًا 

 

Artinya: “Telah dijadikan untuk kita bumi sebagai masjid (tempat shalat), dan debunya untuk bersuci.” (HR. Muslim) [3] 

Air bisa digunakan untuk menyucikan najis juga hadas. Sedangkan debu hanya bisa digunakan untuk tayamum dan campuran air ketika membasuh najis mughallazhah.


Baca Juga "Shohih Bukhori No. 1; Niat


Selain air dan debu sebetulnya, masih ada dua proses penyucian najis yang disebutkan oleh ulama, yaitu Takhallul dan Dabghu. Takhallul adalah perubahan khamer (arak) menjadi cuka, juga darah kijang menjadi minyak misik. Sedangkan dabghu adalah penyamakan kulit bangkai. Penyamakan dilakukan dengan cara menghilangkan bagian-bagian selain kulit yang membuatnya busuk (seperti sisa daging dan lain sebagainya) dengan menggunakan benda yang terasa sepat/kelat, seperti kulit delima, dan lain sebagainya.


Wallahu a'lam bisshowab..



OlehAbdulloh Ahmad, Penikmat kopi di Rembang, Jawa Tengah.

Read More

PCNU Jombang Gelar Tradisi Ijazah Shohih Bukhori

 


rumahnahdliyyin.com, Jombang - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Jawa Timur, menggelar khataman kitab Shohih Bukhori untuk ketiga kalinya pada Senin malam (16/11/2020). Kegiatan yang diikuti oleh pengurus NU dan elemen pesantren ini dimotori langsung oleh kiai-kiai sepuh NU yang memegang sanad Shohih Bukhori hingga ke Hadlrotusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.


"Tradisi sesepuh ini (khataman kitab Shohih Bukhori) jangan sampai ditinggalkan," kata Rois Syuriyah PCNU Jombang, KH. Abd. Nashir Fattah di Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyiin, Paculgowang, Kecamatan Diwek, Jombang, yang dijadikan tempat kegiatan ini.


Baca Juga: Shohih Bukhori No. 1: Niat


Menurut KH. Abd. Nashir Fattah, pesantren-pesantren yang berada di Jombang mayoritas memiliki relasi yang kuat dari sisi keilmuan. Para sesepuh atau pendiri pesantren di Jombang, bila ditelusuri lebih jauh sanad keilmuannya, maka akan ketemu dengan guru-guru yang sama atau seirama.


"Pondok pesantren di Kabupaten Jombang ini terjalin satu 'alaqoh bathiniyah (hubungan batin yang kuat) yang terajut dengan tali hubung keilmuan dari masyayikh pendahulu," jelas Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, ini.


Pada kesempatan ini, kiai Nashir juga mengijazahkan sanad hadits musalsal dan sanad kitab Hadits Shohih Bukhori. Ijazah sanad tersebut diperoleh kiai Nashir dari guru-gurunya, diantaranya yaitu Sayyid Ismail bin Zein Al-Yamani, Syaikh Yasin bin Isa Al-Fadani, Sayyid Muhammad Al-Makky dan beberapa masyayikh yang bersandar kepada Hadrotusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari Tebuireng dari Syaikh Mahfudz At-Turmusyi.


Baca Juga: Shohih Bukhori No. 2: Cara Turunnya Wahyu Kepada Rosululloh


Sementara itu, Wakil Syuriyah PCNU Jombang, kiai M. Shaleh mengemukakan, kegiatan ini adalah upaya untuk merawat tradisi ulama pendahulu dalam memegang sanad-sanad keilmuan yang diberikan oleh guru-gurunya.


Hal ini penting karena menurutnya kualitas keilmuan seseorang (murid) sangat dipengaruhi oleh guru-gurunya yang memiliki sanad yang kuat.


"Dawuh Rois Syuriyah PCNU ini sungguh benar (khataman kitab Shohih Bukhori jangan sampai ditinggalkan). Karena kualitas ilmu seseorang sangat dipengaruhi oleh guru," tuturnya.


Ia mencontohkan salah satu 'ulama' dahulu, namanya Syaikh Zainuddin Al-Malibari, bahwa ia seringkali mengutip fatwa gurunya, yaitu Ibnu Hajar Al-Haitami, dalam merespons suatu masalah tanpa sanggahan, meskipun ia juga mengutip pendapat 'ulama' lain dalam masalah tersebut.


"Hal ini juga sering dilakukan para guru saya. Almarhum Mbah Yai Junaid dalam memaknai teks kitab selalu merujuk pada gurunya Al-Maghfurlah Mbah Yai Zubair (ayah Mbah Maimoen Zubair)," ungkapnya.


Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari


Di akhir acara, dilakukan juga ijazah sanad kitab hadits Shohih Bukhori dari KH. Ahmad Taufiqurrohman Mukhith, Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang, yang juga Musytasyar PCNU Kabupaten Jombang. Sanad yang diijazahkannya ini bersumber dari guru-gurunya. Antara lain dari KH. Mahfudz Anwar Seblak dan masyayikh lainnya yang bersumber dari Hadlrotusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari.[]


(Redaksi RN)

Sumber: NU Online


Read More

Kebersihan Menurut Islam

 


rumahnahdliyyin.com - Akhir-akhir ini, sejak virus Covid-19 mewabah di seluruh dunia, semua negara menerapkan protokol kesehatan. Protokol yang dikenal dengan 3M (Mencuci tangan, Menjaga jarak dan Memakai masker) itu sangat digalakkan di mana pun di penjuru dunia. Sebuah protokol yang intinya adalah perintah untuk senantiasa menjaga kebersihan.


Al-Qur'an, dalam ayat-ayatnya, tidak sedikit membicarakan tentang kebersihan. Seperti ayat 108 dalam surat At-Taubah yang berbunyi:

لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ اَوَّلٍ اَحَقٌّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِ، فِيْهِ رِجَالٌ

يُحِبُّوْنَ اَنْ يَتَطَهَّرُوا  اِنَّ اللّه يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ


Artinya: "...Sungguh masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba'), sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu untuk mendirikan sholat di dalamnya. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang senang membersihkan diri. Sungguh Alloh menyukai orang-orang yang bersih."


Baca Juga: Fardlu Wudlu'


Ada lagi pada ayat 222 dalam surat Al-Baqoroh:

اِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ


Artinya: "Sungguh Alloh menyukai orang-orang yang banyak bertaubat dan menyukai (pula) orang-orang yang bersih."


Dari dua ayat di atas, secara gamblang kita jadi tahu bahwa Alloh SWT. menyukai orang yang bersih. Oleh sebab itu, sudah sepatutnyalah kita sebagai umat Islam supaya melakukan dan mengusahakan kebersihan agar kita termasuk golongan orang-orang yang disukai oleh Alloh SWT.


Baca Juga: Yang Membatalkan Wudlu'


Dalam Islam, kebersihan lebih dikenal dengan istilah thoharoh. Secara harfiah, thoharoh berarti bersih atau suci dari segala kotoran. Sedangkan menurut istilah syara', thoharoh adalah mengerjakan sesuatu yang menyebabkan seseorang diperbolehkan untuk mengerjakan sholat, seperti menghilangkan najis dan hadats.


Dalam sebuah hadits disebutkan:

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُوْرُ

Artinya: "Kunci sholat adalah bersuci."


Sebelum mengerjakan beberapa ibadah, terutama sholat, disyaratkan untuk bersuci terlebih dahulu. Hal ini disebabkan karena Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa membersihkan diri, baik lahir maupun batin.


Baca Juga: Waktu-Waktu Sholat Fardlu


Kebersihan sangat erat kaitannya dengan ibadah teragung umat Islam, yaitu sholat. Sholat merupakan dialog rohani dengan Alloh SWT. Oleh karena itu, kesucian merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum seseorang mulai memasuki dialog dengan Tuhan Yang Maha Suci.


Dari uraian singkat ini, maka dapat disimpulkan bahwa kebersihan dalam Islam tidak hanya sekedar bersih, melainkan adalah suci. Suci bisa diartikan dalam dua arah, yaitu suci dhohir (konkrit), sebagaimana suci dari kotoran dan najis, dan suci ma'nawi (abstrak), yakni suci dari hadats.


Akhirnya, semoga kita semua dianugerahi kekuatan oleh Alloh, Tuhan Yang Maha Suci, untuk senantiasa bisa menjaga kesucian kita. Amin.


Wallohu a'lam.




Oleh: Abdulloh Ahmad, Penikmat kopi di Rembang, Jawa Tengah.

Read More

Wafatnya "Imam Ghozali Indonesia"; Mengenang Prof. DR. KH. M. Tolhah Hasan


rumahnahdliyyin.com - Suatu malam saya bertanya ke istri, "Kenapa beli kitab sebanyak ini?", sambil melihat puluhan kitab dengan hardcover hijau tua yang baru datang dengan beberapa judul: Mukhtashor fii Ulumiddin, Al-Ghunyatuth Tholibin, Al-Fathur Robbany karya Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani yang menumpuk di ruang tengah. Istri menjawab, "satu set untuk saya, satu set yang lain untuk (dihadiahkan ke) Kiai Tolhah."

Seingat saya, ini bukan yang pertama. Beberapa tahun sebelumnya, waktu ke Kairo, saya pernah mengantar istri keliling ke toko kitab di dekat kampus Al-Azhar, tujuannya sama: mencarikan kitab-kitab pesanan Kiai Tolhah Hasan tentang Fiqh dari 4 madzhab (Madzahibul Arba'ah). Bahkan, musim haji 2018 lalu, kepada istri saya, KH. Tolhah juga memesan kitab Quutul Qulub karya Abu Tholib Al-Maky.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Model interaksi keilmuan semacam ini yang sering dilakukan istri saya dengan Kiai Tolhah Hasan, baik sebagai kerabat maupun pengurus di Yayasan Al-Maarif Singosari, dengan menjadikan Kiai Tolhah Hasan sebagai "jujugan" utama dalam berkonsultasi ketika menemukan persoalan organisasi, pendidikan di lingkungan Al-Maarif dan pesantren, hingga urusan pemilihan kitab tafsir Al-Ibriz karya KH. Bisri Mustofa yang akan diajarkan istri ke jama'ah ibu-ibu di Masjid Besar Hizbullah Singosari.

Kiai Tolhah memang pribadi yang lengkap. Seorang organisatoris handal (memulai menjadi aktifis Ansor hingga menjadi pimpinan PBNU), memiliki kemampuan akademik dalam disiplin ilmu umum (Pendiri dan Rektor Unisma), serta kealiman dan penguasaan literatur keisIaman yang luas. Gus Dur, bahkan, pernah menyebut KH. Tolhah Hasan sebagai Imam Ghozali-nya Indonesia. Maka tak heran ketika KH. Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI keempat, KH. Tolhah Hasan diangkat sebagai Menteri Agamanya.

Baca Juga: Meski Diminta Istri untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Saya sendiri punya banyak pengalaman pribadi dengan Kiai Tolhah dalam banyak hal, termasuk mengaji rutin kitab Rowai'ul Bayan Tafsiir Ayatul Ahkam karangan Muhammad Ali Ash-Ashobuny ke beliau di kediaman Singosari. Di luar urusan mengaji, sejak saya aktif di Ansor PAC. Singosari hingga Cabang Kabupaten Malang, saya punya pengalaman ketika saya ditunjuk menjadi ketua panitia Harlah Ansor ke 69. Saya diminta untuk membuat buku (Tak Lekang Ditelan Zaman) tentang sejarah kepengurusan GP. Ansor Kabupaten Malang sejak berdiri hingga Kepemimpinan Sahabat Hanief (saat saya menjadi sekretaris cabang), maka KH. Tolhah menjadi salah satu sesepuh yang kami sowani karena beliau mantan Ketua PC. Ansor di awal Tahun 1960-an.

Baca Juga: KH. Raden Asnawi; Ulama yang Keras Terhadap Penjajah

Salah satu cerita beliau yang sangat menarik adalah: hampir semua ranting di tingkat desa/dusun di Kabupaten Malang pernah beliau kunjungi.

Ketika Haul Gus Dur Tahun 2013, saya diminta keluarga Ciganjur untuk menjadi narahubung KH. Tolhah Hasan untuk memberikan ceramah dan testimoni tentang Almarhum KH. Abdurrahman Wahid. Ketika selesai acara, saya menyaksikan Kiai Tolhah menolak diberi bisyaroh oleh panitia. Beliau begitu hormat kepada Almarhum Gus Dur dan merasa sebagai keluarga besarnya.

Sewaktu Persiapan Harlah Ansor Tahun 2012 di Solo yang akan dibuka Presiden SBY, saya pernah diminta Sahabat Nusron Wahid untuk mengantar sowan ke KH. Tolhah Hasan di rumah beliau di Cibubur. Tetapi waktu itu, KH. Tolhah Hasan bersamaan dengan agenda lain sehingga tidak bisa hadir dalam pemberian penghargaan sebagai sesepuh di Harlah Ansor ke- 78 di Solo.

Baca Juga: KH. M. Aniq Muhammadun; Pakar Nahwu yang Tersembunyi

Di tahun-tahun terakhir ketika KH. Tolhah Hasan memilih untuk menetap di Singosari, setidaknya ada dua pengalaman dibidang keorganisasian yang patut diteladani Warga NU: beliau "menolak" dicalonkan menjadi pucuk pimpinan organisasi. Pertama, ketika saya menyaksikan KH. Hasyim Muzadi sowan ke Kiai Tolhah Hasan agar bersedia dicalonkan sebagai Rois 'Aam dalam rangka persiapan Muktamar NU Jombang. Kiai Tolhah ngendikan tidak bersedia karena faktor usia. Kedua, ketika saya mengantar Pak LBP dan Mbak Yenny Wahid ke Singosari untuk sebuah diskusi kemungkinan Kiai Tolhah Hasan bersedia menjadi Ketum MUI, beliau juga menjawab tidak bersedia karena faktor usia.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Sebelum saya berangkat ke Tiongkok untuk melanjutkan studi S3, Kiai Tolhah sempat memberikan wejangan ke saya tentang kemajuan China yang perlu dipelajari. Bahkan dalam berbagai kesempatan pulang ke Indonesia, ketika bertemu beliau, KH. Tolhah sering mengenalkan saya ke beberapa orang sebagai pengurus NU Tiongkok.

Beberapa minggu lalu saya mendengar berita dari istri: Kiai Tolhah masuk RS dan memberikan update kabar perkembangan kesehatan beliau dari waktu ke waktu. Hari ini, 29 Mei 2019, saya menerima kabar tentang wafatnya tokoh dan kiai panutan kita semua, KH. M. Tolhah Hasan, "Imam Ghozali-nya Indonesia".

Kullu man 'alaiha faan, wayabqo wajhurabbika dzul jalaali wa al-ikroom.

Sugeng tindak, pak kiai...



* Oleh: Imron Rosyadi Hamid, Rois Syuriyah PCINU Tiongkok.
Read More

Mengintip Masjid Peninggalan Paku Buwono X di Boyolali


rumahnahdliyyin.com, Boyolali - Pada umumnya, masjid di Indonesia selalu dinamai dengan mengambil kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Namun, tidak demikian halnya dengan salah satu masjid yang berada di Boyolali. Masjid yang terletak di kompleks wisata religi Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, itu, dinamai dengan mengambil kata-kata dari bahasa Jawa. Yaitu bernama Masjid Cipto Mulyo.

Unik, bukan? Masjid Cipto Mulyo ini ternyata merupakan salah satu masjid tertua di Boyolali. Ia dibangun oleh Raja Keraton Surakarta, yaitu Paku Buwono X, pada hari Selasa Pon, 14 Jumadil Akhir 1838 Je atau 1905 M. Kalau dihitung sampai sekarang (tahun 2019), masjid ini kurang lebih sudah berusia 114 tahun. Dan ada pendapat yang mengatakan bahwa kata "Cipto Mulyo" digunakan oleh Raja sebagai nama masjid, dengan harapan supaya hidup kita menjadi mulia, sejahtera lahir dan batin, baik di dunia dan akhirat.

Baca Juga: Masjid Jawa di Thailand

Selain namanya yang unik, bentuk bangunan masjid ini juga tergolong berbeda dari masjid kebanyakan. Masjid Cipto Mulyo ini menampilkan desain Jawa kuno. Ornamen-ornamen ukiran terpasang di ventilasi pintu.

Sejak dibangun ratusan tahun lalu, masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Namun, bentuk masjid masih dipertahankan seperti saat awal dibangun dulunya. Bahkan, konstruksi kayu dan bangunan juga belum berubah. Tiang dan usuk dari kayu jati masih yang aslinya. Dindingnya pun masih aslinya. Hanya saja, saat ini sebagian telah dilapisi dengan marmer.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Sejumlah benda-benda masjid pun masih asli sejak zaman dulu, seperti bedug dan kentongan. Bahkan, bedug berukuran besar itu dibuat dari kayu utuh. Di kentongan itu juga terdapat tulisan PB X.

Di serambi depan, tepatnya di atas tangga masuk, juga masih terpasang prasasti dari kayu dengan tulisan huruf Jawa yang menjelaskan tentang waktu didirikannya Masjid Cipto Mulyo ini. Kemudian kubah masjid yang memiliki arah angin juga masih dipertahankan.

Baca Juga: Mengintip Masjid Tertua di Sidoarjo

Selain termasuk sebagai masjid yang bersejarah dan merupakan jejak peninggalan penyebaran Islam di wilayah Pengging, di belakang masjid ini juga terdapat kompleks makam salah satu pujangga Keraton Surakarta, yaitu Yosodipuro.[]




Sumber: detik.com
Read More

Mengintip Masjid Tertua di Sidoarjo


rumahnahdliyyin.com, Sidoarjo - Masjid Al-Abror terletak di Dusun Kauman, Kelurahan Pekauman, Kecamatan Kota Sidoarjo. Tepatnya yakni berada di samping selatan sebuah mal, Jalan Gajah Mada, Sidoarjo, Jawa Timur. Karena berada di kawasan pusat perbelanjaan inilah masjid tersebut tidak terlalu nampak. Namun, siapa sangka Masjid Al-Abror merupakan cikal bakal pusat penyebaran Islam di Sidoarjo serta berdirinya Kabupaten Sidoarjo?

Masjid Al-Abror merupakan salah satu saksi bisu berdirinya Sidoarjo serta siar Islam di Kota Delta itu. Sekilas, orang tidak akan menyangka bila bangunan dua lantai yang berdiri kokoh dengan dominasi warna hijau dan kuning tersebut merupakan masjid tertua di Sidoarjo.

Baca Juga: Masjid Jawa di Thailand

Masjid Al-Abror dibangun pada tahun 1678 M. Mereka yang membangun adalah Mbah Moelyadi yang dibantu oleh Mbah Badriyah, Mbah Muso dan Mbah Sayid Salim. Keempat orang tersebut bukanlah penduduk asli Kauman. Mbah Moelyadi berasal dari Mataram, yang karena ada pemberontakan Trunojoyo, lantas ia pergi ke Kauman. Mbah Sayid Salim berasal dari Cirebon. Sedangkan Mbah Badriyah dan Mbah Muso keduanya berasal dari Madura. Keempatnya, makamnya pun berada di lokasi masjid ini.

Hingga kini, Masjid Al-Abror sudah direnovasi tiga kali. Dua bagian bangunan asli yang merupakan peninggalan pada tahun 1678 M., masih bisa disaksikan hingga sekarang, yaitu pintu masuk sisi utara masjid dan tempat pemakaman Mbah Moelyadi yang berada di depan tempat imam. Dan di sebelah makam Mbah Moelyadi, ada makam ketiga tokoh lainnya itu.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali Papua

Masjid Al-Abror dibangun berdekatan dengan Sungai Jetis yang merupakan jalur transportasi utama kala itu. Pada tahun 1859 H. dilakukan pemugaran oleh bupati pertama Bupati Sidokare (nama Sidoarjo waktu itu), yaitu R. Notopuro.

Ketika pemugaran itu, bangunan yang tidak direnovasi hanya pintu gerbang di sisi utara masjid yang dicat putih. Juga petunjuk waktu pertanda sholat dengan sinar matahari yang berada di depan masjid.

Adapun renovasi yang terakhir yaitu pada tahun 2007 oleh Bupati Wein Hendarso. Semua bangunan pun diubah hingga seperti yang terlihat saat ini.[]




Sumber: detik.com
Read More

Konsep Kebahagiaan Manusia


rumahnahdliyyin.com - Para filsuf muslim yang mewarisi khazanah filsafat Yunani sering mengemukakan bahwa sumber kebahagiaan adalah ارتسام المعقولات فی النفس (irtisām al-ma'qūlāt fi al-nafs), yakni munculnya pengetahuan dalam nous atau nafs, jiwa kita. Para filsuf itu menggambarkan pengetahuan itu sebagai rosm, tulisan, atau gambar yang tercetak dalam jiwa.

Yang dimaksud gambar di sini adalah gambar benda-benda yang ada di sekitar kita. Ketika rumah yang kita lihat dengan mata kita berubah menjadi image atau gambar rumah dalam pikiran, bukan lagi rumah fisik, maka kita memiliki pengetahuan tentang rumah itu.
Rumah yang sudah berubah menjadi gambar pikiran itu, dalam filsafat, disebut sebagai ma'qūlāt (معقولات). Dalam tradisi filsafat Barat, dia disebut: intelligibles.

Menurut filsuf muslim seperti al-Farabi (w. sekitar 950), makin banyak ma'qulat atau pengetahuan yang tercetak dalam pikiran kita, makin besar kemungkinan kita untuk bahagia.

Baca Juga: Kitab Al-Mifann, Kiai Abdullah Rifa'i dan Mencintai Bahasa Arab

Dalam tradisi filsafat Islam, isi pengetahuan itu hanyalah dua saja, yaitu taşowwur (تصور) dan taşdīq (تصديق). Taşowwur adalah pengetahuan tentang suatu barang secara individual tanpa relasi (nisbah, idlôfah), hubungan dengan sesuatu yang lain. Sementara taşdīq adalah pengetahuan kita tentang benda dalam hubungannya dengan hal lain.

Rumit? Jangan khawatir. Sebetulnya sederhana kok, cuma para filsuf itu kadang senang merumitkan hal yang sebetulnya sederhana. Saya kasih contoh agar mudah memahami konsep ini.

Baca Juga: Akhlaq Menurut Imam Ghozali

Jika kita tahu apa rumah itu, maka inilah yang disebut taşowwur. Rumah adalah, misalnya, bangunan yang menjadi tempat tinggal manusia. Tetapi jika kita tahu bahwa rumah A terletak di perumahan B, ini namanya taşdīq. Dalam tashdiq kita tidak saja mengetahui sesuatu saja, tetapi sesuatu dalam relasinya kepada sesuatu yang lain. Dalam contoh tadi, kita mengetahui tentang rumah yang terletak di sebuah tempat. Konsep rumah berhubungan dengan konsep tempat.

Dalam taşdīq selalu terdapat pengetahuan tentang dua hal atau lebih. Makin rumit suatu pengetahuan, makin banyak dan kompleks hubungan-hubungan antara banyak hal yang ada di dalamnya. Itulah konsep sederhana tentang pengetahuan dalam tradisi filsafat Islam. Tentu, ini semua berasal dari tradisi filsafat Aristoteles di Yunani. Meski demikian, filsuf Muslim bukan sekedar mewarisi saja, melainkan melakukan pengembangan secara kreatif.

Baca Juga: Bully Zaman Mbah Bisri

Sekarang saya akan bergerak ke tahap berikutnya, yaitu tentang implikasi atau dampak dari pengetahuan. Jika kita punya pengetahuan, apakah akibatnya?

Ada dua model di sini. Pertama, pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang enabling, membuat manusia mampu berbuat sesuatu. Dengan kata lain, pengetahuan adalah kekuasaan.

Roger Bacon (w. 1626), filsuf Inggris, konon dikenal sebagai orang yang mempopulerkan ucapan ini: scientia potentia est, pengetahuan adalah kemampuan dan kekuasaan. Contohnya sederhana saja. Jika kita memiliki pengetahuan melalui Google Map bahwa letak toko A ada di jalan B, maka pengetahuan ini akan enabling, membuat kita berdaya dan mampu untuk pergi ke toko itu secara benar. Karena itu, kebodohan adalah situasi ketidakberdayaan, powerlessness, عدم القدرة ('adam al-qudroh).

Baca Juga: Tentang Salah Kaprah Penggunaan Istilah "Taubat"

Konsep tentang pengetahuan sebagai kekuasaan ini belakangan menjadi sasaran kritik keras dari para filsuf "kiri", misalnya para filsuf yang berkumpul dalam Mazhab Frankfurt. Kritik mereka sederhananya adalah demikian: konsepsi tentang pengetahuan sebagai kekuasan membuat manusia memakainya sebagai alat untuk menguasai dan memanipulasi alam secara eksesif, dan akibatnya menimbulkan banyak bencana dan kerusakan habitat manusa.

Kritik itu malah bergerak lebih jauh. Pengetahuan sebagai kekuasaan ini, dalam praksis kehidupan modern, bukan saja berlaku pada hubungan manusia dengan benda, melainkan juga dalam hubungan intersubyektif antar manusia. Hubungan-hubungan antar manusia semakin mengarah kepada model penguasaan, penundukan, pembendaan (reifikasi, تشیيئ). Pengetahuan tentang manusia lain justru menjadikan kita mampu (powered) menundukkan dan menguasai dia.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna untuk Manusia

Ini, misalnya, terjadi dalam dunia marketing. Pengetahuan tentang perilaku konsumen membuat kita mampu merumuskan "strategi" yang jitu untuk membujuk agar mereka mau membeli barang yang kita jual. Pembujukan seperti itu pada dasarnya adalah sebentuk "kolonialisme," atau penundukan yang halus atas yang lain. Orang lain tidak lagi dianggap sebagai manusia yang berkesadaran, melainkan obyek mati yang menjadi sasaran penguasaan dan penundukan.

Karena itu, kita perlu mengenal konsep kedua, yaitu pengetahuan sebagai sumber cinta dan menyayangi: المعرفة هى المحبة (al-ma'rifah hiya al-mahabbah). Dalam konsep ini, pengetahuan bukan kekuasaan, melainkan sesuatu yang menyebabkan kita mencintai dan menghargai sesuatu yang kita ketahui itu. Pengetahuan adalah sumber dari mana kasih-sayang berasal.

Baca Juga: Antara Agama, Manusia dan Tuhan

Konsep kedua ini kita jumpai, misalnya, di kitab Ihya' Ulum al-Din karya Imam Ghozali (w. 1111). Di beberapa pembahasan tentang tema akhlaq dalam juz ketiga kitab ini, Imam Ghozali selalu mengaitkan antara "pengetahuan" dan "mencintai", antara معرفة (ma'rifah) dan محبة (mahabbah). Ini relevan terutama dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan. Kecintaan kita kepada Tuhan adalah permulaan kita untuk mencintai-Nya. Tanpa pengetahuan yang tepat tentang Tuhan, tak mungkin kita mencintai-Nya.

Model pengetahuan kedua patut kita pakai terutama dalam hubungan-hubungan intersubyektif antara manusia. Pengetahuan tentang manusia lain seharusnya menjadi sumber kecintaan dan penghargaan kita kepada mereka, bukan malah membuat kita justru memiliki alat yang kian canggih untuk "mengeksploitasi".
Dengan demikian, ketiadaan pengetahuan akan membuat kita cenderung membenci orang atau golongan lain. Pepatah Melayu sudah menegaskan ini sejak lama, "tak kenal maka tak sayang". Pepatah Arab juga mengenalkan pemahaman serupa:
 الإنسان أعداء ما جهلوا (al-insānu a'dā'u mā jahilū; manusia cenderung memusuhi perkara yang ia tak ketahui).

Baca Juga: Bahaya Berjihad Demi Syahwat

Kalau kita kembalikan kepada konsep kebahagiaan, pengetahuan yang mendorong kita menyayangi dan menghargai liyan akan membuat kita bahagia. Makin besar pengetahuan, makin dalam penghargaan kita terhadap orang lain, dan makin bertambah pula kebahagiaan kita. Pengetahuan, cinta/penghargaan, kebahagiaan--ketiganya saling berhubungan secara kausal.

Mana model yang tepat? Apakah pengetahuan sebagai kekuasaan atau pengetahuan sebagai cinta?

Menurut saya, kedua model pengetahuan ini kita butuhkan sekaligus, asal kita paham bagaimana meletakkan keduanya dalam proporsi yang tepat. Ada bidang-bidang tertentu dalam kehidupan di mana pengetahuan dibutuhkan sebagai alat untuk membuat kita "mampu" menguasai sesuatu yang lain. Misal yang baik adalah pengetahuan seorang dokter tentang penyakit sebagai alat untuk menguasai dan menundukkannya. Meskipun, dalam hal penyakit ini, ada konsepsi dalam mistik/tasawwuf Islam yang memandang penyakit bukan sebagai musuh yang harus ditundukkan, melainkan sebagai "sahabat" yang membukakan pintu kepada Tuhan (dalam istilah kitab Hikam: وجهة من التعرف, wijhah min al-ta'arruf).

Baca Juga: Menjernihkan Makna "An-Nas" dalam Hadits untuk Memerangi Musyrikin

Sementara itu, ada bidang-bidang lain di mana kita seharusnya memperlakukan pengetahuan sebagai sumber kasih sayang dan penghargaan kepada orang lain. Dalam hubungan antar-manusia, sebaiknya pengetahuan kita perlakukan demikian. Jangan sampai kita menjadikan pengetahuan sebagai alat untuk menguasai orang lain.

Problem kita dalam era medsos saat ini persis di sini: kita sering terlibat dalam percakapan di medsos bukan untuk mengenal lebih baik orang lain yang secara ironis disebut sebagai "friend", melainkan untuk "menundukkan", bahkan menyerang dia. Di sini, yang berlaku adalah model scientia potentia est, pengetahuan adalah kekuasaan dan menguasai.

Baca Juga: Tasawuf Pancasila

Mampukah kita bergerak ke level yang lebih tinggi, lebih rohani, dan memandang pengetahuan kita tentang orang lain dalam medsos ini sebagai sumber kasih sayang dan penghargaan kita kepada dia? Semuanya terserah kepada kita untuk memutuskan: hendak bahagia dengan menghargai orang yang beda, atau sengsara dengan menegasikan dan menyangkal kehadiran orang lain itu?

Sekian.



* Oleh: Gus Ulil Abshar Abdalla (Pengampu Pengajian Ihya' Ulumiddin)
Read More

Di Bulan Gus Dur, Jaringan Gusdurian Menerima Asia Democracy and Human Rights Award 2018


rumahnahdliyyin.com - Bulan Desember ini adalah bulan istimewa bagi kami, Jaringan Gusdurian Indonesia. Pertama, bulan ini adalah bulan Gus Dur. Bulan ketika kita semua memperingati wafatnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di bulan ini, haul Gus Dur diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia untuk mengenang sekaligus menebarkan tauladan beliau.

Kedua, di Desember tahun ini, Jaringan Gusdurian mendapatkan anugerah Asia Democracy and Human Rights Award 2018 oleh The Taiwan Foundation for Democracy (TFD). Penghargaan ini secara langsung diberikan oleh Presiden Republik China Taiwan, Ibu Tsai Ing-wen.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Menurut TFD, Jaringan Gusdurian telah bekerja untuk mempromosikan dialog antaragama, multikulturalisme, konsolidasi masyarakat sipil, toleransi, demokrasi dan hak asasi manusia. Dengan berpegang pada sembilan nilai utama Gus Dur, JGD selama ini tak kenal lelah berjuang untuk kebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama.

Jaringan Gusdurian juga dinilai telah melakukan intervensi yang berarti terhadap masalah diskriminasi di Indonesia dengan membela mereka yang menjadi korban. Jaringan Gusdurian juga menjadi salah satu organisasi terkemuka dalam memerangi radikalisme dan intoleransi di Indonesia, termasuk mengurangi dan mengurangi potensi konflik komunal di negeri yang penuh dengan keragaman agama dan etnis.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Presiden Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia (FIDH), Dimitris Christopoulos, terkesan oleh upaya dialog antar-iman yang dilakukan oleh Jaringan Gusdirian, yang berasal dari aktivis Islam moderat di dunia dimana Islamophobia telah masuk ke dalam agenda politik.

Sementara Dr. Shin Hae Bong, Presiden Japan’s Human Rights Now, menyatakan bahwa Jaringan Gusdurian telah berkontribusi menciptakan ruang dialog yang aman bagi orang-orang dengan beragam latar belakang agama dan etnis, yang sangat penting dalam masyarakat multi-etnis, memainkan peran katalis dalam mempromosikan dialog antaragama, demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia dan di luar negeri.

Baca Juga: Ruh Gus Dur di Sidera

Penghargaan ini tentu saja membanggakan dan patut disyukuri. Ini menandakan bahwa kerja-kerja kami selama ini mendapatkan apresiasi di tingkat internasional.

Secara khusus, Jaringan Gusdurian mengucapkan terimakasih kepada The Taiwan Foundation for Democracy yang telah memberikan penghargaan ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada mitra-mitra kerja kami di Indonesia dan luar negeri yang selama ini telah membantu kerja-kerja Jaringan Gusdurian.

Penghargaan ini, secara khusus, kami dedikasikan kepada seluruh pejuang HAM di Indonesia dan seluruh dunia yang selama tidak kenal lelah terus berjuang menegakkan keadilan, demokrasi dan HAM.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Namun demikian, bagi kami, penghargaan ini lebih merupakan cambuk. Cambuk keras agar kami tidak berhenti dan terus bekerja. Perjuangan untuk menegakkan HAM tidak boleh berhenti hanya dengan sebuah award.

Bagi kami, penghargaan ini justru menjadi tanda bahwa Jarigan Gusdurian harus bekerja lebih keras dalam memperjuangkan keadilan, bebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama. Di masa mendatang kasus-kasus diskriminasi dan menguatnya politik identitas akan menjadi tantangan berat bagi kerja-kerja perjuangan Hak Asasi Manusia.

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur di Mata Profesor Jepang

Kami berharap penghargaan ini juga menjadi penanda baru bagi lebih dari seratus komunitas gusdurian yang tersebar di seluruh Indonesia untuk terus bekerja menebarkan nilai-nilai yang telah diajarkan Gus Dur bagi terwujudnya masa depan Indonesia yang lebih berperikemanusiaan.

Salam.

Seknas Jaringan Gusdurian Indonesia.
[]
Read More

Peringati Maulid Nabi, Warga Maros di Biak Tetap Lestarikan Tradisi


rumahnahdliyyin.com | Biak Numfor - Himpunan Keluarga Maros, Sulawesi Selatan, tetap menjaga tradisi budaya masyarakat Bugis-Makassar meskipun tengah berada di tanah perantauan, di Biak Numfor, Papua. Tradisi budaya tersebut yaitu membagi makanan ketan telur yang dihias dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah.

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 8 Desember 2018, itu dihadiri juga oleh Pelaksana Tugas Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap. Dalam kesempatan itu, Plt. Bupati mengajak warga Maros untuk memaknai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. tidak berhenti pada perayaan seremonialnya semata.

Baca Juga: Maulid

"Jadikan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. untuk saling berbagi dan menjaga kebersamaan antarwarga Maros dalam mendukung program pemerintah," ujarnya sebagaimana diberitakan oleh Antara.

Ia juga mengajak warga Maros agar terus menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat lain dan hidup berdampingan di Kabupaten Biak Numfor.

Melalui hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., menurut Herry, diharapkan warga Maros dapat meningkatkan nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga: Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia

Sementara itu, Ketua Himpunan Keluarga Maros Biak Numfor, Abdul Kadir, mengakui bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. itu dilaksanakan warga Maros sebagai bukti pengamalan nilai ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT.

"Di peringatan Maulid, warga Maros telah membagikan telur ketan beserta lauk-pauk untuk diberikan kepada setiap tamu yang hadir," katanya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah oleh Himpunan Keluarga Maros di Biak Numfor itu memang berlangsung dengan hikmad dan cukup meriah. Adapun ketan telur maulid disediakan oleh panitia penyelenggara.[]
Read More