Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini


rumahnahdliyyin.com - Media elektronik dan media sosial di hari-hari terakhir ini dipenuhi dengan pemberitaan mengenai KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Kiai yang mengemban amanat sebagai Katib 'Aam PBNU dan baru saja dilantik sebagai Wantimpres ini tidak sedikit yang meresponnya negatif, bahkan cenderung nyinyir, terkait kunjungannya ke Israel.

Sebagaimana diketahui bersama, Ahad waktu setempat kemarin (10/06/2018), Gus Yahya hadir sebagai pembicara dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Yerusalem.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Dalam kesempatan ini, Gus Yahya menyampaikan bahwa perlunya rahmah (kasih sayang) untuk dimiliki oleh semua manusia. Sebab, dengan rahmah inilah ketidakadilan yang selama ini diduga sebagai pemicu konflik di seluruh dunia bisa diatasi.

Dengan menggarisbawahi inti dari apa yang disampaikan oleh Gus Yahya ini, menurut penulis, Gus Yahya sebenarnya sudah berhasil menyuarakan solusi dari kegelisahannya selama ini. Kegelisahannya pada penjajahan. Kegelisahannya terhadap dehumanisasi. Kegelisahannya pada konflik yang terjadi dimana-mana yang seakan belum akan surut juga. Terlebih, konflik-konflik yang mengatasnamakan agama dan Tuhan masing-masing.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Kendati demikian, sangat disayangkan ternyata apa yang berusaha untuk disuarakan oleh Gus Yahya sebagai solusi untuk seluruh dunia ini ditanggapi negatif, bahkan cenderung nyinyir, oleh sebagian kalangan. Termasuk oleh Fadli Zon dan Hidayat Nur Wahid.

Fadli Zon, dalam cuitan di akun twitternya menulis bahwa apa yang dilakukan Gus Yahya dinilai tak berarti apa-apa dan memalukan bangsa Indonesia serta dikira Gus Yahya tidak peka terhadap perjuangan Palestina.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Cuitan Fadli Zon ini sebenarnya tidak begitu penting. Kita semua sudah tahu dan paham siapa Fadli Zon. Kendati seorang politisi dan juga anggota dewan, namun ia kerap menulis hal-hal yang secara akal sehat sangat dangkal. Bahkan, tidak jarang pula cuitannya saling bertentangan bila ditelisik dari waktu ke waktu.

Sedangkan Hidayat Nur Wahid, juga dalam akun twitternya, mengatakan kalau apa yang telah dilakukan Gus Yahya telah membuat kecewa Palestina dan umat Islam serta dinilai tidak sesuai dengan sikap pemerintah yang mendukung Palestina merdeka.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Tanpa bermaksud mengerdilkan HNW, kita semua juga sudah tahu dan paham siapa HNW. Sebagai politisi PKS yang menyuburkan IM (Ikhwanul Muslimin) di Indonesia, tidak mengherankan bila responnya demikian. Sebab, bagaimanapun juga, kalau di Indonesia IM menjadi PKS, di Palestina IM berubah menjadi Hamas, yaitu salah satu faksi perlawanan terhadap Israel yang ada di Palestina.

Sebagai faksi perlawanan, Hamas merupakan salah satu faksi yang dalam perjuangannya membela Palestina dengan menggunakan aksi-aksi konfrontasi langsung terhadap Israel. Beda dengan Fatah, faksi perlawanan yang ada lainnya di Palestina, yang lebih menerapkan dialog-dialog dan diplomasi dalam perjuangannya. Makanya, tak mengherankan pula apabila Hamas kemudian juga menyayangkan kehadiran Gus Yahya tersebut.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Pada NU

Dari sedikit deskripsi ini, kiranya cukup jelas mengapa ada orang-orang yang merespon negatif, bahkan nyinyir, terhadap upaya Gus Yahya. Adalah latar belakang afiliasi merekalah yang mendorong mereka berkomentar demikian. Padahal, pada dasarnya sama-sama ingin berjuang untuk menghapuskan penjajahan di muka bumi ini.

Dengan tidak sepakat dengan metode dan cara-cara perjuangan Hamas terkait kemerdekaan Palestina, tidak bisa seseorang yang punya metode dan cara-cara perjuangan tersendiri untuk kemerdekaan Palestina diklaim sebagai tidak mendukung Palestina, bahkan dikatakan sebagai antek Israel.

Baca Juga: Antara Ibadah di Indonesia dan di Negara Lain

Gus Yahya; Sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah Masa Kini

Apa yang telah dilakukan oleh Gus Yahya ini, sungguh mengingatkan penulis pada sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah. Sebagaimana kita ketahui bersama, kiai Wahab pernah melakukan hal yang hampir serupa pada awal abad ke-20.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Konteks antara kiai Wahab dan Gus Yahya memang berbeda. Kiai Wahab melakukannya di Saudi Arabia soal pembongkaran situs-situs bersejarah Islam, sedangkan Gus Yahya melakukannya di Israel dengan persoalan perdamaian. Juga, kiai Wahab berangkat atas nama NU (waktu itu masih Komite Hijaz) dan Gus Yahya berkunjung karena adanya undangan dan atas nama pribadi.

Kendati konteks antara dua kiai NU ini berbeda, namun ada titik persamaan antar keduanya. Pertama, kiai Wahab dan Gus Yahya sama-sama berjuang dengan metode dan strategi damai, yakni dialog dan diplomasi. Kiai Wahab melakukan dialog dan diplomasi dengan pimpinan Arab Saudi, Gus Yahya berdialog dan berdiplomasi dengan orang-orang Yahudi.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Kedua, kiai Wahab dan Gus Yahya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Keduanya sadar bahwa untuk mewujudkan kemanusiaan dan perdamaian haruslah menggunakan cara-cara yang manusiawi secara damai.

Ketiga, keduanya sama-sama melakukannya demi kepentingan yang lebih besar. Bukan kepentingan kelompok, apalagi pribadi.

Dari kesamaan-kesamaan inilah kiranya tidak berlebihan apabila Gus Yahya adalah sosok kiai Wahab masa kini. Dengan kemampuannya yang sangat mumpuni, Gus Yahya sedikit pun tidak bergeming kendati berbagai orang dan kalangan menyayangkan ataupun mencibir upaya-upaya yang diusahakannya. Bukankah dalam setiap tindakan pasti ada yang suka dan tidak suka??

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Akhirnya, kalau kiai Wahab diakhir diplomasinya berbuahkan hasil sebagaimana bisa kita nikmati hingga hari ini, demikian pula semoga berhasil juga apa yang menjadi maksud dan tujuan Gus Yahya ke Israel kali ini, yakni terwujudnya perdamaian antara Israel dan Palestina serta berakhirnya segala konflik yang ada di muka bumi ini. Amin.



* Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madin Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *