rumahnahdliyyin.com - Beberapa bulan sebelum puasa tahun ini, saya menyaksikan sendiri peneliti Jepang mewawancarai Rais Syuriyah PBNU, KH. Ahmad Ishomuddin, di Pojok Gus Dur, lantai dasar PBNU, Jakarta. Dia bertanya tentang tawassul sebagai salah satu praktik warga NU atau Islam Nusantara.
Masya Allah, peneliti yang profesor itu kebingungan bukan main memahaminya. Kalau tidak banyak orang di situ, mungkin dia akan membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Namun, karena sikap semacam itu tak elok dilakukan oleh seorang profesor jenis apa pun, apalagi dari negara maju, dia hanya meringis dan mengernyitkan kening seperti orang yang menahan buang hajat berbulan-bulan.
Baca Juga: Memahami Islam Nusantara
Berkali-kali dia bertanya sambil mencatat. Bertanya, mencatat. Bekali-kali pula kiai Ishom menjelaskan dengan berbagai tamtsil dan dalil.
Entahlah, waktu itu dia pada akhirnya memahami atau tidak, saya tidak bertanya dan dia tidak memberitahukan pemahaman yang diserapnya. Mudah-mudahan saja dia paham. Kalupun tidak, mudah-mudahan tidak seperti orang Indonesia yang menafsirkan sendiri, menyimpulkan sendiri, lalu menyalahkannya.
Wajar mungkin sang profesor sempoyongan dalam memahami tawassul, karena terbentur dengan cara berpikir yang berlainan. Butuh beberapa waktu untuk memahaminya seperti yang dimaksud dalam pemahaman orang NU sendiri.
Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara
Hal itu merupakan Islam Nusantara dalam salah satu praktiknya. Lalu, bagaimana dengan organisasinya, Nahdlatul Ulama?
Sekitar tahun 1971, KH. Saifuddin Zuhri menceritakan dalam salah satu tulisannya tentang KH. Wahab Hasbullah, ada peneliti Amerika Serikat bernama Allan Samson yang meneliti NU selama 6 bulan. Ia mengeluh, ternyata kesimpulannya salah. Ia juga mengeluh ternyata banyak peneliti lain yang salah baca. Namanya salah baca, tentu saja salah juga dalam mengambil kesimpulan, bukan?
Menurut kiai Saifuddin, 6 bulan itu tak seberapa. Ada pemimpin-pemimpin besar Indonesia sendiri yang selama 40 tahun bergaul dengan NU, tapi tetap saja mengambil kesimpulan salah. Mereka sukar memahaminya atau memang tak mau paham.
Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara
Jadi, biasa saja orang mengambil kesimpulan salah terhadap NU. Karena memang dari sananya sudah begitu jejaknya. Jika hari ini banyak orang yang mempertanyakan tentang Islam Nusantara dengan cibiran dan menyalahkan, memang gen mereka sudah ada sejak masa lalu. Bibitnya selalu diternak.
Tariklah ke masa yang lebih jauh, pada masa awal NU berdiri, yakni tahun 1926. Sekelompok kiai pesantren dari desa tiba-tiba membikin organisasi. Tidak bergemuruh. Lalu, dalam statutennya (AD/ART), mereka mencantumkan sebagai kelompok bermadzhab kepada salah satu imam mazhab empat.
Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU
Waktu itu, statuten demikian yang lain dari yang lain, tentunya lantaran sedang bergemuruh semangatnya Islam pembaruan, kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits. Buat apa madzhab-madzhab-an. Umat Islam harusnya mengambil hukum dari sumbernya langsung. Sikap bermadzhab (mereka menyebutnya taqlid buta, padahal istilah itu tidak ada di NU) adalah lambang kejumudan yang mengakibatkan berlangsungnya penjajahan.
Mereka mungkin lupa Pangeran Diponegoro yang berusaha mengusir penjajah pada 1825-1830, pemberontakan rakyat Banten dan lain-lain, yang dilakukan oleh kelompok bermadzhab. Atau, mungkin pura-pura lupa dan tak membaca sejarah.
Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas dari Agama
Menurut kiai Saifuddin pada Secercah Dakwah (1984), kelompok yang demikian tidak kritis terhadap Muhammad Abduh yang membelokkan pisau analisisnya terhadap kesewenang-wenangan kolonialisme Barat, lalu berbalik menggunakan pisaunya untuk menguliti dunia Islam sendiri, terutama terhadap para ulama.
Pada saat yang sama, mereka lupa ada yang lebih penting dari itu, yaitu menggalang persatuan umat Islam. Menyalahkan umat Islam sendiri dalam hal furu’iyyah, justru akan melanggengkan penjajahan.
Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika
Kelompok tersebut, di Indonesia (dulu Hindia Belanda) mengarahkan pisaunya ke kiai-kiai pesantren yang kemudian mendirikan NU. Sebagai kiai pesantren, kiai Wahab tampil membela sembari “merayu” Hadlrotusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan sebuah organisasi kelompok bermadzhab. Namun tak direstui hingga 10 tahun.
Menurut kiai Wahab, seandainya Hadlrotusy Syaikh tidak merestui, ada dua pilihan baginya. Pertama, masuk menjadi anggota organisasi mereka dan bertempur tiap hari dengan mereka untuk membela kalangan pesantren. Kedua, kembali ke pesantren, menutup rapat-rapat informasi dari dunia luar. Ia hanya mengajar santri. Beruntunglah, Hadlrotusy Syaikh kemudian merestui.
Baca Juga: Agama Tanpa Budaya
Sekali lagi, jika hari ini ada kelompok yang menyalahkan NU yang tidak bersifat prinsipil, mereka adalah copy paste dari kelompok masa lalu yang salah baca. Namanya salah baca, sekali lagi, akan salah mengambil kesimpulan.
Dalam Secercah Dakwah, kiai Saifuddin mengutip pendapat Dr. Alfian dari Universitas Indonesia. Kesalahan baca tersebut bersumber dari sikap arogansi, angkuh, karena tidak puas dengan kesangsian menghadapi kebenaran.
Namun, NU membuktikan dari waktu ke waktu tetap berjalan, lolos melewati berbagai tantangan situasi. Yakinlah, copy paste masa lalu itu akan bisa dihadapi pula oleh NU hari ini.[]
* Oleh: Abdullah Alawi, Tulisan ini diambil dari NU Online.
